[Chapter 1] Sing For You

Sing For You by irish (1)

Sing For You

Because of you, I can’t stop playing.

by Shinyoung

Main Cast: Kim Jongin & Jung Soojung || Support Cast: Oh Sehun & Bae Joohyun || Genre: Drama, Romance, School Life || Length: Multi-chapter || Rating: PG-15 || Credit Poster: IRISH @ Poster Channel || Disclaimer: Cast belongs to God. No copy-paste. Copyright © 2016 by Shinyoung.

Chapter 1 — Crashed Into Him

Prologue

*

Hari pertama masuk sekolah adalah hari yang melelahkan.

Melelahkan itu tidak dapat dideskripsikan oleh Jung Soojung. Seperti yang dia alami saat ini juga. Ia berada di dalam sebuah bus biru perkotaan, berdesak-desakkan dengan murid-murid lainnya, menuju sekolah yang sama. Ditambah lagi dengan orang-orang yang dalam perjalanan menuju kantor masing-masing.

Dia tidak pernah berharap hari pertama masuk sekolah adalah hari Senin. Namun, dia tidak berhak untuk mengubah keputusan tersebut. Kecuali jika dia memutuskan untuk meliburkan diri di hari pertamanya dan masuk di hari selanjutnya.

“Soojung-ah.”

“Kenapa?”

Soojung tampak malas menjawab panggilan sahabatnya, Choi Jinri. Dia sedang tidak mood untuk menanggapi Jinri karena saat ini dia tengah diapit oleh beberapa gadis dengan seragam sama. Gadis-gadis itu juga kesulitan untuk berdiri karena penuhnya bus perkotaan tersebut.

“Kau tidak merasa pengap?” tanya Jinri.

“Anggap saja ini olahraga pagi.”

“Bagaimana bisa kau menganggap ini olahraga pagi?” Jinri menatapnya histeris. “Apa kau tidak merasa malu sesampai sekolah nanti kita dibanjiri keringat? Aku yakin tidak ada sunbae yang mau mendekati kita.”

“Kau masih saja memikirkan hal itu, Choi Jinri.”

Soojung hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tidak mengerti. Sudah 3 tahun dia berteman dengan Jinri, tapi tidak ada yang berubah dengan gadis itu—selalu mengeluh dan panik akan sesuatu yang tidak penting. Soojung merasa bahwa dia harus mengubah gadis itu nanti.

Mereka tiba di halte bus 15 menit kemudian. Begitu turun dari bus, Jinri langsung mengeluarkan parfumnya, kemudian menyemprotkannya ke seluruh tubuhnya, dan juga tubuh Soojung. Meskipun Soojung menghindar, Jinri tetap mengejarnya dan menyemprotkan parfum andalannya.

Wajah-wajah murid baru memenuhi lapangan sekolah. Mereka tidak dapat memasuki kelas mereka sebelum dikumpulkan terlebih dahulu di tengah lapangan, diberikan beberapa pidato oleh Kepala Sekolah dan juga ketua murid SMA Kyunghee.

Soojung dan Jinri bergegas menuju lapangan sekolah, begitu juga dengan murid-murid baru yang lain. Keadaannya sangat ramai sampai-sampai membuat Soojung kehilangan keseimbangannya dan menabrak tubuh seseorang.

“Ah!”

“Eh, maafkan aku!”

Soojung membungkukkan tubuhnya berkali-kali, hingga menjadi bahan perhatian murid-murid baru yang lainnya. Gadis itu mendongakkan wajahnya dan segera menyadari bahwa yang baru saja ia tabrak adalah seorang senior—terlihat dari selempang yang melingkar di lengan atas lelaki itu, bertuliskan ‘dewan murid’.

Laki-laki itu hanya menghela napas tipis, mengabaikan permintaan maaf Soojung, dan berlalu pergi meninggalkannya. Mendapatkan sikap seperti itu, segera membuat Soojung kesal bukan main, terutama ketika dia mendengar cemoohan.

“Aku yakin gadis itu langsung ditindas oleh senior itu.”

“Dia benar-benar cari masalah.”

“Soojung!” Jinri menghampirinya yang entah datang darimana. “Kau darimana saja? Aku mencarimu kemana-mana, ternyata kau ada di sini. Kita harus bersama. Aku tidak kenal siapa-siapa kecuali dirimu.”

Soojung menganggukkan kepalanya. Dia tidak mau menanggapi pertanyaan Jinri karena perasaan kesal yang memuncak terhadap senior yang baru saja ia tabrak itu. Alasannya adalah karena lelaki itu tidak menerima ucapan maafnya.

Padahal dia sudah meminta maaf dengan tulus, namun senior itu justru mengabaikannya. Dia bahkan berjanji akan menemui senior itu setelah upacara selesai. Walaupun dia sendiri tidak yakin dia akan melakukan itu atau tidak.

“Kau memikirkan apa, Jung?” tanya Jinri penasaran.

“Bukan apa-apa.” Soojung menggeleng pelan. “Aku tadi menabrak seorang senior. Tapi, dia tidak mendengarkan permintaan maafku. Aku pikir aku sebaiknya balas dendam terhadap senior itu.”

“Eh?!” Jinri menjerit histeris. “Jangan! Kau mau mati, ya? Kau pasti akan menjadi bahan tindasan jika kau menghadapi senior itu. Bagaimana pun, senior tetap benar meskipun dia yang salah.”

“Sejak kapan ada peraturan semacam itu?” Soojung mengerutkan keningnya.

Jinri mengangkat bahunya.

Mereka menyelinap masuk ke dalam barisan, seperti murid-murid baru yang lainnya. Jinri dan Soojung pun berdiri berdampingan. Seperti permen karet, Jinri terus menempel kepada Soojung. Meskipun, Soojung tidak terlalu mempedulikan Jinri yang bersikap seperti itu karena dia sudah terbiasa.

Seorang laki-laki berbadan sedang—tidak terlalu kurus—melangkah ke tengah, tempat dimana sebuah mimbar untuk berpidato telah disiapkan oleh para anggota dewan murid SMA Kyunghee. Dalam sekali lihat, Soojung sudah yakin bahwa pria tersebut adalah kepala sekolah SMA Kyunghee.

Pidato berlangsung selama setengah jam lebih, membicarakan peraturan-peraturan yang berlaku di sekolah dan beberapa nasihat mengenai pembelajaran, meminta murid-murid baru untuk fokus belajar karena SMA merupakan jalan menuju universitas.

“Jika kalian tidur hanya 3 jam, maka sudah pasti kalian lolos masuk SKY*.”

Kata-kata penutupnya itu sudah menjadi lazim di telinga para murid-murid. Mereka harus belajar dengan keras untuk lolos masuk salah satu dari 3 universitas terbaik di Korea Selatan itu.

 

 

Murid-murid baru sedang berbondong-bondong menuju papan pengumuman yang terletak di bagian tengah gedung sekolah. Seperti sekolah-sekolah yang lain, SMA Kyunghee menyediakan 4 papan pengumuman yang besar untuk menempelakan informasi.

Tidak hanya itu, di tengah gedung sekolah itu terdapat 3 buah sofa dan juga meja kecil yang berada di tengah-tengah sofa tersebut. Biasanya digunakan oleh para murid secara bergantian sebagai tempat mengobrol.

Bukan hanya murid-murid baru yang memenuhi ruang tengah SMA Kyunghee, namun juga beberapa anggota dewan murid untuk merapikan murid-murid baru. Melihatnya saja sudah membuat Soojung pusing, jadi dia memutuskan untuk menunggu giliran sampai sepi, barulah ia mengecek namanya.

“Soojung! Aku sudah tahu kita ada di kelas mana!”

Jinri yang entah datang darimana menghampiri Soojung dengan mata berbinar. Seolah-olah gadis itu baru saja mendapatkan sesuatu yang menakjubkan, eksklusif, dan tidak dapat diketahui oleh siapapun.

“Kita?” tanya Soojung dengan alis bertautan.

“Iya!” Jinri mengerjap beberapa kali. “Kita berada di kelas yang sama, yaitu 1-3!”

“Oh, ya ampun. . .”

Soojung memijat keningnya yang mulai pening. Dia tidak menyangka bahwa dia diletakkan di dalam kelas yang sama dengan Jinri. Sudah 3 tahun dia satu kelas dengan Jinri dan sekarang dia harus sekelas lagi dengan gadis itu.

Jinri hanya tertawa melihat reaksi Soojung. “Sudahlah, ayo kita menuju kelas!”

Soojung menganggukkan kepalanya, menuruti kemauan Jinri. Mereka melangkah meninggalkan ruang tengah yang masih ramai itu menuju ke lorong yang berada di depan mereka. Tidak sulit untuk mencari kelas baru mereka karena di depan setiap kelas terpasang sebuah plang.

Namun, perjalanan mereka harus dihentikan ketika mereka berpapasan dengan salah seorang senior yang tidak lain adalah laki-laki yang ditabrak oleh Soojung tadi pagi. Cepat-cepat, Soojung menundukkan kepalanya. Namun, terlambat karena lelaki itu sudah melihatnya lebih dulu dan memintanya berhenti.

“Berhenti.”

Jinri menatap lelaki itu tidak mengerti. “Kita harus ke kelas, sunbae.”

“Ya, aku tahu itu, Choi Jinri.”

Soojung melirik sahabatnya dengan mata melotot, bertanya-tanya kenapa laki-laki itu bisa mengetahui nama Jinri. Namun, Jinri justru menatapnya balik seolah-olah gadis itu tengah marah besar pada Soojung.

“Bisa kau tinggalkan kami sebentar, Choi Jinri?”

“Baiklah.” Jinri beralih kepada Soojung. “Setelah itu langsung ke kelas, ya. Aku akan selamatkan satu bangku untukmu. Jangan lama-lama.”

Soojung hanya mengangguk pelan, tanpa berkomentar. Setelah kepergian Jinri, Soojung kembali beralih kepada lelaki yang berdiri di hadapannya. Soojung menatap lelaki itu dari atas sampai bawah, kemudian kembali menatap kepada selempang yang melingkar di lengan atas kanannya.

“Namamu Jung Soojung?” tanya laki-laki itu.

“Iya, tahu—”

Soojung berhenti ketika teringat bahwa ia menggunakan papan nama kecil yang menempel menggunakan peniti pada bagian kanan seragamnya. Gadis itu menganggukkan kepalanya mengerti.

Kali ini, dia menatap papan nama yang menempel pada seragam lelaki itu. Sama seperti papan nama yang lainnya, sebuah tulisan hangul tertulis pada papan nama hitam itu. ‘Kim Jongin’ namanya.

“Ada apa, sunbae?” tanya Soojung akhirnya. “Apa kau ingin menagih permintaan maafku lagi tadi pagi? Atau. . . Kali ini kau ingin mendengarkan ucapan permintaan maafku?”

“Bukan.” Laki-laki itu menggeleng. “Aku mau minta maaf karena tadi pagi meninggalkanmu saat kau mengucapkan permintaan maaf padaku. Tadi pagi aku buru-buru karena harus mengurus persiapan hari pertama murid baru,” jelasnya.

Meskipun terdengar seperti tengah berbohong, namun Soojung yakin tidak ada kebohongan yang tersirat di wajah laki-laki itu. Soojung yakin bahwa laki-laki itu mengatakannya dengan tulus.

“Kau tidak perlu melakukan ini, sunbae.

Tanpa mendengar jawaban dari seniornya itu, Soojung segera melangkah pergi. Meskipun terlihat seperti tidak sopan, namun dia yakin itu adalah pilihan terbaiknya karena dia tidak suka berbasa-basi membahas sesuatu yang menurutnya bukanlah masalah yang besar.

Lebih utamanya, masalah yang dihadapinya adalah masalah dengan seorang senior. Dia tidak mau menjadi buah bibir para murid baru—seperti menggoda seorang senior atau isu-isu lainnya. Tidak ada gunanya juga dia berlama-lama berbicara. Dia ingin duduk di kelas barunya dan melihat wajah-wajah yang satu kelas dengannya.

 

 

“Sudah dapat izin dari Pak Kepala?”

“Sudah,” jawab Kim Jongin dengan datar.

Sebenarnya, laki-laki itu sedikit tidak yakin dengan keputusan yang telah ia buat. Namun, bagaimana pun dia akan tetap melaksanakan keinginan gadis itu. Toh, gadis itu telah berpesan padanya untuk tidak melupakan keinginannya.

Kini, ia berdiri di depan sebuah ruangan yang sudah lama tidak terpakai karena sejak awal tidak ada yang tertarik untuk menghidupkan kembali grup band SMA Kyunghee. Alat-alat musik yang ditutupi kain pun menjadi berdebu karena dibiarkan begitu saja. Sama halnya dengan meja-meja dan kursi yang sudah lama tidak terpakai, dipenuhi oleh debu.

Meskipun ia berhasil meyakinkan kepala sekolah bahwa dia akan menghidupkan kembali grup band SMA Kyunghee, dia tetap harus mencari orang agar bisa membuat grup band itu hidup. Seperti lima tahun yang lalu, di mana grup band Kyunghee selalu memenangkan perlombaan.

“Kau yakin dengan keputusanmu, bukan?”

“Ya, aku yakin,” jawab laki-laki itu.

Sahabatnya hanya menghela napas pelan. “Mau bagaimana lagi, aku harus membantumu. Lagi pula aku tidak bisa mengabaikan keinginannya. Dia juga sahabatku. Tapi, kalau kau tidak mampu melakukannya, sebaiknya kau hentikan saja dan kita serahkan kepada angkatan selanjutnya.”

Jongin memutar tubuhnya hingga menghadap sahabatnya. “Dengar, tahun lalu. . . Yong Junhyung sunbae telah gagal membentuk grup band ini. Tahun ini, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi. Aku pastikan akan menemukan anggotanya dan membuat grup band ini kembali hidup seperti 5 tahun yang lalu.”

“Aku akan jadi apa nanti?”

“Manajer?” Jongin mengangkat alisnya.

“Oh, ya ampun. Bisa apa aku. Apa kau tidak tahu kelakuan sahabatmu ini?”

“Aku tahu, Oh Sehun.” Jongin melangkah masuk ke dalam ruangan itu. Lalu, ia menoleh lagi pada sahabatnya. “Sebaiknya, kau bantu aku sekarang untuk memberihkan ruangan ini. Kau tidak mau jadi alergi debu karena ruangan kotor ini, bukan?”

“Baiklah.”

Sehun melangkahkan kakinya ke dalam ruangan usang itu. Debu yang berserakan dimana-mana membuat laki-laki itu hampir saja menutup hidungnya. Dia menghampiri Jongin yang ingin menarik kain yang menutupi alat-alat musik. Kemudian, membantu Jongin untuk membuka kain-kain berdebu itu.

“Ya ampun, kalian rajin sekali sudah ada di sini.”

Suara seorang gadis yang terdengar khas di telinga mereka tidak membuat mereka menghentikan aktifitas mereka. Jongin dan Sehun mengumpulkan kain-kalin itu menjadi satu tumpukan kotor yang kemungkinan akan mereka buang ke tempat sampah.

“Sebaiknya kau bantu kami, Bae Joohyun,” ujar Jongin.

“Kalian membutuhkanku?” tanya Joohyun penasaran.

Jongin melirik gadis itu sebal, namun tidak berkomentar. Melihat Jongin yang kesal membuat Joohyun tertawa pelan. Gadis itu pun ikut masuk ke dalam ruangan tersebut dengan dua buah sapu serta sebuah kemoceng di tangan kanannya dan sebuah serokan di tangan kirinya.

“Tenang, aku datang untuk membantu kalian.”

Joohyun mengangkat tangannya yang membawa alat-alat kebersihan itu. Sehun menoleh ke arah gadis itu, lalu tersenyum lebar. Mendapat senyuman dari Sehun, Joohyun hanya tersenyum manis membalasnya.

“Jangan pacaran di sini,” tegur Jongin. “Cepat putuskan; bantu atau keluar?”

“Bantu,” jawab Sehun dan Joohyun secara bersamaan.

Jongin pun berdeham pelan, kemudian melanjutkan aktifitasnya.

Tidak ada yang spesial dari ruangan tersebut, kecuali ruangan terebut merupakan ruangan bekas 5 tahun yang lalu yang tidak pernah berubah. Alat-alat musiknya pun tidak diganti dengan yang baru. Meja dan kursi bekas di kelas yang tidak digunakan pun beberapa dipindahkan ke ruangan band ini.

Mereka bekerja tanpa berkomentar lagi, membersihkan ruangan itu dengan cepat. Kecuali Joohyun dan Sehun yang sempat berbicara sebentar mengenai tanggal kencan mereka yang selalu gagal. Jongin tidak terlalu memperhatikan kedua sahabatnya itu, namun dia memastikan bahwa mereka membantunya.

Jongin mengecek bagian meja utama yang berada di ruangan band tersebut. Dia menarik laci-laci meja tersebut dan menemukan sebuah buku agenda yang sepertinya tertinggal di sana. Lantas, ia mengambil buku agenda tersebut, kemudian membukanya.

Di dalam buku agenda tersebut, dia menemukan sebuah tulisan hangul rapi pada setiap kotak tanggal-tanggalnya. Tidak hanya itu, dia menemukan beberapa catatan kecil pada setiap halaman yang ada di belakang halaman tanggal perbulan itu.

Tidak salah lagi, itu adalah agenda band yang digunakan oleh seniornya 5 tahun yang lalu. Seselesainya ia membaca buku agenda itu, ia menutupnya, lalu menghampiri Sehun yang tengah membersihkan piano.

“Sehun,” panggil Jongin, lalu menyodorkan buku agenda itu. “Karena kau akan menjadi manajer—”

“Manajer?” tanya Joohyun terkejut.

Jongin hanya menganggukkan kepalanya. Joohyun pun langsung tertawa keras saat melihat reaksi Jongin. Gadis itu tertawa tanpa henti dan membuat Sehun langsung menarik rambut gadis itu kesal.

“Berhenti menertawaiku!” seru Sehun, mengerucutkan bibirnya.

“Bagaimana aku tidak bisa tertawa?” Joohyun kembali tertawa terpingkal-pingkal, sampai gadis itu terbungkuk karena tidak bisa menghentikan tawanya. “Kau dipilih menjadi manajer? Memangnya kau bisa mengatur band ini? Mengurusi tanggal kencan saja susah apalagi mengurusi band sekolah.”

“Joohyun-ah,” panggil Jongin akhirnya.

“Eh?”

Mendadak Joohyun menghentikan tawanya saat menyadari wajah serius yang diberikan oleh Jongin dan juga Sehun yang tampak kesal. Gadis itu tersenyum kecut ke arah Sehun, menyembunyikan tawanya.

“Baiklah.” Joohyun mengacak rambut Sehun. “Aku mengerti.”

Joohyun pun melangkah pergi meninggalkan mereka, melanjutkan aktifitas bersih-bersihnya. Sehun hanya bisa menghela napas tipis melihat kekasihnya itu. Sementara itu, Jongin hanya tersenyum tipis memperhatikan keduanya.

“Apa ini?” tanya Sehun sambil mengangkat buku agenda yang diterimanya.

“Itu buku agenda yang digunakan oleh senior kita 5 tahun yang lalu. Ada beberapa informasi yang bisa kau gunakan. Mungkin juga bisa membantumu untuk mempelajari posisi manajer band.”

“Benarkah?” Sehun menatap buku itu. “Aku berharap buku ini membantu.”

 

 

“Kau ditanya apa saja?” tanya Jinri.

“Aku mau tanya dulu, kau mengenalnya?” tanya Soojung balik.

“Bagaimana aku tidak mengenalnya?!” serunya tidak percaya. “Dia Kim Jongin. Dia adalah senior kita saat kita masih SMP. Bukankah aku pernah membicarakannya karena dia adalah salah satu sunbae yang aku idolakan, ya?”

“Tidak, kau tidak pernah cerita.”

Jinri menatap Soojung dalam-dalam. Berusaha mengingat-ingat apakah dia pernah menceritakan hal itu kepada Soojung. Sekeras apapun dia mengingat, dia tidak pernah bisa mencoba mereka lagi memori tersebut.

Akhirnya, Jinri pun menyerah. “Sepertinya aku memang belum menceritakannya kepadamu. Tapi, aku yakin bahwa aku telah bercerita mengenai Jongin sunbae padamu. Mungkin, kau yang tidak memperhatikanku. Tapi, ya sudahlah.”

Soojung mendecak beberapa kali. “Kau ini tidak mau kalah, ya?”

“Begitu lah. Tapi, memangnya kau tidak pernah melihat laki-laki itu, ya?”

“Tidak.” Soojung menggeleng. Ia mengeluarkan kotak pensilnya. “Memangnya dia benar-benar senior kita saat masih SMP, ya? Aku sama sekali tidak pernah melihat laki-laki itu di sekolah. Mungkin, dia orang yang tertutup.”

“Lebih tepatnya, kau yang selalu tidak memperhatikan sekelilingmu, Jung Soojung.”

Soojung tersenyum. “Baiklah.”

Tiba-tiba, seorang wanita muda dengan tubuh indah bak seorang aktris Korea memasuki ruangan kelas 1-3. Wanita itu membawa sebuah buku besar dengan sampul biru plastik dan juga buku-buku lain di tangannya.

Pandangan anak-anak langsung tertuju padanya seolah-olah melihat seorang model ternama Korea Selatan. Anak-anak yang semula tengah sibuk berbincang-bincang dan berada dimana-mana langsung kembali ke tempat masing-masing.

Sementara itu, Soojung tidak terlalu memperhatikan keadaan. Pandangannya tertuju ke luar jendela kelas karena kebetulan ia duduk di samping jendela kelas. Namun, di sampingnya ada Jinri yang sedang sibuk menatap cermin di atas mejanya, memperhatikan wajahnya yang sudah mulus.

“Pagi anak-anak.”

“Pagi!”

Wanita muda itu tersenyum tipis, kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh murid 1-3. Tatapannya berhenti pada Soojung yang sedang menatap ke luar, membuat Jinri langsung mencolek gadis itu. Ketika sadar, Soojung cepat-cepat membenarkan posisi duduknya, namun wanita itu hanya tersenyum tipis.

“Ada yang mengenalku?” tanya wanita muda itu.

Tak ada yang menjawab pertanyaannya. Semua menatapnya dengan penuh tanya, apakah wanita ini seorang model yang tersasar masuk ke dalam sebuah sekolah atau memang wanita ini adalah wali kelas mereka.

“Namaku Park Minyoung,” ujar wanita itu memperkenalkan dirinya. Ia mengembangkan senyum terbaiknya kepada seluruh murid. “Jadi, aku adalah wali kelas kalian. Pertama-tama aku ingin mengucapkan, ‘Selamat datang di SMA Kyunghee’. SMA yang akan menjamin kalian lolos diterima di 3 universitas terbaik Korea Selatan. . .”

Soojung mengabaikan wanita yang tengah berdiri di depan kelas itu. Wanita itu menjelaskan beberapa keunggulan SMA Kyunghee yang sudah pernah ia dengar dari ibunya sebelum mendaftarkan diri di sana. Yang pasti, setelah memperkenalkan SMA Kyunghee, guru itu langsung mengabsen murid kelas 1-3.

Pikiran Soojung kembali melayang ke sebuah lembaran pengumuman yang baru saja ditempel sebelum ia memasuki kelas. Saat ruang tengah SMA Kyunghee sudah sepi, Soojung memang sengaja menyempatkan dirinya untuk kembali ke sana, dan mengecek apakah namanya benar-benar berada di daftar kelas 1-3.

Tetapi, memang benar. Tidak mungkin Jinri membohonginya. Dia pun sempat tertawakecil menganggap betapa bodoh dirinya itu.

Namun, saat ia tengah memperhatikan daftar kelas, seorang gadis lain menghampiri papan pengumuman tersebut. Ia melirik gadis itu dan menyadari bahwa gadis itu adalah gadis tadi pagi yang berbicara di mimbar pidato. Gadis itu adalah ketua murid SMA Kyunghee yang dibicarakan oleh murid-murid.

Sependengaran Soojung, gadis itu adalah putri dari salah satu politikus terkenal di Korea Selatan. Gadis itu juga ternama dalam bidang akademik dan juga pandai dalam bermain piano.

Bae Joohyun menempelkan sebuah selembar pengumuman di papan pengumuman SMA Kyunghee. Sebelum pergi, gadis itu sempat tersenyum tipis ke arah Soojung.

“Bergabunglah jika tertarik,” katanya.

Soojung mengerutkan keningnya tidak mengerti. Lantas, Joohyun pun menunjuk selembar pengumuman yang baru saja ia tempel. Mau tidak mau, Soojung langsung tersenyum kecut menyadari kebodohannya. Joohyun pun lagi-lagi tersenyum, kemudian meninggalkan Soojung dalam diam.

Setelah kepergian Joohyun, Soojung pun mengecek pengumuman baru tersebut. Mungkin dia adalah orang pertama yang melihat pengumuman itu. Pengumuman itu dicetak dalam ukuran 3:2 seperti poster film, namun tidak terlalu besar.

Desainnya cukup bagus untuk sebuah pengumuman sederhana seperti itu. Pengumuman itu mengenai grup band SMA Kyunghee. Soojung mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Jika dia tidak salah, itu adalah grup band yang selalu dibicarakan oleh kakaknya beberapa tahun yang lalu karena sempat melejit.

Saat itu, Soojung masih duduk di bangku sekolah dasar, sehingga dia tidak mengerti apa pun yang dibicarakan oleh kakaknya. Kakaknya itu memang sangat menyukai band SMA Kyunghee sehingga menjadi penggemar beratnya. Padahal saat itu, teman-temannya justru mengidolakan boyband-boyband Korea.


DIBUKA PENDAFTARAN

untuk

PERSONIL GRUP BAND SMA KYUNGHEE!

Dibutuhkan posisi vokalis dan drummer! Segera daftarkan dirimu dan ikuti audisinya sebelum ketinggalan. Pendaftaran dan audisi dibuka mulai 2-7 Maret 2016 sepulang sekolah di ruang band SMA Kyunghee.


Pikiran Soojung kembali ke dalam kelas. Ia menatap ke depan kelas dimana Guru Minyoung masih berdiri di sana, tetap melanjutkan kata-katanya mengenai pembelajaran di SMA. Intinya cukup sama dengan yang dikatakan oleh kepala sekolah tadi pagi. Hanya saja, ia mengatakannya dengan kata-kata yang menarik.

Soojung pun memijat pelipisnya. Dia memang tidak pernah tertarik untuk mengikuti grup tersebut. Namun, ketika teringat dengan mimpi kakaknya, ia pun memutuskan untuk mendaftarkan dirinya.

 

 

Tanpa terasa seminggu berlangsung dengan cepat. Murid-murid baru pun langsung mendaftarkan diri mereka pada ekstrakurikuler yang telah ditampilkan beberapa hari yang lalu. Tidak ada yang tidak tertarik pada ekstrakurikuler yang berkaitan dengan musik, terutama ekstrakurikuler vokal grup yang menjadi eksktrakurikuler ternama.

Semua orang mungkin berbondong-bondong berlomba untuk memasuki ekstrakurikuler grup vokal, namun berbeda dengan gadis itu. Ia sendiri memilih untuk memasuki sebuah grup band, yang baru akan dibentuk.

“Kau pulang saja duluan, Jinri.”

“Eh?” Jinri melotot. “Kenapa? Kau mau kemana?”

Bukan Jinri namanya jika tidak penasaran. Gadis itu memang punya keingintahuan yang besar. Bahkan, rasa ingin tahunya itu bisa mengalahkan segalanya. Terutama, menyangkut sesuatu yang dianggapnya top secret.

“Aku ada pertemuan sebentar.”

“Pertemuan?” Jinri lagi-lagi mengerutkan keningnya.

Soojung menghela napas tipis. Seharusnya dia langsung ke ruang band tanpa memberi tahu Jinri. Dia tidak menduga bahwa rasa ingin tahu Jinri lebih besar daripada sebelum-sebelumnya.

“Ya, begitu lah. Lebih tepatnya, aku mau daftar band.

“Untuk apa? Kau mau masuk grup band itu? Lalu bagaimana dengan ekstrakurikuler vokal grup yang kau janjikan?”

“Tidak jadi.” Soojung menggeleng pelan, penuh perasaan bersalah. “Jadi, kau pulang saja dahulu.”

“Baiklah.” Jinri menganggukkan kepalanya menyerah. “Aku tidak akan memaksamu untuk mendaftarkan dirimu di ekstrakurikuler vokal grup. Pantas saja, dari kemarin aku bertanya padamu tentang kapan kita akan mendaftarkan diri, tapi kau diam saja.”

“Jangan marah, Jinri-ya.”

Jinri tersenyum tipis, kemudian memegang bahu Soojung. “Tentu saja tidak. Untuk apa aku marah? Aku sudah mengenalmu. Aku tahu kau pasti mau masuk band karena teringat dengan kakakmu, bukan?”

Soojung mengangguk pelan. “Begitulah. Aku merasa sangat bersalah dengan kakakku. Jadi, aku memutuskan untuk ikut audisi band ini. Siapa tahu aku bisa menyenangkan hatinya saat tahu aku masuk band ini.”

“Tapi, Soojung,” Jinri tiba-tiba berbisik, menurunkan volume suara, di tengah-tengah ingar-bingar kelas yang masih dipenuhi oleh teman-teman kelas mereka, yang menunggu hujan mereda di luar sana.

“Tahu apanya?” Soojung tidak tertarik menatap wajah penuh rahasia Jinri.

“Grup band itu baru bangkit lagi setelah 5 tahun tidak aktif.”

“Lalu, apa pentingnya?”

“Tidak ada yang tahu alasan sebenarnya grup band Kyunghee dibubarkan 5 tahun yang lalu. SMA Kyunghee menutup mulut mereka rapat-rapat ketika ditanyai oleh wartawan.” Jinri mengecek ponselnya dan mengetikkan sesuatu dengan cepat di atas layar ponsel pintarnya itu. “Tapi, yang pasti, ada beberapa orang yang percaya bahwa gadis vokalis utama dari band ini bunuh diri karena frustrasi. Sepertinya ada hubungan rahasia di antara personil band Kyunghee.”

“Dari mana kau tahu itu?” Soojung basa-basi menanggapi.

“Memangnya kau lupa kalau ayahku adalah wartawan? Ayahku mengatakannya padaku sehari sebelum hari pertama kita masuk sekolah. Kejadian itu menjadi isu panas di antara para wartawan, tapi tidak ada yang berani mengunggah sebuah artikel yang tidak ada faktanya mengenai pembubaran band tersebut.”

Melihat wajah Jinri yang penuh semangat itu, Soojung hampir tertawa. Sahabatnya itu seperti sedang menceritakan kisah penuh rahasia, yang tidak dapat diketahui oleh siapapun, hanya dia saja yang mengetahui kisah tersebut. Seolah-olah, Soojung adalah orang penting yang harus mengetahui kisah itu.

Sepertinya, gadis itu terlalu banyak menonton drama Korea yang selalu ditontonnya sepulang sekolah. Soojung sampai hafal dengan jalan cerita drama Korea yang tidak ditontonnya karena Jinri selalu berceloteh panjang saat pagi hari berangkat menuju sekolah atau ketika mereka sedang berada di kantin, menikmati makan siang mereka.

“Aku sempat dengar dari ayahku kalau band Kyunghee akan dihidupkan kembali. Tapi, ternyata ayahku memang benar. Di hari pertama kita masuk sekolah itu, Joohyun sunbae menempel pengumuman tentang audisi band itu. Aku sampai tidak percaya ternyata Joohyun sunbae merupakan personil band.”

“Joohyun sunbae?”

“Iya. Tidak ada yang percaya dengan hal tersebut karena Joohyun sunbae masuk band tersebut. Dia memang sangat pintar dalam segala bidang. Bahkan, ayahnya yang merupakan politikus itu juga selalu menyebut-nyebut nama anaknya. Kalau tidak salah, di pemilihan presiden selanjutnya, ayahnya akan dinobatkan menjadi Menteri Pendidikan di Korea Selatan.”

“Sampai segitunya, kah?” tanya Soojung sedikit tidak percaya.

“Itu adalah kekuatan posisi, Jung Soojung. Kalau kau punya keluarga yang dinilai bagus, pasti akan menguntungkan posisimu juga. Joohyun sunbae sudah dikenal dimana-mana karena kepintarannya dalam mengikuti Olimpiade Biologi.”

“Aku yakin dia pasti memutuskan karirnya sebagai dokter,” tebak Soojung.

“Hm. . .” Jinri menggoyang-goyangkan jarinya. “Dia tidak mau jadi dokter.”

“Lalu, kalau bukan dokter, dia mau bekerja sebagai apa?”

“Kalau itu aku tidak tahu.”

Soojung melongo menatap sahabatnya, tertipu dengan jawaban yang diberikan Jinri kepadanya. Gadis itu tidak percaya bahwa dia baru saja dibohongi oleh Jinri.

“Lupakan saja.” Jinri memutar bola matanya. “Cepat kau daftarkan dirimu dan pulang sebelum hujannya semakin deras. Aku akan meminta ayahku untuk menjemputku sekarang karena kau tidak bisa pulang denganku.”

Setelah mengucapkan salam perpisahan, Soojung segera menuju ke ruang band yang berada di dekat lapangan indoor. Mungkin ruangannya kedap suara sehingga diletakkan di samping lapangan indoor.

Dengan langkah hati-hati, ia membuka pintu ruang band.

Dia tidak tahu apakah pilihannya itu tepat atau tidak karena dia dengar grup band tersebut tidak memiliki peminat yang banyak. Bahkan mungkin hanya ia satu-satunya peminatnya karena dia tidak menemukan siapapun di dalam sana kecuali dirinya.

“Permis—”

“Wah, aku tidak percaya bahwa ada yang mau mendaftar menjadi anggota band ini!”

Seorang laki-laki dengan wajah yang tirus tiba-tiba muncul entah dari mana. Mungkin laki-laki itu memang sudah berada di dalam ruangan itu sejak sebelum kedatangannya. Soojung hanya tersenyum tipis dan sedikit ragu.

“Um, ya, begitu lah. Aku ingin mendaftarkan diri. Apa. . . Aku orang pertama yang mendaftarkan diri di sini, kalau aku boleh tahu?”

Laki-laki yang baru menyambutnya itu menganggukkan kepalanya. “Begitu lah. Seperti yang kau lihat. Kosong! Benar-benar kosong. Sepertinya aku bisa mengandalkanmu. Mungkin dia juga setuju jika kau langsung masuk band ini tanpa seleksi!”

Soojung tersenyum gugup menatap lelaki yang terlalu bersahabat itu. Soojung tahu bahwa laki-laki itu merupakan seniornya, itulah mengapa ia tetap berusaha bersikap sopan di hadapan lelaki itu.

“Benarkah? Aku sebenarnya sudah mempersiapkan banyak hal untuk seleksinya.”

“Kalau begitu, apa yang sudah kau siapkan?”

Dia?

 


*SKY : Sebutan untuk 3 universitas terbaik di Korea Selatan, yaitu Seoul National University, Korea University, dan Yonsei University.

 

to be continued.

July 4, 2016 — 08:00 p.m.

::::

a.n: jangan lupa memberi comment, likes, atau feedback yang lain jika kalian membaca ini. kritik dan saran juga sangat dibutuhkan demi keberlangsungan fan-fiction ini. terima kasih banyak🙂

2 responses to “[Chapter 1] Sing For You

  1. Pingback: [Chapter 1] Sing For You | Junnie!ART·

  2. Pingback: [Chapter 2] Sing For You – FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s