Little Long While

wp-1467228159853.jpeg
Park chanyeol of EXO & OC’s Shin Soo Mi

Friendship, Friendzone, Romance

And I’d choose you

in a hundred lifetimes, in a hundred worlds, in any version reality.

I’d find you and I’d choose you

(The Chaos of Stars)


“Kkeut! Give up! Menyerah! Seulgi-aa, sekali ini saja dengarkan aku. Aku lelah.”

Soo Mi merundukkan tubuh dengan kedua tangan bertumpu pada lututnya, kesulitan mengatur nafas setelah nyaris setengah jam berlari sepanjang pinggiran sungai Han demi mengikuti keinginan Seulgi, sang adik, yang selalu merengek minta ditemani jogging seminggu terakhir.

“Payah!” Seulgi berdiri di depan Soo Mi. Nada suaranya datar tapi gesture tubuhnya sarat celaan. “Aaaah, ayolah. Setengah jam lagi lalu kita pulang, ooh?” Seulgi merengek, meninggalkan gaya angkuhnya dalam sekejap mata.

“Lakukan sendiri, aku akan menunggumu di sana.” Soo Mi menunjuk bangku taman berbentuk gundukaan batu tepat di seberang jalan tidak jauh dari tempat mereka berdiri.

“Aku memintamu menemaniku bukan menungguiku.” Sang adik berlari kecil meninggalkan Soo Mi sambil terus menggerutu kesal.

Sesungguhnya, olahraga terutama lari adalah hal terakhir yang akan Soo Mi lakukan dalam hidupnya, hanya jika memang sudah benar-benar tidak ada hal yang bisa dilakukan lagi. Soo Mi benci rasa sakit di sekujur tubuh sehabis berolahraga. Berbeda dengan Seulgi yang sangat menggilai olahraga dan sensasi luar biasa yang didapatkannya dari keringat sehabis berlari atau bermain basket.

Tempat Soo Mi duduk menunggu Seulgi, tepat berhadapan dengan aliran sungai han. Angin musim panas membuat riak-riak kecil di sapanjang alirannya sedikit bergelombang. Permukaanya berkilau indah karena pantulan cahaya matahari senja.

Dulu, saat masih sekolah, tidak terhitung waktu yang Soo Mi habiskan untuk menikmati pemandangan seperti ini bersama teman-temannya. Seringkali mereka sengaja menggelar tikar dengan berbagai makanan di atasnya, kemudian Chanyeol yang selalu membawa gitar akan mulai memikat para gadis yang berkerumun atau sekedar lewat di sekitar mereka, diiringi dengan alunan lembut suara Baekhyun yang seakan tercipta sepasang dengannya. Tentu saja Jongdae tidak bisa dilupakan begitu saja. Peran backing vocal yang diambilnya sangat berpengaruh untuk group vocal dadakan itu.

Biasanya mereka hanya akan duduk berjam-jam dengan posisi yang sama. Sesekali akan terdengar bisik-bisik curhatan, saling menyikut untuk sekedar memberi kode antara Soo Mi dan Nara, lalu Baekhyun akan menjadi heboh mengintrogasi setiap kali menangkap basah lirikan mata Soo Mi pada Chanyeol. Entah tidak paham atau memang benar-benar tidak menyadari keributan mereka, Chanyeol hanya akan tertawa melihat para gadis membekap sadis mulut Baekhyun, sedangkan Jongdae yang sangat paham tentang apa yang terjadi memilih jadi penonton demi menyelamatkan diri.

Soo Mi masih mengingat dengan jelas lokasi terakhir karpet yang sama mereka gelar, setumpuk snack dan minuman kaleng yang di bawa Nara, sepatu kuning kusam milik Jongdae yang tidak pernah dicuci sejak di beli saat tahun kedua senior high school bahkan masih dipakainya hingga kuliah, serta semua pembicaran mereka. Semua masih tergambar jelas diingatannya.

Saat itu liburan musim panas di semeseter pertama kuliahnya. Mereka sepakat untuk mengadakan reuni kecil karena kebetulan semua anggota ‘piknik’ sedang berada di Seoul.

“Aku mengira moment seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi.” Baekhyun berceloteh riang ketika pantatnya baru saja menduduki karpet setelah membuang sembarangan sepasang sepatu yang dikenakannya.

“Yah, kecuali kau yang selalu asyik dengan teman barumu di kampus, kami masih sering saling berkomunikasi, Baek.” Ledek Soo Mi. Satu tangannya mencomot ttobokkie yang dibawa Nara.

Kekehan pelan terdengar mendominasi, mereka mengabaikan Baekhyun yang cemberut.

“Lingkungan baru merubah kita semua. Kau benar Soo Mi-aa. Aku benci harus berpisah dengan kalian.” Rajuk Nara, menggamit tangan Soo Mi lalu bersandar manja di bahu nya.

“Aigoo, lihatlah dirimu mulai berlebihan lagi. Aku sering melihatmu menikmati makan siang dengan riang bersama teman-temanmu yang centil itu. Kau tidak terlihat seperti kehilangan siapapun.” Ledek Jongdae sebelah tangannya mendorong kepala Nara, tidak kuat tapi cukup membuat kepala si gadis tergelincir dari bahu Soo Mi.

 “Aku kan tidak mungkin mengikuti kalian di kampus. Kita berbeda jurusan, kau ingat?” protes Nara setelah merapihkan rambutnya yang ikut berantakan akibat ulah Jongdae.

“Kau mengabaikan aku, Nara. Kau selalu membuang muka saat aku memanggilmu di kantin. Apakah sekarang Kim Jongdae sudah berubah menjadi makhluk transparan di matamu?” Jongdae berteriak keras di depan wajah Nara membuat si gadis mengerutkan wajah kesal.

“Mereka menggosipkan kita, Jongdae. Itu membuatku tidak nyaman. Kau tidak tahu mereka sering mengatai aku tidak tahu diri karena sering bersamamu seharian di kampus tapi kemudian pulang dengan Baekhyun, kita bahkan tidak bisa berkumpul lengkap karena jadwal kuliah yang berbeda. Setidaknya aku masih tetap mengangkat telepon dan membalas pesanmu.” Balas Nara tidak kalah keras.

“Itu luar biasakan? Kita bahkan menjadi pembicaraan di tahun pertama. Aku benar-benar terkenal ruapanya.”

Baekhyun belum sempat menikmati rasa bangganya ketika pukulan keras melayang di belakang kepalanya sukses membuat tubuhnya roboh ke depan. Jongdae si pelaku pemukulan menatap horror padanya.

“Hentikan bodoh!” seakan pukulan Jongdae tidak cukup untuknya, Nara menambahkan teriakan suara cemprengnya.

Jongdae menggigit kesal makanan di mulutnya. Percuma membalas ucapan Nara karena Nara benar dan Nara tidak salah. Nara harus dimenangkan dan Jongdae harus mengalah. Sejak dulu memang begitu aturan yang tercipta di antara Jongdae dan Nara. Mereka memiliki kesepakatan tidak terlihat sejak saling mengenal.

Soo Mi tertawa kencang melihat mereka yang selalu meributkan tentang hal yang tidak penting lalu kembali berbaikan dengan sendirinya tanpa memerlukan proses berbelit-belit bahkan seringnya tanpa perlu saling meminta maaf.

Soo Mi menatapi satu persatu sahabatnya, tidak ada yang berubah. Mereka masih berbicara dengan cara yang sama satu sama lain. Di luar ekspektasi Soo Mi, rentang lebih setengah tahun tanpa bertemu sama sekali dengan mereka tidak membuat keadaan menjadi canggung sama sekali.

 “Aku pikir, kita akan mengalami kesulitan berkomunikasi saat bertemu setelah berpisah beberapa bulan.” Soo Mi tanpa sadar menyuarakan apa yang sedang dipikirkannya.

“Bicara apa kau?! Kami masih orang yang sama dengan yang terakhir kali mengantarkanmu ke bandara. Kecuali dia, aku bisa pastikan padamumu bahwa setiap kali kau kembali ke Seoul kita akan berada di sini, Soo Mi-aa.”

Kalimat Jongdae menyentil tepat ke dalam hati Soo Mi, membuat sesak ruang kosong di sana. Sejak awal Soo Mi tidak ingin menyadari bahwa mereka tidak lengkap bahkan sejak dia memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke London. Soo Mi mati-matian membuat dirinya tidak menyadari bahwa mereka kehilangan seseorang.

Park Chanyeol.

Si ksatria bergitar.

Menghilang.

Pria yang dianggap semua orang nyaris setengah dari tubuh Soo Mi, tidak pernah lagi muncul. Bahkan saat semua sahabatnya berbaris rapih di bandara untuk melepas keberangkatan Soo Mi, Chanyeol sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya. Hari itu, nyaris satu tahun Shin Soo Mi tidak melihat Park Chanyeol..

“Aku merindukannya.”

Gumaman Soo Mi cukup terdengar jelas. Jongdae mendapat hadiah sebuah sikutan menyakitkan dari Baekhyun sedangkan Nara membekap mulutnya agar teriakan Jongdae tidak terdengar.

Jongdae sukses merusak suasana.

…………………….

Soo Mi tersenyum kecil mengingat ekspresi kesakitan Jongdae. Tidak ada yang bisa Soo Mi lakukan untuk menyelamatkan jongdae yang setelahnya mendapatkan makian tertahan bertubi-tubi dari Baekhyun karena dirinya sendiri ditelan oleh pusaran pikiran yang bermuara pada Park Chanyeol. Soo Mi merasa bersalah pada Jongdae.

Terhitung dari sore itu, sudah nyaris 5 tahun Soo Mi tidak lagi pernah bertemu dengan mereka. Bukan karena Jongdae yang tidak bisa menepati janjinya soal berkumpul setiap kali Soo Mi pulang ke Seoul, tapi karena sejak liburan tahun itu, Soo Mi tidak pernah lagi pulang. Liburannya selalu dihabiskan untuk bergelut dengan tumpukan kain dan design pakaian di butik milik seorang seniornya di kampus

Soo Mi tidak bisa memikirkan cara selain menyibukkan diri untuk menghindari Seoul. Tangisan ibu nya setiap kali menelepon meminta Soo Mi untuk pulang karena rindu selalu diabakan, meskipun sesungguhnya Soo Mi merasakan sakit yang sama karena tidak bisa melepaskan rindunya. Soo Mi selalu beralasan bahwa kerjanya tidak bisa ditinggalkan dan kuliahnya harus segera diselesaikan.

Setelah mendapatkan gelar sarjananya satu tahun yang lalu, keengganan Soo Mi untuk pulang ke Seoul masih sama seperti sebelumnya. Soo Mi bahkan sudah memantapkan karirnya di London dengan menyetujui tawaran kerjasama teman seangkatannya dengan membuat brand fashion mereka sendiri. Hingga akhirnya Soo Mi benar-benar harus menyerah karena tangisan sang ibu terus saja menganggu dan rindu nyaris meledakkan pikirannya.

………………….

I don’t care if it hurts, I want to have control, I want a perfect body,

I want a perfect soul, I want you to notice, when I’m not around,

You’re so fucking special, I wish I was special.

But I’m a creep, I’m a weirdo.

What the hell am I doing here?

I don’t belong here. (Creep, Radio Head)

Orang bilang, lagu dipilih atau disukai karena memiliki makna yang berkaitan dengan apa yang dirasakan. Jika bukan karena liriknya yang menyerempet ke keadaan si  pendengar, bisa jadi alunan notasi  yang jika didengarkan di saat patah hati membuat seolah lukamu tersiram perasan jeruk nipis, semakin perih. Itu hal biasa dan umum terjadi.

Tapi Soo Mi berbeda. Bagi Soo Mi, lagu yang disukainya adalah segala yang dinyanyikan oleh Park Chanyeol dengan iringan gitarnya. Bahkan jika baru pertama kalinya Soo Mi mendengarkan lagu itu, Soo Mi bisa menghabiskan sisa harinya untuk mendownload semua lagu yang dinyanyikan Chanyeol.

Seperti sore ini, Chanyeol, entah untuk yang keberapa kalinya selama seminggu menyanyikan lagu yang sama. Soo Mi nyaris hapal seluruh liriknya tanpa perlu mendengar bagaimana Radio Head bernyanyi. Dia selalu terpesona pada sosok Chanyeol yang duduk di sampingnya, tidak perduli pada kenyataan bahwa dia hampir setiap hari melihat si pria melakukan hal yang sama.

Chanyeol tidak bernyanyi sebaik Jongdae ataupun Baekhyun. Vocalnya benar-benar rendah dan parah. Tidak semua lagu bisa dinyanyikan Chanyeol dengan baik. Selera musiknya pun lumayan aneh, tidak memiliki spesifikasi yang jelas. Chanyeol selalu menyebutnya sebagai aliran ‘easy listening’, dimana semua lagu yang menurutnya enak didengar dan bisa dia nyanyikan dengan aman tanpa perlu merasa tercekik pada notasi tertentu maka itu adalah lagu favoritnya.

“Aku suka lagu ini.” Soo Mi menyandarkan kepalanya pada bahu Chanyeol. Pandangan mereka menatap lurus pada sungai han.

Sore ini tidak ada Jongdae, Baekhyun dan Nara. Hanya Chanyeol dan Soo Mi.

“Karena aku yang menyanyikannya?”

Soo Mi mengangguk pelan.

“Aneh bukan? Aku bahkan tidak tahu seperti apa penyanyi asli menyanyikannya. Tapi, jika kau yang menyanyikannya aku pasti suka.”

“Apa yang aneh? Kau selalu terpesona padaku sejak dulu. Bukan hal aneh lagi buatku.” Chanyeol terkekeh pelan. Kepalanya sedikit bergeser hingga hidungnya menempel pada helaian rambut Soo Mi.

“Kau melakukannya lagi.” Ucap Soo Mi lirih, sedikit tidak yakin.

“Apa?” cepat-cepat Chanyeol menarik kepalanya, kembali menatap lurus ke depan.

“Menjadi terlalu percaya diri.” Soo Mi mengucapkannya dalam satu tarikan nafas pendek. Cepat dan canggung karena bukan itu sesungguhnya yang ingin Soo Mi katakan.

 ‘Kau mencium kepalaku lagi, Yeol. kau menjadi gugup lagi.’

“Aku anggap itu pujian.”Chanyeol terkekeh pelan,  tangannya membelai rambut Soo Mi.

Ini satu dari banyak alasan mengapa Soo Mi merasa nyaman bersama Chanyeol dan ketidakpekaannya menjadi satu-satunya alasan Soo Mi selalu bingung harus mengatakan bagaimana sentuhan Chanyeol memiliki pengaruh besar pada setiap inci kulitnya

“Aku memilih universitas minggu lalu. Aku sudah berbicara dengan ayah dan ibu dan mereka menyerahkan sepenuhnya keputusan padaku. Sekarang aku sedang mengumpulkan beberapa berkas untuk dikirim, aku juga mengajukan beasiswa.”

Hari semakin gelap karena sudah mulai beranjak malam dan tidak ada pencahayan yang terang di sekitar mereka. Soo Mi bisa merasakan angin malam mengganggu tapi terus berusaha mengabaikannya. Soo Mi masih belum ingin beranjak.

“Fashion design?”

Soo Mi menganggukan kepala menjawab Chanyeol.

“Dimana?”

“London. Ayah mengizinkan karena ada sepupunya yang bekerja di sana. Selain London, ayah tidak memberikan izin.”

“Seoul? Bagaimana jika di sini? Bukankah di sini juga ada universitas yang memiliki jurusan fashion design.”

“Aku ingin melihat dunia luar, Chan-aa. Mengenal hal-hal baru yang tidak bisa aku temukan di sini.” Kedua tangan Soo Mi saling memeluk tubuhnya yang mulai tidak bisa mentolerir dinginnya malam. Beruntung Chanyeol melingkarkan sebelah tangannya pada tubuh Soo Mi menariknya rapat hingga Soo Mi bisa merasakan hangat di sekujur tubuh.

“Kau bahagia? Karena ini bukan keputusan yang mudah kau rubah atau kau sesali di tengah jalan, apakah kau yakin? Kau akan bahagia dengan pilihanmu?”

“Sangat. Aku bahkan sudah membayangkan apa saja yang akan aku lakukan di sana. Ini keputuan yang tidak akan pernah aku sesali seumur hidup.”

Soo Mi tersenyum riang, melingkarkan tengannya pada tubuh Chanyeol. “Aku pasti akan sangat merindukanmu.” Lalu membenamkan kepalanya di dada Chanyeol.

…………………………..

Soo Mi tidak benar-benar mengingat bagaimana reaksi atau ekpresi tepat seorang Park Chanyeol saat dia mengatakan soal keinginannya untuk melanjutkan kuliah di London. Mereka memang berada di sana hingga nyaris tengah malam tapi tidak benar-benar berbicara lagi setelah topik soal kuliah dibahas. Lalu keesokan harinya, Soo Mi menyadari bahwa Park Chanyeol mengabaikan dirinya.

Soo Mi bukannya tidak berusaha untuk mencari tahu apa yang terjadi. Berkali-kali Soo Mi mendatangi apartementnya tapi Chanyeol tidak pernah membukakan pintu, bahkan Chanyeol mengganti password pintunya tanpa memberitahu Soo Mi. Jongdae dan Baekhyun yang terlihat tahu tentang apa yang terjadi memilih tidak berkomentar apapun. Membiarkan Soo Mi berlarian ke sana kemari sendiri untuk mendapatkan penjelasan dari Park Chanyeol yang seakan menghilang ditelan bumi.

Ah, ini benar-benar kenangan buruk untuk Soo Mi. Sungai han yang indah menyimpan sejuta kisah yang tidak bisa Soo Mi bayangkan betapa rindunya dia untuk datang meskipun Soo Mi tahu jika mengingat segalanya sama dengan menyakiti dirinya sendiri. Memang akan selalu ada tempat indah yang tidak perlu kembali di datangi, karena hanya akan mengungkit luka, tidak perduli ada sejuta kenangan bahagia di sana.

Matahari nyaris terbenam ketika Soo Mi mengecek jam dipergelangan tangannya. Sudah nyaris setengah jam sejak Seulgi meninggalkan Soo Mi tapi gadis kecil itu belum masih kembali. Mereka harus pulang secepatnya jika tidak ingin mendapatkan masalah karena Soo Mi tidak bisa melihat dengan baik di malam hari.

Chanyeol. Lagi, segala sesuatu pada dirinya dan sekitarnya membuat nama Chanyeol harus selalu terlintas dalam ingatan Soo Mi. Chanyeol adalah orang yang paling khawatir setiap kali Soo Mi pulang malam hari, karena selain pria gigantic itu dan keluarganya tidak ada yang mengetahui bahwa Soo Mi memiliki masalah dengan penglihatan.

“Aku akan menjemputmu, tunggu di sana.”

“Hm.” Soo Mi menunggu Chanyeol memutuskan panggilan telepon terlebih dahulu sebelum memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.

Soo Mi terpaksa mengikuti kelas tambahan Mr. Choi demi memenuhi absensi yang kurang padahal dua minggu lagi mereka akan menghadapi ujian kenaikan kelas. Salahkan Mr. Choi yang seringkali tidak datang untuk mengajar dengan berbagai macam alasan. Pada akhirnya, ketidakbertanggungjawaban guru matematika itu mengakibatkan Soo Mi dan teman-teman sekelasnya harus pulang malam.

Sebenarnya Soo Mi bisa saja memaksakan untuk pulang ke rumah sendiri bukannya duduk di bangku taman di pinggiran sungai han seperti ini menunggu Chanyeol.

Soo Mi hanya berniat duduk sebentar untuk beristirahat sembari menikmati pemandangan sore sesaat sebelum matahari tenggelam. Chanyeol menelepon lima menit setelahnya menanyakan apakah Soo Mi sudah pulang atau belum karena mereka tidak pulang bersama hari itu. Mengetahui bahwa Soo Mi masih di luar sedangkan hari mulai beranjak gelap, Pria yang tingginya jauh melebihi  Soo Mi itu meributkan soal pengihatan mata Soo Mi yang sangat buruk di malam hari dan terus memaksa untuk menjemput yang langsung ditolak oleh sang gadis. Yah, walaupun tetap saja Soo Mi menyerah dan memilih mengiyakan paksaan Park Chanyeol.

“Gadis bodoh.” Chanyeol menghempaskan tubuh, duduk di sebelah Soo Mi setelah menyampirkan jaket di bahunya.

Soo Mi melirik jam di pergelangan tangannya lalu menatap takjub pada Chanyeol, “Kau berteleportasi atau apa? Ini bahkan belum sepuluh menit tapi kau sudah di sini.”

“Penggemar Harry Potter harusnya sudah terbiasa. Dia bahkan bisa muncul di mana saja dalam hitungan detik.” Jawab Chanyeol acuh. “Dan nona Shin, aku paham bahwa kau masih dalam masa puber dimana bermain sepulang sekolah merupakan hal yang sangat wajar dilakukan oleh anak sesusiamu karena aku melakukan hal yang sama, tapi yang tidak aku mengerti adalah kenapa kau melakukannya sedangkan kau teramat sadar pulang terlambat seperti ini bisa membahayakan dirimu.” Cerocos Chanyeol dalam satu tarikan nafas.

Soo Mi kembali menatap takjub pada Chanyeol, tidak sanggup memberikan jawaban apapun.

“Tidak terjadi sesuatu saat aku belum datangkan? Kau tidak terluka kan? Tidak ada yang mengganggumu kan?” Lanjut chanyeol lagi, tangannya menyentuh setiap inchi kulit tubuh Soo Mi yang tampak untuk memastikan.

Plakk!

“Aww..”

“Apa yang kau lakukan, bodoh!”

Soo Mi menatap horror pada Chanyeol yang menggosok-gosok kepalanya. Satu pukulan telak mendarat di kepala Chanyeol.

“Ya, Park Chanyeol! Aku peringatkan padamu, berhenti memperlakukan aku seperti anak kecil. Berhenti mengataiku bodoh! Berhenti mengomel seperti ibuku karena ibu bahkan tidak pernah repot-repot menghabiskan tenaganya untuk mengomeliku! Dan yang terpenting berhenti menyentuh tubuhku, kau pria mesum!”

Soo Mi bukannya tidak tahu Chanyeol mengkhawatirkannya. Tapi sekali lagi, setiap sentuhan Park Chanyeol di tubuhnya memiliki pengaruh besar yang bisa merusak otak. Soo Mi bahkan tidak menyadari kalimat seperti apa yang baru saja diucapkannya.

“Kau menyakitiku.”

Rintihan Chanyeol mengembalikan kesadaran Soo Mi. Gadis itu memutar jengah matanya lalu sebelah tangannya terayun untuk mengusap kepala pria disebelahnya. Tahu Soo Mi kesulitan karena ukuran tubuh mereka yang berbeda jauh, Chanyeol menyandarkan kepalanya pada bahu Soo Mi.

“Jangan berlebihan lagi.”

“Aku mengerti.”

“Berhenti mengomel sebelum bertanya dengan jelas.”

“Ya.”

“Jangan menyentuh tubuhku sembarangan. Kau bisa dikatai kurang ajar jika orang melihatnya, Chan-aa.”

“Aku tidak janji.”

“Kau selalu begitu.”

“Tadi aku hanya ingin memastikan kau benar-benar tidak terluka.”

“Kau hanya perlu bertanya.”

“Kau bahkan tidak menjawab saat aku bertanya.”

“Kau tidak memberikan aku waktu untuk bicara, bodoh.”

“Berhenti mengataiku bodoh.”

Mereka tertawa. Menertawakan diri mereka dan pembicaraan konyol malam itu.

“Kepalamu masih sakit?” suara Soo Mi kembali normal setelah tawa memecahkan ketegangan.

“Sudah tidak.” Chanyeol menegakkan kembali tubuhnya. “Pakai jaketmu dengan benar, udaranya dingin.” Pria itu membantu memakaikan jaket yang dibawanya untuk Soo Mi.

“Ayo pulang.”

……………………………………………

Soo Mi sudah menyerah tentang perasaannya pada Park Chanyeol sejak bertahun-tahun yang lalu. Bukan karena Soo Mi sudah menemukan pengganti Park Chanyeol atau perasaan itu tidak lagi ada, bukan. Tapi Soo Mi ingin bisa menjalani hidup norma tanpa perlu mengkhawatirkan keeksistensian Park Chanyeol.

Soo Mi masih penasaran dengan alasan Chanyeol menghindarinya tapi bukan berarti dia harus terus berlarian mengejar Chanyeol yang jejaknya saja sudah tidak lagi terbaca oleh panca indra Soo Mi. Waktu yang akan menuntaskannya. Sementara itu, Soo Mi akan membiarkan prasangkanya mengawang di pikiran. Bahwa Chanyeol sama sepertinya, Chanyeol merasakan apa yang Soo Mi rasakan padanya.

“Soo Mi-aa!”

Seulgi berlari kecil menghampiri Soo Mi 10 menit kemudian, membuat sang kakak bernafas lega.

“Kau lama sekali.” Protes Soo Mi.

“Maaf. Aku bertemu dengan seniorku. Tidak enak kalau pergi begitu saja, jadi aku sedikit berbasa-basi dengannya tadi.” Seulgi mengelap keringat di wajah dengan handuk kecil yang melilit di lehernya.

“Ck. Ayo pulang sebelum semakin gelap. Kau tahu kan aku tidak bisa melihat dengan benar di malam hari.”

Seulgi mengangguk lalu menggandeng manja pergelangan tangan Soo Mi, menggiring kakaknya menuju parkiran mobil.

“Shin Soo Mi…”

Suara familiar menyapa pendengaran Soo Mi ketika tangannya sudah menyentuh pintu mobil untuk membukanya. Suara ini masih sama seperti dulu, berat dan menggetarkan gendang telinga Soo Mi setiap kali mendengarnya.

“Oppa?”

Seulgi yang membalikkan badan lebih dulu bersuara sementara Soo Mi masih mematung di tempatnya. Kaki Soo Mi mendadak berubah menjadi jelly, siap hancur jika dipaksa bergerak. Otaknya bekerja keras memaksa tubuhnya untuk berbalik tapi tidak ada daya yang tersisi untuk menolong dirinya. Soo Mi tetap mematung di tempatnya.

“Oh, Seulgi kau masih di sini?”

Suara di balik punggung Soo Mi kembali terdengar. Soo Mi yakin bahwa jarak mereka berdiri tidak terpaut jauh karena Soo Mi bisa mendengar suara itu dengan sangat jelas.

“Hm. Aku mengatakannya tadi, kakakku menunggu di sisi lain taman jadi aku mendatanginya dulu.” Seulgi menarik tubuh Soo Mi untuk berbalik agar bisa berhadapan dengan lawan bicaranya. “Sepertinya kalian saling mengenal, aku mendengarmu menyebutkan nama kakakku, Oppa. Soo Mi, apakah kau mengenalnya? Dia seniorku di kampus, yang aku ceritakan padamu tadi.”

Soo Mi ragu-ragu mengangkat kepala yang sempat tertunduk untuk melihat pria yang sekarang berdiri dihadapanya. Dia masih sama seperti saat terakhir Soo Mi melihatnya. Tidak ada yang berubah sama sekali, bahkan rambutnya memiliki panjang yang sama seperti dulu. Soo Mi bisa meresakan kelembutan helaian rambut pria itu di sela-sela jemari bahkan tanpa menyentuhnya. Masih ada jerawat kecil di sudut bibirnya, pink bersemu kontras dengan kulit putihnya. Soo Mi ingat topi hitam yang tertutup hoodie biru gelap yang dipakainya, keduanya hadiah yang Soo Mi berikan saat pria itu berulang tahun yang ke 21. Mereka memang sudah berhenti bertemu saat itu tapi Soo Mi tidak berhenti mengingat hari special yang biasa mereka lewati bersama selama bertahun-tahun. Ya, Pria tinggi dengan kulit putih dan rambut hitam legam di hadapan Soo Mi saat ini adalah Park Chanyeol.

 “Chan-aa…”

Suara Soo Mi terdengar seperti cicitan tikus yang terjepit. Kecil, serak dan melengking. Soo Mi tidak bisa merasakan lidahnya sama seperti ketidakmampuannya mengatur deru nafas. Hati Soo Mi masih terlalu lemah, mentalnya masih belum siap sekalipun otaknya menggumamkan kemungkinan bertemu Chanyeol seperti ini ribuan kali, Soo Mi tetap merasa tulang-tulangnya menjadi kaku, Soo Mi tidak bisa bergerak dan berfikir dengan benar.

Soo Mi merasakan episode lain dari hubungan tidak jelasnya dengan Park Chanyeol. Saling menatap tanpa mengatakan apapun bukan lah yang Soo Mi harapkan setelah tahun-tahun yang dilewatkannya hanya demi untuk menghindari sumber rasa sakitnya sedangkan si pria sama sekali tidak mau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Soo Mi sempat berfantasy bahwa suatu hari nanti jika Chanyeol berdiri lagi dihadapannya maka saat itu Soo Mi tidak akan mempermasalahkan apa yang terjadi sebelumnya atau kenapa hal itu bisa terjadi. Soo Mi hanya akan merentangkan tangannya berlari ke dalam pelukan Chanyeol, membiarkan dirinya menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang selalu menjadi candunya. Tapi hari ini, ketika hal yang paling ditunggunya terjadi, Soo Mi bahkan tidak sanggup untuk sekedar membuka mulutnya.

Soo Mi sama sekali tidak bisa menemukan realitanya. Seakan Park Chanyeol dihadapannya hanya sebuah ilusi dan Soo Mi sedang bermimpi. Soo Mi semakin tidak bisa merasakan apapun pada tubuhnya ketika tiba-tiba dada bidang seorang pria menubruknya dan diikuti dua buah lengan yang melingkari punggungnya. Park Chanyeol memeluknya.

Apa ini? Soo Mi dan Chanyeol tidak saling berbicara lebih dari 6 tahun. Soo Mi dan Chanyeol bertemu untuk pertama kalinya setelah enam tahun. Lalu seperti tidak pernah ada rentang kekosongan 6 tahun di antara mereka, Chanyeol memeluknya erat dan Soo Mi melingkarkan tangan dipinggang Chanyeol membalas pelukannya, seakan mereka tidak pernah berpisah sebelumnya.

Soo Mi menjadi linglung untuk beberapa saat lalu kemudian menyadari bahwa tubuhnya tidak berdiri dengan bertumpu pada kedua kakinya, melainkan bersandar pada tubuh tegap Park Chanyeol.

“Aku merindukanmu. Bahkan setelah memelukmu seperti ini aku masih merindukanmu.” Chanyeol berbisik lembut di telinga Soo Mi.

“Kau berhutang banyak penjelasan padaku, bodoh.” Gumam Soo Mi diiringi isakan.

Waktu perlahan menjawabnya untuk Soo Mi.

………………………..

“Kau tidak ingin ikut mengantarnya ke bandara?” Baekhyun menghempaskan tubuhnya di sebelah Chanyeol. Siang itu Baekhyun dan Jongdae berkunjung ke apartement Chanyeol.

“Hm.”

“Kau sangat tahu Soo Mi tidak akan pernah pergi jika kau memintanya, bodoh.” Baekhyun memutar tubuh untuk berhadapan dengan Chanyeol, berusaha mengintimidasi tapi gagal karena Chanyeol terus menatap lurus pada layar televisi, konsentrasi pada winning eleven yang sedang dimainkannya.

“Karena itu aku tidak ingin menemuinya.” 

“Aku tidak bisa memahami jalan pikiranmu. Kau menyukainya tapi kau membuat dia merasa seakan tidak diinginkan olehmu.” Protes Jongdae sekembalinya dia dari menjarah isi kulkas dan menaruh hasil jarahan itu di atas meja.

“Lebih baik begitu. Aku tidak ingin menjadikan perasaanku sebagai alasan dia berhenti meraih cita-citanya. Dia menginginkan itu lebih dari apapun yang ada dihidupnya.”

“Tapi ini bukan hanya soal perasaanmu, bodoh. Soo Mi juga menyukaimu.” Baekhyun menggeram kesal.

“Aku tahu. Justru karena aku tahu, aku membiarkan dia pergi.”

“Aku bersumpah kau akan menyesali keputusanmu, Park Chanyeol.” Baekhyun melirik kesal pada Chanyeol yang tetap acuh.

“Setidaknya aku tidak membiarkan Soo Mi menyesali keputusannya nanti.”

“Aku benar-benar tidak mengerti. Kau dan Soo Mi, kalian berdua sama-sama bodoh.”

Chanyeol membuang nafas kesal karena timnya kalah. Setelah melempar stick games nya di atas sofa, chanyeol menatapi sahabatnya bergantian, Chanyeol tahu mereka menuntut penjelasan.

“Aku bukan satu-satunya alasan Soo Mi untuk bertahan hidup. Dia masih harus menggapai cita-citanya dan aku juga akan melakukan hal yang sama. Menahannya untuk berada di sini hanya akan menjadi kebahagiaan sesaat buat kami lalu sisanya akan menjadi penyesalan. Aku belum sempat menjadi seseorang yang bisa dibanggakan dan membanggakan diriku dihadapannya. Kami tidak dalam kondisi harus menikah besok.”

“Setidaknya biarkan Soo Mi tahu perasaanmu.”

“Kalian pikir dia tidak tahu? Aku tidak mengucapkannya bukan berarti Soo Mi tidak menydarinya. Kalian belum mengerti juga?”

Baekhyun dan Jongdae menggeleng dengan pikiran kosong. Chanyeol menghempaskan tubuh pada sandaran kursi lalu melipat tangan di dada.

“Aku tidak ingin mengikatnya. Soo Mi ingin pergi karena ingin bebas menikmati dunia baru. Mengikatnya hanya akan menghambat keinginanya.”

Jongdae dan Baekhyun tersadar. Chanyeol hanya sedang berusaha melindungi Soo Mi dan masa depannya. Dibandingkan harus memperjuangkan perasaan, Chanyeol lebih menginginkan Soo Mi berjuang demi cita-citanya.

“Bagaimana denganmu?” Jongdae menurunkan intonasi suaranya, “Apa kau akan baik-baik saja?”

“Aku akan baik-baik saja.”

 …………………………………

Maaf untuk alur cerita yang gaje. -.-Sebelumnya pernah di post di AFF. Semoga kalian sukaa *bow

2 responses to “Little Long While

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s