Time 1/2

Time cover

Title : All of Us

Author : Mrs. Bi_bi

Main Cast : Cho Kyuhyun, Oh Joon Ae (OC)

Support Cast : John Lee (OC), Kim Hye Rin (OC), Choi Mi Young (OC)

Genre : Marriage Life, Sadnes

Rating : PG

Length : Twoshot

All story is mine

.

.

.

.

-oo—ooooooo-

.

.

.

.

Disebutkan, hal paling menyakitkan adalah mempercayai manusia—dan Joon Ae setuju, baru saja.

Disebutkan pula, hal paling menyakitkan adalah menyesal—dan Kyuhyun setuju,  baru saja.

-oo—ooooooo-

 

 

 

Kyuhyun tidak ingin mengingat sejak kapan dirinya malas untuk pulang ke apartment kecil dan sederhananya yang dulu penuh bahagia dan tawa.  Kyuhyun juga tidak mau mengingat alasan dari keadaan sedingin es yang membuatnya selalu tidur berhadapan dengan jendela polos penuh salju.  Bahkan untuk bertemu dengan seorang yang membuatnya tidak pernah bosan untuk tertawa dan memiliki alasan untuk hidup juga bekerja, Kyuhyun mulai menyesali itu semua.

Lorong sepi layaknya apartment lain di ibu kota apalagi waktu yang sudah menunjukkan tengah malam—wajar rasanya jika derap langkah kaki seorang langsung didengar.  Kyuhyun, melirik jam disebelah tangannya dan tidak cukup terkejut dengan jarum jam lebih pendek yang menunjuk angka satu.  Pria itu mendesah lelah, bukan sebab kerja memaksanya seharian tadi—bukan itu.  Memasuki apartment kecil yang sudah ditempatinya hampir setahun ini, bertemu wanita yang mulai membuatnya ingin muntah, lebih melelahkan dan sedikit banyak itu adalah Kyuhyun menampakkan wajah lebih malas dibanding berhadapan dengan setumpuk pekerjaan.

Sejenak, langkah kaki Kyuhyun memasuki apartmentnya tertunda.  Ponsel di saku celana bahannya berdering dan itu cukup untuk membuatnya memiliki alasan memasuki kediamannya tanpa wajah masam dan malas seperti tadi.  Senyum lebar pada wajah Kyuhyun tampak, sembari berbicara dengan si penelpon—Kyuhyun menekan tombol password apartmentnya hingga pintu depannya langsung terbuka.

Apartment sederhana yang ditempatinya sejak setahun lalu itu sepi, tidak membuat Kyuhyun heran karena memang begitu suasana  yang tercipta selama hampir 1 bulan ini—membawa tawa juga bahagia entah kemana seolah tidak pernah terjadi hal indah disana.  Suasana ruang gelap ketika Kyuhyun baru saja masuk seolah menunjukkan keberadaan salah satu penghuninya yang mungkin sudah tertidur, seperti biasa dan  Kyuhyun tidak terlalu mempermasalahkannya, toh—ia bisa menghidupkan sendiri lampu pada ruang kecil yang sebentar lagi akan ditinggalkannya ini.

Meletakkan tas kotak berwarna coklatnya yang sejak tadi dibawa dengan asal, pria itu kemudian berjalan menuju dapur yang bahkan jaraknya dengan ruang utama tidak terpisahkan.  Kyuhyun buka kulkas kecil setinggi pinggangnya dan mengambil sebotol air, menenggaknya puas hingga haus yang dirasa menghilang.

Sekali lagi tawa kencang Kyuhyun sebab ponsel yang menempel di salah satu sisi wajahnya terdengar, menunjukkan ketampanan wajah seorang bermarha Cho yang tidak bisa dielakkan.  Entah apa yang pria itu bicarakan dengan lawan bicaranya dalam telfon hingga mampu untuk mengubah suasana hatinya, sekaligus suasana hati wanita di dalam satu-satunya kamar pada apartment kecil tersebut.

 

 

Joon Ae, wanita keturuan Belanda dengan nama asli Isabelle itu mengedipkan mata biru pekatnya beberapa kali dalam gelap kamarnya bersama Kyuhyun, bukan untuk melihat keadaan yang gelap karena tidak ia nyalakan lampunya, bukan pula karena ia baru saja terbangun dari tidur karena yang sebenarnya terjadi adalah—Joon Ae tidak pernah benar-benar tidur sebelum Kyuhyun merebahkan diri disampingnya, bergumul dengan selimut coklatnya, dan memunggunginya tanpa hati.

Penelfon.  Berapa kalipun berusaha Joon Ae abaikan, dirinya tetap penasaran tentang siapakah orang yang beberapa hari belakangan ini sering bertelfon ria dengan Kyuhyun dan kembali membuat pria itu tertawa?  Siapakah penelfon tidak tahu waktu yang anehnya berhasil membuat Kyuhyun terlihat bahagia?  Siapakah penelfon tanpa sosok yang mengambil perannya untuk membuat Kyuhyun tertawa?  Siapakah pula penelfon itu yang membuatnya ketakutan akan perginya Kyuhyun dari sisinya?  Siapakah penelfon itu?  Ulang Joon Ae menuntut tanpa mau sedikitpun mengeluarkan suaranya dan hanya mengucapkan dalam isi kepala penuhnya.

Wanita itu takut, takut jika Kyuhyun pergi dan meninggalkannya.  Takut jika Kyuhyun melupakannya dan pergi bersama wanita lain mengingat bagaimana dulunya sikap pria itu sebelum akhirnya berubah.  Takut, Joon Ae takut kehilangan Kyuhyun hingga dadanya sesak hanya dengan memikirkan itu dan tangan putihnya yang bergerak menyentuh ujung matanya sebab terasa ada yang mengalir tanpa permisi disana—membuat beberapa saraf pada bibirnya bergetar dan lehernya makin kesulitan menelan saliva.  Sesak yang makin menjadi, tangisan yang tidak akan pernah berbayar, Joon Ae merasa ia harus keluar dan menghirup udara segar—kiranya udara dalam kamar yang bahkan tidak terdapat AC membuat saluran udara disana buruk dan membuatnya makin buruk.  Padahal dulu, jika di ingat-ingat…. satu bulan lalu tepatnya, tidak ada yang salah pada udara dalam kamarnya yang bahkan sering ia dan Kyuhyun jadikan pembuangan karbon dioksida.

Joon Ae menghela nafas panjang, ia tidak bisa lebih lama dalam kamar dengan tawa kencang Kyuhyun yang makin mengiris-iris hatinya dan lagi, perutnya terasa sangat lapar.  Menikmati jajanan pinggir jalan yang pedas, Joon Ae menginginkan itu tiba-tiba hingga air liurnya hampir keluar dan kegiatan Kyuhyun diluar sana yang melukainya tidak lagi Joon Ae pikirkan.  Bayangan jajanan pinggir jalan untuk saat ini lebih menjadi yang utama dan berhasil menekan hatinya meski sedikit.

 

 

Ramyeon yang baru saja Kyuhyun masak dan hendak disantapnya segera, terhenti sejenak ketika mendengar suara pintu kamar yang terbuka.  Tidak menolehkan kepalanya meski tahu siapa yang muncul, Kyuhyun justru melanjutkan santapannya yang sempat terhenti setelah sebelumnya mendesis sinis.  Telfon menyala yang tadi diletakkannya diatas meja Kyuhyun kembali ambil—kembali bercengkrama ria bersama lawan bicaranya sambil menikmati ramyeonnya didepan televisi tanpa peduli sekitar, atau sedikit memaksa tidak peduli seperti bagaimana pria itu berprilaku sebulan penuh ini.

Joon Ae tidak melakukan hal berlebihan melihat kelakuan Kyuhyun meski sebenarnya sedikit terganggu.  Suaminya itu tengah tertawa bersama ramyeon penuh dalam mulutnya kini, membuatnya menahan marah dan kesal yang entah kapan akan dikeluarkannya.  Entah Kyuhyun tertawa untuk tontonan didepannya, atau karena telfon yang sepertinya akan berakhir hingga pagi hari seperti kemarin-kemarin—Joon Ae berusaha tidak peduli sebagaimana yang Kyuhyun lakukan.

Mantel hangat yang tergantung disamping pintu masuk Joon Ae ambil dan mengenakannya segera.  Sepatu boots hangat yang ujungnya berbulu juga Joon Ae kenakan, hadiah ulang tahun dari Kyuhyun itu—meski tidak ingin ia pakai toh Joon Ae tidak bisa melakukannya untuk sekarang.  Udara luar memaksanya memilih sepatu itu dibanding sepatu miliknya yang lain dan tanpa memandang atau saling menegur, Joon Ae keluar layaknya tinggal seorang diri begitupun Kyuhyun yang seolah tidak ada siapapun di tempatnya kini berada.

Kyuhyun yang masih tertawa kencang dan Joon Ae yang mulai melangkah di lorong sepi apartmentnya.  Keduanya, detik ketiga setelah tidak berada dalam satu ruang yang sama, menunjukkan reaksi mirip.  Diam dan menatap kosong.  Tapi toh, ego keduanya tidak ada yang mengalahkan dan tawa Kyuhyun kembali, berikut rencana Joon Ae membeli makanan pinggir jalan.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Untuk pertama kalinya dalam sejarah Kyuhyun selama tinggal bersama Joon Ae, ini adalah pertama kalinya wanita itu tidak ada disisinya ketika ia bangun.  Entah apakah wanita itu tidak ada disisinya sebab menginap diluar karena semalam saat dirinya tertidur—matanya tidak melihat Joon Ae seperti biasa, atau mungkin memang ada hal lain yang membuat wanita itu bangun lebih awal.  Tirai juga jendela yang terbuka hingga udara bisa masuk dalam ruang pengapnya sekaligus mempersilahkan sinar pagi matahari masuk, menepis pikiran Kyuhyun tentang Joon Ae yang menginap di luar.  Jawaban keduanyalah yang dirasa lebih tepat, bahwa Joon Ae bangun lebih pagi sebab melakukan sesuatu.

Kyuhyun mengucek mata ngantuknya, ia lihat jam pada laci samping ranjangnya dan ini memang sudah waktunya untuk bangun.  Pekerjaan menumpuk pada perusahaan hampir bangkrut yang appanya berikan sebab hukuman karena ia menikahi Joon Ae setahu lalu, berhasil dikembangkannya lagi.  Meski awalnya Kyuhyun cukup kesal sebab kesibukan yang membuatnya jarang menghabiskan waktu bersama Joon Ae, namun kini Kyuhyun anggap bahwa kesibukannya yang makin menjadi adalah suatu keuntungan.  Setidaknya ia memiliki alasan untuk menjauhi wanita yang hampir sebulan ini tidak disentuh maupun disapanya.

 

Kedua alis Kyuhyun menyatu tiba-tiba, kembali pada keadaannya saat ini—sesuatu yang ganjal muncul bersama sesuatu tidak asing yang sampai di telinga.  Suara hampir mirip seperti yang ada di rumahnya saat pagi hari ketika dirinya bangun dimana eomma juga kakaknya memasak di dapur—terdengar.  Eomma atau noona-nya berkunjung kemari?  Sepagi ini?  Rasanya tidak mungkin.  Lalu—Joon Ae?  Memasak?  Mustahil tepis Kyuhyun segera begitu hal macam Joon Ae di dapur dan tengah memasak yang muncul dalam isi kepalanya.  Pria itu sama sekali tidak percaya jika kemudian Joon Ae berada di dapur dan memasak, namun kenyataannya, pikiran yang Kyuhyun pikir mustahil tentang Joon Ae berada didapur dengan kegiatan normal yang wanita lain lakukan saat pagi datang memanglah terjadi—tidak seperti perkiraannya.  Apa aku sedang bermimpi?  Tanyanya dalam hati saat membuka pintu dan langsung dihadapakan pada Joon Ae yang sedang mengaduk entah apa dalam cangkir yang sebelah tangannya pegang.  Menyandarkan tubuh tingginya pada wastafel yang hanya sampai pinggangnya, wanita itu tampak begitu menikmati kegiatan pagi barunya ini.

Kyuhyun terdiam ditempatnya dengan mata membulat dan darah berdesir yang memenuhi tiap urat sarafnya hingga jantungnya ikut berdegup kencang membuatnya tidak tenang.  Luapan bencinya pada Joon Ae, pandangan sinis juga segala pikiran buruknya melayang hanya sebab Joon Ae didepannya yang bersikap dan berpenampilan seperti sebulan lalu saat hubungan mereka masih jauh dari kata menyedihkan seperti saat ini.

Joon Ae tidak bertelanjang jika itu yang ada dalam pikiran siapapun hingga Kyuhyun sama sekali tidak bisa mengalihkan pandangannya dan bahkan terpaku hingga saat ini.  Joon Ae bahkan tidak melakukan hal yang menggoda Kyuhyun hingga segala pikiran benci dan jijiknya yang selalu tampak menghilang—lenyap begitu saja terbawa angin yang masuk bebas melalui celah jendela terbuka.

Joon Ae hanya mengenakan salah satu atasan miliknya yang kebesaran namun menampakkan keseluruhan paha halusnya, Joon Ae juga hanya berpenampilan layaknya wanita lain ketika baru bangun tidur dengan rambut kusut acak-acakannya yang belum sempat di sisir, Joon Ae juga bahkan tidak memberikan sapuan make up apapun pada wajah polosnya.  Wanita itu, berpenampilan sangat normal untuk ukuran seorang wanita ataupun istri yang baru saja bangun tidur.

Namun siapa sangka hal macam itu mampu membuat Kyuhyun hampir terjatuh dan beruntungnya, tangannya berpegangan pada gagang pintu hingga tidak mungkin baginya melakukan satu kesalahan memalukan hanya sebab tampilan Joon Ae macam itu yang sudah lama tidak dilihatnya.

Kyuhyun menelan saliva-nya, paksa.  Dirinya tidak mengerti kenapa Joon Ae tiba-tiba berpenampilan macam itu dan jika maksudnya untuk menunjukkan pada Kyuhyun bahwa aku cantik meski dengan tampilan berantakan apakah kau tidak tergoda padaku?  Maka ya, Kyuhyun mengangguk.

Jika tujuan Joon Ae berpenampilan macam itu yang sebulan ini sudah tidak pernah lagi ditunjukkannya memang untuk maksud macam itu, Kyuhyun akan mengangguk dan mengatakan tanpa ragu bahwa Joon Ae masih tetap sangat cantik meski dalam keadaan berantakan dan tanpa ditanya—dirinya sudah hampir gila mengingat betapa dirinya suka keadaan berantakan Joon Ae, bagaimana kacaunya wanita itu ketika berada dibawah kuasanya, erangan dari bibir merahnya yang membuat dirinya tersiksa sebab tidak bisa lagi merasakannya sebulan ini, rambut kusutnya seperti saat ini yang selalu terjadi sebab jemari lentiknya menarik tidak peduli bersama keringat yang mengalirinya, Kyuhyun mengangguk.  Joon Ae bahkan tampak lebih sempurna ketika berantakan.

Namun, bukankah kini semuanya telah berbeda?  Telah berubah?  Kyuhyun tersadar, kepalanya menggeleng dengan mata sedihnya yang baru sekali ini tampak.  Keadaan sebulan lalu tidak bisa Kyuhyun lupakan dan jikapun Joon Ae bertelanjang dihadapannya, menciuminya, bahkan menggodanya bagai pelacur, Kyuhyun tidak akan peduli.

Menyadarkan diri dan tidak ingin terlalu terpesona pada Joon Ae yang berdiri didepan wastafel dengan cangkir dalam genggamannya, meja makan dibelakang wanita itu—untuk pertama kalinya terisi dengan sarapan buatan tangan meski hanya berbatas roti, telur goreng, serta sosis dan buah.  Oh, jangan lupakan susu.

Sebelah alis Kyuhyun terangkat, ia tidak tahu kenapa Joon Ae tiba-tiba bersikap seperti ini.  Wanita blesteran Belanda itu tidak pernah sebelumnya bersikap seperti ini.  Jangankan menyiapkan sarapan, menyentuh dapur dengan tangannya sendiri saja ia tidak mau.  Makanan yang tersaji di meja makan, mungkinkah untuk meluluhkan hatinya?  Sumpah untuk itu?  Kyuhyun hampir tertawa saking dirinya yakin bahwa itu tidak mungkin.  Dirinya tidak akan pernah luluh pada Joon Ae kali ini, dan… dirinya bahkan sudah berkeputusan menceraikan wanita yang sejak bulan lalu dipanggilnya pelacur itu.

 

 

Who’s going to be the first one to start the fight?

Who’s going to be the first one to fall asleep at night?

Who’s going to be the last one to drive away?

Who’s going to be the last one to forget this place?

 

 

Lirik pertama dalam lagu Spaces milik One Direction yang saat ini Joon Ae nyanyikan, entah sadar atau tidak menyentil hati dingin Kyuhyun.  Suara serak khas bangun tidur Joon Ae, membuat beberapa nada terdengar sumbang, bahkan pelafalan nadanya tidak seperti seharusnya.  Kyuhyun terdiam bersama Joon Ae yang terus menyanyi dengan suara pas-pasannya, tidak terdengar merdu memang—namun bersama Joon Ae yang bernyanyi seolah bertanya, Kyuhyun menjawab dalam hati.  Kau yang memulai pertengkaran, kau yang tidur lebih dulu di malam hari, aku yang akan pergi pertama, aku yang akan lupakan tempat ini lebih dulu.

Kyuhyun tidak tahu kenapa dirinya menikmati apa yang istrinya lakukan dan bahkan menjawab lantunan lagu seolah pertanyaan itu.  Namun bersama sandarannya pada daun pintu kamar untuk menjawab pertanyaan dalam lagu yang Joon Ae lantunkan, Kyuhyun tidak bisa mengalihkan pandangannya dari istri yang kini tengah mengaduk entah minuman apa dalam genggamannya bersama keinginan menyesakkan yang berusaha mati-matian ditahannya.  Kyuhyun yakin, andai Joon Ae tahu dirinya sudah bangun, maka nyanyiannya akan terhenti seketika berikut wajah datar dan tidak peduli yang kembali akan ditampakkannya meski sarapan di meja makan menunjukkan niat bai Joon Ae yang tampak benar-benar ingin berbaikan.

Untuk satu hal, Kyuhyun merasa sedih.  Kebencian yang tidak bisa diredupkan bersama cinta yang masih terasa mengiringi.  Wanita itu, andai pertengkaran mereka satu bulan lalu segera terselesaikan atau bahkan tidak pernah terjadi, maka kedinginan di apartment mereka ini tidak akan pernah terjadi.  Andai dirinya tidak melihat Joon Ae berada dalam apartment milik salah satu teman prianya dulu, dan keluar dari dalam kamar hanya berbalutkan gaun tidur, semua ini tidak akan terjadi.  Andai ketika dirinya datang dan mengamuk Joon Ae membantah dan bukannya diam saja, semua ini tidak akan terjadi.  Dengan ini Kyuhyun sadar, dengan ingatan sebulan lalu ia tersadar untuk berhenti menatap Joon Ae tidak peduli pada matanya yang masih tidak rela melepaskan pemandangan memabukkan yang sudah lama tidak didapat.

Masih berusaha menahan gejolak yang terkubur asal dalam hatinya hingga bisa saja isinya meledak saking ia tidak rapinya melakukan itu, Kyuhyun membuang muka memerah.  Pintu kamar yang terdengar berdecit menghentikan nyanyian sumbang Joon Ae, wanita itu menoleh bersama tubuhnya yang berbalik.  Menunjukkan wajah ayu yang selalu membuat Kyuhyun tergila-gila.

“Kyu—.”  Joon Ae bersuara, untuk pertama kalinya dalam sebulan setelah pertengkarang mereka wanita itu kembali memanggil nama suaminya.  Wajah acuh dan tidak pedulinya bahkan tidak lagi Kyuhyun lihat, untuk kali ini…. binar bahagia yang selalu Joon Ae berikan ketika menyambutnya pulang bekerja ataupun mendapatkan waktunya lebih banyak dibanding yang lain—datang lagi, memberikan desir aneh dalam hatinya yang sudah lama tidak dirasa.

Sayangnya, bayang kejadian sebulan lalu melekat dalam pikiran juga pandangan Kyuhyun.  Pria itu tidak mau mendengar apapun lagi dari bibir yang selalu membuatnya terlena.  Kyuhyun ingat saat Joon Ae tetap bungkam ketika sebulan lalu dirinya meminta penjelasan, dan kini… apakah wanita ini akan menjelaskannya?  Terlambat, sudah sangat terlambat.  Apapun yang akan dikatakannya, Kyuhyun akan anggap itu kebohongan.  Lagipula, tidak mungkin tidak terjadi apa-apa dalam apartment yang kemudian kau berganti gaun tidur disana.

Joon Ae menyibak rambut coklat sebahunya yang kusut, meletakkan cangkir yang sejak tadi digenggamnya pada wastafel, dan melangkahkan kakinya menuju arah Kyuhyun yang sayangnya—membuang muka jijik lebih dulu.

Langkah kaki Joon Ae terhenti seketika.  Dirinya sudah biasa dan memaklumi pandangan jijik Kyuhyun selama sebulan ini, namun ini?  ketika dirinya sudah bersikap baik, berniat memperbaiki semuanya, memanggilnya halus—dan kemudian dihadiahi pandangan yang masih sejijik itu?

Menekan sakit dalam hati juga mata memerahnya, lehernya yang tercekat Joon Ae paksa untuk kembali mengeluarkan suaranya.  “Tidak adakah cinta dan kepercayaan yang tersisa untukku?”

Sebelah alis Kyuhyun langsung terangkat begitu mendengar suara khas istrinya yang tidak terlalu fasih berbicara Korea.  Pria itu—kembali menatap istrinya sinis dan membuang nafas malas.  Tidak ada jawaban, tanggapan, ataupun pandangan lagi untuk Joon Ae.  Sembari melangkah malas, tangan Kyuhyun mengambil handuk yang terlipat rapi disamping kamar tidurnya dan kemudian melangkah ke arah kamar mandi.  Menjawab pertanyaan Joon Ae dengan penolakan, bahwa cinta dan kepercayaan yang sebelumnya Joon Ae tanyakan sudah tidak ada meski berusaha ditiadakan dengan susah payah.

Joon Ae merasakan matanya yang memanas, lehernya bahkan serasa tercekik hingga ia tidak bisa bernafas.  Bertahan, Joon Ae hapus segera air matanya—tidak ia tunjukkan sama sekali sisi lemahnya bahkan pada saat tidak seorangpun yang bisa melihat.  Kedua tangan Joon Ae yang mengerat pada punggung kursi kayu, seolah menjadi pelampiasan akan isi hatinya.  Wanita itu—berjalan memutar kemudian untuk duduk di kursi kayu tersebut, berhadapan dengan makanan yang untuk pertama kali dibuatnya dalam hidup.

Selesai dan berhasil menangani sakit tidak tampak dalam hatinya, rasa tidak nyaman lain yang mulai Joon Ae rasakan tiap pagi muncul tanpa peringatan sebelumnya.  Joon Ae lebih berusaha menenangkan dirinya sendiri saat ini, membuat tubuhnya merasa lebih nyaman tanpa sesuatu halpun yang mengganggu dan bunyi gemericik air dalam kamar mandi menandakan Kyuhyun yang memang sedang mandi—menghadapi emosi tanpa namanya seorang diri.

Joon Ae mengalihkan pikirannya dari Kyuhyun, untuk sementara dia ingin melupakan masalah itu dan berhubung rasa tidak nyaman dalam perutnya telah menghilang, dirinya ingin semakin memanjakan diri.  Jeruk di atas meja tampak begitu menggiurkan dalam pandangan Joon Ae, membuatnya tanpa sadar mengambil buah bulat itu dan segera mengupas kulitnya tanpa pikir panjang.  Joon Ae tahu, beberapa orang berkata bahwa tidak baik makan buah terlalu pagi, apalagi saat belum ada satupun karbohidrat yang masuk dalam perutmu.  Namun entah bagaimana, Joon Ae benar-benar menginginkan jeruk ini sekarang seperti saat semalam menginginkan jajanan pinggir jalan.  Kupasan kulit jeruk dan kemudian memakannya hingga habis 3 buah menemani penantiannya menunggu Kyuhyun keluar dari dalam kamar mandi tanpa terasa.  Joon Ae tidak tahu apakah Kyuhyun terlalu lama mandinya, atau memang dirinya yang terlalu cepat memakan jeruk dihadapannya hingga kemudian habis sebanyak ini, namun apapun itu—wanita tersebut menikmatinya.

Pintu kayu kamar mandi terbuka, Joon Ae kembali menoleh ke arah Kyuhyun bersama mulut penuh jeruknya.  Pandangan polos mata wanita itu sampai dalam penglihatan Kyuhyun, masih mengunyah jeruk dalam mulutnya—Joon Ae segera berdiri dan menelan sisa jeruk dalam mulutnya cepat.  Tampak terburu, wanita itu ingin melanjutkan pembicaraan tadi yang sebenarnya tidak ingin Kyuhyun dengar.

Joon Ae bertekad, bagaimanapun Kyuhyun tidak mau tahu tentang ini, bagaimanapun Kyuhyun tidak mau mendengarkan ini, Kyuhyun harus tahu dan mendengarkannya.

 

 

 

Kening basah Kyuhyun berkerut.  Mata pria itu tidak bisa mengabaikan keadaan dihadapannya—Joon Ae yang makan jeruk sepagi ini dan sangat banyak.  Hal ini jelas menganggu dan tidak akan Kyuhyun biarkan andai….. hubungan mereka masih sebaik dulu.  Sekali lagi Kyuhyun menelan ludahnya, menyadari ucapan yang baru saja terbersit dalam kepalanya sekaligus menyadarkannya tentang hubungannya saat ini dengan Joon Ae, cukup untuk membuat Kyuhyun mengabaikan kepeduliannya lagi.

Masih dengan rambut basahnya yang di usap menggunakan handuk kecil, Kyuhyun melangkahkan kakinya menuju kamar.

“Aku ingin bicara.”  Ucap Joon Ae cepat, menghentikan langkah Kyuhyun yang langsung berbalik padanya dengan wajah malas.

Menghela nafas panjang seolah kesal, wajah istrinya yang makin gemuk dan sama sekali tidak menampakka kesusahan sepertinya cukup untuk menambah kekesalannya pagi ini sekaligus pada Joon Ae.  Pria itu tidak mengerti, disaat dirinya berusaha mengalihkan perhatian dari kejadian sebulan lalu dengan bekerja tanpa henti dan kehilangan berat badan, istrinya ini justru melakukan hal sebaliknya.  Tidur dan makan sepanjang hari seolah tidak ada hal buruk.

“Duduklah dulu.”  Joon Ae menarik kursi disebelahnya, berharap Kyuhyun duduk disana seperti yang ia inginkan namun sayang… apa yang terjadi tidaklah begitu.  Kyuhyun tidak seperti Kyuhyun yang Joon Ae kenal.  Entah kemana perginya pria yang selalu memeluknya hangat, entah kemana pria yang selalu mempercayainya, entah kemana pula pria yang sangat mencintanya itu.  Kyuhyun, pria itu benar-benar tampak berbeda luar dalam.  Sorot cintanya bahkan sudah tidak bisa Joon Ae lihat lagi dari matanya, entah hilang, dibuang, atau di curi.

Joon Ae menelan egonya untuk kesekian kalinya.  Ia tidak bisa terus menerus menunggu kepala Kyuhyun mendingin, ia tidak bisa menunggu dan berlaku seperti biasa dimana Kyuhyun yang selalu mendekatinya dan kemudian bertanya tentang kejadian sebenarnya dengan intonasi lembut.  Joon Ae sadar bahwa, pernikahan bukan hanya ditopang oleh satu pihak tapi oleh kedua belah pihak.  Sejak dulu Kyuhyun selalu mengalah padanya dan kini waktunya bagi Joon Ae mengalah, menurunkan egonya yang meminta agar tidak perlu melakukan ini, menghilangkan egonya untuk menyapa dan berbicara terlebih dulu pada Kyuhyun, menekan egonya untuk menunggu permintaan maaf Kyuhyun sebab mengatainya pelacur sebulan lalu—awal dari diamnya Joon Ae, awal dari kemarahan Joon Ae hingga tidak berbicara sepatah katapun pada Kyuhyun, baik permintaan maaf maupun penjelasan akan kejadian sesunggungnya.

Tawa Kyuhyun semalam—bisa dibilang bahwa hal tersebutlah yang membuat Joon Ae bergerak seperti saat ini.  Entah siapa orang yang akhir-akhir ini bertelfon ria dengan suaminya hingga mengembalikan tawa Kyuhyun, Joon Ae sedikit terpengaruh oleh itu.

“Kyu—.”  Joon Ae kembali memanggil dan pria itu mendengus jijik.

“Aku tidak duduk dengan pelacur.”  Ucap Kyuhyun tanpa pikir panjang, mengeluarkannya begitu saja dengan licin dan tanpa halangan tanpa peduli ataupun terusik sedikitpun setelah kemudian Joon Ae membulatkan mata sedih padanya.

Joon Ae tersenyum tipis, tidak percaya.  Setelah satu bulan ini diam, tidak berbicara padanya, kalimat pertama suaminya adalah kalimat macam ini?  dan setelah satu bulan ini dirinya melupakan kata pelacur yang Kyuhyun lempar hingga baru bisa menekan emosinya hari ini, Kyuhyun kembali mengeluarkan kata itu?

Joon Ae mengeram tertahan, Kyuhyun tertawa tipis seolah memenangkan game dan kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar.  Tidak peduli bagaimana reaksi istrinya setelah ini, atau bahkan tidak peduli pada hati istrinya, ucapan lebih menyakitkan hingga membuat Joon Ae hampir jatuh lemas terdengar.  “Jika kau ingin bicarakan perceraian, tenang saja.  Nanti malam kau bisa menandatanganinya saat aku pulang kerja.”

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

“Hhhh……”  Kyuhyun menghela nafas panjang.  Wajahnya terlihat sangat lelah, hati dan pikirannya bahkan lebih lelah andai ada yang bertanya.  Kursi empuk serta kopi yang orang bilang bisa meningkatkan mood tidak menolong banyak, pria itu masih tidak bisa menghilangkan wajah kuyu Joon Ae dari pikirannya saat pagi tadi berkata perceraian.

Perceraian.  Sebut Kyuhyun dalam hati sambil mengeram tertahan.  Meremas rambut pendeknya kesal, Kyuhyun menggumam dengan pikiran tentang dirinya yang bahkan tidak pernah memikirkan itu.  Perceraian, sama sekali Kyuhyun tidak ingin.  Tapi bagaimana?  Bagaimana lagi dirinya harus bertahan?  Membayangkan hidup bersama wanita yang sudah tidur bersama pria lain ketika memiliki status bersamamu, Kyuhyun tidak bisa menerima itu.  Harganya dirinya tidak bisa menerima kenyataan Joon Ae memperlakukannya seperti itu.

 

“Maaf presdir.”  Suara sekretaris yang baru Kyuhyun pekerjaan bulan lalu terdengar, menampakkan dirinya setelah mengetuk pintu—sekretaris berpenampilan mini itu mendekat.

“Ada apa?”

“Ada orang diluar yang sangat ingin bertemu dengan anda dan memaksa masuk.”

“Siapa?”

“Kalau tidak salah namanya John Lee, apakah saya harus mempersilahkannya masuk?”

 

John Lee?  Kyuhyun menarik sebelah alisnya kemudian menggeleng.  “Tidak.”  Ucapnya tegas, tanpa keraguan sedikitpun.  Gila saja, bertemu dengan pria yang meniduri istrimu?  Lagipula untuk apa pria itu mendatanginya?  Ingin membuatnya menggila seperti sebulan lalu?  Belum cukupkah pukulannya ketika itu?

“Kyu!”  Bentakan bersama gebrakan pintu yang mengagetkannya hingga menghadirkan sosok bernama John Lee itu menyentak Kyuhyun sekaligus membuat darahnya kembali berdesir.  “Kau gila menceraikan Isabelle?!”  Teriaknya dengan langkah kaki lebar mendekat.  Wajahnya jelas menunjukkan kemarahan dan Kyuhyun tidak mengerti kenapa pria dengan fisik sempurna ini harus marah.  Ingin menunjukkan bahwa ia adalah pria baik?  Kyuhyun tergelak—mengejek.

“Kalian pergilah.”  Ujar Kyuhyun pada dua security yang tadi mencoba menghadang John Lee namun tidak bisa, juga pada sekretarisnya yang berdiri mematung dengan wajah terkejut sebab ucapan pria tampan dihadapannya ini.  “Wah…. wah…. Mau jadi pahlawan kesiangan?”  Tanya Kyuhyun segera setelah dirinya hanya tinggal berdua bersama John Lee.  Tepuk tangan bersama wajah senang Kyuhyun tampak, mengelabuhi siapapun tentang apa yang sebelumnya ia pikirkan.

“Kau salah paham.”

“Salah paham apanya?  Kalian bahkan masih berhubungan hingga sekarang?”

“Dengar!”

“Jangan membentakku, bung!”  Peringat Kyuhyun melonggarkan cekikan dasinya.  Menatap John Lee tajam dan mendekat.

“Isabelle dan aku memang pernah bersama dulu, tapi kami sudah selesai dan kami hanya berteman untuk sekarang!”

“Dulu itu kapan?  Sebulan lalu?”

“Astaga!”  John Lee meremas rambut blondenya kesal, pria blesteran seperti Joon Ae itu menatap Kyuhyun dengan mata biru terangnya tidak percaya.  “Dia mencintaimu!  Begitupun aku yang sudah menikah dan karena itu Joon Ae membantuku sebulan lalu, aku memintanya mencoba beberapa pakaian dan salah satunya adalah—.”

“Stop!”  Kyuhyun mendorong tubuh John Lee agar menjauh darinya.  sumpah ia tidak ingin mendengar pembicaraan macam ini yang seolah membuat telinganya berdarah.  “Aku tidak mau dengar, pergi sana!”  Usirnya tidak peduli.

“Bisakah kau turunkan emosimu?”

“Apanya yang mau diturunkan?  Kau mau bilang bahwa tidak terjadi apapun sementara mulutnya bahkan tidak terbuka untuk menolak sebutanku itu?”

“Tidakkah kau pikir?!”  Ucap John Lee makin kencang.  “Kau pikir karena apa Isabelle mendiamkanmu?  Kau pikir karena apa dia bahkan tidak mengatakan apapun untuk membela diri?  Siapa yang mau dikatai pelacur oleh suaminya sendiri huh?  Kau mencaci seorang wanita dengan sebutan pelacur, dan kau berharap bahwa dia akan meminta maaf padamu lebih dulu?  Bahkan setelah dia berusaha mengembalikan suasana rumah kalian, kau menolaknya dan mengucap cerai?  APA KAU PIKIR KAU ADALAH PRIA?!”

“Cukup!  Pergi kubilang!”

“Baik!  Aku akan pergi tapi kau harus dengar ini!”  John Lee mendekat kembali, mengabaikan perintah Kyuhyun dan mencengkram kerah baju pria dihadapannya saking terlampau kesal.  “Isabelle sedang ham—.”

“Ada apa ini?!”  Pekikan seorang wanita di ujung ruang kerja Kyuhyun menghentikan ucapan John Lee, pria yang hendak memaki Kyuhyun tersebut langsung menoleh sebab wanita yang kemudian menarik dan mendorongnya, berlanjut dengan tangan lancangnya yang membenarkan letak baju Kyuhyun dan memposisikan dirinya seolah tameng.  “Siapa kau?!”  Tanya wanita itu berkuasa, menatap John Lee tajam tanpa sekalipun mengendurkan mata menekannya.  “Apa yang kau lakukan pada calon suamiku?”

“Calon—suami?”  John Lee menggumam, mengerutkan keningnya dan melihat Kyuhyun yang menunduk—menghindari pandangannya.

“Hei!  Aku sedang bicara denganmu!” Wanita itu kembali berteriak dan John Lee mendesis miris.

“Kau bahkan lebih buruk dibanding Isabelle, Kyu.”  Ungkapnya, membersihkan bekas dorongan wanita yang entah siapa pada bajunya jijik dan pergi kemudian dari ruang kantor Kyuhyun, menimbulkan rasa tidak nyaman pada pria yang terduduk pada meja kerjanya dengan lemas setelah itu.

“Kyu, kau baik-baik saja?  Tidak ada yang luka?  Dia tidak melakukan apapun padamu bukan?  Kyu?”

“Tidak.”  Jawab Kyuhyun pelan melepas kedua tangan wanita yang dipanggilnya Hye Rin.  “Aku baik-baik saja.”

“Dasar mereka.  Pasangan selingkuh yang tidak tahu malu.”

“Hye Rin-ah,”  Panggil Kyuhyun, menolehkan kembali pandangan Hye Rin yang sebelumnya mengarah pada pintu tertutup tempat John Lee menghilang.

“Ya, ada apa?”

“Bisakah kau tinggalkan aku sendiri?”

“Hm?  Wae?  Kau ingin sendiri?  Pekerjaanmu banyak?”

“Eo….”  Angguk Kyuhyun segera menarik dua ujung bibirnya terpaksa dan Hye Rin tersenyum dengan sebelah tangannya mengusap pipi pucat Kyuhyun.

“Siang nanti kita makan bersama orang tua kita membahas pernikahan.  Kau tidak lupa kan?”  Tanya Hye Rin bersambut hela nafas Kyuhyun.  Memejamkan matanya sebentar, Kyuhyun mengangguk dan tersenyum.  “Bagus kalau begitu.  Aku pergi.”  Pamit Hye Rin, menempelkan bibirnya singkat pada bibir Kyuhyun yang sosoknya diam dan menerima saja perlakuan macam itu hingga memudahkan siapapun untuk mengaturnya macam saat ini.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Joon Ae menundukkan kepalanya dengan mata terpejam menahan cairan menumpuk dalam pandangannya agar tidak keluar.  Wanita itu memijit sebelah telapak tangannya.  Kata kakaknya dulu, jika kau merasa ingin memperbaiki suasana hatimu atau measa tenang, maka pijatlah buku-buku jarimu.

“Joon Ae-ssi, kau baik-baik saja?”

“Aku baik-baik saja, jangan khawatir.”  Toleh Joon Ae dengan senyum lebar pada sosok bertangan lembut yang menyentuh pundaknya, sosok dengan rambut hitam sepinggang yang mampu membuat John Lee bertekuk lutut hingga saat ini tanpa sekalipun teralihkan.

“John pasti sudah menjelaskan semuanya pada Kyuhyun-ssi, hubungan kalian pasti akan segera membaik.”

“Ya, semoga.”  Joon Ae berharap, membalas genggaman tangan wanita yang dipanggilnya Mi Young tersebut sedih.  Sejujurnya, entah mengapa dalam hati kecilnya meskipun ingin—Joon Ae tidak percaya bahwa Kyuhyun akan memberi John kesempatan untuk bicara.  Hal yang ada dalam pikiran Joon Ae bahwa Kyuhyun akan lebih dulu mengusir salah satu temannya itu sebelum selesai berbicara atau bahkan sebelum sempat berbicara.

“Joon Ae-ssi.”  Mi Young kembali memanggil dan mengeratkan genggaman tangannya kini.  menarik mata berwarna Joon Ae untuk melihatnya yang entah mengapa berkaca-kaca.

“Mi—Mi Young-ssi, ada apa?  Kenapa menangis?”

“Maafkan aku.  Jika bukan karena kami, hubungan kalian tidak akan seperti ini.”

“Tidak.  Itu tidak benar.”  Geleng Joon Ae dan memeluk wanita yang harusnya menenangkan ia dan bukannya butuh ditenangkan balik macam ini.  “Ini salahku karena kurang mengerti suamiku sendiri, ini salahku karena tidak seharusnya aku menunggu Kyuhyun.  Ini bukan salahmu ataupun John.”

“Tapi karena kami—.”

“Tidak Mi Young-ssi.”  Tolak Joon Ae untuk kesekian kalinya bersama gelengan pelannya.  “Ini bukan salah siapapun.”

“Ya.”  Mi Young mengangguk pasrah dengan keras kepala Joon Ae seperti biasa.  Wanita itu, Mi Young—merundukkan kepalanya sebagaimana tadi yang Joon Ae lakukan dan apartment itu kembali sepi, tenang, mirip seperti yang selalu Joon Ae alami jika sendiri ataupun sebulan ini.  “Kyuhyun-ssi, dia tidak tahu bahwa kau sedang hamil?”

“Tidak.”  Hela Joon Ae bersama nafas panjangnya yang selalu terdengar beberapa waktu belakangan ini.  “Dia tidak akan percaya jika aku katakan bahwa ini anaknya.”

“Apakah dia semarah itu?”

“Ya.”  Desis Joon Ae dengan senyum miris tanpa satupun ketenangan yang ingin ditunjukkannya seperti tadi.  “Entah bagaimana, aku tidak mengerti bahkan seperti tidak mengenalnya setelah hampir dua tahun ini bersama.”

Mi Young mendesah panjang, tundukan kepalanya masih tampak dan wanita itu bahkan tidak bisa lebih tenang setelah mendengar kalimat terakhir Joon Ae.  Biar Joon Ae katakan bahwa ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan ia dan suami, tetap saja bahwa awal semua kekacauan ini adalah suaminya yang ingin memberikannya kejutan dengan bantuan Joon Ae.  Keadaan macam ini, siapa yang sangka?

 

“ISABELLE!  ISABELLE!”

 

“John?”  Joon Ae dan Mi Young saling berpandangan terkejut sebab suara kencang yang memanggil namanya itu.  dengan cepat, baik Joon Ae maupun Mi Young segera berdiri dari duduknya dan melangkah terburu membuka pintu apartment dimana John Lee sudah berdiri disana dengan wajah memerahnya.

“ISABELLE!”

“Ya, ada apa?  Kenap—”

“Cepat bereskan semua barangmu.  Kau pergi sekarang juga dari rumah ini, aku sudah hubungi kakakmu untuk menjemputmu.”

“Apa?  Tu—tunggu!  HEI!”  Joon Ae berteriak dan melepas pegangan tangan John Lee juga menghentikan langkah terburunya yang menarik ia begitu saja.  Saling berpandangan tajam, Mi Young yang sebenarnya juga tidak mengerti dengan keadaan apa yang sebenarnya terjadi—mendekat hingga menjadi penengah diantara mereka.

“Ada apa John?”

“Ya!  Ada apa?!”  Joon Ae menyambung pertanyaan halus Mi Young terburu dan emosi, melihat pria tinggi dihadapannya itu geram sebab perlakuan dan ucapannya tadi.  “Kau memintaku keluar dari rumahku sendiri dan menghubungi Alex?  Untuk menjemputku? Kenapa?”  Joon Ae bertanya cepat, ingin segera menerima jawaban atas segala pertanyaannya dan John Lee mengumpat sambil berjalan asal—memukul angin yang bahkan tidak bisa disentuhnya sekedar untuk melepas marah.  “John?  Ada apa?  Apa yang terjadi di kantor?  Kyuhyun mengusirmu?”

“Dia memiliki simpanan.”  John Lee menjawab cepat, menolehkan pandangannya pada Joon Ae yang sudah membatu persis seperti ketika pagi tadi Kyuhyun berkata tentang perceraian padanya.  “Aku tidak tahu siapa wanita itu.  Tapi mereka akan segera menikah dan itu adalah alasannya untuk bercerai denganmu.”

“Kau bercanda?”

“Don’t be silly, Isabelle!”  Jelas John Lee penuh penekanan dan berjalan mendekat dengan aura marah yang masih terasa.  Memegang kedua pundak Joon Ae erat, John Lee mulai berucap lebih tegas.  “He doesn’t love you anymore.  You just wasting your time here.  Come, i’ll help you pack your stuff.”

“Kyuhyun tidak seperti itu.”  Desis Joon Ae melepas tangan John Lee saat akan menariknya masuk kamar dan mengepak barang-barangnya.  “Kyuhyun, dia hanya mencintaiku.”  Paksanya tidak peduli dengan air mata yang sudah membanjiri pelupuk matanya dan tidak wanita itu tahan ataupun berusaha hilangkan.

Kening John Lee, juga Mi Young mengerut.  Joon Ae tidak pernah terlihat semenyedihkan ini, tidak pernah pula terlihat serapuh ini.  Wanita dihadapan mereka yang selalu melihat masalah sebagai bukan masalah itu, tidak pernah menunjukkan satupun emosi sedihnya dan entah apa yang mereka berdua lihat hari ini sebab kehamilannya—kedatangan tidak terduga Kyuhyun bersama wanita yang tadi John Lee ceritakan memperburuk keadaan Joon Ae.

 

“Wah… wah….. ada pesta tampaknya dihunian menyedihkan ini.”  Begitu tutur Kyuhyun tiba-tiba, menolehkan kepala Joon Ae yang ingin patah saja sebab tangan wanita yang menggandeng Kyuhyun dengan mesranya tanpa pria itu tolak.  “Pesta pernikahankah?”

“Apa-apaan ini?!”  Bentak Joon Ae setelah mengusap cepat air matanya dan menarik wanita yang entah siapa dari sisi Kyuhyun.  “Siapa wanita itu Kyu!”

“Calon istriku.”

“Tidak lucu jika ini kau buat untuk membalasku.”

“Maaf nona….”  Wanita berambut tanggung bersama perhiasan yang memenuhi tubuhnya itu, wanita yang sempat Joon Ae dorong agar menjauh dari sisi Kyuhyun, bersuara sambil menepuk pundaknya.  “Aku calon istri Kyuhyun oppa.  Kau pasti istrinya yang membuat Kyuhyun oppa menderita itu kan?”

 

Menderita?

 

“Mungkin kau belum mengerti budaya Asia, jadi biarkan aku jelaskan sedikit.”  Tuturnya manis menyembunyikan pisau tajam yang disembunyikan rapi.  “Budaya Asia tidak sama dengan budaya barat yang kau anut.  Ya, meskipun salah satu orang tuamu adalah dari Korea.  Tapi bukankah sejak kecil kau sudah berada di Eropa?  Maka biar aku katakan, di Asia…. jika kau menikah maka kau bukan hanya menikah dengan orang itu.  Tapi juga dengan keluarganya, adat istiadatnya, dan juga peraturannya.  Kau tidak bisa hidup seenaknya dan tidak peduli seperti yang terjadi selama ini.  Apa kau mengerti kesusahan apa saja yang sudah kau buat untuk Kyuhyun oppa?”

“Hentikan.”  Joon Ae memotong, melirik tajam wanita memuakkan dihadapannya itu dan menoleh pada Kyuhyun.  “Katakan padaku apa maksudnya?”

“Bukankah sudah jelas?  Keluargaku tidak menyukaimu, kita harus bercerai.”

 

John Lee membuang nafas tidak percaya dan menatap Kyuhyun tajam sebelum berhasil mendekat dan melayangkan satu pukulan kencangnya pada salah satu sisi wajah pria itu hingga tersungkur.  “Dengar ya!”  Bentak John Lee sebelum suara jeritan 3 wanita disana terdengar.  Sebelah tangan John Lee menunjuk Kyuhyun persis dan sebelah tangannya lagi memegang Joon Ae erat yang akan mendekat dan membantu Kyuhyun.  “Kau akan menyesal seumur hidupmu untuk apa yang hari ini kau lakukan dan saat semua penyesalan itu sudah memenuhimu, semua yang kau lakukan sia-sia.  Ayo Isabelle, kita pergi.  Mi Young-ah, ayo….”  John Lee menarik Joon Ae cepat, berjalan terburu tanpa peduli penolakan wanita dalam genggaman tangannya ataupun pada wanita berstatus istri yang membuntutinya dengan terburu dan menoleh sesekali pada Kyuhyun yang masih tersungkur bersama Hye Rin yang menggantikan peran Joon Ae.

Mi Young tidak mengerti, bagaimana bisa keadaannya menjadi sekacau ini dan Joon Ae yang bahkan sudah menunjukkan kesedihannya tidak juga meluluhkan hati Kyuhyun.  Benarkah pria itu tidak lagi mencintai Joon Ae seperti yang tadi suaminya katakan?  Benarkah itu?

 

“JOHN!  STOP!”  Teriak Joon Ae saat selangkah lagi mereka akan mencapai mobil.  “Biarkan aku selesaikan masalahku!”

“Tapi dia sudah keterlaluan!”

“Setidaknya biarkan aku berusaha selesaikan masalahku dulu dan baru setelah itu aku menyerah.  Aku bahkan belum lakukan apapun dan sudah menyerah semudah ini?”

John Lee menatap Joon Ae malas dan melirik istrinya.  Wanita lebih anggun yang sudah bersamanya hampir beberapa waktu ini mengangguk seolah memintanya menyetujui ucapan Joon Ae dan kembali—John Lee mengumpat dengan tangan Joon Ae yang ia lepas.  “Pergilah.  Hubungi aku jika terjadi sesuatu.”  Ucapnya masih dengan wajah kesal dan Joon Ae mengangguk lega.  Wanita itu tahu bahwa John Lee bukanlah siapa-siapa hingga ia membutuhkan ijinnya demi bisa bertemu suaminya sendiri ataupun menyelesaikan masalahnya.  Namun bagaimanapun, hubungan mereka yang sudah bagai adik kakak saat ini, apalagi keadaannya dengan kakaknya yang sudah tidak seperti dulu—membuat Joon Ae nyaman dan menganggap John sebagai kakaknya sendiri.

Joon Ae tersenyum, wanita itu mengepalkan kedua tangannya dikedua saku jacketnya dengan kekerasan hati yang sudah membulat.  Bahwa apapun yang terjadi, Kyuhyun harus mendengarnya.  Bahkan bagaimanapun Kyuhyun mengusirnya, dirinya harus tetap tinggal dan tidak peduli dengan tanggapan buruknya seperti tadi pagi.  Ia harus katakan pada Kyuhyun kebenarannya, ia juga harus katakan mengenai anak mereka yang harus Kyuhyun tahu tidak peduli apapun.

Namun, saat Joon Ae masuk untuk menjelaskan semuanya, kamar tempatnya bersama Kyuhyun, ranjang tempatnya tidur bersama Kyuhyun, ranjang yang selalu menjadi miliknya bersama Kyuhyun hingga malam-malam panjang yang bahkan sepi, telah menjadi milik wanita lain.

 

Kau benar John, Kyuhyun sudah tidak mencintaiku dan tidak seharusnya aku kemari.

 

21 responses to “Time 1/2

  1. sedih bacanya,kyu jahat sekali,nanti saja kalau joo ae menyerah dan pergi kyu pasti memyesal,thor ffnya bagus semanagat

  2. sedih bacanya,kyu jahat sekali,nanti saja kalau joo ae menyerah dan pergi kyu pasti memyesal,thor ffnya bagus semanagat,semoga saj happy ending

  3. Feelnya dapet nyesek bnget bcanya. Kok kyuhyun jhat bnget ngga mau dngerin pnjlsan jjoon ae mlah lbih mlih cwek lain. Pnsran knpa kluarga kyuhyun ngga rstuin mrka.
    Nect chapternya jngan lma2 yah^^

  4. kyu kejam ih, kesel sendiri sumpah kyu blm dpt penjelasan dr joon ae eh malah marah2 dlu an mana lg minta cerai lg -_- nanti nyesel loh kyu,jd klo nyesel nantinya jgn minta joon ae buat balik an sm km yah! aku dukung joon ae klo mau pergi dr kehidupan nya kyu

  5. Kyu kenapa jahat bnget sih….! Emang gk kasihn apa sma joon ae, dia kan lgi hmil….! Tega bnget sih…? Next thor udah gk sbar niichh………!

  6. Cho kyuhyun….. Q jamin kmu bkl nyesel nyesel bngt klo sampek cerai sma joon ae….. Akibat cemburu buta yg berlebihan, sbar ya joon ae…..!

  7. Kyuu, rasakan akibatnya nanti!!!!
    Sesal selalu terlambat.
    can’t wait for the next chapter 😍😍

  8. Penyesalan selalu datang terlambat cho.
    Kau harus tau itu.
    Astagaaa.
    Sereem ihh nanti kalo kamu udah tau kebenarannya.
    Baru deh gigit jari

    Salam kenal aku reader baru 😄

  9. dapet bnget emosinya pas bca.
    kyuhyun-ssi tga bnget ama istri.nya sndiri, itukan slah paham

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s