[Gemini] – Chapter 1: Welcome, Gamma Gem!

A Whitearmor Story

.

.

G E M I N I

Chapter 1 : Welcome, Gamma Gem!

.

.

.

EXO’s Byun Baekhyun as Pollux

BTS’ Kim Taehyung as Castor

OC’s Kim Haneul as Alhena

Chaptered | AU, Fantasy, Family | PG-15

Setiap konstelasi tentu memiliki kelebihan masing-masing maka tidak heran seluruh konstelasi akan berlomba-lomba untuk memenangkan hati sang pemiliki galaksi demi membuktikan kemegahan konstelasi pun menjaga pendar mereka di langit malam.

Semua punggawa di bimasakti tahu jika Scorpio dan Leo adalah yang terkuat. Namun, jangan pernah sekalipun meremehkan konstelasi seperti Cancer, Pisces, juga Virgo. Meskipun ketiganya termasuk dalam deretan konstelasi yang memiliki pendar lemah tetapi sang pemilik galaksi telah memastikan jika ketiganya pun juga memiliki kekuatan terpendam yang apabila diasah bisa mematikan lawan.

Setiap fase bulan baru, setiap konstelasi berlomba dalam sebuah pertarungan di mana selain untuk menghasilkan pendar lebih cemerlang juga diperuntukkan untuk memperpanjang umur konstelasi mereka.

Supernova.

Sebuah gejala berakhirnya peradaban dalam konstelasi. Ditandai dengan pendar yang lebih terang dari biasanya bahkan bisa ratusan juta kali lebih terang cahaya sang pusat tata surya. Namun, pendar ini bukanlah tanda kemegahan melainkan awal matinya suatu bintang. Pendar yang begitu terang ini nyatanya adalah ciri pelepasan energi yang maha dahsyat, kejadian ini akan terus berlangsung hingga sang bintang menjemput ajal. Dan jika itu terjadi maka tamatlah sebuah konstelasi.

Dari kedua belas konstelasi di galaksi, seluruh punggawa kini tengah hangat memperbincangkan soal Gemini. Bagaimana tidak, konstelasi berlambang pemuda kembar itu  kehadiran seorang bintang baru yang bisa saja menjadi kekuatan mematikan untuk melibas habis konstelasi lain.

Kejadian itu sebenarnya belum lama terjadi, Pollux masih ingat benar hal ajaib tersebut terjadi sekitar seminggu lalu. Di saat ia bersama Castor tengah berlatih di lapangan utama istana, sebuah cahaya menyilaukan mendadak bersinar dari langit. Bersamaan dengan itu, sosok seorang gadis bersurai hitam turun dari langit.

Ketika sang gadis membuka mata untuk pertama kali, ia mengulum sebuah senyum tipis pada sang bintang kembar. Pollux dan Castor sendiri saling bertukar pandang seraya bertanya-tanya alasan munculnya sang gadis di tengah konstelasi mereka. Mendengar suara hati mereka, sang pemilik galaksi pun bersuara di tengah hening malam.

“Kukirimkan Alhena untuk kalian. Jagalah dia.”

Begitulah kisah singkat kemunculan Alhena yang dianggap Pollux dan Castor sebagai sebuah hadiah tak terduga dari sang pemilik galaksi. Sejak malam itu, gadis bermanik mata kebiruan dengan kulit seputih susu diberikan gelar Gamma Geminorum oleh sang Alpha dengan sebuah tugas mulia yaitu menjaga keseimbangan konstelasi Gemini.

Pertarungan itu semakin dekat bahkan Pollux rasa seperti sudah di depan mata. Tahun lalu, konstelasi Leo yang memenangkan segalanya sedangkan konstelasinya harus puas sebagai pemenang ketiga setelah mati-matian mengalahkan Scorpio. Bahkan untuk sampai di posisi itu, Pollux mengalami kelumpuhan sementara pada kakinya karena racun dari kalajengking milik Orion. Beruntung semuanya bisa cepat ditangani.

Kini setelah setahun berlalu, Pollux masih saja merasa gusar terlebih Alhena akan mengikuti pertarungan tersebut untuk kali pertama. Pikiran-pikiran buruk mengenai peristiwa yang bisa terjadi pada sang Gamma terus membayangi Pollux. Tentu saja untuk menyiapkan sang gadis, baik Pollux dan Castor setiap hari menjejali latihan rutin mulai dari memanah hingga mengendalikan kekuatan. Semua itu semata-mata untuk membuat Alhena siap atau setidaknya untuk Pollux membuat sang gadis tetap aman.

Saat ini Pollux tengah termenung, memandang kedua saudaranya yang tengah menunggang kuda. Dalam diam ia menghela napas sembari mengasah belati yang sudah menelan berpuluh korban dalam setiap peperangan yang telah dilalui. Dari kejauhan terdengar suara derap langkah kuda mendekati Pollux, ia pun mengangkat wajah.

“Kenapa termenung seperti itu?” tanya Castor.

Pollux menggelengkan kepala lemah daripada menjawab ia memilih untuk bungkam. Castor pun turun dari kuda kemudian duduk di samping saudara kembarnya. “Apa yang kau pikirkan? Ceritakanlah padaku,” bujuk Castor.

“Kak Pollux memikirkan soal pertarungan konstelasi,” jawab Alhena tiba-tiba. Kedua saudara kembar itu memandang sang Gamma kaget. “Oh astaga, bahkan kedua kakakku lupa jika aku memiliki kekuatan membaca pikiran,” imbuh Alhena lantas turun dari kuda, ikut duduk bersama mereka.

“Gadis ini … sudah berapa kali kubilang jika membaca pikiran saudaramu itu lancang!” balas Castor sambil memukul kepala Alhena. Gadis itu hanya meringis lalu menggumam tak jelas karena sebal pada sang Alpha.

Kini keduanya kembali fokus pada Pollux, “Jika apa yang kukatakan benar, maka kau tidak perlu khawatir.” Alhena kembali buka suara. Kali ini direspon persetujuan oleh Castor. Pollux pun mengangkat wajah, memandang kedua saudaranya dengan sunggingan senyum di wajah.

“Sang pemilik galaksi mengirimku ke sini tentu bukan tanpa alasan,” sahut Alhena lagi. “Dan lagi, kemampuanku juga semakin baik. Aku sendiri merasa sudah siap untuk ikut berpartisipasi.”

Dalam hati Pollux bersyukur karena kehadiran sang Gamma. Meskipun sang gadis tidak semahir Castor dalam menunggang kuda juga tidak pandai dalam bertarung jarak dekat seperti dirinya namun Alhena menawarkan cahayanya sendir dan itulah salah satu alasan mengapa baik Pollux ataupun Castor begitu protektif pada sang adik.

“Kau sebaiknya mengasah kemampuan yang lain. Jangan suka membaca pikiran orang lain,” celetuk Castor kemudian.

Alhena memasang wajah kesal, “Apa yang salah dengan membaca pikiran orang lain? Bukankah itu bagus untuk menaklukan musuh?”

“Kau tahu Alhena, dalam pertarungan nanti tidak hanya kemampuan pikiran yang diperlukan namun juga kelihalian setiap punggawa dalam bertahan di medan perang dan mengalahkan musuh menjadi kunci utama,” jawab Pollux ikut buka suara. “Selain itu, Castor cenderung menyukai peperangan yang pola penyerangannya tidak bisa ditebak atau singkatnya—”

“Kak Castor tidak memerlukanku untuk membaca pikiran musuh,” potong Alhena. “Baiklah, kak. Aku mengerti soal itu namun jangan lupakan jika kalian memilikiku sebagai kartu As,” imbuh sang Gamma.

Sang gadis berdiri dan berjalan mendekati kuda putih miliknya. Setelah duduk di atas pelana, Alhena lantas memacu kuda putih itu menjauhi si kembar. Dari kejauhan Pollux masih memadang sang adik perempuan sangat lekat bahkan Castor bersumpah kedua bola mata sang saudara kembar bisa saja keluar saat itu juga.

“Tatapanmu menakutiku, Pollux.”

Pollux lantas menoleh pada Castor, “Tidak mungkin tatapanku menakutimu.”

Castor terkekeh pelan diikuti tawa kecil sang Beta. “Aku kadang bingung kenapa Alpha Geminorum diberikan untukku,” sahut Castor.

Kali ini Pollux menatap sang Alpha lekat membuat Castor buru-buru membuat jarak di antara mereka. “Baiklah, aku tidak akan membahas ini lagi.” Mendengar kalimat tadi Pollux bernapas lega.

Sebenarnya topik ini sering kali dilayangkan oleh Castor dan tentu saja Pollux akan  mencari alasan yang sulit dibantah oleh sang Alpha. Padahal dari sudut pandang Castor, seharusnya pemuda bernama Pollux yang lebih cocok menyandang gelar Alpha ketimbang dirinya.

Castor adalah pemuda dengan emosi meledak-ledak serta memiliki sifat kekanakan, jelas berbanding terbalik dengan pembawaan Pollux yang sangat sempurna bila dibandingkan dengan sang Alpha. Namun, mungkin sang pemilik galaksi memiliki tujuan lain memberikan gelar Alpha pada Castor meskipun sampai detik ini sang bintang belum tahu pasti apa alasan itu.

“Alhena … kita harus menjaganya dengan baik. Kau tahu itu kan, Castor?” gumam Pollux.

“Tentu. Kupertaruhkan nyawaku untuknya.”

 

 

Armor’s OC Kim Haneul as Alhena (Gamma Geminorum)

Alhena.jpg

Hadir di tengah-tengah Pollux dan Castor secara tak terduga membuat Alhena menjadi sebuah tanggung jawab besar bagi si kembar. Bintang ketiga dari konstelasi Gemini ini memiliki sifat bijaksana seperti Pollux namun juga memiliki emosi meledak-ledak persis Castor. Meskipun kemampuan membaca pikiran Alhena sering tidak disetujui oleh Castor namun sang bintang percaya jika sikap sang Alpha itu tentu bukan tanpa alasan. Sang Gamma pun percaya jika di dalam dirinya masih menyimpan sebuah kekuatan yang mampu membuat seantero galaksi berdecak kagum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s