STATION the Series #4 : Borders

bd-station

STATION the Series

#4: Borders

.

ssenxiu

.

L (Infinite) as Kim Myungsoo

Naeun (Apink) as Son Naeun

.

Angst, sad, life, school-life, AU || Ficlet-series || PG-13

.

Previous Story:

#1 : Spring Love || #2 : Rain || #3 : Deoksugung Stonewall Walkway

I’d be crossing borders

Stand up straight, fight your way

 

“Myungsoo” panggil eomma seraya masuk ke dalam kamarku. “Kau tidak siap siap? Nanti kau terlambat”

“Aku tidak ingin sekolah, eomma” ujarku sembari bangun dari tidurku.

“Kenapa? Apa ada hal yang menyulitkanmu?” ujar eomma sembari membenahi rambut coklat milikku. “Teman temanmu baik kan padamu?”

“Aku tidak tahan memakai penutup ini, eomma” ujarku. “Aku hanyalah anak aneh yang memiliki mata kristal..”

Eomma tersenyum sedih dan mengelus kepalaku.  Sepertinya, eomma bisa merasakan apa yang dirasakan olehku.

“Kau hanya minder, Myungsoo. Semua akan baik baik saja” ujar eomma

Aku hanya mengangguk. Aku pun akhirnya bersiap siap dan berangkat diantar oleh eomma

Di sekolah, Naeun menyambutku seperti biasa. Dia tersenyum dan menepuk bahuku. Hal yang sudah biasa dilakukan oleh seorang Son Naeun kepadaku.

“Annyeong! Tumben sekali kau datang lebih pagi” ujar Naeun sambil melingkarkan tangannya di pundakku. “Ada sesuatu ya?”

“Aku hanya ingin lebih pagi” ujarku. “Bagaimana denganmu? Tidak biasanya kau datang lebih awal?”

Naeun hanya memutar bola matanya. “Oh ayolah. Apa aku terlihat seperti anak yang kerjanya hanya bangun siang?”

Aku tertawa kecil melihat dia cemberut seperti itu. Aku mungkin masih bersyukur karena ada Naeun yang selalu ada di sampingku.

Tidak semua anak menjauhiku. Teman teman satu kelas, Naeun, anggota klub musik, OSIS, dan semua teman teman yang tidak ada hubungannya dengan geng Daeshin dan Miran. Mereka semua masih mau berteman denganku

“Pagi, Myungsoo! Hari ini ada latihan jam 13.00 di ruang musik” ujar Jaehyun, ketua klub musik kepadaku. “Jangan lupa, ajak Naeun juga”

“Untuk apa aku mengajak orang ini? Dia akan mengacaukannya” ujarku sambil melirik sebal ke arah Naeun.

“Oh, benarkah?! Gomawo, Kim Myungsoo. Itu adalah kata kata pujian yang sangat sangat inspiratif” decak Naeun dengan sebal sambil berjalan mendahului Myungsoo.

Aku dan Jaehyun kompak tertawa. Setelah berpamitan dengan Jaehyun, aku pun secepat kilat menyusul Naeun.

“Wah wah wah. Ini dia ‘anak aneh’ yang kita cari dari tadi” kata Daeshin, ketua geng pembuat onar yang sering membully Myungsoo.

“Mau apa kalian?” ujarku sambil berusaha tidak menatap mata mereka.

“Aku tidak mau apa apa darimu, anak payah. Kami hanya ingin kau berhenti mencari muka dihadapan orang lain” ujar Daeshin. “Terima kenyataan bahwa kau itu aneh dan tidak normal! Ingat itu! TIDAK NORMAL!” tambah Daeshin sambil berlalu bersama teman temannya

“Jangan dengarkan mereka” Naeun menepuk bahuku pelan. “Mereka hanya iri karena mereka tidak bisa sepintar, setampan, dan sekaya dirimu”

Aku mengangguk dan melanjutkan perjalananku ke kelas.

Jam 13.00, sesuai jadwal, aku dan band-ku berlatih. Di band, aku berada di posisi pemegang gitar.

Ada 5 orang yang menjadi anggota band itu. Hyejung sebagai vokalis, aku sebagai gitaris, Jaehyun sebagai bassis, Minhyuk sebagai drummer, dan Hwanhee sebagai keyboarder.

“Baiklah. Kalian tau lagu Loving You yang menjadi OST drama Heartstrings?” ujar Jaehyun.

“Yang dinyanyikan Park Shin Hye kan?” tambah Hyejung. “Aku tau lagu itu”

Aku hanya menatap teman temanku. Aku sama sekali tidak tau lagu itu

“Kau tidak tau lagu ini, Myungsoo?” tanya Minhyuk.

“Tidak” jawaku. “Aku tidak terbiasa mendengarkan musik di rumah. Mian”

“Benar! Anak ini terlalu membosankan!” tambah Naeun. “Bayangkan saja, di rumah ia hanya berkutat dengan buku buku tebal dan komputernya”

“Oh, diamlah!” decakku seraya menghampiri Naeun. “Kalau kau masih terus mengoceh, lebih baik kau pulang”

“Baik baik.. aku akan berhenti mengoceh” ujar Naeun sambil kembali duduk.

Yah.. meski Naeun itu bawel dan cerewet, aku tetap bersyukur ada Naeun di sampingku. Bagiku, Naeun adalah orang paling penting dihidupku selain eomma-ku sendiri

Keesokan harinya, aku tidak melihat Naeun sama sekali. Aku melihatnya hanya saat masuk lalu ia menghilang. Saat aku bertanya pada teman teman satu kelasku, semuanya hanya menggelengkan kepalanya.

“Mencari siapa, anak payah?” tanya Daeshin saat melewatiku. “Mencari teman wanitamu itu?”

“Benar. Apa kau melihatnya?” tanyaku

“Heh, anak payah!” jawab Daeshin sambil menatapku tajam. “Memangnya aku security yang mengawasi 24 jam di sini?!” tambahnya

“Maaf” kataku sambil melangkah pergi. Lebih baik menghindar daripada membuat masalah di sekolah.

Tiba tiba, ada salah seorang anak yang menghampiriku.

“Kau mencari Naeun?” tanyanya

“Benar” ucapku. “Apa kau melihatnya?”

“Dia ada di ruang kepala sekolah bersama Miran” jawabnya. “Lebih baik kau ke sana. Mungkin dia membutuhkanmu”

Aku terkejut mendengar Naeun berada di ruang kepala sekolah. Apa dia berurusan dengan Miran lagi karena membelaku?

“Baiklah. Gomawo” Aku segera berjalan menuju ruang kepala sekolah. Di depan ruangan, aku hanya berdoa semoga tidak terjadi apa apa dengannya

10 menit kemudian, Miran keluar duluan. Ia melihatku dengan tatapan sinis dan pergi. Setelah itu, Naeun juga keluar diikuti kepala sekolah.

“Gomawo, ssaem” ujar Naeun pada kepala sekolah.

“Sama sama, Naeun. Selama itu perbuatan baik, ssaem akan mendukungmu” ujar kepala sekolah sambil tersenyum ke arahku dan Naeun.

Setelah kepala sekolah masuk ke ruangannya, aku dan Naeun berjalan meninggalkan ruangannya

“Kau kenapa?” tanyaku. “Bertengkar lagi?”

“Begitulah. Aku melakukan pekerjaanku”

“Tapi Naeun, kau harusnya diamkan saja mereka”

“Ya! Memangnya aku bisa diam kalau sahabatku dihina seperti itu?” ujar Naeun. “Mereka sudah terlalu keterlaluan, Myungsoo!”

Aku hanya tersenyum ke arah Naeun. Kami pun kembali ke kelas kami.

Bel pulang sudah berbunyi. Aku mengambil tasku di loker lalu celingukan mencari Naeun. Karena dia ada di mana mana, aku memilih pulang karena Naeun pasti sudah pulang duluan

Saat berjalan di koridor, tiba tiba ada yang membekap mulutku dengan kain. Aku meronta berusaha melepaskan diri namun aku terlalu lemah. Hal terakhir yang kulihat adalah pemandangan koridor lalu setelah itu semuanya gelap.

Aku terbangun di suatu ruangan pengap yang kuyakini adalah gudang belakang sekolah. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri dan tidak menemukan siapapun.

“Wah.. kau ternyata sudah bangun” ujar sebuah suara.

Aku yang setengah sadar berusaha melihat siapa yang datang.

“Ini aku, anak payah! Daeshin!”

“Mau apa kau?” ujarku. “Kenapa kau menyekapku?”

“Sebenarnya aku tidak ingin menyekapmu” Daeshin berjalan ke arahku sambil menatapku sinis. “Tapi, Miran mengatakan bahwa kau harus di bawa ke sini juga”

“Miran?” tanyaku bingung. “Apa hubungannya denganku?”

Daeshin tersenyum dan berjalan menjauh. “Pertanyaan yang bagus. Bawa dia ke sini!”

Aku terkejut bukan main saat mengetahui siapa yang dibawa mereka ke hadapanku. Itu Naeun!

“Kau mau apakan Naeun?!” Miran tertawa dan menarik rambut panjang Naeun dengan kasar

“Mau kuapakan dia?” Miran tertawa dan menatapku sambil tetap menarik rambut Naeun. “Tentu saja memberinya pelajaran yang akan diingatnya seumur hidup!”

Tanganku mengepal. Aku tidak bisa hanya diam melihat sahabatku seperti ini. Tidak bisa!

Tak lama kemudian, Naeun terbangun dan terkejut menatapku. “Apa yang kau lakukan di sini?! Cepat pergi!”

“Kau bodoh?! Aku tidak bisa meninggalkanmu seperti ini!” Aku menghampiri Miran dan menatapnya tajam. “Lepaskan Naeun!”

“Baik. Kalau kau memaksa” Miran menyerahkan Naeun ke Daeshin lalu menghampiriku. “Kau urus Naeun! Biar aku yang mengurus si payah ini!”

Tanganku mulai dipegangi oleh anak buah Daeshin sementara Miran mulai memukulku. Aku tidak berdaya melawan karena kedua tanganku sudah dikunci. Di sisi lain, Naeun juga dipukuli dan dilepas bajunya secara paksa

Aku serasa ingin menangis mendengar teriakan dan tangisan Naeun. Dia sedang dalam kesulitan dan aku tidak berdaya seperti ini. Tiba tiba aku teringat perkataan ibuku

“Kau harus bangkit. Jangan biarkan ketakutan dan ketidak berdayaan menguncimu”

Dengan sepenuh tenaga, aku mulai melepaskan diri dari Miran dan anak buah Daeshin. Lalu aku maju dan menyingkirkan Daeshin dari Naeun.

“Kumohon. Kalau kau dendam pada Naeun, pukul saja aku! Jangan pukul Naeun” Naeun menatapku dengan sendu. “Kau gila?! Kenapa kau lakukan ini?!”

“Karena kau sahabatku” ujarku. “Hanya itu”

“CUKUP! Aku tidak boleh memukul salah satu dari kalian, kita habisi saja mereka berdua!”

Aku memeluk Naeun untuk melindunginya dari pukulan Daeshin dan Miran ke arah kami berdua secara membabi buta. Saat tubuhku hampir ambruk, tiba tiba..

“BERHENTI!”

“A-apa?!” ujar Miran tak percaya. “Bagaimana..”

“Ikut aku! Kalian akan menghadap kepala sekolah sekarang juga!” kata Park ssaem sambil menyeret Daeshin dan Miran keluar.

Naeun memelukku. “Kenapa kau lakukan ini?! Kau terluka karena aku! Kenapa, Myungsoo?! Kenapa?!”

“Justru aku salah. Aku tidak berdaya melawan dan akhirnya kau dipukul. Andaikan aku lebih berani, mungkin kita bisa keluar lebih awal”

“Tidak, Myungsoo. Kau sudah cukup berani. Sudah..”

Aku tersenyum dan kami pun berpelukan. Entahlah, aku mungkin akan mencoba bangkit dan lebih berani dari hari ini

FIN

Yeayyy!! Part 4 keluar!!

Yahh… ini mungkin adalah cerita paling absurd dari semua part yang ada. Aku buntu mau digimanain dan akhirnya keluarlah karya yang absrud ini..

Please give feedback!!

Sankyu!!

3 responses to “STATION the Series #4 : Borders

  1. Yeee,,myungeun^^
    Karakterny bda bnget dri si myungeun,,
    Btw,,critny bagus ko’
    Keep writing😁😁😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s