Rompecorazones #7

nayoung1

Taeyong, Nayoung, others.

by Cca Tury

Previous: [1] [2] [3] [4] [5] [6]

“Jangan mengabaikanku jika tidak ingin menanggung akibatnya!” -Lee Taeyong-

“Mau kemana?”

“Tidur. Sudah malam.”

“Kau yakin tidak ingin bicara denganku?” Taeyong tahu teman masa kecilnya memang sedang dalam masa tidak baik-baik saja. Dia dengan mudah bisa tahu bagaimana yang kini Nayoung pikirkan. Rona cemas semacam itu juga pernah dia lihat ketika terakhir kali dirinya berurusan dengan polisi. Taeyong tahu Nayoung khawatir dengannya.

“Kau pikir bagaimana khawatirnya aku mendengar kau berada di tempat itu?!”

Taeyong menghela nafas tipis ketika gadis itu memekik kecil. Inilah yang Taeyong tidak suka, wajah berkaca-kaca setelah berteriak kesal. Sudah berkali-kali dia katakan, dia tidak menyukai wajah Nayoung yang seperti itu. Taeyong membencinya.

Taeyong beranjak dari duduknya, lantas menangkap Nayong masuk ke pelukannya, dia mendesah sebelum berkata, “Berapa kali lagi harus kukatakan jika aku lebih menyukai senyum indahmu? Aku benci tangisan ini.” Bisa Taeyong rasakan, teman masa kecilnya mulai terisak kecil di dadanya.

“Aku takut,” ucap Nayoung dengan isak terputus. “Aku takut jika kau kembali ke sana. Aku tidak ingin kau berada di sana lagi. Aku hanya ingin terus melihatmu, aku ingin kau terus berada di dekatku.” Isak Nayoung semakin menjadi.

Taeyong kembali menghela nafasnya, dia mempererat pelukan, menarik Nayoung semakin dalam di dadanya. Taeyong juga mengusap perlahan puncak kepala Nayoung. Jika sudah begini, Taeyong pun bingung. Dia sebenarnya terlalu tidak sering melihat Nayoung dengan tangisannya, teman masa kecilnya itu adalah tipikal gadis yang tegar, bukan pengumbar air mata. Selama kebersamaan mereka, hanya tiga kali dia melihat Nayoung menangis hingga tersedu-sedu. Pertama, ketika ibunya meninggal, kemudian ketika ia keluar dari tahanan remaja bulan lalu. Dan kini, dia melihatnya lagi. Taeyong benar-benar rindu Nayoung yang tertawa garing dengan rentetan gigi bersinarnya.

“Hei, ayolah. Kumohon, jangan menangis!” Taeyong menarik wajah Nayoung dengan kedua telapak tangannya. Matanya bersirobok dengan milik Nayoung yang sudah memerah, air matanya sudah memenuhi pipi yang pun ikut memerah. Jika sudah begini, Taeyong panik.

“Aku tidak akan kembali ke tempat itu lagi dan aku akan menjadi anak baik setelah ini, jadi jangan menangis.” Taeyong menghapus air mata yang mengalir di pipi Nayoung. Dia tersenyum kecil untuk Nayoung yang sedang berusaha menghentikan tangisnya. “Aku akan selalu berada di dekatmu, jadi kumohon hentikan sikap khawatirmu itu. Aku hanya ingin kau tersenyum indah untukku.” Kembali Taeyong menarik Nayoung kepelukannya. Teman masa kecilnya itu sudah berhenti merengek, hanya saja sesekali ceguknya terdengar.

“Aku ingin tidur,” gumam Nayoung setelahnya.

“Ayo.”

***

Dengan cepat, Nayoung melangkah naik ke lantai atas rumahnya, menengok Taeyong yang tidur di kamarnya. Semalam, pembicaraan mereka terhenti begitu saja karena Nayoung sendiri malu jika dirinya harus menangis di hadapan Taeyong, ingin tidur cepat hanyalah alasan agar Taeyong melepas pelukannya. Lagi pula, pelukan seperti semalam sungguh membuat Nayoung sulit berdamai dengan detak jantungnya, karena sebelumnya pun mereka tidak pernah dengan pelukan dalam seperti semalam.

Wajah Nayoung mengerut ketika membuka pintu kamarnya. Tidak ada Taeyong di sana, tempat tidur pun sudah rapi seperti tak ada yang tidur di sana semalam.

“Bu, Taeyong kemana?” teriaknya untuk ibu di lantai bawah, lalu ia pun berlari menuju lantai bawah. Meski tadi belum sempat menegur, dia tahu ibu sudah pulang dari rumah editornya. Suara-suara di dapur terdengar sedikit berisik tadi.

“Sudah pulang setelah sarapan pagi. Lagi pula, kau pikir ini sudah jam berapa? Kamu terlambat bangun! Huh, dasar anak malas!” oceh ibu. Nayoung hanya bersungut malas memasuki ruang makan.

Ini salah Taeyong. Jika saja semalam lelaki itu tidak membuat jantungnya bermasalah, mungkin ia akan tidur nyenyak dan bangun pagi seperti hari biasanya. Untung saja ini akhir pekan, jadi dia tidak perlu terburu-buru berkemas untuk pergi ke sekolah.

“Seenaknya saja datang dan pergi! Memangnya dia pikir siapa dia!” Nayoung mengoceh pada dirinya sendiri lantas menggigit kasar roti panggang buatan ibu.

“Kau kenapa? Marah-marah sendiri?!” Ibu ikut duduk di hadapannya lalu menyodorkan segelas jus tomat untuk anak perempuannya. Nayoung hanya tersenyum menggeleng dan meminum jus buatan ibu.

“Apa karena Taeyong?”

“Huh? Tidak, Bu. Lagi pula kenapa harus marah dengan Taeyong?”

Ibu tersipu kecil, “Lalu? Apa ada yang terjadi pada Taeyong?”

Nayoung berkerut,

“Semalam ibunya Taeyong menelpon untuk mengizinkannya tidur di rumah kita karena mungkin dia sedang tidak nyaman di rumah,” jawab ibu.

“Oh …” Nayoung tertunduk, melirik jus tomat yang sudah tinggal setengah gelas, dia lalu berucap, “Taeyong semalam ada di kantor polisi.”

“Lagi? Kali ini kenapa?” Ibu ikut khawatir seketika.

Nayoung menggeleng. “Aku belum tahu pastinya, polisi bilang dia menari di tempat yang salah,” ucapnya masih dengan tundukan.

“Ya ampun. Seharusnya dia tidak melakukan hal-hal aneh seperti itu. Ibu akan menasehatinya nanti ketika—“

“Biarkan saja dulu, Bu. Taeyong sudah terlalu banyak diocehi ayahnya. Lagi pula, memangnya ibu ini siapanya? Marahi saja aku.”

“Eish! Kau ini! Bagaimanapun kau kan tahu, Taeyong lebih mendengarkanku ketimbang ibunya,” ucap ibu lalu beranjak dari meja makan.

Benar ucapan ibu. Sejak pertama tinggal dengan ibu tirinya, Taeyong sedikit pun tidak pernah mengindahkan ucapan ibunya. Dan, bukan sekali dua kali tante Lee meminta ibu Nayoung untuk bicara dengan anak tirinya itu. Taeyong bahkan mungkin bahkan lebih mencintai ibu Nayoung dibandingkan ibu tirinya sendiri.

“Nayoung?”

“Iya, Bu?”

“Antar jus ini pada kakek Yoon. Katakan padanya untuk meminumnya.” Ibu menyodorkan dua botol besar jus tomat. “Katakan padanya jus ini bagus untuk kesehatannya.”

“Kenapa selalu ibu sih yang buatkan? Dia juga kan punya anak,” sungut Nayoung. Sungguh, dia malas mengantar jus kerumah kakek Yoon. Sebulan yang lalu Nayoung tidak sengaja memecahkan pot bunga kesayangan nan mahal milik anak kakek Yoon, sehingga ibu harus memotong uang sakunya untuk mengganti pot mahal itu. Minggu lalu ia tersandung dan jatuh terjungkal karena kaget ulah gonggongan anjing milik keluarga kakek Yoon. Tiga hari yang lalu, kepalanya terkena bola basket yang tak sengaja masuk ke perkarangan rumah kakek Yoon ulah anak-anak yang bermain di taman di sebelah rumah kakek.

Dan juga, bahkan dia belum mandi dan masih memakai baju tidur, sungguh tidak indah sekali keluar rumah dengan pakai seperti ini.

“Sudah. Sudah. Jangan mengeluh. Siapa tahu kau bertemu dengan lelaki tampan di luar sana.” Ibu mengikik, membuat Nayoung memutar mata jengah. Dengan decak kecil dia menuruti perintah ibunya.

***

Siapa tahu kau bertemu dengan lelaki tampan di luar sana.

Ucapan ibu benar. Ibu memang tidak pernah salah. Sekali pun ibu tidak pernah salah, ibu selalu saja benar.

Tapi, sayangnya, lelaki tampan yang satu ini benar-benar membuat hatinya panas. Seharusnya Nayoung benar-benar membantah keras ibu memintanya mengantar jus tomat ke rumah kakek Yoon, sehingga dia tidak perlu melihat tangan Taeyong yang membelai lembut rambut gadis cantik di hadapannya. Gadis yang semalam membawanya ke kantor polisi.

Sungguh, pergi ke rumah kakek Yoon selalu saja menjadi petaka buatnya.

Nayoung menghempas keras pintu gerbang rumahnya dan berusaha berjalan tak acuh dengan pemandangan di depan rumah Lee Taeyong itu.

“Young-ah?”

Nayoung kira Taeyong tak akan menyadarinya. Tetapi lelaki itu malah mengejarnya hingga masuk ke perkarangan rumah kakek Yoon.

“Lepaskan!” pekik Nayoung ketika Taeyong merampas tangannya. Botol jus tomat di tangannya bahkan terpental karena dia menarik tangannya dari Taeyong dengan keras.

“Kau salah paham, Young-ah!”

Nayoung memungut botol jus yang jatuh tadi dan berkata tak acuh, “Salah paham apa sih?! Aku tak mengerti maksudmu!” Padahal, jelas sekali rona wajah Nayoung sungguh tidak bisa dikatakan dia sedang baik-baik saja, tetapi dia masih saja mengelak.

“Tidak usah membohongiku. Aku tahu kau melebihi siapapun!” Taeyong menghadang jalan Nayoung yang akan memasuki rumah kakek Yoon.

“Minggir! Aku harus mengantar ini ke dalam!” Mata Nayoung mendelik dengan tampang seram.

“Oh, baik. Antar lah.” Taeyong mempersilahkan setelahnya. Dia lantas mengitari pandangannya. Dia bahkan tidak sadar jika sedang berada di perkarangan rumah tetangganya, sungguh tidak lucu sekali jika mereka harus berdebat di depan rumah orang lain.

“Aku akan menunggu di rumah!” serunya mengiringi Nayoung yang masuk ke rumah kakek Yoon.

***

“Oh, kau datang?” sapa Taeyong ketika Nayoung memasuki kamarnya sendiri. Lelaki itu sudah berguling-guling mengacak ranjang tidurnya dengan ditemani ponsel pintar di tangannya. Nayoung hanya bisa menghela nafas jengah dan menggeleng kepalanya. Sungguh, dia sedang malas dengan lelaki ini.

“Kenapa lama sekali? Aku menunggumu sejak tadi,” ucap Taeyong lagi mengiringi Nayoung masuk ke kamarnya lantas duduk di meja belajar. Daripada berdebat dengan lelaki yang selalu saja membuatnya kacau balau itu, lebih baik dia menulis kelanjutan fanfiksinya. Kemarin kalau tidak salah ia terhenti di saat Jiyong oppa meninggalkan kecupan singkat di dahi Chaerin unni, dan sialnya, Baekhyun oppa memergoki.

“Oi! Kau mengabaikanku?!” Suara Taeyong menghentikan tangan Nayoung yang akan mengetik di laptopnya. Hanya sejenak, karena setelahnya Nayoung kembali dengan cepat mengetik lanjutan fanfiksinya.

“Jangan mengabaikanku jika tidak ingin menanggung akibatnya!” Taeyong kembali mengoceh, dan Nayoung lagi-lagi mengabaikan. Lagi pula itu hanya gertakan, Nayoung tidak akan mendapat ganjaran sama sekali setelah ini. Jadi tenang saja.

Dan pula, Nayoung benar-benar tidak ingin membahas kejadian tadi itu, jika mereka berdebat sekarang, pasti yang tadi itu akan mereka bahas padahal dia tidak ingin peduli dengan itu, berusaha tidak peduli, sebenarnya. Karena, walau bagaimanapun, Taeyong yang dekat dengan gadis lain sangat mengganggu pikirannya.

“Kyaa!!” Nayoung tersentak, karena tiba-tiba saja Taeyong memutar kursi belajarnya. Teman masa kecilnya itu lantas menguncinya dengan kedua tangan yang diletakkan di punggung kursi menjepit bahunya.

“Jangan mengabaikanku!” Wajah Taeyong terlihat serius, mata elangnya bahkan menusuk tajam pada iris mata Nayoung.

Gadis ini menelan ludahnya. Apalagi ketika Taeyong mendekatkan wajahnya mempersempit jarak di antara keduanya, lantas sejurus kemudian satu kecupan cepat singgah di bibir merahnya. Nayoung tersedak, satu kali suara cegukan terdengar dari mulutnya.

“Sudah kukatakan untuk tidak mengabaikanku jika tidak ingin mendapat akibatnya.”

***

8 responses to “Rompecorazones #7

  1. Alur ceritanya aku suka bgt. Sepasang teman kecil yang terlibat asmara tapi masih malu2 kucing buat mengakui. Tp btw ada beberapa kata depan yg blm kepisah. Aku lupa di bagian mana tp kata itu kamu tulis kerumah harusnya ke rumah hehe. Selebihnya aku suka bgt💕

  2. greget bangetttt!!!!! ffnya udah aku tunggu tunggu banget dari yg ke-6 kemarin dan well, yg ke-7 makin bikin aku gemes aja. i’m waiting for the next one!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s