Twins on The Playground—(Chapter 3)

twins-jadi

Twins on the Playground

a l s h a b a e ’ s

School life, romance, sad, mix

Jeon Jungkook

Jeon Jungki

Baek Nara

Oh Gain

Other BTS’ members

Chaptered

PG 15

.

A story about shady, broken, uneasy teenagers that chasing their dream and love desperately. Contains lots of high school cliche and typo. Happy reading ;3

.

.

(ff ini juga aku post di btsffindo dan wp pribadi)

.

.

Synopsis & Teaser | Prologue | Chapter 1 | Chapter 2

.

.

Memasang wajah jahil, Jungkook bergerak pelan-pelan ingin mengagetkan Nara sebelum Jungki membelah keramaian yang diakibatkan olehnya. Ia berjalan ke arah Nara, lalu tanpa minta izin menggenggam tangan kanan gadis itu.

“Maafkan aku, semuanya. Tapi aku ingin ke ruang kesehatan bersama gadis ini,” terang Jungki membuat gerombolan yang tadi mengerubunginya serentak menahan nafas.

Tanpa memperdulikan wajah bengong Nara, Jungki langsung menarik gadis itu ke ruang kesehatan. Meninggalkan Jungkook yang menatap kepergian mereka berdua dengan wajah datar.

 

*** Chapter 3 ***

“Jungki! Lepaskan!” Nara berusaha sebisa mungkin membebaskan tangannya dari cengkraman Jungki.

“Jungki!”

Langkah mereka berhenti di koridor sekolah yang sepi. Menyentak tangan Jungki, Nara sempat meringis saat melihat pergelangan tangan kanannya yang memerah.

Mian, aku terlalu kera—“

YA, kau itu bodoh atau gila, sih?” sahut Nara tanpa melihat wajah lawan bicaranya.

Jungki mengernyitkan dahi.

“Menarikku dari kerumunan penggemar yang jelas-jelas menggilaimu. Kau mau membuatku kena masalah? Lagipula, apa yang ingin kau lakukan di ruang kesehatan? Bukankah kau bilang kau sudah baik-baik saja? Eoh?!” Nara menyemburkan amarahnya dengan wajah merah padam.

Jungki menelan ludahnya sarat. “A-aku hanya ingin lari dari mereka,” imbuhnya takut-takut.

“Lalu menggunakanku sebagai alat untuk melarikan diri?” Nara tertawa sinis. “Kau lucu sekali.”

Berusaha mengalihkan pembicaraan, perhatian Jungki tertumbuk pada perban usang yang melilit lutut kiri Nara. “Perbanmu sudah perlu diganti, ayo kita—“ ia melangkah maju, tapi Nara malah mundur selangkah.

“Aku baik-baik saja. Untuk mengganti perban, aku tidak butuh bantuanmu,” ujar Nara sarkastik kemudian pergi.

YA! Aku belum selesai bicara!” teriak Jungki pada Nara yang sudah hampir menghilang di persimpangan koridor.

Jungki merutuki kebodohannya. Sebenarnya tadi ia hanya ingin mengajak Nara keluar karena gadis itu sudah menyelamatkannya di rumah sakit tempo hari, juga untuk menjauh dari penggemarnya, walaupun itu bukan tujuan utama, tapi tanpa bisa dicegah mulutnya malah mengucapkan kata yang salah.

Nara pasti kesal. Padahal ini baru pertama kalinya Jungki benar-benar bicara berdua dengannya. Entah bagaimana selanjutnya jika Jungki bertemu gadis itu.

Ia mengacak surai cokelat gelapnya gusar. “Entahlah,” gumamnya kemudian pergi.

 

***

 

Nara terus merajut langkahnya ke kelas dengan wajah datar. Berusaha tidak memusingkan pandangan sinis yang dilayangkan para murid perempuan kepadanya. Ia tau betul apa yang ada di pikiran mereka.

Baek Nara, anak pindahan dari sekolah antah berantah di Busan yang baru menikmati hari kedua di sekolah barunya, tiba-tiba ditarik ke ruang kesehatan oleh Jeon Jungki, pangeran mereka yang tak tersentuh. Nara tidak mengada-ada, di sepanjang lorong ia bisa mencuri dengar orang-orang yang berbisik membicarakannya.

Diam-diam Nara mengumpati Jungki atas aksinya yang kurang melihat situasi tadi. Lelaki itu, baru saja mereka bertemu tapi langsung membuat Nara ilfeel.

“Nara!” panggil Minjoo.

Nara berjalan ke tempat duduknya. Di sebelahnya bukan lagi sebuah kursi kosong. Ada gadis berwajah boneka yang duduk disana.

“Kau pasti Oh Gain, kan?”

Gadis itu mengangguk, membuat anak rambutnya bergoyang kecil. “Ne,” sahutnya bersahabat.

“Aku punya sebuah pertanyaan,” , “Apakah… Jungki anak yang terkenal disini?” tanya Nara hati-hati.

“Hm, lumayan. Apalagi dia satu-satunya anak yang memiliki kembaran, bersama Jungkook,” sahut Hyomin.

Jungkook, yang duduk tidak jauh dari mereka merasa terpanggil. Ia langsung memasang headphone lalu menelungkupkan kepala di meja. Lelaki itu tak mau dengar orang lain bicara tentangnya.

“Benarkah? Memang, apa yang membuatnya begitu terkenal? Selain dia punya kembaran?”

“Jungki itu, salah satu trainee yang berpotensi akan didebutkan di agensinya, Big Hit. Kau pasti tau agensi itu. Dari pertama kali melihatnya menari, apalagi rap, kau pasti akan langsung jatuh cinta!” terang Minjoo dengan mata berbinar dan kedua tangan bertaut di depan dada. Sepertinya isi kepala gadis itu sedang dipenuhi bayang-bayang Jungki.

Rap?!”

Minjoo mengangguk semangat. “Kau bisa dengar, kan anak itu punya suara yang berat dan tajam. Suara seperti itu cocok untuk rap,” , “Dan…meluluhkan hati perempuan juga,” ia tertawa malu-malu.

“Ah.. aku mengerti sekarang.” Nara mengangguk paham.

Gain yang duduk di sebelah Nara tiba-tiba mendekatkan wajahnya pada gadis itu. “Tapi Nara, kenapa tadi pagi Jungki tiba-tiba menarikmu ke ruang kesehatan?” tanyanya setengah berbisik.

“Iya, kenapa? Apa kalian sudah saling kenal sebelumnya?” Minjoo menimpali.

Nara yang tidak tau harus apa menelan ludahnya sarat. Pandangannya terus berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain karena gugup.

“I-itu…” ia akhirnya membuka mulut. Gain, Minjoo, dan Hyomin menatap Nara lekat-lekat. Sudah tak sabar menanti jawabannya.

“Itu karena—“

“Oh Gaiiiiin~”

Ucapan Nara harus berhenti di tengah jalan karena seorang lelaki berambut pirang tiba-tiba masuk ke kelasnya dan berteriak heboh.

Gain yang merasa terpanggil langsung berdiri, menghadap orang itu. “Hwangja-nim! (pangeran)” sahutnya sambil menaruh kedua tangan di pipi. Senyum tiga jari tak bisa lepas dari bibirnya.

Lelaki berambut pirang itu berhenti tepat di depannya, memapatkan pipi Gain gemas sampai wajah gadis itu berubah jadi seperti bebek.

Gwangju-nim, tuan puteriku! Kemana saja kau kemarin? Apa masih sakit? Apa kau masih demam? Suhu tubuhmu sudah normal, ‘kan?” baru saja sampai tapi lelaki itu sudah menyemburkan kata-katanya tanpa bisa dicegah.

Hyomin mendesah kesal. “Mulai lagi,” keluhnya.

YA! Yang tidak normal itu kalian berdua, tau.” Minjoo menimpali tapi hanya dianggap angin lalu.

“Siapa dia?” tanya Nara. Dia memang belum sempat melihat orang itu karena tertutup tubuh Gain, tapi dengan mulutnya yang tak berhenti nyerocos lelaki itu berhasil menarik perhatiannya.

“Kim Taehyung, anak dari kelas sebelah. Untuk informasi tambahan, mereka adalah pasangan dari planet luar. Sebentar melihatnya saja kau sudah bisa merasakan keanehan mereka,” terang Hyomin.

Lelaki bernama Kim Taehyung itu tiba-tiba memeluk Gain. Dia baru saja ingin menyesapi aroma tubuh gadisnya tapi pandangannya keburu bertemu dengan Nara.

“Kau!” sahut keduanya serempak.

Jungkook yang hampir ketiduran dengan headset menyumbati telinganya sampai mengarahkan pandangan pada mereka.

“Setan rambut pirang,” desis Nara penuh kekesalan. Kim Taehyung, ternyata itu nama anak yang sudah menumpahkan sesuatu padanya kemarin.

 

***

 

Jungki membenarkan dasi kupu-kupu yang menghiasi lehernya, diikuti dengan Jungkook yang merapikan jasnya. Keduanya berdiri berdampingan. Sama-sama menawan, tapi mengeluarkan aura yang berbeda.

Jungki, dengan setelan putih, dasi kupu-kupu, dan rambut yang dibuat lebih klimis dari biasanya, membuat ia tampak mewah. Sementara Jungkook memakai setelan hitam tanpa dasi kupu-kupu, dengan sapu tangan yang ia lipat di saku dada kirinya, perpaduan warna kesukaannya.

Hyung, eotte?” tanya Jungki sambil menghadap Jungkook. Jarang-jarang lelaki itu memanggilnya dengan sebutan kakak, biasanya hanya saat ia ingin minta sesuatu.

Jungkook meniti perawakan adik yang hanya berbeda beberapa menit dengannya itu dari ujung kaki sampai ujung kepala.

“Ah, ayo cepat katakan,” rengek Jungki tidak sabar.

“Sepertinya harusnya aku yang memakai jas putih itu.” Jungkook tersenyum jahil.

Wae?

“Karena kau makan seperti ayam. Pasti baju itu langsung bernoda lima menit pertama kita di meja makan.”

“Aish, kau ini. Kukira karena aku kurang tampan,” Jungki merangkul bahu Jungkook, berjalan meninggalkan kamar itu.

“Mana mungkin kau kurang tampan. Wajahmu kan sama denganku,” jawab Jungkook sambil terkekeh.

“Dasar. Ngomong-ngomong, aku sudah tidak makan seperti ayam lagi, tau.”

Jungkook membentuk senyum asimetris, mengejek. “Benarkah?”

“Tentu saja. Kau mau bertaruh? Kalau sampai lima menit nanti jasku masih bersih, aku dapat apa?”

Bukannya menjawab, Jungkook malah menghempas tangan Jungki yang beristirahat di lehernya. Kembarannya ini, masih saja suka bertaruh untuk hal-hal kecil. “Itu tidak akan terjadi.”

YA! Aku bersungguh-sungguh!”

Ini adalah hari terakhir orang tua Jungkook dan Jungki menginjakkan kakinya di Korea. Karena besok mereka akan pergi untuk mengurus cabang perusahaan Jeon Enterprise yang ada di Australia.

“Kalian sudah datang,” sambut Nyonya Jeon hangat. Wanita itu menghampiri Jungkook yang langsung menyambutnya dengan pelukan hangat, ia kemudian pindah ke Jungki yang hanya membalas pelukan sang ibu sekenannya.

“Ayo kita duduk dan menikmati makan malam perpisahan ini,” ucap Tuan Jeon mengintrupsi kegiatan sang istri dengan anak kembarnya.

Ne, appa,” sahut keduanya serempak.

Keadaannya berubah hening. Hanya denting sendok-garpu dan alunan musik klasik yang memenuhi ruangan itu. Makan malam perpisahan. Mengingat jam terbang Tuan dan Nyonya Jeon yang padat, mereka jadi melakukan ritual itu. Makan malam penyambutan, saat mereka baru sampai di Seoul, lalu makan malam perpisahan ketika mereka harus pergi lagi.

Tuan Jeon berdehem. “Jadi, Jungki..”

Jungki yang sedang bermulut penuh mendongak menatap sang ayah.

“Kapan kau keluar dari Big Hit?”

Pertanyaan yang begitu mendadak itu membuat Jungki hampir memuntahkan makanannya. Dengan tergesa ia menelan makanan yang ada di mulutnya bulat-bulat sampai hampir tersedak. Air yang ada di gelas tinggi itu pun diminumnya sampai habis.

“Kenapa aku harus keluar?” tanyanya risih.

“Karena saat kau dewasa nanti, kau akan jadi pewaris Jeon Enterprise. Jadi kau harus keluar, sebelum aku yang mengeluarkanmu,” ancam Tuan Jeon setengah berteriak.

“Tapi kenapa aku? Kenapa tidak Jungkook saja?!”

“Pelankan suaramu, Jeon Jungki!”

Jungki bangkit dari kursinya. “Kenapa aku harus mendengarkan kata-katamu? Eomma, appa.. kalian tidak pernah pulang. Kami bahkan hanya dibesarkan dari tangan para pelayan dan tidak punya kenangan yang indah selain makan malam keparat ini. Tapi sekalinya pulang, kau langsung menyuruh kami ini dan itu. Jangan pikir kalian berhak melakukannya!” setelah mengeluarkan luapan amarahnya Jungki berlalu begitu saja.

Jungkook sudah mulai memundurkan kursinya juga, bersiap-siap untuk pergi namun langkahnya dihentikan sebuah suara.

“Kau tetap disini, Jungkook. Jangan ikuti si berandal itu,” ucap Tuan Jeon memerintah.

“Sabar, yeobo.” Nyonya Jeon berusaha menenangkan suaminya.

Mengendurkan alisnya yang berkerut dalam, Tuan Jeon melengos. “Anak itu, kapan dia bisa membuatku hidup tenang?”

Jungkook hanya bisa menyantap makan malamnya dalam diam. Dalam hati ia bertanya pada dirinya sendiri, tentang pertanyaan yang takkan bisa ia dapatkan jawabannya; kenapa bukan dia saja? Kenapa selalu Jungki?

Namun Jungkook sadar pertanyaan itu hanya seperti makanan yang baru saja masuk ke perutnya, tertelan. Tidak bisa muncul lagi ke permukaan.

 

***

 

Nara menatap ponsel sambil menggigit bibir bawahnya frustasi. Gain baru saja memasukkannya ke group chatnya bersama Minjoo dan Hyomin. Tapi sampai malam ini grup itu masih tampak kosong di ponsel Nara. Belum ada yang memulai percakapan. Apa ia harus mengucapkan salam pembukaan? Tapi bagaimana caranya?

Nara baru saja berdiri mau bertanya pada ibunya yang wanita sosialita itu. Tapi tidak jadi.

“Ah, tidak mungkin.” Nara kembali menghempaskan tubuhnya ke sofa. Bagaimana bisa? Nara kan remaja. Dia harusnya tau hal-hal seperti ini lebih dari ibunya.

“Baiklah, aku akan memulainya,” gadis itu bicara pada dirinya sendiri. Jempolnya yang gemetar mulai bergerak.

 

Annyeong?

 

Kata itu akhirnya berhasil dikirim.

Tak lama setelahnya Gain membalas. Diikuti Minjoo, kemudian Hyomin. Setelah itu mereka bertiga langsung terlibat percakapan seru. Nara yang belum begitu akrab hanya bisa menimpali sesekali.

Dalam hati ia bertanya, tidak apa-apa kan kalau ia bergaul dengan anak-anak ini? Mengingat hubungan pertemanan yang pernah ia lalui sebelumnya menyisakan kenangan buruk yang masih berbekas.

 

***

 

Jungkook mengetuk pintu kamar Jungki dua kali. Tanpa menunggu jawaban ia langsung masuk ke kamar itu. Menemukan kembarannya sedang berdiri di balkon membelakanginya. Jungkook menghela nafas berat.

“Jangan terlalu dipikirkan. Sudah bagus appa dan eomma memberi kita fasilitas, walaupun mereka tak pernah pulang,” tuturnya sambil mendekati Jungki.

Jungki tertawa mengejek. “Bagus pantatmu.”

Ia jadi semakin kesal dengan orang tuanya yang jarang pulang itu ketika sang ayah tadi menanyainya kapan akan keluar dari agensi itu. Big Hit memang bukan agensi besar yang menjajikan seperti SM. Tapi bisa direkrut oleh agensi kecil-kecilan saja sudah membuatnya berkeyakinan kalau ia memiliki bakat.

“Sudah berapa lama kau jadi trainee disana?” tanya Jungkook, netranya menatap pemandangan Seoul dikala malam.

Jungki menelengkan wajah, menatap Jungkook. “Kalau kau hanya kesini untuk menceramahiku, enyahlah,” tukasnya.

“Tidak, aku hanya ingin bertanya.”

“Hampir setahun.”

Waktu yang lumayan lama memang. Tapi orang tuanya baru menyadari saat mereka pulang kemarin, ketika Tuan Jeon mendapat kabar dari asistennya. Jungki yang sedang asik menggarap partitur musiknya langsung diseret pulang dan dimarahi. Itulah yang membuatnya kabur dari rumah, bertemu dengan dua pria pemabuk, juga dengan gadis menyerupai malaikat yang bernama Nara. Setidaknya dari kejadian itu ada bagusnya juga, walaupun hanya sedikit.

Beberapa menit berlalu. Dinginnya angin malam yang mulai menggigit kulit membuat Jungki kembali masuk ke kamar. Ia membuka celah rahasia di laci pojok meja belajarnya, lalu membuka lemari es kecil yang berisi beberapa kaleng bir.

“Kau mau minum lagi?” , “Kenapa?”

Jongkook duduk di sudut ranjang Jungki, menatap kembarannya yang menenggak minuman beralkohol 5% itu dalam diam. Pertanyaan barusan hanya dilontarkan untuk basa-basi, karena sebenarnya ia sudah tau penyebabnya.

“Ada masalah,” jawab Jungki seadanya. Menikmati sensasi unik dari bir yang menjalari tubuhnya.

Prihatin, Jungkook berusaha menjauhkan beberapa kaleng yang ada di meja dari hadapan Jungki. “Kau tidak boleh terlalu banyak meminumnya, Jungki. Aku tau kau bukan pengecut, yang lari dari masalah dengan minum alkohol.”

“Lalu apa yang harus kulakukan? Hanya mereka yang bisa membuatku lupa.”

Bukannya membalas, Jungkook kembali mengayunkan tangannya untuk mengambil kaleng-kaleng terkutuk itu. Namun ia kalah cepat.

“Satu lagi saja, lalu aku akan berhenti,” ucap Jungki terseret. Pemuda itu sudah mabuk, dan Jungkook benci melihatnya.

Jungkook hanya bisa menatap Jungki dalam. Jika tatapan mata bisa membunuh, lelaki itu pasti sudah kehilangan nyawanya.

“Aku mengawasimu,” tegas Jungkook.

Jungkook sebenarnya tidak tahan menyaksikan kembarannya hidup seperti ini. Melihatnya menenggak minuman itu sama saja dengan melihat kematiannya. Dan di saat seperti ini ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Dulu, banyak yang bilang Jungkook dan Jungki seperti pasangan sehidup semati. Kemanapun Jungkook pergi, pasti ada Jungki, dan begitu pula sebaliknya. Tak pernah ada rasa iri yang tumbuh di hati keduanya, sampai pada saat itu.

“Wah, Jungki, kau benar-benar pandai, nak.” Tuan Jeon mengacak rambut anaknya yang berhasil mendapat nilai 100 dengan penuh kasih.

Semakin lama, semakin Jungkook sadar ayahnya lebih sayang pada Jungki. Lain dengan ibunya yang bisa membagi kasih sayang keduanya sama rata. Waktu terus berlalu. Kesedihan yang dialami Jungkook lama-kelamaan memudar. Ia mulai menerima posisinya sebagai bayangan dari Jungki. Tapi tidak dengan lelaki itu. Terlahir sebagai anak terpilih dengan semua keinginan yang selalu dituruti, membuat Jungki tumbuh jadi pembangkang. Ia tidak suka disuruh ini dan itu. Menyemir rambut, membuat tindik, dan sering bolos sekolah adalah cara Jungki menentang.

Tuan Jeon tidak sadar sudah menghantarkan kedua anaknya pada jalan yang salah. Membuat Jungkook dan  Jungki hancur dengan sendirinya tanpa berusaha.

“Jungkook…”

Suara parau Jungki yang memanggil namanya membuat Joongkook terhenyak, keluar dari lamunannya.

“Jika kau jadi aku, apa yang akan kau lakukan?” tanya Jungki nelangsa. Tubuhnya sudah lemas. Jungki bohong padanya. Tadi dia bilang hanya ingin menyesap satu lagi, tapi sekarang 4 kaleng kosong sudah tergeletak di meja.

Jungkook menimang-nimang sejenak. “Jika aku jadi kau… maka…”

Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Jungki sudah keburu jatuh ke bahu Jungkook, tertidur karena matanya sudah terlalu berat.

Dengan telaten Jungkook memindahkan tubuh menyedihkan kembarannya itu ke ranjang yang ada tepat di sampingnya. Jungki memang berbadan lebih kekar, tapi Jungkook terlihat lebih kuat.

“Jika aku jadi kau, maka aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti ini,” ucap Jungkook pada sosok yang tidur dengan mulut menganga itu. Bau alkohol terus menguar dari mulutnya.

“Kau sudah memiliki hidup yang sempurna, Jungki. Kau tidak terlahir sebagai bayangan,” Jungkook tersenyum kecut. “Tapi kau menyia-nyiakannya,” ujarnya lirih.

Jungkook keluar dari kamar itu setelah membereskan kaleng-kaleng kosong dan memasukkan sisanya kembali ke laci rahasia. Jangan sampai orang tuanya tau.

.

.

.

.

.

.

TBC

Alhamdulillah akhirnya UAS selesai juga :’)

Ga tau mau ngomong apa. Cukup terima kasih aja buat angelkim393, lilbee, dan wahyuyoshinoyuki yang udah komentar, buat yang like, dan baca cerita ini. Semoga kalian suka dan ga bosan buat baca sampe akhir.

Thanks, readers

You’re my spirit animal >.<

Sampai jumpa di chapter berikutnya~

6 responses to “Twins on The Playground—(Chapter 3)

  1. Yah.. ketauan :v

    Athorniimmm.. kurang panjang xD hehe.. dan.. sampau sekarang aku masih bingung mau nge ship siapa.. tapi gara2 jungkook di chapter ini aku jadi merasa aku harus nge ship nara(?) *namanya nara kan ^-^”)v* sama jungkook ._. Tapi kalau nara sama jungkook jungkinya kasian(?)*loh..* aish.. ntahlah :v yah intinya semua yg hidup pasti punya masalah

    nggak bisa mbayangin jungkook jadi orang baik.. mukanya terlalu imut kalau jungkook sikapnya dewasa xD keep writing authornim

  2. Huwaaaaa part ini bagus bae😀 bahasanya lebih asyik, lebih straight forward dan lebih ngalir. Bikin betah baca sampe part akhir. Aku cuma agak bgg aja sama karakternya si kembar. Di awal2 terkesan campur/hampir sama. Tapi untungnya di akhir2 agak jelas. Kalimat terakhirnya nendang. Sedih maksimal 😭😭😭 “kau tidak terlahir sebagai bayangan” huhu it hit my emo perfectly huhu

  3. kyaaaa part ini nyentuh banget alshaaa T.T
    aigoo..aigoo..banyak scene di sini yang main perasaan deh, apalagi pas percakapan jungki sama jungkook waktu di kamar, ngomongin tentang masalah mereka, duhhh rasanya nyess/? gimana gitu, bener deh ucapan yang di atas/? kalo kembaran itu kek sehidup semati *plakk
    alurnya mengalur secara alami kok, meskipun intrik dari orang tua itu alasan yang cukup mainstream tapi gak masalah karena kamu bisa mengemasnya dengan baik, sukses deh^^
    next part tolong ditambahin lagi adegan-adegan yang kayak gini ya? aku suka^^
    keep writing!😀

  4. Thorr ini update selang berapa hari? Respond ya thorr sama mau tau nama wattpad author apaa.

  5. daebak thor… Jungkookie kan masih tk? Tapi udah dewasa banget gitu. Aduh. Taehyung jadi sama gia? eh? gain? Ya itulah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s