[Oneshot] Chicken Soup

abcdestiana and atatakai-chan

proudly present

chicken soup

CHICKEN SOUP

A romance oneshot

starring

Seo Chulgoo and OC’s Wen Liu

 

Only the pure in heart
can make a good soup.”
Ludwig van Beethoven

.

Hujan membasahi atap-atap rumah di kota Seoul membuat dari atap gedung bangunan terlihat jalanan dipenuhi oleh payung-payung berjalan. Suara gemericik air yang berpadu dengan suara TV membuat si gadis asal Beijing semakin kesal.

“Apa-apaan ‘sih?” Dengan kesal ia mengambil remote TV yang teronggok di meja dan dengan kuat ia menekan tombol daya pada benda berbentuk balok tersebut –dengan kekuatan seperti itu apabila remote tidak rusak sudahlah suatu keajaiban.

Ia berjalan memasuki kamarnya, dengan posisi terlentang ia berbaring di tempat tidur. Kedua tangannya ia naikan tinggi-tinggi, membuat layar ponsel dalam genggamannya berjarak sekitar lima belas senti dari wajahnya, kemudian ibu jari tangan kanannya bergerak lincah pada keyboard ponsel pintar miliknya.

Sementara itu di sisi lain kota, seorang pria baru saja menyelesaikan mandi sorenya. Dengan berbalut handuk dari bagian pinggang sampai bawah pria itu berjalan keluar dari kamar mandi kemudian duduk di tepian tempat tidur. Suara yang dihasilkan oleh getaran ponsel pada meja berhasil menarik perhatiannya yang semula terfokus pada pemandangan di luar jendela kamarnya.

kktchwl2

Begitulah isi pesan dari gadis yang sudah menemaninya setahun ini, Wen Liu. Pria itu mengigiti bibir bawahnya begitu dirinya selesai membaca pesan. Rasa panik menyerangnya dan dengan sigap pria berkulit putih nan mulus itu membuka kontak ponsel, menguhubungi gadis yang baru saja mengirimkan pesan padanya.

Di luar sana, Wen Liu masih kesal sekaligus kecewa dengan apa yang belum lama ini ia lihat di layar kaca. Ya, bagaimana mungkin Seo Chulgoo sialan itu tidak memberitahu dirinya yang notabenenya adalah sang kekasih mengenai kembalinya Chulgoo mengikuti kompetisi rap yang rutin diselenggarakan oleh Mnet setiap satu tahun sekali terhitung sejak 2012.

‘Apa ia tidak takut gagal lagi huh?’ Gadis itu bergumam dalam hati.

Selang beberapa detik kemudian ponsel yang tergeletak di samping tubuhnya berdering dan pada layar ponsel terpampang jelas nama sekaligus foto Chulgoo –pria yang beberapa saat lalu ia maki habis-habisan dalam hati– namun alih-alih mengangkat telepon, Wen Liu malah mematikan ponselnya dan menaruh benda tersebut di sela-sela bantal kepala.

“Menyebalkan.” Wen Liu bergumam sebelum memejamkan kedua matanya.

Bersamaan dengan terpejamnya kedua mata Wen Liu, kepala Chulgoo terkulai lemas sementara ia membiarkan tubuhnya bersentuhan dengan kasur empuk yang baru ia beli tiga hari lalu. Helaan napas lolos dari mulutnya seraya ponsel kembali ia letakkan di atas meja di samping tempat tidur.

“Kenapa pakai acara ngambek segala ‘sih?” Ia bertanya pada dirinya sendiri.

Tak banyak bicara, Chulgoo meraih ponselnya dan mulai mengetik.

22

Sudah tiga menit berlalu namun nampaknya Wen Liu sama sekali tidak membaca pesannya. Helaan napas kembali lolos dari mulutnya. Butuh waktu sekitar dua menit lamanya bagi Chulgoo untuk membulatkan tekadnya mendatangi kediaman sang kekasih yang saat ini tengah ngambek.

 

oOOo

 

Wen Liu dibangunkan oleh suara pintu kamarnya yang terbuka. Samar-samar ia melihat seseorang tengah berdiri di samping tempat tidurnya dan tangan orang itu semakin mendekat ke wajahnya.

“Syukurlah tidak demam.”

Suara itu amat tidak asing di telinga Wen Liu. Ya, itu adalah suara Chulgoo, kekasih super penyabar yang panggilannya ia tolak beberapa saat lalu. Rasa bersalah menyelimuti Wen Liu, ia berpikir rasa khawatirlah yang membuat Chulgoo mendatangi kediamannya di waktu hujan begini. Walaupun begitu kata maaf sengaja ia pendam karena ia masih merasa kesal pada pria yang kini duduk di tepian tempat tidurnya.

Wen Liu membalikan tubuhnya, memunggungi Chulgoo dan pria itu hanya tersenyum tipis.

“Aku tahu kau sangat kecewa. Maafkan aku ya?” Di telinga Wen Liu hanya terdengar suara Chulgoo seolah hujan mendadak berhenti ketika pria itu berbicara.

“….”

“Tadinya aku berpikir untuk mengagetkanmu dengan memenangkan acara itu. Puncak acara akan ditayangkan pada hari jadi kita lho.”

Merajuk. Itu yang Wen Liu pikir Chulgoo lakukan tetapi sebenarnya tidak seperti itu. Bagi Chulgoo gadis yang memunggunginya ini adalah pelabuhan terakhirnya –it is her or no one else.

Tanpa rasa takut pria yang dikenal sebagai Eminem versi Korea itu mulai mengusap perlahan rambut Wen Liu sambil terus menggumamkan permintaan maaf yang akhirnya membuat Wen Liu luluh. Gadis berambut hitam itu berbalik untuk menatapnya, “apa kau tahu betapa sedihnya diriku ketika season lalu kau dikeluarkan karena gagal melakukan misi cypher? Kau tahu bagaimana aku menangisimu karena aku melihat betapa kecewanya dirimu di televisi?”

Wen Liu sebenarnya ingin berkata banyak namun flu yang dideritanya membuatnya sedikit sulit bernapas sehingga ia memutuskan untuk berhenti dan menarik secarik tissue dari kotak tissue berbalut sarung berwarna merah yang setia berada di sampingnya sejak dua hari lalu.

“Aku tidak mau tahu, lain kali kalau kau memutuskan untuk melakukan sesuatu kau harus beritahu aku!” Wen Liu dengan tegas berujar sambil menatap dalam pada Chulgoo.

Pria berparas rupawan itu mengangguk-anggukan kepalanya, “iya, aku berjanji.” Chulgoo kemudian menautkan jari kelingking kanannya dengan jari kelingking kanan Wen Liu. “Jangan marah lagi, oke?”

Bukannya menjawab, Wen Liu malah memalingkan wajahnya yang memerah bukan karena demam melainkan karena malu.

“Kau bisa bangun ‘kan? Ayo kita ke dapur. Aku akan membuatkanmu sesuatu.” Chulgoo memijakkan kedua kakinya di permukaan lantai seraya mengulurkan tangannya, secara tidak langsung memberikan izin bagi kekasihnya untuk menjadikan dirinya tumpuan untuk bangkit berdiri.

“Memangnya kau bisa buat apa?” Gumam Wen Liu seraya menyambut uluran tangan Chulgoo.

Pria yang sebenarnya tengah diejek itu hanya tersenyum, “sesuatu yang bisa membuatmu merasa lebih baik.”

.

.

Rasa kesal Wen Liu yang beberapa saat lalu sudah berkurang kini kembali muncul ketika melihat keadaan dapurnya yang menjadi sangat berantakan. Alat-alat masak berserakan di mana-mana seolah dapurnya baru saja diterjang oleh angin topan. Nasi sudah menjadi bubur, saat ini sudah tidak ada yang bisa ia perbuat selain duduk di ruang makan dengan kedua lengan yang dilipat di depan dada.

“Maaf lama, ternyata susah juga,” Chulgoo keluar dari dapur dengan sebuah nampan yang terisi oleh mangkuk berukuran sedang. Asap berkepul di atas mangkuk tersebut yang pastinya berisi sesuatu yang panas.

“Hmph!” Wen Liu mendengus sebal. Ekspresi yang dikeluarkannya entah mengapa malah membuat Chulgoo tersenyum geli.

“Nanti dapurnya aku bereskan, tidak usah marah, sayang.”

Bak seorang pramusaji restoran, Chulgoo menurunkan mangkuk dari nampan dan meletakannya di hadapan Wen Liu, “sup ayam ala Seo Chulgoo!” Dan dengan bangganya pria kelahiran Seoul itu memperkenalkan menu yang ia buat khusus untuk sang kekasih yang sedang flu dan juga ngambek. Ia merasa cukup beruntung Wen Liu tidak sedang PMS karena bisa lain ceritanya kalau gadis itu tengah PMS –mungkin yang ada saat ini ia sudah diusir keluar.

Tanpa dipersilakan Wen Liu mencicipi sup ayam yang tersaji di hadapannya. Ia berkali-kali mencecap, salahkan lidahnya yang selalu tidak berfungsi baik ketika sedang terserang flu.

“Enak tidak?” tanya Chulgoo sebelum menarik kursi dan duduk tepat di sisi kanan Wen Liu.

Wen Liu tidak menjawab, ia terus menyendoki sup ayam dan melahapnya sampai tinggal tersisa seperempat. Ia tidak tahu apa rasa sup ayam tersebut tetapi memang membuatnya merasa jauh lebih baik. Rasa hangat dari sup ayam yang dibuatkan oleh Chulgoo tak hanya menghangatkan tubuhnya tetapi juga menghangatkan hatinya –bagaimana tidak? Sang kekasih rela berupaya sejauh ini untuk membujuknya– dan rasa hangat yang menyelimuti hatinya itu berubah menjadi rasa bahagia.

“Terima kasih,” akhirnya Wen Liu bersuara. Ditatapnya Chulgoo dan ia memberikan senyuman pada pria yang sudah lebih dulu tersenyum padanya.

“Aku sudah tidak ngambek lagi, kau tidak perlu membereskan dapurnya. Biar aku saja yang besok pagi membereskannya.” Lanjut Wen Liu seraya mencoba untuk berdiri namun dicegah oleh Chulgoo.

“Kau ini seperti anak kecil saja, kalau makan belepotan,” Chulgoo tertawa.

“Sebentar ya, harus dibersihkan.”

Napas Wen Liu tercekat ketika Chulgoo mencondongkan wajah semakin dekat. Tiba-tiba saja bibir Chulgoo menyapu bibir bawahnya dengan lembut. Sebuah kecupan yang hanya sepersekian detik namun membuat Wen Liu tak kuasa bergerak, rasa panas mengalir dan memberikan rona merah pada wajahnya yang pucat.

 

FIN.


author’s note:

Terima kasih banyak aku ucapkan pada kakdes untuk storylinenya! Dan untuk para reader? Terima kasih banyak juga sudah menyempatkan diri untuk membaca!

With love,
Atatakai-chan

2 responses to “[Oneshot] Chicken Soup

  1. i know i know…
    chulgoo bakal jadi sweet man like this kalo udah jadi ff actor😄
    thank u udah bikinin ff untuk chulgo😄

    • hahahaha xD beginilah Seo Chulgoo dalam benakku dan kakdes

      hahaha ga usah terima kasih wineonuna-ssi karena Chulgoo memang kesayanganku jadi ya aku buat ffnya dengan senang hati (?)

      terima kasih sudah menyempatkan diri untuk membaca dan meninggalkan komentar❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s