THE PORTAL 2 [Part 9 : The Real Ending] [FINAL]

theportal2wallpaper21

Title :

THE PORTAL 2

                                                                                                    

Author :

citrapertiwtiw a.k.a Citra Pertiwi Putri ( @CitraTiwie )

 

Main Cast(s) :

– A Pink’s Son Naeun / Son Yeoshin as the Witch

– INFINITE’s L as the Witch ( another side : Kim Myungsoo )

– A Pink’s Jung Eunji / Jung Hyerim as The Princess of Junghwa Kingdom

– INFINITE’s Lee Howon / Hoya as The Bodyguard and celebrity

 

Genre : Fantasy, Romance, Friendship

 

Other Casts :

In Junghwa :

– CNBlue’s Jung Yonghwa as The King / Eunji’s Father

– SNSD’s Seo Joohyun as The Queen / Eunji’s Mother

– BAP’s Jung Daehyun as The First Prince / Eunji’s brother

– F(x)’s Jung Soojung / Krystal as The Second Princess / Eunji’s sister

– BtoB’s Jung Ilhoon as The Second Prince / Eunji’s Brother

– SNSD’s Lee Soonkyu / Sunny as The Palace’s Witch

– B2ST’s Son Dongwoon as Naeun’s Brother

– B.E.G’s Son Gain as Naeun’s Sister

– SNSD’s Kim Hyoyeon / A Pink’s Hong Yookyung as the most mysterious witch in Junghwa

– SNSD’s Kim Taeyeon as L’s Mother & Hyoyeon’s sister (good side : as Kim Haeyeon, Junghwa’s Headmaster)

– A Pink’s Kim Namjoo as Hyoyeon’s foster daughter

– EXO’s Byun Baekhyun as the Prince from Gwangdam Kingdom

 

In South Korea :

– EXO’s Kim Jongin / Kai as Myungsoo’s brother

– INFINITE’s Lee Sungyeol as a medium

– INFINITE’s Nam Woohyun as Naeun’s foster brother

– A Pink’s Park Chorong as Myungsoo’s best friend & Woohyun’s fiancee

– B2ST’s Yoon Doojoon & 4Minute’s Heo Gayoon as Eunji’s foster parents

– A Pink’s Yoon Bomi as Eunji’s foster sister

– EXO’s Do Kyungsoo / D.O as an ordinary boy

– Girl’s Day’s Bang Minah as a celebrity, and introducing ;

– Girl’s Day Yura / Kim Ahyoung as Minah’s Manager (another side : Gwangdam’s palace witch Kim Ahyoung)

– INFINITE’s Kim Sunggyu as Junghwa High School’s new headmaster

 

Rating : PG15 – NC17

Type :

Chaptered, Season

 

Cerita Sebelumnya :

Synopsis The Portal 1

Part 1              : I Hate My Life

Part 2              : Big Decision

Part 3A           : I Will Find You | 3B : You Will Find Me

Part 4               : Another Me

Part 5               : Over Protective?

Part 6               : Faithfulness

Part 7               : Something New

Part 8               : The Hidden Truths

Part 9               : Unpredictable

Part 10             : The Scandals

Part 11             : Reality

Part 12             : True Love

Part 13             : It’s Time To…

Part 14             : The Real Story

Part 15 ( final ) : Open or Close The Portal?

PROLOG SEASON 2

Part 1             : Nice to Meet…You?

Part 2A         : 15 Days

Part 2B           : Before The Day 15

Part 3           : Day 15

PREVIEW PART 4

Part 4 : Secret Page

Part 5 : Helpless

Part 6 : Destiny

Part 7 : Dream

Part 8 : Sacrifices

 

Ringkasan Cerita Sebelumnya :

Perubahan yang besar telah terjadi.

Pertarungan antara L dan Hyoyeon telah usai, dan rupanya tidak menyisakan satu pemenang. Pertarungan besar yang terjadi di negeri Gwangdam itu bahkan tak hanya menelan nyawa kedua penyihir hebat tersebut, namun juga menghabiskan seluruh penghuni negeri Gwangdam.

Terkecuali penyihir Kim Ahyoung, yang menyampaikan berita pertarungan tersebut ke negeri Junghwa meski akhirnya ia juga harus meregang nyawa akibat amarah Taeyeon.

Tak hanya Taeyeon yang mengalami perubahan besar terhadap jiwanya akibat kematian L, Yeoshin, tentu saja menjadi yang paling terguncang atas tragedi itu.

Tak peduli betapa besar kejahatan L yang pernah ia terima dulu, Yeoshin tetaplah menjadi yang paling berduka atas kematian penyihir terjahat itu. Bahkan setelah semua usaha Myungsoo lakukan untuk mendapatkan cintanya, ia tetap menetapkan hatinya untuk L.

Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Yeoshin benar-benar akan melanjutkan hidupnya bersama Lin, tanpa L?

Setidaknya penawaran yang Myungsoo ajukan pada L akan merubah semuanya. Tetapi apakah L akan menerimanya?

 

Selamat membaca. Selamat datang di final part The Portal 2

***

 

THE PORTAL 2

FINAL PART : The Real Ending

 

Author POV

 

“ 1..2..3.. cheers!!!”

Tring!

Lima orang remaja bersulang dan meneguk alkohol pertama mereka di salah satu kedai soju sederhana kota Seoul, merayakan kelulusan mereka dari SMA.

Myungsoo tak punya pilihan selain menerima ajakan Woohyun, Chorong, Sungyeol, dan Yura. Lagipula sebenarnya selama ini ia penasaran dengan berbagai minuman-pembuat-mabuk yang hanya bisa ia nikmati setelah melepas status pelajarnya. Dan pesta perayaan kecil ini sama sekali tak buruk bagi Myungsoo.

Aigoo.. kenapa kau ikut minum, heh? Kau belum lulus! Hahaha.”

Sungyeol menggoda Yura yang ikut bergabung bersama mereka. Anak dari kepala sekolah SMA Junghwa ini memang tidak lulus ujian, namun ia nekat untuk ikut. Alasannya sudah jelas, apa lagi kalau bukan melihat Myungsoo.

“ Tapi aku seumur kalian. Apa salahnya!?” hardik gadis itu kesal, ia bahkan menambah sojunya. Kelihatannya ini bukan pertama kalinya ia minum alkohol.

Sama juga halnya dengan Woohyun, Chorong, maupun Sungyeol. Ini juga bukan pertama kalinya mereka minum, hanya Myungsoo yang benar-benar merasakan ‘alkohol pertama’nya hari ini.

“ Aku bertaruh Myungsoo peminum yang kuat!” Woohyun memulai game kecil dan meletakkan sepuluh ribu won di atas meja. Sampai saat ini ia masih saja suka membuang-buang uangnya.

“ Aku juga!” Sungyeol meletakkan uang dengan jumlah yang sama di atas meja, diikuti dengan Yura yang sependapat dengannya.

“ Ah.. ia lemah kelihatannya.” Chorong tak setuju dan ikut meletakkan uang dengan jumlah yang sama di atas meja.

Myungsoo terkekeh, “ Apa aku perlu ikut juga?”

“ Tentu saja!”

“ Aku.. tentu saja kuat!”lelaki itu meletakkan uangnya dengan percaya diri.

Aigoo.. apa hanya aku yang menganggapnya lemah?” Chorong geleng-geleng kepala, tapi ia tentu akan mendapat keuntungan besar jika menang.

“ Tidak. Aku juga!”

Seorang gadis datang dan meletakkan uangnya di atas meja, kemudian mengambil duduk disamping Myungsoo, membuat lelaki itu terkejut sekaligus berdebar.

“ Na..Naeun?”

“ Halo semuanya. Maaf aku telat, hehe.” Naeun –gadis itu-, menyapa semuanya dan tersenyum cerah, seakan tak terjadi apa-apa padanya.

“ Kau datang kesini untuk minum juga?”Yura sedikit heran dan…kesal, pastinya.

“ Aku mengundangnya.”sela Woohyun, Naeun mengiyakan saja kemudian mengambil duduk di samping Myungsoo setelah memberi senyum sekilas pada lelaki itu.

“ Ayo minum, sunbae.”

Naeun mendorong sebotol soju ke depan Myungsoo, semakin membuat heran lelaki itu. Myungsoo mengira Naeun akan menjadi canggung padanya setelah apa yang terjadi saat hari kelulusan. Tapi nampaknya gadis itu tidak berubah sama sekali.

Ia tetap ramah, dan pandai menyembunyikan kesedihan di balik mata beningnya.

Myungsoo mulai meneguk sojunya dan sedikit terbatuk, namun ia tetap memaksakan diri menghabiskan semua botol yang masih tersisa. Suasana sejenak hening karena semua ingin tahu hasil taruhan kecil-kecilan yang bodoh ini.

Apa aku sudah gila? Aku tidak bisa berhenti.” Myungsoo mulai membatin sementara tenggorokannya terus menerus dihantam alkohol, minuman memabukkan itu mulai bekerja dan mengaduk-aduk isi kepalanya hingga bayang-bayang L yang ada di alam bawah sadarnya dapat ia lihat samar-samar.

“ Myungsoo.. sudah delapan botol, berhenti saja..” Chorong mulai mengisyaratkannya untuk berhenti, Yura mengangguk dan mengambil botol dari tangan lelaki itu.

“ Wah, gila..” Woohyun hanya bisa menggelengkan kepalanya, sementara Sungyeol diam seribu bahasa, entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini.

“ Ugh..”

Myungsoo oleng dan menjatuhkan kepalanya di bahu Naeun yang duduk tepat di sampingnya. Gadis itu tentu tak bisa menolak, ia justru khawatir karena Myungsoo mabuk secepat ini.

Sunbae.. kau.. baik-baik saja, kan?”

“…”

“ Myungsoo sunbae..

“…”

“ Myung—“

“ L..”

Suasana menjadi lebih hening ketika Myungsoo mengucapkan nama itu dengan lirih, hanya Yura yang kebingungan disana.

“…L, kesempatan emas tidak datang dua kali, kau tahu itu kan?”

Naeun menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berusaha untuk tidak menangis, ia masih sangat sensitif mendengar nama L, ia datang kesini untuk menghibur dirinya. Tapi mengapa ia harus sedih lagi? ia juga tak mengerti mengapa Myungsoo begini, rasanya aneh saja jika Myungsoo juga berduka atas kematian L. Meski ia lelaki yang baik, tapi tetap saja L pernah memperlakukannya dengan tidak baik.

L.. kau mengerti maksudku, kan?”

Dan terus saja begitu, Myungsoo terus menyebut nama sisi jahatnya selama mabuk, namun tak satupun maksudnya yang dapat dimengerti oleh orang-orang yang berada di dekatnya, termasuk Naeun.

Kecuali Sungyeol, mungkin. Sebab sejak tadi cenayang itu hanya memperhatikan tingkah mabuk sahabatnya dengan wajah datar.

“ Kita antar pulang saja, ayo!” Chorong begitu khawatir dan berdiri untuk mencoba membopong Myungsoo yang setengah tertidur di atas meja penuh soju.

“ Biar saja dulu. Kau tidak penasaran mengapa di membicarakan L?”

Meski Sungyeol menjawab pertanyaan Chorong, namun matanya jelas mengarah pada Naeun. Membuat gadis penyihir itu bingung sekaligus takut. Sebenarnya apa yang telah terjadi disini?

***

 

“ Ia terus menyebut nama L? ah.. mengapa begitu ya..”

Hoya menggaruk pelipisnya karena keheranan mendengar penuturan Naeun, kepalanya sesekali menoleh ke tempat tidur apartemennya, dimana Myungsoo telah terbaring disana dan masih saja mabuk dan mengigau meski semakin tidak jelas. Chorong dan Woohyun masih menjaganya di pinggir tempat tidur, sementara Sungyeol justru bersandar di mulut pintu dengan wajah bosan. Sejak tadi ia sama sekali tak menunjukkan rasa khawatir. Apa ia senang melihat Myungsoo mabuk untuk pertama kalinya? Atau ada alasan lain? Entah, ia mulai bersikap misterius lagi.

“ Myungsoo sudah tahu tentang L, ya?”tanya Eunji pelan, Naeun mengangguk.

“ Ya, aku memberitahunya.”

“ Ia mungkin ikut terpukul karena kau kehilangan seseorang yang kau cintai.” Eunji menepuk bahu Naeun, “…tenang saja, ya? Myungsoo hanya mabuk, ia pasti terkejut karena baru pertama kali mengonsumsi alkohol.”

“ Ia tidak mungkin menyembunyikan sesuatu, kan?”

“ Kau bisa tanya jika dia sudah sadar.”jawab Hoya, “…kau ingin disini menunggunya sadar? Tidak masalah, sekalian temani Hyerim disini.”

Eunji sedikit ber-aegyo, Naeun tersenyum kecil dan mengangguk setuju.

“ Ayo pulang, aku bisa diomeli Kim Sunggyu kalau masih membawa Yura di luar rumah sampai jam begini.”

Sungyeol melirik arlojinya dan mengajak Woohyun dan Chorong pulang. Chorong mulai kesal karena ia juga sadar sejak tadi Sungyeol sama sekali tidak menunjukkan kepeduliannya.

“ Lagipula Yura belum keluar dari tempat Minah di sebelah, kenapa ingin buru-buru?”sela Woohyun.

“ Kau tidak lihat Myungsoo masih mabuk?”Chorong sedikit jengkel.

“ Nanti pagi juga sadar.”

“ Sshh.. kau ini—“

“ Oke.. oke.. kita pulang sekarang.”sebelum Chorong dan Sungyeol bertengkar, Woohyun kembali menyela dan berdiri duluan sembari mengeluarkan kunci mobil dari saku jeansnya.

“ Kalian mau pulang?” Hoya berbalik dan menghampiri mereka, Sungyeol mengangguk duluan.

“ Baiklah, pulang saja. Ada kami disini, Myungsoo akan baik-baik saja.”tambah Eunji, “…Naeun juga.. akan disini bersama kami, iya kan?”

Naeun mengangguk pelan, “ Tidak apa-apa, kan? Woohyun oppa?”

“ Tentu saja. Jaga Myungsoo.”Woohyun mengelus puncak kepala Naeun, kemudian dengan lembut mencoba menarik Chorong yang masih duduk di pinggir tempat tidur.

“ Aku disini juga ya?” Chorong sedikit rewel, ia benar-benar tak ingin meninggalkan Myungsoo.

“ Terserah kau sajalah.”Woohyun akhirnya pasrah dan ingin meninggalkannya, ia tak ingin lagi bertengkar dengan gadis itu untuk kesekian kalinya, meski rasanya masih kesal melihatnya sepeduli ini dengan Myungsoo.

“ Baiklah! Aku pulang juga!” Chorong ikut berdiri dan meraih tasnya, Sungyeol tertawa sinis.

Gadis itu rupanya menghindari pertengkaran juga dengan Woohyun.

***

 

“ Yah.. kalau tahu Yura bertahan ditempat Minah, seharusnya kita tidak pulang secepat ini, haha.”

“ Diam kau.”

Woohyun geleng-geleng kepala, sepanjang jalan terus saja begini. Chorong benar-benar kesal dan Sungyeol sekarang mengganggunya. Cenayang itu benar-benar menyebalkan hari ini.

“ Lagian kau terlalu khawatir dengan Myungsoo. Dia cuma mabuk.”Sungyeol masih saja mengejeknya.

“ Tapi aku sedikit heran, kenapa dia sebut-sebut nama penyihir itu ya? hei, kau kan dukun, apa kau tahu alasannya?”tanya Woohyun.

Suasana hening sejenak.

“ Mana kutahu.”jawab cenayang itu singkat.

“ Tapi entah mengapa kurasa kau pasti tahu.”Woohyun kelihatan curiga.

“ Jangan sok tahu.”

“ Sudahlah.”Chorong sepertinya malas mendengar ocehan Sungyeol lagi.

“ Oh ya. soal taruhan tadi, kau yang menang, kan? Ambil uangnya di dompetku, tadi aku yang simpan.” Woohyun mencairkan suasana dan mengeluarkan dompet mahalnya lalu meletakkan benda itu di pangkuan Chorong yang duduk di sampingnya.

“ Ah..aku lupa berapa jumlah uangnya tadi.”

“ Ambil berapapun sesukamu.”

“ Dasar sombong.” Chorong mengembalikan dompetnya setelah mengambil yang ia mau.

“ Ya! Kenapa kartu kreditku!?”

“ Kau bilang ambil sesukaku!”

“ Uangnya, bukan kartu—“

“ Sudah nyetir saja sana, nanti nabrak.”

Woohyun memutar bola matanya dengan pasrah.

“ Chorong mengerikan sekali kalau sedang kesal, kan?” Sungyeol mulai mengoceh lagi.

“ Masih kesal ya? mau belanja dengan kartu itu biar tidak kesal lagi?”bujuk Woohyun, “…kau mau kemana? Akan kuantar sekarang.”

Sekarang Chorong sedikit tersipu dan salah tingkah.

“ Mall mungkin sudah mulai tutup jam segini. Kita ke electronic center saja.”jawabnya.

“ Kau mau beli apa?”

“ Ada. Sesuatu.”

***

 

Pagi harinya…

 

“ Hyung! Aku menunggumu disini, dan aku siap mendengar kata ‘yes’ darimu. Hehe. Loloskan aku ya :(”

 

“ Hahaha. Dasar anak ini..” Hoya tertawa membaca pesan teks yang ia terima pagi ini.

“ Kai?” tanya Eunji yang tengah mempersiapkan sarapan pagi.

“ Ya. dia audisi hari ini.”

“ Ah..  iya. Aku baru ingat. Tidur dimana dia semalam? Ia tidak pulang kesini.”

“ Sepertinya ia berlatih keras di studioku dan ketiduran disana.”

“ Ckck, pasti adikku juga disana.”

“ Biar saja, mereka sedang kasmaran.”

Hoya kembali bersiap-siap karena mobil agensi yang akan menjemputnya. Ia akan menjadi juri audisi Seoul Dance Competition seharian ini.

“ Apa Myungsoo sudah bangun?”tanya Eunji pada Naeun yang sejak tadi diam saja karena sedang mempersiapkan ramuan portalnya untuk pulang.

Gadis itu tak tahu, ia berdiri dan mengintip ke kamar tempat Myungsoo berada.

 

“ Hei, Yeoshin? Kau disini?!”

 

“ Haha, sudah kuduga Myungsoo pasti terkejut.”Hoya tertawa mendengar suara Myungsoo dari dalam.

“…manajer macam apa kau ini? Cepat siap-siap, aku sudah hendak pergi! Seharusnya kau yang urus aku dari pagi!” seru sang artis dari luar.

“ Aku sudah siapkan air panas.”kata Naeun pelan, “…Hyerim juga sudah membuat sarapan.”

Myungsoo bangkit dari tempat tidurnya dengan salah tingkah. Rambutnya acak-acakan dan wajah tampannya lusuh akibat mabuk semalam. Benar-benar memalukan.

“ Oh ya, Yeoshin.. semalam saat mabuk.. aku tidak bicara aneh-aneh, kan?”

Kau membicarakan L. Ingin sekali Naeun melontarkan kata-kata itu, ingin bertanya banyak hal karena jujur, ia begitu penasaran.

“ Nanti sunbae ingat sendiri.”

“ Ah.. baiklah..”

“ Kalau begitu aku pulang, ya. semoga harimu menyenangkan, sunbae.” Naeun membungkukkan badannya dan berlalu, Myungsoo terpaku saja di tempatnya.

 

“ Sudah mau kembali ke Junghwa?”tanya Hoya, Naeun mengangguk.

“ Ya. aku tidak bisa lama-lama meninggalkan Lin. Sampaikan maafku pada Kai. Semoga dia lolos audisi.”

“ Baiklah. Sampaikan salam kami juga untuk Lin.”pesan Eunji.

“ Kau tidak ingin ikut denganku?”

Eunji menggeleng, “ Keluargaku masih disini. Tak satupun dari kami berani pulang. Kami masih di bawah ancaman Taeyeon. Kau tahu itu kan?”

“ Aku akan coba bujuk Taeyeon. Jangan khawatir.”

“ Tidak perlu. Lagipula keluargaku mulai senang dan terbiasa tinggal di dunia modern seperti ini. Keluarga Bomi memperlakukan mereka dengan sangat baik.”

“ Syukurlah.. tapi aku janji, aku tak akan membiarkan Taeyeon gelap mata dan menghabisi kalian.”

“ Aku percaya padamu. Kalau begitu sampai jumpa lagi ya.”

Kedua gadis itu berpelukan erat, membuat Naeun merasa cukup tenang hari ini. Meski di lubuk hatinya yang terdalam, ia masih sangat berduka atas hilangnya L dari sisinya.

***

 

“ Hoya dan Minah datang!! Hoya dan Minah dataaaang!!!”

Venue audisi Seoul Dance Competition mendadak riuh ketika sebuah van tiba di lokasi dan turun dua bintang SDC dari sana dengan didampingi manajer mereka masing-masing, Myungsoo dan Yura, yang sebenarnya masih sangat kurang siap mendampingi kedua artis itu. Yura yang tadinya sudah berhenti dipaksa Minah untuk bekerja lagi dengan iming-iming gaji besar, sementara Myungsoo tak pernah bekerja banyak untuk Hoya, ia khawatir akan kebingungan seharian ini.

 

“ Wah, aura mereka benar-benar terpancar ya. bahkan manajer mereka juga cantik dan tampan..”

Eunji mendengar pembicaraan orang-orang di sekitarnya. Ia sendiri sudah berada di tengah kerumunan dan bergabung bersama keluarganya serta keluarga Yoon yang ternyata ikut mendampingi Kai yang sudah mengantri untuk mengambil nomor audisi.

Dalam situasi seperti ini, ia merasa seperti begitu jauh dengan Howon-nya. Seperti seorang penggemar dengan idolanya. Melihat kekasihnya dicintai oleh banyak orang seperti ini kadang-kadang membuatnya takut. Apalagi melihatnya berdampingan dengan Minah hampir di setiap kesempatan.

“ Woah.. Howon beda sekali ya..”Ilhoon menganga dan terus mengikuti pergerakan Hoya yang dijaga ketat oleh banyak bodyguard.

“ Siapa yang menyangka kalau dulu dia hanya pengawal istana.”sambung Daehyun.

“ Dan siapa juga yang menyangka kalau kita ini keluarga kerajaan? Lihat, kita sama saja seperti orang-orang yang berdesakan disini.”Raja Yonghwa ikut menimbrung, akhir-akhir ini ia semakin humoris karena bergaul dengan Doojoon, ayah Bomi.

“ Wah..kita benar-benar tidak ada apa-apanya disini..”

Eunji tertawa mendengarnya. Apa yang dikatakan mereka memang benar.

“ Melihat Howon sudah sesukses itu, sepertinya dia takkan kembali ke Junghwa lagi, kan?” tanya Ratu Seohyun pada Eunji.

“ Kurasa begitu. Aku menghargai apapun keputusannya.”

***

 

“ Hei, kau sudah baikan? Sudah tidak mabuk lagi, kan?”

“ Ya? ah.. tentu saja.”

Myungsoo sedikit canggung karena ia dan Yura duduk di ujung tempat audisi untuk mendampingi Hoya dan Minah yang sudah duduk di bangku juri.

“ Sepertinya ini hari pertamamu bekerja full time. Kau kelihatan kaku.”

“ Kau benar. Aku tidak siap sama sekali.”

“ Jangan khawatir. Kim Yura akan membantumu.”

“ Haha, terimakasih. Aku tidak menyangka kau kembali bekerja juga.”

“ Yah.. walaupun aku bodoh sampai tidak lulus ujian, setidaknya aku pintar mengurus Minah. Jadi sambil menunggu ujian paket, lebih baik aku kerja saja.”

“ Semoga kau berhasil di ujian berikutnya.”

“ Semoga saja. Aku sangat berharap kau yang membantuku belajar di rumah. Tapi ayah malah memanggil Sungyeol untuk tinggal dengan kami. aneh kan? Aku benci cenayang gila itu. dia orang paling aneh yang pernah kutemui.”

“ Dia baik kok.”

“ Bagiku tidak. Dia sering memarahiku, dia sering menghinaku juga. Menyebalkan.”

“ Percayalah, dia sangat baik. Kau hanya belum kenal dia sepenuhnya. Kalau dia seburuk itu, aku tak akan mau menjadi sahabatnya.”

Jinjja? Dia benar-benar baik?”

“ Hm. Dan.. masih single.”kali ini Myungsoo sedikit berbisik.

“ Ya! aku tidak tanya soal itu.”

“ Hanya sekedar informasi. Kalian sudah cukup dekat. Aku hanya memberimu rekomendasi, hehe.”

Yura sedikit kesal mendengarnya.

“ Kim Myungsoo.”

“ Ya?”

“ Kau.. benar-benar tidak menyukaiku, ya?”

“ Maksudmu?”

“ Hah.. bagaimana ya..” Yura mengacak-acak rambutnya dan menyilangkan kedua tangannya.

“…aku yakin kau tidak terlalu bodoh soal cinta. Kau pasti sadar kan selama ini aku menyukaimu? Aku bahkan tidak lulus ujian karena tidak belajar demi bertemu denganmu setiap hari. Tapi kau selalu kelihatan tidak peka. Lama-lama itu terasa menjengkelkan.”

Myungsoo sedikit terkejut karena Yura tiba-tiba membicarakan sesuatu yang tidak ingin ia bahas.

“ Aku minta maaf, Kim Yura.”

“ Hanya itu?”

“ Ya. mendengar kau bilang menjengkelkan, kurasa sekarang kau tidak menyukaiku lagi. jadi.. masalahnya selesai, kan?”

“ Ya. kau benar. Aku tidak menyukaimu lagi. tapi.. bukan karena aku jengkel.”

“ Lalu?”

“ Karena ramalan cenayang gila itu.”

Mwo?”

“ Sungyeol pernah meramalku dengan tarotnya. Sebenarnya aku tidak pernah percaya dengan hal-hal semacam itu, tapi kudengar cenayang gila itu tidak pernah meleset.”

“ Memangnya, apa yang ia katakan?”

“ Dia bilang aku harus segera melupakan perasaanku pada lelaki yang kusuka, karena sifatnya akan segera berubah.”

“…”

Myungsoo terdiam sejenak, berharap Yura meneruskan kata-katanya.

“ Aku bertanya-tanya, memangnya kau berniat untuk berubah? Memangnya kau berkepribadian ganda? Semuanya terasa aneh.”

“ Bagaimana kalau itu benar?”

“ Ya?”

“ Kutanya, bagaimana kalau itu benar?”

“ Kau.. ingin merubah sifatmu yang sudah baik ini?”

“ Aku hanya tanya bagaimana kok.”

“ Aku pasti sedih. Jika kau berpikir aku menyukaimu karena kau tampan, itu benar, tapi itu di nomor ke sekian. Yang paling aku suka darimu adalah sifatmu. Aku tak pernah menemukan lelaki sebaik dan setulus Kim Myungsoo.”

“ Sekali lagi terimakasih, Kim Yura.”

“ Jangan khawatir, aku akan tetap melupakan perasaanku. Aku tahu kau sangat menyukai Naeun. Dia beruntung sekali. Sangat bodoh jika dia menolakmu.”

Naeun. Gadis itu..

Myungsoo tak bisa berhenti memikirkannya.

 

“ Dia benar-benar sudah menolakku.”

***

 

“ Yeoshin, bagaimana ini? Ia tidak bisa berhenti..”

Suasana rumah keluarga Son menegang karena sejak tadi Lin tak berhenti menangis keras. Dongwoon dan Gain hampir putus asa membujuknya.

Ini adalah tangisan pertama Lin setelah kematian L.

“ Maafkan aku.. seharusnya aku tidak meninggalkanmu.. maafkan aku..” Naeun terus membujuknya, ia mulai ketakutan karena tak ingin ini menjadi pertanda buruk.

“ Lin! Kau kenapa!?”

Pintu rumah terbuka dan Namjoo masuk sambil berlari kecil menghampiri Lin yang masih menangis di lengan Naeun. Ia ikut panik. Sementara Taeyeon yang mengikutinya di belakang masih diam.

“ Taeyeon.. tolong aku, apa kau bisa lihat mengapa Lin—“

“ Berikan padaku.” Taeyeon membuka lengannya dan meminta Lin.

Naeun menurut, ia memindahkan Lin pada gendongan Taeyeon, penyihir wanita itu menatap cucunya dengan serius.

“ Sekarang kau baru bersedih atas kematian L?”

“ Kenapa dia bicara seperti itu pada Lin..” Dongwoon merasa heran, sedangkan Naeun masih diam dan berharap Taeyeon mengetahui penyebabnya, meski masih terlihat jelas ibu mertuanya itu masih dirundung stress berat karena tak pernah bisa menerima kematian putra tunggalnya.

“ Kau tahu sesuatu, ya? apakah sesuatu yang mengerikan?”

Tangisan Lin semakin keras mendengar setiap pertanyaan Taeyeon. Naeun benar-benar ingin mengambilnya kembali, tapi ia takut mengganggu penyihir wanita itu.

“…ya, kurasa aku benar.” Taeyeon mengelus puncak kepala Lin, “…ia mengetahui sesuatu. Sayang sekali aku tidak bisa menggalinya.”

“ Apa yang kau ketahui?” tanya Namjoo dengan aegyo untuk menghibur penyihir kecil itu.

“ Cari cara dulu untuk menghentikan tangisannya. Aku akan mencari cara untuk mencari tahu apa yang Lin pikirkan. Aku yakin ini ada hubungannya dengan L.” jelas Taeyeon.

Naeun kembali menurut, ia bergegas membuka lemari ramuannya dengan sedikit  panik, mencari-cari ramuan yang sekiranya bisa membuat Lin tenang, ia dibantu oleh kedua kakaknya.

Sementara Taeyeon meminta Namjoo untuk membawakan buku sihir milik L, membolak-balik halamannya sembari menahan telinganya yang sakit karena Lin terus saja menangis.

 

Tap.

Lin menempatkan tangannya pada satu halaman yang baru saja dibuka oleh Taeyeon.

“ Bukankah itu halaman yang pernah kita baca di perpustakaan istana?”tanya Namjoo setelah memperhatikan isinya.

Lin mengangguk pelan, jari mungilnya menunjuk kalimat yang sepertinya harus dibaca oleh Taeyeon.

“ Tidak mungkin..”

Taeyeon membacanya, dan wajahnya memucat.

***

 

Night in Seoul, 08.00 PM

 

“ Hah.. untung saja kau berada di ruang audisi! Berkatmu aku lolos, terimakasih hyung! Tidak sia-sia aku mengantri dari subuh dan selesai audisi malam begini.”

Kai masih kegirangan dan tak mau melepas amplop yang ia terima dari dewan juri. Ia begitu bahagia karena akhirnya lolos audisi Seoul Dance Competition Season 2.

“ Hei.. bukannya berkat Hoya? Aku kebetulan disana karena aku manajernya..” jawab Myungsoo sambil memanggang daging untuk adiknya itu.

“ Tapi kau menyemangatiku, hyung! Aku justru tidak menyangka Hoya menjadi juri killer begitu. Bahkan yang memberikan amplop ini adalah Minah, bukan dia.”

“ Mungkin agar tidak terlalu tampak kau meminta bantuannya dari sebelum audisi. Lagipula aku tahu kau sangat mampu, tanpa minta backing pun kau pasti lolos.”

“ Ini berkatmu juga, hyung. Aku tidak punya semangat untuk menari jika bukan karenamu.”

“ Benarkah? Ah.. berarti aku membuatmu kelelahan karena terus menari. Kalau begitu makanlah yang banyak.” Myungsoo memberikan semua dagingnya untuk Kai.

“ Hah.. walaupun aku lolos, aku sedikit kesal dengan Hoya. Aku tidak bisa membayangkan jika dia mengkritik aku saat pentas di depan jutaan mata.”

“ Kalau begitu berusahalah agar tidak dikritik. Lagipula Hoya mau menjadi koreografermu, kan? Dia meluangkan waktu sibuknya untukmu.”

“ Iya sih. Oh ya, hyung merasa nyaman saja kan menjadi manajernya? Dia tidak galak, kan?”

“ Aku baru bekerja hari ini. Tapi tentu saja aku merasa nyaman, dia orang yang sangat baik. Dia tak pernah membandingkan aku dengan sahabat aslinya.”

“ L?”

Myungsoo mengangguk.

“ Menurutmu sendiri bagaimana, Jongin-ah?”

“ Maksudmu?”

“ Apa perbedaanku dengan L?”

“ Haha. Kenapa tanya itu? tentu sangat beda. Yah.. walaupun L sudah lebih baik. Sayang sekali hidupnya terlalu singkat disaat ia berniat untuk berubah.”

“ Kau.. sudah tahu?”

“ Hm. Hoya yang bilang padaku.”

“ Bagaimana perasaanmu?”

“ Bagaimana ya.. tentu saja aku sedih. Tapi aku tidak harus tenggelam dalam duka, kan? Sudah ada kau disini.”

Myungsoo tersenyum tipis dan mengelus puncak kepala adik lelakinya itu.

“ Kalau begitu jangan pernah membuat hyungmu ini kecewa, oke?”

“ Aku janji. Aku akan memenangkan kompetisi ini, aku akan lebih terkenal dari Hoya dan memberikanmu segalanya.”

“ Jangan lupakan sekolahmu, dasar berandal.”

“ Hahaha. Untuk saat ini, bantu aku dulu ya?”

Myungsoo mengangguk dan tersenyum, ia memang sudah berjanji untuk membantu semua tugas sekolah Kai selama adiknya itu mengikuti kompetisi agar nilainya tetap stabil.

“…aku akan benar-benar berhutang padamu. Kalau aku sudah menang dan dapat hadiahnya, kau ingin apa, hyung? Apa aku serahkan saja semuanya untukmu ya..”

“ Hmm.. aku ingin kau menggunakan hadiahnya untuk masa depanmu sendiri.”

“ Aku pasti akan menyisihkannya untukku sendiri. Aku bertanya apa yang kau inginkan.”

“ Ya.. itu yang kuinginkan, aku ingin semuanya digunakan untuk masa depanmu.”

Hyung, kau serius?”

“ Hm. Anggap saja kau sudah berikan hadiahnya padaku, kemudian aku gunakan untuk memberimu dana masa depan. Karena hadiah itu sudah menjadi hak milikku, aku boleh menggunakannya sesukaku, kan?”

“ Dan kau menggunakannya untuk membiayai masa depanku?”

Myungsoo mengangguk.

“…bagaimana denganmu?”

“ Aku? Aku akan mengaturnya sendiri. Tanggung jawab utamaku adalah kau dulu, Jongin. Walaupun kita saudara, tapi kita punya masa depan masing-masing, dan aku ingin masa depanmu cerah.”

“ Selama masih ada hyung, aku yakin masa depanku akan baik.”

“…”

Myungsoo menggigit bibirnya, menahan sesuatu yang mendadak sesak di dadanya. Ia menggeleng pelan.

“ Kau akan menjalani masa depanmu dengan orang yang kau cintai. Siapa itu? Krystal Jung? Ah.. apalagi dia anak raja. Kau harus mati-matian membahagiakan dia. Jangan pikirkan aku.”

Kai terdiam. Meski perkataan sang kakak ada benarnya, mengapa ini membuatnya sedih?

***

 

[Buku Hukum Sihir halaman 1221, tentang pemakaian tubuh secara permanen dan sementara]

 

Pemakaian tubuh permanen :

Penyihir yang memiliki tato pada tubuhnya mampu menggunakan tubuh orang lain selamanya hanya dengan dua syarat, pemilik tubuh yang sebenarnya haruslah orang yang sudah mati, dan orang tersebut haruslah manusia biasa, bukan sesama penyihir.

Resiko :

  1. Tubuh yang dimiliki seutuhnya tak hanya ciri fisik yang terlihat di luar. Tapi termasuk golongan darah dan penyakit.
  2. [terhapus]

 

Catatan : *) Resiko dalam “pemakaian tubuh permanen” tidak berlaku apabila penyihir tersebut menggunakan tubuh sisi baiknya.

 

 

“ Ini yang ditunjuk oleh Lin?”tanya Naeun.

Taeyeon mengangguk.

“ Tepatnya yang ini.”

Taeyeon menunjuk poin kedua yang memiliki keterangan “[terhapus]”

“…kurasa Lin mengetahui resiko yang terhapus itu.”

“ Mengapa di bukunya terhapus?”tanya Namjoo tak mengerti, sebab notabene ia adalah manusia biasa yang belum sepenuhnya menguasai pengetahuan sihir.

“ Aku pernah dengar masalah halaman 1221 ini saat dulu sekolah sihir. Katanya, isi poin nomor dua sepakat dihapus oleh para penyihir terdahulu karena mengandung rahasia.” jelas Gain.

“ Tapi hanya penyihir nomor satu yang bisa mengetahui isinya.”sambung Dongwoon.

“ Kalian benar.”jawab Taeyeon, “…aku sendiri tidak pernah tahu apa resiko kedua ini. Tapi jika sekarang kita punya masalah dengan poin ini, aku harus mengetahuinya.”

Lin, yang sudah tenang karena meminum salah satu ramuan yang berhasil ditemukan Naeun, kini nampak diam dan pelan-pelan jemari kecilnya kembali menyentuh halaman buku sihir yang masih terbuka itu.

“ Taeyeon~”

Ia bersuara pelan dan meski masih tak begitu jelas, ia memanggil Taeyeon, meminta penyihir wanita itu melihat kembali bukunya.

Omo! Ada tulisan baru!” Namjoo melihatnya duluan, Lin menggesekkan telunjuknya di atas tulisan “terhapus” itu hingga huruf-huruf baru terbentuk disana.

Taeyeon menyadarinya, ia segera membaca tulisan itu setelah Lin selesai dengan sihirnya.

 

[terhapus] Tubuh asli penyihir yang menggunakan harus diletakkan di tempat yang aman dan tak terjangkau oleh apapun dan siapapun. Karena jika tubuh asli itu terbakar, maka sang penyihir akan benar-benar mati, sekuat apapun dia.

 

Suasana hening sesaat.

“ Apa.. Lin membicarakan Hyoyeon?”

Namjoo membuka suara.

“ Yah.. kupikir karena..Hyoyeon memakai tubuh orang lain sampai ia mati, tubuh Hong Yookyung. Tubuh aslinya sudah rusak akibat tersiram satu rak ramuan pembunuh saat berkelahi dengan L di villa ilusinya. Itu karena kebodohan seorang cenayang bernama Sungyeol.”

BRAK!

Taeyeon memukul meja dan bangkit, ia langsung memegangi kepalanya yang mendadak pening.

“ Taeyeon.. kau baik-baik saja?”tanya Naeun khawatir.

“ Namjoo benar.”lirihnya, Lin juga tidak menunjukkan reaksi apapun, itu artinya ia membenarkan pendapat Namjoo.

“ Jadi maksudnya.. saat ini Hyoyeon belum benar-benar mati?”tanya Dongwoon.

“ Keistimewaan penyihir nomor satu memang tak pernah ada habisnya.”geram Taeyeon, saat ini ia sudah benar-benar memahami alasan Lin menangis keras seharian.

“… begini, Hyoyeon sudah mati. untuk saat ini, ia mati. tapi..” Taeyeon merasa tak tenang dan tak sanggup menjelaskannya.

“ Ia belum benar-benar masuk ke dalam kegelapan?”tebak Naeun.

“ Ya. kau benar, Son Yeoshin. Ia berada di ambangnya, karena ia mati dengan tubuh Yookyung, dan jasad aslinya belum dihancurkan.”

“ Lalu apa yang membuatmu segusar ini? Setidaknya Hyoyeon tidak kembali ke dunia kita, kan?”tanya Gain.

“ Pikirkan kembali. Ia penyihir nomor satu, dan ia punya keistimewaan. Dengan jasadnya yang belum hancur, ia bisa bangun kembali dengan jasad aslinya.”

“ Benarkah? Aku tidak pernah dengar hukum seperti itu.”

“ Karena hukum itu hanya disebutkan dalam lingkungan keluarga penyihir Kim, keluarga kami, keluarga para penyihir hebat. Aku masih ingat, dulu saat Hyoyeon lahir, ibu kami berkata, ‘kau hanya akan mati jika tubuh ini hancur atau terbakar’. Dan ayah kami mengatakan ‘bahkan jika arwahmu sudah tiba di depan pintu kegelapan terlebih dahulu, kau hanya perlu memburu dan membunuh musuhmu, kemudian hidup kembali dengan kekuatan yang lebih besar’.  Itu artinya..”

“ Artinya Hyoyeon hanya perlu membunuh musuhnya di ‘ambang kematian’ itu untuk bisa hidup kembali?” tanya Gain.

“ Ya. dan tebak siapa musuhnya?”

“ L.” jawab mereka serentak.

Naeun menunduk dan meremas rambut indahnya.

“ Dan saat ini L juga pasti berada di ambang kematian. Satu-satunya hal yang membuatku stress setiap hari adalah karena aku mengetahui fakta itu, fakta bahwa anakku belum memasuki kegelapan dan aku tak tahu cara menariknya keluar dari sana.”jelas Taeyeon, tangannya mengelus puncak kepala Lin.

“…dan berkat putra kecil kita, sekarang aku tahu L kembali terancam. Hyoyeon jelas sedang memburunya.”

“ Tunggu.. mengapa kau yakin L belum memasuki kegelapan?”tanya Naeun, pikirannya mendadak tertuju pada igauan mabuk Kim Myungsoo yang ia dengar kemarin malam.

“ Penyihir dengan tato di tubuhnya bisa mencari perlindungan ke alam bawah sadar sisi baiknya sebelum ia ditelan kegelapan. Tak banyak yang bisa melakukan itu karena tak banyak penyihir yang mengenal sisi baiknya, seperti Madame Sunny.”

“…tapi L, dia mengenal Kim Myungsoo, kan?”

Naeun memucat.

Apa ini alasan mengapa Myungsoo terus menyebut nama L saat mabuk? Apa ia bertemu L dalam setiap tidurnya? Apa L meminta pertolongan padanya?

Ribuan pertanyaan berkecamuk di kepalanya. Mengapa ia begitu terlambat menyadari hal ini?

***

 

Sungyeol masih bersandar di mulut pintu salah satu kamar rumah Yura -tempat ia tinggal saat ini-, memperhatikan seorang lelaki yang sedang tertidur pulas di dalam sana.

“ Apa Sungyeol memang seaneh itu?”Yura menghampiri Sunggyu yang sedang membaca di meja kerjanya.

“ Ya. bahkan di SMA Junghwa juga tersebar berita kalau dia gay.”jawab Sunggyu santai.

“ Hah!? YA! mengapa aku baru tahu?! ah, pantas saja..” Yura sedikit bergidik melihat lelaki yang tengah membelakanginya itu, “…kalau tahu dia seaneh itu, mengapa menyuruhnya tinggal disini?”

“ Karena itu bagus. Kau bisa punya teman belajar laki-laki yang tak perlu kukhawatirkan melakukan hal-hal aneh padamu.”

Benar juga. Tapi ini membuat Yura semakin ‘benci’ dengan Sungyeol, meski sudah berulang kali Myungsoo meyakinkannya bahwa cenayang itu sebenarnya lelaki yang baik.

 

“ Hei, bisakah kau berhenti memperhatikannya?” Yura akhirnya menghampiri lelaki jangkung itu sembari memberinya satu mug minuman.

Wae? Aku suka melihat Myungsoo tidur. Setiap malam aku seperti ini di asrama. Setelah lulus agak sulit jadinya.” jawab lelaki itu santai sambil meneguk minumannya, Yura semakin bergidik.

“ Heh, apa kau tahu kau disebut gay di sekolahmu??”

“ Tahu kok.”

“ Hah?”

“ Kaget, ya?”

“ Tidak mungkin..”

“ Kau mungkin akan lebih kaget lagi jika tahu pria yang kita sukai adalah pria yang sama.”

Kedua mata Yura membesar.

“ M..Myung..soo?”

“ Hm.”

“ Kau gila, ya? tidak mungkin..”

“ Sudahlah, itu dulu.”

“ Lalu sekarang pria mana yang kau sukai?”

“ Aku menyukaimu.”

M..mwo!?”

“ Haha.” Sungyeol hanya tertawa ringan, “…pergi sana, aku tidak mau menjawab pertanyaan bodohmu lagi.”

“ Kau yang pergi sana, ini rumahku!”omel gadis itu, namun tetap ia yang pergi dari sana.

“ Kim Myungsoo belum bangun?”tanya Sunggyu saat Yura melintasinya, dan gadis itu menggeleng saja.

Setelah makan malam dengan Kai, rupanya Myungsoo tidak pulang ke apartemen Hoya, ia mengunjungi Sungyeol untuk bertanya tentang ramalan yang Yura beritahu padanya.

Dan tentu saja, ia belum mendapatkan jawaban memuaskan dari sahabatnya yang terus bersikap misterius hingga sekarang itu. Ia justru tertidur karena lelah seharian mendampingi Hoya.

 

Sungyeol tersenyum tipis, masih tak melepas pandangannya dari Myungsoo yang terlelap.

“ Kau tidak hanya lelah, Kim Myungsoo. Kau pasti berharap bertemu seseorang di alam bawah sadarmu.”

*

 

“ Sepertinya teman cenayangmu itu tahu sesuatu tentang kita.”

“ L!?”

Myungsoo terduduk dan mendapati L bersandar di jendela kamar tempat ia tidur. Meski terlihat lemah, ia masih mempertahankan gaya angkuhnya.

Sang penyihir melambaikan tangannya dengan senyum tipis, Myungsoo menghela nafas lega.

“ Syukurlah, syukurlah kau masih disini, L. kemarin kau bilang pertemuan terakhir, aku sangat takut.”

“ Aku juga heran mengapa masih bisa bersarang di alam bawah sadarmu.”

“ Apa karena kau tertarik dengan penawaranku yang kemarin?”

L terdiam sejenak.

“ Lupakan saja soal itu. kehidupanmu terlalu berharga untuk kau serahkan padaku.”

Myungsoo bangkit dari atas tempat tidur, menghampiri L dan menepuk bahu sisi jahatnya itu.

“ Kau boleh menolaknya sekarang. Tapi kapanpun kau berubah pikiran, aku siap.”

“ Myungsoo, kau—“

“ Jangan lama-lama berpikirnya, L. kau tak bisa selamanya berada disini,kan?”

“ Ya. bahkan sekarang, aku terancam.”

“ Terancam?”

“ Hm. Pertarunganku dengan Kim Hyoyeon belum sepenuhnya selesai. Bahkan setelah kami sudah saling membunuh di dunia, kami masih harus melanjutkan perang dalam kehampaan ini.”

“ Aku belum begitu mengerti maksudmu, L.”

“ Begini.. aku salah tentang Hyoyeon. Aku pernah bilang bahwa dia sudah ditelan kegelapan, ternyata belum. Aku baru menyadari ia mati dengan tubuh orang lain, jasad aslinya belum hancur.”

“ Jadi maksudmu, ia bisa hidup lagi?”

“ Ya, menjadi penyihir lebih kuat. Tapi dengan satu syarat, ia harus membunuhku dulu disini. Atau.. dengan kata lain, ia harus menemukanku dan menyeret paksa aku ke dalam kegelapan.”

“ B..benarkah? apa itu salah satu hukum bangsa penyihir?”

“ Hm. Mengerikan, bukan? Kau harus bersyukur terlahir sebagai manusia biasa.”

“ Lalu bagaimana, L? apa yang terjadi jika Hyoyeon menemukanmu? Katakan padaku kalau itu tak mungkin terjadi. Kau bersamaku, L. kau pasti aman, kan?”

“ Aku harap begitu. Duniaku sekarang begitu sempit, jiwaku melayang-layang tanpa arah, Hyoyeon juga demikian, ia bisa menemukanku kapan saja.”

L menunduk, ia sangat benci menangis dan terlihat lemah, tapi ia benar-benar ketakutan saat ini.

“… jika saja aku tidak memiliki Taeyeon, Lin, dan Yeoshin.. mungkin aku akan pasrah saja. Tapi aku memiliki mereka. Dan jika Hyoyeon berhasil membunuhku lagi disini lalu hidup kembali menjadi penyihir yang lebih kuat, mereka akan terancam. Aku sungguh tidak sudi itu terjadi.”

“ Apakah penawaranku itu bisa membantumu mengatasi masalah ini?”

L mengacak-acak rambutnya dengan gusar.

“ Aku tak mau mengorbankan orang lain lagi, Kim Myungsoo. Lupakan penawaran itu.”

“ Baiklah. Aku tak akan memaksamu sekarang. Tapi adakah yang bisa kulakukan untuk menolongmu? Aku bisa membayangkan betapa berbahayanya posisimu sekarang.”

“ Bisakah kau sampaikan masalah ini pada Yeoshin? Aku takut keluargaku belum tahu tentang ini. Mereka harus menemukan jasad Hyoyeon untuk dihancurkan. Dan kumohon pandai-pandailah menyampaikannya, jangan sampai Yeoshin tahu aku ada disini.”

“ Itu tidak mudah. Tapi, akan kucoba. Dengan satu syarat.”

“ Syarat? Apa itu?”

 

“ Pikirkanlah baik-baik penawaranku. Itu saja.”

***

 

“ Kita harus menemukan jasad Hyoyeon, untuk dihancurkan.”

Taeyeon mencetuskan idenya. Sejak tadi ia terus mondar-mandir sambil berpikir keras. Sedangkan Naeun masih melamun karena putus asa.

“ Tapi kita tak tahu dimana jasad aslinya ia sembunyikan.”sahut Dongwoon.

“ Kim Namjoo, kau pasti tahu.”Taeyeon melirik gadis remaja yang sejak tadi diam saja sejak pembicaraan di dalam rumah membahas tentang Hyoyeon.

Namjoo mengangguk pelan. Namun membayangkan Taeyeon menghancurkan jasad Hyoyeon, ia begitu sedih, karena wujud asli Hyoyeon menyerupai mendiang ibu kandungnya, yang tak lain adalah sisi baik Hyoyeon. Ia tak akan sanggup melihat pemandangan itu.

“ Dimana jasad itu disimpan?”tanya Taeyeon dengan tatapan tajamnya.

“…”

Gadis itu bungkam. Ia tak mungkin memberitahunya semudah itu, kan?

“ Kau tidak ingin memberitahukannya padaku?”

Nada suara Taeyeon mulai meninggi, Namjoo mulai gemetar namun berusaha teguh pada pendiriannya.

“ Aku akan beritahu. Tapi.. dengan satu syarat.”

“ Kau mencoba menawar denganku!?”

“ Taeyeon.. turuti saja. Ini pasti berat bagi Namjoo memberitahukan dimana jasad itu berada, bagaimanapun juga Hyoyeon adalah ibunya.”sela Naeun, Namjoo tersenyum tipis karena penyihir baik itu membelanya.

“ Hah…” Taeyeon sedikit mendengus kesal dan melipat kedua tangannya.

“…oke, apa yang kau inginkan, Kim Namjoo?”

“ Aku.. ingin.. kau tidak lagi berniat membunuh keluarga kerajaan. Itu saja.”

Taeyeon tertawa sinis mendengarnya, sementara Dongwoon, Gain, bahkan Naeun tak menyangka justru syarat itu yang diinginkan oleh Namjoo.

“ Mereka sudah berkonspirasi dengan Hyoyeon untuk membunuh anakku, apa menurutmu aku bisa memaafkan mereka?”tanya penyihir wanita itu dengan sedikit jengkel.

“ Mereka menyesali semuanya, Taeyeon. Mereka tak tahu bahwa akibatnya sampai seperti ini. Jika kau tidak mau mengabulkan permintaanku, tidak apa-apa. Aku tak akan beritahu dimana jasad asli Hyoyeon berada.”

“ Anak ini..” Taeyeon mulai gemas dan hampir saja menghajarnya, namun Dongwoon buru-buru menghentikannya.

“ Syaratnya tidak berat, Taeyeon. Lagipula tak ada untungnya kau membunuh keluarga kerajaan, L tidak akan kembali.”

“ Hah sialan..” Taeyeon benar-benar jengkel hari ini, “…baiklah, aku tak akan berniat membunuh mereka lagi. puas?”

“ Benarkah?”Namjoo terdengar lega. Taeyeon mengangguk saja. Wanita itu terpaksa mengabulkan keinginan Namjoo karena ini jalan satu-satunya untuk membunuh Hyoyeon hingga benar-benar mati.

“…kau dengar itu, Naeun? Kau harus beritahu mereka untuk segera pulang dari dunia nyata. Keadaan disini sudah aman.”Namjoo mengguncang-guncang lengan Naeun dengan gembira.

“ Benarkah, Taeyeon? Kau memaafkan keluarga kerajaan?”tanya Naeun memastikan.

“ Terpaksa.”jawab Taeyeon pendek, “…Kim Namjoo, jangan lupakan janjimu juga padaku.”

Namjoo mengangguk pelan. Meski berat, ia tak akan mengingkarinya.

“ Lin sudah tidur, ia baik-baik saja. Naeun, jika kau ingin pergi lagi ke dunia nyata untuk memberi kabar pada keluarga kerajaan, kau bisa pergi sekarang. Aku akan menjaga Lin.”ucap Gain.

“ Yah.. lagipula aku harus menemui Myungsoo sunbae, aku ingin memastikan apakah L memang bertemu dengannya atau tidak. Aku berharap ia mau terbuka padaku.”

Naeun bangkit dan mempersiapkan ramuan portalnya lagi. sebenarnya pulang pergi dari Junghwa dan dunia nyata cukup melelahkan dan memusingkan baginya.

Namun mengingat ia bisa terus bertemu Myungsoo membuatnya merasa ini bukan masalah, setidaknya ia bisa mengobati kerinduannya pada L melalui lelaki itu.

***

 

“ Myungsoo lama juga ya kalau tidur. Tidak masalah sih kalau ia ingin menginap disini malam ini.”

Kali ini Sunggyu yang menghampiri Sungyeol. Mungkin gemas juga melihat Sungyeol yang tak juga beranjak dari mulut pintu sejak Myungsoo tidur disana.

“ Ia mungkin sedang mimpi indah.”jawab Sungyeol singkat, “…akhir-akhir ini Myungsoo banyak tidur.”

“ Apa dia sudah memutuskan untuk kuliah dimana dan jurusan mana?”

Sungyeol mengangkat bahunya dan menggelengkan kepalanya, Sunggyu sedikit heran.

“…aku sudah merekomendasikannya di jurusan Matematika Universitas Seoul. Dengan nilai ujiannya yang setinggi itu saja ia bisa lolos tanpa tes.”

“ Ia bahkan belum memutuskan akan kuliah atau tidak.”

“ Apa karena pekerjaannya sebagai manajer Hoya Lee?”

“ Bukan. Bukan itu.”

“ Lalu?”

“ Woah, aku baru tahu kau begitu peduli dengan Myungsoo.”Sungyeol tertawa mengejek. Merasa sudah lulus dari SMA Junghwa, bersikap kurang ajar sedikit pada Kim Sunggyu sama sekali bukan lagi masalah baginya.

“ Dasar berandal. Pikirkan juga kuliahmu, besok hari pendaftaran.”

Benar juga.

Besok adalah hari pertama pendaftaran masuk universitas.

Sungyeol masih memperhatikan Myungsoo yang belum terbangun dari tidurnya.

 

“ Haruskah aku memaksamu, Kim Myungsoo? Agar kau tidak bisa pergi meninggalkan aku dan Chorong.”

***

 

“ Hei, kau pulang?”

Woohyun sedikit terkejut melihat Naeun berada dalam kamar mewahnya. Adik angkatnya itu tersenyum dan mengangguk.

“…sepertinya kau tahu aku sedang sendirian di rumah. Akhirnya aku punya teman.” Woohyun masuk ke dalam kamarnya dan duduk di balkon.

“ Tadinya aku ingin menemui Myungsoo sunbae, tapi aku tidak menemukannya di apartemen Hoya, katanya malam ini ia menginap di rumah Yura.”

“ Benarkah? Ah.. mungkin karena ada Sungyeol disana. Apa mereka ada urusan penting?”Woohyun jadi penasaran.

“ Entahlah. Besok saja aku menemuinya, hari sudah malam begini.”

“ Kalau boleh tahu, apa ada sesuatu yang penting sampai kau ingin menemui Myungsoo?”

“ Ya, oppa. Sangat penting sampai aku tak sabar bertemu dengannya lagi.”

“ Apa ada hubungannya dengan mabuknya semalam?”

“ Tebakanmu tepat.”

“ Kau berpikir ia tahu sesuatu tentang L?”

“ Memang aneh dan kurang masuk akal, tapi aku berpikir begitu.”

Woohyun menghampiri Naeun yang sejak tadi melukis sambil berbicara dengannya.

“ Gambar apa ini?”

“ Ini.. motif tato di tubuh L.”

“ Kau pasti sangat merindukannya.”

“ Kau sudah tahu tentangnya?”

“ Hm, dari Sungyeol.”

“ Sungyeol? Dari mana Sungyeol sunbae tahu tentang L?”

Woohyun menggelengkan kepalanya, “ Kukira Sungyeol bercanda saja. Tapi melihatmu akhir-akhir ini murung, kurasa perkataannya benar. Apa yang sudah terjadi pada L?”

“ Ceritanya panjang, oppa.” Naeun tak mau bicara banyak karena hanya akan menyakitkan hatinya. Woohyun mengusap bahunya dengan lembut.

“ Kalau begini, aku jadi tidak tega meninggalkanmu ke Amerika. Kecuali kau ingin tinggal di Junghwa selamanya.”

“ Kau jadi pergi ke Amerika dengan Chorong sunbae?”

“ Ya. Kami sudah mendaftarkan diri. Aku ingin cepat-cepat kesana sebelum Chorong berubah pikiran.”

“ Jadi.. rumah ini akan kosong?”

“ Tidak, jika kau ingin melanjutkan sekolahmu di SMA Junghwa dan tinggal disini.”

Naeun mulai bimbang.

“ Sejujurnya aku masih tidak tahu, oppa. Yang bisa kulakukan saat ini hanyalah pulang pergi dengan ramuan portal. Lin belum genap berusia setahun, aku belum bisa membawanya kesini. Tapi aku juga menyayangkan jika rumah sebesar ini kosong,dan rasanya rugi juga jika aku tidak melanjutkan sekolahku disini.”

“ Kau harus mempertimbangkannya baik-baik.”

“ Tapi.. untuk saat ini, aku cenderung berencana untuk tinggal di Junghwa saja selamanya.”

Jinjja? Mengapa begitu?”

“ Aku ingin segera keluar dari kehidupan Myungsoo sunbae. Melihatnya setiap hari membuat perasaanku tak karuan. Aku tak akan bisa melupakan L jika masih berhubungan dengannya.”

“ Jadi.. kau ingin menghilang dari Myungsoo?”

Naeun mengangguk pelan meski lubuk hatinya masih diselimuti keraguan.

“ Kau yakin? Ingin meninggalkan lelaki sebaik dia? Aku saja menyesal sudah memusuhinya bertahun-tahun. Disaat aku ingin bersahabat lebih lama dengannya, aku harus ke Amerika. Aku benar-benar menyesali itu.”jelas Woohyun.

 

“…lelaki seperti Kim Myungsoo, belum tentu bisa kau temukan lagi. ia bukan orang yang pantas disia-siakan. Aku tak ingin kau menyesal sepertiku, Son Naeun.”

***

 

“ Jangan! Kubilang jangan yang itu! aku benci bahasa Inggris!”

“ Aku akan klik enter..

“ Jangaaan!!”

Chorong tertawa puas mengerjai Sungyeol pagi ini. Myungsoo ikut tertawa melihat tingkah kedua sahabatnya.

Hari ini hari pertama pendaftaran untuk masuk universitas secara online. Ketiga sahabat itu berkumpul di salah satu kedai sarapan untuk membantu Sungyeol mendaftarkan diri.

Konyolnya, cenayang itu rupanya belum memutuskan akan kuliah dimana, terlebih jurusannya, ia masih bimbang dan hanya bolak balik membatalkan pilihannya.

“ Kau akan didahului orang lain kalau lama begini..” Chorong mulai gemas, Sungyeol yang masih bingung melirik Myungsoo.

“ Kalau begitu Myungsoo saja dulu. Tinggal input saja, kau sudah direkomendasikan si killer Gyu ke jurusan matematika Universitas Seoul.”

Ehek!

Myungsoo tersedak mendengarnya, Chorong ikut terkejut.

“ Benarkah? Woah.. tunggu apa lagi, Myung? Cepat daftar.”

“ Eh, tidak.. aku belum berpikir untuk kuliah..” Myungsoo nampak gelagapan.

“ Mau dikemanakan otak pintarmu kalau tidak kuliah? Aku yang biasa-biasa saja nekat ke Amerika. Ayolah..” bujuk Chorong, Myungsoo masih benar-benar bimbang.

“ Ah.. aku jadi punya ide..”

Sungyeol kembali sibuk dengan laptopnya.

“…ya. aku sudah resmi daftar.”

Mwo?! Dimana? Jurusan apa?” Chorong dan Myungsoo terkejut karena Sungyeol membuat keputusan tiba-tiba.

“ Universitas Seoul, jurusan matematika.”

“ Apa? Kau gila!? Bukannya kau benci matematika? Nilaimu saja anjlok.” Chorong tak habis pikir.

“ Yah.. aku pasti akan sangat menderita di jurusan ini. Aku perlu teman pintar yang bisa membimbingku hingga lulus.”jawab Sungyeol enteng sembari tersenyum penuh arti pada Myungsoo.

“ Aigoo.. Lee Sungyeol, kau benar-benar..” Myungsoo geleng-geleng kepala dan menjadi dilema. Sementara Sungyeol tersenyum licik secara rahasia karena strateginya sepertinya akan berhasil.

Dan memang berhasil, sebab Myungsoo mengambil alih laptopnya, dan pada akhirnya mendaftarkan dirinya tanpa banyak bicara.

“ Jadi kalian akan kuliah bersama? Ah.. aku benar-benar iri. Kalian pasti melupakan aku.”Chorong merasa sedih karena ia menjadi satu-satunya yang kuliah di tempat yang jauh.

“ Kau juga sudah bersama Woohyun. Yang ada kami yang akan kau lupakan.”balas Sungyeol, Chorong buru-buru menggeleng.

“ Itu tidak mungkin. Setiap liburan aku akan kesini, dan saat kalian wisuda, pasti aku datang. Pegang kata-kataku.”

“ Janji ya tidak saling melupakan?” Myungsoo mengajak kedua sahabatnya untuk mengikat janji.

“ JANJI!”

 

“ Bahkan jika aku kembali meninggalkan kalian seperti dulu. Akankah kalian tetap memegang janji ini?”

***

 

Hyung, bisakah aku istirahat sebentar?”

Hoya menghela nafas kesal dan akhirnya mematikan musik yang membahana di dalam studio pribadinya, kemudian melempar sebotol air mineral ke arah Kai.

“ Baru hari pertama setelah lolos audisi, mengapa kau malah kurang konsentrasi?” sang artis sedikit mengomel sembari duduk di samping Kai yang tengah meneguk minumannya.

“ Myungsoo hyung.”

“ Ya? kenapa Myungsoo?”

“ Dia yang membuatku begini.”

“ Apa yang terjadi?”

“ Entahlah. Firasatku buruk saja. Ia tidak kelihatan antusias dengan masa depannya sendiri. Dia juga berbicara seolah-olah akan pergi. Aku jadi takut.”

“ Benarkah?”

“ Apa ia pernah mengatakan sesuatu padamu?”

“ Belum, sih. Tapi.. kemarin ia sempat mabuk. Dan selama mabuk, ia terus menyebut nama L. aku tidak mengerti juga.”

Kai semakin khawatir. Perasaannya benar-benar tidak nyaman setelah makan malam dengan kakaknya kemarin.

“ Anggap saja jika firasatku benar, aku tidak rela jika Myungsoo hyung meninggalkan aku lagi. Hanya dia satu-satunya keluarga yang aku miliki. Jujur, aku lebih rela kehilangan Krystal daripada Myungsoo hyung.”

“ Ya, aku me—“

 

“ Apa!!? Kau rela kehilangan aku!?”

“ Krystal?”

Kai buru-buru mengejar Krystal yang baru saja datang, Hoya ikut terkejut dan hanya bisa menggelengkan kepalanya.

“…Krystal! Tunggu! Aku bisa jelas—“

“ Jangan kejar aku!”

Gadis itu berbalik dengan mata melotot, membuat kaki Kai otomatis terkunci dan tak berani lagi mengejarnya, ia terpaksa membiarkan Krystal pergi dengan marah.

 

“ Hah! Sial!”

***

 

“ Wah, kita benar-benar akan merindukan tempat ini..”

Myungsoo, bersama Chorong dan Sungyeol berjalan beriringan menyusuri lingkungan asrama SMA Junghwa. Mengenang masa-masa sekolah mereka disana.

Asrama masih tergolong sepi karena para siswa masih libur, meski tahun ajaran baru sudah cukup dekat. Hanya beberapa siswa saja yang sudah pulang ke asramanya.

“ Ah.. ruang redaksi. Aku akan rindu saat-saat aku menunggu buletin dicetak setiap hari selasa.”kenang Myungsoo, ia mengingat pekerjaan kecilnya sebagai loper buletin selama sekolah.

“ Aku akan merindukan lapangan basket ini. Satu-satunya tempat dimana Woohyun terlihat bersinar.”Chorong menatap lapangan basket yang biasanya ramai setiap Woohyun mengajak Myungsoo untuk duel.

“ Dan aku akan merindukan ruangan Kim Sunggyu, tempat aku dihukum semalaman.”sambung Sungyeol.

Mereka tertawa bersama dan mengambil beberapa gambar disana dengan kamera Myungsoo. Mungkin ini akan menjadi saat terakhir mereka mengunjungi sekolah ini.

Hingga kaki mereka terhenti di depan pintu sebuah ruangan di sudut asrama putra yang terkunci dengan tali kawat di sekeliling gagang pintunya.

Ruang penyimpanan mayat.

“ Dari semua ruangan di sekolah ini. Bukankah tempat ini yang seharusnya paling berkesan?”tanya Myungsoo dengan nada haru, tangannya mulai membuka lilitan kawat di gagang pintunya.

Chorong menepuk bahu Sungyeol, cenayang itu kelihatan sedih, mungkin karena mengingat saat-saat ia merahasiakan keberadaan jasad Myungsoo sekian lama di dalam ruangan yang gelap dan dingin seperti ini.

Mereka masuk ke dalam sana. Tak ada yang berubah. Masih hening dan dingin seperti biasanya.

“ Ini kamarku selama tidur panjang. Walaupun tidak pernah kusadari, semuanya terasa familiar.” Myungsoo duduk di atas pembaringannya dulu, “…dan menyentuh pembaringan ini, mengapa aku merasa rindu untuk berbaring disini lagi?”

Sungyeol menunduk, tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia keluar dari sana dengan menahan tangisnya.

“ Tempat ini memang berkesan. Tapi kurasa Sungyeol tak ingin mengenangnya.” ucap Chorong, yang juga hampir meneteskan air matanya

Myungsoo tersenyum dan mengangguk.

“ Aku mengerti.”

“ Cepatlah keluar, aku akan menemui Sungyeol.” Chorong menepuk bahu lelaki itu dan ikut keluar dari sana.

“ Aku tak ingin cepat keluar dari sini..”

Myungsoo justru mulai membaringkan tubuhnya disana, menatap langit-langit ruangan yang dihiasi lampu remang yang berkedip-kedip kecil.

“…seharusnya aku sudah berakhir disini. Jika bukan karena Son Yeoshin, aku tidak mungkin membuka mataku lagi di tempat ini.”

 

“ Myungsoo sunbae?”

Myungsoo menoleh ke arah pintu karena suara yang ia rindukan tiba-tiba memasuki rongga telinganya.

“ Son Naeun?”

“ Melihatmu berbaring seperti itu, aku seperti melihat mayat di masa lalu. Aku takut sekali.”gadis itu membuka pembicaraan dan mendekatinya.

“…apa yang kau lakukan disini, sunbae?”

“ Aku.. jalan-jalan saja. Kau?”

“ Aku baru saja memasukkan barang-barangku ke asrama.”

“ Kau akan melanjutkan sekolahmu disini?”

Naeun mengangguk pasti, ia sudah berpikir semalaman tentang ini, dan berharap keputusannya adalah keputusan yang tepat.

“…lalu untuk apa kau ke ‘kamar lama’ku ini?”tanya Myungsoo lagi, Naeun tertawa kecil mendengarnya.

“ Aku ingin membuat ramuan disini. Ramuan portalku habis. Aku harus pulang ke rumah hari ini.”

“ Benarkah? Boleh aku melihatnya?”

“ Tentu saja. Lagipula kau belum boleh pergi dari sini, sunbae. Ada yang ingin kubicarakan denganmu.”

“ Oh ya? apa itu?”

“ Tentang.. L.”

Myungsoo memucat, ia harus berdalih sebisa mungkin karena L terus berpesan padanya untuk tidak memberitahu Naeun sedikitpun. Bahkan ia belum tahu bagaimana caranya menjelaskan perihal jasad Hyoyeon pada gadis itu.

“ Kau bisa bertanya nanti. Aku tak akan pergi dari sini. buat saja dulu ramuanmu.”

“ Hmm.. baiklah.”

Naeun mengeluarkan tongkat sihirnya dan mulai membuat ramuan portalnya dengan terampil.

“ Kapan kau akan kembali lagi kesini?”tanya Myungsoo setelah suasana hening beberapa saat, Naeun menggelengkan kepalanya.

“ Tidak tentu, bisa kapan saja.”

“ Tidak lelah pulang pergi antar ‘dunia’?”

“ Untungnya tidak. Di Junghwa, aku bisa melihat wajah putra kecilku. Di dunia nyata, aku bisa melihat wajah suamiku. Aku tidak punya alasan untuk lelah.”

“ Senang bisa menjadi alasanmu mengunjungi dunia nyata.” Myungsoo mengelus rambut indah gadis itu dengan lembut. Berharap L yang berada jauh di bawah kesadarannya juga ikut merasakan sentuhannya.

Gadis itu menoleh dan menatapnya beberapa saat setelah selesai membuat ramuannya.

Sunbae.

“ Ya?”

“ Semalam saat kau mabuk, kau membicarakan L.”

“ B..benarkah? bagaimana bisa?” Myungsoo mulai berpura-pura tidak tahu meski berbohong sama sekali bukan keahliannya.

“ Apa sesuatu terjadi padamu setelah kau mendengar kabar dariku bahwa L meninggal?”

Aku bahkan mengetahuinya lebih dulu daripada kau, Son Yeoshin. Myungsoo begitu ingin melontarkan kata-kata itu.

“ Apa ini yang ingin kau bicarakan denganku?” Myungsoo balik bertanya. Naeun mengangguk pelan.

“..bisakah kita berbicara di tempat lain? Tempat ini, membuatku ingin tidur lagi disini.”

Entah Myungsoo hanya bergurau atau memang serius, perkataannya terdengar mengerikan di telinga Naeun.

“ Baiklah. Kita bicara di tempat lain. Kau ingin dimana?”tawar gadis itu.

“ Negeri Junghwa.”

“ A..apa?”

“ Izinkan aku merasakan portal sihir itu, nona Son.”

“ Kau.. serius?”

“ Bagaimana cara menggunakannya?” Myungsoo meraih botol ramuannya dari tangan Naeun dan menghampiri dinding ruangan.

“…disiram kesini?”

Gadis itu mengangguk, “ Lakukanlah.”

Keinginan untuk mengunjungi negeri Junghwa terlintas begitu saja dalam benak Myungsoo, ia tak menyangka Naeun menyambutnya dengan baik. Ini membuatnya tak sabar untuk pergi kesana.

Portal telah terbuka, Naeun meraih tangannya dan mereka memasukinya bersama-sama.

**

 

“ Myungsoo pergi ke negeri penyihir itu!? tidak mungkin..”

“ Aku melihat Son Naeun masuk kesini. Pasti Myungsoo mengikutinya.”

Chorong nampak sedikit panik, sementara Sungyeol kembali tak menunjukkan reaksi yang berarti. Mereka kembali ke ruang penyimpanan mayat itu dan Myungsoo sudah tak ada disana.

“ Sudahlah, nanti juga pulang.”ucap Sungyeol enteng, “…ayo kita pulang, Park Chorong.”

“ Hei Lee Sungyeol.”

“ Apa?”

“ Setiap terjadi sesuatu pada Myungsoo, reaksimu selalu biasa saja, kau tidak lagi kelihatan peduli dengannya. Apa yang terjadi?”

“ Ooh, itu. Aku tidak mau menjelaskannya panjang lebar, aku sudah membahasnya di dalam video itu.”

“ Video yang kau kirim ke chatroom kita? Itu kan di password, jadi mana aku tahu. beritahu aku passwordnya!”

“ Kubilang nanti saja di waktu yang tepat.” Sungyeol keluar duluan dari ruangan itu karena tak ingin lagi diajak bicara.

Chorong mendengus kesal dan terpaksa berlari kecil mengejarnya.

*

 

“ Sepertinya keluargaku sedang pergi ke istana. Hari ini keluarga kerajaan pulang dari dunia nyata, aku sudah memberitahu mereka keadaan disini sudah aman. Kuharap sekarang mereka sedang berdamai dengan Taeyeon.”

Myungsoo masih diam dan kaku, matanya terus memperhatikan setiap sudut rumah sederhana keluarga Son.

“ Kau tinggal bersama L disini?”

“ Tidak. Kami punya rumah sendiri. Tapi sejak L tidak ada, aku tak sanggup untuk tinggal disana, kenangan kami disana terlalu banyak. Mungkin aku bisa menangis setiap hari.”

Apakah saat ini L tahu aku berada di negerinya untuk pertama kalinya? Myungsoo begitu penasaran dan ingin bertemu lagi dengan L, tapi ini bukan saat yang tepat baginya untuk tidur.

“ Kau ingin tahu tempat-tempat lain?” tawar Naeun dengan ramah, “…kurasa aku bisa menemanimu berkeliling, mumpung keluargaku belum datang.”

Myungsoo setuju, ia tak sabar dan berdiri, lalu membuka pintu rumah untuk segera keluar, namun..

“ L!?”

“ Maaf, bukan..”

Ia berpapasan dengan beberapa orang yang baru saja hendak masuk ke dalam rumah. Mereka terkejut karena melihat sosoknya.

“ Dongwoon oppa, Gain unni, Namjoo, ini Kim Myungsoo. Taeyeon, kau pasti tahu kan?” Naeun buru-buru meluruskannya sekaligus memperkenalkan sisi baik L itu pada keluarganya.

Ini benar-benar mendadak, suasana jadi terasa sedikit aneh.

“ Kim Myungsoo? Jadi kau Kim Myungsoo??” Dongwoon, Gain dan Namjoo masih tak percaya dan terus memperhatikan lelaki itu dari atas ke bawah.

Myungsoo melirik Naeun dan memberi isyarat bahwa ia merasa sangat canggung, namun gadis itu hanya mengangguk tanda memintanya untuk bersikap lebih santai.

“ Bagaimana… kau bisa sampai kesini?” Taeyeon menyentuh wajah Myungsoo tiba-tiba, membuat lelaki itu gemetar. Namun ia buru-buru sadar, Taeyeon pasti sangat merindukan L hingga ia seperti ini.

Lagipula ia juga merindukan Kim Haeyeon. Melihat wajah Taeyeon bisa mengobati perasaannya.

“ Aku mengikuti Yeoshin. Aku juga ingin tahu negeri ini.” jawab Myungsoo ramah, ia bahkan mengajak Lin yang berada dalam pangkuan Taeyeon untuk berkenalan.

“ Halo Lin. Aku Kim Myungsoo, kau pasti sudah tahu aku, kan?”

“ Aaah~”

Lin nampak girang dan kedua tangannya merentang, seperti meminta agar Myungsoo menggendongnya.

“ Kemarilah..” Myungsoo menggendongnya dengan hati-hati dan mengayun-ayun putra kecil itu, Lin nampak bahagia, tangan kecilnya menepuk-nepuk pipi Myungsoo berulang kali. Mereka akrab secepat ini? Aura kebaikan Myungsoo yang selalu terpancar mungkin sudah langsung dirasakan oleh Lin.

“ Terimakasih sudah membawanya kesini.”ucap Taeyeon pada Naeun, ia sangat menikmati pemandangan di depannya.

Melihat Myungsoo bermain-main dengan Lin membuatnya merasa L berada disini dan berkumpul dengan mereka.

*

 

“ Kupikir memperkenalkanmu pada keluargaku perlu persiapan dan rencana. Tapi perkenalan dadakan ini rupanya berjalan baik. Aku senang mereka semua menyukaimu dan tidak membandingkanmu dengan L.”

“ Aku berada di tengah-tengah para penyihir barusan. Aku tidak akan melupakan momen itu.”sahut Myungsoo sembari sibuk dengan kamera yang kebetulan ia bawa, ia memotret apapun yang ia lalui.

“…apakah disana istana tempat tinggal putri Hyerim?” Myungsoo menunjuk bangunan megah yang cukup jauh dari pandangannya namun terlihat indah.

“ Ya. Hyerim tinggal disana.”

“ Woah. Aku tidak menyangka bahwa ada tempat dimana manusia dan penyihir bisa hidup berdampingan. Apakah aku bermimpi?”

Myungsoo benar-benar menikmati keberadaannya di negeri Junghwa.

Naeun masih setia menemaninya berkeliling kemanapun ia mau. Ini membuatnya ingat saat pertama dan terakhirnya berjalan-jalan bersama L saat suaminya itu baru saja mendapatkan pekerjaan sebagai guru di sekolah sihir. Atau lebih tepatnya, saat L memutuskan untuk melindunginya dengan memintanya pergi ke dunia nyata.

Momen yang singkat namun terus terulang dalam benaknya.

Naeun masih menahan dirinya untuk bertanya seputar L pada Myungsoo, ia memberi kesempatan untuk lelaki itu menikmati pengalaman pertamanya di negeri Junghwa.

“ Hari sudah hampir malam. Kau ingin melihat matahari tenggelam?”

*

 

Entah mengapa tiba-tiba Naeun begitu ingin mengajak Myungsoo ke bukit ini. ia dan L baru sempat mengunjunginya sekali. Setelah itu, nyaris tidak akan momen bahagia yang dapat mereka ukir lagi karena L disibukkan dengan pekerjaannya, dan tentu saja, disibukkan dengan berbagai ancaman musuh besarnya. Perpisahan lama mereka di dunia nyata dan negeri Junghwa dalam waktu cukup lama karena resep portal yang berubah pun semakin menyulitkan mereka untuk bersenang-senang.

“ Walaupun aku dan L sudah saling mengenal selama dua belas tahun, dan kami sudah setahun lebih menikah, tidak banyak kenangan bagus di antara kami. meski aku mencintainya, aku mengakui, kenangan kami lebih banyak dihiasi kejahatan L padaku di masa lalu. Bahkan hari pernikahan kami pun bukan hal yang pantas aku kenang.”

Myungsoo merasa miris mendengar penuturan gadis itu. Mungkin ini juga menjadi alasannya untuk terus berduka atas kematian L, mereka belum mengukir banyak kenangan indah, namun L sudah pergi terlebih dulu.

Naeun melanjutkan ceritanya, “…satu-satunya kenangan paling indah adalah ketika kami berada di bukit ini. Kami hanya melihat matahari terbenam, tapi aku sangat berdebar. Karena L duduk disampingku dengan tidak lagi sebagai penyihir jahat, ia sudah menjadi suami dan ayah yang baik dari putra yang kulahirkan. Aku merasa hidupku sudah lengkap saat itu.”

“ Bagaimana sekarang?”

“ Maksudmu?”

“ Sekarang, kau berada di tempat ini lagi, denganku. Apa yang kau rasakan sekarang?”

“ Aku..sedih.”

“ Sedih?”

“ Aku sedih, karena aku ingin mengingat ini sebagai memoriku bersamamu, tapi yang kuingat masih saja L. Maafkan aku, sunbae.”

Myungsoo mengangguk mengerti, ia pun membaringkan tubuhnya di atas rerumputan.

“ Bahkan jika kau  lupa namaku Kim Myungsoo, dan kau memanggilku L, sama sekali tidak masalah. Aku tidak berharap mendapat tempat di hatimu, karena aku sudah gagal sejak awal.”

Sunbae—“

“ Terimakasih sudah membawaku ke negeri yang indah ini, Son Naeun. Aku benar-benar bahagia.”

Lelaki itu memejamkan matanya sejenak, berharap bisa bertemu L walau sebentar.

“ L. aku berada di tempat dimana kau pernah mengukir kenangan terindahmu dengan Yeoshin. Apa kau bisa memperoleh kekuatan dari sini?”

 

Lelaki itu tiba-tiba membuka matanya lagi dan kembali terduduk.

“ Kukira kau tertidur, sunbae.”

Ia menoleh, bergetar menatap gadis di sampingnya.

“ S..Son Yeoshin..”

“ Ya?”

Lelaki itu mencoba mengatur nafasnya yang menderu tak karuan, Naeun tak mengerti mengapa tiba-tiba Myungsoo bertingkah seperti ini.

“ Bagaimana hidupmu sekarang, Yeoshin? Apa kau bisa menjalani hidup tanpa L?”

“ Kenapa kau bertanya sesuatu yang sudah kau ketahui jawabannya?”

“ Jawab saja. Aku ingin mendengarnya lagi.”

Naeun menunduk dan membiarkan airmatanya menetes di atas rerumputan.

“ Aku.. aku wajib mengurus Lin, aku akan bangkit dari kesedihan bagaimanapun caranya. Tapi.. satu hal yang sangat kusesali..”

“ Apa itu?”

“ Aku ingin L hidup lebih lama, sebagai penyihir yang baik. Ia sudah jahat sepanjang hidupnya, aku ingin melihatnya sebagai penyihir baik lebih lama lagi. apakah tidak bisa?”

“ Maaf.”

“ Maaf?”

“ Maaf, karena selama ini aku mencintaimu dengan cara yang salah. Maaf karena hanya bisa menguras airmatamu. Maafkan aku.”

Naeun tak mengerti dengan apa yang diucapkan Myungsoo, namun ia membiarkan lelaki itu menghapus airmatanya.

Lelaki itu mulai mendekati bibirnya, dan ia segera menghindar.

“ Maafkan aku, sunbae. Aku tak akan bisa—“

“ Jangan melawan.”

“ Mengapa kau memaksaku!?”

“ Karena hanya aku yang bisa melakukan itu padamu.”

“…”

Naeun gemetar, apa mungkin lelaki di depannya saat ini..

“ Jangan melawan, atau aku akan membunuhmu.”

Ancaman khasnya terdengar jelas.

Naeun tenggelam dalam ciumannya, airmatanya mengalir deras.

BRUK!

Namun tak berlangsung lama, karena Myungsoo langsung terjatuh dan kembali terbaring di atas rerumputan.

***

 

“ Kau bertemu L?”

Naeun mengangguk, “ Itulah yang aku percayai. Disengaja atau tidak, L  pasti mengambil alih tubuhmu saat kau tidur.”

Myungsoo terlihat kikuk dan kebingungan.

“ L. aku berada di tempat dimana kau pernah mengukir kenangan terindahmu dengan Yeoshin. Apa kau bisa memperoleh kekuatan dari sini?”

Lelaki itu mengingat pertanyaan yang terlintas di kepalanya saat ia berbaring di atas rerumputan.

“ Jadi L tidak menjawabnya dan langsung mengambil alih ragaku..” gumamnya.

“ Jadi L benar-benar sedang tinggal di alam bawah sadarmu?”tanya Naeun.

“ Kalau aku bilang tidak pasti kau sebut aku berbohong.”

“ Kenapa tidak bilang padaku sejak awal?”

“ L melarangku.”

Naeun menunduk lemas.

“ Ia sudah mati, tapi masih saja keras kepala..” desisnya lirih, “…apa yang harus kulakukan sekarang?”

Gadis itu benar-benar gelisah, ia pun masuk ke dalam rumahnya karena mendengar suara Taeyeon memanggilnya.

“ Mengapa L seperti itu, ya? apa ia sudah menerima tawaranku?”

Myungsoo masih duduk di teras dan berpikir. Hingga malam ini, ia belum berniat untuk pulang ke dunia nyata. Ia tak ingin cepat-cepat meninggalkan dunia baru yang ia lihat saat ini, dunia yang ia kira hanya sekedar fiktif.

Lagipula, keluarga Naeun menyambutnya dengan baik. Ia tak punya alasan untuk kembali ke dunia nyata cepat-cepat. Meski ia tahu ini akan membuat Hoya marah karena ia pergi tanpa izin.

 

“ Aku ingin mengumumkan sesuatu.”

 

Myungsoo mendengar suara Taeyeon, ia pun sedikit menggeser posisi duduknya untuk mencuri dengar pembicaraan di dalam. Sebenarnya, ia bisa saja ikut bergabung, namun ia masih terlalu takut.

 

“…kerajaan akan mengangkatku menjadi penyihir istana. Dan sebagai wujud perminta maafan mereka, mereka membebaskanku untuk memilih bagaimana proses pengangkatannya.”sambung Taeyeon.

“ Jadi, bagaimana proses yang kau inginkan?”tanya Naeun.

“ Dulu, yang aku ingin kan hanyalah upacara seperti biasa, tetapi L harus menyaksikannya. Tapi sekarang, karena anakku tidak ada..” Taeyeon sedikit mengeraskan rahangnya.

“…aku ingin upacara itu diisi dengan sesi penghancuran jasad Hyoyeon oleh tanganku sendiri.”

Dongwoon, Gain, dan Naeun saling bertatapan karena terkejut, sementara Namjoo hanya bisa menunduk pasrah.

“ Apa itu tak akan menimbulkan opini buruk di mata rakyat negeri ini? Kau menghancurkan jasad saudaramu sendiri..” Gain mencoba mencegahnya.

“ Tidak. Aku akan jelaskan semuanya agar mereka mengerti.”

“ Tapi tetap saja itu terasa terlalu kejam..”gumam Dongwoon, namun Taeyeon tak mendengarkan mereka.

“ Upacaranya besok malam. Dongwoon, Gain, aku ingin kalian ikut Namjoo untuk mengambil jasad Hyoyeon dan menggiringnya ke istana. Kalian harus tepat waktu.”

“ Taeyeon, bisakah kau pikirkan lagi tentang ini? Bagaimanapun juga Hyoyeon adalah saudaramu, dan ia adalah penemu ramuan portal, bahkan dunia nyata. Kita tidak bisa menutup mata akan jasanya..”bujuk Naeun pelan.

Taeyeon menggeleng.

“ Aku terpaksa melakukan ini karena L tidak bisa menyaksikan aku.”

***

 

Keesokan malamnya, di negeri Junghwa.

 

Myungsoo baru saja terbangun dari tidurnya, dan ia mendapati dirinya sendirian di dalam rumah keluarga Son.

Tangannya meraih ponsel murahan dari saku celananya, memeriksanya.

Nihil. Ia baru ingat bahwa tak ada sinyal sama sekali di negeri ini. Ia yakin Hoya pasti sudah menghubunginya ribuan kali, bahkan mungkin juga Kai, Chorong, dan Sungyeol.

“ Terlalu nyaman di tempat ini. Maafkan aku yang tidak pamit..”gumam lelaki itu. ia jadi gelisah dan ingin segera pulang. Kemarin, ia berniat untuk pulang, tetapi ia begitu penasaran dengan upacara pengangkatan penyihir istana yang malam ini di halaman istana.

Namun, rumah keluarga Son tempat ia berada sekarang telah kosong, hanya ada ia sendirian disana.

“ Ah.. apa aku ditinggalkan?” lirihnya. Ia mengintip ke jendela, terlihat rakyat biasa maupun penyihir berjalan berbondong-bondong menuju istana.

“ Apa aku kesana saja, ya?” pikir lelaki itu, ia tak membuang waktu dan segera menuju pintu.

Sunbae!

“ Naeun?”

Gadis itu baru saja datang entah dari mana, diikuti kedua kakaknya, Lin, serta Namjoo di belakangnya.

“ Kau selalu saja tidak sengaja membukakan pintu untuk orang yang datang.” Dongwoon tertawa, Myungsoo nampak salah tingkah.

“ Kukira aku ditinggal disini. Jadi aku berniat jalan sendiri ke istana.”

“ Tidak. Jangan dulu!” Naeun menariknya kembali masuk ke rumah.

“…oppa, unni, Namjoo, kalian bisa ke istana duluan. Kami akan menyusul.” lanjutnya seraya memindahkan Lin dari lengan Gain ke lengannya.

“ Kau yakin kami akan baik-baik saja?”tanya Dongwoon ragu.

“ Aku takut Taeyeon marah.”ucap Gain.

“ Tidak akan. Tenang saja.”Naeun meyakinkan kedua kakaknya, kemudian mengelus rambut Namjoo.

“…maafkan aku ya, Namjoo.”

Namjoo mengangkat kepalanya dan mengangguk cepat sembari menghapus airmatanya.

“ Aku justru berterimakasih padamu, Yeoshin.”

Myungsoo masih tak mengerti arah pembicaraan mereka.

Dongwoon, Gain, dan Namjoo akhirnya berjalan duluan ke istana. Naeun menutup pintu rumahnya kemudian menarik Myungsoo untuk masuk ke dalam kamarnya.

Myungsoo tak banyak komentar, ia membiarkan Naeun melakukan apapun yang ia inginkan.

Setelah meletakkan Lin di atas tempat tidur, Naeun membuka lemarinya dan mengambil satu jubah hitam dari sana.

“ Ini milik L. pakailah, sunbae.”

Meski tak mengerti, lelaki itu menurut. Ia memakainya.

“ Lalu?”

“ Lalu…” Naeun mengambil sesuatu dari dalam lacinya, kemudian mengajak Myungsoo untuk duduk di pinggir tempat tidur.

“…jangan bergerak ya, sunbae.”bisik gadis itu, sembari sedikit memiringkan kepalanya ke kiri.

Myungsoo merasakan cairan dingin menggelitik lehernya, Naeun tengah melukis disana dengan hati-hati.

“ Apa setelah ini aku harus belajar sihir juga?”tanya lelaki itu, Naeun tertawa kecil.

“ Maafkan aku, sunbae. Ini demi Taeyeon. Hanya malam ini saja.”

“ Aku mengerti.”

Gadis itu selesai melukis dan menyimpan kuasnya, kemudian mengangkat tangannya untuk sedikit menata rambut kecoklatan Myungsoo.

“ Hanya malam ini. Jangan tersenyum pada siapapun kecuali pada Taeyeon. Itupun kau harus tersenyum licik. Kau bisa melakukannya, kan?”

“ Apa benar-benar harus seperti itu?”

“ Taeyeon akan percaya jika kau bisa melakukannya.”

“ Biar aku lihat diriku dulu.”

Myungsoo berdiri dan menatap refleksi dirinya di depan kaca.

Rasanya seperti berhadapan dengan L. Naeun membuatnya sepersis mungkin. Hanya keaslian tato di lehernya saja yang membedakan ia dengan sisi jahatnya itu.

“ Aku suka style ini. Sungguh.”

“ Benarkah?”

“ Hm. Ini membuat kita terlihat serasi.” Myungsoo menarik Naeun agar berdiri disampingnya dan sama-sama menatap refleksi diri mereka di cermin.

“…kau dan L memang sangat cocok satu sama lain. Lihatlah.”

Naeun memperhatikannya lekat-lekat. Sebelum ia tenggelam dalam ingatannya tentang L, ia sadar bahwa mereka harus segera ke istana.

“ Ayo kita ke istana, sunbae.”

“ Apa yang harus kulakukan disana?”tanya Myungsoo seraya mengangkat Lin dari tempat tidur.

“ L! L!”

Putra kecil itu berseru dan langsung bergelayut manja di dada Myungsoo. Myungsoo benar-benar merasa tersentuh.

Naeun meraih tangan Myungsoo, mereka mulai berjalan keluar rumah menuju istana.

“ Kau harus mengambil barisan terdepan. Pastikan Taeyeon melihatmu.”

“ Kudengar ia akan menghancurkan jasad Hyoyeon disana.”

“ Tidak akan.”

“ Benarkah? Kenapa?”

“ Aku.. sudah menghancurkannya duluan.”

“ Bersama Namjoo dan kedua kakakmu tadi?”

Gadis itu mengangguk, “ Lebih baik aku yang melenyapkannya, daripada Taeyeon yang notabene saudara kandungnya. Tapi tadi.. adalah hal terkejam yang pernah kulakukan selama aku hidup menjadi penyihir..”

“ Kau melakukan hal yang benar, Naeun.”

“ Jika aku berbicara seperti ini padamu, akankah L yang tinggal di alam bawah sadarmu itu mendengarnya?”

“ Kuharap ia mendengarkanmu sekarang.”

“ Jika tidak, sampaikan padanya bahwa sudah sejauh ini yang kulakukan. sekarang ia tak perlu khawatir tentang Hyoyeon, ia hanya perlu khawatir pada dirinya sendiri. Jika memang tidak ada cara untuknya hidup kembali, aku ingin mendengar pesan terakhir darinya. Itu saja.”

Myungsoo buru-buru menghapus airmata Naeun yang turun dengan sendirinya.

“ Kau tidak boleh lemah di hadapan Lin. L tidak akan suka itu.”

Naeun mengangguk dan menahan airmatanya.

“ Baiklah. Kita tuntaskan dulu tugas malam ini. Jangan sampai mengecewakan Taeyeon. Jadilah L yang bangga menyaksikan pengangkatannya menjadi penyihir istana, maka ia akan melupakan keinginannya menghancurkan jasad Hyoyeon di hadapan semua orang.”

Langkah mereka semakin dekat menuju istana.

 

Dan Myungsoo mulai merasa gugup, entah mengapa.

***********************************************************

 

“ Jadi begitu?”

“ Iya.”

“…”

Hoya menggaruk pelipisnya, masih percaya tak percaya dengan cerita yang baru saja ia dengar. Beberapa menit yang lalu ia sudah membuang-buang energinya untuk mengomeli Myungsoo karena kemarin ia kehilangan manajernya yang pergi tanpa pamit.

Tapi sekarang ia diam, setelah Myungsoo mengaku bahwa dua hari ini ia berada di negeri Junghwa, bahkan menceritakan segala yang ia alami disana.

“ Yah.. aku sadar. Ini tetap salahku, Hoya. Aku benar-benar minta maaf.” Myungsoo kembali meminta maaf meski sudah berulang kali.

“ Begini, Myungsoo. Sepertinya pekerjaan manajer tidak cocok untukmu, ya? aku bisa lihat kau hanya memaksakan diri untuk menggantikan L.”

“ Aku akan berusaha keras mulai sekarang.”

“ Tidak.. maksudku, kalau memang pekerjaan ini berat untukmu, aku bisa cari—“

“ Jangan pecat aku, kumohon. Aku perlu biaya untuk kuliah. Tiga hari yang lalu aku sudah daftar.” Myungsoo tak segan-segan membuang rasa malunya karena sumber pemasukannya benar-benar hanya dari Hoya.

“ Aku tahu. kau mendaftarkan aku sebagai walimu, kan? Aku langsung dapat kabarnya dari pihak universitas, sepertinya mereka terkejut seorang artis menjadi wali anak jenius dari SMA Junghwa.”

Myungsoo nampak salah tingkah.

“ Tidak apa-apa, kan? Aku sudah tidak tahu lagi harus kemana. Seandainya Kim Haeyeon songsaenim masih ada, mungkin ia yang menjadi waliku.”

“ Baiklah. Tapi masalahnya.. pekerjaanmu sebagai manajerku—“

“ Aku tahu.. aku tahu.. aku benar-benar buruk di bidang ini. Bagaimana ya? satu sisi aku seperti tidak tahu malu memohon untuk tetap kerja, tapi di satu sisi, aku membutuhkan uangnya. Walaupun kau waliku, aku tidak mau kau yang menanggung semuanya, aku ingin kerja untuk membiayai kuliahku sendiri.”

Hoya jadi ikut bingung memikirkan hal ini.

“ Begini, Kim Myungsoo. Jadwalku lebih dari padat, dan aku tidak bisa mengatur diriku sendirian. Kau tahu maksudku, kan? Aku perlu seseorang yang profesional untuk itu. aku percaya kau bisa dan akan terbiasa, tapi aku ragu juga apalagi jika kau sudah kuliah. Bukankah kau tipe yang serius dan tidak pernah main-main dengan nilai akademikmu? Aku ragu kau bisa membagi jadwal antara kerja dan kuliah.”

Myungsoo terdiam sejenak, berpikir.

“ Tenang saja, Hoya. Ia pasti bisa mengurusmu dengan baik. Manajermu yang sesungguhnya akan kembali. Ia pasti bisa membagi waktunya..”

Myungsoo bergumam sendiri, namun meski samar, Hoya mampu mendengarnya.

“ Siapa maksudmu?”

“ Jangan pecat aku, Hoya. Jebal. Aku jamin kau tidak akan kecewa kedepannya.” Myungsoo tak menjawab pertanyaannya dan hanya bisa memohon.

“ Pekerjaanmu ini sulit, Myungsoo. Kau mengurus seorang artis. Mungkin kau akan lebih lelah dari aku jika kau bersungguh-sungguh. Kau siap?”

“ Ya. aku siap.”

“ Biarkan aku berpikir dulu.”

Hoya bangkit dari duduknya dan bersiap keluar dari apartemennya.

“ Kau mau kemana?”

“ Sudah kubilang, berpikir. Sambil cari udara segar, jarang-jarang aku punya free time. Aku juga akan melatih Kai jam lima nanti.”

“ Kai..” Myungsoo teringat akan adiknya itu, “…dimana dia sekarang?”

“ Di studioku. Sejak pertama kali latihan sampai sekarang ia terus menginap disana. Oh ya, dia bingung juga kemana saja kau dua hari itu. apalagi dia bilang padaku kalau kau bersikap sedikit aneh.”

Kai pasti masih memgingat kata-katanya kemarin. Rupanya Kai peka juga, ia sadar ada sesuatu dibalik kata-kata yang diucapkan kakaknya.

Hoya keluar dari apartemen, dan Myungsoo langsung membaringkan tubuhnya di lantai kemudian menutup kedua matanya dengan pergelangan tangannya.

Perlahan, airmata menitik dan keluar dari ujung matanya.

Lelaki itu menangis, mengingat pengalaman terakhirnya di negeri Junghwa.

Taeyeon begitu percaya bahwa ia L, dan sangat bahagia saat melihatnya muncul di tengah keramaian. Seluruh rakyat dan penyihir yang melihatnya pun sangat gembira melihat kemunculannya.

Hingga mereka sepakat menganggap itu adalah keajaiban yang terjadi karena Taeyeon resmi menjadi penyihir istana.

Mengingat-ingat hal itu membuatnya tahu bahwa semua rakyat dan penyihir di negeri itu sangat menginginkan L kembali. Ia memang terkenal jahat selama hidupnya, namun mereka ingin memberikan L kesempatan untuk hidup lebih lama sebagai penyihir baik, sama seperti keinginan Naeun.

 

Tekad Myungsoo sudah bulat untuk menyerahkan tubuhnya pada L, yang saat ini masih saja keras kepala meski semakin hari semakin lemah.

Namun..haruskah Myungsoo menceritakan rencana besarnya ini pada Kai? Satu-satunya keluarga yang ia miliki, dan akan kembali sebatang kara jika ia meninggalkannya lagi.

*

 

“ Terimakasih, Kim Myungsoo, sudah mewakiliku untuk menghadiri upacara kemarin.”

Myungsoo menurunkan tangannya dan menoleh, L duduk tepat di sampingnya.

“…hei, kau menangis? Kurasa ini pertama kalinya aku melihat Kim Myungsoo mengeluarkan airmata.”

“ L..”

“ Hm?”

“ Berapa kali lagi pertemuan kita?”

Penyihir tampan itu mengangkat bahunya.

“ Entahlah, aku hanya menunggu kekuatanku habis. Sampai aku tidak berdaya, baru aku tertelan dengan sendirinya ke dalam kegelapan.”

“ Kau tidak bosan mengobrol denganku saja?”

“ Pertanyaanmu itu seolah-olah mengatakan ‘aku bosan mengobrol denganmu, L’. apa begitu?”

“ Apa kau tahu berapa jam waktu yang kuhabiskan untuk tidur demi bertemu denganmu saja? dan apa kau sudah tahu bahwa Naeun yang menghancurkan jasad Hyoyeon untukmu?”

“ Aku tahu. dan itu hal paling kejam yang pernah ia lakukan selama hidupnya.”

“ Benar, dan aku tidak ingin itu menjadi sia-sia.”

“ Bicara tentang sia-sia, bukankah penawaranmu padaku juga akan menyia-nyiakan hidupmu?”

“ Tidak.”

“ Sudahlah. Jangan bodoh, Kim Myungsoo.”

“ Seharusnya aku yang bilang begitu padamu, L. mari kita akhiri saja ini. Melihatmu masih bersarang dalam diriku justru membuatku tidak tenang.”

“ Intinya, kau tidak ingin bertemu denganku lagi?”

“ Ya.”

L sedikit tersentak.

“ Kau ingin mengusirku?”

Myungsoo menggeleng.

Tidak. Aku akan mengusir diriku sendiri dari tubuh ini. Jika sampai akhir kau masih menolak penawaranku. Pikiran gila itu tiba-tiba muncul begitu saja di kepala Myungsoo.

“ L.”

“ Apa?”

“ Jika kau masih mau bertemu denganku disini, jawab pertanyaanku dengan cepat dan jujur.”

“ Oke. Apa yang ingin kau ketahui?”

“ Apa kau rela mati dengan cara seperti ini?”

“ Tidak.”

“ Apa kau ingin menang dari Hyoyeon?”

“ Ya.”

“ Apa kau masih ingin berkumpul dengan keluargamu?”

“ Ya.

“ Apa kau ingin melihat Lin tumbuh dewasa?”

“ Ya.”

“ Apakah saat ini, sisi baikmu, Kim Myungsoo, adalah satu-satunya orang yang bisa menyelamatkanmu?”

“…”

“…”

 

“…ya.”

***

 

Myungsoo terbangun dari tidurnya. Setelah melihat jam, ia segera bangkit dan pergi menuju suatu tempat.

***

 

Hyung! Kau kemana saja dua hari ini?”

Kai gembira sekaligus terkejut melihat Myungsoo datang ke studio. Ini pertama kalinya..

“ Maaf karena tidak pamit. Aku hanya.. jalan-jalan.”jawab Myungsoo seadanya sembari duduk di lantai, meletakkan makanan ringan yang ia bawakan untuk sang adik, kemudian melihat sekeliling studio pribadi milik Hoya tersebut.

“…wah, jadi kau berlatih disini? Ini tempat yang bagus.”

“ Aku sudah berlatih keras. Kau harus menonton aku di pentas pertama, ya!” Kai ikut duduk di sampingnya.

“ Kapan pentasnya?”

“ Dua minggu lagi dari sekarang.”

Myungsoo mengangguk saja kemudian menghela nafasnya sejenak dengan pandangan kosong.

“ Jongin.”

“ Apa lagi, hyung? Kau ingin bicara masa depan lagi? aku jadi takut.”

Myungsoo tersenyum getir dan mengacak-acak rambut adiknya itu.

“ Kau hebat, pasti k au sudah menyadari bahwa ada sesuatu yang sedang kusembunyikan.”

“ Tentu saja. Kau kelihatan berbeda. Sebenarnya apa yang sedang menjadi bebanmu saat ini?”

“ L.”

“ L?”

“ Ya. singkatnya begini, ia sudah mati.. dan aku, sebagai seseorang yang sangat mencintai Naeun, dan juga sisi baiknya.. aku ingin ia hidup lagi, demi kebaikan semua orang yang merindukannya. Kau tahu bagaimana caranya? Ia harus menggunakan tubuhku untuk hidup.”

Kai sontak mengerutkan dahinya, tak percaya.

“ Haha. APA? Kau bilang apa barusan, hyung?”

Myungsoo mengangguk mengerti.

“ Aku tahu reaksimu akan seperti ini.”

“ Jadi maksudmu, kau akan mengorbankan dirimu untuk penyihir itu?”

“ Ya.”

“ Kau gila?”

“ Ya. aku mungkin sudah gila. Aku tidak tahan melihat Naeun yang terus berduka. Aku sedih melihat keluarganya, Lin, semuanya—“

“ Bagaimana denganku? Sungyeol sunbae? Chorong sunbae? Kau tidak membayangkan bagaimana kami jika kau yang pergi?”

“ Disitu masalahnya. Hari ini aku sadar,keputusan gila ini tidak mudah, karena aku memiliki kalian. Terutama kau.”

“ Jadi..?”

“ Jadi..” Myungsoo menatap sang adik dengan dalam.

“…kuserahkan semuanya padamu, Kai. Kau berhak memintaku maju atau mundur.”

Sang adik terhenyak.

“ Lalu, kau ingin aku bagaimana?”

“ Terserah padamu. Hanya saja, aku ingin kau paham tentang ini, satu-satunya alasanku yakin ingin memberikan ragaku pada L adalah.. Naeun.”

“ Naeun?”

“ Semua manusia punya seseorang yang dicintai, kan? Termasuk aku. Hanya saja, aku tidak pernah bisa memilikinya. Aku baik-baik saja akan hal itu. yang membuatku tidak baik-baik saja adalah, seseorang yang kucintai kehilangan orang yang ia cintai juga. Membayangkannya hidup dan membesarkan anaknya sendirian, aku benar-benar tidak tega. Sebagai orang yang peduli padanya, aku tidak mungkin diam saja.”

Hyung—“

“ Satu hal yang penting adalah, hatiku sudah mati. aku tidak bisa jatuh cinta pada siapapun lagi selain gadis penyihir itu. jadi aku berpikir, apa tujuanku hidup jika tidak bisa bersamanya? sedangkan aku sering bilang, masa depan adalah masa yang akan dijalani dengan pasangan hidup kita.”

“ Jadi kau akan menyerah dengan cara ini?”

“ Tidak. Ini adalah jalan satu-satunya agar aku bisa terus di sisinya. Tubuhku ini, akan bersamanya selamanya. Meski aku tidak akan merasakannya, tapi L akan menyampaikan semua cintaku pada Yeoshin dengan tubuh ini. Aku ingin seperti itu.”

Airmata Myungsoo kembali turun tanpa terkendali, ia segera menunduk karena tak ingin Kai melihatnya. Ia paling benci terlihat lemah di depan adiknya, namun ia tak bisa menahannya lagi.

Kai hanya bisa terpaku. Terkejut karena bisa dikatakan ini adalah kali pertama baginya melihat sang kakak yang selalu kuat dan ceria di depannya, menangis.

Hyung, aku..—“

“ Aku tidak memaksamu untuk mengizinkanku melakukan tindakan gila itu. kau tetap menjadi orang yang kutempatkan di atas segala-galanya. Jadi keputusan tetap ada di tanganmu. Apapun itu, akan kuikuti, Jongin.”

Myungso berdiri dan menepuk bahu sang adik, lalu melangkah keluar dari studio.

“ Myungsoo? Kau disini?”

Hoya muncul dari balik pintu dan agak terkejut melihat Myungsoo keluar dari studionya.

Lelaki itu hanya mengangguk dan sedikit membungkukkan badannya, lalu melanjutkan perjalanannya keluar dari sana.

 

“ Apa yang terjadi?” kini Hoya heran melihat Kai melamun di lantai.

“ Kau darimana saja?”tanya Kai mengalihkan pembicaraan, meski matanya masih kosong.

“ Aku.. hanya selesai belanja saja.”

“ Oh ya? beli apa?”

Hoya mengerutkan dahinya. Tidak biasanya Kai melontarkan pertanyaan-pertanyaan tidak penting padanya.

“ Sebenarnya aku membelikan sesuatu untuk kakakmu. Di apartemen tadi aku sempat mengomelinya, jadi aku merasa sedikit bersalah.” Hoya meletakkan satu plastik belanjaan yang ia beli, “…bisa aku titip padamu? Tadi Myungsoo pergi begitu saja, aku jadi tidak sempat memberikannya langsung.”

“ Apa ini?”  Kai mengintip isinya, “…woah, jaket hiking?”

“ Dia sangat suka mendaki gunung, kan? Aku ingin dia refreshing dulu, sepertinya  ia banyak beban. Mungkin setelah refreshing, ia bisa menunjukkan kinerja yang lebih baik padaku.”

“ Mendaki gunung…”

Kai nampak berpikir.

” Kenapa, Kai?”

” Myungsoo hyung!”

Kai tiba-tiba bangkit sembari meraih tas belanjaan yang akan diberikan kepada kakaknya, ia ikut berlari keluar dari studio, mengejar Myungsoo yang ia harap belum melangkah terlalu jauh.

 

“Hyung!”

Myungsoo yang rupanya belum pergi terlalu jauh mendengar suara adiknya, ia menoleh.

“Kai?”

” Ini.. dari Howon hyung.” Kai berlari kecil ke arahnya dan menyerahkan sesuatu yang ia pegang.

” Apa ini?”

” Jaket hiking. kau suka kan?”

Myungsoo nampak berbinar, ” Wah.. aku jadi rindu gunung Jiri. Aku tak pernah mendaki gunung lagi sejak meninggal dulu.”

” Kalau begitu pergilah.”

“ Kemana? Ke gunung?”

 

“ Kemanapun. Kemanapun kau mau, hyung.

***

 

Seminggu kemudian…

 

” Kau jadi berangkat hari ini?”

Taeyeon memasuki kamar Naeun dan mendapati menantunya itu masih terbaring di atas tempat tidur, meski matanya sudah terbuka.

” Ya. Sepertinya jadi.” jawab Naeun tanpa menoleh, matanya masih mengarah pada langit-langit kamarnya, ia terlihat tengah memikirkan sesuatu.

” Kenapa belum bersiap?”

” Aku juga bingung, Taeyeon. perasaanku hari ini benar-benar.. tidak nyaman.”

Hari ini adalah hari yang sudah ia tentukan untuk pulang ke dunia nyata, sebab dalam waktu dekat ia akan mulai melanjutkan sekolahnya dan kembali menghuni asrama SMA Junghwa.

Ia akan pulang lebih awal karena hari ini, ia akan ikut mendaki gunung bersama Myungsoo. Lelaki itu tak hanya mengajaknya, ia juga mengajak Chorong, Sungyeol, Woohyun, bahkan Yura. Bisa dikatakan, moment ini juga akan menjadi momen perpisahan mereka, karena setelah ini Woohyun dan Chorong akan berangkat ke Amerika, Sungyeol akan mengikuti serangkaian ujian masuk universitas serta membantu Yura belajar untuk ujian paket, dan Myungsoo..

Entah. Lelaki itu selalu menolak untuk membicarakan masa depannya. yang Naeun tahu hanyalah, ia sudah daftar masuk universitas elit tanpa ujian.

” Kau tidak mau bertemu Myungsoo?” tebak Taeyeon.

” Bukan tidak mau. perasaanku hanya sedang sangat aneh saja hari ini, entah kenapa. sudah seminggu ini, walaupun aku sudah tahu tentang L yang masih ada di alam bawah sadarnya, Myungsoo tidak pernah lagi membicarakan L. Apa suamiku benar-benar sudah pergi? Ia memang tak mungkin selamanya berada di ambang kematian, kan?”

Taeyeon tersenyum getir, ia sudah lebih kuat dibandingkan saat-saat ia baru saja mengetahui kematian anaknya, semua berkat kehadiran Myungsoo dalam upacara pengangkatan penyihir istana seminggu yang lalu. Sisi baik L itu benar-benar mengobati kerinduannya pada anaknya.

” Bisakah kau mencoba untuk berhenti berduka? karena aku juga sedang mencobanya. Selamanya aku akan terus berharap L bisa hidup kembali dengan keajaiban apapun, tapi aku takkan meletakkan harapan itu terlalu tinggi. Setidaknya kita masih bisa melihat Myungsoo, kan?”

Kehadiran Myungsoo dalam upacara itu benar-benar merubah Taeyeon. Ia menjadi sangat waras sekarang.

” Dia.. lelaki yang sangat baik, kan?”

” Ya. Sangat.”

Naeun masih tak bisa menghilangkan perasaannya yang tak nyaman. Ia sendiri tak mengerti apa alasannya. Apakah karena ia merasa L sudah benar-benar menghilang? Atau ini tentang Myungsoo?

Gadis itu akhirnya bangkit dan bersiap, ia tak mau sunbaenim menunggunya terlalu lama.

 

“ Ini pertama kalinya aku pergi hiking. Cepatlah besar, aku akan mengajakmu mendaki gunung juga. Oke?”

Sebelum memasuki portalnya, Naeun berpamitan pada putra kecilnya, Lin.

“ Kim.. Myung..soo..~”

Naeun menautkan alisnya. Mengapa Lin tiba-tiba menyebut nama itu?

Wae? Ingin menitipkan sesuatu padanya?”tanyanya, Lin mengangguk berulang kali.

“…oh yaa? Apa yang sudah Lin persiapkan untuk paman Myungsoo?” Naeun berpura-pura bahagia mendengarnya, padahal hatinya bertanya-tanya.

“ Hmm..” penyihir kecil itu bergumam.

“…sa..rang.”

Sarang?”

Cinta. Lin menitipkan cinta untuk Myungsoo?

Anak ini menggemaskan sekaligus membingungkan.

***

 

“ Hei, maaf aku terlambat, sunbaenim!

Naeun muncul dari dalam rumah mewah keluarga Nam dengan pakaian hiking lengkap. Semua sudah menunggunya di depan van milik Woohyun yang akan membawa mereka ke gunung tujuan.

Apa dia benar-benar penyihir?”

Sungyeol tersenyum geli mendengar suara Yura berbisik di telinganya. Gadis itu masih saja tak percaya dengan segala kenyataan yang telah ia ceritakan.

“ Apa aku perlu meminta dia menyihirmu jadi katak agar kau percaya?” balas cenayang itu jahil, Yura mendengus kesal dan malas bertanya lagi.

“ Dimana Myungsoo sunbae?” Naeun menyadari tak ada Myungsoo berdiri menunggunya.

“ Ah.. Myungsoo, dia tidur.” Woohyun menunjuk jendela vannya dan terlihat sesosok lelaki tampan bersandar di dalam sana dengan mata tertutup.

“ Apa dia kelelahan?”

“ Mungkin. Ia terlalu bersemangat untuk hiking. Di hari-hari sebelumnya sepertinya dia mempersiapkan banyak hal.”jawab Chorong.

“ Benarkah?”

“ Iya. Selama aku berada di apartemen Minah, aku selalu melihat Myungsoo pulang tengah malam setiap hari.”ujar Yura.

Naeun kembali menatap Myungsoo yang masih terlelap.

Apa yang ia lakukan?

***

 

4 jam kemudian…

 

“ Kita sudah sampai?”

Myungsoo membuka matanya, van sudah berhenti di suatu tempat yang tak jauh dari titik start pendakian.

“ Halo, Myungsoo sunbae. Maaf baru menyapamu, kau baru  bangun sih.”

Lelaki itu terkejut dan mendadak berdebar, ia sadar bahwa selama perjalanan Naeun duduk di sampingnya.

“ Hai.”

Ia hanya memberi jawaban pendek, kemudian sibuk mengambil ranselnya dan segera turun dari van, kakinya berlari kecil mengejar Chorong dan Sungyeol yang sudah berjalan duluan.

Naeun sedikit kebingungan, namun ia tak mau ambil pusing dan tak mau mengejar lelaki itu, ia tak ingin menganggu kebersamaannya dengan kedua sahabatnya. Gadis itupun ikut turun dan berjalan dengan Woohyun dan Yura yang menungguinya.

“ Chorong bilang, tema hiking ini adalah ‘tiga sahabat yang membawa pasangan’. Jadi ini liburan mereka, kita hanya figuran di belakang.” Woohyun sedikit bergurau.

“ Aku bukan pasangan Sungyeol!” Yura langsung menyanggah.

Naeun tertawa kecil. Matanya terus menatap Myungsoo yang sudah berjalan duluan bersama Chorong dan Sungyeol di depannya. Mereka bertiga begitu asyik berbincang-bincang dan tertawa bersama, bahkan sesekali berfoto. Mereka pasti tak ingin menyia-nyiakan kesempatan terakhir ini untuk berkumpul.

 

“ Hei, aku lupa memberimu sesuatu.” Chorong menepuk punggung Myungsoo kemudian ia sibuk membuka tas berukuran sedang yang tersampir di bahunya.

“ Yang kau beli di electronic center waktu itu?”tebak Sungyeol, gadis itu mengangguk sambil terus mencari.

“…yah.. dia curang, dia hanya membelikanmu, aku tidak!”adu Sungyeol pada Myungsoo dengan nada kesal, Chorong tertawa mendengarnya.

“ Hahaha. Ini dari uang hasil taruhan sojumu juga.” Chorong mengeluarkan satu kotak kemasan ponsel dari tasnya dan menyerahkannya pada Myungsoo.

“ Ya Tuhan. Kau serius?” Myungsoo terkejut, “…ini keluaran terbaru. Memangnya uang taruhan itu cukup membeli ini?”

“ Tentu saja tidak.”jawab Chorong seadanya sambil tertawa misterius.

“ Dia pakai kartu kredit Nam Woohyun, tahu.”celetuk Sungyeol.

“ Hei, benarkah? Apa tidak masalah?” Myungsoo sedikit panik.

“ Tidak apa-apa. Aku tidak tahan melihatmu pakai ponsel murahan. Jadi gunakanlah dengan baik, ya.”jawab Chorong.

“ Dasar pemeras.”sindir Sungyeol, yang masih ‘kesal’ karena belum dapat apa-apa.

“ Hei, cenayang. Kau masih hutang janji padaku. Jadi aku belum mau memberimu apa-apa.”sahut Chorong.

“ Hutang janji?”

“ Ya. video yang di password itu.”

“ Ah..lagi-lagi bahas itu.”

“ Video apa?”Myungsoo tak mengerti.

“ Sudah lumayan lama sih, Sungyeol mengupload video di chatroom kita. Kau bisa buka di ponsel barumu itu. tapi videonya punya password. Dan sampai sekarang cenayang gila ini masih tidak mau memberitahu apa passwordnya.”jelas Chorong.

“ Benarkah? Video apa itu memangnya?”Myungsoo jadi ikut penasaran.

Sungyeol berpikir sejenak.

“ Ah.. kurasa hari ini hari yang tepat untuk memberitahu passwordnya.”

Jinjja??? Apa? Apa passwordnya!?” Chorong berbinar-binar.

“ Akan kuberitahu saat kita sampai puncak. Tapi berikan dulu hadiahmu.”

“ Ah, sial. Kau yang pemeras disini.”

Sungyeol tertawa licik, “ Bagaimana? Deal?”

“ Ambil ini.” Chorong membuka dompetnya dan meletakkan sebuah kartu berwarna emas di tangan Sungyeol.

“ Kartu kredit Woohyun?”

“ Habiskan sisanya.”

“ Hahaha! Kau yang terbaik, Park Chorong!”

Myungsoo ikut tertawa bersama mereka.

 

“ Berteman dengan mereka benar-benar membuatku rugi besar.”  Woohyun yang berjalan di belakang mereka hanya bisa geleng-geleng kepala.

***

 

Night, 09.00 PM

 

“ Ah.. akhirnya!”

Hoya dan Eunji membuka pintu dan memasuki apartemen. Keduanya begitu lelah setelah seharian mengikuti semua jadwal Hoya. Eunji kembali datang ke dunia nyata untuk menggantikan Myungsoo sebagai manajer kekasihnya.

“ Lelah sekali, ya? maaf aku merepotkanmu lagi, tuan Putri. Aku benar-benar merasa tidak sopan.” Hoya tak tega melihat Eunji yang langsung terkapar di atas tempat tidur.

“ Tidak apa-apa. Bahkan jika kau menyerah dengan Myungsoo, aku siap menjadi manajer tetapmu.”jawab Eunji santai, Hoya menggeleng pelan dan berbaring disampingnya.

“ Benarkah?”

“ Tentu saja. Akan sangat lumayan jika aku dapat gaji darimu.”

“ Bagaimana, ya? aku tidak mau menggajimu. Aku mau menafkahimu saja.”

Eunji tertawa lepas, menutupi semburat merah yang langsung memenuhi pipinya.

“…hei, aku serius, Jung Hyerim. Kapan kau ingin kita menikah?”

“ Kau masih naik daun, menikah sama saja membunuh karirmu. Bahkan aku saja sudah punya banyak haters karena kencan terbuka kita. Jadi nanti sajalah pikirkan itu. lagipula aku masih sekolah disini.”

Seperti biasa, Hyerim yang selalu bijaksana.

“ Aku sangat menunggu Kai lebih terkenal dariku secepatnya. Aku ingin semua orang melupakanku agak kita bisa menikah dengan tenang.”

“ Mengapa kau terdengar terburu-buru begini, Howon?”

“ Karena aku ingin segera bahagia. Sampai sekarang,aku masih tak bisa bahagia karena memikirkan L. aku masih sangat kehilangan dia. Sejahat apapun dia, dia tetaplah sahabatku. Jadi mungkin.. dengan sibuk berumah tangga denganmu, akan membuatku segera melupakan dia.”

Eunji tersenyum dan mengelus pipi kekasihnya itu dengan lembut.

“ Aku mengerti.”

“ Jadi? Kapan kita menikah? Aku sudah sangat siap menghadap raja Junghwa.”

Gadis itu tertawa lagi.

“ Howon, Myungsoo berangkat ke gunung hari ini kan?”

“ Kenapa bertanya itu?” Hoya agak kesal karena Eunji mengalihkan pembicaraan, “…ya, dia berangkat hari ini.”

“ Jadi dia tidak pulang malam ini, kan?”

“ Hm. Tentu saja tidak.”

“ Sangat bagus. Kalau begitu..”

“ Kenapa?”

“ Ayo kita coba ‘menikah’ malam ini, Lee Howon.”

Lelaki itu tersenyum tipis, memahami perkataan tuan putrinya.

Keduanya mulai berciuman liar di atas tempat tidur, melepaskan segala kelelahan dengan nafsu yang membara. Satu per satu pakaian tertanggal dan jatuh ke lantai. Hawa panas dan suara deru nafas bertempo cepat mulai menyebar ke dalam apartemen mewah itu.

BRAK!

“ Apa itu?”

Keduanya terhenti, suara jatuh yang keras jelas terdengar dari dapur.

“ Apa ada orang di dalam sini?”Eunji menebak-nebak.

“ Jangan-jangan wartawan..”Hoya mulai overthinking dan panik, karena ia memang trauma dengan kaum yang suka menggali kehidupan pribadinya itu.

“ Tidak mungkin. Ayo cek dulu!” Eunji melilitkan selimut di tubuhnya kemudian berdiri duluan dan berjalan menuju dapur tanpa keraguan. Hoya mengikutinya di belakang.

 

“ Ah.. ternyata kau!” Eunji menemukan seekor merpati putih di atas meja makan, merpati penyihir milik Madame Sunny yang masih mereka pelihara di dalam apartemen.

Burung itu menjatuhkan sesuatu ke lantai, sebuah buku. Eunji memungutnya.

“ Rahasia Dunia Luar?”

“ Hei, aku tidak tahu ada makanan sebanyak ini.” Hoya terkejut melihat meja makannya yang penuh dengan berbagai macam makanan lezat entah dari mana. Eunji pun ikut heran.

Gadis itu kembali memeriksa buku di tangannya. Buku tulisan Hyoyeon itu memang ada dan tersimpan disini karena sempat digunakan untuk Myungsoo saat baru saja bangkit dari kematian agar sisi baik L itu tahu apa yang terjadi padanya.

Namun seingat Hoya maupun Eunji, buku itu sudah lama tak dibuka dan tersimpan rapi di tempat lain, bukan di dapur.

“ Apa ini?”

Eunji menemukan selembar kertas kecil terselip di dalam sana. Mereka membacanya.

 

Semoga kalian suka makanannya. Hanya itu yang bisa kulakukan untuk menebus kinerjaku yang sangat buruk.

Manajer dan sahabat yang sesungguhnya akan datang. Jangan pernah berpikir untuk memecatku, ya.

 

Kim Myungsoo

 

Keduanya bertatapan, berusaha memahami maksudnya.

***

 

“ Aah! Pelan-pelan! Sakit..”

Chorong refleks menarik kakinya setelah Woohyun baru saja menempatkan kapas di tumitnya.

“ Oke.. tahan sedikit.”bujuk kekasihnya itu.

Gadis itu terpaksa menahannya. Lagipula ini salahnya karena kurang persiapan, kakinya lecet-lecet ketika sampai di puncak gunung. Ia belum pernah berjalan begitu jauh atau mendaki gunung sebelumnya, ia bahkan tak pernah suka hal seperti ini.

Tapi demi Kim Myungsoo, apa yang tak ia lakukan?

“ Maaf ya, aku tidak berjalan denganmu sampai disini.”

“ Haha. Tidak apa-apa. Ini waktu terakhirmu bersama Myungsoo dan Sungyeol. Kau akan terus bersamaku di Amerika nanti.”

“ Kita.. benar-benar akan langsung berangkat setelah turun dari sini?

Woohyun mengangguk, kemudian menatap gadis itu.

“ Apa rasanya masih ada sesuatu yang membuatmu enggan pergi?”

“ Hmm.. apa ya.. oh iya! Ada!” Chorong merogoh saku jaketnya, mengambil ponselnya dan menelpon.

“…hei! Tepati janjimu!”gadis itu sedikit berteriak.

“ Santai.. santai.. dimana Myungsoo?” Sungyeol menjawab teriakan Chorong dengan datar.

“ Myungsoo?” Chorong memutar lehernya ke beberapa arah untuk mencari sahabatnya itu, “…ah! Itu dia!”

“ Dia.. di dekatmu?”

Ani. Ia duduk sendirian beberapa meter jaraknya dariku. Apa aku harus kesana?”

“ Tidak usah. Jangan tinggalkan Woohyun.”

“ Kenapa kau basa basi sekali? Beritahu saja passwordnya sekarang!”

“ Tutup dulu teleponnya.”

“ Ck.”

Chorong terpaksa menurut. Matanya mengarah ke tenda, Sungyeol masih di dalam sana. Entah mengapa cenayang itu belum mau keluar dari sana setelah mereka sampai di puncak.

*

 

Sunbae, maaf aku terlambat. Tadi aku membantu Yura menyalakan api unggun. Ternyata dia sudah tahu aku penyihir, karena dia tidak percaya, aku nyalakan saja apinya dengan tongkatku, baru ia percaya.”

Naeun mengambil duduk di samping Myungsoo dan langsung bercerita sambil tertawa kecil.

“ Haha. Benarkah? Apa kau baik-baik saja identitasmu dibocorkan begitu saja oleh Sungyeol pada Yura?”

Gadis itu berpikir Myungsoo masih aneh seperti saat mereka berangkat, nyatanya tidak, sang sunbae memberinya tanggapan dengan sangat ramah, seperti biasanya.

“ Tentu saja tidak apa-apa. Serapat-rapatnya seseorang menutupi sesuatu, pada akhirnya akan terungkap juga, kan?”

“ Ya. Kau benar. Entah terungkap oleh orang lain, atau.. kita yang mengungkapkannya sendiri.”

“ Bagaimana denganmu, sunbae? Apa ada sesuatu yang kau simpan? Mungkin kau bisa mengungkapkannya padaku sekarang.”canda gadis itu. ia hanya ingin mencairkan suasana.

Sebab hanya dengan menatap mata Myungsoo, ia tahu ketegangan dan rasa bimbang tengah menyelimuti lelaki itu, walaupun ia tak bisa mengetahui apa alasannya.

“ Bagaimana denganmu?” Myungsoo justru bertanya balik.

“ Hmm.. ‘aku cinta Myungsoo’.”

“ A..apa?”

“ Haha. Itu kata Lin, ia ingin aku menyampaikannya padamu.”

Meski bukan Naeun, tetapi Lin, hati Myungsoo benar-benar tersentuh mendengarnya.

“ Aku juga mencintainya. Ia menyerupai wajah anakku kelak.”

“ Hahaha. Bagaimana kau tahu wajah anakmu nanti?”

“ Karena aku akan menikah denganmu.”

Naeun tak tahu akan mengarah kesini percakapan mereka.

Sunbae, bisakah kita tidak—“

“ Tentu saja bukan disini. Disini aku sudah gagal. Aku akan mencarimu di kehidupan berikutnya. Jika memang reinkarnasi itu benar-benar ada.”

“ Manusia modern percaya teori reinkarnasi, ya?”

“ Kurasa begitu. Bagaimana dengan bangsa penyihir?”

“ Kami tidak. Karena sejauh yang kami tahu, jika penyihir mati, ia hanya akan menemui kehampaan abadi di dalam kegelapan.”

“ Seandainya saja teori itu berlaku juga bagi bangsa penyihir, aku ingin sekali menjadi wujud reinkarnasi L.”

Entah akan sampai kapan, pembicaraan mereka memang tak akan pernah terlepas dari L. Naeun berusaha menekan kesedihannya dengan mengingat perkataan Taeyeon terus menerus.

“ Ah.. dingin sekali disini.” Gadis tu mengalihkan pembicaraan dengan nada gemetar.

Myungsoo meraih tangan Naeun, dan memasukkannya ke dalam jaket hiking yang ia kenakan.

“ Karena aku tak berhak memelukmu, hanya ini yang bisa kulakukan.”

“ Terimakasih, sunbae.”jawabnya canggung.

“…oh ya, apa kau senang bisa kembali mendaki gunung?” Naeun mencoba membelokkan pembicaraan dengan topik yang lebih ringan.

“ Tentu saja. Apa kau tahu? tempat kita duduk saat ini, adalah tempat terakhirku berdiri sebelum ikut terperosok ke dalam jurang di bawah sana bersama para pecinta alam lainnya.”

Naeun menatap ke bawah, sebuah tempat yang dalam, gelap, dan mencekam menjadi yang pertama ia lihat.

Myungsoo pernah terbaring disana tanpa pertolongan berhari-hari.

“ Mengapa saat itu kau sangat sulit ditemukan?”

“ Hampir seluruh tubuhku tertutup salju akibat badai besar. Makanya, kadang aku masih bertanya-tanya bagaimana caranya Sungyeol menemukanku disana.”

“ Tidak perlu kau pikirkan. Bukankah itu sudah lewat? Sekarang kau sudah bangkit dari kematian itu.”

“ Aku memang ingin memikirkan kecelakaan ini, Son Yeoshin. Inilah tujuan utamaku mengajak kalian semua ke gunung ini, Aku ingin kembali ke tempat dimana seharusnya kehidupanku berakhir.”

“…”

Rasa merinding tiba-tiba menjalar di seluruh tubuh Naeun.

“…tapi kali ini, aku tak ingin sendirian. Aku tak ingin lagi langit malam yang kelam menjadi pemandangan terakhir yang kulihat. Aku ingin melihat sahabat-sahabatku, dan wajah perempuan yang kucintai sebagai pemandangan terakhir.”

DEG.

Mengapa perasaan tak nyaman itu kini memuncak dalam benak Naeun setelah mendengar kalimat Myungsoo? Karena gadis itu tahu maksudnya.

“ Kau terdengar seperti akan pergi, sunbae. Apa yang terjadi?”

Lelaki itu tertawa ringan.

“ Haha. Aku tidak akan kemana-mana. Laki-laki di sampingmu ini akan melindungimu sampai kapanpun.”

“ Benarkah?”

“ Memangnya kau mau?”

Gadis itu mengangguk tanpa keraguan.

“ Ah.. aku sangat lega. Kita akan bersama terus mulai sekarang.”

Tanpa izin, perlahan Myungsoo menyandarkan kepalanya di pangkuan Naeun, gadis itu tak menolaknya, ia berpikir Myungsoo perlu istirahat karena sejak sampai di puncak gunung, lelaki itu sama sekali belum beristirahat.

“ Aku ingin tidur sebentar. Jangan keluarkan tanganmu dari saku jaketku. Oke?” pinta Myungsoo pelan.

“ Ada kertas di dalam sini.” Naeun merasakan tangannya memegang sesuatu di dalam saku jaket Myungsoo.

“ Memang ada. Bisakah kau membacakan isinya untukku saat aku bangun?”

“ Tentu saja.”

*

 

“ 666 666 666.”

“ Sial! Passwordnya ternyata semudah ini?” Chorong akhirnya melihat kata sandi yang dikirimkan oleh Sungyeol ke dalam chatroom mereka.

“ Video apa, sih?” tanya Woohyun yang masih tak mengerti.

“ Aku juga tidak tahu.  berbulan-bulan aku dibuat penasaran..” sahut Chorong sembari sibuk membuka videonya dengan tidak sabaran.

Woohyun sedikit merapat karena ikut penasaran.

Video itu berhasil terbuka.

*

 

Myungsoo begitu cepat terlelap di pangkuannya. Dengan sabar, Naeun menunggu lelaki itu terbangun.

“ Wah, keren sekali, ini pasti keluaran terbaru..” Naeun meraih ponsel mewah yang ada di sampingnya, ponsel baru Myungsoo. Karena penasaran, ia mencoba memainkannya sembari menunggu Myungsoo terbangun.

Tiba-tiba, ponsel mewah di tangannya bergetar. Sebuah pesan masuk dalam chatroom.

“ 666 666 666?”

Terdapat sebuah video di dalam sana dan Naeun mencoba membukanya dengan kata sandi itu.

Berhasil.

 

“ Halo. Aku Lee Sungyeol, cenayang yang sering dianggap gila. Kim Myungsoo.. Park Chorong. Malam ini, tepat sebulan setelah Myungsoo kembali pada kita semua, aku baru saja meramalkan masa depan persahabatan kita.”

Video itu direkam berbulan-bulan yang lalu, di asrama SMA Junghwa. Akan menjadi hal menarik jika isinya benar.

 

“…baiklah. Jika aku jelaskan satu per satu dengan kartu tarot,mungkin akan memusingkan. Jadi aku langsung saja.

Kabar gembira, Park Chorong. Kau akan menjadi gadis yang sukses setelah lulus dari sekolah ini. Walaupun perasaanmu pada Woohyun sering berubah-ubah, ujung-ujungnya kau akan tetap mengikutinya ke Amerika. Jadi dengan kata lain, kita akan berpisah.

Aku sendiri, konyol memang, disini dikatakan bahwa aku akan menjadi orang yang lebih kuat dan penyabar di masa depan. Aku juga tidak tahu kenapa. Aku berpikir.. mungkinkah Yura adalah pertandanya? Karena aku harus memiliki kesabaran ekstra setiap kali menghadapi gadis itu.

Dan apa kalian tahu, siapa yang akan merubah Park Chorong dan Lee Sungyeol menjadi pribadi yang seperti itu?

Kim Myungsoo.

Setelah kau bangkit dari kematian dan kembali melengkapi persahabatan kita, kau akan menjadi seseorang yang merubah aku dan Chorong dengan segala kebaikanmu. Yang dapat kubayangkan adalah, kau akan mendorong kami ke arah yang kau inginkan. Seperti, kau akan membantu dan mengajari kami mengerjakan soal-soal latihan ujian agar kita bisa lulus dengan nilai bagus bersama-sama, berusaha menyatukan Chorong dan Woohyun, atau kau akan menjodohkanku dengan Yura. Semua itu kau lakukan agar kami punya masa depan yang bahagia dari segi karir maupun cinta.

Lantas bagaimana denganmu?

Tak ada penjelasan. Karena masa depanmu melayang ke langit.

Kim Myungsoo, kau akan meninggalkan kami lagi setelah kau berhasil membuat kami bahagia dengan jalan kami masing-masing.

Sebab sejak awal, kau jatuh cinta pada orang yang tidak mungkin kau miliki, dan parahnya, kau tidak mampu melupakannya.

Kau akan mengalami konflik batin yang dahsyat dimana kau berpikir untuk mengorbankan dirimu demi seseorang yang kau cintai. Dan aku, dengan segenap kekuatan, mencoba menebak konflik batin yang akan terjadi itu.

Aku tahu seluk beluk dunia penyihir dan negeri Junghwa, jadi aku mengaitkannya kesana.

Aku tahu dengan jelas bahwa Hyoyeon dan L adalah musuh besar. Mereka akan memiliki pertarungan besar. Dan pertarungan itu membunuh L. Penyihir jahat itu akan mati.

Kim Myungsoo, kemudian kau akan menemukan Son Yeoshin sangat berduka, kau tidak tahan melihatnya, jadi kau berpikir untuk mengembalikan L dari kematian, dengan mengandalkan tubuhmu yang sama persis dengannya.

Itu adalah keputusan gila. Tapi kau tetap mengambilnya. Namun kau tetaplah kakak yang baik, kau tetap merasa bahwa izin dari adikmu, Kai, adalah yang terpenting.

Hanya sampai sini aku mampu menebak. Selanjutnya, aku punya dua versi prediksi.

Jika Kai tak mengizinkanmu melakukan ide gila itu, kau akan memilih untuk mundur dari kehidupan Son Yeoshin, kau akan berusaha hidup normal namun tak akan pernah berpikir untuk menemukan gadis lain. Hidupmu akan sangat menderita karena pikiranmu terus dibayangi oleh Yeoshin yang tidak bisa kau miliki. Dan pada ujungnya, kau akan mengakhiri hidupmu karena tak sanggup menahan penderitaan itu. mengapa seorang Kim Myungsoo bunuh diri? Karena kau sangat percaya dengan reinkarnasi, kau ingin menemukan manusia bernama Son Naeun di kehidupan berikutnya.

Jika Kai mengizinkanmu melakukan ide gila itu, kau akan mempersiapkan banyak hal sebelum kau pergi dan mengajak sahabat-sahabatmu, aku dan Chorong, untuk melakukan sesuatu yang kau sukai sebagai momen perpisahan terakhir, karena setelah itu kita akan pergi ke jalan masing-masing. By the way, apa yang disukai olehmu, Myungsoo? Hm.. mungkin kau akan mengajak kami mendaki gunung? Haha, kalau memang benar, kaki Chorong akan lecet-lecet ketika sampai puncak.

Setelah itu, yang jelas, di momen perpisahan terakhir itu juga, kau akan meninggalkan kami diam-diam, dan.. voila! Dengan sentuhan sihir, L akan mengambil alih tubuhmu.

Mengerikan, bukan? Bagaimana jika ini benar-benar terjadi? Tenang, aku sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk itu.

Mungkin aku hanya punya PR sulit saja, menenangkan Chorong yang pastinya akan menangis hebat.

Well, itu saja. Sebut aku gila jika semua ini meleset. Tapi jika tidak meleset, penghargaan apa yang kira-kira akan aku peroleh?

Hahaha.”

 

“ Kau pasti sudah gila..”

Naeun memucat dan merasa seperti baru saja menyaksikan film horor –atau yang lebih seram dari itu-. Ia berusaha melupakan apa yang baru saja ia dengar, ia menganggap Sungyeol mabuk saat membuat rekaman ini.

Gadis itu mengembalikan ponselnya ke tempat semula, lalu menatap Myungsoo yang masih terlelap di pangkuannya.

“ Tidak mungkin itu benar, kan? Sungyeol sunbae pasti hanya mengada-ngada..”

Ia mulai ketakutan.

Tubuhnya membungkuk, mendaratkan ciuman lembut di kening lelaki itu.

“ Kim Myungsoo sunbae..

“ Hahaha. Kau masih saja menyebut sunbae pada Kim Myungsoo?”

Ia terbangun? Suaranya kecil namun terdengar jelas di telinga Naeun.

Gadis itu menegakkan duduknya, menatap mata Myungsoo yang sudah terbuka.

Mata itu..

Berbeda.

Naeun menyingkirkan berbagai spekulasi dalam kepalanya, tangannya segera keluar dari saku jaket Myungsoo bersama selembar kertas dari sana.

Ia akan menepati janjinya, membacakan  isinya setelah lelaki itu terbangun.

 

“ Sebagai orang yang mencintai dengan tulus, aku harus memberikan perlindungan terbaik pada Son Yeoshin, jadi aku serahkan tubuh ini pada seseorang yang lebih mampu.

L, apa kau sudah merasakannya? Maaf jika tubuhku tidak sekuat tubuhmu, dan maaf karena tak ada tato permanen yang tumbuh disana. Kau boleh menambahkannya, tapi jangan sakiti kulitku, lebih baik dengan sentuhan kuas Yeoshin saja.

Tapi, tubuhku tetap tubuhku, kan? Jadi aku berhak untuk memberi sedikit ‘peraturan’. Dengarkan baik-baik.

  • Jangan pernah lupa untuk membawanya berolahraga. Kau pasti tahu aku atlit basket dan pecinta alam. Kau bisa memilih salah satunya, atau yang lainnya, asalkan tubuh ini tidak dibiarkan tak berolahraga.
  • Aku tidak punya masalah dengan makanan, tidak ada alergi tertentu. Tapi.. mengingat ini tubuh manusia, bisakah kau coba untuk tidak lagi memakan apapun dengan campuran darah? Tubuhku tidak akan menerimanya, kau mungkin akan muntah jika memaksakan selera penyihirmu.
  • Aku bisa menjamin segala sistem organ di tubuhku masih sehat. Jadi jangan pernah mengotorinya dengan rokok ataupun alkohol (aku pernah mencoba soju, dan aku menyesal) Yah.. aku tahu ini adalah yang terberat karena kau mengonsumsi keduanya. Tapi aku memohon dengan sangat, kau harus sehat sampai kapanpun, jangan mati konyol karena rokok dan alkohol.
  • Aku tidak tahu pasti, apakah kita akan berbagi ingatan? Jika tidak, gunakan otakku sebaik mungkin, karena pemilik yang sebelumnya sangatlah pintar, hahaha.

Tidak banyak, kan? Tapi.. selain itu, ada beberapa hal yang harus kau ketahui.

L, bisakah aku meminta tolong?

Pertama, aku sudah mendaftarkan diri di Universitas Seoul, jurusan Matematika. Mungkin ini akan menyusahkanmu, tapi jika kau bersedia, tolong lanjutkan hingga akhir atas namaku, dan bantu Sungyeol yang juga mendaftar disana, ia sangat lemah Matematika. Chorong kuliah di Amerika dengan Woohyun, kuharap kau mau sering-sering menghubunginya hingga kalian merasa dekat dan ia mau menganggapmu sahabat.

Lalu kedua, bisakah kau kembali menjadi manajer Hoya? Aku sudah menjanjikan itu padanya. Ia mengalami banyak kesulitan karena aku. Jadi aku ingin kau kembali mendampinginya.

Terakhir, aku menitipkan Kai padamu. Aku memohon dengan sangat agar kau bersedia melanjutkan tanggung jawabku terhadapnya. Jika bukan tanpanya, aku mundur dari rencanaku memberikan tubuh ini untukmu. Jadi, tolong jaga dan urus ia sebaik mungkin. Ia satu-satunya keluarga yang kumiliki, jangan pernah membuatnya merasa sendirian. Oh ya, dua minggu lagi, Kai akan tampil di pentas pertama Seoul Dance Competition Season 2, pastikan kau datang dan memberinya semangat.

Tentang Yeoshin, aku tak perlu berpesan apapun, kaulah yang paling tahu bagaimana cara membahagiakannya.

 

Betapa aku berharap reinkarnasi itu ada, aku tak sabar untuk bertemu Son Yeoshin di kehidupanku yang berikutnya.

Farewell.

 

-Kim Myung Soo-

 

“ Myungsoo!!! KIM MYUNGSOOOO!!!’

Naeun menoleh ke belakang, mendapati Chorong yang tengah menangis histeris dan meronta, ingin berlari ke arahnya. Woohyun dan Sungyeol menahan lengan gadis itu dengan sekuat tenaga.

Sungyeol, cenayang itu memberikan senyuman getir dan mengangguk pada Naeun.

Naeun sungguh tak percaya dengan situasi ini.  Ia kembali pada lelaki yang masih berbaring di pangkuannya.

Mata mereka bertemu dan terkunci beberapa saat.

 

“ L?”

 

“ Ya. aku disini.”

*********************************************

 

2 minggu kemudian . . .

 

“ Silakan tanda tangan disini dan ambil seragam serta kunci kamarmu.”

“ Baik. Terimakasih!”

Krystal meraih pulpen di depannya dan segera menuliskan tanda tangannya dengan bersemangat.

Eunji, sang kakak yang berdiri di sampingnya masih setengah tak percaya dengan apa yang ia lihat.

“ Kau sudah tanda tangan, itu artinya kau tidak bisa merubah keputusanmu untuk sekolah disini.”Eunji memperingatkan.

“ Tentu saja. Keputusanku sudah bulat. Ayo, unni!” Krystal mengambil seragam dan kunci dari atas meja registrasi kemudian berjalan dengan riang.

“…kamar nomor 30. Dimana letaknya ya?”

“ Tepat disamping kamarku.”

“ Benarkah!? Asyik! Ayo tunjukkan padaku!!”

Keduanya berlari kecil menyusuri koridor asrama SMA Junghwa, Krystal sudah sangat tidak sabar untuk menempuh pendidikan di sekolah barunya.

“ Hei, kau harus ingat, sekolah disini sangat berbeda dengan di negeri kita. Jadi kau harus banyak belajar.”pesan Eunji.

“ Yaa.. aku tahu.. aku tahuu..”

“ Kau harus punya banyak teman agar banyak yang membantumu.”

“ Aku tahuuu..”

“ Dan ingat, namamu disini adalaaaah—“

“ Jung Soojung. Aku suka nama itu!”

Eunji tersenyum dan mengacak-acak rambut sang adik.

“ Krystal, mengapa tiba-tiba kau memutuskan untuk mengikutiku sekolah di dunia nyata? Daehyun dan Ilhoon bahkan tidak berani membuat keputusan ini.”

“ Hmm.. hanya satu.”

“ Apa itu?”

“ Kai.”

“ Kai? Bukannya kau sempat marah padanya?”

Krystal menggeleng.

“ Sebelum mempersiapkan pentas malam ini, dia meminta maaf.”

“ Hanya karena itu kau langsung mau tinggal disini?”

“ Tak cuma itu.”

“ Lantas?”

“ Kai… dia bilang padaku bahwa diantara Myungsoo dan aku, pada akhirnya ia memilihku, karena ia membenarkan pesan kakaknya, bahwa masa depan adalah bersama pasangan hidup. Itu adalah keputusan terberat yang pernah ia buat. Jadi aku tak ingin mengecewakannya, aku ingin terus berada disini dan menemaninya.”

Uri Krystal sekarang sudah sangat dewasa. Aku bangga padamu.” Eunji tersenyum haru dan merangkul adiknya dengan penuh kasih sayang.

***

 

Night, 08.00 PM

 

” Kalau begitu pergilah.”

“ Kemana? Ke gunung?”

“ Kemanapun. Kemanapun kau mau, hyung.”

 

Pembicaraan itu masih terus terngiang di telinga Kai, bahkan disaat dirinya tengah disaksikan jutaan pasang mata, baik yang menyaksikannya langsung maupun melalui media massa.

Ia baru saja menyelesaikan penampilan di pentas pertamanya. Penampilan itu bagaikan angin lewat yang berlalu begitu saja, pikirannya masih tertuju pada sang kakak.

 

“ Halo, Kai. Selamat malam.”

Penonton bersorak karena Minah akan menjadi juri pertama yang mengomentari penampilannya.

“ Ya, selamat malam.”

“ Kau sangat.. luar biasa. Sangat potensial, kau adalah yang paling kuingat saat audisi.”

Penonton kembali bersorak, Kai membungkukkan badannya tanda berterima kasih.

“…tapi.. ada satu hal yang aku koreksi. Dalam menari, kau tidak hanya bergerak, namun matamu juga harus berkomunikasi dengan orang-orang yang menyaksikanmu, dan aku tidak melihat itu darimu malam ini. Matamu benar-benar kosong sepanjang penampilan. Tubuhmu memang bergerak sempurna,tapi pikiranmu melayang entah kemana. Apa aku benar?”

“ Huuuuu!!”

Kini penonton tak setuju, namun Kai sependapat dengan Minah.

“ Ya. itu benar.”jawab Kai gugup, ini pertama kalinya ia bersuara pelan namun terdengar hingga menggema di dalam gedung pentas yang sangat besar.

“ Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?”tanya MC yang berdiri di sampingnya.

Lelaki itu mengangguk saja.

“…benarkah? Hmm.. nampaknya penggemarmu ingin tahu, apa itu?”

Kai melirik Hoya yang duduk di bangku juri, sang artis mengangguk saja, mengizinkannya bersuara.

“ Aku.. sedang merindukan seseorang.”

Penonton kembali bersorak, bahkan lebih ramai dari sebelumnya.

“ Wah.. wah.. siapa? Siapa yang kau rindukan..?”tanya MC dengan tidak sabaran.

“ Myung—“ Kai tak sanggup menyebut nama itu, ia tak mau menangis di atas panggung.

“ Barangkali dia merindukan kakaknya.”sela Hoya, beruntung ia memiliki mic yang menyala di depan duduknya.

“ Benarkah?” sang MC bertanya, dan Kai mengangguk.

“…wah.. bagaimana kau tahu, Hoya?”

“ Kebetulan kakaknya adalah manajerku sendiri.”

Kai semakin menunduk, air matanya sudah berada di ujung dan tinggal terjatuh saja.

“…Kai, aku sangat mengenal kakakmu. Ia bukan orang yang akan ingkar janji.” ucap Hoya, “…ia menyaksikan penampilanmu malam ini. Kau saja yang belum melihatnya.”

“ Benarkah?”

Hoya mengangguk, kemudian mengisyaratkan lampu sorot untuk menyinari salah satu kerumunan penonton.

Seorang pria tampan dengan pakaian serba hitam berdiri disana dan melemparkan senyuman khasnya. Benar-benar berbeda, namun Kai bisa merasakan kasih sayang terpancar dari mata lelaki itu.

Ia melambaikan tangannya pada Kai.

Adik kandung Myungsoo itu tak dapat lagi membendung tangisannya. Ia ikut melambaikan tangannya dan…

BRUK!

Ia pingsan di atas panggung.

**********

 

 

“ Argh… sakit sekali.”

Kai memegangi kepala bagian belakangnya yang sedikit benjol, ia terbangun di ruang kesehatan belakang panggung.

“ Bagus sekali, kau membuat rating acaranya meningkat.”

Kai menyadari sejak tadi lelaki yang melambaikan tangan padanya itu kini menungguinya hingga sadar.

“ Kau..kau—“

“ Santai saja. Tanyakan apapun yang ingin kau ketahui.”

“ Apakah kau adalah L?”

“ Secara jiwa, ya.”

“ Apa ini Kim Myungsoo?” Kai menyentuh lengan L dengan lemah.

“ Ya.”

“ Apa aku adalah orang terakhir yang mengetahui hal ini?”

“ Mungkin.”

“ Jadi, semua orang sudah tahu bahwa.. Myungsoo hyung, sudah.. menghilang?”

L menggeleng pelan, ia mengangkat id card yang menggantung di lehernya.

-Kim Myung Soo, Hoya Lee’s Manager-

Kai berusaha menahan tangisnya, memperhatikan id card itu lekat-lekat, foto yang tertera disana bahkan foto kakaknya.

“…jangan berpikir ia menghilang. Memang, secara teknis ia pergi, tapi aku sendiri tak mau menganggapnya begitu.” L berkata pelan dengan suara khasnya.

“ Lalu—“

“ Seseorang mati semestinya meninggalkan sesuatu, bukan? Tubuh matinya. Tapi Kim Myungsoo tidak, ia tetap hidup, raganya masih sehat dan sekarang duduk di depanmu. Aku lebih suka menyebut kami telah bersatu, bukan ia telah menghilang dan aku yang menggantikannya.”

Kai menunduk dan menghapus airmatanya.

“ Tapi..tetap saja.. dia—“

L menarik adik kandung Myungsoo itu ke dalam pelukannya.

“ Aku tahu aku tak akan pernah bisa sama seperti kakakmu. Tapi aku janji, aku akan meneruskan semua janji Myungsoo padamu. Aku tak akan meninggalkan adikku, Kim Jongin. Dan aku akan bertanggung jawab atasmu seumur hidupku.”

“ Myungsoo hyung..” Kai masih terus terisak dan mengeratkan pelukannya, airmatanya membasahi pakaian L, ia tak menyangka akan sesakit ini rasanya keputusan yang telah ia ambil untuk kakaknya.

“ Baik. Baiklah, panggil aku Myungsoo hyung, tidak masalah. Aku hidup dengan namanya. Hanya di negeri Junghwa saja, aku kembali menjadi L. jadi jangan khawatir.”

Kai mengangguk dan tak ingin melepas pelukannya, ia masih mencoba menenangkan hatinya, dan mencoba membiasakan diri untuk tidak lagi gemetar menghadapi L, yang mulai saat ini akan menjadi Myungsoo hyungnya.

“…terimakasih, Kai. Terimakasih telah mengizinkan Myungsoo melakukan kebaikan terakhirnya untukku. Aku janji takkan membuatmu menyesal dengan keputusan itu.”

Kai kembali mengingat saat terakhirnya bertemu sang kakak.

“ Satu-satunya yang kupikirkan saat mengambil keputusan itu adalah.. Son Naeun.”

“ Istriku?”

“ Ya. aku tahu betapa Myungsoo hyung mencintai dia. Satu-satunya hal yang mungkin bisa membahagiakan Myungsoo hyung adalah memberi bukti cinta yang besar untuk Naeun, dan inilah yang diinginkan oleh Myungsoo hyung untuk membuktikannya. Karena kau benar, L. kau dan Myungsoo hyung selamanya bukanlah orang yang sama, semirip apapun Myungsoo hyung denganmu, Naeun tetap menginginkanmu, dan semirip apapun kau dengan Myungsoo hyung, kakakku yang terbaik selamanya tetaplah Kim Myungsoo.”

“ Aku tahu.. setidaknya aku tak akan menyakitimu lagi.” L mengacak-acak rambut Kai seraya tertawa kecil agar ia tak menangis lagi.

“ Bagaimana dengan Chorong dan Sungyeol sunbae?”

L menghela nafas sedikit berat.

“ Perlu waktu banyak untukku menjadi sahabat mereka, terutama Chorong. Sekarang ia sudah di Amerika, dan Sungyeol.. kami akan berada di satu universitas, kuharap ia tak lagi memusuhiku, aku akan mengibarkan bendera perdamaian duluan padanya.”

“ Jika hidup sebagai Kim Myungsoo di dunia nyata menyulitkanmu, jangan memaksakan diri. Kau cukup menjadi Kim Myungsoo untukku saja, L.”

“ Sesulit apapun itu, akan kulakukan. ini kewajibanku untuk membuat Myungsoo tetap hidup di mata semua orang yang mencintainya. Lagipula Naeun dan Taeyeon mendukungku untuk melakukan hal ini. Hoya dan Hyerim juga.”

“ Kau yakin bisa melakukannya?”

“ Tentu saja. Apa yang tidak bisa dilakukan penyihir L?”

“ Yah, ternyata kau masih saja arogan!”

L tertawa kecil dan mengeratkan pelukannya dengan Kai yang sudah mulai tenang setelah pembicaraan kecil ini.

“ L hyung..

“ Ya?”

“ Lalu, kemana perginya jiwa Myungsoo hyung?”

L menggeleng pelan.

 

“ Entahlah. Ini masih misteri dalam dunia sihir. Kuharap suatu saat seseorang akan menemukan jawabannya.”

***

 

6 tahun kemudian…

 

“ Disana!! Disana L!!!”

“ Iya, aku tahu.. hei.. hei.. jangan lari, nanti tertabrak! Aigoo..~

Naeun terpaksa melepas heelsnya dan mengejar seorang bocah laki-laki berusia tujuh tahun yang berlari duluan memasuki halaman luas Universitas Seoul, ia tak boleh lalai lagi, sudah berkali-kali ia kehilangan putranya itu di tengah keramaian.

“ L !!!!” bocah itu memeluk seorang lelaki berpakaian wisuda lengkap yang sejak tadi menunggunya.

“ Halo, Lin!” L langsung mengangkatnya, “…astaga, kau makan apa? Mengapa semakin berat, huh?”

“ Bibi Gain memasak terus, aku jadi tidak bisa berhenti makan!” jawab Lin cepat, L tertawa mendengarnya.

“ Lin? Kau baik-baik saja?” Naeun tiba dengan tergopoh-gopoh sembari menenteng sepatu heelsnya.

“ Astaga, apa yang kau lakukan?” L menatap kaki telanjangnya, Naeun buru-buru memasang sepatunya lagi.

“ Aku tak mau kehilangan Lin, dia sering sekali lari dariku!”

“ Hahaha. Ini karena Yeoshin terlalu lambat!” Lin tak mau kalah untuk mengadu.

“ Perempuan kan perlu banyak persiapan dulu. Apalagi menghadiri acara wisuda pasangannya.”

“ Kau sudah cantik, tidak perlu buang-buang waktu untuk berdandan terlalu lama.” L mengusap pipi Naeun dengan gemas, istrinya tersenyum dan menatapnya dengan bangga.

“ Selamat atas gelar sarjanamu, L.”

“ Kim Myungsoo. Ini gelar milik Kim Myungsoo.” L menunjukkan ijazahnya, Naeun mengangguk mengerti.

“ Kalau begitu, selamat atas keberhasilanmu mewujudkan keinginan Myungsoo.”

“ Maaf membuatmu menunggu terlalu lama.”

L menciumnya beberapa saat, hingga air mata keduanya mengalir bersama, mengingat Myungsoo yang tak terasa sudah enam tahun meninggalkan raganya untuk L.

*****

 

“ Makan! Makanlah yang banyak. Kau pasti lupa makan disana karena terlalu banyak berpikir!”

Taeyeon terus menerus meletakkan makanan di atas meja, L tertawa melihat tingkah ibunya itu.

“ Hei.. hei.. tidak seburuk yang kau pikirkan, kok. Aku ini penyihir, aku bisa lulus dengan mudah. Kuliahku memang sempat aku ulur-ulur karena membantu Sungyeol.”jelas L.

“ Benarkah? Cenayang itu merepotkanmu?”tanya Namjoo, yang kini sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik, namun tetap menjadi teman setia Lin.

“ Haha, tentu saja. Tapi setidaknya berkat dia, aku jadi punya teman di kampus.”

“ Kalian berteman??”

“ Pada tahun pertama memang masih penyesuaian.”

“ Bagaimana dengan Chorong?”tanya Naeun, “…aku terlalu sibuk menjadi guru ramuan disini, jadi aku jarang menghubungi Woohyun oppa.”

“ Aku rajin menghubungi mereka, mereka sudah menikah.”

Mwo? Kenapa aku tidak tahu? mereka tidak mengundang kita?”

“ Menikah ‘itu’ maksudku. Kau mengerti? Mereka sudah punya satu orang anak. Kau tahu sendiri bagaimana kehidupan di Amerika.”

Aigoo.. kukira mereka sudah resmi.”

“ Chorong bilang akan segera mengirimkan undangan, jadi jangan khawatir. Kita akan ke Amerika menghadiri pernikahan mereka. Lagipula Lin belum pernah ke luar negeri, kan?” L mencubit pipi putranya yang sedang makan dengan lahap.

“ Iya! Belum pernah!! Curang sekali, aku ingin seperti paman Howon dan paman Kai yang sudah sering keliling dunia. Bahkan bibi Hyerim juga sering jalan-jalan ke luar negeri!”

“ Itu semua karena mereka bekerja, bukan jalan-jalan.”

“ Tetap saja Lin ingin ikut!”

“ Hyerim menggantikanmu mendampingi Hoya dan Kai tour di China.”jelas Naeun.

“ Ah benarkah? Aku merepotkan tuan putri lagi. setelah ini aku harus segera kembali aktif menjadi manajer Hoya.”

“ Jadi kau akan segera kembali ke dunia nyata?”

“ Sepertinya.”

“ Jangan terburu-buru, lagipula Howon masih di luar negeri. Disini saja dulu beberapa hari, ada sesuatu yang wajib kau saksikan.”

“ Benarkah? Apa itu?”

Naeun tersenyum pada Lin, bocah tampan itu nampak malu-malu.

“…hei, apa itu?” L semakin penasaran.

“ Pertandingan sihir.”akhirnya Namjoo yang memberitahunya.

“ Kau ikut pertandingan sihir? Yah.. bukankah itu hanya untuk penyihir remaja?”

“ Pertandingan sihir anak. Ini adalah ideku sebagai penyihir istana.” sahut Taeyeon, “…kita punya penyihir nomor satu yang masih sangat muda, aku hanya ingin tahu sudah sejauh mana kemampuan Lin.”

“ Ide yang bagus, tapi aku khawatir ia memaksakan diri.” L mengelus puncak kepala putranya itu.

“ Tidak. Aku sudah menyiapkan sesuatu yang heeebaaat~” Lin nampak bersemangat.

“ Oh ya? apa itu?”

“ Rahasia!”

“ Hahaha.. anak ini.. jadi, kapan pertandingan itu?”

 

“ Besok pagi, di halaman sekolah sihir.”

*******

 

Keesokan paginya …

 

“ Jadi menurutmu, apa yang akan anak kita tampilkan hari ini?”

“ Hmm.. aku tidak mampu menebaknya.”

Pagi itu L dan Naeun menunggu Lin selesai bersiap-siap untuk pertandingan sihirnya. Sembari menunggu, Naeun melukis tato di leher suaminya, sesuatu yang harus ia lakukan setiap hari karena L tak ingin membuat tato permanen.

“…kau tidak memperhatikannya di rumah? Apa yang ia lakukan atau persiapkan?”

“ Yang Lin kerjakan setiap hari hanyalah baca buku. Ia hanya akan bermain keluar rumah jika ada Hoya dan Kai, atau jika Namjoo mengajaknya saja.”

“ Dia tidak bergabung dengan anak-anak lain?”

Naeun menggeleng, “ Tato di punggungnya kadang membuatnya kesulitan mendapatkan teman.”

 

“ L! Yeoshin! Aku sudah siap!”

Lin keluar dari kamarnya bersama Namjoo dengan pakaian serba hitam yang rapi. Namjoo sudah selesai mendandaninya.

“ Benarkah? Aigoo.. kau benar-benar tampan seperti aku hari ini.” L segera menggandeng tangan kecil Lin, sementara Naeun memasangkan sepatunya.

“…hei, ayo kita bertanding. Siapa yang paling cepat sampai halaman sekolah, maka dia yang menang.” L tiba-tiba mengajak Lin untuk balap lari.

“ L, apa yang kau lakukan?”Naeun merasa heran.

“ Aku belum olahraga hari ini. Jadi aku ingin lari kesana.”

Ia benar-benar mengingat semua pesan Myungsoo.

“ Oke! Siapa takut!” Lin menyambut antusias tantangan L.

“ Baiklah, 1..2..3..”

Ayah dan anak itu berlari kencang dan saling membalap. Naeun dan Namjoo hanya bisa menggelengkan kepala.

***

 

“ Peserta pertandingan sihir anak dengan nomor 005. Lin, dipersilakan untuk maju.”

Taeyeon menghapus peluh yang bercucuran di kening cucu kesayangannya akibat berlari bersama L beberapa saat yang lalu.

“ L, Yeoshin, Namjoo, dan Taeyeon.. kalian pasti akan menyukai ini!” Lin berbisik dengan nada menggemaskan sebelum ia naik ke atas panggung.

Semua penyihir, bahkan rakyat biasa negeri Junghwa ramai menyaksikannya, terlebih mereka sudah tahu status Lin saat ini adalah penyihir terhebat di negeri mereka. Mereka sudah tak sabar untuk mengetahui apa yang akan ditunjukkan oleh bocah yang baru saja berusia tujuh tahun itu.

Ia hanya menenteng sebuah buku tebal di tangan kanannya, dan tongkat sihir mungil di tangan kirinya.

Lin telah berdiri tegap di atas pangung.

 

“ Apa yang akan Lin tunjukkan hari ini, Lin persembahkan untuk.. Kim Hyoyeon, nenek yang sangat Lin hormati.”

 

“ Hyoyeon?”

Semua orang bertanya-tanya, termasuk L dan Naeun.

 

“…kemudian, ini juga Lin persembahkan untuk.. Kim Myungsoo, sisi baik dari ayahku.”

 

Semua orang semakin tak sabar. Mengapa harus Hyoyeon dan… Myungsoo?

 

Lin mengangkat buku yang ia pegang.

“ Lin tidak akan bermain sihir dengan fisik, jadi L dan Yeoshin, kedua orangtua Lin tidak khawatir. Hari ini.. Lin hanya akan merubah isi dari salah satu halaman buku Rahasia Dunia Luar karangan Kim Hyoyeon.. yang dengan kata lain, Lin ingin menyampaikan kepada teman-teman semua, bahwa…

 

 

Lin menemukan teori baru. ”

****************************

 

Seoul, 13 Januari, di sebuah kehidupan lain..

 

“ Ya.. ya.. aku baru landing. Kau dimana, huh?”

“…apa?! Langsung kesana? Hei, setidaknya izinkan aku ke apartemen dulu, perjalanan dari Vegas ke Seoul tidak dekat, tahu. punggungku rasanya remuk semua berjam-jam di pesawat.”

Seorang lelaki tampan berambut blonde sibuk menggiring kopernya keluar dari bandar udara dengan tangan yang tetap sibuk memegang ponsel di telinganya. Wajahnya nampak sangat suntuk.

“…oh, aku melihatmu. Sebelah sini!”

Sebuah mobil berhenti tepat di depannya, ia segera masuk.

 

“ Sudah kau cari tahu tentang modelnya?” tanya rekannya yang datang menjemput.

“ Kau ini.. setidaknya sapa aku dulu lah, Seokjin.”lelaki itu geleng-geleng kepala.

 

 

“ Ah, iya. Maaf. Selamat datang kembali di Seoul, Kim Myungsoo.”

******

 

Lin siap untuk menyampaikan penemuannya. Namun sebelumnya, ia membaca salah satu teori yang ada pada buku yang ia pegang.

 

“ Teori dua sisi. Semua penyihir jahat akan menemukan manusia biasa yang memiliki bentuk fisik yang sama persis dengan mereka di dunia nyata. Manusia-manusia itu punya sifat yang bertolak belakang dengan sang penyihir. Maka itu, teori ini disebut teori dua sisi. Sisi jahat yang dimiliki sang penyihir, dan sisi baik yang dimiliki oleh manusia tersebut. Ini hanya berlaku pada penyihir yang jahat. Penyihir yang baik tidak mempunyai ‘kembaran’ dalam bentuk manusia biasa di dunia nyata karena mereka sudah memiliki sisi baik mereka sendiri.”

Lin menurunkan bukunya dan kembali melihat ke arah semua orang.

 

“ Di halaman terakhir buku Rahasia Dunia Luar, ada teori dua sisi yang sangat hebat dan sudah terbukti. Bahwa kita semua, para penyihir, punya sisi baik di dunia nyata. Tapi nenekku menulis, hukum ini hanya berlaku bagi penyihir yang jahat saja. Lalu bagaimana dengan Yeoshin? Ibu Lin penyihir yang baik hati,

Lin ragu jika Yeoshin tidak punya ‘kembaran’ di dunia modern. Jadi, Lin mencarinya dengan sekuat tenaga.”

******

 

“ Astaga..! jadi kau belum cari tahu modelnya?” Seokjin menjalankan mobilnya dengan agak frustasi setelah mendengar jawaban Myungsoo.

“ Memangnya kenapa? Nanti juga kami bertemu langsung.”

“ Ck, bukan begitu. Masalahnya model yang satu ini agak berbeda dengan model-model lain yang pernah bekerja denganmu.

“ Berbeda bagaimana?”

“ Ia sedikit.. eh tidak, sangat.. sangat parah.”

“ Parah? Dalam segi apa?”

“ Kepribadian.”

Jinjja? Contohnya?”

“ Dia sangat pemilih dalam mempekerjakan fotografer. Ia hanya ingin fotografer yang sudah terlatih di luar negeri dan pernah bekerja minimal di lima puluh majalah fashion terkenal. Makanya aku langsung menelponmu, karena dari semua kenalan, hanya kau yang memenuhi kualifikasinya.”

“ Wah, akan sangat sulit baginya mencari fotografer dengan syarat seberat itu.”

“ Sampai sini, kau benar-benar belum tahu siapa model yang kumaksud? Ia sangat terkenal di Korea Selatan!”

Myungsoo menggeleng.

Aigoo.. kau benar-benar tidak update soal dunia modelling di Korea. dia akan marah besar jika tahu fotografernya tidak kenal dengannya.”

“ Dia pemarah?”

“ Lebih dari itu. dia ratu iblis.”

“ Woah, benarkah?”

“ Tidak ada fotografer yang tahan bekerja lama dengannya, biasanya setahun saja mereka menyerah. Tapi aku percaya denganmu, Kim Myungsoo. Kau pasti bisa menghadapi dia. Bagaimanapun juga dia tambang emas, dia akan menggajimu dengan jumlah yang fantastis.”

“ Apa dia yang memintaku langsung datang ke apartemennya sekarang?”

“ Ya. dan harus, jika kau membantah, ia bisa murka.”

Myungsoo masih tak begitu mendengarkan perkataan rekannya, ia anggap Seokjin hanya ingin menakut-nakutinya.

“…nah! Nah! Itu..! lihat baliho iklan kosmetik itu! itu dia!”

Myungsoo menatap keluar jendela, menatap sebuah papan iklan raksasa di tengah kota.

Wajah itu… mengapa terlihat familiar?

 

“ Cantik sekali kan? Rambutnya sama-sama pirang sepertimu, hahaha!”

“ Siapa namanya?” Myungsoo masih memutar lehernya untuk menatap papan iklan itu.

“ Nanti kau tahu sendiri.”

 

Tak lama, mobil berhenti di depan sebuah gedung apartemen mewah.

“ Aku langsung saja. Ingat, lantai 46 nomor 177.” Seokjin langsung pamit setelah membantu Myungsoo menurunkan kopernya.

“ Terimakasih banyak, brother.

“ Berhati-hatilah. Telepon aku nanti”

“ Oke.”

Myungsoo membalikkan badannya dan masuk ke dalam gedung, bergegas menuju alamat yang diberitahukan oleh Seokjin.

 

“ Pintunya terbuka..”

Meski setengah ragu, Myungsoo memasuki apartemen tujuannya yang ternyata pintunya terbuka lebar. Ia sedikit terkejut dengan keadaan ruangannya yang luar biasa berantakan.

“ Kau terlambat sepuluh menit.”

Myungsoo berbalik, mendapati seorang gadis berpakaian minim dan berambut blonde bersandar dengan arogan di mulut pintu, jemari tangan kirinya menjepit sebatang rokok yang masih menyala.

“…Kim Myungsoo, kan? Fotografer baruku?”tanyanya lagi.

Lelaki itu masih terpaku menatap wajahnya.

Myungsoo berani bersumpah bahwa ia merasa pernah menemui wajah ini, namun ia tak pernah ingat kapan dan dimana.

Ini perasaan yang benar-benar aneh dan membuatnya hampir gila.

“ Y.. ya. Aku Kim Myungsoo.”

“ Kau tampan sekali.”

“ Haha..” ia tertawa canggung, “…terimakasih.”

“ Kudengar kau cukup lama di Vegas. Aku penasaran, apa kau kenal siapa aku?”

“ I..itu dia masalahnya..”

“ Kenapa?”

“ Siapa namamu?”

Gadis itu mendadak kesal, ia langsung membuang rokoknya dan menginjak-injaknya dengan kasar.

“ Kau benar-benar tidak tahu aku?! Serius!??”

Myungsoo masih berusaha sabar, seharusnya ia bertanya banyak pada Seokjin tentang model yang akan mempekerjakannya ini.

“ Maaf kan aku. Sekarang, tolong sebutkan saja siapa namamu.”

Sang model tertawa sinis dan mendekati telinga Myungsoo.

“ Karena aku adalah dewi di depan kamera, dan bidadari dalam dunia modeling, semua orang memanggilku Yeoshin.”

“ Yeo..shin?”

Sekarang nama itu juga terdengar familiar.

Myungsoo berusaha menyingkirkan perasaan anehnya dan fokus, gadis di depannya sepertinya bisa meledak kapan saja.

Sang model tersenyum arogan dan duduk di sofa sambil membakar rokok yang baru.

“…tapi, karena kita rekan kerja, kau panggil aku dengan nama asliku saja.”

“ Baiklah. Siapa namamu?”

“ Ck, keterlaluan..” gadis itu kembali merasa kesal, “…bahkan fans yang tak pernah bertemu denganku saja tahu siapa nama asliku. Mengapa fotograferku sendiri tidak tahu? kau benar-benar tidak pernah membuka internet ya!?”

Myungsoo sedikit tertohok, namun mencoba mencairkan suasana.

“ Hmm.. yah, mungkin karena aku terlalu sibuk di luar negeri. Jadi, siapa namamu?”

 

“ Ingat sampai mati. namaku Son Naeun.”

************************************

 

“ Jadi inilah inti dari semuanya. Lin membuat perubahan tentang teori dua sisi.”

Lin bersiap membacakan apa yang telah ia temukan di depan seluruh penduduk negeri Junghwa.

 

[REVISI] : Teori dua sisi tak hanya berlaku bagi penyihir jahat.

Penyihir yang baik, meski ia hanya satu-satunya dalam dunia sihir, ternyata ‘berhak’ pula untuk memiliki doppelganger.

Namun ia tidak muncul di dunia nyata pada kehidupan kini.

Ia muncul di kehidupan kedua, dengan karakter yang sangat berbeda dengan kepribadian penyihir baik hati yang serupa wajah dengannya.

Ia menanti sisi baik penyihir terjahat untuk masuk dalam kehidupannya dan merubah sifatnya.

 

Setelah itu, mereka punya kemungkinan untuk hidup bersama sebagai pasangan yang sempurna.

 

 

-THE END-

 

Hai hai haiii

Kita sudah sampai di penghujung acara(?), terimakasih banyak kepada para pembaca setia The Portal dari tahun 2013. Gak kerasa ya ini ff udah tua banget, hahaha

Aku juga mohon maaf banget karena selama ff ini on-going, aku sering vakum tiba-tiba dan bikin kalian lama nungguin.

Okedeh, itu aja. Aku masih excited juga akhirnya namatin The Portal 2, hehehe. Semoga kalian suka endingnya, setelah baca wajib komentar ya, biar jadi bahan evaluasiku untuk karya selanjutnya🙂

Sampai bertemu di ff selanjutnya! ^^

 

-Citrapertiwtiw-

 

finallyitsendedtq

61 responses to “THE PORTAL 2 [Part 9 : The Real Ending] [FINAL]

  1. Selalu ngecek ffindo buat mastiin ff ini udah dipost apa belom wkwkw sampe sabar nungguin 7 bulan udh kayak selametan aja /piss kak/
    Nangisssss bacanyaaa dan ini ff kalo dijadiin drama bakal seru bgt sumpeh ya allah aku doain semoga ada orang sbs/kbs/tvn/mbc yang mau ngambik cerita ini jadi drakor aamiinnnn…..hahahahah

  2. akirnya kakak setelah sekian lama aku menunggu pos juga ff nya, kangen banget sama si L😉

    akirnya terbayar lunas dengan cerita heppy ending
    bahagia banget deh hehehe

  3. FINALLY YEAY!!!!!!! aku udah ngikutin the portal dari masih sma sampe sekarang kuliah wkwkkw. author-nim~ terimakasih sudah membuat ff yang keren! gak sia-sia nungguin the portal:”
    nanti banyakin ff comedy-romance ya, atuhor-nim~ kangen sama kata “mehe-mehe” wkwk

  4. Setelah sekian lama… Sumpah baper bacanya kakk, berharap banhet ada satu myungsoo di dunia ini yg sebaik dia wkwkkk nangis bombay nih daku wkwkkk kreen lah pokoknya di tunggu karya kaka yg selanjutnya

  5. Air mataku cuma bentar-bentar doang berhentinya pas baca. Part ini bener2 menguras air mata. Dua jempol untukmu. Bagian yang bikin aku nangis itu bagian Myungsoo-Kai yang mereka makan malam sama bagian L-Kai sehabis Kai pingsan. Itu sedih banget

  6. Seneng banget pas tau FF ini udah ada lanjutannya><
    Keren banget heuuuuu~~~ tetap berkarya ya kak, fighting!❤️

  7. Huwaaaaaaa sumveh bikin air mataku menganak sungai. Mantap jiwa Thor ffnya. Pengen ada The Portal 3 heheee habisnya keren banget.
    Salut sama pengorbanannya Kim Myungsoo. Sampe speechless bancanya.
    Lin hebat bnget yak? Kok Kim Myungsoo yang hidup lagi ga inget apa-apa? Kenapa ga sampe ditemuin sama Kai dan tmannya? Yeoshin yng di dunia nyata beda jauh reinkarnasinya tapi klihatan lucu.
    Huwaaa bikin yng 3 sih author.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s