Kim Taehyung sebagai Hadiah

A Whitearmor Story

.

.

Kim Taehyung sebagai Hadiah

.

.

BTS’ Kim Taehyung and Armor’s OC Reyna Park

Drabble-Mix | romance!AU, fluff, and failed comedy | General


 [ pertama ]

Jarum jam di kamar Reyna sudah menunjuk angka sepuluh dengan jarum detik yang terus bergerak memutari daerah waktu. Sang gadis masih terpengkur di depan laptopnya. Pandangan Reyna sendiri tak terpaku pada video sekelompok pria yang tengah melantunkan sebuah lagu melainkan pada logo berwarna biru di sudut desktop miliknya.

Reyna menunggu Taehyung.

Iya … Kim Taehyung.

Si makhluk aneh yang berhasil membuat Reyna jatuh hati. Pemuda yang sudah mengombang-ambingkan hati sang gadis selama dua tahun terakhir. Pemuda yang sudah merenggut atensi sang gadis sepenuhnya.

Dan secara ajaib, hanya karena pertemuan singkat mereka di sebuah acara amal adalah awal mula terjalinnya hubungan Taehyung dengan Reyna. Sang gadis tidak akan pernah lupa saat Taehyung tiba-tiba menyapa dengan senyum sumringah kemudian berlanjut dengan meminta nomor ponsel dengan cara yang tidak biasa.

“Jika x adalah kelompok bilangan nomor ponselmu … maka x adalah?”

Awalnya Reyna jelas tidak mengerti namun sang gadis patut berterima kasih pada sang kakak—Park Minjae—yang turut membantu Taehyung untuk menjelaskan maksud ucapan sang pemuda.

“Dia minta nomor ponselmu, Rey.”

Pada malam hari setelah pulang dari acara amal, Reyna pun mendapatkan sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal. Namun, ia tahu pasti jika pesan tersebut berasal dari pemuda Kim.

Kau tahu? Sepertinya Minjae dan aku akan menjadi saudara ipar!

Begitulah, pesan singkat dari Kim Taehyung yang tak hanya membuat kening Reyna berkerut tetapi juga membuat sebuah senyum kecil terpampang jelas di bibir sang gadis.

Kini sudah dua jam sang gadis menunggu Kim Taehyung namun sang pemuda masih belum menunjukkan tanda-tanda akan menghubunginya. Bodohnya Reyna karena harus selalu mempercayai ucapan sang pemuda. Ia seharusnya tahu jika kepadatan jadwal Taehyung saat ini jelas akan menghambat mereka untuk saling berkonversasi.

“Dasar bodoh,” umpat Reyna pelan sambil menunjuk foto Kim Taehyung di layar laptop. “Untung aku sayang padamu.”

Reyna pun mematikan laptop dan segera menarik selimut, bersiap untuk tidur. Dalam doa, sang gadis berharap jika setidaknya Tuhan mau membuat Reyna dan Taehyung untuk setidaknya bersua di dalam mimpi sebab sang gadis jelas tidak membohongi perasaannya.

“Aku merindukanmu, Kim Tae.”

[ kedua ]

Hyung! Sekarang sudah pukul dua belas!”

Suara pekikan Jungkook sontak membuat netra Taehyung terbuka sempurna. Namun sang pemuda tidak langsung bangkit dari ranjang. “Hyung! Kau melewatkannya lagi tahun ini,” sahut Jungkook sambil melempar Taehyung dengan bantal.

Taehyung hanya mengerang pelan kemudian bangkit dari ranjang, berjalan menuju nakas tempat ponselnya berada. Jungkook benar, sang pemuda sudah berhasil melewatkan acara penting bagi sang gadis untuk kali kedua semenjak mereka resmi berpacaran.

“Kenapa aku selalu ketiduran?” Tanya Taeyung monolog.

Jungkook yang berada tak jauh dari sana hanya menggumamkan kalimat tak jelas atas pertanyaan Taehyung. “Dia akan membunuhku,” sahut Taehyung kemudian.

Reyna Park.

Gadis keras kepala yang tempramental sekaligus adik kandung dari sahabat terbaiknya, Park Minjae. Dua tahun adalah waktu yang sudah mereka lewati bersama dan selama itu pula, setiap tanggal tiga puluh di bulan ketiga, Kim Taehyung selalu lupa mengucapkan kalimat selamat atas pertambahan umur untuk sang gadis.

“Reyna akan membunuhku, Jungkook.”

Taehyung terlihat frustasi sambil terus-menerus merapalkan kalimat “Reyna akan membunuhku” berulang-ulang sampai Jungkook muak mendengarnya. “Kau bisa menghubunginya sekarang jika memang masih sayang padanya.” Jungkook berusaha memberikan saran. Tetapi sang pemuda bermarga Kim itu tak menanggapi. Ia sudah mengenal Reyna lebih dari siapapun dan gadisnya itu jelas bukanlah tipikal gadis yang mudah memaafkan terlebih Taehyunglah yang telah berjanji untuk tidak lupa menghubungi Reyna tepat di hari kelahiran sang gadis.

 [ ketiga ]

“Rey!”

Suara Minjae memecah pagi Reyna yang sunyi sedangkan sang gadis masih betah bersembunyi di balik selimut hangat. Tak berselang lama, sayup terdengar suara pintu kamar sang gadis terbuka. Alih-alih melihat siapa yang datang, Reyna justru memejamkan netra guna kembali ke pulau kapuk.

“Oh … apa dia masih tidur?”

Degup jantung Reyna seketika menjadi cepat tatkala mendengar sebaris kalimat itu. Sang gadis mencubit pipi namun tidak ada yang bisa dirasa kecuali rasa sakit. Reyna jelas tidak bermimpi namun apakah ini benar-benar terjadi?

Reyna lantas keluar dari balik selimut, melihat seseorang yang membuat degup jantungnya seketika berubah cepat. Dan kedua netra sang gadis membulat sempurna tatkala mendapati sosok pemuda berambut kecoklatan dengan bando rusa—hadiah natal tahun lalu—tiba-tiba muncul di hadapan sang gadis.

“Hehe … halo.”

Taehyung membuka pagi Reyna dengan baik. Tawa renyah dari sang pemuda membuat pipi Reyna bersemu merah. “Selamat ulang tahun ya, Rey.”

Sebuah kalimat ucapan selamat kini yang hanya bisa Taehyung ucapkan. Dua paragraf kalimat yang sudah dirangkai bersama Jimin beberapa jam sebelumnya sirna ketika sang pemuda sudah berhadapan langsung dengan sang pemilik hati. Gadis di hadapan Taehyung benar-benar tahu bagaimana cara mengacaukan pikiran sang pemuda.

“Bukannya kau hari ini mau pergi? Ada persiapan untuk konser, kan?” Tanya Reyna masih tak yakin dengan penampakan Taehyung.

“Aku … maksudku kami singgah sebentar di sini. Gadisku ini kan sedang butuh ucapan selamat dariku,” goda Taehyung. “Tetapi Rey, aku tidak membawa hadiah—”

Reyna memutar bola mata seakan tahu seluruh isi pikiran Taehyung. Pemuda sejenis Taehyung bukanlah tipikal kekasih romantis yang suka memberikan kejutan. Taehyung adalah jenis pemuda ceroboh yang suka bercanda dan menjahili siapapun, tidak terkecuali Reyna bahkan di hari “berbahaya” sang gadis.

“Sebaiknya kau segera berangkat, kasian yang lain.”

Taehyung menggelengkan kepalanya, “Aku kemari untuk memberikanmu hadiah.”

“Kau bilang tidak membaw—”

Kalimat Reyna terputus tatkala sebuah kecupan singkat mendarat di pipi sang gadis. Setelah itu, Taehyung hanya terkekeh sambil menarik sang gadis ke dalam pelukan. “Aku berbohong, Rey. Aku selalu membawa hadiah untukmu. Kamu tahu kenapa? Karena Kim Taehyung adalah hadiah untuk Reyna Park.”

a/n: bhak… rasanya mau gumoh nulisnya. Maafkan jika kurang gereget atau kurang membuat ribuan kupu-kupu menggelitik perutmu!

3 responses to “Kim Taehyung sebagai Hadiah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s