[I Love You pt.4] Secret

I Love You - Secret

I Love You pt.4 — Secret

Up until now, you’re the one that I like.

by Shinyoung

Main Cast: Cha Hakyeon & Park Sojin || Genre: Family & Romance || Length: Ficlet || Rating: T (PG-15) || Disclaimer: Casts belong to God. No copy-paste. Copyright © 2016 by Shinyoung.

Pt.1 Idol | Pt.2 Classmate | Pt.3 Together

*

Helaan napas berat terdengar.

Wanita muda yang duduk di sampingnya langsung menoleh padanya dan menatapnya dengan kening berkerut. Namun, gadis itu hanya menggeleng pelan, lalu kembali memainkan ponselnya.

“Ah, itu dia.”

“Aku baru tau dia satu sekolah dengan Sojin.”

Gadis yang tengah asik memainkan ponselnya itu langsung menghentikan aktivitasnya. Dia meletakkan ponselnya di atas meja, kemudian menolehkan kepalanya ke belakang, ke arah pintu masuk restoran dimana seorang lelaki yang berseragam sama dengannya tengah melangkah memasuki restoran.

Langkahnya terburu-buru, peluh yang memenuhi keningnya pun menandakan bahwa laki-laki itu baru saja berolahraga—atau memang ia berlari ke sini. Dia menghampiri meja yang terletak di samping jendela restoran.

“Maaf, aku terlambat, Abeoji,” ujar laki-laki itu pada seorang pria paruh baya yang duduk di seberang gadis tersebut. Ia menoleh para wanita yang duduk di samping gadis itu dan tersenyum tipis. “Maaf, aku terlambat. Namaku Cha Hakyeon.”

Pria yang notabene ayah dari lelaki itu menepuk punggung anaknya. “Sudah, sudah. Jangan berdiri lagi. Ayo, duduk.”

Gadis itu hanya memperhatikan Hakyeon tanpa berkedip. Ia bahkan tidak tahu caranya bernapas. Dia menoleh pada ibunya, kemudian menoleh lagi pada lelaki yang merupakan ayah dari Hakyeon.

“Ada apa, Park Sojin?” tanya ibu gadis itu.

Gadis itu berkedip, kemudian menyadari bahwa semua yang duduk di meja itu memperhatikannya seksama. Terutama, Hakyeon yang baru saja duduk, lalu memperhatikan gadis itu.

“Ah, Sojin sunbae. Kenapa kau ada di sini?” tanya Hakyeon.

“A-aku. . .”

“Ah, dia anakku, Hakyeon-ah.”

 

*

 

“Jangan bilang kau ditolak oleh Hakyeon?”

Sojin menggeleng pelan. “Lebih parah daripada itu.”

Yura membulatkan matanya, ia menggebrak meja, lalu mendekatkan wajahnya pada Sojin dengan mata yang masih membulat. “Kau benar-benar menyatakan perasaan padanya, Park Sojin?”

“Tidak, aku tidak menyatakan perasaan padanya,” jawab Sojin enteng.

“Lalu, bagaimana bisa dia melakukan hal yang parah padamu?!” tanya Yura kesal. “Apa dia menidurimu? Atau yang lain?”

Sojin langsung terkejut, kemudian ia mendorong kening gadis itu. Yura pun meringis pelan, lalu menggosok-gosok keningnya, tempat dimana Sojin meletakkan telunjuknya untuk mendorong kening gadis itu.

“Tidak. Tidak mungkin dia mengajakku tidur. Kau tahu, bukan, bahwa ibuku akan menikah lagi?” tanya Sojin dan Yura pun mengangguk cepat. “Nah, kemarin aku bertemu dengan calonnya.”

“Calonnya? Apa dia tampan?!”

“Anaknya lebih tampan.”

“Anaknya?” Yura mengerutkan keningnya bingung. “Dia sudah punya anak juga?”

“Ya, dan dia adalah Cha Hakyeon.”

 

*

 

“Dengar, aku selama ini tidak pernah berharap kau menjadi saudaraku,” ujar Sojin mengawali pembicaraan. “Tapi, karena kita sudah menjadi keluarga, aku harus menyambut dengan baik kau di sini. Tanpa ada perasaan menyesal.”

“Kalau begitu, bolehkah aku memanggilmu ‘Noona’?” tanya Hakyeon.

Sojin berpikir sebentar, kemudian ia menganggukkan kepalanya. “Terserah kau saja. Aku tidak peduli.”

Saat Sojin ingin melangkah meninggalkan Hakyeon, Hakyeon menahan tangannya, membuat Sojin langsung memekik. Gadis itu melepaskan tangannya dari Hakyeon dan menyadari bahwa wajahnya merona merah.

Cepat-cepat Sojin memalingkan wajahnya dari Hakyeon. “Kenapa lagi?!”

Hakyeon terkekeh pelan. “Aku minta maaf membuatmu terkejut. Besok aku akan pergi ke karaoke dengan teman-temanku sepulang sekolah. Apa kau tidak apa-apa sendirian di rumah? Atau kau mau ikut denganku?”

Sojin membulatkan matanya. “Kau gila, ya? Apa kau pikir aku seumuran denganmu? Lagipula, aku sudah kelas 3 dan sebentar lagi ujian. Aku tidak apa-apa sendirian! Jangan ganggu aku lagi!”

Setelah itu, Sojin segera pergi meninggalkan Hakyeon. Sementara Hakyeon hanya terdiam di tempatnya, kemudian menarik ujung bibirnya perlahan.

 

*

 

Bel berdering kencang ke seluruh penjuru sekolah. Sojin segera memasukkan seluruh barang-barang yang ada di mejanya ke dalam  tas, lalu berlari meninggalkan kelas dengan tasnya. Sambil berlari di sepanjang koridor, ia melirik awan mendung yang telah berkumpul di atas gedung sekolah.

“Sojin noona!”

Panggilan itu menghentikan langkahnya. Gadis itu membalikkan badannya dan menemukan sosok Hakyeon yang berada tak jauh darinya, ia berlari mendekati Sojin. Entah mengapa semenjak Hakyeon menjadi saudara tirinya, rasanya ia ingin selalu memarahi laki-laki itu, meskipun dia tidak punya salah apa pun.

Mungkin dia marah karena ayahnya Hakyeon—lebih tepatnya sekarang menjadi ayah tirinya—mencintai ibunya. Jika saja mereka tidak pernah bertemu, mungkin Sojin bisa mendekati Hakyeon tanpa perasaan salah sedikit pun.

“Ada apa lagi?!” tanya Sojin kesal. “Bukankah aku sudah bilang jangan memanggilku jika kita berada di sekolah? Apa kau tidak malu punya saudara sepertiku?”

Hakyeon mengerutkan keningnya. “Untuk apa aku malu? Ngomong-ngomong, apa kau benar-benar akan pulang sekarang? Langitnya mendung. Sebaiknya, kau pergi ke kafe dahulu, nanti aku akan menjemputmu dalam waktu satu jam.”

Sojin menghela napas berat. “Kau menyuruhku untuk menungguku?”

Hakyeon pun terdiam.

“Tidak! Aku tidak mau menunggumu. Lebih baik aku pulang.”

 

*

 

Setibanya di rumah, hujan deras pun langsung mengguyur Kota Seoul. Petir dan kilat menyambar di langit, memuat Sojin ketakutan. Sejak kecil, Sojin selalu takut dengan hujan deras, terutama sambaran petir.

Dia pernah menghilang di taman bermain ketika hujan deras dan juga petir besar. Untungnya, ibunya berhasil menemukan dirinya. Sejak kejadian itu, dia selalu takut dengan hujan deras dan juga petir besar. Rasanya, dia ingin menyembunyikan dirinya di balik selimut .

Ia mencapai kamarnya dan segera menghidupkan lampunya. Namun, petir menyambar di langit tanpa henti. Jantungnya berdegup dengna cepat, ia pun melarikan dirinya ke atas tempat tidur dan segera menyembunyikan tubuhnya di balik selimut.

Hujan yang terus mengguyur tanpa henti itu membuatnya ketakutan, dia selalu teringat dengan kejadian yang membuatnya trauma.

Eomma. . .

Noona? Apa kau di dalam?”

Sojin membulatkan matanya begitu mendengar suara Hakyeon. Cepat-cepat, dia menyibakkan selimutnya dan menemukan Hakyeon yang sudah berada di dalam kamarnya dengan rambutnya yang basah dan seragam yang masih menempel di badannya. Laki-laki itu tersenyum lalu menghampiri Sojin.

Hakyeon pun ikut duduk di atas tempat tidur. “Ah. . . Rasanya lega. Lihat? Kau justru ketakutan dan sembunyi di balik selimut.”

Sojin menolehkan kepalanya. “Bagaimana bisa kau tahu aku takut?”

“Bagaimana, ya?” Hakyeon memiringkan kepalanya, lalu menepuk kepala Sojin dengan lembut. Ia tersenyum pada Sojin. “Bukankah aku sudah bilang bahwa aku selalu mencari tahu tentang dirimu, ya?”

“Kau?”

Hakyeon menganggukkan kepalanya. “Kalau saja tadi kau setuju untuk ikut denganku, maka keadaannya tidak akan seperti ini. Aku yakin, sekarang kita bisa bersenang-senang di mall. Bukan di balik selimut.”

“Bukankah kau pergi dengan temanmu?” tanya Sojin bingung.

“Aku bohong. Aku hanya ingin mengajakmu jalan-jalan. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya jalan berdua dengan orang yang selama ini aku sukai ternyata menjadi saudaraku,” ujar Hakyeon.

Perkataan Hakyeon tentu saja membuat Sojin terkejut bukan main. “T-tunggu. . . Apa?”

Hakyeon mengangguk lagi. “Ya, aku menyukaimu, Noona.

Setelah itu, Hakyeon menarik Sojin ke dalam pelukannya dan mencium bibirnya dengan lembut. Meskipun ciuman itu tidak sedalam ciuman sepasang kekasih, namun ada rasa cinta antara adik dan kakak.

 

*

fin.

4 responses to “[I Love You pt.4] Secret

  1. Pingback: [I Love You pt.4] Secret – Junnie! ART·

  2. Pingback: [I Love You pt.5] Heaven – FFindo·

  3. Pingback: [I Love You pt.5] Heaven – Junnie! ART·

  4. Pingback: [I Love You pt.6] Lovers – FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s