Beauty and The Beast Chapter 3 [A Marriage and Honeymoon] – HyeKim’s Story

beautyandthebeastcover

Title : Beauty and The Beast (Chapter 3)

Subtitle : A Marriage and Honeymoon

Genre : Romance, Comedy, Marriage Life

Lenght : Multi Chapter

Rating : PG-15

Author : HyeKim

Cast :

-Luhan as Luhan

-Hyerim(OC) as Kim Hyerim

-Kyuhyun Super Junior as Cho Kyuhyun

-V BTS as Kim Taehyung

-Nara Hello Venus as Kwon Nara

Summary : Beauty and The Beast adalah cerita dongeng yang dulu selalu menghiasi masa kecil seorang Kim Hyerim. Hyerim dulu sempat berkata ingin menjadi Belle, si cantik yang jatuh cinta pada beast. Si pangeran yang dikutuk jadi monster. Apa yang akan Hyerim lakukan bila hal tersebut terjadi padanya?

“Bagaikan monster yang terjebak dalam tubuh pangeran. Itulah Luhan. Aku mencintainya.”

HAPPY READING

HyeKim ©2016

 

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Previous :

TEASER || Chapter 1 [The Cold-Jerk Man] || Chapter 2 [Contract Marrige?!] || (NOW) Chapter 3 [A Marriage and Honeymoon]

 

Waktu bergulir dengan cepatnya. Hyerim yang duduk di sebelah Luhan hanya bisa menunduk sambil menyantap makan malamnya. Nenek serta ibu Luhan terus memandanginya seperti mengintrogasi. Sungguh Hyerim merasa benar-benar risih karena hal tersebut.

“Jadi… kapan kalian akan menikah?” pertanyaan yang telontar dari bibir tipis Nenek Lu membuat Hyerim tersedak mendengarnya. “Kenapa? Apa kamu belum siap menikah dengan Luhan?” selidik Nenek Lu yang melihat tanggapan Hyerim.

Hyerim yang sudah mencerna masuk air mineral, menatap Nenek Lu sambil meneguk ludahnya sendiri. Sementara Luhan menatapnya tajam dan seakan berkata ‘jawablah bahwa kau siap’.

“Ah… aku tahu, Luhan memang anak yang mejengkelkan dan tengil. Wajar saja kamu keberatan menikah dengannya, Hyerim.” ucap Nenek Lu akhirnya sambil mengedipkan sebelah matanya. Hyerim mau tak mau jadi ingin sekali tertawa.

“Ya, Luhan pasti menjadi tipe suami paling tidak diinginkan dengan sikap bossynya itu,” kali ini Ibu Luhan yang bersuara. Hyerim hanya menunduk dan tertawa tanpa suara. Sementara Luhan hanya memandang datar ketiganya.

“Ya bicarakan saja aku semau kalian,” Luhan berucap datar.

“Memang seperti itu kenyataannya. Oh… Hyerimku yang malang. Sayang sekali dirimu harus menikahi bocah tengil ini,” ucap Nyonya Lu

“Apalagi dia tidak pandai dalam masalah malam pertama. Kalian bisa-bisa tidak memiliki anak dalam jangka waktu yang lama,” tambah Nenek Lu membuat Hyerim yang sedang minum tersedak kembali.

Apa? Malam pertama? Mendengarnya saja sudah merinding untuk Hyerim, apalagi bila dengan ‘si monster’ gila di sebelahnya.

“Nenek! Ibu! Ije keumanhae (hentikan). Bila Hyerim sampai tidak mau menikahiku, aku salahkan kalian,” Nenek Lu dan Nyonya Lu hanya memandang Luhan tidak peduli dan melanjutkan acara makannya.

“Nenek, ibu, menurutku pasti banyak gadis yang mengantri untuk menikahi Luhan,” ucap Hyerim setidaknya untuk membela monster tak punya hati yang sedang memberengut saat ini. “Luhan itu tampan kok, dan juga tipe lelaki ideal.”-“Sungguh aku terpaksa mengatakan ini,”

“Ah untungnya uri Hyerim mau menerima Luhan apa adanya ya,” komentar Nenek Lu yang hanya ditanggapi Hyerim oleh sebuah senyuman manis. Luhan memperhatikannya dari samping, lalu menghela napas lega. Setidaknya skenario malam ini berjalan lancar.

**

Decitan roda ban dan aspal dingin jalan di daerah Distrik Yongsan tampak saling bergesekan. Membuat beberapa daun yang gugur terhempas menjauh dari aspal tersebut. Pintu jok depan sebelah supir dari mobil bermerk Surbaru XV tersebut terbuka, menampilkan sepasang kaki jenjang yang hendak turun.

“Tunggu!” tahan Luhan sambil menarik lengan Hyerim. Gadis tersebut berbalik menatapnya. “Rencana malam ini setidaknya berhasil. Mungkin 3 atau 4 hari lagi kita akan menikah,”

Ucapan Luhan tersebut membuat Hyerim membulatkan matanya. “APA?!” seru gadis bermarga Kim tersebut. “Secepat itu? Ya Tuhan!”

Luhan menggaruk belakang kepalanya menggunakan tangan yang tidak mencekal tangan Hyerim. “Asal kamu tahu. Nenek serta ibuku itu benar-benar kelewat waras. Mereka akan melaksanakan pernikahan kita secepatnya.”

Biarkan Hyerim untuk menutup kedua kelereng hitam pekatnya dan sekon berganti untuk membukanya kembali. Karbondioksida yang tertahan pun dikeluarkan oleh nuna dari Kim Taehyung tersebut. Benar, ibu, nenek, serta cucu sekaligus anak ini kelewat waras alias gila. Hyerim benar-benar akan gila sekarang. Dilepaskannya cekalan Luhan dilengannya dan menatap pria itu.

“Baiklah, karena ini sudah malam aku harus undur diri dulu. Jangan lupa, bayarlah secepat mungkin administrasi ayahku serta adikku. Karena malam ini aku sudah melakukan akting yang baik.”

Hyerim pun akhirnya menurunkan kedua alat berjalannya dan melangkah menuju rumah susunnya. “Kim Hyerim,” panggilan Luhan membuat Hyerim membalikan badannya kembali. “Aku akan membayarnya, kontrak kita masih berlanjut.”

Setelah itu Surbaru XV milik Luhan melaju meninggalkan Distrik Yongsan. Hyerim hanya menghela napasnya, kembali rajutan langkanya yang tertunda barusan dirajutnya kembali. Dirinya berjalan agak mengendap-endap mengingat waktu sudah menunjukkan waktu 22.00 waktu Korea Selatan, ditambah dari kemarin malam Hyerim belum pulang. Bagaimana dirinya menjelaskan pada Taehyung? Sungguh saat ini tubuhnya butuh istirahat dibanding dikerecoki pertanyaan ini-itu dari adiknya.

Dilangkahkan sangat pelan kakinya menuju rumahnya dilantai 5 flat tersebut. Hyerim sedikit menjijit saat berjalan agar tidak menimbulkan suara apapun. Dibukanya pintu berwarna putih tersebut sangat pelan, akhirnya Hyerim memasuki flat rumahnya. Secara perlahan dirinya menutup pintu dengan hembusan napas lega karena Taehyung sudah tidur.

Nuna sudah pulang ternyata,”

KYA!” Hyerim menjerit kala mendapati Taehyung di belakangnya sedang berkacak pinggang.

Hyerim membalikan badannya secara perlahan dengan tampang was-wasnya, Taehyung tengah menatapnya tajam serta siap mengintrogasinya.

“Jadi ke mana saja nuna selama ini?” tanya Taehyung. Hyerim menelan ludahnya dan menghembuskan napas terlebih dahulu, setidaknya membangun pertahanan mental menanggapi adiknya yang satu ini.

“Jadi.. begini…”

Nuna mempunyai kekasih huh?” Taehyung langsung saja memotong.

Yak! Kim Taehyung! Mana sopan santunmu? Kenapa main memotong ucapan kakakmu hah?”

Taehyung tampak memutar bola matanya malas. Hal tersebut membuat Hyerim kesal setengah mati.

“Intinya jelaskan apa yang terjadi padamu sejak kemarin malam!”

Hyerim menarik napas sejenak dan menyuruh adiknya untuk membicarakannya di ruang tamu rumah susun mereka. Akhirnya di sini lah sepasang kakak-adik tersebut. Duduk saling berhadapan dengan Hyerim menundukan kepala serta menggerakan kaki kirinya gelisah.

“Ya, aku memang memiliki kekasih,” buka Hyerim membuat Taehyung meneggakan punggungnya. “Dia mantan boss appa, yang aku maki-maki tempo itu.”

Walau Hyerim tidak mengangkat wajahnya, dapat dilihatnya wajah terkejut serta mata membulat sempurna Taehyung. “Apa?” seru Si Bungsu keluarga Kim tersebut.

“Jadi, akh! Bagaimana ya menjelaskannya…” Hyerim mengigit bibir bawahnya, bingung harus menjelaskannya bagaimana. Dirinya tidak mungkin mengatakan memiliki kontrak dengan Luhan. Kalau dirinya memberitahu Taehyung, adiknya itu bisa memarahinya. “Cinta itu kadang datang tanpa disadari dan cepat sekali rasanya.”

‘Ya ampun! Kim Hyerim! Apa yang kau katakan?’ gerutu Hyerim dalam hati.

“Jadi kami saling menyukai dan akan menikah secepatnya,” lanjut Hyerim yang takut-takut mengangkat wajahnya menatap Si Adik yang melongo tak percaya.

“APA NUNA BILANG?!” teriak Taehyung memecahkan malam dan Hyerim hanya dapat menutup matanya kala disemprot oleh teriakan Taehyung barusan.

**

Cho Kyuhyun tengah sibuk berkulat dengan pensil dan buku sketsanya. Tangannya dengan lincah menggambar sesuatu di atas kertas tersebut. Sebuah sketsa seorang Kim Hyerim. Entah kenapa hampir beberapa waktu terakhir ini, Kyuhyun karap kali menemukan seluet Kim Hyerim dalam benaknya. Pria bermarga Cho itu mengusap rambutnya gusar. Dirinya sadar betul bahwa Hyerim adalah calon istri Luhan. Tidak seharusnya dirinya seperti ini.

Hyung,” suara panggilan khas Luhan menerobos telinga Kyuhyun. Dengan gesit dirinya menaruh sketsa Hyerim di laci meja kerjanya, sampai batang hidung Luhan pun muncul di ruangan kerjanya.

Eoh? Luhan? Ada perlu apa?”

Luhan langsung saja duduk di kursi hadapan Kyuhyun, lalu menjawab. “Dua hari lagi aku akan menikah. Nenek dan ibu baru memutuskan tanggalnya barusan,”

Entah kenapa Kyuhyun merasakan sebuah kesesakan mendengarnya, diusahakan olehnya lidah tak bertulang tersebut berbicara meskipun sulit.

“Oh… selamat,” Kyuhyun tersenyum dan Luhan melakukan timbal balik yang sama. “Jadi apa yang bisa aku bantu?”

Disandarkan oleh Luhan pungungnya ke kursi tempat dirinya duduk. “Ya aku ingin makanan dipernikahanku nanti berasal dari restoranmu, hyung. Itu saja,”

Kyuhyun pun mengangguk. “Baiklah,” lalu dirinya disibukan kembali oleh kertas-kertas yang ada di meja kerjanya.

Luhan pun mulai beranjak dari tempatnya. Saat dirinya sudah menata langkah keluar. Terdengar Kyuhyun menanyakan sebuah pertanyaan untuknya.

“Di mana kamu mengenal Hyerim? Sudah berapa lama kalian berhubungan?”

Hanya ditolehkan oleh Luhan sebagian wajahnya, kemudian dirinya menjawab. “Dia adalah putri dari pekerjaku. Dan aku tidak menghitung sudah berapa lama kita berhubungan.” Kembali langkah demi langkah Luhan tercipta meninggalkan ruangan Kyuhyun. Sementara pemuda Cho itu hanya mengangguk entah apa yang ada dipikirannya.

**

Kwon Nara memang sudah kepalang panasaran dengan apa yang terjadi pada malam saat Hyerim mabuk. Dirinya terus menggerecoki sahabatnya itu dengan beribu pertanyaan. Membuat Hyerim ingin sekali menyumpal mulutnya.

“Jadi kamu benar memiliki kekasih?” Hyerim mengangguk sambil pura-pura fokus pada buku pelajarannya. Keduanya sedang berada di halaman Unniversitas Chung-Ang. “Dan kamu akan menikah secepatnya dengan Luhan?”

Hyerim mengangguk lagi, tampak Nara memasang tampang tak percaya dan menghela napas frustasi. “Kamu yakin akan menikahinya? Menikahi seorang monster?!” seru Nara.

Hyerim membuang napasnya dan menurunkan buku yang sedaritadi pura-pura ia baca. “Kwon Nara! Cinta itu datang begitu saja kan? Jadi tidak ada yang tahu kapan kita akan jatuh cinta…”

“Ya, aku tahu. Tapi kenapa harus dengan Luhan?!” potong Nara frustasi. “Dia itu monster, Hye! Monster!”

“Dia bukanlah monster dia itu pangeran,” sungguh rasanya Hyerim ingin menampar keras mulutnya kala melontarkan kalimat yang berhasil membuat seorang Kwon Nara melongo.

“Jadi… kamu benar-benar mencintainya?”

Hyerim membuang arah pandangnya. Lagi-lagi tidak mungkin dirinya mengatakan memiliki kontrak dengan si monster gila  tersebut pada sahabatnya.

“Hyerim-ah,” Nara mulai merajuk sambil menarik-narik lengan kanannya.

“Aku harus pergi.”

Hyerim langsung berdiri dan bergegas pergi dari sana. Tidak peduli Nara sudah memanggilnya terus-menerus. Langkah kaki Hyerim membawa gadis berumur 21 tahun tersebut ke halte. Keseperkian detik berlalu, sebuah bus yang sesuai jurusan menuju Rumah Sakit Yanggu pun muncul. Langsung saja dilayangkan oleh Hyerim kakinya memasuki bus tersebut. Sekon berlalu tanpa terasa, Hyerim sampai ke rumah sakit yang merawat ayahnya. Setelah turun dari bus tersebut, Hyerim melangkah cepat menuju bangunan bercat putih tersebut.

Kala Hyerim menyebrangi pembatas antara dunia luar dan Rumah Sakit Yanggu, bau obat-obatan menyeruak masuk kehidungnya. Alat berjalannya pun mendorong tubuh Hyerim menuju kamar inap VIP di rumah sakit tersebut. VIP? Ya, Luhan sudah menunaikan janjinya untuk membayar biyaya pengobatan Ayah Hyerim.

Rasanya jantung Hyerim sedikit akan copot saat melihat sosok adiknya di sana. Hyerim tahu pasti Taehyung datang ke mari, tapi kenapa harus dengan tampang dongkol dan berkacak pinggang dan tatapan tajamnya?

Nuna! Jadi calon suamimu yang membayarkan administrasi sekolah serta pengobatan ayah?” sembur Taehyung. Hyerim hanya mengigit bibir bawahnya resah. “Jawab aku!” bentak Taehyung. Hal tersebut berhasil membuat Kim Hyunseok terbangun dan memandang 2 malaikat kecilnya heran.

“Kalian kenapa?” suara lemah dan lembut Tuan Kim terdengar. Taehyung langsung menoleh pada ayahnya dan Hyerim masih resah dengan memainkan kuku-kuku jarinya.

“Ayah! Hyerim nuna akan menikah! Dan aku rasa itu semua karena uang!” seru Taehyung membuat Hyerim membulatkan mata serta mulutnya.

Taehyung benar-benar tepat pada sasaran! Sementara Tuan Kim hanya memandang shock putra serta putrinya bergantian. “Benarkah itu Hyerim?”

Hyerim langsung menggeleng kuat. “Tidak! Aku… aku memang mencintainya…” Hyerim menggerak-gerakan matanya resah.

Sang Ayah hanya tersenyum. “Siapa gerangan lelaki tersebut?”

Hyerim menunduk dan meremas kuat ujung kemejanya. Baiklah, tidak ada pilihan lain selain mengatakannya pada ayahnya.

“Lu..han…” ucap Hyerim sangat pelan.

“APA?!” seru Tuan Kim tak percaya. “Kamu… mencintainya?” tanyanya lambat-lambat.

“Tentu saja karena uang!” sela Taehyung, membuat Hyerim menatapnya bengis.

“Aku mencintainya sungguh…” Hyerim mengatakan hal tersebut sambil menunduk, takut pancaran kebohongan itu tercetak jelas bila ayahnya memandangnya.

“Bukannya dia monster?” tanya Sang Ayah masih dengan nada lembutnya dan ditanggapi anggukan mantap Taehyung.

Hyerim mengangkat wajahnya dan tersenyum penuh arti. Lantas berkata. “Bagaikan monster yang terjebak dalam tubuh pangeran. Itulah Luhan. Aku mencintainya.” jawaban mantap Hyerim membuat kedua pria tersebut bungkam seribu bahasa.

**

Gadis bersurai panjang itu tampak menunduk sambil berjalan di tortoar. Dirutukinya perkataan tidak masuk akalnya tadi kepada ayah serta adiknya. Hyerim pun perlahan mengangkat wajahnya menatap langit yang lumayan cerah.

“Monster yang terjebak dalam tubuh pangeran apanya?! Yang ada pangeran yang dikutuk menjadi monster! Akh! Luhan bajingan! Aku harus menodai mulutku dengan kata-kata menjijikan!” Hyerim berteriak-teriak membuat para penjalan kaki menatapnya heran.

Sangking larut akan sumpah serapahnya pada Luhan, Hyerim tidak memperhatikan sebuah mobil berjalan mendekatinya dan perlahan sampai di sebelahnya. “Kukutuk kau, Lu..-“ ucapan tersebut berhenti ditengah jalan saat seseorang dari mobil bermerk renault clio berwarna biru itu menggeretnya masuk ke mobil secara paksa.

Hyerim hanya membelalakan matanya, melihat kumpulan lelaki berjas hitam tersebut. Apa-apaan ini? Apakah dirinya diculik? Bila ya, sebelum dirinya harus disiksa oleh para penculik ini, setidaknya biarkan dirinya menampar kembali wajah Luhan bila bisa sampai wajah dingin itu tak berbentuk lagi. Laju mobil kian terdengar menuju ke suatu tempat. Hyerim berusaha memberontak dari kecalan tangan kedua pria di kanan-kirinya. Tapi apa daya, seorang gadis tidak bisa melawan 2 pria tersebut.

Hyerim hanya meneguk ludah takut, karena mulutnya daritadi dibekap oleh sebuah sapu tangan. Keringat dingin mulai bercucuran. Sampai mobil tersebut berhenti di sebuah perkarangan, Hyerim menolehkan kepalanya ke segala penujuru, mencari tahu di mana dirinya kini. Sampai orang-orang yang membawanya menarik Hyerim paksa memasuki bangunan megah berinterior Eropa bercat putih tersebut.

Hyerim memberontak dengan berbagai cara, tapi yang terjadi malahan dirinya di dorong masuk ke sebuah ruangan di dalam bangunan tersebut. Tubuh mungilnya terhempas jatuh di atas lantai kayu tersebut. Bangunan dalamnya sangat kontras dengan bangunan luar yang bernuansa Eropa. Dalam bangunan rumah tersebut berinterior khas Korea.

Hyerim pun bangun dan menggedor-gedor pintu yang dikunci barusan. “Hey! Keluarkan aku! Apa salahku?!” seru Hyerim ketakutan.

“Oh kamu datang juga…” sebuah suara terdengar membuat tubuh Hyerim makin kebanjiran keringat dingin. Hyerim menoleh dengan takut, lalu mengangkat wajahnya. “Maaf ya… bila mereka kurang sopan padamu.”

Oh! Ya Tuhan! Hyerim hanya membuka lebar mulutnya kala melihat Nenek serta Nyonya Lu duduk bersila diatas bantal, khas tradisi Korea, tepat di hadapannya. Keduanya tersenyum manis. Sementara Hyerim tersenyum kikuk, lalu membungkuk 90 derajat.

Annyeong haseyo….” sapa Hyerim kemudian mengangkat wajahnya.

“Tak perlu sok manis lagi sekarang, lihatkan wujudmu yang sebenarnya di hadapan kami,” ucap Ibu Luhan membuat Hyerim meneguk ludah takut. Apa yang akan terjadi padanya beberapa sekon selanjutnya?

“Duduklah…” titah Nenek Lu. Hyerim mengangguk dan duduk di atas bantal di hadapan 2 wanita tersebut, kepalanya masih setia menunduk lantaran takut.

‘Aduh! Jangan-jangan sesuatu hal buruk akan terjadi,’ gumam Hyerim dalam hati sambil memainkan kuku-kuku jarinya resah.

“Jadi namamu benar Kim Hyerim?” Nenek mulai mengintrogasi dengan tatapan menyelidik.

“Y..ya,” jawab Hyerim gugup.

“Kamu masih mahasiswa?” tanya Nyonya Lu yang menatap Hyerim serius.

“I..ya,”

“Jurusan apa? Kuliah di mana?”

“Emmm, jurusan sastra inggris, omonim,” Hyerim berani mengangkat kepalanya setengah, dan menatap kedua orang tersebut takut-takut. “Aku berkuliah di unniversitas Chung-Ang.”

“Chung-Ang? Lumayan juga,” Nenek Lu bergumam sambil mengangguk. “Apa pekerjaan ayahmu?” pertanyaan tersebut membuat Hyerim membulatkan mata dan mengigit bibir bawahnya. Bagaimana bila mereka tahu bahwa Hyerim….

“Ayahku bekerja di restoran naungan Lu Industries,” jawab Hyerim lambat-lambat.

“APA?!” seruan tersebut yang disertai mata melotot berhasil membuat kelopak mata Hyerim tertutup sempurna lantaran takut.

“Jadi… kamu kencan dengan Luhan karena sering menjemput ayahmu?” tanya Nyonya Lu. Hyerim hanya mengangguk, walau nyatanya sekali menjemput ayahnya malah terjadi hal bar-bar.

“Berapa lama kalian menjalin hubungan?” sembur Nenek Lu dengan tatapan mata membulatnya dan wajah tak santainya.

Hyerim mengigit bibir bawahnya keras. Aduh. Melakukan kebohongan memang hal yang sangat sulit dan terasa sangat terbebani. “Emmmm… emmm…. Aku tidak menghitungnya.”

“Apa?!” seru Nenek Lu terasa aneh. Ahhh… Hyerim ingin sekali rasanya melarikan diri dari tempat itu segera. “AHHHH!!!! AKHIRNYA LUHAN MENEMUKAN CINTA SEJATINYA!”

‘BRUK!’

Jeritan heboh Nenek Lu membuat Hyerim terkejut dan tubuhnya terjatuh ke belakang dan bertumpu pada sikunya. Wajah antusias Ibu dan Nenek Luhan tersebut membuat Hyerim membuka mulut lebar.

“AHH GADIS SEDERHANA, BUKAN SEORANG GADIS BAYARAN! INI BAGUSS!” seru Ibu Luhan yang kelewat berlebihan sambil mendekati Hyerim dan menarik Hyerim agar duduk benar kembali. Tapi tampang melongo gadis Kim tersebut belum pudar. “Hyerim, ahhh… kamu menantu idamanku, ahhh…” Ibu Luhan mulai bergelayut manja dilengan Hyerim sambil menaruh kepalanya dibahu Hyerim dengan sikap manja, membuat Hyerim menampilkan senyum risih.

“Akhirnya Luhan mau jatuh cinta dengan gadis sepertimu,” Nenek Lu mendekati Hyerim dan memeluk gadis tersebut sangat erat membuat Hyerim terbatuk-batuk. “Kamu tahukan 2 hari lagi kalian menikah?”

Mendengar pertanyaan itu membuat Hyerim membuka mulut lebar dan berseru. “Hah?”

“Masa kamu tidak tahu…”

“Nenek! Ibu!” seruan Luhan memotong ucapan ibunya. Ketiga wanita itu berbalik ke belakang dan mendapati sosok tubuh Luhan berdiri sambil menghela napas dan disertai tatapan dinginnya. “Kan sudah kubilang, aku yang akan memberitahu Hyerim serta mengajaknya ke rumah. Jangan main menculiknya!”

“Siapa juga menculiknya?” seru Nenek Lu sambil menatap tak suka Luhan dan memalingkan wajah sebal dari cucunya itu. Hyerim hanya nyengir, lantaran apa yang dikatakan Luhan benar paska penculikannya tersebut.

 

“Intinya jangan seperti ini lagi. Hyerim, ttrahae. (ikut aku)” ucap Luhan datar sambil menarik paksa Hyerim dan membawanya pergi dari sana.

“Hey! Luhan! Dasar tengil!” teriak Sang Ibu serta Nenek.

**

Setelah melewati beberapa kesunyian yang tercipta dalam mobil Luhan. Hyerim pun akhirnya bisa duduk di hadapan pria tersebut tepat di ruang makan rumah Luhan. Hyerim tampak pura-pura sibuk dengan kuku jarinya dan Luhan tampak menulis sesuatu di atas kertas.

“Ini!” Luhan pun akhirnya mengangkat kepala dari kertas tersebut dan menyerahkannya pada Hyerim. Gadis Kim itu meraihnya dan lantas membaca sederet tulisan tangan Luhan. “Itu kontrak yang akan kita jalani. Dan aku sudah tanda tangan di sana, tinggal dirimu,” Luhan melempar satu pulpen ke arah Hyerim, membuat gadis itu mengumpat kesal.

Hyerim membaca rinci kontrak tersebut, barangkali ada satu hal yang merugikan dirinya. “… pernikahan ini berakhir bila situasi sudah memungkinkan, tidak boleh memberitahu kontrak ini pada siapapun, bersikap layaknya suami-istri normal hingga perceraian nanti, tidak boleh melakukan hubungan intim satu sama lain dan dilarang keras jatuh cinta…” Hyerim membuka lebar mulutnya membaca poin terakhir, lantas tertawa keras.

“Siapa juga yang mau berhubungan intim dan jatuh cinta padamu, ahahaha…” ucap Hyerim disertai tawanya. Luhan hanya memandang datar dirinya.

“Cepat tanda tangani saja!” titah Luhan dingin. Hyerim hanya memberengut kesal dan mengambil pulpen yang tadi Luhan lemparkan padanya, lalu mulai mentorehkan sebuah tanda tangan di atas kertas tersebut.

“Baiklah, kontrak kita sah sekarang,” ucap Luhan lalu menatap dalam Hyerim yang balas menatapnya. “Ingat, kau tidak boleh jatuh cinta padaku.” Luhan pun berdiri disertai senyum miringnya, sekon yang akan datangnya Luhan pun pergi meninggalkan Hyerim yang mendengus lantaran ucapannya.

“Sampai kapanpun tidak akan pernah aku jatuh cinta pada monster tak punya hati sepertinya!”

**

Rasanya tanggalan dikalender cepat sekali berubah. Angka-angka tersebut seakan berlari untuk lebih dahulu menampakan diri dan membuat 24 jam serasa hanya 1 menit lamanya. Hari ini, ya hari  ini. Pernikahan Hyerim dan Luhan pun terlaksana. Walau serba dadakan, pernikahan ini bisa dibilang tertata sempurna. Beberapa hari lalu, Luhan berhasil menaklukan Ayah Hyerim untuk mendapatkan izin menikahi kekasih kontraknya itu. Bahkan Nenek dan Ibu Luhan yang saat ini berada di barisan tempat duduk paling depan, terlihat sangat antusias.

Hyerim tampak meremas gaun pengantinnya dan menggigit bibir bawahnya resah. Huh… apakah menikah segugup ini? Hyerim menggeleng kuat. Kenapa lagi-lagi dirinya seakan menghayati perannya ini? Bertatap muka dengan Luhan saja tidak sudi, apalagi menikah sungguhan.

Uri Hyerim jinjja yepposeo,” puji Tuan Kim, Hyerim yang merasakan kehadiran ayahnya lantas menoleh dan tersenyum. Walau sedang sakit, Tuan Kim memaksa untuk mendampingi anaknya menikah hari ini.

“Hyerim-ah, kamu sangat cantik! Aku jadi iri,” Nara pun muncul di belakang ayah Hyerim. Gadis Kim tersebut hanya tersenyum simpul. Di sana juga ada Taehyung yang tampak memasang wajah sangat dinginnya.

Arra, jigeum, (baiklah, sekarang)” Ayah Hyerim menyodorkan tangannya. “Kajja, (ayo)” lalu Hyerim pun melingkarkan tangannya pada tangan ayahnya.

Acara perjanjian suci itu pun dimulai. Nenek serta Ibu Luhan memandangi Hyerim dengan tampang antusias yang berlebihan seperti biasanya. Dan Luhan sudah berdiri dengan manisnya di altar, entah apa yang salah dengannya hari ini. Luhan merasakan gejolak aneh dari hatinya melihat penampilan Kim Hyerim hari ini. Untuk kedua kalinya, Luhan terpana melihat paras ayu tersebut dipolesi make up natural.

Ahh… mungkin karena make up, ya pasti karena make up!” ujar Luhan dalam hati berusaha mengontrol diri.

Dan tak jauh dari sana, Kyuhyun juga terpana melihat Si Mempelai Wanita yang tampak cantik hari ini. Jantungnya tampak berdentum keras, tapi saat pandangannya terarah ke depan, jantungnya sekan berhenti berdetak dan menyadarkannya pada realita. Gadis yang membuat pacuan jantungnya berdetak diambang tak normal tersebut akan menikah dengan lelaki lain.

“Ada apa denganmu Cho Kyuhyun?” gumam Kyuhyun pelan sambil menutup mata dan menghela napasnya.

Akhirnya  momen yang ditunggu-tunggu pun datang. Saat tangan Hyerim meraih tangan Luhan dan bersama-sama menaiki altar. Keduanya menghadap Sang Pastor yang mulai menanyakan prihal kesediaan keduanya menjadi sepasang suami-istri hingga maut memisahkan. Walau dalam hati meganjal perasaan keberatan, kedua bibir manis tersebut menjawab bersedia melakukannya.

“Selanjutnya, acara pertukaran cincin….”

Luhan tampak menghela napasnya sesaat, kemudian meraih satu cicin brilian sederhana dari atas baki yang dibawa oleh seorang perempuan yang merupakan salah satu kerabatnya. Lantas diambilnya tangan kanan Hyerim dan perlahan tapi pasti, Luhan mensematkan cincin tersebut pada jari manis Hyerim. Setelah itu, Hyerim melakukan hal yang sama walau harus menggerutu kenapa untuk yang pertama kalinya dirinya merasakan sebuah pernikahan harus dengan manusia kulkas seperti Luhan?

Tepuk tangan pun terdengar sampai akhirnya pastor pun kembali angkat bicara. “Untuk mempelai pria silahkan mencium mempelai wanita.”

‘Glek!’

Kedua orang yang baru beberapa detik lalu terikat janji sehidup-semati itu menelah ludah bersamaan. Hingga akhirnya, Luhan memilih mendekatkan wajahnya terlebih dahulu pada Hyerim, tinggal beberapa jengkal hingga bibir keduanya bersetuhan. Tapi Luhan memberhentikan lajunya.

“Asal kamu tahu, ini ciuman pertamaku…” bisik Luhan

“Ini juga yang pertama untukku!” desis Hyerim. “Sebenarnya aku tidak ingin memberikan ciuman pertamaku pada sembarang orang! Apalagi monster sialan sepertimu!”

“Begini-gini juga aku ini tampan!” ucapan Luhan tersebut membuat Hyerim memandangnya datar. “Hey! Aku pegal menunduk begini! Dasar pendek! Ayo lakukan!” Hyerim tampak mengangkat sebelah alisnya.

“Jadi kamu ingin aku yang menciummu duluan begitu?”

“Kalau aku yang menciummu duluan, nanti dirimu jatuh cinta padaku,” sungguh kata-kata yang konyol sampai ingin sekali Hyerim berteriak sebal pada Luhan sangking percaya dirinya lelaki tersebut.

“Oh… kalau begitu rasakan ini!” seru Hyerim masih dengan nada pelannya. Dan detik berikutnya, para undangan melongo tak percaya lantaran pengantin wanitalah yang main nyosor mencium pengantin pria.

Ya, Hyerim dengan amarah yang terpendamnya, mencium bibir Luhan. Awalnya hanya bersentuhan, tapi lama kelamaan malahan menjadi ciuman yang penuh dengan lumatan-lumatan dari satu sama lain. Luhan yang tak terima main disosor begitu saja pun, membalas ciuman Hyerim dengan brutal. Membuat para undangan tambah shock di tempat.

“Wah! Ahahahaha, belum pernah aku melihat wanita Korea mencium duluan seperti ini. Dan ya… ciuman yang sangat dahsyat dari acara pernikahan manapun… ahahaha,” ucap Sang Pastor dengan tawa renyahnya.

Bahkan pangutan antara bibir Luhan dan Hyerim belum selesai hingga detik ini. Hyerim bahkan sudah hampir kehabisan napas dengan ciuman membabi buta tersebut. Tanggannya terangkat memukul bahu Luhan, tapi apa daya, Luhan malah mengigit bibir bawahnya keras dan melanjutkan menyerbu bibir manis Hyerim.

“Dasar monster sialan!” rutuk Hyerim dalam hati.

**

Setelah acara pernikahan konyol tersebut. Kedua pengantin baru itu pun diberi kesempatan untuk berbulan madu. Sebenarnya tidak terbesit diantara keduanya melakukan bulan madu. Namun, besoknya setelah keduanya menikah, Nenek serta Ibu Luhan langsung memberikan tiket menuju Pulau Jeju untuk berbulan madu.

Sekarang, Hyerim serta Luhan sedang berada di villa milik Luhan. Hyerim sedang duduk di kursi yang tersedia di halaman belakang, gadis tersebut tampak mengerucutkan bibirnya sambil meneguk setengah habis jus jeruknya. Dan Luhan hanya memasang wajah dinginnya disertai segelas jus jeruk ditangan kanannya.

“Membonsankan! Aku tidak mau di sini!” seru Hyerim membuat Luhan menoleh datar padanya.

“Lagipula aku tidak memaksamu ikut kan,”

Hyerim mendengus. “Bila aku tidak ikut, kedok kita akan terbongkar bodoh!”

Luhan menaruh gelasnya di meja bundar yang terdapat di sana. Lelaki itu memasukan kedua tangan ke saku celananya dan tampak memikirkan sesuatu. Sementara Hyerim yang sudah meneguk habis jusnya, memainkan gelasnya bosan.

“Ah aku punya ide!” seru Luhan membuat Hyerim menoleh padanya. “Ayo ikut aku!” Luhan langsung menghampiri Hyerim dan menarik paksa gadis itu.

Hyerim hanya meringis tertahan karena cekalan Luhan yang sangat kuat seakan Hyerim ini bukanlah manusia melainkan mainan. Hyerim terus mengumpat dalam hati karena perlakuan Luhan tersebut. Sampai keduanya berada di bagian depan villa, Luhan pun melepaskan cekalannya dan Hyerim tampak mengelus-elus pergelangan tangannya sambil cemberut.

Nah! Itu dia!” pekik Luhan yang lalu menghampiri satu objek. Hyerim tampak memperhatikan gerak-gerik Luhan dengan heran. Sampai….

“Sepedah?!” seru Hyerim saat Luhan menuntun sebuah sepedah ke arahnya.

Demi apapun, Hyerim benci bersepedah lantaran pengalamannya waktu kecil dulu, dirinya pernah jatuh tepat di atas tanaman kaktus karena sedang belajar sepedah roda 2, hal tersebut membuat Hyerim trauma dan tidak mau bermain sepedah lagi. Sungguh hal tersebut adalah pengalaman yang mengerikan untuk Hyerim.

“Ya, sepedah…” ucap Luhan santai. “Dan kau! Ayo cepat naik sepedah ini, aku akan ambil sepedah yang lain.” Luhan main melempar sepedah itu pada Hyerim. Untung Hyerim langsung meraihnya, kalau tidak, sepedah merah tersebut akan bernasib malang di atas pahatan semen tersebut.

“Aku tidak mau naik sepedah!” ucap Hyerim membuat Luhan yang sudah mengambil sepedah putihnya, menoleh dengan alis terangkat sebelah. Hyerim tampak menghela napas kemudian melanjutkan. “Aku tidak bisa menaiki sepedah,” cicitnya. Membuat Luhan mengangguk-angguk.

“Ah aku tahu!” Luhan menjetikan jarinya sambil tersenyum miring yang membuat Hyerim mengerut bingung.

**

Tolong biarkan Hyerim tenggelam di laut Jeju saja. Dengan sangat memaksa, Luhan menyuruh Hyerim menaiki sepedah merah tersebut dan mengajari gadis itu menaiki sepedah di sekitar pantai.

“Ya, jalan yang benar!” seru Luhan sambil memegang boncengan sepedah Hyerim yang tampak tak seimbang.

“Aaaa…” Hyerim berteriak saat dirasakan sepedahnya mulai oleng dan Luhan malah melepaskan tuntunannya pada sepedah Hyerim dan berhasil membuat Hyerim dan sepedahnya tersungkur di atas pasir.

Luhan hanya geleng-geleng dengan wajah jengkelnya. “Daritadi masa kamu tidak bisa-bisa sih, dasar bodoh!” teriak Luhan. Hyerim yang sedang mengelus-elus sikutnya, langsung menatap Luhan bengis.

“AKU KAN DARI AWAL SUDAH BILANG TIDAK MAU! KAMU SAJA YANG MEMAKSAKU!” teriak Hyerim penuh amarah. Luhan hanya menutup matanya sekejap dan menatap datar Hyerim.

“Kamunya yang bodoh!” Luhan menendang pasir di sekitar Hyerim membuat sebagian pasir mengepul dan membuat Hyerim memejamkan mata serta terbatuk-batuk lantaran serpihan pasir.

“Sialan!” umpat Hyerim sambil mengusap-usap matanya yang terasa perih. Sementara Luhan malah berjalan menjauh sambil memasukan kedua tangan ke saku celananya. Hyerim ingin sekali memukul Luhan dengan membabi buta.

Dengan sekali hentakan yang terlihat benar-benar jengkel, Hyerim pun berdiri dari duduk tersungkurnya itu. Dirinya menatap Luhan dengan tatapan mengebu-ngebu dan mulut bergerak-gerak marah.

“Dasar monster! AKHHH!!!” teriak Hyerim frustasi sambil menendangi pasir di sekitarnya. “Uhuk…. Uhuk…” Hyerim terbatuk lantaran serpihan pasir itu memasuki rongga dadanya. Luhan yang menyadari hal tersebut walau sedang berjalan memunggungi Hyerim hanya tersenyum miring.

“Kamu ini memang bodoh,” Luhan berkata tanpa mengalihkan intensinya pada Hyerim. Perkataan tersebut membuat Hyerim tambah kesal.

“Aku tidak bodoh!” Hyerim berteriak sambil melayangkan kakinya, seakan-akan dirinya menendang Luhan. Tapi hal tersebut malah berdampak pada alas kakinya yang mental. “Ya ampun sendalku!” gumam Hyerim saat mendapati sandal putih bermotif dedaunan berwarna merah itu sudah mengambang di atas air pantai.

“Kamu ini bodoh, tukang marah, pendek, dan..-“

Aaaaaaaaa!!!” teriakan lengking dari kedua bibir manis Hyerim membuat ucapan Luhan terpotong dan Luhan langsung menolehkan kepalanya. Netranya langsung mendapati Hyerim sudah di tengah pantai dan akan tenggelam beberapa detik yang akan datang bila tidak ada yang menolongnya.

“Tolong! Aku tidak bisa berenang!” teriak Hyerim yang tubuhnya mulai hanyut dalam air pantai.

Luhan pun panik dan langsung berlari ke arah pantai, dan menyeburkan dirinya. Luhan berenang secepat mungkin ke arah Hyerim. Saat sudah berada di dekat Hyerim, Luhan menarik tubuh gadis tersebut dan membawanya ke pinggir pantai. Direbahkannya tubuh Hyerim sambil Luhan memompa dada gadis tersebut agar air yang berada di dalam tubuhnya keluar.

“Hey! Kim Hyerim! Cepat sadar! Hey!” seru Luhan yang masih berusaha mengeluarkan air dalam tubuh Hyerim dengan perasaan panik. “Kim Hyerim!” teriak Luhan frustasi.

Uhuk!” Hyerim terbatuk dan membuka matanya perlahan. Luhan menghembuskan napas kelewat lega mendapati ‘istrinya’ siuman.

**

Hyerim lagi-lagi harus menekuk bibir manisnya sebal hari ini lantaran Luhan. Gadis itu sudah selesai mandi karena seluruh tubuhnya basah dan dirinya hampir hanyut di pantai Jeju. Gadis Kim itu sedang duduk di sofa kamarnya dan juga ya kamar milik Luhan. Sementara Luhan sedang mandi saat ini. Hingga terdengar suara shower dimatikan dan derap langkah kaki Luhan menerobos masuk ketelinga Hyerim, membuat Hyerim menoleh pada Luhan masih dengan wajah jengkel.

“Bagaimana sensasi hampir tenggelam di pantai?” tanya Luhan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Hal tersebut sukses membuat Hyerim meneguk ludah melihatnya. Kenapa lelaki ini kelihatan sangat err… “Hey!” seru Luhan membuat Hyerim mengerjapkan matanya.

“Eh?”

Luhan memutar bola matanya. “Kenapa? Kau terpesona padaku huh?”

Hyerim tersentak dengan mata membulat dan langsung membuang muka ke arah lain. “Utkijima! (jangan melucu)”

Luhan hanya mengangkat bahu tak peduli dan berjalan menuju lemari. Hyerim tampak mengatur detak jantungnya sambil memegang dadanya tersebut. Ada apa dengannya? Mana mungkin Hyerim terpesona oleh Luhan kan. Bahkan lelaki itu tadi tega membiarkan Hyerim berjalan saat baru siuman ketika akan tenggelam. Saat itu kepala Hyerim masih terasa amat pusing dan Luhan sudah bisa melangkah lebar-lebar menuju villa. Come on! Tidak mungkin Hyerim menyukai lelaki seperti itu.

“Hey!” Luhan melempar sebuah bantal yang berhasil mengenai bagian belakang kepala Hyerim. Gadis itu menoleh sambil meringis sebal. Luhan sudah berpakaian lengkap dan tampak tiduran di ranjang. “Aku punya ide untuk menghabiskan waktu sore ini.”

“Apa? Jangan hal aneh-aneh lagi!”

“Tenang saja, tidak akan membuatmu tenggelam di pantai lantaran mengambil pasangan sendalmu kok,” ucap Luhan dengan nada mengejek. Hyerim menatapnya tajam. “Ayo cepat berdiri! Dan ikut aku!” Luhan berkata kembali sambil berdiri. Belum sempat Hyerim menjawab, lelaki itu sudah mencekal tangannya serta menarik Hyerim paksa.

**

“Waaahh!!” Hyerim memekik kala tamparan angin sore Jeju mengenai wajahnya. Hyerim merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum riang.

Luhan yang berada di jok depan sepedah tersebut hanya tersenyum sangat tipis, malah terlihat seperti sebuah garis. Hyerim sekarang sedang dibonceng Luhan mengitari daerah villa Luhan menggunakan sepedah. Sangking larutnya akan kesenangannya, Hyerim sampai memeluk pinggang Luhan saat berboncengan. Senyum tak pudar dari paras ayu gadis itu, membuat Luhan entah mengapa merasa hangat melihat senyumannya.

Hingga akhirnya, Luhan memberhentikan sepedahnya di pinggir pantai. “Turun!” titah Luhan.

Hyerim pun melepaskan pelukannya pada pinggang Luhan, keduanya turun dari sepedah dan duduk di sebuah kursi taman yang menghadap pada hamparan pantai. Hyerim makin tersenyum lebar. Luhan yang duduk di samping Hyerim hanya memandangi matahari yang mulai terbenam, menyebabkan pantulan kejingga-jinggan.

“Indah sekali,” gumam Hyerim dan tanpa sadar menaruh kepalanya dipundak Luhan.

Luhan hanya mengangguk dan diluar kesadarannya juga menumpukan kepalanya di atas kepala Hyerim. Keduanya malah terlihat seperti pasangan dimabuk asmara yang sedang melihat tragedinya sunset di bulan madu keduanya. Tanpa sadar, kedua kelereng milik Hyerim serta Luhan terpejam disertai oleh terbenamnya sang mentari dan langit perlahan berubah gelap. Keduanya terlelap sangat damai. Seakan mengambarkan sebuah pernikahan dan bulan madu yang sangat indah untuk keduanya.

To Be Countinued

Hallo, maaf sebesar-sebesarnya baru bisa publish ff ini di sini >.< Chapter selanjutnya sudah ada di rumah pribadiku ( http://www.hyekim16world.wordpress.com ) jika berkenan bisa baca di sana. See ya dan jangan lupa RCL ^^

-sweet regrads, HyeKim-

3 responses to “Beauty and The Beast Chapter 3 [A Marriage and Honeymoon] – HyeKim’s Story

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s