THIS LOVE

this love

i can live because of this love

.

#28 : Davichi – This Love [ft. GOT7’s Mark and Twice’s Tzuyu]

.

a songfic by C H I O N E E X O

“Aku tidak bisa hidup hanya dengan makan cinta, Mark.”

 

“Aku tahu. Maka dari itu, aku akan berjuang demi kita.”

 

“Ibuku bilang, ucapan anak SMA sama dengan omong kosong. Bagaimana aku bisa percaya padamu?”

 

“Ibumu tidak salah bilang begitu. Tapi, well, aku serius. Peganglah ucapanku. Kau boleh minta rumah tingkat tiga kalau kau mau.”

 

Awalnya, aku tidak menaruh harapan barang setitik pun pada kalimat Mark. Aku yakin—kau mungkin juga merasa begitu—bahwa pemuda itu akan menyerah setelah dua atau tiga bulan bekerja paruh waktu.

 

Meski sepertinya aku terlalu menganggap remeh perkataannya.

 

Empat bulan pertama, dia mampu membelikanku prom dress yang sudah kuidam-idamkan selama periode musim panas. Setelah kutanya berapa harga gaun itu, Mark hanya tersenyum dan berkata bahwa harganya tidak penting, yang terpenting adalah apakah aku suka atau tidak dengan gaun itu.

 

Tentu saja aku menyukainya! Meski aku baru tahu belakangan bahwa Mark harus menerima hukuman pukul dari ayahnya karena sering pulang malam dan tidak mengerjakan tugas rumah.

 

Setahun kemudian—saat kami baru saja memasuki perguruan tinggi—Mark datang pukul empat sore tepat di depan halaman rumahku; ia membawa banyak sekali barang. Kemudian saat ia mulai mendekat, aku baru sadar bahwa ia membelikanku ransel merah muda yang cantik, satu paket buku jurnal, alat tulis, dan kotak pensil. Mark bilang, menjadi seorang mahasiswa adalah hal yang penting, dan aku harus memiliki barang-barang tersebut untuk bisa menunjang kehidupan kuliahku.

 

Dan meskipun aku pura-pura tidak tahu, tapi aku tahu bahwa ia memotong separuh pesangon kuliahnya untuk membelikanku barang-barang tadi.

 

Tiga tahun terlewat dan kami pun lulus. Mark bilang dia akan bekerja di perusahaan swasta sebagai penerjemah bahasa. Aku melihat kesungguhannya bekerja dan menyemangatinya siang-malam tanpa henti. Gaji pertamanya ia gunakan untuk membeli cincin pernikahan kami, meski kemudian aku menyadari bahwa wajahnya begitu tirus karena sedang berhemat mati-matian demi cincin itu.

 

Tak lama selang, kami berdua menikah. Aku masih memegang janjinya dan ia masih ingat bahwa aku, seorang Tzuyu, tidak bisa hidup hanya dengan makan cinta. Maka Mark terus bekerja seorang diri hingga aku merasa sangat bersalah padanya. Saat aku hendak melamar pekerjaan—karena, hey, aku juga sarjana—Mark melarangku dengan alasan tidak ada yang menyambutnya di rumah saat ia pulang kerja. Jadi aku menurut dan menghasilkan uang sendiri dengan bisnis online. Pada tahun kedua pernikahan kami, dia sudah bisa membelikanku rumah tingkat tiga.

 

“Rumah sebesar ini akan berguna, lho.” Ucapnya.

 

“Untuk apa?”

 

“Untuk anak-anak kita! Dokter bilang kau mengandung anak kembar, sebentar lagi kau melahirkan. Lantas, siapa yang bisa jamin kau tidak hamil lagi beberapa tahun ke depan?”

 

Selama proses mengandung yang berat, Mark selalu membelikan apa yang aku mau, dia siap sedia menjadi sasaran tinju jika hormonku tidak stabil dan aku akan marah dengan mudahnya. Kemudian saat enam tahun terlewati seperti enam detik, Mark telah berhasil membiayai uang sekolah anak-anak kami.

 

Sekarang, saat kami sudah begitu renta untuk masalah uang, Mark berbisik padaku. “Maaf ya, aku tidak bisa lagi bekerja.”

 

“Kau sudah berbuat banyak untukku.”

 

“Untuk kita maksudmu?”

 

“Ya, untuk kita. Maka dari itu, jangan memaksakan diri lagi. Aku tidak sanggup melihatmu terbaring lemah begini.”

 

“Jangan sedih, dua hari lagi aku bisa pulang.”

 

Kemudian Mark pulang dari rumah sakit dengan membawa kabar penyakitnya kepada keempat anak kami (ya, kami sudah punya empat anak sekarang). Mereka berjanji akan bahu-membahu membiayai biaya perawatan ayah mereka. Meski—tanpa sepengetahuan keempatnya—Mark-lah yang membantu mereka mendapatkan pekerjaan di kantor-kantor ternama. Hanya karena mereka anak seorang Mark, perusahaan-perusahaan itu mau menerima keempatnya dengan tangan terbuka. Meski demikian, keempat anakku membuktikan bahwa mereka pantas bekerja di sana.

 

Terakhir, Mark bilang padaku bahwa jika ia mati terlebih dahulu, aku masih bisa menikmati hari tua dengan penghasilan dari anak-anak dan uang pensiunnya.

 

Dan pada akhirnya aku pun tahu, ucapanku dulu mengharuskan Mark menanggung beban hidup yang lebih berat dari seharusnya. Meski aku menyesalinya sekarang, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Dia telah membuktikan bahwa dia pantas menjadi seorang laki-laki, suami, dan seorang ayah bagi keluarga kecil kami.

One response to “THIS LOVE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s