Spring Vocation

Chen Kim of EXO & OC’s

What a sweet suffering I bear, to be the one who loves you – Jessica Katoff

Sejatinya Elle menyukai hujan, terutama petrichor yang menguar kuat memenuhi ruang kerjanya yang luas. Baunya menyerupai candu bagi Elle, menuntaskan setiap kegelisahannya soal terik matahari yang tidak kunjung menyerah beberapa bulan belakangan. Hanya saja, khusus hari ini Elle merutuki hujan yang turun tepat setengah jam sebelum jam kerjanya berakhir, membuatnya harus tertahan di belakang meja kerjanya lebih lama.

Lima meter dari jendela kantor yang berkabut karena pias hujan, Elle menghenyakan diri di atas kursi berputar favoritnya. Menyatukan kedua jari tangan di depan perut sambal terus menatap kosong ke arah  Chen yang terus fokus pada laptop dan tumpukan kertas di atas meja. Sesekali kaki Elle menjejak lantai, sepersekon kemudian tubuhnya berputar 360 derajat lalu kembali diam. Menit berikutnya Elle menghembuskan nafas berat, menegakkan punggungnya condong ke depan dan kembali menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi tidak sampai setengah menit setelahnya.

Chen bukannya tidak menyadari apa yang sejak tadi dilakukan rekan kerjanya itu. Pria itu sesungguhnya merasa terusik dengan suara decitan roda kursi yang berputar, hembusan nafas keras dan kebisingan lain yang diciptakan Elle. Tapi dia memiliki deadline pekerjaan yang lebih butuh untuk diperhatikan dibandingkan Elle.

Ya Tuhan, tidak bisakah Elle mencari tempat lain untuk melakukan hal-hal bodoh yang sekarang dilakukannya?

Sekarang Elle memelototi ponsel digenggamannya seakan benda itu akan menghilang secara ajaib jika dia mengedipkan mata sedetik saja. Harry potter juga tidak akan pernah muncul dari benda persegi itu seakan handphone miliknya adalah portkey yang biasa digunakan untuk berpindah tempat. Ini bukan urusan hidup dan mati. Si bodoh Elle sebenarnya hanya sedang mempersulit dirinya sendiri.

Lagi, suara decitan roda kursi yang berputar memenuhi ruang dan Elle memutar cepat kepalanya ke arah luar saat Chen melepaskan kacamatanya, menatap garang pada Elle. Chen menyerah, Elle lebih menyebalkan dibandingkan deadline kerjanya yang terus-terusan di maju mundurkan sesuka hati oleh sang atasan membuat Chen selalu lembur tanpa hasil akhir yang jelas.

“Apa yang kau inginkan?”

Elle tahu resiko mengganggu Chen sama dengan menggali berkali-kali kuburannya sendiri di lobang yang berbeda. Kenapa berkali-kali? Karena Chen memang bisa membunuh Elle berkali-kali. Pertama dengan tatapan matanya yang dingin, kedua dengan intonasi bicaranya yang datar, ketiga gaya intimidasinya yang memabukkan, dan beberapa alasan lain yang bisa membuat Elle kehilangan detak jantungnya beberapa sekon sebelum kembali berdetak tapi tidak dengan cara normal, tapi bukan jenis detakkan kacau yang berimbas pada ‘kupu-kupu yang beterbangan di perutnya’, jelas bukan karena fase itu sudah lama Elle lewati. Elle hanya takut setiap kali Chen marah. Hanya karena itu.

“Chen tahu Tokyo, kan? Maksudku Tokyo yang di Jepang.”

Elle menenggelamkan tubuhnya semakin dalam di kursi saat Chen hanya menatap kesal padanya tanpa menunjukkan reaksi apapun.

“Menurutmu, apakah tempat itu jauh? Aku hanya ingin tahu, sumpah tidak memiliki maksud apapun.” Tambah Elle cepat saat dilihatnya Chen kembali menggapai laptopnya yang sempat terabaikan.

“Tidak, kalau kau pergi menaiki pesawat. Ya, kalau kau memilih berjalan kaki.”

“Kalau di ‘kilometer’?”

You should googling, Elle.” Jawab Chen datar.
It’s 5782,45 kilometers away, Chen.” Elle menjawab sendiri pertanyaannya dengan deretan angka yang sudah berputa-putar dikepala sejak beberapa hari belakangan dan masih terbuka sebagai halaman utama di aplikasi pencarian di ponsel-nya.

Oh, God! I hate you, Sellena Kim.. What’s wrong with you?!” Chen membanting kasar kacamatanya ke atas meja. Tidak lagi bisa fokus pada pekerjaannya karena si gadis benar-benar menyedot atensinya dalam artian negative.

“I need holiday, Chen. Tokyo sepertinya menjanjikan.”

Bohong! Chen tahu Elle berbohong karena gadis itu memandang liar pada seisi ruangan bukannya menatap tepat pada matanya seperti yang selalu Elle lakukan.

“Kenapa mendadak dan harus Tokyo?”

“Hanya terlintas begitu saja.”

Shut up you stupid lier.” Chen berdiri dari kursinya berjalan memutar lalu menyandarkan bagian belakang tubuhnya pada meja, mempersempit jarak antara dirinya dan Elle.

Its been couple of years since my last holiday. Aku benar-benar ingin liburan.” Kali ini Elle terdengar seperti memohon membuat Chen mengernyitkan dahinya bingung.
Sellena Kim, si troublemaker ini, sedang meminta liburan pada Chen Kim yang bahkan emosinya saja sering diabaikain oleh Elle.

“Im not your boss, don’t begging me.”

Elle terdiam dengat sudut bibir yang berkedut menahan setiap sumpah serapah yang tidak bisa dikeluarkannya karena Chen menarik lengan kursinya untuk mempersempit jarak. Netra coklat gelapnya terkunci pada pekatnya tatapan Chen. Kali ini Elle benar-benar harus menyingkirkan segala alasan kenapa Chen bisa membunuhnya berkali-kali. Chen bukannya membunuh Elle, Chen hanya membuat Elle jatuh cinta dan Elle benci jika harus sering- sering mengakuinya.

“Aku hanya ingin melihat cherry blossom bermekaran saat spring.” Elle mulai merasakan panas di kedua matanya, untuk alasan yang tidak masuk akal, Elle nyaris menangis.

“Kau bisa melihatnya di sini. Kenapa harus susah-susah pergi ke Tokyo.” Ucap Chen lembut. Kali ini Chen benar-benar berjuang untuk meredam emosinya karena Elle dan air mata adalah mimpi buruk.

“Karena aku benar-benar ingin pergi berlibur ke Tokyo di saat spring. Kenapa susah sekali membuatmu mengerti. Aku hanya ingin berlibur.”

See?! Chen merasa perutnya dipelintir dan sangat sakit saat Elle mulai terisak dengan kedua tangan menutupi wajahnya, tidak membiarkan Chen melihat tetesan yang tidak kalah deras dengan hujan di luar sana. Efek psikosomatik yang sama setiap kali Chen menyaksikan Elle menangis terumata jika tangisan itu karena dirinya. Dalam gerak refleksinya, Chen sudah merengkuh Elle ke dalam pelukan, membiarkan kemejanya basah dibanjiri air mata Elle sementara tangannya mengusap-usap punggung Elle berusaha membuat si gadis tenang.

Untungnya tidak ada siapapun di ruangan itu selain mereka berdua, Chen sedikit bernafas lega karena tidak perlu repot-repot menjelaskan apa yang sedang terjadi karena dia sendiri bingung dengan apa yang sedang dia dan Elle lakukan.

Hujan sedikit mulai reda saat goncangan ditubuh Elle sedikit berkurang. Chen masih terus memeluknya, tidak erat, hanya rengkuhan menenangkan yang berarti segalanya bagi Elle saat ini.

How stupid you are, this is still beginning of autumn and you’ve been fretting over spring vocation

“Tapi..”

“Projeknya dibatalkan. Aku ingin langsung memberitahumu tadi tapi kau lebih memilih makan siang dengan Nara.” Chen tidak membiarkan Elle menyelesaikan kalimatnya.
Chen menghapus jejak air mata dari wajah Elle yang tiba-tiba menarik diri setelah mendengar ucapannya. Gadis itu menatap sanksi pada pria dihadapannya.

“Projeknya dibatalkan. Aku tidak akan pergi.” Jari-jari Chen membelai sisi wajah Elle,”Aku tidak akan kemana-mana, Elle. Jadi kau tidak perlu repot-repot untuk pergi ke Tokyo saat spring. Alasan itu sangat bodoh, kau tahu Ms. Possessive.”

Satu jentikan di keningnya secepat kilat mengembalikan kesedaran Elle tapi tidak cukup banyak energi yang dia miliki untuk sekedar berteriak kesakitan apalagi mendebat Chen yang sudah membereskan meja kerjanya.

Elle hanya mengawasi gerak gerik pria itu, bagaimana dia memastikan semua berkas pekerjaannya tersimpan rapih, hal-hal kecil yang Chen lakukan seperti menggigit bibir atasnya saat berpikir pun tidak luput dari perhatian Elle. Termasuk saat ini, ketika Chen kembali berdiri dihadapannya, menggapai bahu Elle dengan kedua tangannya lalu memberikan kecupan ringan dikening Elle. Elle bisa merasakan senyuman Chen.

“Aku baru tahu saat hamil wanita bisa jadi sangat mengerikan.” Bisik Chen lembut lalu pergi begitu saja meninggalkan Elle.

Elle menyadari malam sudah semakin larut dan hujan sudah benar-benar berhenti di luar sana. Gadis itu merapatkan coat merah mudanya kemudian berdiri untuk membereskan meja kerjanya. Elle harus pulang, otaknya kacau dan Elle butuh kasur dan pelukan hangat Chen untuk mengembalikan kesadarannya seperti semula.

…………………………..

Sudah pernah di post di blog pribadi dengan cast yang berbeda. ^^

 

2 responses to “Spring Vocation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s