[1/3] Men In Black

Men In Black

Credit Poster: Laykim @ Indo Fanfictions Arts

Twelveblossom (twelveblossom.wordpress.com) | PG-17 | Thriller, Romance, Mystery | Sehun, Kai & Jung Nara

“Bunuh saya, setelah itu terserah mau kau apakan tubuh ini.”

Jung Nara, nama itu tertulis jelas di halaman terdepan dokumen yang tengah dibaca seorang pria. Bahkan terlampir potret si gadis dengan berbagai ekspresi mulai dari menangis, cemberut, tertawa, dan lain sebagainya. Lantaran terdistraksi dengan bacaan itu, si pria malah memamerkan raut datar yang tak bisa ditebak.

Ketukan pelan dari pintu ruang kerjanya, menelan perhatiannya.

“Direktur,” ucap seorang wanita berusia awal 30 tahun, sembari menuju meja kerja yang berlabel Sehun.

Si penyandang nama hanya mengangguk, menandakan jika wanita itu diberikan ijin untuk berbicara.

“Agen kita telah meringkus Jung Nara,” kata si wanita yang memiliki surai kecoklatan.

Sehun mengernyit kemudian berdiri dari kursi kerja, sejenak membenarkan pakaian yang sedikit kusut. Setelan kemeja putih, jas hitam, dasi garis biru, dan celana kain itu sukses melapisi tubuh atletis Sehun.

“Hari ini pemakaman ayahnya, bukan?” tanya Sehun datar.

“Iya, Direktur.” Ada jeda sebentar, kemudian sekertaris Sehun melanjutkan. “Jung Nara diringkus setelah pemakaman ayahnya.”

Sehun menyeringai menanggapi jawaban dari wanita itu.

“Good, you may left now.” kata pria itu menutup percakapan.

Jung Nara, seorang gadis yang kosong, hampa, dan tidak memiliki apa-apa selain tubuhnya. Ia baru saja kehilangan seseorang yang selama ini berperan sebagai ayah. Pada dasarnya pria yang mengaku sebagai ayah Nara, tak melakukan aktivitas apapun yang dapat didefinisikan sebagai kasih sayang. Pantas ketika orang itu mati, Nara tidak menangis, sama sekali tak berduka. Ia malah tertawa terbahak-bahak.

Tawa Nara hampir menyembur keluar ketika pemakaman pria itu berlangsug. Apalagi, saat Nara diminta bercerita pada hadirin mengenai kenangan bahagia bersama ayah. Nyatanya tidak ada kenangan bahagia, walaupun Nara sudah mengorek otaknya.

Hidupnya memang sial. Dulu Nara besar di panti asuhan sampai usianya tiga belas tahun, seorang pria tinggi dan botak mengadopsinya. Kemudian Nara memanggil pria itu sebagai ‘Appa’. Ia diajak tinggal di rumah yang lebih besar dari panti asuhannya.

Appa rajin sekali membawa Nara ke dokter. Tidak, lebih tepatnya dokter yang berkunjung ke rumah Appa. Nara masih ingat ketika umurnya 14 tahun, dokter melakukan operasi pada perut Nara. Appa mengkatakan jika itu adalah operasi usus buntu. Entahlah, yang pasti operasinya menyakitkan. Ditambah, suntikan yang harus diterima Nara setiap harinya sampai ia menginjak usia sembilan belas tahun.

Orang yang dipanggilnya Appa itu menyiksanya dengan berbagai suntikan dan obat. Nara hanya bungkam karena ia tahu bahwa hidupnya memang sial.

Hari ini Nara diculik. Mata ditutup kain hitam, mulut dibekap, dan ia didudukan pada kursi besi yang dingin. Lagi-lagi Nara tak mengeluh. Toh, nasibnya memang buruk.

“Saya akan dibawa kemana?” tanya Nara, tidak gentar sama sekali. Gadis itu merasakan seseorang menariknya dengan kasar.

Nara tertawa mendapati pertanyaannya yang dianggurkan. “Apa saya akan dibunuh?” tanya Nara lagi, kali ini lebih pelan. “Tolong bunuh saya dengan cepat. Saya dengar menembakkan peluru tepat di kepala bisa melayangkan nyawa orang dengan cepat.” Gadis itu meracau.

“Malaikat kematian,” kata Jung Nara ketika berhadapan dengan Sehun.

Sehun memindai tubuh yang tergeletak di kasur operasi. Tangan dan kaki Jung Nara terikat, namun tidak menampakkan kegentaran.

“Tolong bunuh saya sekarang,” gadis itu memelas.

Sehun merespons dengan tatapan dingin. Berlainan dengan rautnya yang tidak mau tahu, pikiran Sehun bertanya, kenapa mata gadis ini tak memancarkan ketakutan sedikit pun?

Sorot Jung Nara cenderung pasrah-mengejek-menghina-kesal. Sehun tak dapat memprediksi, kenyataan itu justru memunculkan amarah dalam pikirannya.

Tangan Sehun menarik pisau dari sarungnya. Pisau komando, tidak akan langsung membunuh, namun menyiksa manusia dengan perlahan.

Jari-jari Sehun menggenggam pisau dengan sempurna, seakan jari-jarinya diciptakan untuk membunuh. Sehun menelusuri kulit Jung Nara dengan ujung benda runcing nan tajam itu. Selanjutnya, perlahan namun pasti menyayat perut sang gadis.

“Argh!” Jerit Nara tertahan, ketika mata pisau mulai membelah perutnya.

Sehun menyeringai, puas. Ia menatap lamat hasil karyanya. Sayatan melebar yang cukup mengucurkan darah dari Nara.

“Goodbye, Darling,” kelakar Sehun sebelum kedua kelopak gadis itu mulai menutup.

Kim Jongin rekan bisnis Sehun, sekaligus sepupunya sedang menepuk bahu Sehun yang fokus terhadap senapan.

“Kau terlihat gembira,” Jongin menyimpulkan.

Sehun melejitkan bahu. “Tentu saja,” jawab pria itu.

Jongin meletakkan revolver, kemudian menyicipi wine yang sedari tadi tak diindahkan. “Harta karun telah ditemukan.” Ungkap Jongin.

Sehun menarik pelatuk senjata api meluncurkan peluru yang menghunus papan target. Kelakuan pria itu menimbulkan gema pada ruang latihan mereka. “Sudah,” respons Sehun pendek.

“Ada dimana?” Jongin ingin tahu.

Sehun menyugar surai pirangnya sebelum menjawab, “Di perut seorang gadis.”

Netra Jongin membesar, tertarik. “Hebat juga laki-laki sinting itu menyembunyikannya,” kata Jongin.

Sehun mulai mengisi peluru revolvernya. Ia sebenarnya menaruh minat pada perbincangan sepupunya. Akan tetapi, ada sesuatu yang tidak ingin Sehun bagikan

“Lalu, kau sudah mengambilnya?” Jongin masih mencerca.

“Belum.” Lagi-lagi Sehun menimpali dengan singkat.

Jongin berdecak. “Apa yang kau tunggu?”

Netra Sehun bergerak lincah, menatap sepupunya. Cekatan ia mengarahkan senapan itu pada kepala Jongin. “Perjanjian.” Kelakar Sehun.

Jongin tak menggubris moncong senapan yang mengarah padanya. Ia malah menyalakan rokok dengan pematik api, kemudian menguarkan asap.

“Tidak biasanya kau membuat perjanjian.” Ujar Jongin, si pria berkulit tan.

Sehun mengangkat sudut bibir. Senyum miring yang memukau sekaligus mengerikan. “Aku hanya ingin bermain,” Sehun mengaku.

Langsung saja terpaan tawa Jongin terdengar, mengerti maksud saudaranya.

“Menunggunya rusak, kemudian membuangnya.” Gumam Sehun.

Nara mengira tubuhnya telah mati. Gadis itu tidak peduli dirinya akan ditempatkan di mana setelah nyawanya terenggut. Api neraka yang menjilat-jilat rasanya lebih menggairahkan daripada kehidupannya sendiri.

Nyatanya, keinginan gadis itu enggan terkabul. Dia masih hidup. Nara kira pria rupawan yang merobek perutnya, benar-benar akan membunuhnya. Memberikan satu hal saja keberuntungan bagi gadis itu, yaitu kematian.

Pria yang serupa dengan malaikat kematian itu, sedang duduk santai menggunakan kemeja hitam di hadapan Jung Nara. Sedangkan Nara memakai kemeja kebesaran bewarna putih yang menutupi hingga paha. Gadis itu tidak lagi terikat. Nara berbaring terlentang di ranjang besar.

Nara mengawasi si pria dengan tatapan waspada. Kakinya bergerak gusar, meladeni obrolan serius mereka.

“Berlian di perut saya?” tanya Nara sekali lagi, setelah mendapatkan fakta yang menurutnya konyol. Mana mungkin jika selama ini Appa menyembunyikan barang curian di tubuhnya.

“Ada teknologi khusus untuk melakukannya. Ayahmu bekerjasama dengan salah satu pengkhianat perusahaan kami.” Jawab Sehun sembari memperhatikan perut lawan bicaranya yang dibebat.

“Dia bukan ayah saya. Dia… penyiksa.” Sela Nara, kaku.

Gadis itu menunjukkan kesungguhan pengakuannya dengan mengarahkan tatapan mata pada Sehun.

Terperangkap.

Cukup dua detik yang dibutuhkan Jung Nara untuk terkungkung dalam bola coklat yang indah.

Jung Nara tidak dapat lepas dari rupawannya netra pria itu. Sehun bisa jadi tipe manusia yang dapat menggetarkan lawan jenisnya hanya dengan sekali pandang.

“Tepat di rahimmu, benda itu berada di sana.” Ujar Sehun, mengacuhkan ucapan Nara.

“Ambil saja,” gumam Nara tanpa berpikir panjang. Gadis itu sedang jatuh sedalam-dalamnya pada delusi yang baru saja ia temukan.

“Kau akan kehilangan fungsimu sebagai wanita, itu resiko dari pengambilan berlian di dalam alat reproduksimu.” Kelakar Sehun. Pria itu beranjak dari tempat duduknya untuk mengenyakkan diri di samping gadis yang tak punya harapan.

Nara berpikir sejenak kali ini ia menggunakan otak. “Kalau begitu, mari kita buat kesepakatan.” Kata Nara tegas.

Sehun menarik kasar surai hitam Nara, membuat gadis itu menjerit. “Kau pikir sedang bicara dengan siapa? Berani sekali menawar?” Intonasi suara Sehun meninggi.

Nara meringis kesakitan, tapi ia memerintah bibirnya untuk bergerak. ”Kau hendak mengancam saya dengan kematian? Saya ingin mati sedari dulu. Bunuh saya.” Gadis itu terengah menahan sakit. “Selanjutnya, terserah mau kau apakan tubuh saya ini.” Lanjut gadis itu.

“Gadis gila,” Sehun menghina telak lawan bicaranya.

-oOo-

a/n: Part selanjutnya dapat dibaca di [2/3] Men in Black atau Track List

2 responses to “[1/3] Men In Black

  1. lanjut kak….seru bgt ceritanya???
    apa nara ntr bakalan dbunuh sama sehun???
    jangan dong….kan kasihan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s