[FICLET] HUMAN

901ae5ec84b4b8f9ec27c6cf9cc06d0a

HUMAN
By: susanokw


“I can stay awake for days if that’s what you want, be your number one.”

Yang ku tahu selama ini, hidup adalah soal setia. Setia pada konsekuensi yang kau dapatkan, ketika kau telah memutuskan suatu pilihan. Belakangan ini aku mengerti bahwa setia bukanlah sebuah perkara mudah. Setia butuh pengorbanan, bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya tidak mau kau korbankan sama sekali.

Hati, misalnya.

Terkadang ketika kau sudah setia pada suatu hal, kau harus rela mengorbankan hatimu untuk tergerus perlahan. Aus dari waktu ke waktu, sampai akhirnya nanti kau benar-benar mati rasa. Bukan artinya kau meninggal dan dikubur sehingga kau tidak bisa merasakan apapun lagi, yang aku maksud adalah sampai nanti kau tidak bisa merasakan apa arti setia.

Ini yang aku alami. Aku tidak tahu persis sejak kapan kami jadi seperti ini. Rasanya tidak pernah ada kejelasan diantara kami. Yang aku tahu, kami bermasalah. Mungkin hanya aku, dan dia tidak merasa.

Kau boleh menganggapku bodoh, tapi inilah kenyataannya. Aku jatuh cinta padanya, sedalam-dalamnya. Dan aku tidak pernah tahu, apakah dia benar-benar jatuh cinta padaku atau hanya pura-pura jatuh cinta. Aku selalu merasa setiap masalah yang terjadi di antara kami hanya sekedar salah paham yang bisa selesai dalam waktu chatting satu malam suntuk atau bertemu selepas kuliah, membicarakan kesalahpahaman yang terjadi setelah itu kami bisa berbaikan lagi. Ya, awalnya memang seperti itu. Tapi hal yang baik di awal tidak berarti selamanya.

Sesungguhnya aku bisa melakukan apapun untuk mempertahankan hubungan ini, mempertahankan apa yang awalnya menjadi sebuah solusi terbaik untuk permasalahan kami. Apa yang dia minta, aku bisa lakukan.

Aku bisa menahan napasku agar tidak menangis. Aku bisa menggigit lidahku agar tidak mengatakan kata-kata yang buruk. Aku bisa tetap terjaga berhari-hari jika itulah yang ia inginkan, aku bisa menjadi nomor satu untuknya. Aku bisa memberikan apapun yang ia minta, kapanpun. Aku akan berusaha keras.

Tapi sesungguhnya, aku hanyalah manusia. Aku bisa terluka, berdarah ketika jatuh, hancur berkeping-keping. Lukaku bisa membiru, lalu menghitam. Menjadikan aku sebuah sosok yang mengerikan, yang kelak tidak akan disukai oleh semua orang. Kau tahu rasanya jatuh, berdarah, kemudian hancur berkeping-keping? Sakit tak terperi. Lebih dari luka basah yang tersiram air cuka.

Dia pernah berkata kepadaku, “Aku beruntung memilikimu. Kau yang selalu ada untukku, kau yang selalu bisa melakukan apapun untukku. Maaf atas segala kekuranganku yang selalu membuatmu sulit.”

Kalimat itu, kalimat yang selalu terngiang dalam telingaku. Yang dulu masuk sebagai melodi paling indah, sekarang terngiang sebagai nada yang paling buruk sedunia. Yang dulu ibarat jaket tebal penghangat di musim dingin, sekarang terasa seperti belati yang di tusuk ke dalam hati, lalu di cabut paksa berkali-kali.

Kau bisa merasakannya?

“Akankah aku selalu menjadi nomor satu untukmu?” Ia pernah bertanya seperti itu. Ya, tentu saja. Sikapnya yang manis selalu bisa membuat siapapun terlena, terpesona pada pandangan pertama. Tapi sekarang aku sadar, kalau ia akan selalu menjadi nomor satu untukku lalu apakah aku akan selalu menjadi nomor satu untuknya?

Pada akhirnya aku belajar bahwa hidup tidak melulu soal setia. Namun hidup adalah perjalanan, pindah dari hati yang satu ke hati yang lain. Menemukan tempat yang nyaman, namun ternyata bukan tempat untuk bersemayam. Rumah memang selalu nyaman, namun hal yang nyaman belum tentu menjadi rumah.

Sekarang apakah aku nomor satu? Mungkin ya ketika ia butuh, mungkin juga tidak ketika ia memang tidak butuh. Ini sudah berlangsung sekian lama, jadi kurasa tidak ada gunanya jika aku harus menangis sesegukan. Toh, menangispun tetap tidak akan mengubah aku kembali menjadi nomor satunya, bukan?

Aku tidak berbicara dengannya selama hampir satu minggu. Kami bertengkar. Dalam percakapan terakhir kami, aku berpikir bahwa segalanya akan berakhir saat itu juga. Aku dan dia akan berjalan berpisah, membangun benteng masing-masing yang tidak akan pernah bisa di tembus oleh apapun. Namun ternyata semua itu hanya pikiranku belaka. Ternyata dia bukanlah orang yang mudah mengakhiri sesuatu, dan bodohnya aku menurut.

“Kurasa kini kau sudah tidak cinta aku.” Ujarku padanya, senja itu.

Ia mendengus sebal, terkekeh pelan. “Tidak perlu berpikiran macam-macam.” Katanya.

Macam-macam dia bilang? Demi Tuhan, tidakkah ia tahu bahwa pikiran itu yang terus menghantuiku setiap malam?

“Itu bukan pikiran macam-macam, itu kenyataan. Aku bukan lagi nomor satu bagimu, aku bukan lagi tempatmu pulang.” Aku berusaha agar tidak menangis. Aku tidak mau terlihat cengeng, please.

Ia menoleh padaku, keningnya berkerut samar. “Kenapa kau selalu terlalu cepat menyimpulkan sesuatu? Kau lihat aku di sini sekarang? Di hadapanmu? Kalau aku tak cinta, aku tidak sudi hadir hanya untuk berbicara tentang hal yang sebenarnya hanya ada pada khayalmu saja.” Suaranya meninggi, mulai dipenuhi emosi.

Yang aku lakukan? Menghela napas panjang.

“Aku tidak memaksamu datang. Aku hanya mengajakmu, dan kau datang. Itupun dengan langkah diseret-seret seperti orang sekarat. Kau tidak seperti yang dulu.” Itu ucapanku, mengatakan hal yang sejujurnya aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Apa aku salah?

Ia terdiam sesaat, kemudian memalingkan muka. “Kau juga tidak seperti yang dulu.”

Aku?

“Kau bukan lagi gadis yang aku kenal. Yang setia menungguku pulang, menyambutku ketika datang, menemaniku terjaga sampai malam. Itu bukan kau. Jadi adakah alasan lain untukku berubah kalau bukan karena kau juga berubah? Sadarlah!” Ucapnya.

Hey, tidakkah kau mengerti bahwa aku bukanlah gadis kemarin sore yang selalu bisa menyambutmu dengan senyuman bahkan selelah apapun aku? Tidakkah kau sadar bahwa…., mari aku tegaskan sekali lagi bahwa aku manusia. Aku punya hati dan ia terus mempermainkannya.

Aku tidak membantahnya. Yang ia katakan memang benar. Kami diam, lima menit penuh.

“Hey, Taka.”

Ia tidak menoleh. Lanjutkan, aku tidak perlu menunggunya menoleh lalu mengungkapkan segalanya, bukan?

Aku menghela napas panjang satu kali. “Taka.., apa yang ada di dalam pikiranmu tentangku selama ini?”

“Kekasih.” Jawabnya pendek.

“Pernahkah kau berpikir bahwa aku adalah seorang manusia?”

“Tentu saja. Anak jenjang sekolah dasarpun tahu kalau yang namanya kekasih itu pasti manusia.” Ucapnya, dengan nada tidak sabaran.

He’s so childish, isn’t he?

“Maksudku…, aku, manusia yang bisa terluka? Yang bisa berdarah, yang butuh obat merah, yang butuh di rawat? Apa kau pernah berpikir tentang perasaanku, tentang hatiku, sekali saja? Pernahkah kau berpikir, menjelang tidurmu betapa lelahnya aku selalu berusaha menjadi apa yang kau mau? Selalu berusaha memberikan apa yang kau minta, bahkan aku akan berusaha jika kau meminta dunia sekalipun? Pernahkah kau?”

Dia terdiam. Aku menahan napas sejenak, berusaha untuk tidak menangis.

“Aku. Itu aku, Taka. Aku, yang kau anggap nomor satu, yang kau sebut sebagai kekasih…, adalah orang yang paling lelah menunggumu pulang namun ternyata yang ditunggu tak kunjung datang. Ia bahkan pergi ke rumah yang lain, mencoba kehangatan disana. Barulah nanti ketika ia terluka, ia akan pulang pada rumah lamanya. Begitu bukan, Taka?”

Aku tidak tahu mengapa aku tidak menggigit lagi lidahku agar tidak berkata hal-hal buruk. Yang aku inginkan waktu itu adalah mengungkapkan semuanya. Kalaupun harus berakhir, aku rela.

“Taka…”

Ia terdiam.

“Sadarkah kau, Taka?”

Ia masih terdiam.

“Taka…,” Aku memanggilnya sekali lagi. “Aku bukanlah tempat pelampiasan lelah dan kecewamu yang tiada arti itu. Aku tempatmu pulang setelah perjalanan jauh mempertahankan hubungan ini, Taka.”

Ia hanya menghela napas panjang.

“Ingatlah bahwa aku bisa terluka. Aku bisa berdarah, Taka. Bahkan dari belati yang kau bawa sendiri. Dan kau tahu apa obatnya? Kau.” Ujarku lagi.

Kau tahu mengapa dia tak lagi mengucapkan sepatah katapun? Karena yang aku ucapkan adalah benar.

“Taka, aku cinta kau. Tapi coba kau lihat ke dalam dirimu sendiri, apakah kau benar-benar cinta aku? Kalau jawabannya adalah ya, maka tunjukkanlah. Kalau jawabannya adalah tidak, maka….,”

Aku terdiam beberapa saat. Menunggu apakah ia akan menoleh padaku atau tidak.

“…akhirilah.” Kata terakhirku, dan ia tidak menoleh sama sekali.

Kau pikir apa yang terjadi setelah itu? Taka menoleh padaku dengan mata berair, meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi? Kalau itu yang kau pikirkan, kurangilah menonton siaran drama. Hidup tidak semudah yang kau lihat dalam drama.

Dan inilah yang ia katakan.

“Aku lelah. Aku harus istirahat. Kita lanjutkan ini nanti saja.” Ia bangkit dari duduknya, dan beranjak pergi.

Itu saja? Dan kepergiannya itu bertahan sampai seminggu penuh. Lalu aku bagaimana?

Seperti yang aku bilang. Setia bukanlah perkara mudah. Saat kau sudah diterbangkan ke awang-awang kemudian kau terjatuh, saat itulah kau akan berubah menjadi kepingan paling tidak berarti sedunia. Saat kau sudah berusaha namun akhirnya kau terluka juga, saat itulah kau harus mengerti bahwa menjadi manusia begitu sulit dilakukan.

Jadi apa yang aku lakukan sekarang? Menunggu. Ah, aku baru ingat. Banyak orang mengatakan hidup juga tentang menunggu. Namun menunggu tidak melulu tentang siapa, bukan? Aku tidak menunggunya. Sungguh.

Aku sedang menunggu waktu. Aku melihatnya sedang merayap pelan seperti kura-kura menuju titik paling tepat. Titik di mana aku akan menjadi mati rasa akan semuanya.

Dimana aku akan tahu, apakah aku harus terus setia atau mencari obat luka di luar sana.

 

FIN.

3 responses to “[FICLET] HUMAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s