Heartstrings (Page 2A : Love, Life, and Problem)

vl

Heartstrings

By ssenxiu

 Main Cast:

Jinwoo (Winner) as Jinwoo

OC as Nana

Jinhwan (iKON) as Jinhwan

Other Cast:

Hoshi (SVT) as Soonyoung

Babysoul (Lovelyz) as Soojung

Jr / Junior (GOT7) as Junior

Jisoo (YG Trainee) as Jisoo

Jungkook (BTS) as Jungkook

OC as Daeun

The8 (SVT) as Minghao

OC as Eunjung

Jackson (GOT7) as Jackson

Sunhwa (Secret) as Sunhwa

Genre:

School-life, romance, friendship, teen life

Lenght : Chaptered

Rating : G-PG 17

 

PREVIOUS STORY:

Page 1

 

===000===

PAGE 2A : LIFE, LOVE, and PROBLEM

 

“Annyeong eomma!!”

“Oohh.. kau sudah bangun. Ayo makan!! Eomma buatkan bibimbap kesukaanmu”

“Jinjja?? Gomawo eomma!!”

Tidak lama kemudian, Jungkook muncul dari kamarnya

“Kau sudah bangun Jungkook??” kata Nana

“Menurutmu??!!”

“Jungkook!! Sopan sedikit dengan kakakmu!!”

“Sudahlah, eomma. Tidak apa apa. Cepatlah mandi dan ayo kita makan bersama” ajak Nana

“Terserahlah!!”

Nyonya Jeon hanya menghela napasnya.

“Sudahlah eomma. Jungkook kan masih kecil, jadi biarkan saja”

“Dia tidak kecil lagi, Nana!! Bagaimanapun dia harus belajar menghormatimu!!”

“Tapi beri dia waktu, eomma. Jungkook sudah cukup menderita sejak dia kecil. Setidaknya, biarkan dia”

Karena pusing, nyonya Jeon memutuskan untuk beristirahat di kamarnya. Selesai makan, Nana mencuci piringnya dan bersiap untuk berangkat. Di saat yang sama, Jungkook baru keluar dari kamar mandi.

“Aku berangkat dulu ya?? Makanan ada di meja makan. Setelah makan langsung berangkat”

“Iya iya!! Aku tau!! Bisa tidak sih, kau tidak menganggu pagiku??!! Entah takdirku yang buruk atau apa, aku bisa memiliki noona sepertimu!!” kata Jungkook sambil berlalu meninggalkan Nana.

Nana tertunduk sedih dan segera berangkat ke sekolah. Di sekolah, banyak teman teman dan adik kelas yang memberinya selamat karena ia berhasil meraih Siswa Teladan di sekolah

“Nana sunbae!! Chukkae!!”

“Chukkae!!”

“Ahh.. nde. Gomawo” kata Nana

“Sunbaenim!! Boleh beritau kami bagaimana caranya menjadi sepertimu??”

“Benar benar. Sunbae itu cantik juga pintar. Ahh… kami iri!!”

“Ahh.. itu.. yang terpenting, kalian harus terus memperhatikan guru saat menjelaskan. Jangan sampai melalaikan satu pun tugas” kata Nana

“Jadi begitu.. baik!! Akan kami coba!! Gomawo, Nana sunbae”

Nana mengangguk. Saat ia akan berjalan, ada sebuah kaleng yang melayang di depannya. Refleks Nana menangkap kaleng itu.

“Wow!! Nice catch!!”

“Jinwoo..”

“Selamat datang di sekolah lagi, anak teladan”

“Mau apa lagi kau??”

“Tidak ada. Aku hanya ingin bertemu gadis yang kabarnya menjadi siswa teladan tahun ini”

“Terserah apa katamu, Jinwoo. Kau ini hanya murid baru yang baru masuk 2 bulan lalu”

“Lalu kenapa dengan status murid baru?? Yang penting, aku lebih populer darimu”

“Maaf ya?? Aku tidak mengincar kepopuleranmu. Aku hanya ingin belajar” kata Nana.

Ia meninggalkan Jinwoo yang hanya tersenyum kecil.

“Nana!!”

“Jinhwan!! Annyeong!!”

“Annyeong.. Siswa Teladan huh??”

“Begitulah”

“Chukkae ne??”

“Gomawo. Kau yang terbaik”

Jinhwan tersenyum sambil mengangguk.

“Duluan ya??”

“Ne. Annyeong”

Setelah Jinhwan pergi, Nana langsung masuk ke kelas dan menaruh tasnya di kelas. Tiba tiba bel berbunyi, tiba saatnya upacara pembuka

Lagu kebangsaan Korea Selatan di kumandangkan sebelum pidato pembuka. Setelah selesai, kepala sekolah maju ke podium untuk memberikan pidatonya

“Annyeong Hassimnika”

“Annyeong Hassimnika, Park ssaem!!”

“Kalian sudah mulai memasuki tahun ajaran baru, benar?”

“Nde, ssaem”

“Itu artinya, kalian semakin bertambah dewasa. Selalu belajar dan dengarkan nasehat guru guru. Kalian pasti akan bisa menjadi orang hebat bagi diri kalian, orang tua, dan juga negara. Gamsahamnida”

Semua murid bertepuk tangan begitu Park ssaem turun dari podium. Selanjutnya, Nana maju sebagai perwakilan dari sekolah untuk menyampaikan pidatonya

“Annyeong Haseyo, chingudeul. Jeon Nana imnida. Sebelumnya, saya sangat berterima kasih pada Park ssaem, selaku kepala sekolah dan semua guru guru di sini karena telah mempercayakan gelar Siswa Teladan pada saya. Namun, saya ingin bilang, saya bukanlah panutan di sekolah ini. Kalaupun ada yang mengikuti saya, saya benar benar berterima kasih. Tapi, kita bisa menjadi panutan diri kita sendiri. Untuk adik adik kelas, terus bekerja keras dan saya yakin, suatu saat kalian bisa merebut gelar ini dari saya. Selamat datang di tahun ajaran yang baru. Gamsahamnida”

Di sisi lain, terlihat Soonyoung dan teman temannya sedang merokok di sudut gudang sekolah. Tiba tiba, Kim ssaem yang merupakan guru BP di sekolah itu datang dan mereka kelabakan mematikan rokok mereka serta membersihkan asap yang mengepul.

Setelah Kim ssaem pergi, mereka melanjutkan kegiatan mereka. Soonyoung berdiri dan membuka jendela

“Kau mau kemana??”

“Toilet”

Sesampainya di toilet, dia mencuci wajah dan mulutnya. Setelah selesai, dia keluar dari toilet. Saat keluar, ia berpapasan dengan Soojung. Mereka saling diam dan berjalan ke arah masing masing

Sementara itu, upacara sudah selesai. Setelah sedikit nasihat dari guru BP sekolah, mereka masuk sesuai barisan ke kelas masing masing

Serim ssaem, wali kelas 11-3 mendatangi Nana sambil tersenyum.

“Nilai terbaik lagi, Jeon Nana??”

“Ahh.. begitulah ssaem” kata Nana

“Kalau kau bisa melampui nilai terbaik lagi tahun ini, saya akan dengan senang hati memberikan surat rekomendasi ke kuliah yang kau pilih”

“Gamsahamnida, ssaem”

“Nana, ini Daeun. Dia adalah putri kepala dewan sekolah” kata Serim ssaem sambil menepuk pundak yeoja di samping Nana

“Annyeonghaseo, Nana sunbae”

“Annyeong, Daeun”

“Bantu dia jika kesulitan. Ssaem percayakan dia padamu”

“Baik, ssaem”

Setelah Serim ssaem pergi, mereka saling menyapa dan tersenyum

“Daeun berada di kelas berapa??”

“10-2, sunbae”

“Umm.. oke”

Nana pun melambaikan tangannya ke Daeun karena ia harus sudah masuk ke kelasnya.

Istirahat akhirnya tiba. Nana berjalan ke arah kantin dan tidak sengaja berpapasan dengan Jisoo

“Jisoo, annyeong!!”

“Annyeong!! Chukkae!! Kau mendapat peringkat siswa teladan lagi!!”

“Gomawo. Itu bukan sesuatu”

“Kau mau ke kantin??”

“Iya. Tapi aku harus ke kelas 10-2 dulu”

“Untuk apa??”

“Mengajak Daeun makan”

“Daeun?? Putri kepala dewan sekolah itu??”

“Benar”

Tiba tiba, teman teman Jisoo datang menghampiri

“Nana!!”

“Hei!! Kalian!!”

“Jisoo, sudah belum?? Kami lapar nih!!”

“Oh!! Iya iya, sudah. Aku duluan ya, Nana??”

“Iya. Dahh!!”

Setelah Nana pergi, Jisoo dan teman temannya masih memandangi Nana.

“Sejak kapan kau kenal Nana??”

“Kami pernah satu kelas. Jadi kami sempat dekat”

“Dia itu cantik, tapi sayang..”

“Apa??”

“Sendirian”

“Maksudnya??”

“Kau tidak dengar bahwa hubungan Nana dan Soojung sedang renggang??”

“Benarkah??”

“Iya. Nana sudah tau kalau Soojung itu…”

Teman temannya yang lain tertawa. Jisoo hanya bisa tersenyum kecil.

“Kalian lapar enggak??” tanya Jisoo

“Iya nih. Tapi ke toilet dulu yukk”

“Untuk apa??”

“Biasalah. Kau ikut tidak Jisoo??”

“Tidak deh. Aku mencarikan kalian tempat saja”

“Baiklah. Kita duluan ya??”

Jisoo mengangguk dan teman temannya pun pergi. Ia meneruskan perjalanannya ke kantin dan mengambil makanan. Saat ia akan duduk setelah mendapat makanannya, ia tidak sengaja hampir menabrak Junior.

“Mian.. mianhae”

“Gwaenchana”

“Kau sendirian??”

“Tidak. Teman temanku belum datang”

“Baiklah. Duluan ya??”

“Iya”

Setelah Junior pergi, Jisoo segera menuju ke meja untuk duduk dan makan.

Sementara di lain tempat, Nana sampai ke kelas 10-2

“Daeun”

“Sunbae??!! Sunbae kenapa ke sini??”

“Mengajakmu makan. Ada tugas tidak??”

“Benarkah?? Gomawo sunbae!! Umm.. tidak ada”

“Baiklah. Ayo!!”

Daeun mengangguk dan berpamitan pada teman temannya

“Aku ke kantin dulu ya??”

“Baiklah. Dadah!!”

Sesampainya di kantin, mereka memesan makanan dan segera duduk.

“Sunbae..”

“Panggil eonni saja. Panggilan ‘sunbae’ terasa aneh untukku. Lagipula, kita sudah dekat”

“Baiklah, eonni. Aku ingin tanya satu hal pada eonni”

“Apa??”

“Jungkook itu adiknya eonni??”

“Benar. Kau kenal Jungkook??”

“Sebenarnya tidak, tapi ia menyelamatkanku kemarin”

“Benarkah??”

“Benar. Jadi begini, aku mengagumi eonni sudah cukup lama. Eomma juga tau eonni. Eomma bilang, ia pernah berkunjung ke rumah eonni dan berkenalan dengan anggota keluarga eonni. Kemarin, setelah menyelamatkan dan mengantarku pulang, eomma bilang padaku bahwa namja yang menolongku itu adik eonni”

“Lalu kenapa??”

“Tidak. Aku hanya tidak percaya saja kalau eonni punya adik”

“Ahh begitu. Ehm, kau ada waktu luang tidak??”

“Sore ini?? Tidak sih”

“Mau ke rumahku?? Aku ada sesuatu yang ingin kuperlihatkan sekalian aku akan mengenalkanmu ke orang tuaku”

“Tapi eonni..”

“Aku tidak ingin mendengar ‘tidak’”

“Baiklah”

Kedua yeoja ini tertawa dan meneruskan makan mereka. Tiba tiba bel berbunyi dan semua siswa segera berhamburan masuk ke kelasnya masing masing.

“Baiklah anak anak, pelajaran selesai. Jangan lupa dengan tugas hari ini dan kumpulkan besok”

“Gamsahamnida, seonsaenim!!” kata seluruh siswa serempak.

Setelah Lee saem keluar, satu persatu murid mulai membereskan tas mereka dan pulang. Saat Nana akan berdiri, tangannya ditahan oleh Jinhwan

“Bagaimana dengan besok??”

“Oh.. tentang perencanaan pameran itu?? Jadi dong..”

“Tidak. Bukan itu. Kita mengerjakannya di mana??”

Nana tampak berpikir. Ia akhirnya tersenyum menatap Jinhwan

“Di rumahmu ya?? Bisa tidak??”

“Di rumahku??”

“Iya. Bagaimana??”

“Bisa sih. Tapi..”

“Tapi apa??”

“Tidak.. tidak ada. Baiklah kalau begitu. Sampai ketemu besok!!” kata Jinhwan sambil berjalan ke luar kelas.

Nana tersenyum dan mengikuti Jinhwan keluar kelas. Di luar, Daeun sudah menunggu Nana.

“Eonni!!”

“Daeun?? Kau di sini sejak kapan??”

“5 menit yang lalu”

“Ahh.. mianhae ne?? Aku ada urusan sebentar di dalam, jadinya telat keluar”

“Tidak apa apa”

Nana tersenyum dan menggandeng tangan Daeun. Mereka berjalan ke arah gerbang sekolah

“Jeon Nana!!”

Nana menoleh dan ternyata itu suara Jinwoo. Jinwoo berjalan mendampingi Nana dan Daeun

“Ada apa??”

“Tidak ada apa apa. Hanya jalan keluar yang sama”

Nana mengangguk dan meneruskan jalannya. Jinwoo berkali kali memandangi Nana seperti ingin bertanya sesuatu

“Rumahmu dimana??”

“Daerah Gangnam”

Jinwoo hanya mengangguk. “Kau pulang dengan apa?? Daeun ikut denganmu?”

“Mmm.. eomma biasanya menjemputku. Itu dia di depan”

Nyonya Jeon menatap Nana, Jinwoo, dan Daeun dengan tersenyum.

“Eomma!!”

“Nana-ya, mereka siapa??”

“Ini temanku, Kim Jinwoo dan yang ini adalah Daeun”

Nyonya Jeon mengangguk anggukan kepalanya sambil tetap tersenyum

“Daeun akan bertamu ke rumahku. Sekalian ada yang mau aku bahas dan aku akan mengenalkannya pada anggota keluarga yang lain”

“Baiklah. Jinwoo?? Kau tidak pulang?? Kau bisa pulang dengan kami jika kau mau”

“Tidak usah ahjumma. Aku bisa pulang sendiri”

“Baiklah. Hati hati ya?? Ayo semuanya”

Nana dan Daeun tersenyum lalu berjalan ke arah mobil. Sebelum masuk, Nana sempat menatap Jinwoo. “Pulang dulu ya?? Hati hati..”

“Kau juga. Pulanglah”

Mobil mereka melaju meninggalkan Jinwoo yang masih berdiri memandangi mobil Nana. Di dalam mobil, Nana tak henti hentinya diam. Nyonya Jeon yang melihat tingkah aneh Nana hanya tersenyum

“Itu temanmu??”

“Iya”

“Di mana tinggalnya??”

“Entahlah eomma. Setauku dia tinggal di kawasan Apgujeong”

“Benarkah?? Tapi, eomma merasa tidak asing dengannya”

“Tidak asing bagaimana??”

“Entahlah, eomma juga lupa. Coba tanyakan pada appamu. Kalau tidak salah, eomma pernah melihatnya sedang mengobrol dengan appa-mu di tempat olahraga biasa di mana appa-mu melatih bulutangkis”

Nana hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.

“Appa kenal dengan Jinwoo?? Kenapa ia tidak pernah cerita kepadaku??”

Sesampainya di rumah, Nana dan Daeun segera menuju ke dalam kamar Nana untuk menaruh tas dan berganti baju

“Eonni kenapa?? Semenjak dari mobil, sikap eonni aneh”

“Tidak.. tidak ada apa apa”

“Masalah Jinwoo sunbae ya??”

“Aku hanya merasa aneh. Kenapa saat kelas 10 dulu dia bisa langsung mengenaliku meski aku merasa belum pernah bertemunya??”

“Sudahlah eonni, jangan terlalu kau pikirkan. Tapi, entah kenapa pikiranku mengatakan bahwa Jinwoo sunbae menyukai Nana”

“Hah?? Yang benar saja!! Dia itu banyak gosip dengan wanita!! Banyak yang sudah ia pacari lalu setelah itu langsung muncul kabar bahwa wanita yang dipacarinya sudah ‘kadaluwarsa’”

Daeun hanya mengangguk angguk mengerti. Nana membawa setumpuk kertas yang isinya tentang perencanaan ekstrakurikuler.

“Sebelumnya, aku ingin tanya satu hal padamu. 1 minggu lagi kan ada pameran ekstrakurikuler untuk semua murid kelas 10, kau sudah pilih ekstramu??”

“Ehmm.. aku sudah memikirkannya”

“Jadi, kau masuk ekstra apa??”

“Aku ingin masuk ekstra yang eonni ikuti”

“Eh?? Kenapa??”

“Aku mendengar dari eomma bahwa eonni ada di Jurnalistik. Aku kan juga bisa menulis, jadi mungkin bisa di salurkan ke sana”

“Jadi begitu.. baiklah. Aku ada tugas spesial untukmu”

“Apa itu??”

“Kau bisa kan menuliskan pengalamanmu, kesan kesanmu, dan kenapa kau tertarik bergabung?? Jika menurutku bagus, kau akan langsung aku rekrut jadi anggota tanpa melalui proses lainnya”

“Benarkah??!! Aku bisa!! Tapi, apa boleh begitu??”

“Tenang saja. Aku tidak akan mencantumkan namamu dulu. Jadi 2 hari lagi tepatnya saat pameran, datanglah ke stand jurnalistik dan berikan aplikasimu di sana. Oke??”

“Oke. Gomawo, eonni”

Nana tersenyum dan melanjutkan perkerjaannya.

“Eonni”

“Ne??”

“Adik eonni belum pulang??”

“Jungkook?? Dia biasa pulang malam”

“Kenapa??”

Nana menghela napas dan meletakkan kertas kertasnya. Ia menegakkan cara duduknya dan menatap Daeun.

“Ada banyak perbedaan di antara kami. Sejak kecil, Jungkook tidak sepintar dan sebaik diriku. Dia selalu dibanding bandingkan denganku dan karena itulah, ia menjadi anak pembangkang yang membenci kakaknya sendiri”

“Eonni…”

Daeun merasa kasihan pada Nana. Ternyata, dibalik sikap ceria Nana di sekolah tersimpan kesedihan mendalam karena adiknya sendiri

Tiba tiba, pintu terbuka dan muncullah Nyonya Jeon. “Ayo turun. Sudah saatnya makan, ajak Daeun juga” kata Nyonya Jeon sambil menutup pintu

“Ayo kita makan. Eomma sudah memanggil”

Daeun mengangguk dan menggandeng tangan Nana. Sesampainya di bawah, semuanya sudah berkumpul termasuk Jungkook. Jungkook yang menyadari kehadiran Daeun menatapnya dengan tatapan bingung

“Kau kenal dia Jungkook??”

“Tidak. Tapi aku pernah menyelamatkannya”

“Sudah kuduga. Jungkook, ini Daeun dan Daeun ini Jungkook”

Daeun hanya tersenyum ke arah Jungkook dan Jungkook membalasnya dengan anggukan kecil.

“Ternyata kau lebih cantik dari foto yang pernah diperlihatkan ibumu”

“Ahh.. gamsahamnida, ahjumma”

Suasana malam itu menjadi hangat karena Daeun. Bahkan Jungkook yang jarang tersenyum pun seakan tersihir dengan keberadaan Daeun.

Seusai makan, Jungkook duduk sendirian di teras belakang rumah sambil menegak birnya. Daeun yang melihatnya hanya tersenyum dan menyambar kaleng bir yang di pegang Jungkook lalu meminumnya

“YA!! Bir-ku!!”

“Kenapa?? Tidak bolehkah aku minta??”

“Ini tidak baik untukmu. Jangan diminum..”

Daeun tersenyum dan duduk di samping Jungkook.

“Kalau tidak baik, kenapa kau minum?? Kalau kau bisa meminumnya, kenapa aku tidak?? Bukankah kita sama??”

Jungkook diam mematung di tempat. Ini pertama kalinya ada orang yang mengomelinya dan hanya ia biarkan.

“Kenapa bengong?? Minum lagi saja. Aku ambilkan lagi kalau kurang”

‘Eh.. tidak!! Tidak usah!! Aku juga tidak minum lagi” kata Jungkook setengah kesal

“Kau tau?? Kau termasuk beruntung”

“Maksudmu??”

“Ya.. kau beruntung. Kau mempunyai kakak yang baik, ibu yang selalu menemanimu, dan juga ayah yang sangat perhatian”

“Jangan bercanda. Aku yakin, wanita itu menyuruhmu mengatakan ini untuk menghasutku kan??”

“Tidak. Aku mengatakan hal ini atas kemauanku sendiri”

Jungkook hanya tertawa sinis dan menyalakan rokoknya.

“Daeun-ah!! Supirmu sudah datang!!”

“Ne, eonni!!”

“Kau mau pulang??”

“Tentu. Ini sudah malam bukan??”

Jungkook hanya memandangi Daeun yang beranjak pergi dari tempat duduknya. Ia membuang rokoknya dan berjalan mengekori Daeun.

“Kau mau apa??”

“Biar aku mengantarmu”

Sesampainya di pintu depan, Jungkook membukakan pintu pagar untuk Daeun.

“Terimakasih untuk hari ini. Maaf kalau tadi aku menganggumu”

“Sudahlah. Jangan pikirkan itu”

“Tapi aku serius, Jeon Jungkook. Pikirkan perkataanku barusan atau kau akan menyesal”

Jungkook hanya diam dan menatap mobil Daeun yang berjalan menjauhi rumah mereka. Entah kenapa, perkataan Daeun yang tadi seolah mengusik hatinya

Keesokan harinya, Nana berangkat sekolah seperti biasanya. Namun, ia semakin sibuk karena ia ditunjuk langsung oleh guru pembimbing jurnalistik untuk mengurus pamerannya.

Ia meminta bantuan Jinhwan untuk mengurus foto foto dan arsipnya

“Kau sudah bawa perlengkapannya??”

“Sudah. Cek saja”

“Iya, aku percaya padamu. O ya, boleh aku ikut kau pulang?? Eomma tidak bisa menjemput karena harus ke-luar kota”

“Bisa. Kebetulan aku bawa mobil”

“Baguslah. Sampai ketemu pulang nanti!!”

Jinhwan tersenyum dan mengangguk. Setelah Nana berjalan menjauh, Jinwoo mendekatinya.

“Nana kenapa??”

“Tidak. Tidak ada. Kami hanya akan membahas perencanaan untuk ekstra besok”

“Kapan??”

“Nanti pulang sekolah”

“Oooh.. padahal aku ingin mengajakmu ke rumahku. Jaeshin hyung meminjamkan konsol gamenya padaku”

“Benarkah?? Sayang sekali aku tidak bisa”

“Tidak apa apa. Aku duluan ya??”

Jinhwan mengangguk dan mereka pun berpisah. Di lain tempat, Minghao terlihat sedang membersihkan tiupan saxophone-nya.

“Minghao”

“Jisoo?? Ada apa??”

“Tidak. Aku hanya menyapamu saja. Kau sedang apa??”

“Mencuci tiupan saxophoneku. Aku habis latihan tadi”

“Ooohh.. baiklah. Aku duluan ya??”

Minghao mengangguk dan melanjutkan kegiatannya.

“Kau sedang apa dengan Jisoo??”

“Kau sudah selesai, Jackson??”

“Sudah. Choi ssaem bilang, permainanku sudah stabil”

“Baguslah”

“O ya, kau ada acara malam ini??”

“Tidak. Kenapa??”

“Anak anak mengadakan pesta malam ini. Seperti biasa, di markas kita”

“Benarkah?? Aku harus ikut”

“Tentunya. Eh, sudah belum??”

“Oh! Sudah. Ayo”

Minghao dan Jackson meninggalkan wastafel dan kembali ke ruang musik untuk membereskan barang barang.

Bel pulang sudah berbunyi, Nana membereskan tasnya dan beranjak dari kursinya

“Aku pulang dulu ya??”

“Baiklah. Sampai ketemu besok”

Di luar, Nana menghampiri Jinhwan yang sudah menunggunya

“Sudah??”

“Sudah. Terima kasih sudah menungguku”

“Tentu saja. Ayo”

Di mobil, suasana canggung pun tercipta. Nana yang belum pernah berada satu mobil dengan laki laki selain adiknya, hanya terdiam dan menatap jendela

“Ibumu pergi ke mana??” kata Jinhwan mencoba mencairkan suasana.

“Busan. Ada urusan di sana”

“Di rumahmu sekarang, ada siapa saja??”

“Kosong. Jungkook baru pulang nanti malam sedangkan appa masih ada urusan di Incheon”

“Ahhh.. begitu”

Tak terasa, mereka sudah sampai di rumah Jinhwan. Di rumah, eomma Jinhwan menyambut mereka berdua.

“Jinhwan, kau sudah pulang?? Lalu, siapa gadis cantik ini??”

“Ini Nana, eomma. Temanku”

“Jeon Nana imnida”

“Ahh.. Nana-ya. Kau cantik sekali. Jinhwan, ajak temanmu makan. Ini sudah siang”

“Ah.. tidak usah ahjumma”

“Sudah tidak apa apa. Ayo”

Nana menatap Jinhwan dan disambut angguka yang mengisyaratkan Nana untuk ikut makan. Di meja makan, sudah ada adik Jinhwan, Eunjung.

“Oppa, siapa dia??”

“Dia teman oppa”

“Benarkah?? Salam kenal, eonni. Aku Eunjung”

“Salam kenal juga, Eunjung-ah. Aku Jeon Nana, kau bisa memanggilku Nana”

“Nana-ya, kalau boleh ahjumma tau, kau ada keturunan asing ya??”

“Benar. Ayahku dari Amerika dan ibuku dari Korea. Nama asliku yang sebenarnya adalah Alana Jeon. Karena menurutku terlalu susah, aku mengambil nama Nana dari namaku”

“Lalu, adikmu??”

“Jungkook?? Dari lahir namanya sudah seperti itu. Eomma berinisiatif untuk memberikan nama Korea dari lahir agar Jungkook tidak perlu berganti nama sepertiku”

Selesai makan, Nana membawa piringnya ke tempat cuci piring. Saat ia akan mencuci, Nyonya Kim menghentikannya

“Eh! Jangan Nana. Biar ahjumma saja”

“Tidak ahjumma. Biar aku saja. Aku ingin membantu ahjumma meski hanya mencuci piringku”

“Tapi..”

“Sudhalah ahjumma. Aku tamu di sini. Aku akan bertanggung jawab dengan apa yang kulakukan di sini”

Nyonya Kim tersenyum dan mengangguk. Setelah mencuci piringnya, Nana naik ke lantai 2, tepatnya menuju kamar Jinhwan

“Foto foto yang kau minta kemarin sudah aku print. Tinggal kau pasang di stan”

“Benarkah?? Wahh.. ini sesuai sekali. Terima kasih, Jinhwan. Kau cukup berbakat”

“Gomawo..” kata Jinhwan sambil tersipu malu.

Tak terasa, hari sudah menjelang sore. Jinhwan bersiap mengantar Nana pulang. Setelah berpamitan dengan Nyonya Kim, mereka pun berangkat.

“Terima kasih untuk hari ini. Maaf aku merepotkanmu”

“Tidak apa apa. Kita kan sahabat, aku dengan senang hati membantu”

“Kau tau?? Sudah lama kita tidak mengobrol seperti ini. Kau lebih sering dengan Jinwoo sehingga aku merasa jauh darimu”

Jinhwan hanya terdiam sambil menatap lurus kedepan. Keheningan mereka berlanjut sampai mereka sudah ada di depan rumah Nana. Kebetulan, Jungkook juga baru sampai

“Kau??”

“Jungkook?? Tumben kau pulang lebih cepat??”

“Bukan urusanmu”

Jinhwan melihat ke arah kaka beradik ini dengan tatapan bingung.

“Terima kasih untuk tumpangannya, Jinhwan”

“Tidak masalah. Aku pulang dulu ya?? Jungkook!! Duluan!!”

Jungkook hanya tersenyum tipis. Setelah mobil Jinhwan menjauh, Nana masuk ke dalam rumah tapi ditahan oleh Jungkook

“Pacarmu??”

“Kau bicara apa sih??!! Tentu saja tidak!!”

“Tapi kau tampak dekat dengannya?? Dia itu temannya Jinwoo hyung kan??”

“Darimana kau tau??”

“Jangan terlalu dekat dengannya. Aku tidak akan merestuimu berhubungan dengannya” kata Jungkook sambil masuk ke dalam rumah.

Tidak terasa sudah hampir 1 tahun Nana menempati bangku kelas 2 SMA. 2 minggu lagi diadakan ujian akhir. Nana benar benar menyiapkan segalanya.

“Eonni!!”

“Daeun?? Ada apa??”

“Boleh aku ke rumah eonni lagi hari ini??”

“Untuk??”

“Tidak apa apa. Hanya main”

“Ya sudah. Mau bareng??”

“Tidak. Kali ini eomma akan mengantarku”

“Baiklah. Aku duluan ya??”

Daeun mengangguk. Nana melanjutkan jalannya menuju kelasnya. Di kelas, ia tiba tiba dihadang oleh Jinwoo. Saat ia akan menghindarinya, ia selalu dihalangi Jinwoo lalu kemudian Jinwoo menyodorkan cupcake untuk Nana

“Untukmu”

Nana tersneyum tipis dan mengambil cupcake itu. Jinwoo tersenyum dan kembali ke kursinya. Nana akhirnya duduk sambil tersenyum diam diam dan memandangi cupcake itu.

Hari itu, sekolah memulangkan siswa lebih cepat karena ada rapat mendadak para dewan guru. Setelah berpamitan pada teman temannya, Nana keluar menuju gerbang.

Di depan gerbang, Nana diam terpaku karena melihat Jinwoo yang sedang berbicara dengan Nyonya Jeon

“Annyeong, eomma”

“Kau sudah keluar??”

“Apa yang kalian bicarakan??”

“Jinwoo bertanya apakah dia bisa pulang bersama kita. Supirnya tidak bisa menjemput”

Nana ragu ragu untuk menjawab iya. Secepat kilat ia berkelit pada Nyonya Jeon

“Ah!! Aku baru ingat!! Daeun akan kerumah siang ini. Aku takut kita belum pulang saat Daeun datang”

Nyonya Jeon mengerutkan dahinya. Jinwoo tersenyum dan menatap Nyonya Jeon

“Jika benar begitu, biar saya pulang sendiri”

“Tapi Jinwoo..”

“Tidak apa apa ahjumma. Saya bisa naik bis atau taksi”

“Baiklah. Kami duluan, hati hati ya??”

Jinwoo mengangguk dan membungkuk bersamaan dengan mobil Nana yang mulai melaju.

Di mobil, Nana kembali diam. Nyonya Jeon yang penasaran, bertanya pada Nana

“Kau ada masalah dengan Jinwoo??”

“Tidak eomma”

“Lalu kenapa kau berkelit saat dia meminta eomma untuk mengantarnya??”

“Tidak. Tidak ada”

Nyonya Jeon hanya menghela napas dan terus mengemudikan mobilnya.

Di rumah Nana, Daeun dan eommanya sudah datang. Mereka sedang mengobrol santai di ruang tengah

“Dimana Jungkook??”

“Dia belum pulang. Mungkin nanti–”

“Aku pulang!!”

Jungkook diam terpaku melihat Daeun yang datang bersama eommanya. Spontan Jungkook membungkuk ke arah eomma Daeun.

“Annyeonghaseo, ahjumma”

“Jadi ini yang namanya Jungkook?? Ahjumma ingin mengucapkan terima kasih dari sudah menyelamatkan Daeun waktu itu”

“Ahh.. tidak masalah. Kebetulan saya juga lewat di daerah itu”

“Mandi dan ganti bajulah. Kami berencana akan pergi makan malam bersama. Sebelum makan malam bersama, kita akan jalan jalan dulu”

“Tapi eomma..”

“Ada apa??”

“Anu.. sebenarnya..”

“Permisi!!”

Nyonya Jeon menoleh ke arah pintu. Ia lalu berdiri dan membuka pintunya

“Annyeonghaseo”

“Jinwoo?? Tumben kau kesini.. ada apa??”

“Tidak ada ahjumma. Saya hanya ingin berkunjung dan bermain dengan Jungkook”

“Kebetulan!! Kami sekeluarga akan pergi dengan orang tua Daeun. Ada baiknya kau ikut!! Sekalian untuk menemani Nana”

Nana tersentak kaget. Ia menoleh ke arah Nyonya Jeon dengan tatapan tidak setuju

“Tapi eomma..”

“Tidak ada tapi tapian!! Ayolah.. dia juga temanmu kan??”

Nana menghela napasnya dan mengangguk pasrah. Jinwoo hanya tersenyum meski bingung. Ia menatap Jungkook dan dibalas Jungkook dengan anggukan kecil

10 menit kemudian, mereka berangkat. Di mobil, suasana terasa cerah kecuali untuk Nana dan Jinwoo. Mereka larut dalam pikiran masing masing sehingga keheningan seolah mengelilingi mereka

“Di mana appamu?? Aku tidak melihatnya tadi”

“Appa sedang ada urusan di Incheon”

“Benarkah?? Aku penasaran dengan appamu”

Daeun yang mendengarkan percakapan Nana dan Jinwoo di belakang, hanya tersenyum. Dia menyenggol lengan Jungkook dan disambut dengan tatapan kaget.

“Wae??”

“Tidakkah kau lihat bahwa kakakmu dan Jinwoo sunbae sangat serasi??”

“Yaya.. terserah kau saja. Aku tidak perduli”

“Jangan berbohong padaku. Aku tau bahwa sebenarnya kau menguping pembicaraan mereka dari tadi”

Jungkook tersentak. Ia menatap tajam ke arah Daeun tapi Daeun menanggapinya dengan cuek

“Sungguh.. anak ini benar benar..” batin Jungkook

Sesampainya di Myeongdong, mereka berpencar. Daeun terus saja melingkarkan tangannya di lengan Jungkook untuk mencegah-nya kabur.

“Oh ayolah.. aku bukan anak kecil!!”

“Diam dan nurut saja. Selama kau mengikuti apa yang ku sarankan, kau akan aman”

“Tapi aku tidak suka keramaian..”

“Itu sebabnya. Kau harus belajar bersosialisasi” kata Daeun sambil tersenyum ke arah Jungkook

Memang pada awalnya Jungkook merasa sangat tidak nyaman dengan segala keramaian ini, tapi entah kenapa ia mulai merasa nyaman selama Daeun ada di dekatnya

“Kau mau ice cream??”

“Terserah kau saja”

Di tempat lain, Nana dan Jinwoo masih saja canggung. Mereka berjalan menyusuri Myeongdong seperti orang hilang.

“Kau lapar??”

“Ehmm.. sedikit”

“Ayo ke cafe itu” kata Jinwoo seraya menunjuk cafe di seberang mereka.

Jinwoo segera menggandeng tangan Nana tanpa memperdulikan omelan dari Nana. Sesampainya di sana, mereka mengambil tempat duduk di dekat jendela.

“Kau mau makan apa??”

“Aku minum saja”

“Baiklah. Ice americano-nya 2 ya??” kata Jinwoo ke pelayan cafe itu

“Darimana kau tau kalau aku suka americano??”

“Kau tidak perlu tau darimana”

Setelah selesai, mereka melanjutkan jalan jalan mereka. Mereka sempat mengambil foto foto di ponsel masing masing

“Jinwoo..”

“Hmm??”

“Gomawo.. untuk hari ini”

Jinwoo hanya tersenyum dan mengangguk. Tiba tiba ponsel Nana berbunyi, ternyata Nyonya Jeon yang menelepon

“Yeoboseyo??”

“Kalian dimana??”

“Di bagian barat Myeongdong, eomma”

“Ke titik pertemuan kita sekarang. Sudah waktunya makan”

“Baiklah. Aku dan Jinwoo ke sana sekarang”

Nana menutup teleponnya.

“Ayo. Eomma sudah memanggil”

Jinwoo mengangguk dan berjalan bersama menuju ke tempat Nyonya Jeon. Di sana, ternyata Jungkook dan Daeun juga baru datang. Setelah lengkap, mereka berjalan ke restoran yang berjarak 10 langkah dari tempat mereka.

“Jinwoo, nanti kau pulang dengan siapa??”

“Supir. Saya akan di jemput di rumah Nana”

“Baiklah. Berarti yang ikut pulang hanya Jinwoo”

Setelah makan, Daeun dan Nyonya Jung berpisah dengan Nyonya Jeon. Mereka berempat mencari taksi. Karena lelah, Nana menyandarkan kepalanya di kaca taksi.

“Capek ya??”

“Mmm.. kita sudah berkeliling hampir sehari penuh”

“Tidurlah. Kalau sudah sampai, aku akan bangungkan”

Nana mengangguk dan tersenyum. Ia memejamkan matanya. Jinwoo hanya menatap Nana.

“Apa aku mulai menyukaimu?? Entahlah.. aku gila memikirkan ini semua”

Keeskokan harinya di sekolah, Nana kembali bersekolah seperti biasa. Pelajaran semakin diperbanyak karena ujian akhir sudah semakin dekat.

“Baiklah. Ibu ada tugas untuk kalian. Tolong buatlah sebuah esai bahasa inggris tentang orang orang berpengaruh. Jangan lupa, sesuaikan dengan tema yang kalian dapatkan tadi”

Setelah Lee ssaem pergi, Jinwoo dan Jinhwan menghampiri meja Nana.

“Bagaimana dengan tugas hari ini??” tanya Nana kepada semua anggota kelompoknya

“Seperti kesepakatan. Kita akan ke pusat olahraga milik teman appaku”

“Baiklah. Kita bisa dapat banyak inspirasi di sana”

“Baik. Sudah pesan taksi??”

“Sudah. Mereka sudah menunggu di depan”

Akhirnya merek ber-enam keluar kelas dan menuju parkiran. Di parkiran, Nana bertemu dengan Jungkook

“Jungkook?? Ngapain kau di sini??”

“Menjemput seseorang”

“Mmm.. aku tau”

“Apa yang kau tau??”

“Daeun kan?? Kau menjemput Daeun kan??”

“Kalau iya, kenapa?? Bukan urusanmu. Pergilah”

Nana hanya tersenyum dan mengacak rambut adik kesayangannya itu

“YA!!”

“Baik baik. Aku tidak akan menyentuhmu”

Keenam remaja itu kembali berjalan menghampiri sebuah taksi yang sudah menunggu mereka di depan gerbang. Perjalan ke pusat olahraga ini memakan waktu 30 menit.

“Ini kan, tempat latihan appa biasanya??” batin Nana. Jinwoo yang seolah tau apa yang dipikirkan Nana hanya tersenyum misterius

Flashback

Sepulang dari Myeongdong, Jinwoo masuk ke dalam rumah Nana untuk menunggu jemputan.

“Sebentar ya?? Aku ganti baju dulu”

Jinwoo mengangguk. Setelah Nana naik, ia berjalan dan melihat ke sekeliling ruang tamu itu. Perhatian Jinwoo tertuju pada sebuah pigura kecil di sana.

Tampak Nana, eomma Nana, dan appa Nana sedang berfoto bersama. Mata Jinwoo membulat tak percaya.

“Mungkinkah??” batin Jinwoo.

“Ada apa, Jinwoo??”

“Nana, ini appamu??”

‘Benar. Itu foto kami saat berlibur di Busan. Kenapa??”

“Tidak apa apa”

Jinwoo terdia dan berusaha mencerna semua kenyataan yang diterimanya ini. Tiba tiba, ia tersenyum misterius

“Aku tau kelemahanmu, Nana”

“Ayo masuk. Teman appaku sudah menunggu”

Mereka pun masuk. Nana yang masih dengan perasaan anehnya, masuk dengan penuh pertanyaan di kepalanya.

Setelah wawancara selesai, mereka mengerjakan laporan di ruangan yang telah di sediakan oleh teman appa Jinwoo

“Jinwoo??”

“Jaeshin hyung!!”

“Kau sedang apa??”

“Mengerjakan tugas bersama teman temanku”

Jaeshin menengok ke dalam dan tersenyum kepada semua orang di sana

“Jinwoo??”

Nana tersentak. Suara itu…

“Ahjusshi.. sudah selesai bermain tennis??”

“Sudah. O ya, di mana appamu??”

“Sedang berbincang bincang dengan Joo ahjusshi”

“Baiklah. Kami ke loker dulu. Kami harus bersiap siap pulang”

“Baiklah, ahjusshi”

Nana memberanikan menoleh ke arah pintu. Ia yakin itu suara appanya

“Nana?? NANA??!!”

“Ah iya??”

“Lalu, apa selanjutnya??”

Nana hanya terdiam. Seluruh pikirannya kacau. Ia masih tidak percaya bahwa appa-nya telah membohongi dirinya

“Aku.. permisi ke toilet dulu”

Secepat kilat Nana pergi keluar meninggalkan teman temannya yang memandangnya dengan tatapn bingung. Jinwoo hanya tersenyum sinis memandangi Nana. Ia pun menyusulnya secara diam diam

Sepulang dari pusat olahraga, Nana langsung menemui eommanya

“Appa pergi kemana??”

“Bukankah emma sudah bilang?? Ia pergi ke Incheon dan pulang hari ini”

“Bohong!!”

“Bohong apanya?? Bukankah appa sendiri yang bilang-”

“APPA PUNYA KELUARGA LAIN KAN??!!!”

“Nana..”

“IYA KAN EOMMA??!! APPA PUNYA KELUARGA LAIN KAN??!!!”

 

TO BE CONTINUE

Sipp dah.. Page 2 post!! Sebelumnya, aku akan jelasin dulu. Setelah ini post dan di baca, pasti akan banyak yang komen “kok kebanyakan yang muncul Daeun ma Jungkook sih??” “Soonyoung – Soojung dan kawan kawan yang lain pada kemana??” “ni apaan sih??”

Oke.. di page kedua ini memang aku lebih memperbanyak momen Daeun-Jungkook karena akan rancu kalau aku langsung masukin di tengah tengah cerita. Di chapter selanjutnya, Soojung akan lebih berpengaruh di cerita. Setelah chapter 2B itu juga, aku akan buat side story Soonyoung-Soojung untuk menjawab rasa penasaran kalian.

Mian kalo ceritanya gaje dan hope u like it!!

4 responses to “Heartstrings (Page 2A : Love, Life, and Problem)

  1. hey author ehh,iya thor ini ff kok alurnya cepet banget,yah? atau hanya perasaan ku aja, dan juga ini cast-castnya terlalu banyakan jadi bingung hapalinnya ~_~ Ditunggu lanjutannya yah

    • Oyaa.. satu lagi.. aku emang cepetin karena ini cerita waktu dia kelas 2 SMA.. masalah sebenarnya itu waktu dia di kelas 3 SMA.. jadi di kelas 2 SMA hanya pengantar pengantarnya ajaa.. mian kalo ngerasa kecepetan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s