[Ficlet] Running Man- PreQuel “Sahabat-Cinta yang Tertunda”

running man

 

Disclaimer: Cerita ini hasil murni tulisan author sendiri. Sebelumnya cerita ini sudah author terbitkan di blog pribadi author. Cerita ini merupakan prequel dari [Ficlet] Sahabat-Cinta yang Tertunda. Yang ingin membaca kelanjutannya silahkan kunjungi blog pribadi saya onlykimsohyunfanfiction.blog.wordpress.com

Silahkan membaca dan berikan dukungan kalian….🙂

Copyright © Lee Ice

Author: Lee Ice

Judul: Running Man

Length: Ficlet, Flash Fiction

Genre: Romance, Teenager, Friendship

Rating: 16+

Main Cast:

Kim Hanbin as Himself

Kim So Hyun as Herself

Kim Yoo Jung as Herself

~Happy Reading~

Baca Juga – (Sahabat-Cinta yang Tertunda)

———————————-

Cinta pertama bagiku adalah kisah seorang namja yang berlari untuk mengejar cinta seorang yeoja, namun dia belum tahu kapan bisa menangkapnya maupun sampai kapan dia harus berhenti mengejarnya…

Seorang namja dengan mengenakan seragam SMA sedang berlari. Dia berlari dengan sekuat tenaganya. Keringat mulai membasahi pelipis dan keningnya. “Chakkaman! Jebal! Chakkamann…”, dia terus berlari meski nafasnya mulai tersengal-sengal. Dia tidak tertinggal lagi kali ini!

“Skiiiiirttt……….”, terdengar suara benda yang di rem. Sebuah bus berukirkan logo SSHS 1 (Seoul Senior High School 1) berhenti beberapa meter di depannya.

Namja itu masih berlari dengan sisa tenaganya, tapi dalam hatinya dia merasa lega. Karena apa yang dia kejar, akhirnya berhenti. Dia membuka pintu bus itu dan masuk.

“Kamsahamnida… Keurigu Mianhamnida…”, namja itu berkata sambil menganggukkan kepalanya kepada orang-orang yang ada didalam bis.

“Hey! Hanbin-a! Kenapa kau selalu telat? Kapan kau bisa tepat waktu?”, seorang yeoja mengomel kesal pada namja yang bernama Hanbin itu. Meski sebenarnya dia tak benar-benar kesal.

“Mian, Yoo Jung-a… Aku telat bangun hari ini”, Hanbin meminta maaf dengan memberikan wink pada yeoja tadi. Dia adalah Kim Yoo Jung, sahabat baik sekaligus ketua kelasnya. Yoo Jung adalah orang yang disiplin. Dia tidak pandang bulu kalau menyangkut kedisiplinan, entah itu sahabat atau pacarnya sekaligus, dia tidak akan segan-segan memarahi bahkan menghukum mereka- jika mereka salah. Hanbin melihat bangku belakang kosong. Dia segera menuju salah satu tempat duduk disana.

“Telat lagi…”, ada seorang yeoja yang duduk menyendiri di belakang. Hanbin duduk di sebelahnya. Yeoja itu berbicara tanpa melihat ke arah Hanbin. Dia masih fokus dengan buku pelajaran. Yokshi! Dia memang seorang juara kelas. Jadi tidak aneh jika hidupnya selalu berhubungan dengan buku.

“Hemmm…”, dengan wajah cemberut Hanbin menjawab. Meski begitu, ada semburat rasa bahagia di wajah Hanbin. Dan itu membuat pipinya sedikit memerah.

“Kenapa tak meminta ayahmu untuk mengantarkanmu? Lagi pula, kau kan sudah punya SIM, kenapa masih naik bus. Aku saja ingin segera bisa mengendari mobil sendiri…”, gerutu yeoja itu kesal. Dia melipat bukunya dan mencari sesuatu dari dalam tasnya.

Shirro! Aku tak mau sendiri! Appa terlalu sibuk, dia tak akan suka jika aku memintanya mengantarku. Kalau naik bus ka nada kau dan Yoo Jung. Jadi aku tak kesepian…”, jawabnya.

“Yak! Apa kau ingin kita selalu terlambat, gara-gara menunggumu?!”, teriak gadis itu kesal. Hanbin kaget bukan main. Semua orang di bus melihat ke belakang, kea rah mereka berdua. Tapi kemudian mereka mengabaikan keduanya. Pemandangan seperti itu sudah biasa bagi mereka. Jadi, yah, biarkan mereka saja. Hanbin hanya tersenyum menampakkan barisan giginya yang putih. Dia tidak akan menang jika berdebat dengan yeoja itu.

Aigo! Lihatlah keringatmu ini!”, tanpa Hanbin duga, yeoja itu mengelap wajahnya dengan tissue di tangannya. Ternyata yang tadi dia cari adalah tissue. Yeoja itu masih dalam mode ‘mengomel’. Hanbin merasakan jantungnya berdegub tak beraturan. Yeoja itu mendekatkan wajahnya pada wajah Hanbin. Posisi mereka terlalu dekat. Hanbin berusaha bersikap sebiasa mungkin. Dia berdehem beberapa kali untuk menetralkan deguban jantungnya. Bagaimana jika yeoja itu bisa mendengar suara jantungnya? Oh! Andwae!

“Gomawo… Sohyun-a…”, ucap Hanbin dengan malu-malu. Yeoja itu akhirnya tersenyum. Dia tak lagi mengomel. Begitulah Sohyun. Dia memang mudah marah. Tapi itu tak akan lama. Pada dasarnya, dia marah karena perduli. Dia tak akan marah tanpa alasan.

‘Yeoja itu… adalah cinta pertamaku, Kim Sohyun. Dia adalah sahabat kecil sekaligus tetanggaku. Aku bersahabat dengannya dan juga Yoo Jung, Kim Yoo Jung. Aku tak tahu kapan aku mulai menyukainya. Yang jelas… aku memberikan perhatian yang lebih padanya daripada pada Yoo Jung. Aku tahu ini tidak adil untuk Yoo Jung. Tapi mau bagaimana lagi, aku tak bisa mengingkari perasaanku. Untuk itulah, selama 7 bulan belakangan ini, aku berusaha sekeras mungkin untuk menyembunyikan semua ini. Tak ada yang boleh tahu tentang perasaanku. Mencintai diam-diam, mungkin merupakan jalan teradil bagi kita… Terkadang aku merasa tak adil bagi diriku sendiri. Kenapa kita harus terlahir sebagai sahabat? Tidak! Kenapa aku harus jatuh cinta pada sahabatku sendiri?’ Kim Hanbin.

~♥♥♥~

“Sohyun-a! Kau ingat novel ‘Just Another Girl’ yang kita bicarakan kemarin?”, tanya Hanbin. Mereka baru saja turun dari bus dan hendak menuju kelas masing-masing.

“Oh… Novelnya Lee Jira? Tentu aku ingat. Wae? Ahh… Aku ingin sekali membacanya…”, jawab Sohyun sedikit lesu. Dia memang penggemar berat novelis Lee Jira. Tapi karena ini mendekati ujian, appa dan eommanya tak mau membelikannya novel. Mereka ingin Sohyun fokus belajar dulu. Mereka berjanji akan membelikannya, kalau Sohyun sudah selasai ujian. Tapi tetap saja, Sohyun ingin segera membacanya.

“Aku sudah membelinya… Mau pinjam?”, kata Hanbin dengan bersemangat. Tebakannya benar, Sohyun pasti belum membelinya.

“Oh! Jinjja-yo!”, Sohyun terlonjak senang. Bahkan dia tengah memeluk Hanbin saat ini. “Tentu aku ingin meminjamnya”, tambahnya. Dia benar-benar bahagia. Sedangkan Hanbin merasa tak nyaman dengan perlakuan Sohyun. Lagi-lagi semburat merah nampak di kedua pipinya.

“Arraseo! Arraseo! Jadi tolong lepaskan aku sekarang!”, kata Hanbin sambil melepaskan pelukan Sohyun. Dia tak tahan dengan semua ini. Rasanya- jantungnya hampir terlepas dari tempatnya. Sohyun masih tak memahami kondisi Hanbin sekarang. Saat ini dia justru mengusap kedua pipi Hanbin dengan lembut.

“Ahhh… Kau memang sahabatku yang terbaik!”, kata Sohyun sambil memberikan kedua jempolnya. Dia tersenyum lebar, seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru. “Nanti, kita ketemuan di perpus, ya… Aku ke kelas dulu…”, Sohyun pun pergi meninggalkan Hanbin.

Selepas kepergian Sohyun, Hanbin tersenyum lebar. Oh… Hampir saja dia ingin bersorak karena senang. Sebenarnya, dia sama sekali tak suka membaca, bahkan dia tidak suka dengan benda yang bernama buku. Tapi, begitu di dekat Sohyun yang notabenya suka membaca- dia berakting seolah-olah juga gemar membaca. Ketika mendengar Sohyun menginginkan sebuah buku, maka dia akan cepat-cepat membelinya. Dengan alasan meminjamkannya- pada akhinya buku itu akan diberikan pada Sohyun dengan cuma-cuma. Dan selama ini, baik Sohyun maupun Yoo Jung tak pernah menyadari perhatian khusus ini. Bagi Hanbin, semua ini ada baik dan buruknya. Baiknya, rahasianya tetap aman. Jadi dia masih bebas memelihara perasaannya untuk Sohyun. Tapi buruknya, tak jarang Hanbin merasa lelah dengan semua ini. Bahkan ini lebih melelahkan daripada setiap hari berlari mengejar bus sekolahnya.

Yang membuatku tak mengerti, aku tak pernah gagal ketika mengejar bus. Tapi aku selalu gagal mengejarmu- yang justru berada di sebelahku.

~♥♥♥~

Hanbin menunggu Sohyun di ruang baca. Dia tersenyum sumringah menantikan kedatangan sahabatnya itu. Tapi, tiba-tiba senyum itu hilang seketika. Hanbin melihat Sohyun masuk ke perpusatakan dengan seorang namja. Namja itu adalah Kang Minhyuk- salah satu senior mereka di SSHS 1. Hanbin mengamati Sohyun dan Minhyuk dari celah buku-buku. Hatinya terasa terkoyak. Ah… Kenapa sakit sekali melihat Sohyun menebarkan senyumnya pada namja lain.

“Hanbin-a! Kau disini? Aku mencarimu…”, Sohyun menydarkan lamunan Hanbin. Hanbin kaget mengetahui Sohyun sudah berdiri di depannya. Dia berusaha bersikap sebiasa mungkin.

“Oh…”, jawabnya singkat. “Ngomong-ngomong siapa dia?”, tanya Hanbin dingin. Dia berpura-pura tak mengenal Kang Minhyuk. Hanbin memang tak benar-benar mengenalnya sih. Dia hanya pernah mendengar nama namja itu dari Yoo Jung.

“Ohh… Dia Minhyuk- sunbae. Hanya teman…”, jawab Sohyun singkat dan cuek. Hanbin tak ingin membahasnya lagi- meski dia tak puas dengan jawaban Sohyun. Dia kecewa pada Sohyun, namun disisi lain- dia takut mengetahui kenyataan hubungan keduanya.

~♥♥♥~

“Sohyun-a! Seperti apa namja idealmu?”, tiba-tiba Hanbin menanyakan pertanyaan itu pada Sohyun. Membuat Sohyun yang sedang minum menjadi tersedak.

Mwo? Yak! Kau kenapa? Aneh sekali…”, baik Sohyun dan Yoo Jung curiga pada Hanbin. Hanbin sedikit aneh. Tidak biasanya dia membicarakan hal seperti ini. Bahkan ketika Sohyun dan Yoo Jung sedang membicarakan soal percintaan, Hanbin akan marah-marah atau menghindar, karena memang tak suka membicarakn topic itu. Tapi ada apa dengan dirinya hari ini?

Aniya… Hanya saja, tiba-tiba aku ingin menanyakannya. Apa itu salah?”, Hanbin member alasan.

“Tidak sih. Hanya aneh ssaja…”, jawab Yoo Jung. Baik Yoo Jung maupun Sohyun hanya bisa menggelengkan kepalanya lemah.

“Emmm… Yang jelas aku senang dengan namja yang memiliki punggung yang luas dan hangat…”, jawab Sohyun dengan polosnya. Baik Hanbin dan Yoo Jung hanya bisa melongo. Sahabatnya yang satu ini benar-benar! Dia polos atau bodoh sih. Bagaimana bisa tipe idealnya hanya diukur dengan ‘punggung’. Kalau biasanya, orang ketika ditanya akan menjawab karena sikap, tampan, charisma, kekayaan, dsb. Sohyun justru menjawab ‘punggung’. Dia memang gadis aneh.

“Kau benar-benar aneh! Bilang saja kau suka Minhyun sunbae”, ledek Yoo Jung.

“Aniya!”, jawab Sohyun tak terima. Namun ada semburat merah dipipinya. Apa ini? Apakah Sohyun merasa malu? Atau… Hanbin tiba-tiba terdiam. Dia tak tahu apa yang harus dilakukannya. Jawaban Sohyun benar-benar sulit dipahami.

~♥♥♥~

Hanbin masih terus berlari mengejar bus sekolahnya. Untungnya hari ini, dia hanya tertinggal 1 menit. Jadi, busnya belum berjalan terlalu jauh. Sambil terengah-engah, Hanbin menaiki bus itu dan duduk di bangku belakang berasama Sohyun. Tapi ada yang berbeda sekarang. Jika biasanya dia mengocehkan tentang banyak hal. Kini dia hanya duduk diam sambil mendengarkan music dengan ear-phonenya. Sesekali dia melihat kearah Sohyun yang juga asik dengan bukunya.

Hari itu, ketika aku mendengar jawabanmu. Entah kenapa aku merasa kehilangan kepercayaan diriku untuk mencintaimu. Bagiku, aku terasa jauh sekali dengan kriteria yang kau sebutkan. Ditambah ada namja lain yang kau perhatikan dan sikapmu yang menunjukkan seolah-olah kau menyukainya. Meski aku tak mendengar dari mulutmu langsung bahwa kau menyukainya. Hatiku tetap terasa sakit. Tapi aku masih menyukaimu. Karena itulah… Setiap pagi aku masih rela mengejar bus ini.

~The End~

Gak tahu mau comment apa. Yang jelas, kritik dan saran author terima. Asal jangan minta sequel aja deh… Mungkin banyak yang kurang ngeh~ karena endingnya gantung. Tapi justru itulah keseruan di cerita ini. Hoho…

Sekian…. Wassalam… Anyyeong!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s