Medals (Chapter 2)

untitled-200

Title     : MEDALS

Genre  : Romance, Fantasy, Thriller

Main Cast: Lu Han, Ariel Lau (OC)

Other Cast : Find by yourself

Rating : PG 17

Length : Multi chapter

Auhtor : Nidhyun (@nidariahs)

Cover by : Revenclaw @ArtFantasy

MEDALS (chapter 1)

***

Hujan sore itu benar-benar deras. Angela kembali mengalihkan pandangannya ke arah alat-alat kimia yang sejak tadi menemaninya untuk mengisi waktu, atau tepatnya menghabiskan waktu. Yeah, beberapa tahun terakhir, Angela benar-benar sibuk mengencani semua yang berhubungan dengan kimia. Bahkan, ia pikir ia akan menikahi salah satu ensiklopedi yang dengan susah payah ia dapatkan.

“Ini baru lima belas menit, dan air sudah naik. Menjengkelkan.”

Angela sebenarnya terkejut ketika sebuah suara muncul dari arah pintu masuk rumah pohonnya –tempatnya menghabiskan waktu untuk berkencan denngan alat praktik kimianya. Bahkan, sesekali Angela akan tidur di tempat itu. Dan satu-satunya orang yang akan masuk dan keluar seenaknya dari rumah pohon kesayangannya hanya satu orang.

“Kau sudah kembali? Apa yang ayahmu bicarakan?” tanya Angela pada Luhan yang sepertinya sudah mendekat ke arahnya.

Luhan tidak langsung menjawab, ia pun duduk di samping Angela yang masih sibuk memandangi sesuatu lewat mikroskopnya. Entah apa yang kali ini ia teliti, tapi Angela terlihat begitu sibuk.

“Kau sudah makan?” Luhan mengabaikan pertanyaan Angela.

Angela tertawa mengejek tanpa mengalihkan pandangannya, “Aku sudah kenyang setelah mendengarmu pindah akademi.” Angela tersenyum kecut. Ada nada mengejek dalam suaranya. Mengejek dirinya sendiri, mengejek dirinya dan Luhan, mengejek kata ‘kita’ yang selalu ia sematkan untuk mengambarkan mereka berdua.

Luhan mengeraskan rahangnya. Yeah, ia tidak terkejut dengan sikap dingin yang ditunjukkan oleh Angela. Angela tetaplah Angela. Gadis dingin, kaku, kasar, selalu terobsesi dengan ilmu pengetahuan dan bercita-cita menjadi ilmuan, ambisius, angkuh, dan…baiklah, Luhan tidak akan bisa berhenti mendeskripsikan seorang Angela.

Hanya satu hal yang perlu Luhan garis bawahi mengenai Angela, bahwa Angela adalah gadis yang ia cintai.

“Kita masih memiliki banyak waktu untuk sering bertemu. Kau tahu, aku juga tidak bisa menolak misi ini. Aku juga memerlukan misi ini untuk…”

“Untuk menaikkan status keluarga kalian, kan?” Angela menyela sambil mencatat sesuatu di memo kecilnya, “Ayahku juga melakukan hal yang sama. Dan kupikir semua orang akan melakukan hal yang sama. Poseidon begitu luar biasa, kan? Aku penasaran apakah planet bernama bumi juga memiliki mahluk-mahluk yang serakah dan pandai berpolitik,” kata Angela lagi. Angela pun bangun dari kursinya, kemudian mengambil sebuah buku tua yang cukup tebal dan meletakkannya di atas meja.

Luhan tidak menjawab. Ia ingin menyela, atau mungkin menyampaikan sesuatu untuk meluruskan keputusannya –ataupun keputusan ayahnya—agar Luhan pergi ke bumi. Luhan memang berpikir untuk membantu ayahnya naik ke posisi yang diinginkannya, tapi Luhan tidak merasa bahwa keputusannya berkaitan dengan keserakahan ataupun sebuah politik.

“Jika aku sudah menyelesaikan misiku di bumi, dan ternyata aku ingin tinggal lebih lama di sana…apakah kau…apakah kau juga tertarik untuk datang ke bumi?”

Angela tertawa keras setelah mendengar pertanyaan Luhan yang menurutnya begitu konyol. Oh, ayolah! Tinggal di bumi? Hanya karena bumi memiliki bintang raksasa dengan cahaya yang begitu terang? Atau karena bumi memiliki satelitnya yang katanya akan terlihat indah saat dilihat dari bumi? Atau karena bumi memiliki berbagai macam jenis tumbuhan dan hewan, bakteri, bahkan memiliki jenis air yang berbeda?

“Kau sepertinya mulai terobsesi lagi dengan dongeng kecilmu, Han…”

“Aku serius Angela…”

“Dan aku sangat serius saat mengatakan bahwa impianmu membuat rumah di bawah air dan melakukan penelitian pada hewan air di bumi adalah konyol!” tanpa sadar, Angela justru menaikkan intonasi suaranya.

Luhan tidak bermaksud untuk membuat pertengkaran lagi dengan Angela, terutama di saat Luhan akan meninggalkan Poseidon dalam waktu dekat. Tapi ini bukan pertengkaran pertamanya dengan Angela yang menyangkut perbedaan pendapat tentang bumi. Ini juga bukan masalah pertama yang membuat harus menelan sakit hatinya ketika ia harus mendapat tertawaan dari Angela mengenai mimpi konyolnya.

“Misi terbesar pemimpin Poseidon adalah menjadikan bumi untuk penelitian kita! Untuk semua kelangsungan hidup bangsa Poseidon!” Angela kini kehilangan kendali, ia pun mendekat ke arah Luhan dan mengguncang bahu Luhan, “Kau tahu sejarah di bumi mengenai perang senjata yang menyebabkan banyaknya jutaan orang kehilangan nyawa? Kau tahu tentang nuklir dan seluruh senjatayang mereka ciptakan untuk menjadi penguasa di bumi?” Angela tertawa ketir. Ia tidak perlu membahas semuanya dengan detail. Bangsa Poseidon tidak mengenal kata penjajahan karena mereka hidup harmonis di bawah Yin Yang, di bawah dua ras dengan kekuatan yang saling menyeimbangkan, “Apa kau akan pura-pura tidak tahu bahwa sebenarnya bangsa kita telah melakukan hubungan dengan bumi? Apakah kau tahu bagaimana cara mereka menurunkan kakekku dari jabatan karena dia menentang tentang penguasaan bumi karena mahluk bernama manusia itu merupakan mahluk hidup yang memiliki hak untuk hidup? Hak untuk planet yang menjadi rumah mereka?” Angela lagi-lagi tertawa keras. Kali ini ia mengejek bangsanya sendiri –atau mungkin bangsa yang telah menjadikannya bagian dari mereka, bagian dari Poseidon, “Kau tak pernah mendengarkanku, Han. Bangsa campuran merupakan campuran ras kita dengan ras bumi, bukan Hilver dan Hrown.”

“Tidak ada bukti, Angela! Aku telah melakukan penelitian dan dalams ejarah gen, kita…”

“Akuilah bahwa kau bagian dari manusia itu, Han…. Akuilah kau penasaran apakah ibumu juga kini benar-benar berada di bumi.”

“ANGELA!”

“APA?”

Luhan enarik napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. Ia pun menegakkan tubuhnya dengan kasar dan membuat kursi yang didudukinya terpental ke belakang, “Aku…aku percaya bahwa bangsa campuran bukanlah keturunan manusia. Aku percaya pada ayahku yang telah melakukan…”

“Percayalah pada ayahmu, Han,” Angela kembali memotong ucapan Luhan, “Aku harap kau menemukan ibumu di planet yang memiliki ratusan Negara itu.”

 

***

 

Ariel kembali menyalin beberapa paragraf pada buku sejarah kebudayan di hadapanna. Buku yang ia pinjam dengan susah payah setelah bertengkar dengan penjaga perpusatakaan yang tidak mengizinkan buku dengan tebal seribu lima ratus halaman itu padanya.

Ariel tidak tahu kenapa gurunya menyuruh tugas yang hampir mendekati ‘mustahil’ untuk dikerjakan. Yang benar saja! Ariel bahkan tidak menemukan bukunya di pasar buku yang biasa ia datangi, bahkan Ariel tidak menemukannya juga secara online –di Poseidon pun terdapat istilah ‘online’.

“Aku sudah membuat tiga puluh halaman! Kau sudah membuat berapa halaman?”

Ariel tidak tahu dari mana datangnya mahluk yang memiliki wajah manly namun berhati girly ini. Namun tanpa tahu malu, laki-laki itu melesakkan pantatnya untuk menyeret tuubuh Ariel dan mencoba mengintip ke arah buku catatan Ariel. PR merangkum materi adalah hal paling menyebalkan bagi Ariel –dan Bobby, lelaki tak tahu malu dan berhati girly itu.

“Hei! Hei! Aku mati-matian mencari bukunya enak saja kau menyontek seperti itu!” pekik Ariel tak terima dan menarik bukunya untuk menjauh dari mata keranjang Bobby.

Bobby mendecak pelan, ia pun menyandarkan tubuhnya dan menatap Ariel dengan sebal, “Kau meminjam kamarku untuk mengerjakan tugas ini dan sekarang kau malah marah-marah hanya karena aku membaca tulisanmu?”

Ariel sudah membuka mulutnya, hendak memprotes semua ocehan bodoh Bobby –namun di saat bersamaan, seseorang masuk ke kamar Bobby dan berkata, “Ayahmu menelepon, Ariel. Katanya kau harus pulang sekarang.”

Secara bersamaan, Bobby dan Ariel saling memandang satu sama lain. Ini aneh, Ariel membatin. Ayahnya bukan tipe orang yang akan menyuruhnya pulang jika bukan dalam kdadaan penting. Setidaknya, terakhir kali Ariel dipanggil untuk hal penting itu adalah ketika nilai Ariel mendapat C dalam bidang studi musik. Dan ia rasa, kali ini ia tidak membuat masalah ataupun memiliki nilai yang buruk –ia bahkan belum melakukan ujian.

“Kenapa ayahmu menjadi angker begitu? Apa kau membuat masalah?” ternyata bukan hanya Ariel yang penasaran dengan keganjilan ayah Ariel, Bobby juga merasa heran karena ayah Ariel bukan tipe orang yang mau bicara berdua saja kecuali pembicaraan itu serius.

“Entahlah…padahal kita belum ujian, nilaiku jelas belum keluar,” Ariel pun kemudian menatap manik mata Bobby dengan panik, “Hei! Guru kita tidak membeberkan nilai tugas, kan?”

Bobby pun menoyor kepala Ariel dengan keras, “Apakah sekolah kita begitu mudah mengumumkan nilai murid-muridnya?”

Ariel pun merengut –dan sayangnya ia setuju dengan ucapan Bobby, “Mungkin saja ayahmu akan menjodohkanmu. Umurmu sudah cukup untuk bertunangan, kan?” dan kali ini kepala Bobby lah yang menjadi sasaran toyoran tangan Ariel. “Dasar lidah takbersekolah! Bagaimana bisa tiba-tiba ada perjodohan seperti itu? Dasar kepala dongeng!”

 

***

 

Dan meskipun selama perjalanan pulang Ariel menyangkal berbagai pikiran buruk yang menghinggapi otaknya, namun sialnya Ariel tidak bisa mengenyahkan semua pikiran buruk itu –bahkan ia sempat meyakini akan adanya perjodohan seperti celetuk bodoh Bobby. Tapi…ah! Mana mungkin! Ariel masih terlalu muda untuk bertunangan dan menikah.

“Kau sudah sampai? Habis mengerjakan tugas, ya?” sang ibu menyambut Ariel dari depan pintu, dan Ariel hanya bisa tersenyum ke arah ibunya dengan tatapan curiga –sayangnya ia tak menemukan petunjuk apapun dari warna mata sang ibu.

“Ya. Guru-guru zaman ini memang gila dan memberikan tugas yang tak kalah gila. Dan Bobby sedikit membantuku tadi,” bohong –justru Ariel lah yang harus membantu Bobby.

“Tapi…Bu, kenapa Ayah tiba-tiba memintaku bertemu dengannya?” tanya Ariel sebelum masuk ke dalam rumah.

Ibunya hanya tersenyum dan menggeleng, “Bicarakan saja dengan ayahmu. Kau akan tahu nanti.”

Yeah…Ariel juga tak terbantu dengan jawaban sang ibu.

 

***

 

Ariel berubah pikiran saat mendengar informasi apa yang disampaikan sang ayah padanya –dan ia pikir perjodohan akan lebih baik didengarnya ketimbang informasi yang tidak pernah terduga olehnya sama sekali. “Kau akan pergi ke bumi, dan mulai lusa kau sudah pindah akademik. Kau akan memiliki patner bernama Luhan, kalian akan bersama-sama pergi ke bumi.” Setidaknya informasi mengerikan itu yang ditangkap telinganya.

Bumi.

Ia sering mendengar kata itu diucapkan oleh banyak mulut yang kemudian tertanam oleh otaknya sebagai sebuah informasi umum. Tapi pergi ke bumi bukanlah bagian yang akan terpikirkan oleh otaknya –pergi ke wilayah lain saja bisa membuatnya merindukan rumah, apalagi sampai pindah planet? Belum lagi Ariel harus beradaptasi dengan lingkungan baru, dan semua yang baru –mulai dari udara hingga gaya hidup.

Dan itu bukan rencananya.

Ariel membantah, menolak, dan tentunya ia tidak akan menyetujui rencana itu dengan mudah. Hell! Ia tidak peduli apa yang akan didapatnya setelah ia pergi ke bumi, meskipun harta ataupun kenaikan status sosial, itu tidak penting dan Ariel tak membutuhkannya. Ia sudah cukup berbahagia dengan semua yang ia miliki.

Tapi keotoriteran seorang ayah di Poseidon bukan lagi pemandangan aneh. Mereka, para ayah selalus eperti itu. Termasuk ayah Ariel yang tak sedikitpun mau mendengarkan pendapat Ariel. Ariel tidak tahu imbalan apa yang diterima sang ayah, yang ia tahu mulai minggu depan ia tak akan lagi berada di rumahnya saat ini.

Dan, meskipun Ariel melewatkan makan malam dan memilih untuk menangis saja –ditemani Bobby yang menyandarkan dagunya pada kusen kayu jendela kamar Ariel, “Itu pasti yang terbaik. Orang tuamu tidak mungkin mengambil keputusan buruk, apalagi kau anak perempuan,” Bobby tidak pandai menghibur orang lain. Dan ia hanya bisa mengatakan apa yang terpikirkan olehnya dengan seadanya. Kemudian, ia hanya bisa mengusap kepala Ariel dan membiarkan Ariel tenggelam dalam tangisnya.

“Tapi itu tidak adil! Kenapa harus aku? Kenapa mereka tidak bertanya dulu padaku?”

Poseidon bukan tempat yang begitu adil –dimana para pemerintah akan tertarik menanyakan pendapat orang lain dalam mengambil sebuah keputusan. Bobby ingin mengatakan hal itu, tapi ia tahu itu hanya akan memperburuk suasana hati Ariel.

Yeah…dan akhirnya Bobby hanya bisa memeluk Ariel yang semakin menjadi dalam tangisnya. Ariel bukan gadis yang terlalu periang, tapi menangis juga bukan gaya seorang Ariel. Bobby juga sebenarnya cukup sedih mengetahui kenyataan ini –Ariel harus meninggalkannya ke bumi. Meskipun sebelumnya Bobby merasa bumi adalah tempat yang bagus, tapi bumi tetaplah tempat lain yang memiliki perbedaan besar dengan Poseidon –dan Ariel adalah seseorang yangtidak menyukai bumi.

“Kau tidak sendirian saat ke bumi, kan? Pendidikanmu masih belum memenuhi standar, seharusnya kau memiliki semacam patner. Kau sudah bertemu dengannya?”

Bukannya menjawab, Ariel justru mengangkat kepala dan berjalan menuju meja belajarnya. Dan dalam hitungan detik, sebuah benda yang Bobby yakini sebuah dokumen mengenai bumi ataupun semacamnya, melayang selama beberapa detik sebelum akhirnya mendarat ke bawah.

“Persetan!” ucap Ariel tanpa mengubah posisinya setelah ia melempar amplop coklat yang memuntahkan isinya ke luar

 

***

 

Luhan kembali membaca alamat sekolah ‘calon pasangannya’ untuk pergi ke bumi. Luhan kembali mendesis geli. Ia tak habis pikir bagaimana bisa pasangannya adalah perempuan yang masih sangat muda, yang pendidikannya masih standar, dan…entahlah. Intinya, Luhan tidak menyukai anak perempuan yang menjadi pasangannya saat ini. Meskipun mungkin anak perempuan ini bisa diandalkan untuk melakukan pekerjaan perempuan, tapi Luhan justru membayangkan anak perempuan ini adalah anak perempuan manja yang tidak bisa melakukan apapun.

Luhan menghentikan langkah kakinya setelah ia menemukan gerbang utama dari alamat sekolah yang dicarinya. Bukan sekolah spesial, dan Luhan seharusnya tahu sekolah ini juga tidak berisikan kumpulan orang yang ‘spesial’. Sekolah biasa yang berisikan orang-orang biasa dengan kemampuan yang…rata-rata, mungkin?

Luhan baru saja akan kembali menyeret kakinya masuk, namun tiba-tiba seseorang menabrak bahunya dengan keras dan membuat Luhan terhunyung ke depan. Dan orang yang menabraknya tanpa tahu malu itu justru hanya memekik sebentar –dan ternyata dia adalah perempuan—kemudian meminta maaf dengan terburu-buru sebelum akhirnya ia berlari cepat menuju gerbang. Luhan bahkan belum sempat menerima maafnya. Tidak. Bahkan Luhan belum sempat melihat dengan jelas wajah gadis itu. Namun anak perempuan itu sudah menghilang dengan cepat –kemampuan yang cukup hebat untuk menabrak Luhan sampai terhunyung dan berlari dengan cepat.

 

***

 

“Lihat si idiot yang selalu menempeli Bobby ini. Terlambat setiap hari, dan dengan tidak malunya sekarang ia membolos kelas, pula,” sindir seorang anak perempuan dengan warna rambut pirang menyala.

Meskipun rambutnya pirang, Ariel tahu gadis yang baru saja merecokinya ini tidak memiliki warna rambut pirang asli. UU Poseidon memang cepat sekali berubah. Dua tahun lalu, jika ada seseorang yang mengubah warna rambutnya, mereka akan mendapatkan hukuman atau sangsi, tapi semenjak Kaisar Poseidon berganti dua tahun lalu, entah karena otak kaisar adalah otak modern atau bagaimana, aturan-aturan ketat semacam itu berubah dengan cepat. Salah satu yang mengubah ‘lifestyle’ Ariel, dimana sejak setahun lalu ia mulai berani memakai rok di atas lutut.

“Kau tahu? Kudengar ada salah satu murid di sekolah kita ada yang terpilih untuk melakukan misi ke bumi!” salah satu dari anak perempuan yang baru saja merecoki Ariel, kembali membuka tema baru untuk gosipnya.

Ariel tidak terlalu terkejut, meskipun ia akui ada satu hentakan keras di dadanya ketika mendnegar kata ‘bumi’. Ariel tak habis pikir, bagaimana bisa ia malah terpilih sedangkan dirinya saja tak tahu menahu dan tipe orang yang tidak mau tahu, apalagi tentang misi ke bumi atau semacamnya.

Ariel tetap melanjutkan acara membersihkan lokernya, mengabaikan obrolan panjang dan melebar dari mulut tiga perempuan yang tidak mengubah posisinya dan tetap elanjutkan gossip mereka.

“Memangnya harus secepat ini yak au membereskan lokermu?” tanya Bobby yang entah datang dari mana dan sejak kapan. Ariel yang tadinya terdiam, akhirnya kembali meneruskan pekerjaannya untuk membereskan tumpukan sisa kertas ulangannya yang ia sembunyikan di loker sekolahnya. Sedangkan Bobby sibuk menata kardus milik Ariel.

“Mulai besok aku akan pindah tempat tinggal. Entah kemana dan entah dimana. Takut-takut ponselku juga disita, kau harus aktifkan e-mail mu setiap saat.”

Bobby tidak menjawab dan mengambil tiap barang yang dikeluarkan oleh Ariel, kemudian menata benda-benda itu dengan rapi di dalam kardus. Bahkan merapikan barangnya sendiri Ariel masih belum bisa, Bobby tiba-tiba merasa sedih, membayangkan Ariel secara mendadak harus dilatih untuk disiplin dan mandiri. Ariel bukan tipe anak yang suka dipaksa atau ditekan. Bahkan sangat sulit menemukan orang yang mau memahami seorang Ariel.

“Selesai!” Ariel menarik sudut biirnya kecut. Ia sebenarnya ingin menangis lagi, apalagi setelah melihat lokernya kini kosong dan tersisa coretan bodoh di dalamnya. Ariel belum lama berada di tempat ini, bahkan Ariel baru memiliki Bobby yang bisa ditarik ke sana ke mari, tapi kini ia harus bertemu dengan orang baru lagi.

“Kau mau aku membawanya ke mana?” tanpa diminta, Bobby sudah mengangkat kardus milik Ariel.

“Ck! Kenapa ketika aku akan pergi kau baru baik padaku!” ketus Ariel dibuat-buat.

“Di penitipan barang? Atau di…”

“Pulang sekolah kita kencan, ya! Kencan terakhir kita. Kalau bisa, besok jam lima pagi kau sudah ada di kamarku, aku akan pergi pukul enam.”

Bobby sama sekali tidak menjawab dan justru melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Ke tempat penitipan barang, mungkin? Entahlah. Tapis epertinya Bobby tahu aka nada orang yang membawakan barang itu sepulang sekolah nanti.

“Kau mau kemana? Kenapa lokermu dikosongkan?” tanya salah satu teman sekelas Ariel sambil melongok ke arah loker Ariel. Kebetulan loker anak perempuan itu berada di samping loker Ariel.

Ariel hanya menggeleng dan menutup pintu lokernya. Entahlah. Seharusnya, jika hanya ada satu orang yang pindah, dan jika gosip mengenai ‘misi ke bumi’ sudah menyebar di sekolahnya, maka mereka cepat atau lambat akan menyadari, jika Ariel lah orangnya.. walaupun…setahunya, misi ke bumi ini misi rahasia yang benar-benar rahasia. Boleh saja semua orang menyebut kata ‘bumi’, tapi yang memahami misi ke bumi ini, tentunya hanya orang-orang tertentu, dan bukannya orang-orang jenis Ariel yang lebih peduli pada makan dan tidur.

Ariel pun duduk di kursinya, kemudian menjatuhkan kepalanya ke atas meja sambil memejamkan matanya. Rasanya…pasti terdengar bodoh, jika Ariel yang hanya peduli pada makan dan tidur itu, kelak akan menjadi orang-orang tertentu yang memahami bumi.

Ya…bodoh.

Tidak masuk akal.

Mustahil…

Dan Ariel harap, ketika ia membuka matanya, semua ini hanya mimpi buruknya yang panjang.

 

***

 

“Jadi…kau yang terpilih untuk misi kali ini? Bersama anak perempuan yang selalu mendapat C dalam studi musik ini?”

Luhan dapat mendengar nada mengejek Kris ketika tanpa sengaja mereka berpapasan setelah Luhan mendatangi kantor guru untuk mencari tahu infosmasi detail tentag Ariel. Dan entah bagaimana, kesialan ini malah terjadi.

“Yah…menyedihkan, bukan? Ternyata anak perempuan dengan nilai C lah yang dipilih, bukannya anak bangsawan yang tersesat di daratan buatan bersama warga sipil,” dan Luhan juga merasa lebih menyedihkan, karena kesialan ini tidak bisa berhenti begitu saja. Ia terpaksa menyapa teman lamanya yang tidak terlalu ia senang ini, kemudian terdampar di kantin sekolah yang tidak terlalu menyenangkan –karena keberadaan lelaki di hadapannya ini mungkin?

Kris tersenyum sinis. Sudah lama sekali semenjak ia beradu kata dengan pria dengan wajah polos ini, “Lalu bagaimana reaksi kekasihmu? Kali ini kalian masih memutuskan untuk melanjutkan hubungan kalian?”

Dan…ini lah yang membuatnya tidak terlalu nyaman dengan keberadaan Kris. Jika bukan berada di tempat umum, Luhan mungkin bisa saja langsung melayangkan tinjunya ke arah lelaki di hadapannya ini. Ia dan Angela, entah mengapa pria ini selalu merecokinya dengan cara tidak menyenangkan seperti ini.

“Aku tidak tahu kenapa kau begitu terarik mengnai hubunganku dengan Angela, tapi satu hal yang harus kau pahami, Kris. Itu bukan urusanmu. Bahkan meskipun aku sudah menginjakkan kakiku di bumi, itu sama sekali bukan urusanmu.”

Tanpa sadar, Luhan menggebrak mejanya dan membuat semua pasang mata berlari ke arahnya. Dan saat itulah, Luhan akhirnya menemukan sosok perempuan yang dicarinya sejak tadi. Gadis itu tengah menatap ke arahnya. Kemudian dengan cepat, Luhan pun langsung bangun dari kursinya dan mendekati gadis itu.

 

***

 

“Di dalam mitologi, kata ‘Ariel’ itu berkaitan dengan air. Dan namamu….menurutku, namamu begitu menunjukkan bahwa kau adalah orang Poseidon sungguhan. Kau seperti putri penguasa air, atau semacam itu,”

Dan Ariel benar-benar tertawa hingga perutnya sakit. Ia tahu Bobby bodoh, tapi ia tidak tahu Bobby bisa sebodoh ini –hingga ia perlu mengucapkan hal-hal tak perlu. Dan Arel baru saja akan menjawab celotehan Bobby saat seseorang menggebrak meja dengan keras –dan bukan hanya Ariel yang membuat matanya berlari ke arah suara itu, tapi juga seisi kantin.

“Bukannya itu Kris, ya? Dia dengan siapa?” tanya Bobby yang tidak dijawab Ariel.

Kemudian, seorang pemuda yang sepertinya baru menggebrak meja itu –pemuda yang duduk berhadapan dengan Kris, tiba-tiba saja menatap dan mengunci pandangannya ke arah Ariel. Ariel tidak yakin apa yang membuat pemuda itu harus repot-repot melihatnya, namun kemudian pemuda itu justru semakin mendekatinya dan…

“Ikut aku sekarang!” katanya sambil menarik lengan Ariel.

Ariel yang belum memahami situasi ini, justru menatap pria dan Bobby itu secara bergantian –astaga, hari ini benar-benar kacau, “K-kau siapa?”

“Kau Ariel? Aku dan kau aka nada di akademi yang sama besok,”

“Akademi yang…sama?”

“Kau juga akan pergi ke bumi?” dan setelah suara Bobby menyentuh telinga Ariel, saat itulah ia sadar pria aneh yang mengebrak meja keras-keras di hadapan Kris, kemudian enarik tangannya tanpa rasa iba, adalah orang yang mungkin…akan pergi ke bumi bersamanya.

 

20160531 PM0843

 

5 responses to “Medals (Chapter 2)

  1. huuuuuum… .keknya mereka gak bakalan akur deeeh dilihat dari sifat luhan yg gak seperti biasanya…
    luhan itu ibunya orang bumi ya?? berarti dia bukan ras asli poseidon kan???

  2. kira2 kali ini yg bakal bikin luhan luluh sama ariel apa ya? di sini kayaknya karakter mereka bertolak belakang bgt. bakal banyak perdebatan ga penting nih sepertinya, next nya di tunggulah. udah ga sabar ^^

  3. waa akhirnya comeback
    semangaaat
    yuk next chapt kak… Ariel dan Luhan… manis sepertinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s