[Oneshot] Well-wisher

well-wisher

WELL-WISHER

.

|| a angstslight!BL, friendship oneshot by atatakai-chan ||

.

starring
Kush and Zion T

.

|| rating: PG-15 ||

.

Well-wisher

(noun)
a person who shows benevolence or sympathy towards a person,cause, etc

 


WARNING!
FANFIKSI INI MENGANDUNG KONTEN BL (Boys Love).
APABILA MERASA TIDAK NYAMAN DENGAN KONTEN YANG SEPERTI INI, DIHARAPKAN UNTUK TIDAK MEMBACA FANFIKSI INI.


~**~

Suara petir yang cukup keras berhasil membangunkan Kim Haesol dari tidur lelapnya. Lelaki bertubuh jangkis* itu membasuh peluh di keningnya. Dalam posisi duduk bersila, dadanya turun-naik seolah ia baru saja lari mengelilingi stadion sepakbola.

Seiringan dengan peluhnya yang turun ke dagu, air mata ikut mengalir dari mata kirinya yang tertutupi dengan telapak tangan kiri yang sedikit bergetar. Suara petir kembali terdengar bersamaan dengan suara guyuran air hujan yang menerpa atap rumah.

“Haesol-ah? Sudah bangun?”

Mendengar namanya dipanggil, lelaki yang biasanya selalu mengenakan kacamata ketika di atas panggung itu menoleh ke ambang pintu. Di sana berdiri sang pemilik rumah dengan sebuah nampan di pangkuan tangannya.

Haesol memaksakan sebuah senyum sambil menyeka matanya. Ditatapnya lelaki yang baru saja menyapanya itu, “kau pikir kalau sekarang aku belum bangun namanya aku apa?” Haesol memelankan volume suaranya hanya untuk memberikan tambahan kata “idiot” yang tentu saja ia tujukan pada lelaki yang kini sudah duduk di tepian tempat tidur.

“Hey, hey! Aku dengar itu.”

Haesol hanya tertawa sebagai respon. Ia meregangkan tubuh bagian atasnya untuk menghilangkan rasa pegal yang entah karena apa karena ranjang yang ia tiduri sangatlah empuk.

“Sekarang pukul berapa, hyung?”

Kush menaruh nampan yang ia pegang di atas meja di samping tempat tidur hanya untuk dapat melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, “sekarang pukul tujuh lewat…. lima belas atau enam belas, Haesol. Kembalilah tidur.”

Haesol tidak merespon. Ia malah memiringkan tubuhnya sedikit untuk menggapai mangkuk berukuran sedang yang ada di atas nampan. Setelah benda itu berada dalam raihan tangannya ia membenarkan posisi duduknya dan bersandar pada headboard tempat tidur. Bantal kepala ia gunakan sebagai penyangga agar punggungnya tak bersentuhan langsung dengan headboard keras itu.

“Kembali tidur lalu apa? Menyia-nyiakan sup hangat yang sudah kau buatkan untukku?”

~**~

Sebuah seringaian terbentuk di sudut bibir Haesol. Seringaian itu sudah sering dilihat oleh Kush namun, ia tidak pernah bosan melihatnya. Lelaki dengan lengan bertato itu diam-diam tersenyum bersamaan dengan habisnya sup dalam mangkuk yang ia buat kurang lebih setengah jam lalu.”Bagaimana? Apakah rasanya enak?” Kush mengambil alih mangkuk dari tangan Haesol dan kembali meletakannya di atas nampan yang masih bertengger di atas meja.

Haesol mengerjapkan kedua netranya yang tidak terhalangi oleh kacamata hitam miliknya. Lelaki itu sekali lagi menyeringai, menampakkan deretan gigi atasnya yang terkekang oleh kawat gigi —membuat deretan giginya nampak rapi dan terawat.

“Kalau tidak enak ‘kan tidak mungkin aku habiskan. Aku tidak ingin mencelakai diriku sendiri hehehe.”

Kush tertawa menanggapi lelucon Haesol yang sebenarnya tidak lucu. Terkadang hal yang dianggap lelucon oleh lelaki dengan nama panggung Zion T itu seringkali membuat sakit hati namun, Kush sudah terbiasa dengan hal itu sehingga satu hari tanpa adanya lelucon menyakitkan ala Haesol mampu membuatnya merasa hampa.

“Jadi… Apa kau mau menceritakannya padaku sekarang?” Kush mengambil salah satu bantal kepala yang menganggur dan ia letakan di atas pahanya.

“Menceritakan apa?” Haesol menatap Kush dengan tatapan bingung namun baik dirinya maupun Kush sama-sama tahu bahwa ia tahu apa yang dibicarakan oleh lelaki yang bekerja sebagai produser musik agensi YG itu.

Kush menghela napas. Ia menggeser posisi duduknya semakin dalam ke tengah-tengah tempat tidur, meninggalkan tepian tempat tidur tak berbeban.

“Kau tidak mungkin minum sebanyak itu kalau tidak terjadi apapun, Haesol-ah. Aku adalah temanmu. Hyung sangat mengenalmu.”

Haesol kembali menyeringai —sedikit terlihat miris— dan alih-alih menatap sang lawan bicara, ia malah menoleh ke arah lain. Otomatis hal itu membuat leher jenjangnya —yang penuh tanda kepemilikan— terlihat jelas oleh Kush.

“Haesol-ah…” Kush mengarahkan jari telunjuknya pada leher Haesol, secara perlahan ia menyentuh bekas-bekas itu —bekas yang bukan hanya bekas yang ia tinggalkan semalam— dan secara tak langsung hal itu membuat Haesol menggelinjang kegelian.

Leher adalah dan akan selalu menjadi bagian paling sensitif dari seorang Kim Haesol. Wajah Kush seketika muram. Ia merasa betapa ia adalah orang yang jahat. Ia yang semalam berada dalam keadaan sadar malah memanfaatkan keadaan rentan Haesol yang disebabkan oleh minuman beralkohol.

~**~

Haesol dan Kush kini duduk di sofa ruang tengah kediaman Kush sambil menonton televisi. Acara pagi yang ditayangkan di televisi memang tidak ada yang menyenangkan namun daripada tidak melakukan apa-apa dan hanya duduk saja di tempat tidur, keduanya memutuskan lebih baik menonton.

Sudah setengah jam berlalu dan Haesol masih bungkam. Ia sama sekali tidak menceritakan alasannya menegak alkohol sebanyak semalam.

Di sisi lain, walaupun hanya duduk dan diam menonton televisi, Kush sebenarnya tahu —tanpa harus bertanya— yang menjadi alasan Haesol menegak begitu banyak alkohol seperti kemarin malam adalah Shin Hyoseop-ssi.

“Hahaha! Lihat! Wajahnya lucu sekali!” Haesol tertawa seraya menujuk-nunjuk ke layar kaca. Tawa itu bukanlah tawa palsu atau tawa yang dibuat-buat tetapi itu tak berhasil membuat Kush ikut tertawa.

“…”

Tidak mendengar suara tawa lelaki yang duduk di sebelahnya membuat Haesol refleks menoleh, “Kush hyung? Ada apa?”

“Haesol-ah… Hyoseop… Apa lagi yang ia lakukan padamu?” Kush menatap Haesol tepat di matanya.

Seperti yang sudah Kush perkirakan sebelumnya, begitu nama Hyoseop disebut, temannya itu akan langsung menunduk dan kemudian mulai terisak.

“Beritahu aku. Apa lagi yang ia lakukan padamu, Haesol?”

Sebuah pelukan yang bagi Haesol adalah sebuah pelukan penenang, bagi Kush adalah lebih dari itu. Pelukan yang bagi Haesol adalah pelukan yang diberikan oleh seorang sahabat, bagi Kush adalah pelukan yang ia berikan untuk orang terkasih.

.
.

.
.
.

“… Ia lagi-lagi mengatakan aku adalah pengkhianat, hyung.”Kush gusar namun ia tetap berusaha terlihat normal. Ia gusar pada dirinya sendiri dan juga pada Hyoseop. Mengapa ia selalu tidak berhasil meyakinkan Haesol untuk menjauhi teman pendengki seperti Hyoseop dan ia juga gusar mengapa Hyoseop tak kunjung lelah memberikan beban pada Haesol.

“Apakah… Apakah aku benar seperti itu, hyung?”

Kush menggelengkan kepalanya, “tentu saja tidak, idiot. Kau bukan pengkhianat.”

Secara casual Kush menepuk-nepuk sisi wajah Haesol dengan tangannya. Bagi keduanya ini adalah hal normal walau jauh di dalam hatinya Kush tahu bahwa apa yang ia lakukan tidaklah normal karena ada maksud lebih dari sentuhannya itu —dan untungnya hanya dirinya yang tahu.

“Lalu, apa yang harus kulakukan, hyung?”

“Menurutmu apa yang harus kau lakukan, Haesol?” Kush berhenti menepuk-nepuk sisi wajah Haesol.

“Entahlah hyung… Mungkin aku harus…” Haesol menghela napas.

“Menjelaskan ulang padanya.”

“Menjauhinya.”

Haesol dan Kush berujar bersamaan. Dan keduanya sama-sama kaget akan ucapan satu sama lain.

Kush menggeram, “apa kau ini bodoh, Haesol? Ia tidak akan mendengarkanmu!”

“Aku tidak bisa selamanya membiarkan Hyoseop salam paham mengenai penandatanganan kontrakku dengan agensi, hyung! Hyoseop adalah temanku…”

“Itu dulu! Sekarang ia bukan lagi temanmu, Haesol. Sadarlah! Mana ada teman yang tidak berbahagia atas kesuksesan temannya?”

Dengusan napas Kush menandakan bahwa ia sedang menahan emosinya agar tidak meluap lebih dari itu. Bodoh. Di mata Kush, Haesol benar-benar adalah orang yang bodoh. Tetapi meskipun begitu, kenyataannya ada dirinya yang lebih bodoh daripada Haesol.

.
.

.
.
.

Kush duduk dalam diam di sebelah Haesol. Mobil SUV yang mereka tumpangi kini melaju ke kediaman Hyoseop yang letaknya di sisi lain kota.

“Kush hyung…” Setelah lima menit berkendara dalam diam, akhirnya Haesol bersuara.

“Apa?” Jawab Kush singkat. Ia masih gusar pada keputusannya sendiri yang menyetujui Haesol untuk meluruskan kesalah pahaman Hyoseop yang sudah berlangsung berbulan-bulan lamanya.

“Kenapa?”

“Kenapa apanya? Jangan mengatakan hal setengah-setengah karena itu akan membuatku tidak konsentrasi menyetir.”

Haesol terkekeh. Ia tahu walaupun Kush terdengar marah tetapi sebenarnya lelaki itu tidak pernah marah.

“Kenapa kau pada akhirnya selalu mengalah?”

Kush terdiam untuk beberapa detik. Mencoba mencari kata-kata yang tepat. Setiap perdebatannya dengan Haesol selalu berujung pada dirinya yang mengalah dan itu ia lakukan secara sadar, dengan tujuan.

“Karena…”

‘… kehilangan dirimu akan lebih menyakitkan daripada kekalahan dalam berdebat.’

Kush menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin ia mengatakan hal seperti itu, bukan? Ia kembali membuka mulutnya dengan pandangan yang tertuju pada jalanan, “karena… karena aku adalah temanmu, Haesol. Aku akan berusaha menjadi teman terbaikmu yang selalu mendukungmu dan percaya padamu.”

Jawaban yang diberikan oeleh Kush, seperti biasa, selalu di luar dugaan Haesol dan membuat lelaki yang kini mengenakan kacamata hitam itu tersenyum tipis, memamerkan sedikit deretan gigi rapinya.


*jangkisjangkung tipis
Slang ini menggambarkan seseorang

dengan tubuh tinggi dan kurus.


author’s note
Terima kasih bagi yang sudah membaca fanfiksi ini! Mohon maaf saya sampaikan pada para penggemar Zion T dan Kush.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s