[FICLET] PAMIT

oamitPAMIT
susanokw

“Izinkan aku pergi dulu, yang berubah hanya tak lagi ku milikmu.”

 

Rasanya sudah sia-sia. Setiap langkah yang aku lakukan nyatanya tidak bisa memperbaiki hubungan ini. Sebanyak apapun aku memintamu untuk peduli tentang kita, kau tak lagi mau. Sebaik apapun aku bertahan, berusaha setia menunggu waktu memperbaiki luka kau dan aku rasanya sudah tak bisa lagi.

Kau bilang akan menemuiku ketika fajar, tetapi nyatanya kau mendamba malam untuk tidak cepat berlalu. Aku tidak tahu, mungkin saja kau juga berharap badai datang memporak-porandakan tempat itu. Agar semakin lama kegelapan berlangsung, sehingga banyak alasan yang bisa kau buat untuk tidak melihatku. Alasan untuk kita tidak bertemu.

Sungguh. Aku baik-baik saja. Terluka seperti ini aku sudah biasa. Lelaki yang pernah bersamaku bukan hanya kau, dan kurasa hubungan ini akan berakhir sama dengan mereka yang terdahulu. Namun bukankah sebaiknya kita bertemu untuk terakhir kalinya, sebelum mengucap kata berpisah?

Aku bersyukur, kau mau menepati janji kali itu. Bertemu untuk berpamitan.

“Jadi kau mau kita berpisah sampai disini?” Kau bertanya, di senja terakhir.

Aku memandang lurus ke depan, merasakan desir angin sore yang menenangkan. Belum pernah aku setenang ini ketika akan berpamitan.

“Aku tidak berkata bahwa kita berpisah. Aku… hanya ingin berpamitan.”

Kau mendengus sebal. “Itu sama saja.”

“Tidak..,” aku menggeleng pelan. “Kita tidak berhenti sampai disini. Yang berubah hanya tak lagi ku milikmu.”

Kau terdiam. Aku bertanya-tanya, mengapa kau terdiam? Terkejut? Sedih? Apa?

Aku mendengarmu menghela napas panjang. “Kenapa…. harus seperti ini?”

“Kau tahu..,” aku tersenyum sekilas. Sakit memang, tapi bertahanpun hanya akan membuat aku mati perlahan. “..rasanya seperti kita sudah tidak lagi menunggu hal yang sama. Rasanya ada luka gores yang semakin lama semakin besar, dan waktu tidak bisa menyembuhkan itu.”

“Mengapa kau berpikiran demikian?”

Aku mengangkat kedua bahu pelan. “Kita tidak lagi menunggu hal yang sama. Yang aku lihat di depan sana adalah jalan yang sekarang kita tapaki terbelah dua, dan aku yakin kau tidak akan mengambil jalan yang sama denganku. Jadi buat apa? Mempertahankan hubungan ini pun hanya akan membuat luka gores tersebut semakin mengaga, menyakitkan, dan sulit disembuhkan.”

“Begitu?”

Aku mengangguk pelan. “Anggap saja ini langkahku untuk mencegahmu terluka lebih dalam.”

Aku mendengarmu menghela napas panjang.

Ini yang aku rasakan selama ini, sekarang bisa kau rasakan ‘kan? Bagaimana rasanya?

Kau dan aku terdiam lama. Matahari semakin turun, malam segera naik menghitamkan langit.

“Maaf.” Ucapmu.

Sekarang? Buat apa?

“Maaf karena telah mengabaikanmu selama ini. Sikapku yang tidak peduli mungkin yang membuatmu mengambil keputusan sebesar ini. Aku tidak tahu bahwa luka itu terus membesar, ku kira dengan mengambil jarak sementara semuanya akan kembali seperti sedia kala. Tapi ternyata…, aku salah.”

Jelas kau salah. Maksudku, ya.., untuk apa baru menyadarinya sekarang? Toh, aku sudah akan berpamitan. Keputusan bulat, tidak bisa diganggu gugat.

Aku terdiam mendengarkan.

“Mendengar keputusanmu sekarang, jujur saja itu sedikit menyakitkan bagiku. Kita telah berbagi banyak hal dalam tiga tahun ke belakang dan itu bukan waktu yang sebentar. Ada banyak hal yang telah terekam begitu jelas di dalam kepalaku dan itu tidak bisa hilang dengan cepat.”

Lalu bagaimana dengan kepalaku?

“Aku…,” kau tergugu.

Kau…?

“…berharap kau bisa meniti langkahmu dengan baik setelah hari ini.”

Mendengar itu aku tersenyum. Senang karena ternyata kau masih peduli dengan langkahku setelah ini.

“Aku akan meniti langkah dengan baik, kau tidak perlu khawatir. Kita masih berdiri di bawah langit yang sama, tentu saja kau masih bisa melihatku. Percayalah, aku tetap teman baikmu. Jangan anggap hari ini sebagai perpisahan terakhir. Ini hanya hari dimana aku memintamu untuk tidak memaksakan genggamanmu.”

Tolong jangan terlalu melankolis, aku sedang berusaha untuk membuat semua ini berjalan cepat dan tidak menyakitkan.

Kau mengangguk pelan, menoleh ke arahku dan tersenyum tipis. Tidak ada genangan air mata, tidak ada isakan pelan, tidak ada penyesalan. Baguslah.

“Selamat jalan kalau begitu..” Kau mengulurkan tangan berniat menjabat. Jabat tangan terakhir, uh?

Terakhir sebagai satu. Setelah ini kalau kita berjabat tangan kembali sudah menjadi dua. Bukan lagi kita, tapi kau dan aku.

Aku menyambut jabat tangan itu sehangat mungkin, karena aku tidak mau meninggalkanmu dalam malam dengan keadaan yang mengenaskan. Bukan artinya aku tinggi rasa bahwa kau akan sangat menderita karena kehilanganku, tetapi percayalah bahwa sesi berpamitan sebaik apapun akan menyisakan sebuah kesan yang berbeda pada salah satu pihak.

“Selamat menikmati malam.”

Sekarang kau bebas meminta malam untuk tinggal. Dan aku bebas menjemput fajar yang terang. Kita sudah tidak saling menggenggam, sudah tidak saling menyakiti. Aku bersyukur atas itu.

Selamat tinggal. Izinkan aku pamit sekarang. Aku akan membiarkanmu menikmati malammu sendirian. Aku tidak akan datang di malammu lagi, dan aku harap kau juga tidak kembali di saat fajarku esok.

Kita sudah resmi menapaki jalan sendiri-sendiri. Aku berharap kau menemukan sesuatu yang bagus di depan. Mungkin sebungkus obat penyembuh luka, atau seseorang yang sama-sama berharap malam tidak cepat berlalu.

Doakan perjalananku lancar. Dan ku doakan malammu menenangkan.

Aku pamit.

.

.

.

FIN.

4 responses to “[FICLET] PAMIT

  1. Dan kenapa kakak buatku penasaran siapa cast dibalik semua ini??? 😂 Soalnya aku kayak kurang greget aja kalo castnya gaada, yha minimal satu aja deh, pheulis kak… /ngemis/

    Salam kenal ^^

    • Hehe, sengaja tidak di beri cast karena belum tahu cast yang sedang booming sekarang siapa. Btw, terima kasih sudah memberikan komentar ya. Salam kenal🙂

      • Kalo aku boleh saranin… Ada beberapa pairing yang aku suka dan mungkin lagi ngehitz (?) sekarang :

        » Tzuyu TWICE – Taeyong NCT / Mingyu Seventeen / Chanwoo iKON
        » Chaeyeon IOI – Jaehyun NCT

        Bikos aku terlalu kepincut sama mereka ihik >.<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s