The Destiny – Chapter 2

poster ff sekar

By Sparkdey

The Destiny – Chapter 2

Min Yoongi BTS || Park Sera (OC) || Kim Taehyung BTS

PG + 17

AU || Fluff || Romance || Friendship

Prologue || Chapter 1 ||

Desclaimer : Member BTS adalah milik Tuhan YME, Orang Tua mereka, dan juga Big Hit Entertainment. Sedangkan OC dan alur cerita adalah pure milik author. Tolong jangan ada plagiator! Jika kalian menemukan alur cerita yang persis sama dengan punya author, tolong beritahu author ya~

Note : FF ini merupakan FF requestan dari Sekarlaras Dias, teman ARMY. Tolong di baca dan berikan apresiasi kalian ya berupa komentar atau like nya hehe.

Happy Reading!~

Cerita sebelumnya…

“Ah kau kenal dengan yeoja yang kemarin bertemu dengan kita di mini market semalam?” tanyaku.

“Ah Sera?” Tanya Jungkook.

“Aku tidak tahu namanya, bodoh” jawabku.

“Namanya Sera, Park Sera” jelas Jungkook.

“Waeyo? Kau menyukainya hyung?” lanjut Jungkook sambil menyenggol lenganku.

“Ani. Dia terlihat seperti orang yang ceroboh. Tempo hari dia menabrakku” kataku.

Aku kembali memandangi langit yang indah ini. Matahari sudah mulai meninggi dan tempatku sekarang sudah tidak begitu teduh. Aku bangun dari posisiku. Lalu mengambil tasku.

“Hyung! Kau mau kemana?” teriak Jungkook.

“Kelas” jawabku singkat.

“Tunggu aku hyung!” teriak Jungkook lagi.

Aku berjalan menuruni tangga dengan terburu – buru karena bel pelajaran selanjutnya sudah berbunyi. Aku berlari menuju kelasku. Jungkook sudah berpisah denganku. Aku terus berlari hingga aku tidak sadar aku menabrak seorang yeoja.

“YA! Kau bisa lihat tidak huh?!” teriakku memakinya.

“Kau yang salah bodoh!” balasnya.

“Yaish dasar yeoja! Minggir! Aku sudah terlambat!” kataku tanpa membantunya berdiri.

“YA! Namja brengsek!” teriak yeoja itu.

‘Uh tunggu… aku seperti mengenal yeoja itu…’ batinku.

-Taehyung POV-

‘Uh tunggu… aku seperti mengenal yeoja itu…’ batinku.

“YA! Chakkaman… mianhae Hana-ya, aku sedang terburu – buru sehingga aku menabrakmu” jelasku sambil menghampirinya.

“Pabo!” teriak Hana kesal.

“YA! Jangan adukan hal ini pada Jin hyung!” pintaku.

“Aku bukan anak kecil yang masih suka mengadu pada kakaknya!” ketus Hana.

‘Sial! Kalau saja Hana bukan adik Jin hyung, aku tidak akan meminta maaf padanya!’ batinku.

Aku berjalan masuk ke kelasku. Di dalam kelas sudah ada Jung seongsanim. Aku hendak berjalan menuju tempat dudukku.

“Kim Taehyung!” panggil Jung seongsanim dengan nada yang meninggi.

“Ne?” kataku santai.

“Kau sudah terlambat 5 menit! Cepat keluar dari kelasku sekarang juga! Berdiri di depan hingga pelajaranku selesai!” perintah Jung seongsanim.

“Okay” jawabku singkat.

Aku membuka pintu kelasku dan berdiri di depan kelas. Aku memakai headset dan menyalakan music untuk menghilangkan rasa bosanku. Cukup lama aku berdiri di depan kelas akhirnya aku pergi ke kantin dan meninggalkan hukumanku.

Aku duduk di meja tempat biasa diriku bersama teman – temanku duduk. Di depanku sudah tersedia susu dingin kesukaanku. Aku meminumnya seteguk lalu menaruh gelasnya kembali di atas meja.

“Kau di hukum lagi?” Tanya seseorang yang baru saja datang dan duduk di hadapanku.

“Menurutmu?” tanyaku.

“Dugaanku pasti benar. Dan kau kabur ke kantin?” tanyanya.

“Seperti yang kau lihat” jawabku.

“Apa kau tidak bosan memasuki ruang guru?” tanyanya lagi.

“Tidak. Itu menyenangkan menurutku” jawabku sambil memainkan ponselku dan mematikan music yang sedang aku dengarkan.

“Mau sampai kapan kau akan terus seperti ini?” Tanya dia lagi.

“Namjoon hyung, dengar, ini hidupku, aku berhak melakukan apapun semauku. Kau tidak memiliki hak untuk itu. Arra?” kataku kesal.

“Arraseo arraseo, aku hanya menggodamu saja, Tae” kata Namjoon hyung.

“Lalu mengapa kau di sini? Bukankah kau ada kelas hyung?” tanyaku.

“Aku bosan” jawab Namjoon hyung.

“Apa bedanya kau dengan diriku?” tanyaku.

“Bedanya? Hmm… aku lebih pintar darimu!” jawab Namjoon hyung di selingi dengan tawanya.

“Terserah kau saja” kataku malas.

Aku kembali meneguk susu di depanku ini. Lalu memainkan ponselku lagi. Mengecek media sosialku dan membalas semua chat yang dikirimkan padaku.

“Taehyung-ah” panggil Namjoon hyung.

“Hmm” gumamku.

“Kau ingin bergabung denganku tidak?” tanyanya.

“Mwo? Bergabung? Apa maksudmu?” tanyaku heran.

“Bergabunglah di team balapku” pinta Namjoon hyung.

“Wow wow hyung! Kau gila eoh?” kataku tidak percaya.

“Hey, tenang saja! Walaupun ini balap liar, kita akan mendapatkan keuntungan yang besar jika kita menang!” Namjoon hyung berusaha membujukku.

“Siapa yang sudah bergabung denganmu?” tanyaku.

“Yoongi” jawab Namjoon hyung.

“Baiklah, kau fikirkan saja dulu tawaranku ini. Jika kau menyetujuinya, datanglah malam ini pukul 8 malam di tempat kita biasa berkumpul” jelas Namjoon hyung.

“Akan ku fikirkan” kataku.

Bel istirahat sudah berbunyi. Aku dan Namjoon hyung tetap berada di kantin menunggu kedatangan teman – temanku yang lainnya.

“Yo” sapa Jin hyung.

“Eoh hyung” sapa Namjoon hyung.

“Hyung, apa kau melihat Hana?” Tanya Jimin yang baru saja sampai di kantin.

“Mungkin bersama Hara dan Sera dan Seomi di kelasnya” jawab Jin hyung.

“Hyung, adikmu…. Menyeramkan” sahutku.

“Mwo? Apa kau bilang? Adikku menyeramkan?” Jin hyung menatapku kesal.

“Ah ani maksudku, tadi aku menabraknya dan dia berkata kasar padaku” jelasku.

“Ahh dia memang begitu. Aku sudah biasa” jawab Jin hyung.

‘Jelas kau sudah terbiasa hyung, kau ini kakaknya dan Hana adikmu’ batinku.

 

-Yoongi POV-

Aku duduk santai di antara teman – temanku yang sibuk dengan ponselnya masing – masing. Ada apa dengan mereka? Bukankah seharusnya jika kita sedang berkumpul tidak boleh mengeluarkan ponsel? Menyebalkan.

“Yoongi-ya, nanti malam jangan lupa eoh” kata Namjoon.

“Kau sungguh tidak sopan, Joon” balasku.

“Baiklah, hyung. Aku tunggu nanti malam. Lawan kita kali ini cukup tangguh” sahut Namjoon.

“Eoh” jawabku.

Aku melihat Jungkook dan Jimin berdiri dan hendak meninggalkan kami. Aku beranjak dari tempatku duduk dan berjalan menghampiri mereka.

“Aku ikut dengan kalian” sahutku lalu berjalan mendahului mereka.

“Hyung, apa kau tahu kami ingin kemana?” Tanya Jimin.

“Kalian akan ke kelas Hara dan Hana kan?” tanyaku memastikan.

“Ani” jawab Jungkook.

“Lalu?” tanyaku lagi.

“Toilet” jawab Jimin.

‘Sial’ batinku.

“Kalau begitu tunjukkan padaku dimana kelas pacarmu” kataku pada Jungkook.

“Kau hanya perlu berjalan menaiki tangga lalu belok ke kiri. Ruang kelasnya kedua dari ujung koridor. 2-B” jelas Jungkook.

“Okay” kataku lalu pergi meninggalkan mereka.

Aku berjalan menaiki tangga. Sepanjang aku berjalan menaiki tangga, semua hoobae ku melihatku dengan pandangan yang seakan – akan mengatakan ‘Untuk apa Yoongi sunbae di sini?’

Aku berbelok ke kiri sesuai dengan instruksi Jungkook padaku tadi. Aku berjalan melalui para hoobae yang melihatku heran. Aku berdiri tepat di depan pintu 2-B, kelas Hana dan juga Hara. Aku menunggu sampai ada salah satu murid kelas itu keluar atau masuk ke dalam kelas.

“Uh, oppa” sahut Hana yang heran melihatku di sini.

“Hey” sapaku.

“Yoongi oppa” sahut Hara di belakang Hana.

“YA! Kalian cepatlah keluar! Aku sudah lapar!” teriak seseorang dari belakang Hara.

“Oppa, sedang apa kau di sini? Bukankah seharusnya kau bersama dengan oppaku?” Tanya Hana.

“Aku ada keperluan denganmu, Hana-ya” kataku.

“YA! Mau sampai kapan kalian berbincang di depan pintu dan menghalangiku hah?!” teriak seseorang di belakang Hara.

“Aish… kalian duluan saja ke kantin. Aku ada perlu dengan Yoongi oppa… umh Yoongi sunbae” jelas Hana.

“Arraseo. See you, oppa” Hara tersenyum padaku lalu pergi dengan kedua temannya.

Aku menarik Hana menuju koridor yang agak sepi. Bukan bermaksud yang tidak – tidak, tetapi ini adalah hal yang sangat memalukan bagiku. Jika aku membuat Hana terluka, Jin hyung tidak akan segan – segan untuk menghabisiku saat itu juga.

“Oppa, sakit” rintih Hana.

“Ah mianhae, Hana-ya” kataku.

“Sekarang katakan apa keperluanmu eoh? Aku sangat lapar, kau tahu itu” decak Hana kesal.

“Aku mendapat informasi dari Eun Bi, bahwa kau memiliki teman… umh ani sahabat maksudku yang cukup pintar” jelasku.

“Ah mungkin Sera yang kau maksud. Dia beasiswa di sekolah ini dan dia ranking 1 di sekolah ini. Dia pintar, tetapi dia sangat sibuk” jelas Hana.

“Sibuk?” tanyaku heran.

“Ne, sehabis pulang sekolah dia harus bekerja paruh waktu untuk menambah uang jajannya dan membayar sewa rumah” jelas Hana.

“Bisakah kau memperkenalkanku padanya?” pintaku.

“Mianhae oppa. Kau harus berjuang sendiri. Aku tidak bisa membantumu” kata Hana.

“Walaupun hanya memperkenalkanku padanya?” tanyaku memastikan.

“Ne, di antara kami berempat, hanya dia yang sangat sulit di tebak jalan fikirannya. Hanya dia yang tidak bercengkrama dengan namja. Kami pun sudah pernah mencobanya memperkenalkan salah satu teman Seomi padanya namun dia marah karena namja itu tidak berani untuk menanyakannya sendiri siapa namanya” jelas Hana.

“Sudah ya oppa, aku lapar. See you!” Hana pergi meninggalkanku.

‘Dengan begini bagaimana caranya agar aku bisa berkenalan dengan dia?’ batinku.

“Jika saja bukan karena permintaan samcheon, aku tidak akan repot – repot mengurusi nilaiku!” umpatku.

 

-Sera POV-

Aku sedang berada di kantin bersama kedua temanku, Hara dan Seomi. Hana belum kunjung datang juga ke kantin. Aku melihat jam tanganku dan waktu istirahat kurang dari 20 menit. Aku meminum susu coklat kesukaanku.

“Mian kalian menunggu terlalu lama” sahut Hana yang langsung duduk di sebelah Hara.

“Gwenchana, Hana-ya. Cepat makan sebentar lagi kita akan masuk” sahut Seomi.

“Eoh, gomapta” jawab Hana lalu memakan makanan yang ada di meja.

“Kau mengapa lama sekali? Ada keperluan apa dengan Yoongi oppa?” Tanya Hara.

“Ah itu… dia ingin berkenalan dengan Sera” jawab Hana.

Aku yang sedang meminum susu coklatku langsung tersedak.

“Mwo?!” teriakku tidak percaya.

“Ne, dia ingin meminta bantuanmu untuk menjadi tutornya, karena tahun ini dia harus lulus dari sekolah ini” jelas Hana.

“Tapi, kita berbeda 2 tahun dengannya, dan pelajaran mereka pun aku tidak tahu” kataku.

“Entahlah. Mungkin dia meminta bantuanmu untuk mengajari materi sewaktu dia kelas satu. Suatu saat dia pasti akan menemuimu, Sera-ya” jelas Hana lagi.

“Dia gila eoh!” sahutku.

“YA! Dia sunbae kita, dan dia penguasa sekolah ini, kau harus tahu itu! Banyak yang ingin mendekatinya tetapi Yoongi sunbae sangat dingin pada mereka atau bahkan hanya mempermainkan mereka” jelas Hara.

“Sudah kuduga, pasti dia nappeun namja!” ketusku.

Bel pelajaran selanjutnya sudah berbunyi. Aku bersama ketiga temanku kembali ke kelas dan menyiapkan pelajaran selanjutnya. Kim seongsanim masuk ke dalam kelas bersama seorang murid yang berjalan di belakangnya.

“Yoongi oppa?” sahut Hara.

“Huh?” tanyaku.

“Itu… dia lah yang memintamu menjadi tutornya” jelas Hara.

“Mwo? Sedang apa dia di sini?” tanyaku.

“Selamat siang semuanya, kali ini kita kedatangan murid tingkat 3 yang akan bergabung bersama kalian belajar bersama di sini. Silahkan perkenalkan dirimu” jelas Kim seongsanim.

“Min Yoongi imnida. Tolong bantu aku belajar di sini” sunbae itu memperkenalkan dirinya.

Selama Yoongi sunbae berdiri di depan memperkenalkan dirinya dan menjelaskan mengapa dia memilih untuk mengulang mata pelajaran ini dan masuk ke dalam kelas ini, teman – temanku menatapnya tanpa berkedip. Lalu aku mendengar teman yang duduk di belakangku ini sangat bahagia sekali bisa sekelas dengan sunbae itu.

“Baiklah sekarang kau boleh duduk. Duduklah di samping Kim Hana” perintah Kim seongsanim.

Aku melirik ke arah Yoongi sunbae dan dia tersenyum padaku. Apa maksudnya huh? Aku kembali memperhatikan pelajaran Kim seongsanim, namun aku tidak sepenuhnya berkonsentrasi karena aku mendengar desas – desus teman – temanku yang sedang membicarakan Yoongi sunbae.

‘Apa istimewanya sunbae itu?’ batinku.

“Pelajaran sudah selesai. Kalian boleh bubar” kata Kim seongsanim lalu keluar dari kelas kami.

Aku memasukkan barang – barangku ke dalam tas ku dan beberapa aku membawanya lalu memasukkannya ke dalam lokerku. Aku berjalan keluar dari kelas dan bersiap ke toilet untuk mengganti pakaianku menjadi pakaian kerja paruh waktuku.

Langkahku terhenti di koridor sekolah sesaat setelah aku merasakan sebuah tangan menahan tanganku. Aku membalikkan tubuhku untuk mencari tahu siapa yang berusaha membuang waktuku yang sangat berharga ini.

“Su… sunbae?” tanyaku heran.

“Hai” sapanya dengan senyuman yang terukir di bibirnya.

“Eoh… sunbae tolong lepaskan tanganku, aku harus segera ke tempat kerja” pintaku.

“Tidak. Sebelum kau menjadi tutorku” dia mempererat genggaman tangannya di tanganku.

“Sunbae, jebal” pintaku lagi.

Yoongi sunbae tetap tidak melepaskan tangannya walaupun aku sudah berulang kali memintanya. Untuk itu aku berusaha melepaskan tanganku dari genggamannya secara terpaksa. Dia melepaskannya, aku langsung berlari menuju halte bus dan dia mengikutiku?

Tunggu, untuk apa dia mengikutiku? Dan apa maksud dari senyumannya tadi. Jika memang dia memintaku sebagai tutornya, mintalah dengan baik – baik dan dengan cara yang baik – baik juga.

Aku sedang menunggu bus tujuanku datang di halte. Rintikan air mulai membasahi jalanan di hadapanku. Dan sialnya aku hanya berdua saja dengan Yoongi sunbae di halte ini. Aku melirik ponselku untuk mengecek sekarang sudah jam berapa. 2:45 PM. Sial 15 menit lagi jam kerjaku dimulai dan aku masih terjebak di halte.

“Sunbae, untuk apa kau mengikutiku huh?” tanyaku.

“Untuk memastikan jawabanmu” jawabnya.

“Ya! Aku tidak punya cukup waktu untuk menjadi tutormu sunbae, lebih baik kau mencari tutor yang lain dan setingkat denganmu” jelasku.

“Shireo” jawab Yoongi sunbae singkat.

“Aish… aku tidak mau menjadi tutormu. Dan berhentilah mengikutiku sunbae, kau membuatku gelisah” pintaku.

“Shireo” jawabnya lagi.

“Aish.. terserah kau saja!” kataku yang langsung masuk ke dalam bus karena bus ku sudah datang.

 

-Author POV-

Yoongi tetap bersikeras untuk menunggu jawaban dari Sera dengan cara tetap mengikutinya kemanapun. Sera menjadi gelisah dengan kedatangan Yoongi di dalam kehidupannya.

Sera sudah sampai di tempat kerja paruh waktunya masih menggunakan seragam sekolahnya karena dia tidak sempat mengganti pakaiannya karena ulah Yoongi. Yoongi duduk di salah satu meja di situ, yap meja yang kemarin Yoongi dan teman – temannya berkumpul.

Yoongi terus memperhatikan gerak – gerik Sera dengan detail hingga getaran ponsel yang berada di kantung jas sekolahnya menghentikan aktivitasnya. Yoongi meraih ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya saat ini.

“Eoh” sapa Yoongi.

“Hyung, eodiseo?” Tanya dari sebrang sana.

“Aku sedang sibuk” jawab Yoongi.

“Datanglah ke markas sekarang, persiapkan mobilmu” perintah dari sebrang sana.

“Kau saja urusi mobilku, aku sedang sibuk, Namjoon-ah” jelas Yoongi.

“Shireo. Kau harus menangani mobilmu sendiri hyung” kata Namjoon.

“Kau mengacaukan hariku, Joon-ah” seru Yoongi lalu memutuskan sambungan telfon itu secara sepihak.

Yoongi beranjak berdiri dan pergi dari kursi yang ia duduki saat ini dan berjalan menuju halte. Yoongi merasa sangat kesal pada Namjoon yang mengganggunya saat ini. Dan hey sekarang baru jam 4 sore untuk apa menyiapkan mobil dari sekarang? Sedangkan balapan baru dimulai jam 8 malam.

Tak berapa lama bus tujuannya sudah datang. Yoongi naik dan berdiri menghadap jendela. Dia mengeluarkan headphone nya dan mendengarkan lagu. Halte yang menjadi tempat pemberhentiannya sudah sampai. Yoongi melangkahkan kakinya turun dari bus dan berjalan menuju markas.

Sudah sampai di depan markasnya, Yoongi menggeser pintu yang terbuat dari besi itu lalu masuk dan menutupnya kembali. Dia berjalan menuju temannya yang sudah berada di sana lebih dulu.

“Dimana mobilku?” seru Yoongi.

“Di sana” jawab Namjoon sambil menunjuk mobil sport berwarna hitam yang berada di pojokan markas ini.

“Kau menyuruhku ke sini bukan hanya untuk mengurusi mobilku kan?” Tanya Yoongi.

“Hanya untuk mengurusi mobilmu saja hyung” jawab Namjoon.

“Kau bohong” kata Yoongi.

“Aku tidak berbohong” seru Namjoon.

“Terserah” desis Yoongi.

Yoongi berjalan menuju mobilnya lalu memeriksa mobilnya. Dimulai dari mesin hingga kemudi. Mulai merasa bosan mengurusi mobilnya, Yoongi duduk sambil meneguk sekaleng cola yang tersedia di atas meja.

“Cepat katakan padaku apa yang membuatmu menjadi gelisah seperti ini” perintah Yoongi pada Namjoon.

“Sudah kubilang aku tidak apa – apa. Mengapa kau terus memaksaku hyung?” Tanya Namjoon.

“Kalau begitu tatap mataku dan katakan bahwa kau tidak gelisah” Yoongi mengeluarkan smirknya.

“Baiklah” Namjoon berjalan menuju Yoongi.

Namjoon duduk di sofa hadapan Yoongi dan memandang mata Yoongi tajam. Semua kegelisahan yang saat ini melandanya sudah terpancar di mata Namjoon.

“Aku mengaku” sahut Namjoon.

“You got it. Apa yang membuatmu gelisah?” Tanya Yoongi.

“Lawan kali ini, aku takut padanya hyung. Dia sudah mempunyai rekor yang tidak terkalahkan” jelas Namjoon.

“Kau tahu darimana?” Tanya Yoongi lagi.

“Aku sering melawannya di arena, namun dia benar – benar tidak terkalahkan hyung. Sedangkan kali ini hadiahnya besar hyung, aku ingin mendapatkan hadiah itu” jawab Namjoon.

“Ingin kau apakan hadiah itu jika kau mendapatkannya?” Tanya Yoongi lagi.

“Untuk membantu biaya sekolah Jungkook” jawabnya.

“Ahh~” Yoongi mengerti.

“Serahkan semua ini padaku, biar aku yang memenangkan balapan kali ini” lanjut Yoongi.

Namjoon tersenyum senang begitu mendengar pernyataan dari Yoongi yang akan memenangkan balapan kali ini. Namun Yoongi sedikit ragu dengan perkataannya barusan, dia memikirkan perkataan Namjoon bahwa lawannya kali ini tidak dapat di kalahkan.

“Yo hyung” sapa seseorang dari belakang mereka.

“Taehyung?” Yoongi terkejut dengan kedatangan Taehyung ke markas mereka.

Yoongi melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. Saat ini jam tersebut sudah menunjukkan pukul 7 malam. Taehyung duduk di sofa samping Yoongi.

“Tunngu, bagaimana kau bisa ada di sini?” Tanya Yoongi.

“Aku ingin ikut balapan” jawab Taehyung.

“Balapan katamu?” Yoongi mencoba meyakinkan.

“Ne. Aku yang mengajaknya untuk bergabung hyung” sahut Namjoon.

“Apa kau yakin, Tae? Ini bisa merenggut nyawamu” jelas Yoongi.

“Eoh, aku sudah memikirkannya hyung. Tenang saja” jawab Taehyung.

“Terserah kau saja. Jaga nyawamu baik – baik selama di arena, lebih baik kau kalah dibanding kau mati” kata Yoongi lalu pergi meninggalkan Taehyung.

 

***

 

Hara sedang bersama Hana di kantin sekolahnya, Hara memutuskan untuk menunggu Jungkook yang sedang berlatih basket sampai malam hari. Sedangkan Hana sedang menunggu Jimin yang rapat bersama ketua ekstrakulikuler sekolah mereka.

“Hara-ya, bagaimana hubunganmu dengan Jungkook?” Tanya Hana yang memecah keheningan.

“Kami baik – baik saja” jawab Hara.

“Lalu bagaimana kau dengan Jimin?” Tanya Hara.

“Aku dengan Jimin? Masih seperti biasanya, Jin oppa menyuruhku untuk memahami karakter Jimin terlebih dahulu” jawab Hana.

“Jimin benar – benar menyukaimu, Hana-ya” kata Hara.

“Aku tahu itu, aku pun menyukainya. Tapi aku tetap harus menurut pada Jin oppa” jelas Hana.

“Ah ya, aku ingin ke lapangan basket dulu ne, ingin melihat Jungkook” kata Hara lalu pergi.

“Aku sendiri lagi…” keluh Hana.

“Kau tidak sendirian. Ada aku yang selalu di sampingmu” sahut seseorang yang kini duduk di sampingnya.

“Kau lama sekali, Jim” kesal Hana.

“Hey, maafkan aku, rapat bersama ketua memang memakan waktu yang cukup lama dari yang aku perkirakan” Jimin meminta maaf pada gadis di hadapannya.

“Hmm jangan marah, Hana-ya, kau ingin berjalan – jalan?” tawar Jimin.

“Call” kata Hana senang.

Jimin mengulurkan tangannya pada Hana dan disambut senang oleh Hana. Mereka berjalan keluar kantin dan berjalan di koridor sekolah. Bergandengan tangan sambil tertawa, itulah yang dilakukan oleh Hana dan Jimin.

“Jungkook-ah!” panggil Hara dari pinggiran lapangan basket.

Jungkook menghentikan permainan basketnya dan berlari kecil menghampiri kekasihnya.

“Kau datang eoh” kata Jungkook yang masih mengatur nafasnya.

“Ne, untuk melihat pacarku tentunya” kata Hara sambil memberikan sebotol minuman pada Jungkook.

“Gomapta. Kajja kita duduk di sana” ajak Jungkook.

Hara dan Jungkook duduk di tempat duduk dekat lapangan basket.

“Kau berkeringat sekali” kata Hara yang memandangi Jungkook.

“Ah chakkaman” sahut Hara.

Hara membuka tas yang dibawanya lalu mengambil handuk kecil yang memang sudah dia siapkan.

“Apa kau tidak lelah?” Tanya Hara sambil mengelap keringat di wajah Jungkook.

“Tidak. Ini salah satu hobby ku, jadi tidak mungkin aku lelah” jawab Jungkook.

Jungkook menatap Hara yang masih sibuk mengelap wajahnya dengan handuk kecil. Jungkook tersenyum senang.

“Waeyo?” Tanya Hara.

“Aku mencintaimu, Han Hara” kata Jungkook.

“Aku juga mencintaimu” kata Hara sambil tersenyum.

Jungkook memeluk Hara secara spontan. Hara yang mendapat perlakuan Jungkook yang tiba – tiba hanya bisa diam karena terkejut. Jungkook mengelus rambutnya dan mencium kening Hara. Hara hanya bisa memejamkan matanya.

“Berjanjilah padaku apapun yang terjadi tetaplah bersamaku dan percaya padaku” kata Jungkook.

“Aku berjanji” jawab Hara.

 

-Yoongi POV-

Aku sedang bersiap di arena balapan. Balapan kali ini aku tidak sendirian, karena ada Taehyung dan Namjoon yang juga bersiap di arena balapan dengan mobil mereka masing – masing. Setelah yakin dengan persiapan mobilku, aku berkumpul dengan Namjoon dan Taehyung.

“Bagaimana? Kalian siap?” Tanya Namjoon.

“Eoh” jawabku.

“Ne hyung” jawab Taehyung.

“Aku penasaran dengan lawan kita” kataku.

“Hyung bisa melihatnya di sebelah sana” kata Namjoon sambil menunjuk kerumunan orang – orang di sebrang mereka.

“Kau yakin dia benar – benar tidak terkalahkan?” tanyaku.

“Ne hyung, aku sangat yakin itu” jawab Namjoon.

Aku berjalan menuju kerumunan orang yang ada di sebrangku untuk melihat siapa lawanku kali ini. Benar – benar penasaran dengan lawanku karena perkataan Namjoon.

“Yoongi!” sapa seseorang dari kerumunan orang itu yang artinya itu adalah kubu dari lawanku.

Aku menghentikan langkahku begitu mendengar seseorang memanggilku. Dia mengenalku. Darimana dia tahu namaku?

“Apa kau yang akan menjadi lawanku kali ini?” kata orang itu dari belakangku.

 

TO BE CONTINUE…

Hai maaf ya apdet chapter 2 nya lamaa~

Oke jangan lupa abis baca kasih komentar sama likenya yaa haha

Kamsahamnida reader-nim :*

Oh ya, selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir batin^^~

16 responses to “The Destiny – Chapter 2

  1. Keren bgtt.. namjonnya lucu, jngkooknya romantis😂😂 taehyungnya so cool bgttt ahahah. Ditunggu yaa chapt ke 2 nyaa👌👍

  2. Ka oday mah kebiasaan nih lagi seru pasti di cut😩😩 wkwk

    Btw gemessss ama yoongi, sunbae idaman🙈 .g

  3. Baguss sunbaenimm♥♥ great job♥♥ ak tunggu berikutnya ya, satu doang comment ny, jgan lama2 kalo ngeupdate.. hehe udah gak sabar♥ wkwkw ^^

  4. Pingback: The Destiny – Chapter 3 – FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s