[Oneshot] Stalker

 

Stalker copy
TITLE : STALKER
LENGTH : ONESHOT
GENRE : AU, THRILLER, SLIGHT!ROMANCE
RATING : T

STARRING
U-KISS KEVIN AS WOO SUNGHYUN
U-KISS ELI AS KIM KYOUNGJAE

poster by:
atatakai-chan

originally posted in
https://atatakaichan.wordpress.com



Recommended song


Aku takut. Malam ini lagi-lagi suara itu terdengar –suara langkah kaki seseorang di dalam apartmentku– padahal aku sudah mengunci pintu dan jendela rapat-rapat. Aku sudah menceritakan hal ini pada beberapa temanku, kata mereka aku terlalu stress sehingga aku berhalusinasi. Sampai kemarin aku percaya pada mereka tetapi, malam ini aku rasa yang teman-temanku katakan adalah bohong. Tidak mungkin ‘kan aku berhalusinasi selama satu minggu penuh?

Kupegang erat-erat ujung selimut yang menutupi tubuhku sampai ke kepala, aku bersembunyi di balik selimut karena, lagi-lagi, suara langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu kamarku. Aku tidak percaya dengan yang namanya hantu dan inilah yang membuatku takut. Bagiku manusia jauh lebih menyeramkan daripada makhluk tak kasat mata. Bagaimana kalau aku ternyata adalah calon korban pembunuhan berantai?

Aku mengatur masuk dan keluarnya napasku, mencoba menenangkan diri sambil berharap aku hanyalah berhalusinasi –walau aku tahu aku tidak berhalusinasi. Kupejamkan kedua mataku erat-erat, mencoba untuk tidur sehingga malam cepat berlalu.

“Mungkin itu Kyoungjae, Aeri.”

“Tapi aku rasa Kyoungjae bukan orang yang seperti itu, Sunghyun.”

Saat ini aku bukannya sedang membela mantan kekasihku melainkan aku mengatakan yang sesungguhnya. Walaupun Kyoungjae nampak mengerikan tetapi sebenarnya ia adalah lelaki paling lembut kedua yang pernah aku temui. Juara pertamanya adalah kekasihku saat ini, Sunghyun, ialah lelaki lembut nomor satu.

“Apakah kau yakin Aeri?”

Aku mengangguk. Rasanya sungguh tidak enak membuat Sunghyun khawatir tapi apa daya? Aku tidak tahu harus berbuat apa selain menceritakan hal ini kepadanya, well, aku tidak bisa menyalahkannya kalau ia bosan terus-terusan mendengar ceritaku yang sama ini, cerita yang baginya hanyalah cerita halusinasiku karena ketika ia menginap di apartmentku, baik dirinya maupun diriku sendiri tidak mendengar suara langkah kaki itu.

Sempat terpikirkan olehku mungkin aku hanya merasa kesepian dan sedikit stress sehingga halusinasiku terpacu. Dan sempat juga aku berpikir untuk meminta Sunghyun tinggal di apartmentku sampai aku benar-benar yakin bahwa aku hanya berhalusinasi tapi aku merasa tidak enak. Masalahnya bukan hanya karena kami berdua belum menikah saja tetapi juga karena Sunghyun adalah orang sibuk, aku tidak ingin membuatnya semakin repot.

“Kalau malam ini ada apa-apa, telepon saja aku, oke? Aku akan segera datang.” Sunghyun menepuk-nepuk pelan kepalaku sembari tersenyum.

Astaga, senyum itu sangat menawan sehingga mampu membuat jantungku berdegup kencang. Sebenarnya kalau masalah rupa, Sunghyun dan Kyoungjae tidak terlalu berbeda jauh dalam artian keduanya sama-sama menawan. Tentu saja alasanku putus dengan Kyoungjae bukan karena masalah rupa melainkan ada hal lain, keyakinan kami berbeda dan aku tahu kedua orang tua ku tidak akan menyetujui hubungan kami berdua sehingga ketika itu aku memutuskannya. Kalau diingat-ingat, waktu itu ia benar-benar marah besar tetapi untungnya ia bukanlah orang yang suka main kasar sehingga ia hanya merusak beberapa perabotan, ia sama sekali tidak memukulku atau apapun seperti yang aku bayangkan.

“Aku tidak ingin mengakhiri hubungan kita.” Begitu katanya sebelum ia meninggalkanku waktu itu bersama dengan vas bunga yang pecah di ruang tamu.

Keesokan harinya Kyoungjae datang ke apartmentku, ia membawa vas bunga baru yang sama dengan yang ia pecahkan malam sebelumnya. Ia meminta maaf karena telah membuatku takut dan ia juga meminta maaf karena telah lepas kendali. Aku bukan tipe orang pendendam jadi kumaafkan saja, lagipula kesalahan ada padaku. Seharusnya sejak awal aku tidak memacarinya –aku benar-benar merasa jahat, seperti orang dewasa yang mengambil permen dari tangan anak kecil. Akhirnya aku dan Kyoungjae kembali menjadi teman, selayaknya bagaimana kami dulu sebelum berpacaran.

Beberapa bulan setelah itu, setelah aku memacari Sunghyun, Kyoungjae datang ke apartmentku sambil membawa sebotol champagne –ia berencana merayakan kenaikan jabatanku– namun ketika itu, kebetulan Sunghyun ada di apartmentku dan keadaan menjadi benar-benar kacau. Belum pernah aku melihat Sunghyun semurka itu. Ia hampir saja menghantam kepala Kyoungjae dengan botol champange yang berhiaskan tulisan ‘Congrats for your carreer!’. Untungnya aku berhasil menenangkannya.

Keesokan harinya, ketika aku pulang dari kantor, aku kebetulan bertemu dengan Kyoungjae di cafe langgananku. Merasa tidak enak atas kejadian kemarin malam, aku memutuskan untuk mentraktirnya sebagai permohonan maaf. Aku benar-benar merasa lega ketika Kyoungjae menerima permohonan maafku itu dengan menegak habis secangkir coffee latte yang aku belikan untuknya. Setelah berbincang-bincang untuk beberapa menit, aku memutuskan untuk pulang karena langit sudah nampak mulai gelap.

Di persimpangan dekat cafe ada sebuah toko buku dan aku melihat Sunghyun di sana. Kedua pasang mata kami bertemu. Ia tersenyum padaku dan aku diam di tempatku berdiri, menunggu ia menghampiriku. Namun, setelah kutunggu beberapa saat, ia tidak keluar juga dari toko buku, bahkan nyatanya setelah tersenyum ke arahku ia kembali berfokus pada bukunya. Aku rasa ia sangat sibuk sehingga aku melangkah pulang.

Kejadian yang beberapa orang anggap sebagai halusinasi dariku yang stress ini terjadi beberapa hari sesudahnya. Siang harinya, setelah aku menerima telepon tak bersuara dari Kyoungjae, aku mendadak ditunjuk sebagai wakil rapat. Aku mengacaukan beberapa hal ketika presentasi karena aku tidak fokus akibat telepon tak bersuara dari Kyoungjae tadi, skenario terburuk mulai bermain di benakku, bagaimana kalau seandainya sesuatu yang buruk terjadi pada Kyoungjae? Selesai rapat, atasanku langsung menceramahiku. Seolah itu saja tidak cukup, ia memberikanku tumpukan pekerjaan untuk aku selesaikan, katanya itu sebagai hukuman. Lalu malam harinya, itulah malam pertama kali aku mendengar suara langkah kaki di apartmentku. Saat itu aku tidak begitu mempedulikannya karena aku pikir benakku tengah mengelabuiku.

Malam keesokan harinya aku kembali mendengar langkah kaki, ketika itu aku tengah berendam. Aku terpaksa mematikan air keran bathtub untuk memastikan. Sepersekian detik yang terdengar hanyalah hembusan napasku namun di detik berikutnya kembali terdengar langkah kaki sehingga aku terus berdiam di bathtub sampai aku menggigil dan aku pun terserang pilek keesokan paginya.

Malam berikutnya aku sengaja tidur lebih awal karena aku tidak ingin lagi mendengar suara langkah kaki yang kata beberapa rekan kantor hanyalah halusinasi karena aku terlalu lelah. Sialnya, karena tidur lebih awal, aku tiba-tiba saja terbangun tengah malam dan astaga. Aku mendengar suara itu lagi dan aku yakin aku tidak sedang berhalusinasi.

Namun keesokan paginya, rekan-rekan kantorku kembali mengatakan bahwa aku mungkin berhalusinasi. Aku hanya mengatakan, “ya kurasa kau benar” tapi aku tidak benar-benar percaya. Sepulang dari kantor setelah bertemu dengan Sunghyun dan menyantap makan malam, aku mengganti kode akses apartmentku. Malam itu aku sengaja tidak tidur. Aku ingin tahu. Dan yang terjadi benar-benar mengejutkan. Aku mendengar bunyi tombol akses apartmentku dan dari bunyinya jelas sekali bahwa kode yang ditekan tidak benar. Aku benar-benar gemetar di atas tempat tidur. Setelah tiga kali bunyi itu terus terdengar, kini terdengar suara hantaman pada pintu apartmentku. Apapun itu, ia tengah mencoba mendobrak masuk. Seketika tubuhku terasa lemas dan aku pun tak sadarkan diri.

Pagi hari berikutnya, aku dibangunkan oleh suara gedoran keras pada pintu apartmentku. Untungnya waktu itu adalah hari Minggu karena ketika aku melihat jam, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Dengan setengah berlari aku menuju ke arah lorong pintu dan membukakan pintu bagi siapapun yang tadi menggedor. Ternyata itu Sunghyun. Raut wajahnya nampak cemas.

“Kau ingat dengan halusinasi yang aku ceritakan beberapa saat lalu?”

Sunghyun mengangguk, “aku ingat.”

“Aku sedari awal yakin aku tidak berhalusinasi, Sunghyun. Kemarin aku mengganti kode akses apartmentku dan pada malam harinya aku mendengar suara dobrakan. Seseorang hendak membobol masuk ke dalam apartmentku.”

Untuk sesaat Sunghyun terdiam.

“Kurasa itu Kyoungjae.”

Ketika ia mengatakan itu aku benar-benar kaget. Itu adalah kali pertamanya aku melihat Sunghyun menuduh orang tanpa bukti. Membicarakan soal Kyoungjae aku ingat telepon tanpa suara yang aku terima beberapa hari lalu. Aku pun menceritakannya pada Sunghyun dengan niat memberitahunya bahwa aku khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada lelaki yang pernah tinggal di Amerika itu. Namun, bukannya menangkap maksudku yang sesungguhnya, Sunghyun malah semakin yakin kalau Kyoungjae lah yang melakukannya. Malam itu, Sunghyun menginap di apartmentku dan ajaibnya suara langkah kaki yang biasanya aku dengar sama sekali tidak muncul. Hanya ada dua kemungkinan mengapa bisa seperti itu. Yang pertama adalah karena orang yang kucurigai sebagai penguntit tahu bahwa Sunghyun menginap malam ini dan yang kedua adalah aku benar-benar berhalusinasi selama ini.

Keesokan harinya, pada pukul enam, Sunghyun membangunkanku. Katanya ia akan berbelanja ke minimarket untuk sarapan pagi. Masih setengah mengantuk, aku memberikannya daftar belanjaanku yang bisa sekalian ia beli. Khawatir aku ada di kamar mandi ketika ia kembali, aku pun memberitahukan kode akses baru apartmentku agar ia tidak terkunci diluar. Hari itu aku menjalani kegiatanku dengan semangat, karena rasa khawatirku akan adanya penguntit semakin berkurang. Namun kekhawatiranku kembali meningkat pada malam harinya. Lagi-lagi aku mendengar suara langkah kaki. Rasanya ingin sekali aku menelepon kantor polisi tapi bagaimana kalau aku hanya berhalusinasi saja? Dan kalaupun bukan halusinasi, apa yang akan terjadi ketika penguntit itu mendengar suaraku? Akankah aku dibunuh?

Hari berikutnya aku memutuskan untuk tidak masuk kantor. Aku beristirahat seharian penuh, aku rasa itu cukup untuk menghilangkan halusinasi yang muncul dari rasa stress. Namun tetap saja malam harinya aku mendengar suara langkah kaki. Aku benar-benar yakin kalau aku tidak berhalusinasi. Lagipula mana mungkin aku berhalusinasi selama tujuh hari berturut-turut?

Hari ini, aku memutuskan untuk tidak masuk kantor lagi. Aku sempat meminta Sunghyun untuk datang ke apartmentku sebelum ia berangkat ke kantor dan ia pun datang. Kami kembali membahas hal itu dan lagi-lagi ia menyalahkan Kyoungjae. Dan aku pun bersikeras mengatakan bahwa aku tidak yakin yang melakukannya adalah Kyoungjae. Setengah jam lamanya ia menemaniku dan ia pun berangkat ke kantor. Sebelum pergi ia mengatakan untuk meneleponnya kalau malam ini terdengar suara langkah kaki lagi. Sunghyun benar-benar perhatian, aku semakin yakin dirinya adalah orang yang tepat untuk masa depanku.

Sampai sore aku duduk di ruang tamu sambil menonton TV dan aku pun berpikiran untuk tinggal di kediaman Sunghyun sementara waktu. Aku kemudian meneleponnya dan mengungkapkan pemikiranku, secara mengejutkan Sunghyun langsung setuju. Katanya ia sudah memikirkan ini semenjak aku bercerita mengenai malam di mana aku mendengar suara dobrakan pintu apartmentku tetapi ia merasa tidak enak sehingga ia mengurungkan niatnya untuk memberitahuku mengenai ide itu. Setelah pulang kantor ia akan menjemputku untuk membawaku serta beberapa barang milikku ke tempatnya.

Aku membereskan barang-barangku, memilah-milih apa saja yang sebaiknya aku bawa. Dan saat itulah di televisi aku melihat sesuatu yang mengejutkan. Ada Kyoungjae –tepatnya mayatnya– terbaring di atas tandu yang kemudian di masukkan ke dalam ambulance. Aku kencangkan volume televisi dan diberitakan bahwa seorang lelaki tewas bunuh diri di sebuah gedung kosong. Pada jasad lelaki itu ditemukan secarik kertas. Di kertas itu ada namaku. Rupanya itu surat perpisahan dan permintaan maaf, pada surat itu tertulis ‘Maaf sudah menguntitmu selama ini. Aku hanya tidak bisa menerima kenyataan bahwa kau lebih memilih lelaki lain dibandingkan aku. Aku menyesal telah mengganggu keseharianmu. Selamat tinggal.’

Aku benar-benar terhenyak. Air mata menetes dari kedua pelupuk mataku. Tak pernah terpikirkan olehku bahwa Kyoungjae memutuskan untuk mengakhiri hidupnya seperti ini. Tapi yang membuatku lebih merasakan nyeri pada hatiku adalah kenyataan bahwa aku tidak bisa lagi bertemu dengannya– aku pun menyadari bahwa mungkin selama ini aku belum benar-benar move on darinya.

Reporter mengatakan bahwa menurut hasil forensik, diperkirakan Kyoungjae menemui ajalnya tujuh hari lalu. Itu tepat pada hari aku menerima panggilan tanpa suara darinya. Sangat tidak masuk akal. Kalau ia sudah meninggal selama itu, mana mungkin ia adalah si penguntit. Tiba-tiba saja, entah dari mana, muncul bagian tidak masuk akal lainnya di benakku, kalau hasil forensik ternyata salah dan Kyoungjae benar adalah si penguntit, bagaimana ia bisa memasuki apartmentku setelah aku mengganti kode aksesnya?

Ketika aku sedang hanyut dalam pikiranku sendiri, aku mendengar suara kode akses apartmentku berbunyi. Itu pasti Sunghyun.

FIN.

3 responses to “[Oneshot] Stalker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s