Enclosed (Oneshot)

enclosed-atatakaichan

Title
Enclosed

Author
Atatakai-chan

Genre
AU, Dark

Length
Oneshot

Rating
PG-15

Casts
G-FRIEND SinB as Hwang Eunbi/Sinbi
and
G-FRIEND Eunha as Jung Eunbi/Eunha


Disclaimer
Fanfiksi ini merupakan hasil karya author. Dilarang keras untuk mencopy fanfiksi ini dan mempublikasikannya sebagai karya milik Anda sendiri.


Inspired by the movie Room (2015) directed by Lenny Abrahamson

Credits to anonimjeon @ Posterzone for the awesome poster

Suara kicauan burung terngiang di kepala Eunbi, membuat gadis itu terbangun dari tidurnya yang entah bagaimana sangatlah lelap. Sepasang mata indahnya mengerjap-ngerjap ketika indera penglihat itu menangkap adanya sosok orang lain di dalam ruangan. Bukan hanya orang itu saja, tembok berwarna abu-abu yang tak pernah ia lihat, jendela yang berada terlalu tinggi di langit-langit –ruangan itu juga asing baginya.

“Aduh,” Eunbi meringis ketika rasa nyeri dirasakan olehnya di bagian belakang kepala ketika ia mengubah posisinya dari tidur menjadi duduk.

Tampaknya ringisan itu membangunkan si orang lain –seorang gadis dengan paras manis dan kulit seputuh salju– yang berada di dalam ruangan. Gadis itu duduk dengan posisi tubuh yang menghadap ke arah Eunbi. Keheranan terlihat dari kedua matanya yang menatap Eunbi lebar-lebar.

“Kau… siapa?” Tanya gadis itu, suaranya sangat lembut hampir tak tertangkap oleh indera pendengar Eunbi.

“Aku Eunbi. Kalau kau?” Eunbi bertanya balik. Walaupun kedua orangtuanya sering mengingatkan untuk tidak terlalu dekat dengan orang asing tetapi ia merasa gadis yang duduk di hadapannya ini bukan orang berbahaya yang harus dihindari.

Gadis itu termangu untuk beberapa saat, “kebetulan yang amat mengerikan. Namaku juga Eunbi. Jung Eunbi.” Gadis yang postur tubuhnya mungil itu berdiri dan berjalan mendekat pada Eunbi sebelum duduk di sampingnya.

“Oh? Kalau aku Hwang. Hwang Eunbi.”

.

.

“Hey, Eunbi. Apa kau sudah mandi?” Eunbi yang terbangun dengan rasa nyeri pada bagian belakang kepala bertanya pada Eunbi yang satunya.

“Ah sudah ‘kok. Memangnya kenapa?”

Hwang Eunbi menatap bak mandi yang berada di pojok ruangan, di tempat yang menurutnya tak seharusnya menjadi tempat untuk bak mandi. “Kau mandi… di situ?” Ia menunjuk pada bak mandi yang bagian luarnya nampak sedikit usang.

Jung Eunbi mengangguk, “iya. Aku mandi di situ, di bak mandi itu.”

Seolah menganggap jawaban Eunbi yang satunya adalah lelucon, Hwang Eunbi menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari ruangan lain atau mungkin tangga yang menuju ke lantai atas, namun usahanya sia-sia. Ruangan tempatnya berada hanya satu tingkat, tanpa ruangan lain yang berada di sekitarnya. Sebuah pintu berada tak begitu jauh dari tempatnya berpijak namun pintu itu tak berknop.

Bulu kuduk Hwang Eunbi meremang, sebenarnya mengapa ia bisa berada di dalam ruangan ini?

“Kau akan terbiasa ‘kok, Eunbi,” Jung Eunbi menepuk-nepuk pelan bahu Hwang Eunbi sebelum memunggunginya.

“Aku tidak akan mengintip.” Lanjutnya seraya berjalan ke sudut ruangan satunya.

.

.

Hwang Eunbi membuka lemari, di dalamnya ada banyak pakaian namun entah pakaian siapa karena yang jelas ia tidak pernah mengenakan pakaian-pakaian tersebut sebelumnya. Tak mau ambil pusing dengan keadaan yang dari awal sudah aneh, gadis dengan rambut coklat tua itu mengambil kaos putih polos dan celana pendek berbahan katun dengan corak bunga-bunga kemudian dikenakannya kaos dan celana yang ukurannya tidak pas dengan tubuhnya itu.

Sementara itu di sudut lain dalam ruangan yang sama nampak Jung Eunbi sedang duduk di atas sebuah kursi berwarna hijau tua sambil menyantap roti lapis yang entah apa rasanya. Hwang Eunbi berjalan mendekati Eunbi yang satunya dengan rambut hitam panjang, kemudian duduk di kursi lain yang tersedia.

“Roti lapis itu kau buat sendiri?”

Jung Eunbi mengangguk menjawab pertanyaan Hwang Eunbi, “kalau kau mau aku bisa membuatkannya untukmu juga.” Lanjutnya sebelum kembali melahap roti lapis dengan selai kacang yang berada dalam genggaman kedua tangannya.

“Tidak usah, aku bisa membuatnya sendiri.”

“Baiklah.” Jung Eunbi mengangguk, “kau bisa mengambil roti dan selainya di dalam lemari dapur.”

Hwang Eunbi tidak tahu ada dapur di ruangan ini tetapi ia menduga yang dimaksudkan oleh gadis yang satunya sebagai dapur adalah ruang yang saat ini dipijak oleh keduanya. Seperti dapur pada umunya, ada lemari-lemari kecil yang berisi perlatan makan dan bahan-bahan makanan, hanya saja tidak ada kompor –yang ada hanya sebuah microwave berukuran sedang yang teronggok di atas meja.

.

.

Sinar rembulan yang masuk ke dalam ruangan melalui jendela yang berada di atap ruangan menandakan waktu sudah malam. Berada dalam ruangan terbatas membuat waktu terasa begitu lama berlalu, Hwang Eunbi mengira malam sudah datang semenjak beberapa jam lalu. Keadaan ruangan semakin sepi. Jung Eunbi bukanlah tipe gadis yang banyak berbicara dan Hwang Eunbi tidak tahu harus mengatakan apa semenjak dirinya masih belum mengerti mengapa ia dan Eunbi yang satunya bisa berada di dalam ruangan yang sama.

Ngomong-ngomong, bagaimana kalau kita memberikan nama panggilan pada satu sama lain? Rasanya aneh memanggil orang lain dengan namaku sendiri.” Akhirnya Jung Eunbi menjadi orang pertama yang mengajak berbicara setelah seharian ini.

“Boleh, aku tidak keberatan.” Sahut Hwang Eunbi yang kini berbaring di sisi kiri tempat tidur sementara sisi kanan tempat tidur ditempati oleh Jung Eunbi yang sedang duduk dengan kedua lutut yang ditekuk.

“Kalau begitu aku akan memanggilmu Sinbi, ya?” Jung Eunbi menoleh pada Hwang Eunbi, meminta persetujuan pada gadis yang sudah menatapnya sedari tadi.

Gadis yang mulai saat ini akan dipanggil dengan nama Sinbi tersenyum. Ia suka nama panggilan itu.

“Baiklah. Biar  kupikirkan nama panggilan yang akan cocok denganmu,” Benak Sinbi menerawang, mencoba mencari nama yang sekiranya cocok dengan gadis manis yang duduk di sebelahnya.

“Karena nama kita sama-sama Eunbi maka aku akan mengambil eun-nya. Hm, bagaimana dengan Eunha?”

Untuk pertama kalinya sepanjang hari akhirnya Sinbi melihat Eunha tersenyum, dan senyuman itu terasa sangat ramah, membuat Sinbi merasa sedikit lega setidaknya ia akan memiliki teman di dalam ruangan mengerikan yang menyekapnya dengan alasan yang masih belum ia temukan.

“Bagaimana kau bisa berada di sini, Sinbi?”

Sinbi mengubah posisinya menjadi duduk, ia mendekatkan dirinya pada Eunha sehingga bahu keduanya saling bersentuhan, “entahlah, Eunha. Aku sendiri tidak tahu mengapa aku bisa terbangun di tempat ini. Tapi apapun alasannya dan bagaimanapun caranya aku bisa berada di sini,”

Sebuah jeda yang cukup panjang.

“Apapun alasannya dan bagaimanapun caranya aku bisa berada di sini membuatku takut.” Isakan lolos dari mulut Sinbi. Tubuh gadis itu gementar karena menahan tangis sekaligus disebabkan oleh rasa takut yang menghantui dirinya semenjak ia terbangun pagi tadi.

Eunha merangkul erat Sinbi yang secara tak langsung menjadi teman barunya, rasa takut yang dirasakan oleh Sinbi dulu pernah ia rasakan. Namun ia berpikir setidaknya nasib Sinbi lebih baik karena ada dirinya yang menemani, sementara dirinya dulu harus melawan rasa takut itu sendirian.

“Apakah sesuatu yang buruk akan terjadi pada kita Eunha?”

“Kau tahu? Aku merasa bersyukur aku tidak pernah dikeluarkan dari ruangan ini karena apabila itu terjadi, sesuatu yang buruk akan terjadi padaku sama seperti orang-orang yang dulu pernah berada di sini.”

Sinbi terperangah mendengar jawaban dari Eunha namun ia tidak berhak menghakimi. Ia kini tahu Eunha sudah lebih lama berada di dalam ruangan ini dan mungkin menyaksikan hal buruk yang menyebabkannya lebih memilih untuk terkurung di tempat ini. Seketika rasa iba membanjiri diri Sinbi.

“Kau akan menyukainya.” Kata-kata itu begitu saja keluar dari mulut Sinbi.

“Menyukai apa?”

“Kebebasan.” Jawab Sinbi singkat.

Eunha terdiam, wajahnya ia palingkan ke arah kanan, “entahlah, Sinbi. Aku tidak tahu. Aku merasa ruangan ini adalah satu-satunya tempat teraman. Dunia itu kejam, begitu juga dengan orang yang menyekap kita di sini.”

“Kau tahu? Ketika pintu terbuka, kau selamanya tidak akan pernah merasakan kebahagian maupun kebebasan. Keperawananmu akan direnggut oleh pria yang bahkan kau tidak tahu siapa kemudian kau akan didistribusikan layaknya barang.”

Tubuh Eunha bergetar seiringan dengan pernyataan yang ia berikan meluncur keluar dari mulut mungilnya. Kini Sinbi tahu alasan mengapa ia dan Eunha berada di dalam ruangan ini. Hanya tinggal menunggu waktu sampai ia dijadikan alat pemuas nafsu dan Sinbi tidak ingin waktu itu tiba. Ia ingin melewati waktu yang bisa kapan saja datang itu dengan cara kabur dari ruangan ini. Ia harus menyelamatkan dirinya sendiri dan juga Eunha.

Keinginan kuat untuk terlepas dari masa depan suram itu membawa rasa keberanian yang dulu ia miliki kembali. Tubuhnya berhenti bergetar. Ia mencengkram kuat-kuat kedua bahu Eunha dan mengguncang-guncang tubuh gadis itu.

“Sadarlah, Eunha! Aku tahu jauh di lubuk hatimu kau tahu ada tempat aman lainnya selain ruangan ini, rumah! Kita bisa dan kita harus keluar dari sini!”

Semangat Sinbi belum padam namun pintu besi mendadak terbuka dari luar. Untuk sekejap nyali Sinbi menciut. Ia tak bisa berhenti memikirkan akankah ini giliran Eunha atau mungkin bisa saja gilirannya. Namun bayangan akan kebebasan yang muncul menyingkirkan rasa takutnya. Ia menggenggam erat tangan Eunha dan kemudian menarik gadis itu dari tempat tidur –menerjang ke arah pintu yang terbuka– ia tidak tahu berikutnya akan seperti apa namun setidaknya ia sudah mencoba untuk keluar karena kebebasan itu patut diperjuangkan.

 

FIN.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s