[Chaptered] Digital Love (Chapter 3)

digital-love

TITLE : DIGITAL LOVE
LENGTH : CHAPTERED
GENRE : AU, ROMANCE
RATING : T

STARRING
BLOCKB ZICO AS WOO JIHO
OC AS SUNG HYEWON

MENTIONED
WOO JISEOK (WOO TAEWOON) ; SUNG HYEMIN (OC) ; 
IM HYENA (OC) ; SEO MYUNGWON (XITSUH)

poster by:
simpleshine @ PosterChannel

originally posted in:
https://atatakaichan.wordpress.com


Previous chapters
(1) (2)


“Hey! Wonnie-ah! Ayo, bangun!” Suara kicauan burung di pagi hari terkontaminasi oleh suara Sung Hyemin yang tengah membangunkan adiknya yang pulang terlalu larut malam kemarin.

Yang dibangunkan bukannya bergegas bangun, gadis dengan rambut cokelat itu nampaknya semakin pulas tertidur. Mungkin ia memimpikan sang kekasih, Woo Jiho, seperti biasanya. Kemarin Jiho terus-terusan menggodanya –dan itu diluar batas toleransi Hyewon– yang mungkin menyebabkan di dalam mimpi pun ia digoda oleh lelaki itu, rona merah pada wajahnya membuat Hyemin terperangah.

“Dasar. Mimpi apa sih anak ini?”

.

.

.

 

Eonni kenapa tidak membangunkanku deh?!”

Lho? Siapa yang tidak membangunkanmu? Kau sudah eonni bangunkan berkali-kali tapi kau malah mengingau ‘Jiho oppa geumanhae’ sambil tersipu. Memangnya kau diapakah ‘sih oleh si preman pasar itu?”

Hyewon mengerucutkan bibirnya ketika kakaknya menyebut Jiho preman pasar, “Jiho oppa bukan preman pasar, tahu!” Ia tahu eonninya hanya bercanda namun tetap saja rasanya menyebalkan kalau kekasihmu terus-terusan dikatai preman pasar.

“Jadi bagaimana?”

“Apanya?” Hyewon menoleh pada sang kakak seraya kembali bertanya.

“Jadi hari ini kau mau bolos saja atau tetap mau ke kampus?”

Hening.

Hyewon mengerjapkan kedua matanya. Terakhir kali ia bolos adalah ketika ia berada di bangku sekolah menengah atas. Di bangku kuliah, godaan untuk membolos sebenarnya beberapa kali sempat muncul namun, mati-matian ia melawan godaan tersebut karena ia tidak mau repot mengurusi sistem absensi universitasnya yang ribet –ada ‘sih jatah absen tapi hanya tiga untuk setiap mata kuliah dan anehnya jatah absen itu hanya boleh digunakan apabila sakit dan dirawat di rumah sakit selama tiga minggu yang otomatis membuatmu tidak masuk selama tiga minggu berturut-turut.

“Bagaimana? Kalau kau mau bolos temani eonni ke mall, yuk. Ada diskon di toko pakaian yang baru buka itu. Bajunya bagus-bagus lho!”

‘Dasar iblis,’ pikir Hyewon namun, ia menyukai ide kakaknya itu. Lagipula apa salahnya sesekali bolos? Bolos sekali tidak akan membuatnya terbunuh, kok.

*********************

Jiho menguap lebar seraya mengancingkan kemejanya. Rambut cokelatnya yang masih berantakan tak mengurangi tingkat ketampanan wajahnya sedikit pun –begitu menurutnya – dan sambil memandangi kaca ia bersiul-siul seolah sedang mengajak burung-burung yang hinggap di dahan pohon dekat jendela kamarnya untuk berincang.

“Pagi-pagi sudah pakai kemeja. Mau kemana nih?” Tiba-tiba saja, Park Kyung –teman  serumah Jiho– masuk ke dalam ruangan sambil menenteng handuk.

Jiho mencibir. Sahabatnya yang satu ini memang terlalu penuh rasa ingin tahu.

“Ayolah, katakan padaku man. Kau mau kemana pagi-pagi sudah berpakaian rapi seperti ini?” Kyung yang memang suka menggoda temannya itu berdiri tepat di samping Jiho sambil menyenggol lengan Jiho berkali-kali menggunakan sikunya.

Dengan ekspresi datar –pura pura kesal– Jiho menjawab, “mau ke pasar, Kyung. Kenapa?”

“Wah! Ke pasar? Ke pasar pakai kemeja? Apa tidak salah? Pasar atau pasar? Hahaha!”

Lelaki dengan tinggi di atas seratus delapan puluh senti itu tertawa mendengar gurauan sahabat yang dikenalnya sejak bangku taman kanak-kanak itu.

“Berisik. Mau ikut apa tidak?” Jiho kembali bertanya, kali ini sambil balas menyenggol lengan Kyung dengan sikunya.

“Malas kalau hanya ke pasar saja. Aku maunya ikut kalau kau pergi ke studio agensi untuk menandatangani kontrak.” Kyung tersenyum penuh arti.

Jiho berhenti menyenggol lengan Kyung, ia menatap lelaki yang lebih pendek darinya itu dengan mata terkejut dan mulut menganga. Ia tahu Kyung tadi bukan asal tebak karena mana mungkin ada tebakkan yang setepat itu.

“Jadi, akhirnya sudah memutuskan agensi mana yang akan kau tandatangi kontraknya?”

“Sialan. Kau lagi-lagi membuka e-mailku tanpa izin ya?” Jiho menyenggol pinggang Kyung cukup keras menggunakan pinggulnya yang berhasil membuat lelaki berwajah mirip mentimun itu sedikit bergeser dari posisi awalnya.

“Aduh, pinggulmu itu saingan dengan pinggul Beyonce tahu!” Kyung terkekeh.

.

.

.

Jiho menghela napas. Hari ini bisa dikatakan adalah hari terbesarnya tahun ini. Menandangi kontrak dengan agensi musik memang adalah mimpinya sejak dulu, menjadi musisi mungkin sudah dicita-citakannya semenjak ia masih balita.

Dirinya tak pernah menyangka bahwa hobinya menulis dan mengaransemen musik bisa membukakan jalan baginya untuk meraih mimpi hanya saja yang benar-benar di luar perkiraannya adalah beberapa agensi musik berbondong-bondong merekrutnya –dan wow, baginya itu bagaikan mimpi buruk– menyebabkan ia berhari-hari terus bermimpi dikejar-kejar oleh para CEO agensi-agensi yang telah menguhubunginya.

Aish jinjja, eottokhae?” Helaan napas kembali lolos dari mulut Jiho seraya lelaki dengan surai pirang itu berjongkok di trotoar dekat belokan menuju halte bus.

Sebelum ia meninggalkan rumah, Kyung mengatakannya untuk memilih agensi yang tepat dan hal yang mengejutkannya adalah agensi yang ia pikir adalah pilihan paling tepat dianggap sebagai kesalahan oleh Kyung. “Kesalahan besar kalau kau menandatangani kontrak dengan agensi itu.” Begitu katanya.

Di saat seperti ini, ingin rasanya ia berkonsultasi dengan Hyewon namun, apabila ia melakukannya maka hancur sudah rencananya. Candle light dinner yang akan diadakan besok adalah perayaan hari jadinya dengan Hyewon yang sudah ia rencanakan jauh-jauh hari dan di hari spesial itu ia ingin memberi kejutan pada Hyewon –berita bahwa ia telah resmi menjadi seorang artis.

Bagi seorang Woo Jiho, Sung Hyewon adalah salah satu hadiah terbesar yang Tuhan berikan padanya. Dalam benaknya terlalu banyak Hyewon sehingga ia terkadang melupakan pemberian Tuhan yang lainnya –salah satunya adalah sang kakak, Woo Jiseok– dan hari ini, seperti sebuah keajaiban, Jiho teringat akan kakaknya yang telah bertahun-tahun tidak ia jumpai.

“Oh iya ya. Kalau masalah seperti ini lebih baik bahas dengan Jiseok hyung. Ia pasti lebih tahu dibandingkan Hyewon,” sebuah senyum kemenangan terulas di wajah Jiho seraya ia mulai menekan nomor telepon sang kakak di ponselnya.

Selang beberapa detik, terdengar suara di ujung telepon.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Jiho berujar, “halo hyung. Apa kabar?”

*********************

Hyena menegak ludah.

“Hey, Hyena! Ayo cepat! Jadinya mau sekelompok dengan kami atau tidak?”

Gadis berambut hitam sebahu itu mengigiti bibir bawahnya sebelum akhirnya menganggukan kepalanya seteleh ditunggu jawabannya selama kurang lebih empat menit lamanya. Di kelas sedang ada pembagian kelompok untuk tugas kelompok ujian tengah semester. Biasanya Hyena akan sekelompok dengan Hyewon namun, teman dekatnya itu hari ini tidak masuk sehingga ia kebingungan untuk memutuskan satu kelompok dengan siapa.

“Maafkan aku, Hyewon.” Ujar Hyena pelan, memastikan tidak ada satu orang pun yang mendengar.

Rasa bersalahnya benar-benar kuat karena ia memutuskan untuk satu kelompok dengan orang lain. Sebenarnya bisa saja ‘sih ia satu kelompok dengan Hyewon tetapi masalahnya, hanya tersisa dua orang selain Hyewon. Kalau ia memutuskan untuk satu kelompok dengan Hyewon maka mau tak mau ia juga harus satu kelompok dengan Seo Myungwon –seorang lelaki yang sangat pendiam dan sangat misterius– dan Hyena tidak mau satu kelompok dengan lelaki yang menurutnya freak itu.

Dengan tangan sedikit bergetar Hyena mengeluarkan ponselnya dan mengirimi pesan singkat pada Hyewon yang berisi sebuah permintaan maaf disertai alasannya. Ia hanya berharap Hyewon akan memaafkannya karena ia membiarkan temannya itu satu kelompok dengan satu lelaki pemalas dan satu lelaki pendiam.

*********************

Kedua kakak-adik Sung yang berasal dari Busan itu kini sedang menjelajahi mall yang kebetulan terletak tak jauh dari kediaman mereka. Kalau sudah jalan-jalan dan berbelanja, kedua gadis yang hampir serupa itu seringkali lupa waktu. Waktu jam makan siang sudah berlalu sekitar dua puluh menit dan kalau saja salah satu dari mereka tidak merasa lapar, mungkin keduanya akan melewatkan makan siang mereka.

Eonni, menyebalkan deh, bajunya kenapa bagus-bagus semua ya? Aku jadi kesal.” Hyewon menggerutu. Tangan kanannya mengaduk-aduk semangkuk dolsot bibimbap yang terhidang di hadapannya.

“Iya, eonni juga jengkel. Masa diskon tapi barangnya bagus? Kan rasanya jadi ingin membeli semuanya.”

Hyewon mengangguk. Ia setuju dengan kakaknya. Walaupun tidak hobi belanja tapi ia tidak tahan kalau melihat barang bagus dengan harga murah. Penasaran jam berapa sekarang, Hyewon mengeluarkan ponselnya untuk melihat jam karena astaga perutnya terasa lapar sekali. Pada layar ponsel terpampang jam menunjukkan pukul duabelas lewat empat puluh lima menit, pantas saja ia merasa lapar. Jari telunjuk mungilnya secara tak sengaja menyentuh notifikasi whatsapp dari Hyena.

1

Hyewon membaca pesan dari Hyena secara perlahan. Sedikit rasa kecewa ia rasakan karena tidak satu kelompok dengan teman dekatnya itu namun, apa boleh buat? Ini adalah hal yang harus ia tanggung karena tidak menghadiri kelas hari ini.

2

3

Hyewon berhenti mengetik. Ingin rasanya ia membentak Hyena. Kalau menurut Hyena lelaki itu freak mengapa ia tega sekali membiarkan dirinya satu kelompok dengan lelaki itu?

“Ah, Im Hyena… Kau ini benar-benar….” Hyewon menghela napas seraya mematikan ponselnya. Ia pun melanjutkan makan siangnya tanpa memikirkan lebih lanjut akan nasibnya satu kelompok dengan lelaki yang kata Hyena adalah seorang freak.

.

.

.

Hyewon dan Hyemin duduk di dalam taksi. Keduanya terdiam bukan karena marah pada satu sama lain melainkan karena keduanya benar-benar merasa lelah. Berjalan-jalan selama setengah hari di mall mengenakan sepatu hak tinggi sungguh bukan hal yang mudah dilakukan.

Sementara kedua kakak-beradik Sung itu berada di dalam taksi, tak jauh dari lampu lalu lintas taksi berhenti, Jiho sedang menyusuri trotoar bersama dengan seorang lelaki yang tak kalah tinggi darinya. Ya, lelaki itu tak lain dan tak bukan adalah Woo Jiseok, satu-satunya kakak dari Woo Jiho, yang kini tinggal di Incheon bersama anggota keluarga lainnya.

Selelah apapun Hyewon, matanya tak pernah berhenti jeli. Sekilas saja ia tahu bahwa orang yang berjalan di trotoar seberang jalan itu adalah Jiho. Dengan terburu-buru gadis itu membuka kaca jendela taksi kemudian berteriak memanggil sang kekasih. Hal yang dilakukannya ini cukup ekstrem karena supir taksi yang ia tumpangi dibuat kaget olehnya, sedangkan Hyemin hanya bisa tersenyum geli.

Kalau ditanya pun pasti Hyewon tidak tahu untuk apa ia melakukan hal gila tersebut. Wajahnya semakin memerah ketika orang yang dipanggil menoleh dari seberang jalan kemudian melambai sambil tersenyum ke arahnya.

.

.

.

“Siapa itu?” Tanya Jiseok ketika taksi yang tadi penumpangnya memanggil Jiho sudah berlalu.

Lho? Kau tidak ingat ya? Itu Hyewon.” Jawab Jiho singkat.

“Oh.. Iya aku ingat. Calon adik iparku itu ‘kan?”

Jiho tertawa, cukup lantang, menanggapi pertanyaan kakaknya. Dari dulu, kakaknya tidak berubah, bukan fisiknya, melainkan sifatnya. Jiho selalu merasa rileks setiap kali ia berbincang, membahas hal-hal kecil dengan sang kakak yang umurnya terpaut dua tahun darinya.

“Kalian sudah jadian berapa lama ‘sih?” Jiseok kembali bertanya namun, kali ini pertanyaannya serius, tidak seperti ketika ia menanyakan benar atau tidak bahwa Hyewon adalah calon adik iparnya.

“Tahun ini sudah dua setengah tahun, hyung.”

Geez! Tak kusangka kau bisa berkomitmen selama itu. Hahaha!”

“Berisik.” Jiho mencibir.

“Menurutnya bagaimana?”

Pertanyaan Jiseok merujuk pada bagaimana pendapat Hyewon mengenai agensi yang dipilih Jiho dan gelengan kepala Jiho sempat membuat Jiseok heran. Ia mengerenyitkan keningnya sebelum kembali bertanya.

“Hyewonie tidak setuju?”

“Bukan.”

Ada jeda cukup panjang yang membuat Jiseok menanti jawaban dari sang adik dengan rasa penasaran.

“Aku… Aku belum memberitahu Hyewon masalah ini.”

Dan jawaban dari Jiho membuat Jiseok terperangah.

.

.

.

Berdua dengan Jiseok, kini Jiho berdiri di luar gedung salah satu dari lima agensi yang menghubunginya dan merekrutnya.

“Kalau kau yakin di sini tempatmu, jangan khawatir.”

Jiho menghela napas. Diluar dugaannya, ternyata sang kakak hanya bertindak sebagai konsultan karena menurut lelaki kelahiran tahun 1990 itu sudah saatnya bagi Jiho untuk mengambil keputusan sendiri.

“Tapi.. Menurut Kyung –“

“Jangan dengarkan apa kata orang, Jiho. Kau boleh mendengarkan perkataan orang dan menganggapnya sebagai saran tetapi jangan membuat hal itu sebagai acuanmu. Don’t lose a sight of yourself. Kalau kau yakin di sinilah tempatmu, maka di sinilah tempatmu. Kalau kau sudah yakin, maka kau harus membuat keyakinan itu menjadi nyata, bukan hanya andai-andai belaka.”

Jiho kembali menghela napas. Diatatapnya sang kakak yang tersenyum ke arahnya.

“Oke, big bro. Temani aku masuk ke dalam, yeah?”

Sure. Why not? Dulu aku juga mengantarmu ke kamar mandi, kok.”

Jiseok terkekeh dan Jiho pun ikut terkekeh mendengar ujaran sang kakak.

*********************

“Ayo, jadi ceritakan pada eonni. Kemarin kalian kemana saja sampai pulang semalam itu? Dengan siapa saja? Lalu kalian melakukan apa semalam? Ngigaumu pagi tadi membuat eonni curiga.” Begitu tiba di depan rumah, Hyemin langsung menghujani Hyewon dengan pertanyaan terkait dengan kegiatan yang ia dan Jiho lakukan kemarin.

“A-apaan ‘sih!? Kenapa curiga segala? Aku dan Jiho oppa hanya ke undangan pernikahan seorang teman dan dosen, kok. Di sana kita hanya makan saja.”

Hyemin menatap Hyewon dengan tatapan ‘ah yang benar’ untuk menggoda si Sung yang lebih muda itu. Dan ia berhasil. Kini wajah Hyewon memerah, hampir menyerupai warna baju yang ia sendiri kenakan.

“Benar kok! Aku dan Jiho oppa hanya ke undangan pernikahan dan makan-makan! Hyena dan Myungsoo oppa juga ikut! Kalau tidak percaya tanya saja pada mereka berdua!” Hyewon menggeleng kuat.

Melihat reaksi adiknya, Hyemin hanya tertawa lepas.

“Ah, kau ini benar-benar menggemaskan.” Dengan penuh kasih sayang, Hyemin mengusap-usap rambut Hyewon.

“Ayo, kita masuk saja…. Lanjutkan ceritanya di kamar saja hehehe”

Eonni!!!!” Wajah Hyewon kembali memerah seraya ia berteriak.



TBC

2 responses to “[Chaptered] Digital Love (Chapter 3)

  1. Wah lama bgt ff ini ga update dan akhirnya update juga. Sempet putus asa mikir ff ini bakal ga dilanjut. Pdahal castnya aku suka. Kan jarang ff yg main castnya Zico. Thx buat author yg akhirnya update juga. Ditunggu bgt kelanjutannya ya ^^

    • sebelumnya aku mau minta maaf karena updatenya lama ;; seperti yang sudah pernah kujelaskan, fanfiksi ini aku buat waktu zaman SMA dan setelah dibaca-baca perlu banget yang namanya perombakan soalnya agak gak sesuai seleraku yang sudah dewasa(?) ini ;-;

      terima kasih banyak sudah terus menanti fanfiksi ini!❤

      tunggu kelanjutannya ya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s