The Destiny – Chapter 1

poster ff sekar

By Sparkdey

The Destiny – Chapter 1

Min Yoongi BTS || Park Sera (OC) || Kim Taehyung BTS

PG + 17

AU || Fluff || Romance || Friendship

Prologue ||

Desclaimer : Member BTS adalah milik Tuhan YME, Orang Tua mereka, dan juga Big Hit Entertainment. Sedangkan OC dan alur cerita adalah pure milik author. Tolong jangan ada plagiator! Jika kalian menemukan alur cerita yang persis sama dengan punya author, tolong beritahu author ya~

Note : FF ini merupakan FF requestan dari Sekarlaras Dias, teman ARMY. Tolong di baca dan berikan apresiasi kalian ya berupa komentar atau like nya hehe.

Happy Reading!~

-Yoongi POV-

Aku sedang duduk di kantin bersama dengan kawan – kawanku. Seokjin, Taehyung, Namjoon, Jimin, Hoseok, dan juga Jungkook. Kami sudah terbiasa seperti ini, duduk di tempat favorit kami dengan makanan dan minuman kesukaan kami di atas meja.

“Bagaimana jika kita melakukan taruhan? Sudah lama kita tidak melakukan hal menyenangkan itu!” seru Namjoon.

“Aku tidak mau jika taruhannya adikku” jawabku.

“Hey ayolah. Kapan lagi kita semua bisa bersenang – senang huh?” sahut Taehyung.

“Aku tidak ikut. Aku tidak ingin menjadikan Hara sebagai bahan taruhan kalian” sahut Jungkook.

“Aku juga. Aku tidak mau menjadikan Hana ku sebagai taruhannya” sahut Jimin.

“Kalian berdua benar – benar tidak menyenangkan” sahut Seokjin.

“YA! Ini menyangkut adikmu bodoh! Kau ingin adikmu dijadikan bahan taruhan huh?” kata Jimin sambil menatap Jimin kesal.

“Ah aku lupa jika kau sedang dekat dengan adikku” jawab Seokjin.

“Jadi jika aku kalah, aku harus membuat Ji Eun berpacaran denganmu huh?” tanyaku pada Namjoon.

“Tepat sekali!” jawab Namjoon sambil menunjukku dengan jarinya yang panjang itu.

“Apa taruhannya?” tanyaku.

“Kau hanya perlu menghampiri Lee Eun Bi, lalu memintanya untuk menunggumu di lapangan basket. Jika dia menunggumu sampai pukul 5 sore nanti, kau menang, jika tidak, kau akan kalah” jelas Namjoon dengan smirk di wajahnya.

“Call. Aku setuju” jawabku.

Aku berjalan menuju meja yang berada di pojokan ruangan kantin ini, di sana terdapat seorang yeoja yang bagiku dia sangat nerd. Namanya Lee Eun Bi dia seangkatan denganku namun berbeda kelas.

Kini aku tepat berada di hadapannya. Dia memandangiku dengan wajah bingung. Aku menarik kursi di hadapannya lalu duduk dan memandanginya.

“Ada apa?” tanyanya.

“Apakah nanti kita bisa bertemu? Ada yang ingin ku bicarakan” kataku.

“Mengapa tidak sekarang saja?” tanyanya lagi.

“Aku ingin nanti dan tidak di sini” jawabku.

“Baiklah, dimana?” tanyanya lagi.

“Akan ku tunggu kau di lapangan basket pukul setengah 5 sore nanti. Aku harap kau datang” kataku.

“Okay” jawabnya.

“Kamsahamnida, Eun Bi-ssi” kataku dengan tersenyum lalu pergi dari hadapannya.

Aku kembali ke tempat dudukku bersama kawan – kawanku. Mereka sudah memasang wajah yang sangat penasaran. Lalu aku memberikan tanda dengan satu mata kedipan yang artinya aku berhasil untuk membujuknya datang ke lapangan basket.

“Good job, Yoongi-ya” kata Seokjin.

“Aku yakin dia akan datang dan menungguku hingga pukul 5 sore nanti” kataku dengan percaya diri.

“Aku harap aku yang memenangkan taruhan ini” kata Namjoon.

“Tentu saja aku yang akan menang” kataku.

“Aku tidak akan membiarkan adikku berpacaran dengan orang sepertimu” lanjutku.

“Memangnya aku kenapa? Aku pintar, aku tampan, apa yang kurang?” Tanya Namjoon.

“Kau brengsek” jawabku.

“Sialan kau!” Namjoon langsung memukul bahuku.

“Sakit bodoh” ringisku.

“Balasan untuk orang tidak tahu diri sepertimu” kata Namjoon.

“Kalian selalu saja bertengkar. Kajja sudah bel masuk, kita harus ke kelas” ajak Seokjin.

Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Aku dan kawan – kawanku bersembunyi, ah tidak bukan bersembunyi tetapi kami duduk di taman yang langsung menghadap ke lapangan basket sekolah kami. Ya, untuk memastikan apakah yeoja nerd itu berada di situ atau tidak.

“Lihat, dia datang!” seru Jungkook.

“Diam bodoh!” seruku.

Kami melihat Eun Bi duduk di pinggiran lapangan basket lalu membuka buku. Untuk apa dia membaca di pinggiran lapangan basket? Mengapa dia tidak pernah melepaskan buku sedikitpun? Cih pantas saja kacamatanya semakin lama semakin tebal.

Sudah hampir 30 menit dia masih tetap menunggu di pinggiran lapangan basket. Sedikit lagi pukul 5 sore dan aku berharap bahwa kali ini aku akan memenangkan taruhan ini. Aku melihat jam tanganku, sekarang sudah pukul 4.57 KST.

“Sepertinya aku menang lagi kali ini” sahutku dengan smirk andalanku.

“Cih baiklah kau menang kali ini” kata Namjoon.

“Sebaiknya kau menghampiri dia dan mengatakan sesuatu hal” perintah Hoseok.

“Baiklah – baiklah” jawabku.

Aku berjalan menuju lapangan basket dan menghampiri Eun Bi. Dia sama sekali tidak menyadari kehadiranku di hadapannya. Apa yang membuatnya tidak menyadari keberadaanku?

“Hey, maaf membuatmu menunggu. Aku ada urusan sebentar sebelum ke sini” kataku dengan senyum terpaksa.

“Gwenchana. Kau ingin membicarakan apa?” Tanya Eun Bi.

“Ah tidak begitu penting. Hmm apakah kau memiliki teman yang pintar?” tanyaku.

“Untuk apa?” tanyanya lagi.

“Mengajariku. Aku membutuhkan seorang tutor” jawabku.

“Aku bisa mengenalimu pada teman sekelasku. Aku tahu kau pasti mengenal Hana dan Hara bukan?” jelasnya.

“Tentu saja aku mengenal mereka” jawabku.

“Dia adalah salah satu dari 4 sekawan, dia adalah teman Hana dan Hara. Kau bisa Tanya pada mereka” jelasnya.

“Baiklah” kataku.

“Apa sudah selesai?” Tanya Eun Bi.

“Eoh. Kamsahamnida Eun Bi-ssi” jawabku.

 

-Sera POV-

Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak 45 menit yang lalu. Aku tidak langsung pulang karena aku harus membantu Lee seongsanim dalam merekap data teman – temanku. Untung saja hari ini aku mengambil shift pukul 6 sore. Tunggu… 6 sore? Dan sekarang sudah pukul 5.15 KST?! Oh tidak aku terlambat!

Aku langsung berlari menuju lokerku dan tidak memperhatikan jalanan di depanku.

BRUK…

Aku menabrak seseorang di hadapanku. Aku langsung berdiri dan meminta maaf padanya. Aku hendak berlari lagi namun tanganku di tahan oleh orang itu.

“Apa kau tidak punya mata huh?” tanyanya dengan kesal.

“A… aku minta maaf” jawabku gugup.

“Cih dasar” dia melepaskan tanganku.

‘OMO! Apa itu benar Taehyung sunbae? Apa aku tidak salah lihat? Dan apa benar dia memegang tanganku?’ batinku.

Aku kembali berlari menuju lokerku dengan senyuman yang terus mengembang di bibirku. Bagaimana tidak? Aku menabrak seseorang yang aku kagumi dan dia memegang tanganku! Ah aku menjadi lebih semangat untuk bekerja!

Setelah berganti pakaian menjadi pakaian part time ku, aku berjalan menuju halte bus depan sekolahku. Aku harus pergi ke tempatku bekerja. Saat ini aku bekerja di sebuah mini market sebagai kasir di sana. Hanya itu lowongan yang tersedia di sana dan hanya mini market itu yang mau menerima pekerja part time sepertiku.

15 menit perjalanan kini aku sudah sampai di tempat kerjaku. Aku langsung absen kepada atasanku. Beruntunglah aku tidak terlambat hari ini. Aku senang. Aku langsung berdiri di belakang meja kasir dan menyapa pembeli dengan ramah.

“Aku pesan ramen 7. Tolong di antarkan ke meja di luar sana” kata salah satu pelanggan.

“Ne” jawabku.

Aku langsung mengambil box ramen lalu menyeduh ramen itu. Setelah selesai aku langsung mengantarnya ke pelanggan tadi. Ah dia sedang bersama teman – temannya.

“Sera-ya?” sapa salah satu dari pelangganku.

“Ah uh? Seokjin oppa?” tanyaku heran.

“Kau bekerja di sini?” Tanya Seokjin oppa.

“Ne oppa. Kau tidak mengajak Hana bersamamu eoh?” tanyaku.

“Ani. Dia pasti lebih memilih tinggal di ruangan organisasi itu” jawab Seokjin oppa.

“Ah begitu. Baiklah, aku kembali bekerja dulu oppa. Annyeong” kataku sambil membungkukkan badanku.

‘Oh tidak. Di sana ada Taehyung sunbae. Omo… apa aku tadi terlihat sangat gugup?’ batinku.

Aku kembali bekerja sambil sesekali mencuri pandangan keluar sana dan melihat Taehyung sunbae yang sedang tertawa di luar sana.

‘Dia terlihat sangat bahagia’ batinku.

Sekarang sudah saatnya aku selesai bekerja part time di sini. Aku menuju lokerku dan mengganti pakaianku. Sangat lelah. Entah mengapa pelanggan hari ini banyak sekali. Ingin rasanya aku cepat sampai di rumah dan merebahkan tubuhku di kasur lalu tertidur dengan nyenyak di kasur.

“Sera-ya!” panggil seseorang.

“Uh Seokjin oppa?” tanyaku heran.

“Kau masih di sini eoh? Bukankah kau harus kembali ke dorm?” tanyaku.

“Aku baru saja akan pulang ke dorm bersama Yoongi, Taehyung, Jimin, dan Jungkook” jawab Seokjin oppa.

“Kau ingin pulang?” tanyanya.

“Ne oppa. Aku pulang dulu ne!” kataku sambil tersenyum lalu membungkukkan badanku.

“Hati – hati!” teriak Seokjin oppa.

Aku berjalan menuju kawasan perumahanku. Memang benar aku tinggal mengontrak di sini karena rumahku sudah ku jual untuk kepentingan sekolahku. Aku merasakan seseorang mengikutiku dari belakang. Aku menoleh ke belakang namun tidak ada siapapun. Aku takut. Aku mempercepat langkahku.

“Annyeong” sapa seseorang yang kini tiba – tiba muncul di hadapanku.

“OMO!” teriakku terkejut.

“Tenanglah. Aku ini manusia” sahutnya.

“Nuguseyo?” tanyaku takut.

“Aku Jung Hoseok. Temannya Seokjin” dia memperkenalkan dirinya.

“Ah sunbaenim” kataku.

“Rumahmu di sini?” tanyanya dan aku hanya menganggukkan kepalaku sebagai tanda mengiyakan.

“Aku juga. Aku kira kau tinggal di dorm bersama Hana dan Hara” sahutnya.

“Ani, sunbaenim” jawabku.

“Baiklah aku akan mengantarkanmu pulang ke rumah” kata Hoseok sunbae.

“Kamsahamnida sunbaenim, tapi aku bisa pulang sendiri ke rumah” kataku.

“Its okay, aku bukan tipe pria yang membiarkan seorang yeoja berjalan sendirian di malam hari. Terlebih lagi yeoja itu sangat cantik” jelas Hoseok sunbae.

‘Cantik? Apa aku tidak salah dengar?’ batinku.

“Ne?” ulangku.

“Dimana rumahmu? Apa kita sudah hampir sampai?” dia mengalihkan pembicaraan.

“Di depan sana sunbaenim. Sungguh sunbaenim aku bisa pulang sendiri. Sunbae lebih baik pulang” kataku.

“Aku hanya ingin mengantarkanmu saja” sahutnya.

“Aku tidak ingin merepotkanmu sunbaenim” kataku sambil terus berjalan.

“Aku merasa tidak direpotkan olehmu” tegasnya.

“Baiklah. Ini rumahku sunbaenim. Kamsahamnida sudah mengantarkanku sampai rumah dengan selamat” kataku.

“Baiklah. Aku pulang dulu. Annyeong! Jangan lupa kunci pintu dan jendelamu ne!” teriaknya.

 

-Taehyung POV-

Aku sudah sampai di dorm. Aku masuk ke kamarku dan Jin hyung. Badanku terasa sangat lengket sekali. Aku mengambil handuk lalu mandi sekedar menyegarkan tubuhku.

“Jangan mandi malam – malam” sahut Jin hyung begitu aku keluar dari kamar mandi.

“Badanku lengket” jawabku singkat.

“Nanti kau bisa sakit. Jika kau sakit, aku yang akan repot” kata Jin hyung.

“Aku bisa ke rumah sakit” jawabku malas.

“Hahaha bodoh” kata Jin hyung.

“Apa kau bilang?” tanyaku.

“Kau bodoh. Sudah jelas aku sedang mengkhawatirkanmu” jawabnya.

“Ne ne ne. Gomawo hyung” kataku.

Aku merebahkan tubuhku di kasur. Aku melipat tanganku di belakang kepalaku. Mataku menatap langit – langit kamarku dan Jin hyung. Aku melihat Jin hyung sudah terlelap dan aku masih tampak segar. Akhirnya aku memaksakan diriku untuk mengantuk dan akhirnya aku tertidur.

Aku sudah siap dengan seragamku dan Jin hyung sedang menyisir rambutnya. Aku menatap pantulan diriku di kaca depanku saat ini. ‘Tetap tampan’ pikirku. Aku tersenyum lalu mengambil tasku dan berjalan keluar kamarku.

Aku berjalan di koridor sambil menebarkan senyumanku pada siswi di sekolah ini. Tidak dapat dipungkiri, aku adalah salah satu siswa tertampan di sekolah ini. Semua siswa di sini melakukan berbagai cara untuk mendekatiku, tetapi aku menghiraukan mereka. Aku senang mempermainkan mereka. Memberikan harapan palsu lebih tepatnya.

“Atap?” kata seseorang yang merangkulku.

“Kajja” aku langsung mengiyakan ajakannya.

Aku berjalan menuju atap dengan Jungkook. Dia adalah hoobaeku di sekolah ini, namun ya seperti yang kalian tahu, kami berdua sangat dekat satu sama lain. Aku membuka pintu menuju atap lalu melemparkan tasku sembarangan dan duduk di tempat duduk yang ada di sana.

“Kau ingin membolos pelajaran?” tanyaku.

“Ne hyung. Aku sangat mengantuk. Aku ingin tidur” jawabnya.

“Kau sangat pemalas” kataku.

“Hyung juga kenapa mengiyakan ajakanku huh?” Tanya Jungkook.

“Aku hanya kasihan padamu. Kau tidak ada yang menemani. Aku berani jamin setelah ini kau akan dimarahi oleh Hara” sahutku lalu membaringkan tubuhku.

“Hara tidak akan berani memarahiku” kata Jungkook.

“Wae?” tanyaku penasaran.

“Dia tidak berani memarahiku karena bolos. Dia tahu aku sangat tidak suka pelajaran sekarang ini” jelas Jungkook.

“Ah kau kenal dengan yeoja yang kemarin bertemu dengan kita di mini market semalam?” tanyaku.

“Ah Sera?” Tanya Jungkook.

“Aku tidak tahu namanya, bodoh” jawabku.

“Namanya Sera, Park Sera” jelas Jungkook.

“Waeyo? Kau menyukainya hyung?” lanjut Jungkook sambil menyenggol lenganku.

“Ani. Dia terlihat seperti orang yang ceroboh. Tempo hari dia menabrakku” kataku.

Aku kembali memandangi langit yang indah ini. Matahari sudah mulai meninggi dan tempatku sekarang sudah tidak begitu teduh. Aku bangun dari posisiku. Lalu mengambil tasku.

“Hyung! Kau mau kemana?” teriak Jungkook.

“Kelas” jawabku singkat.

“Tunggu aku hyung!” teriak Jungkook lagi.

Aku berjalan menuruni tangga dengan terburu – buru karena bel pelajaran selanjutnya sudah berbunyi. Aku berlari menuju kelasku. Jungkook sudah berpisah denganku. Aku terus berlari hingga aku tidak sadar aku menabrak seorang yeoja.

“YA! Kau bisa lihat tidak huh?!” teriakku memakinya.

“Kau yang salah bodoh!” balasnya.

“Yaish dasar yeoja! Minggir! Aku sudah terlambat!” kataku tanpa membantunya berdiri.

“YA! Namja brengsek!” teriak yeoja itu.

‘Uh tunggu… aku seperti mengenal yeoja itu…’ batinku.

 

TO BE CONTINUE…

Hai hai bagaimana chapter 1 nya~ belum greget ya? Hahaha emang. Belum ada konflik di sini jadi ya maaf maaf saja kalau belum greget dan ngefeel.

Ah ya jangan lupa tinggalin jejak kalian ya, bisa berupa komentar atau likenya hoho~

Kamsahamnida reader-nim! :*

16 responses to “The Destiny – Chapter 1

  1. Suka bgt sama karakter Taehyungnya wkwk narsis gitu deh dianya, feelnya udah mulai dapet nih, gasabar baca chapter selanjutnya huehehehe

  2. Bagus unnie..🙂
    The beginning is really good one, menurutku jalan ceritanya jelas dan bagus, cuma terlalu sering ganti POV menurutku, jadi aku kadang masih bingung ini POV nya siapa, masih belom nemu POV nya siapa udah ganti lagi. Jadi sedikit bingung. Over all, bagus kok unnie~♥ Ditunggu berikutnya yaa unnie♥

  3. We he he he ntah KNP q paling suka klo lead cast NY t punya sifat yg evil kkkkkkkkkkkk
    Tp t yg triak sp?!? Eun bi kah??oh y ngomong2 eunbi entah KNP,q bayangin eunbi yg d skolah m di luar skolah t beda,kl menurut bayanganku eunbi d skolah yg tampilanny nerd t cuman kedok belaka,tp yg diluar skolah t eunbi yg g nerd tp super duper cantik^^

  4. terus yang foto sera waktu di prolog kemaren siapa yaa? heheheh udh mulai mengikuti alur kenapa tbc kak, kurang panjang kak ayok panjangin lagi di chapter selanjutnya hehehe. semangat terus kaaaaak

  5. Pingback: The Destiny – Chapter 2 – FFindo·

  6. Pingback: The Destiny – Chapter 3 – FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s