[OneShot] Beautiful Boy!

Beatiful Boy - Bobsoo

 

Title: Beautiful Boy!

Author: Miithayaaaa

Length: OneShot

Cast:

  • IKON’s Bobby as Kim Ji Won
  • (YGNGG) Ji Soo as Kim Ji Soo

Genre: Comedi Romance

Rate: PG 15

 

 ***

Seperti biasa. Kau tahu kampusku terlalu sibuk dengan orang – orang yang sekedar belalu lalang di setiap koridor. Sebagian orang datang kekampus dengan tujuan hanya untuk meluangkan kebosanan mereka dirumah, atau hanya untuk menghabiskan waktu dengan teman–teman mereka, dan sebagian orang yang seperti kau tahu orang–orang yang memakai kaca mata tebal berukuran besar dengan julukan kutu buku hanya berpikir untuk belajar datang kekampus dengan tujuan suatu saat akan sukses atau mencapai cita–citanya.

Dan seperti yang kau tahu, aku datang kekampus hanya untuk sebuah keburuntungan. Keberuntungan yang aku dapat berkat seseorang dikampusku. Dia cukup terkenal. Bukan, lebih tepatnya sangat terkenal. Dikampusku orang–orang menyebutnya Beautiful Boy. Beauty? Apakah kau berpikir seorang pria itu cantik? Aku tak habis pikir kenapa orang–orang dikampusku menyebut dia seperti itu. Dan kau pasti berpikir bukankah seharusnya seorang pria itu tampan, tapi setelah kau melihatnya dengan matamu sendiri. Kau akan menemukan jawabanmu itu salah.

Dia benar–benar seorang pria yang cantik.

Postur tubuhnya yang tinggi, cara berpakaiannya yang membuat dia terlihat berkharisma, bulu matanya yang panjang dan lentik dan satu hal yang membuatnya lebih tampak cantik dia memiliki rambut yang sedikit panjang dengan model yang ia buat sendiri dan tentu saja dia juga memiliki kulit yang skinny. Satu jurus mematikan yang ia miliki adalah eye smile miliknya. Semua wanita mengatakan itu sangat menggemaskan, atau lucu. Tapi bagiku, dia hanya seorang pria menyedihkan yang tidak memliki mata saat tersenyum.

Semua gadis–gadis dikampusku memujanya, mengaguminya dan bahkan menggilainya. Oh, diralat bukan semua  tidak termasuk aku.

Saat ini aku sedang berada dikampusku, dikelas dan duduk mengarah ke luar jendela. Aku merasakan angin yang bertiup, memejamkan mataku untuk merasakan angin yang menerpa wajahku. Menyejukkan.

Hingga berapa menit aku berpaling melihat sekeliling didalam kelasku, melihat para  gadis–gadis yang membuat suatu kelompok percakapan dengan beberapa lembar photo ditangan mereka. Mencicit heboh, gila, atau apalah dengan foto yang aku ambil dan aku bagikan pada mereka. Dan kau pasti bertanya tentang photo yang aku ambil. Aku tersenyum konyol dan kembali menatap kearah luar jendela.

Orang–orang memanggilku Paparazzi. Kenapa? Apakah aku seorang wartawan? Tentu saja tidak. Aku hanya seorang mahasiswi disini. Kau juga bisa memanggilku dengan nama asliku.

Kim Ji Soo.

Aku mencari keberuntungan dengan sebuah kamera yang aku miliki. Aku memotret secara diam–diam si Beautiful Boy  dan hasilnya aku bagikan kepada gadis–gadis yang menggilainya. Tentu saja itu tidak gratis. Aku meminta imbalan atas foto yang aku berikan pada mereka dan mereka  tidak keberatan.

Apakah aku memanfaatkannya? Atau apakah aku lebih terihat seperti seorang wanita yang menggilai uang?

Terkadang aku berpikir seperti itu. Tapi aku menikmatinya, selain itu aku akan menunjukkan padanya bahwa aku bisa melakukannya tanpa dia.

“Oy, Ji Soo!”

Aku menoleh dan sedikit mendongakkan kepalaku untuk melihat orang yang memanggilku dengan keadaan posisiku yang duduk dan ia berdiri, “Apa?”

“Apa kau bisa mengambil gambar yang lebih menarik lagi dari Beautiful Boy?” Tanyanya malu – malu.

“Seperti?” Tanyaku sarkartis.

“Seperti dia sedang berenang atau bermain basket. Aku akan membayarmu 2 kali lipat dari hasil photomu yang sebelumnya.”

“Aku akan mendapatkannya.” Jawabku mantap.

‘Ya Tuhan apakah dia sedang menghayal si Mata sipit sedang bertelanjang dada dikolam renang atau menghayal dengan keringat yang berjatuhan saat bermain basket’ Gumamku saat melihatnya berjalan pergi dengan sebuah photo yang diletakkan didepan dadanya tersenyum seperti orang bodoh. Aku tidak tahu kenapa menyukai seseorang akan terlihat bodoh seperti itu. Karena aku juga pernah mengalaminya, dulu, dengannya.

Menghela napas, aku kembali dengan  kesibukanku sendiri walaupun hanya menggurat-gurat meja tak jelas. Sampai aku menyadari bahwa  seseorang telah berdiri disampingku dengan tatapan yang seakan-akan ingin membunuhku.

Kim Ji Won si Beautiful Boy.

“Apa kau yang melakukan ini?” Dia mencampakkan beberapa lembar photo ke atas meja menunjukkannya padaku. Dia terlihat marah.

“Tidak.” Aku berbohong.

Dia tersenyum miris, “Kalau bukan kau siapa lagi yang melakukannya?”

“Bisa saja orang lain yang melakukannya, kau kan merasa tenar.” Jawabku mencari alasan dengan acuh.

Dengan sigap ia meraih tas yang ada disampingku tanpa bisa kucegah. Dia membukanya dan memeriksa isi dalam tasku. Sial, dia  menemukan kameraku. Dia mengangkatnya seolah–olah ia menunjukkan barang bukti padaku.

“Tidak ada orang lain di kampus ini yang mengambil sudut gambar seperti ini, kecuali seseorang yang pernah dulu kuajarkan.” Katanya sengit masih dengan tatapan menuduhku yang sangat kejam itu.

Oh, sekarang dia mulai sombong. Memamerkan kemampuan memotretnya yang bagus. Dan memamerkan bagaimana dia dulu mengajarkanku.

Sial kau, mata sipit. Sekarang anak-anak yang lain mulai mencurigaiku. Mengincar tatapan ingin tahu bagaimana kau mengatakan seperti kita telah mengenal sudah lama.

Ah, iya, aku lupa. Kita pernah saling kenal. Dulu sekali. Saat kau masih belum menjadi brengsek seperti sekarang.

“Ikut aku.” Perintahnya.

Shiro.” Tolakku langsung menatap matanya tidak suka sebelum berpaling ke arah jendela mengabaikannya.

“Kau masih sangat keras kepala.” Katanya jengkel sebelum menarik tanganku dengan kuat. Tidak peduli seberapa kuat aku menolak, tenaganya tetap lebih kuat dan memaksaku untuk mengikutinya.

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku sibuk dengan pikiran bahwa orang-orang menatapku keingintahuan, sampai Ji Won menghempaskan tubuhku di tengah-tengah lapangan basket indoor.

Tidak ada orang. Hanya kami berdua.

Aku benci ini, saat dia mengintimidasiku dengan tatapan tajamnya. Tapi aku juga tak mau kalah dengannya. “Apa maumu?”

Dia hanya diam menatap mataku lekat. Entah apa yang dipikirkannya, aku tak tahu. Aku mendesah menunggunya untuk bicara, “Kalau kau-“

“Aku masih menyukaimu.” Selanya cepat.

Aku membeku. Tapi dengan cepat pula kuhiraukan rasa terkejutku, dan sialnya jantungku tak bekerjasama dengan otakku. Setelah sekian lama mata sipit ini masih menjadi pemenang detak jantungku.

“Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti.” Jawabku mencari alasan, aku sangat tahu apa yang akan dia bicarakan. “Kau membuang waktuku.” Lanjutku lalu berjalan melewatinya, tapi tangannya sangat cepat untuk membuat tubuhku kembali menghadapinya.

“Kau sangat mengerti apa yang aku bicarakan Ji Soo. Aku tidak tertarik dengan hal-hal alasan foto yang kau rancang di kepalamu itu.”

“Lalu kau ingin aku bagaimana? Kau ingin aku mendengar ocehan tidak pentingmu? Atau kau ingin mengatakan ‘Maaf Ji Soo, aku menyesal sudah mencampakkanmu. Kembalilah padaku’, begitu?” Selasaiku dengan nada sinis dan meniru nada bicara penyesalannya.

Tapi balasan darinya lebih membuatku jengkel. Bukannya merasa tersindir, dia malah tersenyum simpul. “Kau benar. Itulah yang ingin aku katakan padamu.”

“Ck. Aku tidak tertarik.”

“Aku ingin.”

“Maka bermimpilah.”

“Tapi aku tidak sedang tidur.” Katanya tertawa.

“Kau sungguh menjengkelkan.”

Dia tersenyum lagi. Aku bertaruh jika kesabaranku tidak ditahan, sudah kujitak kepalanya.

“Dengarkan aku, Ji Soo.” Mulainya meremas bahuku lembut. “Aku tahu, aku salah, dan aku minta maaf-“

“Aku-“

“Dengarkan aku dulu.” Selanya lagi cepat, kali ini tekanan tangannya di bahuku semakin kuat. Tidak sakit, hanya saja seperti ingin mengatakan bahwa aku harus mendengarkannya. Dan tatapan matanya itu, sungguh, aku menyerah. “Aku ingin kau kembali padaku. Aku ingin kau bermanja padaku lagi. Aku ingin kau mengomeliku lagi. Aku ingin itu semua. Aku merindukan semuanya, Kim Ji Soo.” Dia memejamkan mata, menarik napas dan melanjutkan, “Aku tahu sebrengsek apa diriku dulu. Aku menginggalkanmu hanya untuk perasaan sesaatku pada-“

“Kau mengatakan Lee Ha Yi adalah kebahagianmu.” Selaku menyebutkan salah satu nama yang entah keberapa menjadi pacar sesaatnya itu. Itu sudah lama, tapi tetap saja kata-kata itu selalu menyakiti hatiku.

“Aku minta maaf.” Katanya tulus. “Aku sangat menyesal, Kim Ji Soo.”

“Kau selalu seperti itu. Berbuat semaumu tanpa memikirkanku. Kau memberi kata-kata manismu pada gadis yang menarik perhatianmu, lalu kau mengatakan padaku, kau bahagia bersama mereka. Lalu meninggalkanku dengan lubang yang baru. Aku bahkan yakin kau tidak merasakan apapun saat kau meninggalkanku.” Kataku ketus.

“Kau salah. Aku selalu merasakan semuanya, Ji Soo. Aku juga merasakan rasa sakitmu.”

“Tapi kau tetap meninggalkanku.” Balasku yang tak ingin kalah dengannya.

“Sebut aku egois. Karena itulah memang keinginanku. Aku ingin memilikimu dalam hidupku lagi. Aku tidak peduli seberapa kali kau menolakku, mengabaikanku, mengatakanku bajingan. Aku terima, asal kau tetap kembali ke sisiku. Kau dengar itu Kim Ji Soo, sejauh apapun kau berlari, kau akan tetap kembali padaku.”

Lelaki egois. Bagaimana bisa aku menyukai lelaki seperti ini, bahkan sampai sekarang. Aku wanita bodoh yang masih mecintai lelaki paling egois sedunia bermata sipit bernama Kim Ji Won.

“Kenapa kau tidak meminta wanitamu yang lain?” Kataku ketus berusaha menyembunyikan detak jantungku yang tidak mau bekerja sama dengan otakku. “Bukankah mereka sangat membahagiakanmu?”

“Karena detak jantungku hanya menginginkanmu.” Serunya penuh tekad yang terlihat jelas di matanya yang menatapku.

Habis sudah, Kim Ji Soo.

“Aku sangat salut dengan ucapan manismu. Kau benar-benar pemain yang berhak mendapatkan penghargaan dunia, Kim Ji Won.” Balasku tersenyum simpul. Aku tidak tahu apakah kata-kataku sudah berhasil menutupi kekalahan hatiku dengannya.

“Jika kau sudah selesai, turunkan tanganmu dan biarkan aku pergi.” Lanjutku menatap sadis ke arah matanya. Dia menurut menurunkan tangannya.

“Jangan mengira kalau aku menyerah, Kim Ji Soo.”

“Terserahmu.” Balasku berbalik meninggalkannya. Tapi sebelum benar-benar keluar aku berbalik menghadapinya lagi yang masih berdiri di tempat. “Berhentilah meletakkan bunga di loker kampusku. Itu menjengkelkanku.”

Shiro.” Jawabnya langsung dan tersenyum mengejek padaku.

Sial kau Kim Ji Won.

***

Suara pantulan bola basket yang menggema diseluruh lapangan basket indoor. Tidak ada orang. Hanya dia sendiri. Keringat yang bercucuran keluar dari dahinya turun dan turun, leher yang basah karena keringat. Tembakan terakhir dan masuk. Ia membungkuk meletakkan kedua tangannya diatas lutut, mengatur nafas yang terngengah–engah kemudian dia menyeka keringatnya dengan satu tangannya.

Oh! Pemandangan yang sangat bagus. Ia akan membuka seragam basketnya, bertelanjang dada, menunjukkan absnya  dan tentu saja aku memfokuskan lensa kameraku padanya. Mengambil gambar. Ini bayaran yang mahal, sorakku.

Aku masih menyukaimu…

Tanganku mematung di udara dan bidikan kameraku tidak terfokuskan lagi padanya ketika kata-kata itu seenaknya melintas di kepalaku.

Tepat seminggu yang lalu, ditempat yang sama dia mengatakan itu padaku. Mengatakan maaf dan embel-embel yang lain, memintaku kembali seenak jidatnya. Dia pikir dia siapa, mengultimatumku hanya dia yang berhak bersamaku. Dasar mata sipit egois, rambut kriting ular medusa.

Kugelengkan kepalaku mencoba fokus pada kegiatanku yang tertunda. Kupusatkan kembali auto fokus kameraku ke arah lapangan, tapi apa yang aku lihat melalui kamera membuatku bingung. Kim Ji Won hilang, dia tidak berada di lapangan. Sial, dimana dia, aku melewatkan kesempatan emas gara-gara ucapan sialan yang melintas itu.

Aku menghela napas dalam. Menurunkan kamera di tanganku dan bersiap per-

“Kau mencariku?”

Aku terlonjak kaget di tempat, kalau saja tangannya yang cepat itu tidak memegang lenganku, pasti aku sudah terjatuh di antara kursi penonton ini.

“Kau mengambil gambarku lagi?” Katanya lagi menaikkan sebelah alisnya.

Aku mengangguk polos.

“Untuk kau jual lagi?”

Dan aku bodoh untuk kesekian kalinya, mengangguk polos menjawabnya.

“Yah, Kim Ji Soo!!” Teriaknya yang membuatku spontan melotot ngeri ke arahnya.

“A-aku… Aku.. Ah! Aku lupa kalau aku ada kelas.” Kataku terbata mencari alasan. Sial! Kenapa harus tertangkap basah sih. “A-aku pergi dulu.” Ucapku sembari mengambil tas sandang di bangku sebelahku dan berjalan mundur terburu-buru.

Dia mengerutkan dahinya mendengarkan ucapanku. “Di belakangmu-“

“Awww!!” Jeritku saat tumitku tersandung benda yang aku tidak lihat, dan sejurus cepat tubuhku terikut jatuh dan dahiku menghantam sudut kursi penonton.

“Ada tangga perbaikan.” Selesainya dengan suara hampir berbisik.

Sial! Aku sial dua kali! Kuelus jidatku yang sakit dan perlahan-lahan nyeri di kakiku mulai terasa.

“Kau baik-baik saja?” Katanya panik menghampiriku, dia memegang pergelangan kakiku dan aku menjerit memukul tangannya.

“Kakiku terkilir, bodoh.” Kataku merengek kesakitan melepaskan tangannya dari kakiku.

“Maaf.” Katanya menyesal. “Biar aku bantu ke rumah sakit.”

“Tidak perlu.” Aku menepis tangannya saat dia memegang bahuku membantuku berdiri. Aku berusaha berdiri menahan rasa sakit dikakiku berjalan pincang dengan satu tangan diatas pahaku meninggalkannya di belakangku.

“Kau benar-benar membenciku, kan?” Tanyanya yang membuat langkahku terhenti.

“Sangat.” Jawabku sedikit menolehkan kepalaku, “Pastikan kau berjarak 10 meter dariku.” Lanjutku menuruni anak tangga dengan susah payah.

Dan betapa terkejutnya aku saat sepasang tangannya mengambil tubuhku,  menggendongku ala bridal style. Aku memberontak tapi dia semakin erat memegangku. Tangannya yang hangat sama seperti dua tahun yang lalu. Tangan hangat dari orang yang aku cintai, Kim Ji Won. Si lelaki mata sipit yang paling egois sedunia.

“Jangan keras kepala, Kim Ji Soo.” Dia berjalan perlahan tanpa menolehku sedikitpun, tatapannya hanya fokus kedepan.

Aku meliriknya sekilas. Dengan jarak wajah yang sedekat ini aku bisa melihatnya dengan jelas. Dia tidak berubah. Harum parfumnya tetap sama yang menyeruak ke indra penciumku. Dan untuk kesekian kalinya hatiku berdetak cepat, tanpa bisa kukontrol semauku. Dia masih tetap pemilik detak jantungku.

***

Blitsszz… Blitsszzz…

Haha! Hasil yang bagus. Aku akan mendapatkan keuntungan yang berlipat kali ini.

“Yah! Kim Ji Soo!” Teriaknya kesal dari dalam kolam renang.

“Yah! Tetap seperti itu.” Aku menyuruhnya tetap berdiri di tengah kolam renang. Aku mengambil gambarnya yang sedang berkacak pinggang protes karena aku mengambil gambarnya. Dan kali ini aku tidak sembunyi–sembunyi, ini nyata. Dia sedang renang, bertelanjang dada dan ini sangat menguntungkan buatku.

“Ini akan menjadi keuntungan yang besar, kau tahu?” Aku tersenyum ngejek kearahnya. Mengangkat kamera menunjukkan kepadanya.

“Berikan kameranya padaku.” Dia keluar dari kolam renang mendekatiku  mencoba untuk mengambil kamera dariku.

“Tidak semudah itu, Mata sipit.” Aku tertawa menjulurkan lidah padanya.

Aku ingat waktu lalu seminggu setelah dia mengantarkanku kerumah sakit. Dia tak menyerah untuk mecoba dekat denganku lagi.  Mencoba segala hal untuk meminta maaf padaku. Benar, dia seorang brengsek yang meninggalkanku berkali-kali hanya untuk mengejar perasaan sesaatnya. Aku marah dan aku benci padanya. Tapi kemudian dia datang kembali dihadapanku yang membuatku bingung dengan sikapnya. Aku pernah dengar pepatah seorang pemain. Sejahat apapun lelaki itu pada wanitanya, sebanyak apapun wanita yang dipilih untuk menyakiti wanita sejatinya, dia akan tetap kembali pada wanita sejatinya. Karena itu sudah takdir seorang pemain. Hatinya sudah terpaku pada wanita sejatinya.

Sebut aku bodoh atau apapun. Karena cinta telah membuatku tidak akan pernah berpikir normal. Aku memberinya kesempatan lagi, memberinya kesempatan berjalan di jalan yang sama denganku lagi, dan aku pastikan dia tidak akan membuang lubang baru lagi, karena aku akan membunuhnya kali ini. Haha! Hanya bercanda, paling tidak, aku menjitak kepala medusanya itu.

Kesempatan bukan berarti menjadi pacarnya langsung. Kesempatan ini hanya untuk menjadi teman, ya, walaupun ujungnya tetap sama, menjadi kekasih lagi. Semuanya di mulai dari awal, saat berjabat tangannya lagi.

“Yah Kim Ji Won! Berhenti menggelitikiku.” Aku merasa perutku keram kerena tawaku yang tak henti–henti keluar dari mulutku.

“Aku tidak akan berhenti sebelum kau memberikan kameramu.”

“Oke. Aku menyerah.” Kataku mengangkat tanganku ke atas.

Dia berhenti menggelitiku, mengulurkan tangannya meminta kameraku. Aku tidak memberikannya, sebagai gantinya aku memotretnya kembali dengan ekspresi cemberutnya. Seketika tawaku pecah melihat hasilnya.

“Hei, lihat.” Aku menunjukkan hasil bidikanku. “Wajahmu sudah jelek, kalau mulutmu cemberut seperti ini akan menambah kehancuran wajahmu.” Selesaiku dengan tawa pecah mengejeknya.

“Kau…” Serunya kesal dan secepat kilat lengannya memiting kepalaku dilengannya. Aku mengaduh sakit, tapi dengan cepat pula aku menggelitiki badannya membalik kedudukan. Sekarang dia yang meminta ampun.

Beberapa menit kemudian kami hanya terduduk mengatur napas masing-masing kehabisan napas karena tertawa tanpa henti.

“Kau terlihat senang, Kim Ji Soo.” Katanya melihat kearahku.

Aku mengangguk, “Aku mendapatkan gambar bagus hari ini. Aku pastikan harganya mahal.” Ucapku sembari melirik ke arah badannya yang masih bertelanjang dada.

Ji Won terkekeh. “Kau seharusnya membayarku, karena menjadikanku model tanpa izin.”

“Tidak akan.” Jawabku mantap menyilangkan tanganku membuat tanda X.

Dia terkekeh. Lalu diam menatap mataku penuh kasih. Aku tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya, dia pasti mau menciumku. Dasar playboy cap gigi. Dia pikir aku tidak tahu sepak terjangnya. Jadi kututup sisi wajahku dengan kedua tangan supaya dia kesal.

“Yah! Kim Ji Soo, kau merusak suasana sekarang.” Benarkan dia kesal, liat wajahnya sudah seperti singa yang mengamuk.

“Oh, ya?” Tanyaku mengejek. Dia berdecak, aku terkekeh. Lalu aku teringat dengan gambar yang aku ambil beberapa bulan lalu. Ketemu, “Coba kau lihat ini.” Kutunjukkan gambar yang kumaksud padanya. dia ternganga. “Kau sangat tampan disini. Tidur dengan mulut menganga dengan air liur seperti sungai. Cocok dengan gelarmu, Beautiful Boy.” Selesaiku tertawa  lepas. Aku tidak tahu seberapa sangar mukanya sekarang, karena aku sudah tercebur duluan ke dalam kolam karena dorongannya.

“Yah, Kim Ji Won!”

“Rasakan itu.” Katanya penuh tawa memegang perut.

“Kupastikan gambar ini tersebar besok.” Balasku tak mau kalah. “Aku yakin mereka akan membayarku sepuluh kali lipat.” Tantangku.

“Sialan kau, Kim Ji Soo.” Geramnya dan mulai memasuki kolam renang. “Akan ku hancurkan kameramu itu.”

“Coba saja Beautiful Boy..” Aku menjulurkan lidahku mengejeknya.

FIN

Halo!

Akhirnya ngepost FF juga, setelah setengah tahun betapa di gua, hahaha!

Btw ini FF lamaku yang aku ikut sertain dulu di FFcnblueindo dengan cast Jungshin. Alhamdulillah 10 besar *gak ada yang tanyak* hahaha. Tapi ff ini uda saya ganti 80% walaupun alur dan judul tetap sama. iKON menambah koleksi lagu dan daftar kesukaan selain CN Blue gara2 teman saya tuh virusnya, ampuh banget virusnya. Terima kasih ya mbah. Bobai ini aku persembahkan untukmu. Hahahaha!

Anggap aja bobby disini ganteng walaupun dipaksain juga tetap ancur *ditabok fans bobby* hahaha! Tapi dia tetap kereeeenn meeenn! Gak tahu gimana tanggapan kalian, apakah dia udah cocok dengan karakter ini? Kalo gak cocok, di cocokin aja deh, biar mantep. Hahaha. Dan ending kayaknya kecepatan. Hahaha!

Satu lagi, walaupun ini berita uda basi banget yang awal april itu, hatiku potek men liat otpku hyukstal gak bersatu kesatuan. Walaupun kaget, walaupun gak terima, tapi gimanapun itu uda pilihannya. Gimanapun ya harus terima, dan tetap dukung. Jadi kesimpulannya, FF Hyukstal saya Venom, adakah masih yg ingin membacanya? Kita Lanjut atau nggak vroh? hahaha!

Udah ah, kepanjangan ini captionnya.

Salam kenal ikonic, biasku juneeeeddd *eh Junhoe maksudnya* hahaha!

Thank you so much and sorry for typo^^

5 responses to “[OneShot] Beautiful Boy!

  1. Mimiiitttt giliiinnnggg
    Aku suka bgt posternyaaa 😍
    Kece badai!
    Dedemit skrg jago bikin poster vroohh
    Kapan2 bikinin poster buat ff akika ya *emg mau bikin ff lg gitu? 😂
    Pas km kasih link, jujur ya, aku ketawa liat judulnya
    Bobai byutipul? Mit? Sehat?
    Tp pas liat posternya, meenn ganteng bgt si bobai!
    Emg ini bobai yg pas ganteng2nya, yg kita obrolin pas itu kan? 😍
    Jisoo nya jg cantik bgt, primadonanya YG lah ini pasti, jd gak sabar sm debutnya grup dia
    Oke cus soal cerita! Aku suka bgt, ceritanya, serius gak boong
    Aku suka karakter jisoo yg kesannya kayak tough girl tp tetep manis dan imut, bobai yg player tp perhatian, cintanya tetep sm jisoo
    Ada lee hayi meenn, jd korban kekhilafan bobai
    Adekku biar sm hanbin ajalah
    Biarin bloon tp gak player kayak bobai *korban ff
    Adegan di lapangan basket favoritku, kebayang kayang mereka di iklan lg itu, cm krg si jisoo meluk bobai dr belakang
    Ihiiirrr, rejeki anak soleh si bobai mah
    Oh iya, aku ngerasa tulisan km ini berkali2 lipat lbh bagus dr yg terakhir aku baca
    Pemilihan kata2nya mantap
    Soal typo gak akan aku komentarin, unomisowel lah, kita kan 11:12 soal typo
    Makasih ya mimit buat ff nya yg badai ini
    Aku terhura km tulisin ini dipersembahin buat aku *srooott
    Ayo kita tebarin virus lbh luas lg hihi
    Semangat terus nulisnya ^^

    • Poster hanya keberuntungan lagi bagus mbah, biasanya juga ancuurr hahahaa
      Hahaha, aku juga sebenarnya ragu mau pake judul itu, makanya kemare tanya bobai cantik gak, hahahaa
      Sebenarnya di ending aku masih kurang puas, cuman ya begitu buat mikirnya lagi males..
      Tulisanku jadi makin bagus? Ciusan mbah? Meeenn, ada peningkatan berarti, pdahal uda karatan kalo nulis lagi..
      Makasih mbaahh buat komen yg badai, kece, cemuanyaaaa
      Semangat buat nulis jugaaaaa 💋💋💋

  2. uda mulai beralih biasnya gara2 krystal sama kai?
    terlalu singkattt padahal karakter bobby bisa lebih gokil lagi.
    terus semangat ya di tunggu cerita selanjutnya.
    kalo boleh request cast nya boy grup baru dong ganti2 gitu.
    maaf terlalu cerewt.peace ^__^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s