Growing Pain [Part V]

growingpain

[Part 1] [Part II] [Part III] [Part IV]

Author : AiDi

Genre : Angst, Romance, Friendship

Rating : PG 17

Length : Chaptered

Main Cast : Choi Siwon, Lee Donghae, Lee Hyukjae, Shim Chae Rin (OC), etc..

Summary : FF ini menceritakan sebuah persahabatan yang terjadi hampir 10 tahun, namun di pada akhirnya persahabatan yang cukup lama tersebut harus berakhir hanya dengan sebuah kebohongan kecil yang membawa dampak begitu besar bagi kehidupan Siwon, Donghae dan Hyukjae. Akankah Chae Rin bersatu dengan Siwon ? Atau…Siwon kehilangan Chae Rin dan juga sahabat sahabat nya?..


Tepat pukul tujuh malam Donghae telah meyiapkan makan malam untuk Chae Rin. Kali ini Ia sendiri yang akan mengantarkan makanan nya.

Ketika Donghae mulai memasuki kamar Chae Rin, gadis itu masih terlelap dalam tidurnya. Donghae meletakkan semangkuk bubur yang ia bawa tepat di meja kecil yang berada di samping ranjang tersebut. Karna tak ingin terlalu membuat kekasih nya terkejut, Donghae sengaja membangunkan Chae Rin dengan mengecup kening Chae Rin.

“Oppa..” Chae Rin pun mulai membuka mata nya, Ia belum benar benar tersadar dari tidurnya.

“bangun lah, aku sudah membawakan bubur untuk makan malam mu” Donghae mencoba membantu Chae Rin untuk bangun dan bersandar pada sisi ranjang nya.

“Kau membuatnya sendiri ?”

“Tidak, bibi han yang menyiapkan nya. Bahkan sebelum aku meminta nya” jawab Donghae seraya mengambil semangkuk bubur yang masih panas tersebut.

“Biar aku memakan nya sendiri..tapi, mana makan malam mu ?” Chae Rin baru sadar ketika Ia melihat Donghae hanya membawa semangkuk bubur saja. Sedangkan makan malam untuk Donghae dimana gumamnya.

Tepat ketika Donghae ingin membuka suara, tiba tiba dering ponsel Chae Rin membuat perhatian mereka sedikit teralihkan.

Rupanya panggilan itu berasal dari Siwon.

Donghae bisa melihat dengan jelas ada senyum dan sedikit kerinduan yang terpancar dari ke dua mata kekasih nya.

“Oppa..apa boleh aku mengangkat telfon nya dulu ?”

Donghae hanya menjawab dengan sebuah anggukan dan sedikit senyuman tipis untuk kekasihnya. Ia tidak ingin merusak kebahagiaan Chae Rin saat ini. Dalam benak nya Donghae masih berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini suatu kewajaran jika seorang adik merindukan kakak nya, terlebih mereka baru saja berkumpul menjadi sebuah keluarga. Sebuah kewajaran jika seorang adik dan kakak takut untuk kehilangan satu sama lain.

“Oppa !” Chae Rin menyapa Siwon dengan rasa penuh antusias dan keceriaan. Di dalam hati nya Ia senang karna ternyata Siwon menepati janji nya. Lagipula, Ia sudah teramat merindukan Siwon menurut nya.

“Chae Rin-ah..” tanpa Chae Rin lihat secara langsung, Ia bisa menebak dari nada suara Siwon bahwa tampak nya lelaki itu sedang tidak dalam mood yang baik.

“Aku senang oppa tidak melupakan janji oppa”, Chae Rin berusaha untuk sedikit mencairkan ketegangan yang kini ada dihadapan nya. Donghae…dan Siwon.

“Apa kau bersama Donghae saat ini ? Jika iya, aku ingin berbicara dengan nya. Bisa ?”

“K..ka..kau tau darimana ?” Chae Rin sedikit cemas kali ini, lalu Ia menatap Donghae sejenak. Ia tidak mengerti mengapa Siwon ingin berbicara dengan Donghae, padahal akhir-akhir ini Siwon lebih suka memilih untuk  membatasi komunikasi nya dengan Donghae. Tanpa menunggu jawaban dari Siwon, Chae Rin pun segera melanjutkan kembali kalimat nya yang sempat terputus karna rasa terkejut nya tadi.

“Aku memang bersama Hae oppa, tapi oppa mengganggu acara dinner ku bersama nya”.

“Dinner ?” Donghae spontan bertanya pada Chae Rin tentang dinner yang Chae Rin ceritakan pada Siwon. Ia tidak merasa bahwa ini dinner yang penting dan romantis. Tetapi Chae Rin tidak menjawab nya, Chae Rin justru mengisyaratkan agar Donghae tidak banyak bicara.

“Oh, jadi kalian berdua sedang dinner. Dimana ?” meski ada sedikit perasaan takut dengan pertanyaan Siwon namun terselip perasaan bahagia dalam hati kecil Chae Rin karna Ia merasa bahwa Siwon sedang cemburu.

“You talk too much, Sir” jawab Chae Rin dengan tawa yang sedikit meledek Siwon.

“Chae Rin-ah, cepatlah jawab pertanyaan ku. Dimana kalian sekarang ?” ternyata Siwon kali ini benar-benar serius. Bukan cemburu seperti nya batin Chae Rin.

“Aku tidak akan mengatakan nya, anggap saja ini hukuman dari ku karna kau mengganggu…” belum selesai Chae Rin berbicara tetapi Siwon segera memotong pembicaraan Chae Rin.

“Lebih baik makan malam dirumah jika sakit”

Seketika Chae Rin pun terdiam. Ia tidak salah mendengar. Tapi..apa alasan nya Siwon berkata seperti itu.

“Oppa…”. Dan tiba tiba sambungan telfon itu pun diputus oleh Siwon.

“Hey…kenapa ?” Donghae berusaha untuk menyadarkan Chae Rin dari rasa terkejutnya.

Tanpa di duga, Chae Rin memeluk Donghae yang sedari tadi Ia abaikan. Ia hanya memeluk Donghae tanpa mengucapkan apapun.

Donghae memeluk Chae Rin dengan berjuta pertanyaan yang ada di dalam isi kepalanya saat ini. Ia tidak tau apa yang Siwon katakan, yang jelas saat ini Chae Rin tampak sedih sekali.

“Makan lah dulu, jika bubur nya sudah dingin rasanya tidak akan terlalu enak”.

Chae Rin hanya mengeleng pelan. Ke dua matanya kini tertuju pada layar ponsel yang masih ada dalam genggaman nya.

“Siwon bicara apa ?” Donghae berusaha bertanya dengan sedikit keragu raguan.

“Seperti nya dia marah…tapi aku tidak tau kenapa dia marah. Dia memutuskan telfon nya begitu saja” Chae Rin betul betul terlihat sedih, Ia tidak bisa berpikir kesalahan apa yang Ia perbuat sehingga Siwon marah seperti ini. Ini pertama kali nya Siwon terlihat marah. Mungkin kecewa lebih tepatnya.

“Oppa..tinggalkan aku sendiri” Chae Rin pun melepas kan dirinya dari pelukan Donghae.

Setelah meminta Donghae untuk meninggalkan nya, Chae Rin pun merebahkan tubuhnya kembali. Ia menarik Selimut untuk menutupi tubuhnya dan memunggunggi Donghae yang masih diam terpaku di samping nya.

Melihat Chae Rin yang seperti ini Donghae tidak bisa berkata apa apa. Ia tidak bisa memaksa Chae Rin untuk tetap makan. Bahkan..Ia tak bisa merayakan anniversary mereka malam ini. Lagi lagi, Donghae dibuat kecewa dengan situasi yang melibatkan dirinya dengan Siwon dan Chae Rin. Namun Ia tidak bisa berbuat apa apa selain hanya Diam. Dan kini ia harus segera keluar dari kamar itu dan menenangkan hati nya yang kecewa.

Esok hari nya semua menu makan pagi telah siap di ruang makan, menu kali ini dibuat bibi Han khusus untuk Chae Rin. Dan Donghae pun sudah terlihat menuju meja makan, Donghae menyapa bibi Han seperti kebiasaan nya.

“Selamat pagi, Tuan” sapa bibi Han ramah. Keramahan, kelembutan dan kasih sayang bibi Han sudah seperti Ibu kandung Donghae yang telah meninggalkan Ia sejak kecil. Sehingga belasan tahun bibi Han lah yang mengasuh dan merawat Donghae dengan sepenuh hati nya.

“Selamat pagi, Bi” Donghae tersenyum lalu duduk dan melirik sebuah kursi di samping nya.

“Nona Chae Rin akan segera kemari. Dia masih bersiap siap”, Bibi Han sudah bisa menebak apa yang ada di pikiran Donghae.

“Dia sudah bangun ?” donghae tampak sedikit kaget, Ia berpikir bahwa Chae Rin masih tertidur mengingat kondisi nya yang sedang tidak sehat sejak kemarin.

“Sudah, sebaiknya nya tunggu lah Nona Chae Rin sejenak. Makan lah sama-sama. Itu jauh lebih baik” saran bibi Han.

“Mm…kalau begitu bibi juga temani kita makan disini. Silahkan duduk”, kali ini Donghae berdiri dan menyiapkan satu kursi di sebelah kiri khusus untuk bibi Han. Dan terus terang ini membuat bibi Han sedikit merasa terharu. Donghae terlalu baik pada bibi Han, sehingga bibi Han terkadang merasa Donghae sudah seperti putra kandung nya sendiri.

“terima kasih” bibi Han tersenyum pada Donghae dengan raut wajah yang begitu bahagia. Tak disangkanya  pagi ini akan makan bersama Donghae dan Chae Rin.

“Bibi..tidak perlu berterima kasih. Harus nya aku yang berterima kasih untuk semua pengorbanan bibi selama ini. Aku yakin aku tidak akan pernah bisa membalas  semua nya, semua yang bibi Han berikan pada ku begitu tak ternilai untuk ku”.

“Sudah..sudah, jangan di teruskan. Pagi ini cuaca nya cukup cerah, jangan sampai langit mendadak berubah menjadi mendung hanya karna Tuan ingin menangis”, bibi Han hafal betul bahwa Donghae sangat peka sekali perasaan nya. Menangis bukan lah hal yang asing lagi bagi Donghae. Dan bibi Han lah sandaran paling tepat setiap kali Donghae merasa tidak berdaya.

“Tuan..” seperti nya ada hal penting yang mengganggu pikiran bibi Han kali ini.

“Tunggu sebentar…bagaimana jika stop memanggil ku Tuan. Aku ingin bibi memanggil nama ku..Cukup nama ku saja” ini salah satu yang ingin Donghae katakan sejak lama.

“Baik lah…tuan”

“Maaf,…Donghae-ah” lalu bibi Han kembali tersenyum pada Donghae. Begitu juga dengan Donghae, tampak nya Ia senang sekali. Ia seperti melihat sosok Ibu nya dalam diri bibi Han.

“Okay, kalau begitu sampaikan apa yang ingin bibi sampaikan padaku. Seperti nya ada sesuatu yang sangat penting. Tapi jangan katakan jika bibi ingin meninggalkan ku. Aku tidak akan mengizinkan”, donghae tertawa setelah menggertak bibi Han dengan candaan nya yang sedikit manja itu.

“Donghae-ah…” bibi Han menatap Donghae dengan begitu serius. Sekaligus ada sedikit kecemasan yang bisa terbaca oleh kedua mata donghae saat menatap wajah bibi Han.

“Seberapa besar kau mencintai nona Chae Rin ?”

“Aku tidak bisa menjelaskan sebesar apa, karna untuk diungkapkan dengan kata kata itu sungguh diluar kemampuan ku. Tetapi aku yakin, aku mencintai Chae Rin. Dengan tulus. Bibi jangan khawatir, aku tidak akan mempermainkan nya”, donghae sedikit berpikir apa yang sebenar nya terjadi hingga bibi Han sampai menanyakan hal seperti ini padanya. Namun Ia tetap berusaha untuk terlihat tenang.

“Kau masih ingat pesan almarhum ayah mu ?”

“Masih, dan aku akan slalu mengingat nya. Salah satu pesan ayah jika aku mencintai seseorang, aku harus menjaga nya. Memperlakukan nya sebaik mungkin, dan tidak menodai cinta itu hanya dengan kepuasan nafsu semata. Betul kan ?” donghae tersenyum pada bibi Han, lalu mulai menyeruput sedikit teh yang ada dihadapan nya.

“Betul. Tetapi mengapa kau melakukan nya pada nona Chae Rin ?”

Donghae sedikit tersedak mendengar pertanyaan Bibi Han. Ia tak ingin menebak sendiri, donghae langsung saja bertanya pada maksud utama bibi Han.

“melakukan apa yang bibi maksud ? Bibi, aku fikir sudah sewajar nya aku membawa Chae Rin ke rumah ini tadi malam. Dia sakit, dan Siwon menitipkan nya pada ku. Tidak terjadi apa apa meski aku membawa nya pulang ke rumah ini” jelas Donghae.

“Jika kau bisa membawa nya ke rumah ini, bukan tidak mungkin kan jika kalian pernah..”

“Bibi…percaya pada ku, aku dan Chae Rin tidak pernah berbuat macam macam seperti yang bibi pikirkan. Aku tau jika aku melakukan nya, itu berarti aku juga akan membuat bibi Kecewa”

“Hae-ah, sejak kapan kau pandai berbohong ?” bibi Han mulai tidak bisa menahan emosi dan segala perasaan nya, air mata nya mulai menetes.

“Aku tidak berbohong. Sekarang katakan pada ku, mengapa bibi sampai berpikir aku berbohong. Dan..ku mohon, jangan menangis. Aku tidak bisa melihat bibi menangis”

“Bibi memang tidak pernah mempunyai kesempatan untuk mendapat kan seorang buah hati, tetapi bibi tahu perbedaan wanita yang tengah mengandung maupun yang tidak. Meski kau tidak mengatakan nya, tapi bibi tau…”

“Kau harus bertanggung jawab jika memang kau laki-laki, Hae –ah”.

Donghae masih tidak bisa mengerti apa maksud dari penjelasan bibi Han tersebut.

“Maksud bibi apa ? Aku harus bertanggung jawab atas apa ?”

“Bayi mu. Apa kau tega membiarkan darah daging mu tidak mengenal ayah nya ? Apa kau tega membiarkan darah daging mu tumbuh besar tanpa kasih sayang ayah nya ?”

“Bayi ?” donghae begitu terkejut mendengar kata Bayi.

“hae-ah, kenapa kau seperti ini ? kenapa kau cepat sekali berubah.. Almarhum ke dua orang tua mu pasti kecewa. Kau tidak bisa menjaga kesucian cinta. Sampai sampai kau tega membuat nya hamil…”

Bibi Han pun semakin tak tertahan lagi air matanya. Perih. Itu lah yang kini tengah dirasakan bibi Han pada hati nya. Ia tak menyangka dengan apa yang diperbuat Donghae.

“Chae Rin… Ha – mil ?”

“Kau masih ingin berbohong ? Kau berpura pura tidak tahu ? Keterlaluan sekali”

Bibi Han pun pergi meniggalkan Donghae sendiri di meja makan itu. Ia tak sanggup melihat Donghae dan Chae Rin duduk bersama.

Belum hilang rasa terkejut nya, kini Donghae kembali terkejut melihat sosok gadis cantik yang sedang berjalan menuju arah nya.

Chae Rin..

“Selamat pagi”, Chae Rin menyapa Donghae yang sudah menunggu nya daritadi.

“Kau sudah baikan ?” Donghae berusaha untuk menahan segala emosi yang kini Ia rasakan. Ia tak ingin gegabah, Ia ingin segala sesuatu nya menjadi pasti terlebih dahulu. Namun tetap saja ada perubahan sikap yang Ia tunjukkan pada Chae Rin.

Donghae tidak memeluk Chae Rin seperti biasanya.

Selama makan bersama kedua nya lebih banyak diam, hanya sepatah dua kata saja yang mereka katakan.

Dan kini di mobil pun ke dua nya juga hanya saling diam, kondisi yang seperti ini sama sekali tidak membuat Chae Rin merasa aneh. Saat ini yang ada di pikiran nya hanya Siwon. Hingga pagi ini Siwon belum juga mengabari nya sama sekali. Chae Rin bentul betul dalam ketakutan. Pertama kali nya, Siwon memperlakukan nya seperti ini. Siwon memang tidak se ekspresif kekasih nya, Lee Donghae, tetapi Chae Rin bisa merasakan bahwa Siwon pun tak bisa jauh dari Chae Rin.

Di sisi lain, Donghae merasa tidak tahan sekali dengan keadaan yang seperti ini. Chae Rin benar-benar dingin sekali. Jika Donghae tetap melanjutkan aksi diam nya, sampai nanti pun keadaan tidak akan berubah. Karna besar kemungkinan Chae Rin tetap tidak akan menyadari perubahan sifatnya.

“Kau yakin ingin ku antar ke café ?” tanya donghae tanpa menoleh sedikit pun pada kekasih nya yang terlihat serius mengamati layar ponsel nya. Donghae yakin bahwa saat ini Chae Rin pasti menunggu panggilan atau sekedar pesan singkat dari Siwon.

“Memang nya mau kemana lagi selain kesana”, jawab Chae Rin yang tidak jauh berbeda dengan donghae. Menjawab tanpa menoleh kea rah Donghae sedikitpun.

Sejujurnya dalam hati kecil nya, Donghae masih menyimpan rasa khawatir pada keaadan kekasihnya. Namun pernyataan bibi Han yang Ia dengar tadi pagi cukup menghancurkan perasaan nya. Hampir seluruh kepercayaan nya pada Chae Rin kini telah hilang, hanya menyisakan sedikit serpihan serpihan kepercayaan dan harapan yang belum sanggup Ia hapus sepenuhnya. Ada sedikit harapan dari nya bahwa bibi Han yang salah, ada sedikit harapan akan hubungan nya dengan Chae Rin.

“Kau mau wine ? Ambil lah di kursi belakang, Hyukjae membawakan nya khusus untuk anniversary kita kemarin”

Kali ini Chae Rin langsung mengarahkan pandangan nya pada kursi di belakang nya. Benar saja, ada  beberapa botol wine yang sudah di tata dengan sangat elegan di sana sebagai hadiah untuk dia dan Donghae.

“happy anniversary..” Chae Rin tersenyum lembut seraya menatap wajah kekasih nya. Seakan akan ia lupa akan permasalahan nya dengan Siwon.

“Kau sudah mengingat nya ?” pertayaan Donghae cukup terdengar dingin di telinga Chae Rin. Namun Chae Rin sadar, ini reaksi yang wajar. Ini kesalahan nya karna tidak mengingat sama sekali tentang hari  anniversarynya bersama Donghae.

“Jika kau mau kau bisa ambil semua nya. Aku rasa perut ku saat ini akan lebih bersahabat jika bertemu dengan the atau susu hangat. Setidaknya bisa mengurangi sedikit sisa rasa mual kemarin”

“Oiya, tenang saja. Aku akan mengucapkan terima kasih nanti pada si anchovy oppa”, Chae Rin berusaha untuk tenang dan meredam amarah donghae. Sejauh ini yang Ia pikirkan adalah Donghae kesal karna Chae Rin lupa dengan hari anniversary mereka.

“Baguslah, setidaknya kau ingat cara menghargai pemberian seseorang”. Donghae masih saja focus dengan jalanan yang ada di depan nya, tanpa menghiraukan perkataan Chae Rin sedikitpun.

“Lee Donghae-ssi, bisakah kau sudahi aksi dingin mu itu ? Jangan coba-coba membuat ku lebih jatuh cinta padamu dengan cara seperti itu” goda Chae Rin.

Tiba tiba mobil itu berhenti mendadak, Donghae menghentikan mobil itu secara mendadak. Cukup membuat Chae Rin sedikit takut, namun tatapan Donghae lebih menakutkan saat ini.

“Oppa..” Chae Rin tidak menyangka dengan apa yang barusan Donghae lakukan, Ia kehabisan kata-katanya. Ia tidak tahu harus berkata apa pada Donghae.

“keluar lah”, perintah Donghae. Cukup pelan nadanya namun cukup terdengar pula oleh Chae Rin.

Sesaat setelah Chae Rin keluar dari mobil nya, Donghae segera meninggalkan jalanan tersebut. Dengan mobil yang melaju sangat cepat, Ia belum menentukan kemana Ia akan pergi. Sangat tidak mungkin jika Donghae akan ke kantor dengan emosi yang belum mereda sama sekali.

“Siwon-ah..” Leeteuk memasuki ruangan serba putih tersebut.

“Hyung..”

“Kau tampak jauh lebih baik seperti nya. Hyung senang jika kau bisa segera sehat, itu berarti kita bisa kembali ke Korea secepatnya. Dan pasti nya kau bisa lebih cepat bertemu dengan nya”.

“Sejak awal aku memang tak menginginkan berada di tempat ini. Kau yang memaksa, Park Jungsoo-ssi”, jawab Siwon.

“Demi kebaikan mua juga. Kau sendiri yang mengatakan jika terjadi sesuatu dengan mu maka kau tak ingin merepotkan Chae Rin dan yang lain lain nya. Harus nya kau berterima kasih pada ku, MaSi” Leeteuk pun tersenyum dengan bangga atas pernyataan nya tadi. Ke dua tangan nya tak luput dari ponsel putih kesayangan nya.

“Kau sudah menghubungi Chae Rin ? Jangan membuat dia khawatir”

“Nanti aku akan menghubungi nya. Aku yakin sekarang café pasti ramai, dan Dia pasti sibuk..” sejujurnya Siwon pun sangat merindukan Chae Rin. Dia hanya sedikit kesal dan kecewa dengan dirinya sendiri karena Ia merasa lalai dalam menjaga Chae Rin. Sampai-sampai Chae Rin bisa sakit namun Ia tidak menyadari nya.

“Saran ku lebih baik kau hubungi HyoMin sekarang, pastikan bahwa gadis mu baik-baik saja. Kau membiarkan nya dalam kecemasan sejak semalam, Siwon-ah”.

Tanpa menunggu jawaban Siwon, Leeteuk memberikan ponsel milik Siwon pada nya. Lalu Siwon pun mencoba menghubungi HyoMin. Salah satu orang yang ditunjuk Siwon untuk menjadi tangan kanan nya selama Ia tidak berada di café tersebut. Siwon sengaja menempatkan HyoMin di café tersebut untuk bisa mengawasi Chae Rin. Siwon sangat percaya dengan rekan nya satu itu, begitu pula HyoMin. Selama bekerja untuk Siwon dia pun tak pernah mengecewakan Siwon. Semua pekerjaan bisa Ia handle dengan sangat baik.

“Kau tidak mau menghubungi HyoMin ?” tanya Leeteuk ketika melihat Siwon yang hanya memain mainkan ponsel yang ada di tangan nya.

“Aku sudah mengirimkan pesan singkat padanya. Aku tidak ingin Chae Rin tahu meski HyoMin bisa di andalkan dengan sangat baik”.

Tidak berapa lama muncul nama HyoMin dalam ponsel Siwon.

From : HyoMin

‘Selamat pagi, Chef. Sampai saat ini nona Chae Rin belum juga datang. Saya sudah menghubungi nya tetapi tidak ada jawaban sama sekali’

Siwon sedikit terkejut membaca pesan HyoMin. Dia khawatir jika keadaan Chae Rin belum juga membaik, sehingga Ia tidak datang ke café hari ini.

“Siwon-ah..tenang lah. Kau bisa sesak nafas lagi jika kau tidak berusaha tenang” Leeteuk sedikit panic melihat Siwon memegang dada kiri nya yang terasa sakit.

“Hyung..” Siwon berusaha untuk bangun dari ranjang putih itu,

“Tetap lah beristirahat. Biar hyung saja yang mencari tahu soal Chae Rin. Hyung janji, apapun info tentang Chae Rin pasti kau akan mengetahui nya. Tunggu sebentar, biar hyung coba hubungi driver pribadi mu”.

Tidak perlu menunggu hingga 10 menit Leeteuk pun mendapat pesan singkat dari driver pribadi Siwon. Ia mengatakan bahwa Chae Rin tidak pulang sama sekali ke kediaman Siwon sejak semalam.

Leeteuk masih berusaha untuk tenang. Masih banyak daftar nama dalam ingatan nya untuk melacak dimana keberadaan Chae Rin. Selanjutnya yang akan Ia hubungi adalah kediaman Donghae. Jika memang Chae Rin masih kurang sehat pastinya Ia akan berada di rumah Donghae.

“Bagaimana ?” tanya Siwon.

Leeteuk menggeleng lemah. Asisten rumah tangga yang ada di rumah donghae mengatakan bahwa Chae Rin tidak ada disana saat ini. Dan terakhir mereka melihat Chae Rin pergi bersama Donghae, yang katanya akan ke café.

“Jangan terlalu cemas, hyung akan menghubungi kantor Lee Coorporation. Mungkin dia sedang disana bersama Donghae”.

“Kenapa kau tidak langsung menghubungi Donghae ?”.

Leeteuk masih belum merespon pertanyaan Siwon, ia masih sibuk berbicara dengan sekretaris Donghae.

Lagi lagi, Leeteuk menggeleng. Siwon paham maksud Leeteuk, artinya Chae Rin tidak berada di kantor Donghae.

“Lalu dimana Donghae ?” Siwon mulai geram Nampak nya.

“dia juga tidak berada di kantor nya. Bahkan skeretaris nya mengatakan bahwa Donghae membatalkan semua acara nya hingga waktu yang tidak ditentukan dan berpesan bahwa Ia tidak ingin diganggu”.. sebenar nya kali in pun Leeteuk mulai dirundung perasaan cemas. Bagaimanapun juga Chae Rin sudah seperti adik perempuan nya sendiri.

“Bisa kah kita kembali sekarang ?” Siwon mengalihkan pandangan nya dari Leeteuk. Namun Leeteuk tetap bisa melihat emosi dari ke dua mata Siwon.

“Tidak. Jangan gegabah, Siwon-ah. Tunggu lah, Hyung akan menghubungi Chae Rin sendiri”. Tidak lama kemudian Leeteuk pun segera mencoba menelfon Chae Rin. Ia berharap Chae Rin menerima telfon darinya.

“Oppa..” terdengar isakan tangis di telinga Leeteuk dan Siwon.

Leeteuk memang membiarkan Siwon mendengar percakapan nya dengan Chae Rin.

“Chae Rin-ah…bisa kah kau sedikit lebih tenang. Jangan menangis” pinta Leeteuk dengan nada sedikit cemas.

Chae Rin pun bisa mengendalikan diri nya, Leeteuk tahu jika saat ini gadis itu jauh lebih tenang. Isakan tangis nya mulai berhenti.

“katakan pada ku apa yang terjadi dan sekarang kau dimana. Apa kau bersama donghae ?”

“Tidak, tidak ada dia disini. Aku sendiri. Kau sendiri, apa bersama…” Chae Rin tak sanggup menyebut nama Siwon. Ia terlalu takut.

“Siwon ? Tidak. Aku juga sendiri, dia masih istirahat”.. Leeteuk tidak betul-betul berbohong, memang kenyataan nya Siwon masih beritirahat di rumah sakit itu. Tanpa sepengetahuan Chae Rin.

“Dimana kekasih mu ?”

“Kita bertengkar. Aku lupa semalam adalah anniversary kita. Tapi semalam pun dia tahu kondisi ku sedang tidak baik, aku tidur lebih cepat”

“..begitu juga dengan Siwon oppa. Dia marah”, lanjut Chae Rin. Kini Ia tak bisa menahan lagi tangis nya.

“MaSi tidak akan mungkin bisa marah pada mu. Percaya lah”, jawab Leeteuk seraya meledek Siwon.

“Bagaimana aku bisa percaya, dia marah sampai sekarang”

“Tenanglah, siwon tidak akan bisa marah pada mu. Sekarang kau dimana ?”

“Entahlah dimana”. Jawaban yang singkat namun cukup membuat Siwon semakin ingin kembali ke Korea.

“Ya! Shim Chae Rin! 25 tahun kau hidup di Korea dan kau tidak tahu saat ini dirimu dimana ?! Sulit dipercaya..” Leeteuk memang tidak percaya saat ini. Tidak mungkin Chae Rin tidak tahu diasedang berada dimana saat ini.

“Oppa…kau marah juga ? Kau ingin menyalahkan ku juga huh ??” Chae Rin pun semakin menjadi jadi tangis nya. Membuat Leeteuk sedikit merasa bersalah.

“Ku mohon, berhentilah menangis”..

“Aku tidak tahu sekarang aku dimana.. saat di mobil Donghae tiba tiba menghentikan mobil nya dengan begitu cepat, lalu memerintahkan ku untuk keluar dari mobil nya”

“Dia menurunkan mu di jalan ?!” Baik Leeteuk maupun Siwon sama sama tak menyangka Donghae bisa melakukan hal itu pada Chae Rin.

“hmm..”

“Sekarang juga ku mohon kau pulang lah, kembali lah ke rumah Siwon. Atau jika kau mau kau bisa pulag ke rumah ku”, Leeteuk tidak tahu apa yang lebih tepat untuk dikatakan pada Chae Rin, saat ini Ia hanya mencoba meredakan emosi nya karena Donghae.

Tiba tiba sambungan telfon mereka pun terputus.

Leeteuk baru menyadari bahwa Ia lupa untuk mengisi baterai ponsel nya.

“kau masih ingin menahan ku untuk tetap disini ?” Siwon mulai habis kesabaran nya. Seluruh isi pikiran nya saat ini tertuju pada Donghae.

“Siwon-ah, kita akan tetap disini sampai kondisi mu benar benar memungkinkan untuk kembali ke Korea. Soal Chae Rin serahkan pada ku. Percayalah, dia akan baik-baik saja”, walau sejujurnya Leeteuk sendiri belum memutuskan langkah apa yang akan Ia ambil selanjutnya.

“Tapi Chae Rin membutuhkan ku !”

“Justru karna dia membutuhkan mu maka kau harus berusaha untuk pulih sesegera mungkin. Kau tidak akan bisa berbuat banyak untuk Chae Rin dengan tubuh mu yang lemah”

Beberapa suster pun tiba tiba membuka pintu ruangan tersebut, rupanya teriakan Siwon membuat mereka begitu panic dan mengambil tindakan cepat untuk memeriksa keadaan nya.

“Maaf, apa yang telah terjadi ? Kami mendengar suara anda cukup keras dari luar sana” salah seorang suster berusaha mewakili untuk bertanya.

“Tidak ada masalah serius. Maaf karna kami telah membuat kalian panic”, Leeteuk pun sedikit membungkukan badan nya dan meminta maaf. Sementara Siwon mengalihkan pandangan nya pada jendela besar yang ada di sisi kiri nya.

“kalau begitu kami akan memeriksa kondisi Tuan Siwon, sementara Anda bisa menunggu diluar”, pernyataan itu pun tertuju kepada Leeteuk.

“Baik”. Leeteuk pun segera keluar. Dia menyandarkan tubuhnya pada dinding rumah sakit yang begitu dingin tersebut.

Tbc…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s