CUPBOARD

CUPBOARD

CUPBOARD
By: susanokw

“Sampai satu per satu dari mereka benar-benar pergi.”

Selamat malam.

Mari aku ceritakan sebuah kisah. Tentang sebuah keluarga penyimpan kenangan, sampai satu per satu dari mereka benar-benar pergi.

Berpuluh tahun yang lalu, aku masuk ke rumah itu. Rasanya benar-benar senang mendapatkan suasana tempat yang baru. Ukuran rumah itu tidak terlalu besar, namun terasa sangat nyaman. Nama lelaki itu adalah Ale, seorang remaja yang baru saja lulus SMA. Orangtuanya membelikan sebuah lemari baru, karena lemari yang lama sudah sangat usang dan tidak mampu lagi menampung baju-bajunya yang semakin banyak.

“Rapikan bajunya, Ale. Jangan sampai ada baju-baju yang bergelantungan lagi di belakang pintu. Ayah tidak suka itu.” Kata Ibu, kepada Ale pada suatu malam ketika lemari itu baru saja dibeli.

Ale adalah seorang anak yang penurut. Apa yang dikatakan oleh ibu dan ayahnya pasti ia turuti. Ale adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya perempuan, dan adiknya laki-laki. Ale seorang anak yang rajin, tipe orang yang tidak bisa tinggal diam melihat sesuatu yang tidak tertata pada tempatnya. Ale suka membantu kakak maupun adiknya, dan tentu saja membantu kedua orangtuanya. Ale adalah anak laki-laki yang membanggakan.

Aku suka Ale.

Aku suka karena Ale selalu memperhatikanku. Memperhatikan kebersihanku, menjagaku dari benda-benda yang berbahaya. Ia selalu menaruh bola-bola padat pewangi disekitar baju-bajunya agar selalu wangi. Aku tidak keberatan jika Ale menuliskan ‘Sudah rapihkah Anda?’ pada salah satu sisi lemari yang ditempeli kaca. Bukankah itu artinya Ale merupakan orang yang suka kerapihan?

Ale juga menuliskan namanya di sudut kanan atas dari lemari barunya dengan spidol warna hitam. Tulisannya, ‘Milik Ale. Selamanya.’ Menggelikan rasanya melihat seorang anak laki-laki yang begitu mencintai lemarinya, padahal itu hanya lemari biasa. Yang dibeli di toko pembuatan lemari, di pinggir jalan. Tapi karena sikap Ale yang selalu menjaga barang miliknya dengan sepenuh hatilah, aku menyukainya. Amat menyukainya.

Beberapa bulan kemudian, aku dengar Ale diterima menjadi salah satu siswa militer. Itu adalah impian Ale sejak lama, dan memang karena latar belakang ayah Ale adalah seorang tentara. Bukan tentara yang pergi ke medan perang, namun ayah Ale adalah seorang mantri kesehatan yang bertugas untuk memberikan perawatan bagi tentara-tentara yang sakit. Lingkungan hidup Ale pun berada di sekitar kompleks tentara. Saat pertama kali aku datang ke rumah ini, aku melihat warna loreng hitam dan hijau dimana-mana. Warna khas seragam tentara Indonesia, yang juga sering dipakai ayah Ale ketika malam tiba. Aku dengar itu adalah baju kesayangan Ayah, dan sampai kapanpun Ayah akan selalu memakai baju itu. Dan saat itu aku tahu darimana Ale mendapatkan sifat penyayang terhadap barang-barang yang ia miliki.

Aku tahu seluk beluk keluarga ini, sampai hal terkecil sedikitpun. Namun aku tidak akan menceritakannya kepada kalian. Itu rahasia, dan aku telah bersumpah untuk tidak menceritakannya pada siapapun. Tapi…, kurasa yang satu ini akan aku ceritakan sampai tuntas.

Waktu itu malam Sabtu. Berita bahagia bahwa Ale sudah diterima menjadi salah satu calon siswa militer membuat keluarga kecil itu bersukacita. Ibu memasak makanan kesukaan Ale, mereka makan besar. Ayah memuji Ale, dia hebat katanya. Kakak perempuannya dan adiknya pun sama-sama senang, terlebih lagi ibu. Aku mendengar semua percakapan mereka. Katanya, mulai Senin besok Ale sudah harus pindah ke asrama untuk menjalani pendidikan.

Ale pindah? Ale tidak akan tidur lagi di kamar ini? Tidak akan lagi mematut diri di depan cermin? Jujur saja, aku ikut senang juga sedih. Ale tidak akan bersamaku lagi. Ale akan meninggalkanku, Ale akan mendapatkan lemari baru di asrama sana. Ale akan menuliskan namanya di lemari barunya di sana, dan aku akan terlupakan. Bagaimana ini? Aku sedih, aku takut kalau Ale akan melupakanku. Tapi apa daya, aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Aku…, hanya sebuah lemari. Aku benda mati.

Maka mulai Sabtu pagi, Ale mulai mengepak semua barang-barangnya. Baju, buku, perlengkapan mandi, dan hal-hal lainnya yang diperlukan Ale selama masa pendidikan dibawanya pergi. Tidak banyak memang, namun tetap saja Ale mengeluarkan beberapa baju dari dalam lemari dan mengepaknya ke dalam tas. Aku melihatnya melakukan semua itu. Sambil bersiul senang, Ale mondar-mandir mengambil barang-barang yang diperlukan. Sesekali ia bercermin, tersenyum lebar sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Kau akan menjadi seorang tentara yang hebat. Ibu dan Ayah akan sangat bangga padamu. Siap, laksanakan!” Begitu katanya.

Tidak perlu waktu lama untuk Ale mengepak barang-barangnya. Tengah hari, Ale sudah selesai. Isi lemari memang masih banyak, namun yang apa artinya isi yang banyak jika lemari tersebut akan di tinggalkan oleh pemiliknya selama berbulan-bulan? Atau bahkan tahunan? Oh, sungguh. Aku tidak bisa membayangkannya.

Minggu pagi, Ale siap berangkat. Ibu, Ayah, Kakak, dan Adiknya mengantarnya pergi ke tempat berkumpul calon siswa militer. Dari tempat itu Ale akan berangkat bersama-sama dengan calon siswa lainnya menuju tempat pelatihan. Sebelum berangkat, Ale sempat bercermin terlebih dahulu. Mematut dirinya yang berpakaian kemeja putih polos dan celana bahan warna hitam.

Ale tampan. Tidak ada lagi orang yang dapat menandingi ketampanan Ale, bagiku.

Setelah bercermin, Ale langsung berbalik pergi. Tidak menyentuhku, bahkan satu titikpun. Aku tahu Ale sangat senang, teramat bahkan. Namun semudah itukah ia melupakan aku? Maksudku.., Ale pergi begitu saja. Menutup pintu kamarnya, dan berderap menuju gerbang depan.

Aku ditinggal sendirian. Di dalam ruangan bercat biru, yang sedetik lalu berubah menjadi begitu sepi.

.

Ale pulang satu tahun sekali. Saat pertama kali pulang ke rumah dan masuk ke dalam kamarnya, aku melihat Ale telah berubah. Badannya menjadi sangat tegap, berotot, rambutnya cepak ala tentara, bajunya loreng seperti milik ayah. Aku tidak bisa menggambarkan Ale secara detil, karena kalau aku mendeskripsikannya mungkin kau akan langsung jatuh cinta padanya.

Intinya, Ale benar-benar tampan.

Aku senang Ale menyempatkan pulang, walaupun hanya beberapa minggu saja. Itupun Ale tidak pernah diam di rumah, selalu ada kegiatan diluar rumah yang membuat Ale terkadang pulang larut malam dan langsung tertidur. Terkadang Ale pergi bersama teman-teman lamanya, dan terkadang Ale juga pergi bersama teman perempuannya.

Kurasa Ale punya pacar saat itu. Bolehkah aku merasa cemburu? Oh, ayolah. Sungguh aku adalah lemari yang tidak sadar diri.

Namun ternyata Ale bukanlah seorang laki-laki yang sempurna.

Suatu hari semuanya sedang pergi. Ale sedang liburan, dan seorang gadis datang ke rumah. Ale menyambutnya dengan senang, dan mengajaknya duduk di ruang tamu. Aku memang tidak melihatnya, namun aku mendengar percakapan mereka.

“Ale, kau punya cermin?” Tanya gadis itu.

“Ya, tentu saja. Ada di kamarku. Kau mau bercermin?”

“Ya. Kurasa tadi abang ojek yang aku tumpangi terlalu ngebut, jadi rambutku berantakan. Aku ingin merapikannya. Boleh ikut bercermin?”

“Tentu saja.”

Lalu Ale mengajaknya masuk ke kamar. Aku melihat gadis itu. Astaga, gadis itu benar-benar cantik. Sungguh cantik. Kulitnya putih, rambutnya panjang, hidungnya mancung, bibirnya tipis dipoles gincu merah yang tidak terlalu mencolok. Telinganya diberi anting-anting perak, dan… aku suka gaya berpakaian gadis itu. Sederhana, dan tentu saja Ale suka hal-hal yang sederhana.

“Ini kamarmu Ale?” Tanya gadis itu.

Ale mengangguk sambil tersenyum. “Maaf berantakan.” Ujar Ale sambil memindahkan tas koper yang tergeletak di lantai ke atas kasur.

“Kau berlebihan. Ini rapih, Ale.”

Ale hanya menanggapi dengan kekehan pelan. “Silakan bercermin, Gita.”

Oh, gadis itu bernama Gita. Manis juga, kupikir. Gadis itu mendekatiku, bercermin di depan salah satu pintuku. Melihatnya dari dekat…, sungguh apalah artinya diriku dibandingkan gadis ini? Aku mati, dan Gita jelas-jelas sosok yang hidup.

Aku lihat Ale memerhatikan gadis itu dengan seksama. Aku tahu Ale menyukai gadis itu, karena berkali-kali Ale selalu pergi dengannya dan pulang larut malam. Kalau ditanya oleh ayah atau ibu, Ale selalu menjawab pergi dengan teman. Ngopi, main game di rumah teman, dan lain-lainnya tapi tidak pernah berkata jujur bahwa ia pergi bersama Gita.

Ale…, mulai suka berbohong.

“’Sudah rapihkah Anda?’ begitu tulisannya, Ale?” Ujar Gita sambil merapikan rambutnya, melirik Ale dari cermin.

“Ya. Aku suka sesuatu yang rapih.” Ujar Ale. Aku lihat ia mendekat ke arah Gita, berdiri beberapa sentimeter di belakangnya. Perlahan Ale menyentuh rambut Gita, ikut merapikannya perlahan.

Sunyi senyap. Yang terdengar hanya helaan napas keduanya. Aku diam. Oke, aku memang selalu diam. Tapi…, Ale? Aku melihatnya dengan jelas apa yang terjadi setelah itu, dan aku yakin kalian pun tahu apa yang terjadi. Ringan, tapi berkesan.

Setelah itu keduanya meninggalkan ruangan dan Gita pamit pulang. Ale mengantarnya sampai ke depan, dan saat itu aku tidak mau mendengar apa yang mereka bicarakan. Ale sudah berubah. Ale sudah dewasa.

Malamnya Ale bercerita bahwa ia akan di kirim tugas ke Aceh, aku tidak tahu persis apa tugas yang harus dilaksanakannya karena percakapan Ale dengan ibu dan ayah hanya terdengar samar-samar. Mungkin efek dari kejadian tadi siang yang membuatku sebal pada Ale. Dewasa tidak selalu ditandai dengan hal seperti itu, bukan?

Ale berangkat hari Senin. Kedua orangtuanya mengantarkan sampai bandara. Ale akan berangkat bersama teman-teman yang lainnya, dan tidak tahu kapan pulang. Lagi-lagi aku ditinggal, dan Ale hanya sempat melihat cermin pada salah satu sisi pintuku dari jarak jauh. Tidak sempat mematut diri lebih rapi lagi, Ale langsung hilang dibalik pintu kamar.

Dan itu adalah kali terakhir aku melihat Ale. Untuk selamanya.

.

Ale meninggal dunia, beberapa bulan kemudian. Akibat kecelakaan jatuh dari salah satu tank pada saat latihan. Kabar tersebut langsung sampai ke telinga ayah dan ibu, juga kakak dan adik Ale. Berita mengejutkan itu sontak membuat ayah dan ibu shock berat, bahkan Ibu sampai pingsan berkali-kali.

Jenazah Ale diterbangkan ke rumah duka setelah selesai di urus di sana, dan di bungkus peti mati. Tangis histeris ibu dan isakan pelan dari ayah serta kakak dan adiknya mengiringi masuknya peti mati Ale ke ruang tamu. Ibu memohon untuk membuka peti tersebut, namun sudah menjadi peraturan bahwa peti mati tersebut tidak boleh dibuka. Ibu terduduk di samping peti mati Ale, bersama ayah berkali-kali menyeka air mata dengan tisu. Entah sudah berapa banyak lembaran tisu yang basah karena air mata. Kakak dan adiknya berdiri agak jauh dari peti mati, menatap nanar kepergian Ale.

Pemakaman Ale dilangsungkan esoknya. Aku tidak tahu seperti apa prosesi pemakamannya, namun aku tahu bahwa begitu berat rasanya ibu, ayah, kakak, dan adik Ale melepas kepergian Ale untuk ditimbun dibawah tanah. Hari Senin itu, adalah hari terakhir mereka melihat Ale. Mencium tangan ayah dan ibu, memeluk kakak serta adiknya dengan sayang, tersenyum lebar melambaikan tangan. Dan hari terakhir Ale bercermin, dari jarak jauh.

Pemilikku kini benar-benar pergi. Untuk selamanya, tidak akan pernah kembali lagi. Beberapa teman lama Ale datang ke rumah, termasuk Gita. Mengucap turut berbela sungkawa atas kepergian Ale yang begitu mendadak. Mereka masuk ke kamar Ale, melihat sekeliling. Menghela napas panjang, menghirup aroma parfum yang biasa Ale gunakan. Mengenang, seolah berharap dengan mencium wangi parfumnya mereka bisa merasakan Ale disini. Gita berjalan ke depan cermin, menatap nanar pantulan dirinya dan menghela napas panjang. Mengelus rambutnya dengan pelan, kemudian terisak.

Melihat Gita, aku jadi tahu betapa berharganya Ale baginya. Juga betapa berharganya Ale bagiku. Walaupun posisiku digantikan oleh gadis ini, namun aku tahu bahwa Ale masih menyayangiku. Ia masih sering menaruh pewangi pakaian ke dalam lemari, mematut diri sambil bersiul sehabis mandi. Kenangan-kenangan itu, sungguh berharga. Kalau Ale pergi, kini siapa yang akan mematut diri di depanku? Siapa yang akan berkata, ‘Kau akan menjadi kebanggaan ayah dan ibu.’? Kakak? Adik? Mereka sudah berkeluarga dan tidak tinggal di rumah ini lagi.

Jika dulu ruangan ini sepi karena Ale pergi menjalani pendidikan, kini ruangan ini benar-benar sepi karena Ale benar-benar pergi. Tidak akan pernah kembali lagi. Beberapa minggu setelah kepergian Ale, ibu dan ayah masih sering masuk ke ruangan ini untuk sekedar duduk di atas tempat tidur Ale. Aku tahu mereka sedang mengenang, sama seperti yang dilakukan teman-teman Ale. Namun aku bisa merasakan bahwa mereka memikul kenangan yang teramat berat. Kenangan terindah, juga paling menyakitkan. Ibu dan ayah sudah renta sekarang, mereka bahkan sudah mempunyai cucu. Umur mereka menua dari hari ke hari, rambut mereka kian memutih, tenaga mereka sudah tidak sekuat dulu.

Ibu dan ayah kini tinggal berdua. Dan aku tinggal sendiri.

.

Aku lapuk. Baju-baju Ale dikeluarkan dan di simpan di tempat lain. Aku tidak tahu dimana ibu menyimpan baju-baju itu, namun yang pasti baju loreng milik Ale di pakai ayah. Rupanya ayah adalah sosok yang suka mengenang, dan ibu adalah sosok yang lebih kuat. Aku bersyukur mereka bangkit kembali, bukankah tidak baik tenggelam berlama-lama di dalam kesedihan?

Kakak dan adik sepakat untuk mengambil album yang berisi foto-foto Ale dan menyimpannya jauh-jauh dari Ibu dan Ayah. Mereka tahu bahwa Ibu masih suka menangis kalau melihat album foto tersebut. Album foto itu mengkristalkan banyak kenangan, sampai akhirnya ibu mendapati foto Gita disana. Dan akhirnya ibu tahu bahwa Ale berpacaran dengan Gita, namun Ale berbohong atas itu. Suatu malam ibu terisak, karena mengetahui bahwa Ale sudah berani berbohong padanya.

.

Kamar Ale sudah berubah fungsi. Bertahun-tahun Ale pergi, segalanya berubah. Ibu dan ayah semakin renta, bahkan ayah sudah sering sakit dan sulit untuk berjalan. Ibu sudah semakin keriput, sering kelelahan mengurus rumah sendirian karena ayah sulit untuk melakukan segala hal. Kakak memindahkan buku-buku dari rumahnya ke rumah ibu, menyimpannya dalam kardus besar di kamar Ale. Aku masih ada di sana, berdiri di samping lemari ibu, bersama dengan beberapa lemari lainnya.

Aku sudah kosong. Tidak ada lagi baju Ale di dalamnya, benar-benar kosong. Beberapa bagian dalam dariku patah, dan tidak di perbaiki karena tidak ada yang bisa memperbaikiku. Ibu sibuk, setiap hari mengurusi ini itu dan sudah sejak lama sekali ibu tidak menengokku. Kalau ibu mengambil baju dari lemari miliknya, itupun hanya sekedar itu. Tidak lebih. Bahkan sebelah pintuku sudah tidak bisa tertutup dengan benar. Sedikit terbuka, dan posisinya miring.

Aku bersyukur ibu dan ayah tidak membuangku. Mungkin inilah kenangan satu-satunya dari Ale untuk mereka. Tidak ada hal lain lagi, mungkin baju loreng yang selalu ayah pakai kemana-mana. Kalau aku bisa menjelma menjadi manusia, aku akan berlari memeluk mereka berdua. Mengatakan kepada mereka bahwa Ale akan selalu hadir dalam diriku, jiwa Ale akan selalu hidup walaupun raganya mati. Namun pada kenyataannya aku hanyalah benda mati, yang kau pun tahu setiap hal yang mati tidak akan pernah merasakan apapun.

.

Dua tahun yang lalu, Ayah meninggal dunia. Ibu kambali shock berat, bahkan lebih parah daripada waktu ibu kehilangan Ale. Keluarga kakak dan adik dilanda kesedihan tiada terperi. Air mata mengalir bak sungai, jatuh ke tanah pekuburan yang telah ditaburi bunga. Waktu itu, ibu hidup sendirian. Kadang duduk termenung di kursi yang selalu diduduki ayah, minum menggunakan cangkir yang biasa ayah pakai, mencium baju loreng ayah. Keluarga kakak dan adik sering berkunjung, menengok keadaan ibu dan memastikan bahwa ibu tetap sehat.

Rumah semakin sepi. Ayah yang biasanya menonton TV dengan volume keras kini telah pergi. Ibu jarang menonton TV, ia lebih sering menghabiskan waktunya untuk melakukan kegiatan. Masak, ataupun hanya duduk melamun sambil makan roti tawar bakar. Aku semakin rusak, semakin lapuk, semakin banyak bagian yang patah. Ibu tidak pernah menengokku lagi. Semenjak kepergian Ale dan disusul dengan kepergian ayah, Ibu menjadi sosok yang lebih pendiam. Tentu saja, lagipula dengan siapa ibu akan berbicara? Ibu sendirian, dan aku makin sendirian.

Kalau jatuh sakit, Ibu mengobati dirinya sendiri. Terkadang ada cucunya yang sudah dewasa datang berkunjung, membawakan ibu makanan, buah-buahan, juga obat. Mengajak ibu mengobrol banyak hal, makan bersama, dan terkadang menginap. Keluarga kakak dan adik berusaha sebisa mungkin memberikan perhatian terbaiknya untuk ibu. Lemari ibu masih berada di sebelahku, masih terlihat kuat namun sudah sedikit usang penampilannya. Setidaknya lebih baik daripada penampilanku yang…, sudahlah tidak perlu kau bayangkan.

Baju-baju ayah masih tersimpan di dalam lemari, namun di pisahkan dari baju-baju ibu. Ibu pun sudah tidak terlalu sering masuk ke kamar Ale untuk mengambil baju dari dalam lemari. Setelah cucian datang dari tetangga, ibu biasa menyimpannya di salah satu meja di ruang keluarga. Ibu sudah jarang menyimpan baju miliknya di dalam lemari, karena kini kamar Ale terlihat sangat berdebu. Kepergian Ale dan ayah membuat ibu seperti ditusuk belati tiada henti. Aku tidak sanggup menghitung berapa liter air mata ibu yang terbuang karena ini, tapi akupun tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa diam mematung, menyaksikan semua orang pergi satu per satu.

.

Sekarang, aku benar-benar sendirian.

Rumah ini benar-benar kosong. Kamar Ale sudah tidak pernah dibuka kembali. Semua barang di dalam ruangan ini berdebu. Laba-laba kecil membuat sarang dimana-mana, termasuk di dalam tubuhku. Sudah tidak ada lagi orang di rumah ini.

Semuanya pergi.

Ale, Ayah, dan Ibu.

Ibu pergi setengah tahun setelah Ayah. Sakit yang di derita ibu membuatnya menghembuskan napas terakhirnya pada hari Senin. Hari dimana Ale dan Ayah juga pergi meninggalkan dunia ini. Semua orang kembali terpukul. Keluarga kakak dan adik menyiapkan pemakaman sambil berlinang air mata. Lembaran tisu kembali terbuang, entahlah aku sudah tidak bisa menghitungnya lagi.

Kini aku mengerti bahwa tiap-tiap yang hidup akan mati. Yang bernapas akan berhenti, yang luwes akan menjadi kaku. Yang ramai akan menjadi sepi, yang satu akan menjadi nol.

Ruangan ini masih sama. Barang-barangnya belum berkurang satupun. Keluarga kakak dan adik masih terlalu sibuk untuk mengurusi diri mereka masing-masing yang dirundung kesedihan. Apalagi kakak dan adik, terpukul berkali-kali karena kehilangan saudara juga kedua orang tua…, sungguh kalau aku jadi manusia aku tak bisa lagi mendeskripsikan sesakit apa rasanya itu. Bahkan aku tahu, menjadi sebuah lemari paling usang di rumah inipun bisa merasakan sunyinya hari. Hanya terdengar suara tikus yang sibuk mencari makan di siang dan malam hari, gerakan delapan kaki laba-laba yang merayap mondar-mandir kesana kemari membuat sarang, burung-burung yang terkadang hinggap di atas genting dan mematuk-matuk yang entah apa.

Hanya itu.

Hanya itu yang hadir dalam hari-hariku setelah semuanya pergi. Entah akan diapakan aku dan semua barang-barang berdebu ini. Dibuang? Tetap di simpan? Aku sudah sangat lapuk. Tubuhku sudah banyak yang hancur karena rayap, pun dengan benda-benda lainnya yang terbuat dari kayu. Baju-baju ibu yang tersimpan di dalam lemari di sebelahku pun pasti sudah tak lagi sedap baunya. Pengharum baju yang biasa ibu simpan sudah habis dari kapan tahun, dan mungkin nyonya laba-laba yang besar sudah berencana membuat sarang di antara tumpukan baju-baju itu. Mungkin juga tikus-tikus itu sudah kehabisan makanan dan berniat untuk menggerogoti baju-baju yang masih tertumpuk rapi di dalam lemari.

Aku sadar, hal lain yang mengkristalkan kenangan selain foto adalah baju. Dan…, mungkin benda-benda lain yang sering digunakan oleh sang pemilik ketika hidup. Seringkali aku menangkap kalimat bahwa ketika kau menyentuh suatu barang tertentu, maka seketika ingatanmu akan dibawa lari ke masa lalu. Menelusuri labirin gelap, hingga akhirnya kau bisa merasakan bahwa mereka hadir. Walau tidak nyata, namun hangatnya menjalari hati. Bernostalgia, merasakan kehangatan kenangan yang manis dan penuh tawa. Namun ketika membuka mata, kau terlempar keluar dari masa lalu dan berdiri di atas kenyataan bahwa yang kau kenang sudah pergi.

Aku bersyukur, keluarga ini senang menimbun kenangan. Bahkan setelah berpuluh tahun Ale pergi, aku masih diam di ruangan ini. Tidak berpindah posisi sedikitpun. Namun sepertinya menimbun kenangan terlalu banyak juga tidak baik. Lagipula pemilik semua barang di ruangan ini, di rumah ini sudah tidak akan kembali. Bahkan jika aku berharap sampai benar-benar rusak menjadi butir-butir tidak berarti sekalipun.

Kini aku pasrah, apapun yang akan keluarga kakak dan adik lakukan padaku dan semua barang di rumah ini…., aku tidak peduli. Apakah aku akan dibuang, diperbaiki kembali, atau di perlakukan seperti apa…, terserah. Yang aku tahu, aku beruntung masuk ke dalam rumah ini. Menjadi bagian dari keluarga ini, yang selalu bisa menghargai kenangan sesakit apapun itu.

Namun berbulan berlalu, kurasa tidak baik jika terus duduk di pojok memori masa lalu. Hidup harus terus berjalan untuk mereka yang bernapas, bukan? Aku tahu cepat atau lambat, aku akan keluar dari ruangan ini. Entah akan berakhir di mana, biarkan saja.

.

Pagi ini ku dengar ada suara langkah kaki yang masuk ke rumah. Dari suaranya, aku kenal. Itu keluarga kakak dan adik. Mereka datang, membuka pintu, terbatuk-batuk karena disergap debu yang begitu tebal dari dalam rumah.

Oh, gagang pintu kamar Ale bergerak perlahan. Seseorang hendak membukanya. Aku mendapati cucu perempuan ibu yang paling tua membuka pintu. Ia berkerudung, memakai masker untuk menghindari debu. Aku tahu, dia pengidap ashma.

Ia melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut. Menyentuh salah satu lemari pendek di dekat tempat tidur, mengukur seberapa tebal debu yang tertumpuk di sana. Kemudian ia melihatku, matanya menelusuri aku dari atas ke bawah. Menyentuhkan jarinya pada cerminku, dan melihat pantulan dirinya di sana. Ia kemudian melirik lemari ibu.

“Tara, kau dimana?” Suara seorang laki-laki memanggil nama cucu ibu yang paling tua. Tara namanya.

Itu Mathe, cucu ibu yang kedua.

“Mathe..,” Tara memanggil adiknya, sedetik kemudian lelaki itu masuk ke ruangan dan menghampiri Tara.

“Ada apa?”

Tara menoleh, matanya sedikit berkaca-kaca. “Kurasa kita harus mulai membersihkan semua kenangan…, dari sini.”

Mathe melirik ke arah lemari neneknya yang sedikit terbuka, lalu mengangguk pelan.

 

FIN.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s