The Land of Morning Calm Part 2

cymera_20160331_210147

The Land of Morning Calm ( Part 2)

By : mrnwa

Cast : Han JooEun, Lee Donghae

Rating : PG-15

Genre : Romance

Blurb  : HAN JOOEUN. Semua orang menginginkan untuk berada di posisinya. Cantik, populer, kaya raya, memiliki banyak penggemar. Namun sesuatu yang gemerlapan itu hanya tampak dari luar, mereka tidak mengerti bagaimana wanita itu berdiri di atas kakinya sendiri, bagaimana wanita itu menyembunyikan sisi rapuh dari dalam dirinya. Sampai pada akhirnya dua orang pria datang di kehidupannya membuatnya membuka mata bagaimana dunia ini yang sebenarnya.

 

Part 1

 

Seoul, South Korea

Autumn, 2015

 

“Kalau aku ambil cuti 2 minggu bagaimana?”

Dengan sangat tidak sopan Jeremy menyemburkan jus mangga ke permukaan meja di hadapan kami. Aku meringis jijik melihat mulut Jeremy yang dipenuhi jus mangga. Bukannya meminta maaf karena telah berlaku tidak sopan dia justru melotot ke arahku. Sambil berdecak kesal aku melempar selembar tisu ke pangkuannya. Jeremy membersihkan sisa jus mangga di bibirnya.

“Kau itu bodoh atau apa!”

Apa dia bilang? Aku lulusan Kyunghee university jurusan art & design dengan nilai cumlaude. Ini prestasi yang sangat membanggakan bagi seorang aktris dengan jadwal sangat padat. Aku menjadi duta anti narkoba selama 5 tahun. Aku pernah memenangkan lomba menghitung cepat di acara varity show dan mendapat pujian karena kepintaranku. Coba jelaskan bagaimana bisa Jeremy mengatakan bodoh kepada aktris dengan segudang prestasi sepertiku.

“Aku mau cuti Jeremy.” Sengaja ku tekankan nada suaraku. Merasa sangat dongkol pada Jeremy.

“Kau lupa ingatan?” Aku memutar bola mata. “Kau masih memiliki kontrak film yang akan shooting satu bulan lagi, dan harus menyelesaikan 2 episode terakhir drama mu. Lalu kau masih  akan disibukkan dengan promosi drama mu setelah selesai shooting. Bagaimana bisa kau ambil cuti?”

“Tapi tidak akan memutuskan kontrak dengan mereka ‘kan?”

“Memang tidak. Tapi kau akan memakan banyak waktu sia sia.”

“Lama-lama aku bisa gila.”

***

Honey.”

Badanku terlonjak kemudian reflek balik badan saat kutahu tangan jeremy menepuk pundakku. Walau dia sering menyebalkan tapi usapan tangannya di pundakku selalu membuatku lebih nyaman.  Dia sudah menjagaku lebih dari 7 tahun dan ikut berpartisipasi dalam setiap langkah kesuksesan yang kucapai. Aku tidak pernah melewatkan namanya untuk berada didalam daftar ucapan terima kasih setiap kali aku berada di atas panggung untuk menerima penghargaan. Dan dia selalu menyeka air mata harunya ketika mendengar namanya disebut. Dia bilang dengan begitu popularitasnya dimata dunia ikut naik.

“Kau bisa istirahat besok.” Aku menatapnya tidak yakin. “Hanya 1 hari.”

Aku menghela napas, kembali menatap keluar jendela apartemen di lantai 35 menikmati keindahan kota Seoul di malam hari. Menatap lampu-lampu kota yang temaram dan sekilas berpikir bagaimana caranya mereka menaruh baliho besar gambar wajahku diatas sana.

“Lebih dari 8 tahun sweet heart. Bukan 1 atau 2 bulan kau hidup di dunia entertain. Apa yang sedang membuatmu tidak nyaman?”

Sesekali aku berpikir bahwa Jeremy memiliki kekuatan menerawang pikiranku karena setiap hal yang kupikirkan hampir semuanya dia tahu.

“Aku rindu ibuku.”

“Kalau hanya itu aku bisa menjemput ibumu untuk datang ke korea.”

Mataku menatap tajam mata Jeremy. Walau dia tahu isi pikiranku tapi dia tidak mengerti perasaanku. Sementara mata Jeremy mengerut bingung aku melesat menuju lemari.

“Masalahnya bukan itu.” Kutarik hoodie navy yang digantung di dalam lemari. “Aku yang anaknya.” Tubuhku sepenuhnya menghadap Jeremy. “Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku menjadikan pulang sebagai rutinitas favoritku. Kapan terakhir kali kata pulang menjadi kata yang paling indah di dengar. Aku bukan hanya ingin bertemu ibuku, aku ingin pulang ke rumah dimana ada dia disana.”

Tiba-tiba aku merasakan ada sebuah dorongan yang kuat dari dalam tubuhku sehingga sanggup membuat ujung kepala hingga kakiku memanas padahal ini masih musim gugur dan diluar sana hujan turun berderai-derai. Entah. Aku merasa luar biasa menyedihkan.

“Tapi pekerjaanmu.”

“Aku tahu.”

“Tunggu sampai selesai.”

“Aku mengerti.”

“Jooeun-ah..

Jeremy meringsek saat aku memakai hoodie dan mengambil boots penahan dingin yang berjejer rapi diatas rak sepatu.

“Aku mau keluar sebentar.”

“Sayang!”

“Aku janji tidak akan lama.”

***

Tidak ada yang percaya dengan janjiku sekalipun aku bersumpah di depan gereja. Tidak juga dengan Jeremy. Dia tidak mungkin percaya dengan janjiku yang akan pergi keluar barang sebentar saja. Ku pikir seorang manager artis hanya dibayar untuk mengurus kegiatan keartisan tapi mereka juga dibayar untuk mengusik ketenangan artisnya. Aku tidak peduli walau Jeremy sering memperingatkanku tentang setiap langkah yang aku ambil agar sedikit pun tidak menjadi sebuah skandal yang akan mengancam kehancuran karirku. Maka disinilah dia berada. Duduk di sampingku sambil mengawasi diriku terus-menerus yang tidak mengeluarkan suara apapun, sementara aku mencoba menganggap ketiadaan Jeremy di sampingku padahal sudah jelas-jelas asap rokoknya sangat mengganggu.

“Gunakan waktu istirahatmu dengan sebaik-baiknya.”

Dari ekor mataku bisa kulihat Jeremy mengubur ujung rokoknya. Mengusir asap yang masih tertinggal di udara oleh tangan sehingga aku bisa menghirup udara segar. Jeremy peminum yang kuat. Tidak pernah mabuk. Karena itu dia sudah menghabiskan lima botol bir sendirian. Tentu saja aku masih waras. Aku tidak minum sama sekali. Bukan tidak diijinkan. Jeremy tidak bisa mengendarai mobil dan aku tidak mau mengambil risiko kalau kami harus menginap di kelab ini kalau aku juga ikutan teler.

“Yang satu hari itu?” Jeremy mengangguk membuat aku semakin tidak tertarik dengan hari libur. “Ya Tuhan lebih baik tidak usah ada istirahat kalau hanya 1 hari.”

Kepalaku terjatuh ke sofa empuk bludru warna merah maroon. Setelah Jeremy memaksa masuk ke mobil dengan alasan tidak ingin mengambil risiko jikalu ada paparazi yang memergokiku pergi ke kelab malam-malam sendirian. Memangnya tidak akan masalah jika mereka menemukanku bersamanya? Pemberitaan jeleknya pasti akan seperti ini “Han JooEun sering pergi ke kelab tengah malam”. Mereka memberitakan seolah-olah kelab dibuka dari pagi hari. Dan pergi ke kelab tengah malam adalah perbuatan yang tercela. Jeremy juga memang berlebihan soal menjaga nama baik demi bersihnya dari skandal hingga kebiasaan yang dianggap wajar menjadi tabu. Aku jadi berpikir bagaimana kalau aku mengatakan soal pria Indonesia yang aku temui kemarin malam.

“Aku mau mengaku sesuatu padamu.”

Jeremy sama sekali tidak menoleh malah sibuk dengan bir nya.  “Tapi kau harus bersumpah tidak akan terkena serangan jantung.” Dia hanya melirik sekilas benar-benar tidak tertarik.

“Aku jatuh cinta.” Ucapku lantang di dekat telinganya. Biar saja dia tuli sekalian.

“Kau!” Matanya melotot. “Pelankan suaramu. Kau bisa merusak gendang telingaku.”

“Dia pria tampan. Menyenangkan. Dan sepertinya dia baik.” Aku sengaja mengabaikan aksi protesnya.

“Sepertinya?” Jeremy mengoreksi. “Apa itu artinya kau belum lama mengenalnya?”

“Memang belum. Baru kemarin.”

“Astaga!” Asal kalian tahu, Jeremy kalau kaget persis seperti ahjumma yang kehilangan 1 lusin pakaian yang di jemur di pagar rumah. “Bagaimana bisa kau jatuh cinta kepada pria yang baru kau temui. Tidak masuk akal.”

“Bisa saja. Kau lupa Enkyo pernah bilang cinta itu menyapa kepada siapa saja tanpa ijin. Apa itu tidak berlaku padaku?”

“Dia mengatakan pada naskah dramanya bukan kehidupan nyata.”

“Justru sebuah drama terisnpirasi dari kehidupan nyata.”

Jeremy menggelengkan kepalanya tanda menyerah. Seakan beban satu negara di tumpahkan kepadanya. Tangannya memijat kepalanya pelan sekali seakan jika dia melakukan gerakan sedikit lebih keras akan menghancurkan kepala plontosnya.

“Siapa dia?”

“Yang mana?”

“Pria yang kau suka.” Suaranya terdengar seperti eraman seekor ayam.

“Dia bukan orang korea.”

“Lalu?”

“Indonesia.”

Jeremy terlonjak seperti ada yang menyudutkannya dengan api.

“Jadi ini alasannya kau ingin pulang ke rumah ibumu?”

Secara otomatis dahiku berkerut bingung. “Apa?”

“Pria yang berasal dari Indonesia. Kau bukan rindu ibumu tapi ingin bertenu pria itu. Tidak! Tidak! Kau tidak seharusnya melakukan hal seperti ini.” Tubuhnya bergerak gelisah tidak karuan. Dia menuangkan bir kedalam gelas kemudian meminumnya sampai tandas lalu menuangkannya lagi lalu menandaskan isinya, seperti itu berulang-ulang.

“Kau bisa tenang sedikit tidak sih?”

Lama-lama aku kesal melihat tingkahnya yang berlebihan.

“Dia memang berasal dari Indonesia tapi dia ada di Korea. Seoul. Dia ada disini.” Ucapku jengkel setengah mati.

“Ini lebih mengerikan.” Jeremy memijat kepalanya lagi. “Kalau sampai ada yang tahu kau berhubungan dengan seorang pria tamatlah riwayatmu.”

“Kau itu berlebihan!”

“Aku tidak mengada-ngada.”

“Super Junior tidak membubarkan diri setelah Sungmin oppa memutuskam untuk menikah. Dan semua idol wanita hidupnya baik-baik saja walau mereka memiliki kekasih.”

“Masalahnya kau sedang diatas angin.” Suara Jeremy meninggi. “Kau tidak boleh jatuh cinta.”

Aku kembali di hempaskan pada kenyataan bahwa hidup yang telah kucapai hingga saat ini tanpa kusadari melepas satu per satu hal-hal normal yang ingin aku lakukan. Hidup yang mungkin diinginkan banyak orang mendadak menjadi hal yang ingin aku lepaskan. Aku tidak diijinkan jatuh cinta. Mereka pikir siapa yang mengatur isi hati seseorang.

***

Aku tidak tahu kapan tepatnya Tuhan menuliskan deretan huruf-huruf dalam lembaran kertas takdir umatnya. Setiap peristiwa yang kualami selama dua puluh lima tahun ini benar-benar membawaku kedalam belenggu yang semakin menyiksa. Awalnya memang terlihat menyenangkan ketika sesuatu yang gemerlapan itu menyapa kehidupanku. Sedikit demi sedikit membawaku ke atas puncak popularitas dunia. Tidak ada yang tidak tahu namaku, tidak ada yang tidak berteriak histeris saat melihatku, tidak ada yang tidak menginginkan posisiku. Dari setiap pencapaian yang aku raih mengubah setiap jengkal langkah yang kulewati. Hanya ada satu hal yang tidak pernah aku rasakan seumur hidupku. Kalian boleh tertawa kalau tahu kenyataan bahwa aku tidak pernah jatuh cinta. Sebelum akhirnya aku bertemu dengan pria itu. Aku yakin perasaan yang kurasakan saat ini adalah cinta. Aku tahu itu.

Eunkyo pernah mengatakan bahwa cinta dapat mengubah segala bentuk yang ada di diri kita sampai hal terkecil sekalipun. Dan teorinya terbukti keakuratannya. Buktinya, aku bukan tipe orang yang mau basa-basi dengan orang lain, bukan tipe orang yang mudah melempar senyum kalau hal itu tidak menguntungkanku, tidak ingin berbagi tempat duduk dengan orang yang tidak aku kenal. Semua hidupku teratur, sedikitpun aku tidak akan pernah mengijinkan orang lain mencampuri urusanku. Tapi dengan pria asing itu segalanya berbeda. Seperti kau minum air putih sehabis makan, terjadi begitu saja tanpa beban dan pertimbangan.

“Ada beberapa penggemarmu datang membawakan makanan kepada para staff dan juga dirimu.” Jeremy menghampiriku saat aku menyelesaikan beberapa scene drama. Pengambilan gambar untuk drama terbaruku yang episode pertamanya akan di tayangkan 3 minggu lagi cukup membuat kepalaku pecah. Apakah tidak ada aktor lain yang lebih waras dibandingkan dengan si Lee Donghae menyebalkan yang kelakuannya di atas batas kewajaran. Seharusnya orang tua itu menari saja di atas panggung tidak usah bersandiwara di depan camera.

“Ya Tuhan kimbab ini enak sekali.” Beberapa kotak kimbab di angkat ke pangkuan Jeremy seolah-oleh dia baru menemukan jenis makanan seperti itu.

“Dimana mereka?” Aku mulai beranjak mengenyahkan kotak makanan yang baru saja diberikan Jeremy padaku.

“Di luar sana.” Katanya. Dan aku mulai melangkah. “Kau berniat akan menyapa mereka?” Suara Jeremy terdengar terkejut.

“Kau pikir aku sudi.” Rambut coklat kemerahan yang baru kemarin ku warnai sengaja dikibaskan. “Berikan bagianku kepada siapa saja yang menginginkannya.” Cih, aku tidak pernah tau darimana mereka mendapatkan makanan sampah ssperti itu. Bagaimana bisa mereka memberiku makanan yang hanya membuat diriku menambah lemak di setiap jengkal tubuhku.

“Kau ini benar-benar. Paling tidak kau makan sedikit saja, kalau mereka tahu kau tidak memakan makanan dari mereka, mereka akan marah dan menuliskan hal-hal buruk tentangmu.”

“Jangan terlalu bodoh Jeremy.” Satu hal lagi yang harus kalian ketahui tentangku. Aku tidak bodoh seperti Jeremy, aku cukup memiliki otak yang cerdas. Oh, ku kira bukan hanya aku saja yang melakukan hal seperti ini tapi semua selebriti pernah melakukan manipulasi. Ku ubek isi tas louis vuitton, ku keluarkan ponsel kemudian menekan aplikasi kamera dan mengambil gambar diriku beserta kotak makanan yang baru saja diberikan penggemarku untukku. Sebelah tanganku memegang kotak makanan tersebut sementara tanganku yang bebas menekan tombol ‘ambil gambar’ tidak lupa memberikan senyum paling indah ke kamera. Kemudian selesai. Aku hanya tinggal mengunggah hasil gambarku ke instagram lalu memberi deskripsi yang berisi ucapan terima kasih atas pemberian makanannya dan aku akan menandaskan isinya. Beres.

“Mereka akan terus menganggapku sebagai malaikat.”

Mulut Jeremy menganga seperti biasa. Dia tidak akan pernah mampu melarang aku untuk melakukan hal-hal manipulasi seperti ini. Walau bagaimana pun dia terpaksa setuju selama hal itu memberikan dampak positif terhadap karirku. Dan perlu diingat, bukan hanya aku saja yang melakukan hal ini melainkan nyaris semua selebriti pernah bersandiwara.

***

“Ada yang bisa kubantu?” Reflek aku begerak mundur saat tahu siapa orang yang telah mengejutkanku. Gerakan tanganku yang berusaha membuka tutup botol air mineral yang tak kunjung berhasil otomatis terhenti. Aku berdecak sementara Donghae tersenyum manis (aku muak harus mengakui senyumannya memang manis) kemudian dia melirikkan matanya kearah botol air minuman sialan yang ku genggam.

“Kau selalu bersikap seperti wanita tangguh tapi membuka tutup botol air mineral saja tidak mampu.” Sebelum bisa membantah botol air mineral yang berada di tanganku berpindah tempat ke tangan Donghae. Sesaat ada bunyi tutup botol di buka, Donghae memberikan kembali botol minuman itu padaku. Aku melirik kesal ke botol minuman dan mengumpat dalam hati kenapa keahlian membuka penutup botol apapun tidak berpihak padaku. Dan yang lebih menyebalkan lagi kenapa harus dia yang membantuku.

“Terima kasih,” ucapku tidak peduli lalu berniat pergi dari hadapannya. Tapi tangannya menahanku.

“Tidak baik memposting gambar palsu di media sosial. Itu sama saja kau membodohi orang-orang yang mencintaimu.”

Ini yang tidak aku suka darinya. Pria ini dengan tidak tahu diri selalu mencampuri urusanku.

“Bukan urusanmu!”

Tidak ingin berdebat lama dengannya, aku menyentak tangan Donghae hingga terlepas kemudian keluar dari ruang ganti menuju sebuah taman yang berada tidak jauh dari lokasi shooting. Sementara aku duduk di bangku taman tidak terasa botol air minumanku telah kosong. Sekonyong-konyong aku memandang kekosongan botol air mineral. Terasa hampa, sepi, dan ringan. Tidak menarik sama sekali. Jika boleh mengaku sesuatu, apa yang aku rasakan saat ini sama seperti botol air minuman ini. Kosong, hampa, sepi. Tanpa di perintah otakku melayang ke sebuah ingatan seorang wanita yang paling aku rindukan. 5 tahun aku tidak bertemu dengannya. Aku tidak ingin hanya mendengar suaranya, tapi juga aku ingin memeluk tubuhnya dan bercerita hal-hal ringan yang kami lewatkan pada hari itu. Hanya sesederhana itu, tapi rasanya sulit sekali.

Sialan, kenapa aku jadi cengeng begini.

“Hei,”

Kepalaku mendongak, lamunanku buyar oleh suara seseorang. Kau tahu rasanya saat berada di dalam sebuah ruangan gelap gulita lalu tiba-tiba ruangan tersebut terang benderang. Sebahagia itu rasanya saat tahu wajah pria itu ada di hadapanku.

“Hei,”

Wajahku pasti langsung merona merah.

“Han Joo,” matanya menyipit seperti sedang mengingat sesuatu. “Joona?”

Aku sukses tertawa. “Jooeun. Han-Joo-Eun.” Aku mengeja setiap kata namaku.

“Ah, Han Jooeun. Sorry, pelapalan bahasa Koreaku memang buruk.” Dia terkiki geli. Oh dia menggemaskan sekali. Aku menggeser letak dudukku saat dia tanpa di persilakan menjatuhkan bokongnya di sampingku.

Gwaenchana.”

“Heh?”

“Tidak apa-apa.” Kataku cepat. “Apa yang kau lakukan disini?”

“Ini jam makan siang, dan sudah seharusnya aku berada disini untuk mengisi perutku yang keroncongan.” Aku mengangguk. “Aku bekerja disana.” Dia menunjuk salah satu gedung tinggi yang tidak jauh dari sini. Aku memandang gedung tersebut, memerhatikannya dengan seksama. Aku tahu gedung itu adalah perusahan yang bergerak di bidang teknologi. Kata Jeremy perusahaan itu membuat sebuah software.

“Kalau tidak salah gedung itu adalah perusahaan yang membuat software, program-program komputer, yang seperti itu.” Kataku tidak yakin karena aku pun tidak begitu mengerti.

“Ya, im a programmer.” Jawabnya. Dan aku mengangguk antusias.

Daebak.”

“Apa?”

Aku tersenyum. “Maksudku kau hebat. Ku pikir seorang programmer itu adalah orang-orang yang pintar. Seseorang yang mengagumkan karena dapat membuat sebuah program untuk memudahkan kerja manusia.”

Kalau tidak salah tugas seorang programmer memang seperti itu. Aku tidak tolol-tolol amat kok.

“Mungkin bagi mereka orang-orang sepertiku terlihat hebat. Tapi mereka tidak merasakan apa yang kami rasakan.”

“Memangnya apa yang di rasakan oleh orang-orang sepertimu?”

“Sebenarnya kami cukup tertekan ketika kami harus berkutat dengan bahasa pemrograman yang menguras otak. Bahkan kami sering tidak tidur semalaman demi mengurus sebuah kodingan agar menjadi output yang diinginkan.”

“Risiko pekerjaan, bukan begitu?”

“Tepat sekali. But, im happy. I love my job.

Setelahnya kami tertawa bersama seakan kami berada di taman bunga pada musim semi. Oh ayolah, jatuh cinta akan membuatmu norak.

Affan melihat jam tangannya lau merogoh saku celananya. Dia mengeluarkan sebuah kotak persegi panjang ukuran kecil berwarna biru.

“Kupikir setiap wanita menyukai coklat.” Dia mengulurkan kotak itu padaku. “Coklat dari Indonesia. Aku sengaja membawanya dari rumah, karena kupikir aku akan rindu rumah selama berada disini. Semoga coklat ini juga membantumu mengobati rasa rindumu pada Indonesia, terutama ibumu.”

Gila! Gila! Ini mengagumkan. Dia tahu sekali apa yang aku rasakan. Walau sekarang aku anti mengonsumsi coklat tapi aku bisa menyimpannya di rumah sebagai kenang-kenangan.

Gomawo.”

Sial, aku persis seperti anak remaja yang diberi hadiah oleh kekasihnya. Tapi aku menikmati keadaan seperti ini.

“Apa?” Tanyanya bingung.

“Terima kasih.”

“Oh, sama-sama.” Katanya. Lalu dia bangkit berdiri. “Sudah waktunya aku kembali bekerja.” Lanjutnya dan aku ikut berdiri. Dari jarak sedekat ini aku bisa menghirup aroma tubuhnya yang wangi dan entah kenapa begitu menenangkan. Aku khawatir wangi tubuhnya akan menjadi zat adiktif untukku. “Lain kali bisa kau ajari aku bahasa Korea?” Dia mengangkat sebelah alis hitamnya yang selama ini tidak bisa kulakukan.

“Ya, tentu saja. Tentu saja aku akan mengajarimu bahasa Korea.”

“Baiklah, kurasa aku harus pergi.”

Aku mengangguk penuh semangat.

“Kau bisa menemuiku kapan saja.”

Aku sedikit meneriakan nada suaraku membuat dia menoleh lalu melambaikan sebelah tangannya sambil tersenyum padaku. Oh Tuhan mahakarya paling indah yang pernah aku temui.

Tapi, senyumku mendadak hilang dengam sempurna berubah menjadi kejengkelan dalam sekejap saat menemukan Donghae berdiri tidak jauh dariku sedang menatapku dengan pandangan yang sulit kuartikan. Aku tidak peduli. Tidak ada yang boleh merusak moodku, termasuk Donghae. Jadi aku melewatinya tanpa mengatakan apapun tapi aku bisa melihat pandangannya masih tertuju padaku, dan sorot matanya berubah tajam.

To be continue

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s