Vampire’s Relationship – Twelveblossom

Sehun

Track List

Sehun & OC | PG 17 | Fantasy & Romancen | Series | Twelveblossom

Now Playing: Two Moons – EXO

“In my new world, I won’t be the same as yesterday.” –Two Moons, EXO

Aku dapat mengungkung debu dengan netraku. Aku bisa beranjak secepat lecutan angin. Aku, diriku yang sekarang hanya berpikir untuk mengoyak.

Mengoyak daging itu, menyicip darah yang mengalir di dalam sana. Membayangkan cairan merah itu kuteguk memusnahkan dahaga yang membuncah, membuatku menyeringai.

“Mungkin dia sudah sadar.” Pendengaranku menangkap suara.

Spontan diriku memindai ruangan kayu. Gerak motorik membawaku dalam posisi menyerang, menunggu siapa saja yang datang dari balik pintu.

“Hai,” sapa seorang pria. Berkulit putih layaknya mutiara, surainya abu-abu, dan matanya seperti elang, begitu tajam. “Wow, kau cantik.” Ucapnya kemudian. Aku tak dapat memilah kalimat yang ia koarkan berupa pujian, ejekan atau hanya sekedar basa-basi–intonasi suaranya tak dapat ditebak.

Kuputuskan untuk tak menggubris kelakarnya. Aku masih berdiri kaku, separuh menunduk. Pikiranku bergerak kosong dan jantungku juga tak berlari. Hampa. Aku serupa bongkahan batu yang dapat bergerak.

Aku mengabaikan segala kegaduhan yang diakibatkan bertambahnya ketajaman indraku. Aku berusaha memahami diriku ini apa.

“Kau vampir sekarang.” Kata pria yang sedang mengenakan kaos hitam yang dilapisi jaket kelabu. “Dan kau seharusnya jadi pasanganku.” Lanjutnya.

Aku mengernyit.

Sementara pria itu melejitkan bahu, “Namaku Sehun. Namamu Nara kalau kau belum ingat. Seharusnya sudah, biasanya ingatan manusiamu akan muncul tapi kabur.” Sehun mengoceh. Mungkin dia jengah menungguku tetap tak berkekspresi dan diam.

Bibirku akhirnya bergerak, setelah menangkap raut Sehun yang tak sabaran. “Pasanganmu?” tanyaku.

Sehun tersenyum. “Ya, agaknya sedikit membingungkan. Aku jatuh cinta padamu. Lebih tepatnya aromamu. Bangsa kami–bangsa kita jatuh cinta satu kali dalam eksistensinya. Sayangnya, kau masih dalam wujud manusia.” Jelas pria itu santai. Sehun mendekatiku, tubuhku tak mau mundur. Nampaknya raga ini sudah tidak sejalan denganku. “Terpaksa aku merubahmu,” kata Sehun mengakhiri uraiannya.

“Kau menyukaiku?” Aku bertanya ragu.

Sehun mengangguk. “Sangat,” bisiknya.

“Tapi aku tidak menyukaimu.”

Sehun memutar bola mata, seperti mengolok ucapanku barusan. Entahlah. “Cinta vampir tidak akan bertepuk sebelah tangan. Kau akan menginginkanku, sebesar aku menginginkanmu. Penjelasan ini sangat konyol.” Sehun mendesah kesal.

“Mungkin kau salah orang–salah vampir.” Aku mencoba memberikan solusi atas kegundahannya.

Sehun tertawa, matanya membentuk bulan sabit yang indah. “Bodoh, tidak mungkin.”

Aku menggigit bibir, rautku tampak khawatir. “Lalu, bagaimana agar rasa sukamu dan sukaku bisa sejalan?”

“Kau haus, bukan?” ia menjawab dengan pertanyaan.

Aku mengangguk.

“Kau tidak perlu membantai satu kota untuk memenuhi dahagamu–yeah semua hal yang membahas mengenai vampir di televisi, novel, mau pun film tidak seluruhnya benar–kau hanya perlu meneguk darahku satu sampai tiga tetes, dahagamu akan mereda. Oh–jangan khawatir–persedian darah di tubuhku banyak, asal yang meminta pasanganku.” Kata Sehun pelan.

“Kenapa bisa begitu?” Aku menanggapi.

“Karena kau pasanganku.” Jawab Sehun lebih tegas. “Tapi kau juga tetap bisa mengkonsumsi darah manusia, tapi nafsu minummu tidak akan hilang.” Lanjut pria itu.

“Oh, begitu.” Aku berkata singkat dan jelas sembari mengangguk.

Sehun ikut mengangguk. “Sudah pahamkan?”

“Sudah.”

Sehun menghela napas panjang. “Biasanya vampir baru tidak melakukan obrolan santai seperti ini. Tapi kau berbeda, sepertinya hidupmu pasrah sekali. Sudahlah, bukan urusanku–sebenarnya urusanku juga,” ocehnya tapi aku tak mengindahkan.

Aku lebih mengamati gerakan yang dilakukan Sehun, ia mengigigt pergelangan tangannya sendiri. Aku juga tak tahu bagaimana bisa darah kelur dari sana, padahal gigi Sehun tidak runcing.

Aku menghela napas berat saat cairan merah mulai keluar dari tangan Sehun. Aroma yang dimiliki pria itu langsung menebar ke segala penjuru. Menggerakkan naluriku untuk mencabik. Geraman pelan bersuara, ternyata berasal dari bibirku.

Kepala ini menengadah menahan gejolak yang sangat kuat. Membalas tatapan Sehun dengan memelas dan memohon. Pria itu mengerti, kemudian menyerahkan tangannya padaku.

Tubuhku bergetar ringan ketika ujung lidahku menyentuh cairan merahnya. Meminta lagi dan lagi. Tidak ada kepuasan di sana rasanya begitu memabukkan. Seakan aku bisa berdiam selamanya, berada di sampingnya dan menyentuhnya.

Darah itu membakar dan aku telah terbakar.

“Sudah kubilang, kau bakal menyukai dan menginginkanku sebesar caraku.” Kata pria itu jenaka, sebelum naluri wujud baru ini menguasaiku.

oOo-

a/n: Cerita selanjutnya dapat dibaca di Vampire’s Diary (twelveblossom.wordpress.com). Terima kasih sudah membaca🙂.

3 responses to “Vampire’s Relationship – Twelveblossom

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s