LET GO

OtherDandelion1

LET GO
By: susanokw

“I know in my heart, you’re just a moving car.”

Baru-baru ini aku mengerti tentang suatu hal. Semakin dewasa, semakin kau bertemu dengan banyak orang maka pikiranmu akan lebih terbuka terhadap banyak hal. Tentang caranya memahami pemikiran dan tingkah laku orang lain, menerima mereka dengan apapun keadaan mereka, berusaha untuk menyesuaikan tuntutan dari dalam diri terhadap orang-orang yang kau temui, juga belajar untuk melepaskan.

Aku baru saja patah hati. Ini bukan pertama kalinya aku patah hati, tapi kurasa dari sekian banyak kejadian patah-hidup-hidup yang pernah kualami, ini yang paling menyakitkan. Entah kenapa, mungkin karena aku terlalu bodoh untuk semudah itu percaya kepada orang lain. Memercayai mereka bahwa mereka akan menjaga perasaanku, menggenggamnya, menjamin 100% aman.

Aku pernah membaca salah satu kutipan. Salah satu sifat alami manusia adalah menyakiti. Dulu aku tidak percaya itu, tapi sekarang…, kurasa aku mulai bisa berkata bahwa kutipan itu ada benarnya. Baik laki-laki ataupun perempuan, keduanya sama. Tidak perlu berpandangan bahwa lelaki lebih banyak menyakiti ketimbang wanita, kutegaskan bahwa kini wanita tak kalah kuat untuk menyakiti.

Oh, ya. Kembali lagi. Aku baru saja patah hati. Pada seorang lelaki yang sudah lama kusukai. Mengapa aku patah hati? Karena lelaki itu nyatanya tidak menyukaiku, dan ternyata sudah sejak lama pula ia menemukan tempatnya untuk pulang. Seseorang yang aku kenal baik, dan ia pun mengenalku dengan sangat.

Sejujurnya aku kecewa. Sedih teramat sangat. Hal yang selama ini aku idam-idamkan ternyata tidak kesampaian, dan secara paksa harus ku lepaskan ke langit luas. Sungguh, betapa manusia tidak bisa berandai-andai. Aku ingin marah, tetapi aku tidak tahu harus memarahi siapa. Lelaki itu? Tidak mungkin. Apa yang menjadi alasan terkuatku untuk memarahinya? Menyalahkannya karena ia tidak pernah melihatku selama ini? Astaga, aku harus sadar diri bahwa pada kenyataannya aku tidak pernah berani untuk muncul dihadapannya, memintanya untuk melihatku walau hanya sekali. Atau menyalahkan perempuan itu? Itu hal yang sangat tidak mungkin karena…, aku mengenalnya dengan sangat baik dan aku yakin jauh sebelum aku menyukai lelaki itu, mereka sudah sangat dekat satu sama lain.

Lalu aku mau menyalahkan diri sendiri? Oh tidak, ibuku tidak pernah mengajarkanku untuk memaki diri sendiri. Itu tidak sehat untuk perkembanganku secara psikologis.

Pada akhirnya aku hanya diam. Merenung atas semua kejadian ini, memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa bangkit secepat mungkin. Mencari pelampiasan? Ide yang bagus tapi yang kupikirkan pertama kali adalah bagaimana caranya agar aku, bisa sepenuhnya rela melepaskan lelaki itu. Lelaki itu tidak sempurna, tapi aku suka. Ia bisa membuatku berpikir bahwa ketika aku ingin mendapatkan hal yang baik maka aku harus menjadi baik. Aku melihatnya mendapatkan cinta setiap hari, dari setiap orang yang ia sapa, dari setiap senyuman yang ia tebar. Dan…, aku ingin menjadi sepertinya. Aku ingin menjadi lebih baik dari diriku yang sekarang. Aku ingin menjadi aku yang baru. Demi dia.

Salah seorang teman pernah menyebutku gila. Aku berubah gila karena lelaki itu, katanya. Alasanku untuk datang ke kampus adalah lelaki itu. Alasanku untuk belajar lebih rajin adalah lelaki itu. Mengenalnya tanpa sadar membuatku ingin melakukan segala hal yang terbaik agar ia menjadi bangga padaku. Temanku menyebutku berubah gila karena aku melakukan semua itu untuknya, bukan untuk diriku sendiri. Tapi aku tidak peduli. Apapun, asal untuknya, aku rela.

Tapi ternyata dunia tidak berjalan sesuai dengan pengorbanan yang aku lakukan. Aku berkorban untuknya, namun dia berkorban untuk orang lain. Sesuatu hal yang jelas-jelas bertentangan, jelas-jelas bertolak belakang. Aku lelah untuknya, ia lelah untuk orang lain. Dia rumah untukku, namun aku hanya sebuah halte perhentian untuknya. Dia nomor satuku, aku entah nomor berapanya. Hingga aku sadar, bahwa kebaikannya padaku, sikap manisnya padaku, sikap pedulinya padaku…, adalah sikap yang ia berikan juga pada semua orang.

Ya. Dia memang seperti itu.

Maka izinkan aku untuk menyalahkan diriku sendiri satu kali ini saja.

Bodoh.

Terkadang aku berubah menjadi seseorang yang tidak sabaran. Ingin segalanya serba cepat, dengan hasil yang baik. Ini berlaku juga dalam urusan patah hatiku kali ini. Setelah tahu bahwa ia punya rumahnya sendiri, otomatis aku harus berhenti menyukainya. Sesakit apapun aku sekarang, aku harus belajar melepaskannya untuk pulang dengan tenang. Bukankah ia telah mengajariku untuk menjadi diriku versi lebih baik dari yang sebelumnya? Melepaskan dengan lapang dada adalah sebuah kebaikan, kurasa.

Lebih baik melepaskan dengan lembut, daripada bertahan dengan kuat tapi kau harus mengiris hatimu sendiri dengan silet paling tajam sedunia.

Dan itu yang aku pilih. Malam minggu kemarin, aku mengajaknya untuk bertemu. Sebuah pertemuan terakhir yang walaupun sangat menyakitkan, tapi harus kulakukan agar rasa sakitnya berhenti sampai disini. Aku…., ingin perlahan meninggalkan kenangan seiring perjalanan.

“Maaf aku mengajakmu bertemu selarut ini.” Ujarku padanya saat kami duduk berdua disebuah bangku taman. Normalnya, orang akan menganggap tindakanku ini kelewat batas. Mengajak kekasih orang bertemu pada jam 10 malam, di malam minggu, setelah ia kencan dengan pacarnya. Tapi biarlah. Biar mereka sibuk dengan pikiran dan dugaannya masing-masing. Karena mereka tidak akan pernah mengerti rasanya menjadi aku.

Ia tersenyum sambil membuka minuman soda kesukaannya. Sengaja ku belikan agar membuat percakapan malam ini terasa lebih santai. “Tidak apa-apa.” Ujarnya, kemudian menyeruput minumannya. “Lagipula rasanya sudah lama tidak mengobrol denganmu.”

Sudah lama tidak mengobrol denganku, katanya. Apa maksudnya ini? Ia suka mengobrol denganku? Percuma, lagipula aku sudah akan mengakihirinya.

“Maaf tidak sering menyapa karena kulihat kau sibuk sekali. Aku takut mengganggu.” Ini awal yang baik, teruskan.

“Kau sama sekali tidak pernah mengganggu, Layla.” Ujarnya sambil terus tersenyum ke arahku. “Jadi…, ada apa?”

Aku menarik napas panjang sejenak, mengumpulkan kekuatan untuk mengungkapkan sekaligus mengakhirinya malam itu.

“Aku tidak tahu ini sopan atau tidak, karena kurasa tindakanku malam ini juga sudah terbilang tidak sopan. Mengajak pacar orang untuk bertemu setelah kencan…, that’s sounds annoying. Tapi aku ingin mengungkapkan sesuatu kepadamu.”

Ia diam, membetulkan posisi duduknya, sedikit menyerong ke arahku.

“Aku….,” aku menarik napas panjang satu kali. “…menyukaimu.”

Hening.

Kenapa hening? Bukankah seharusnya ada bom atom meledak disuatu tempat? Di hatiku?

“Aku menyukaimu, Rai. Sudah sejak lama.” Akhirnya kuungkapkan juga. Tidak terdengar buruk, kan?

Aku menyadari perubahan sikapnya saat itu. Ia sedikit tertegun, matanya terbuka sedikit lebih lebar dan napasnya tercekat sepersekian detik. Namun ia tidak menunjukkan keterkejutannya secara gamblang, seperti biasa ia tetap tenang. Salah satu yang kusuka. Ia hangat dan tenang.

“Layla, kau….,”

Aku mengangguk. Seolah tahu apa yang akan dikatakannya. “Aku tahu aku salah, Rai. Maafkan aku karena mengatakan ini setelah kau punya seorang kekasih. Tapi kalau tidak kukatakan, rasanya akan jauh lebih menyakitkan. Lebih baik kau tahu dan aku tahu bahwa kau tidak bisa, daripada menelannya sendirian. Aku harap kau tidak merasa berbeda setelah aku mengatakan ini, karena tujuanku adalah agar kau mengetahuinya saja. Tidak kurang, tidak lebih.” Aku menjelaskannya dengan cepat, karena aku tidak mau percakapan ini berlangsung bertele-tele. Terlebih lagi, aku tidak mau menangis dihadapannya.

Kami diam. Rai hanya menatapku dengan tatapan teduhnya seperti biasa, dan aku… melihat ke arah lain, berusaha menghindari tatapannya. Kalau aku berani menatapnya saat itu, kupastikan proses melepaskannya pulang ke rumah akan jauh lebih sulit.

Lima menit penuh hanya di isi oleh hembusan angin malam dan suara napas kami berdua.

“Layla, terima kasih.” Rai berkata tiba-tiba.

Aku diam saja. Menunggu apa yang akan ia katakan selanjutnya.

“Terima kasih telah menyukaiku selama ini. Sejujurnya aku terkejut dengan penyataanmu tadi, dan…, aku juga bingung harus berbuat apa. Kalau begini rasanya aku dihadapkan pada dua pilihan. Memilihnya, atau memilihmu.” Katanya.

Memilihnya atau memiliku? Sekarang? Dia sedang gila waktu itu. Percayalah.

“Kau tidak dihadapkan pada dua pilihan, Rai. Kau sudah memilih. Dan aku bukanlah yang kau pilih. Kau sudah memilih sejak lama, dan aku tidak bisa memintamu untuk kembali memilih.”

Dia tersenyum. Oh Tuhan, mengapa kau pertemukan aku dengan seseorang yang senang tersenyum bahkan dalam keadaan paling menyakitkan sekalipun?

“Kau benar. Aku sudah memilih. Maafkan aku karena tidak memilihmu karena kau…”

“Tidak apa-apa. Lagipula aku tidak pernah memintamu untuk memilihku, dan… aku senang bahwa kau memilih orang yang benar.” Tidak perlu menantinya untuk menyelesaikan kalimat, aku tahu bahwa dia akan bilang bahwa aku tidak pernah menunjukkan diri dihadapannya sehingga ia tidak bisa melihatku. Aku selalu berdiri di tempat yang gelap, melihatnya yang berdiri di bawah sinar lampu. Aku selalu berjalan di sebelah kiri, sedangkan perempuan pilihannya berada di lajur kanan.

Kau mengerti? Lajur kanan selalu dipakai untuk mendahului, bukan?

“Walaupun begitu kita akan selalu jadi teman baik, Layla. Kau tidak perlu sungkan untuk….”

Aku mengangguk. “Ya, Rai. Aku mengerti. Aku tidak perlu sungkan untuk meminta bantuan, tidak perlu canggung untuk menyapa, tidak perlu merasa bersalah jika nanti kita mengobrol panjang lebar lagi. Tapi…,”

“Tapi?”

Aku menghela napas. “…tapi, biarkan semuanya terjadi apa adanya, Rai. Kau tahu sendiri, setelah percakapan ini berakhir artinya aku harus mulai melepaskanmu perlahan-lahan. Dan kurasa itu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Memori manusia tidak seperti memori komputer yang bisa kau reset semaunya, berbagai kejadian sudah mengkristal menjadi kenangan. Akan menjadi sebuah beban yang teramat berat bagi seseorang yang sedang belajar memahami sebuah pemahaman bahwa kau harus merelakan seseorang pulang ke rumahnya, pergi berlawanan arah denganmu, memunggungimu sampai hilang di depan sana.”

Rai terdiam. Ia mendengakan dengan seksama.

Aku mengalihkan pandangan, memberanikan diri menangkap matanya dan dalam hati aku berjanji untuk sekuat tenaga merelakannya setelah malam ini. “Terima kasih telah membuat pilihan, Rai. Aku selalu berharap kau menapaki jalan yang benar, yang membawamu menjemput kebahagiaan. Terima kasih telah mengajarkanku untuk hidup dengan cara yang berbeda. Terima kasih telah membuatku ingin menjadi diriku sendiri dengan versi yang lebih baik daripada sebelumnya.” Ujarku padanya, dengan nada suara setenang mungkin. Jujur, aku sedang menahan tangis waktu itu. Tapi untungnya angin malam terus berhembus dan membuat air mataku yang hampir tergenang kembali kering.

“Layla.., tidakkah kau berpikir tindakanmu itu berlebihan? Kau tidak perlu…”

“Rai, dengarkan aku. Mungkin kau berpikir aku berlebihan, dan jujur saja saat ini aku sedang merasa begitu bodoh berbicara panjang lebar di hadapanmu. Tapi…, Rai, inilah satu-satunya hal yang bisa aku lakukan. Aku tidak mau berlarut-larut menyukai orang yang tidak menyukaiku, aku tidak mau bertahan menjadi pilihan yang tidak mungkin terpilih. Kau hanya tinggal melakukannya seperti biasa, Rai. Urusan setelah malam ini apa yang akan terjadi, apa yang akan aku rasakan…, biarkan aku yang menanggungnya.”

Lelaki di hadapanku hanya menghela napas panjang. Tatapannya berubah nanar, dan aku tidak mau membaca apa arti dari tatapannya itu. Sedih? Terharu? Kasihan? Sungguh, aku tidak mau tahu.

Kata orang, kebahagiaan seperti kupu-kupu. Yang semakin dikejar, semakin jauh. Tugas manusia bukan mengejar kebahagiaan, namun menciptakannya. Yang sedang aku lakukan ini adalah berhenti mengejar kupu-kupu, dan aku tahu berhentinya langkahku untuk mengejar makhluk bersayap indah itu merupakan caraku untuk menciptakan kebahagiaan. Walau sedikit demi sedikit. Walau diiringi dengan rasa sakit.

Jadi malam itu aku benar-benar memutuskan untuk melepasnya pergi. Sulit memang, merelakan semua perasaan cintamu untuk menguap ke udara. Seperti awalnya kau terluka, lalu ada seseorang yang menjadi obat terbaiknya. Namun pada akhirnya kau harus merelakan orang tersebut untuk mengobati orang lain pula, yang ternyata lukanya lebih parah sehingga ia harus selalu setia menemani orang itu. Sedih memang, ketika kau telah berusaha untuk menjadi pilihan namun pada akhirnya kau tidak dipilih sama sekali. Namun lebih sakit lagi ketika kau tetap bertahan pada pilihan tersebut, seolah tidak ada jalan keluar lagi.

Yang aku percaya, hidup selalu punya alternatif. Sesulit apapun itu, pasti bisa bekerja asalkan mau berusaha. Ini usahaku untuk melepasnya, supaya di hari-hari berikutnya ia bisa pulang ke rumahnya dengan tenang. Tanpa harus dibayang-bayangi oleh seorang penguntit yang berusaha menariknya untuk pulang ke rumah yang berbeda.

Dan percakapan kami berakhir pukul setengah dua belas malam. Udara semakin dingin, taman semakin sepi. Tidak baik menahan kekasih orang di luar rumah berlama-lama, lagipula kulihat ponsel Rai sudah mulai berkedip-kedip sejak setengah jam yang lalu. Kekasihnya khawatir karena Rai tidak membalas pesan, maupun mengangkat telepon.

Akhirnya kami pulang, menapaki jalan masing-masing. Aku bersyukur Rai adalah orang yang tidak akan memaksakan kehendak. Baik dirinya maupun orang lain. Ketika aku memintanya untuk membiarkan semua ini mengalir apa adanya, ia akan menurutinya. Aku harap Rai akan segera mengerti betul bagaimana rasanya melepaskan, bagaimana rasanya memaafkan sebuah perasaan yang salah, bagaimana rasanya meninggalkan kristal-kristal berharganya seiring dengan perjalanan.

Sudah hampir seminggu, aku berjalan tanpa kehadiran Rai. Aku melihatnya di kampus, masih sama seperti Rai yang aku kenal. Tersenyum, menyapa semua orang. Seolah-olah menjadi kotak obat keliling, menyembuhkan semua luka, memberikan kenyamanan pada setiap orang. Ia bagai mobil yang selalu bergerak, bagai bintang yang selalu berputar. Ia memang melakukan semua hal yang baik pada setiap orang, namun jalan pulangnya hanya satu.

Ia sudah punya rumahnya sendiri. Rumahnya yang bukan aku.

Dan aku sedang berjalan, sambil meninggalkan satu per satu kenangan kami.

Kenangan aku dan Rai.

 

FIN.

2 responses to “LET GO

  1. Gw tebak, ini kisahnya author ya? :v
    Soalnya gaada unsur korea koreanya gitu :v
    *maap kalo menyinggung :”*
    /sungkem//

    • Bukan. Ini bukan kisah saya. Saya terinspirasi dari seorang teman, hehe.
      Belakangan ini saya tidak menulis cerita berunsur Korea, karena belum menemukan karakter yang cocok untuk dijadikan tokoh. Mungkin lain kali kalau sudah ada, saya akan mencoba menulisnya.
      Tidak apa-apa, tidak menyinggung kok. Terima kasih sudah membaca:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s