The Destiny – Chapter 3

poster ff sekar

By Sparkdey

The Destiny – Chapter 3

Min Yoongi BTS || Park Sera (OC) || Kim Taehyung BTS

PG + 17

AU || Fluff || Romance || Friendship

Prologue || Chapter 1 || Chapter 2 ||

Desclaimer : Member BTS adalah milik Tuhan YME, Orang Tua mereka, dan juga Big Hit Entertainment. Sedangkan OC dan alur cerita adalah pure milik author. Tolong jangan ada plagiator! Jika kalian menemukan alur cerita yang persis sama dengan punya author, tolong beritahu author ya~

Note : FF ini merupakan FF requestan dari Sekarlaras Dias, teman ARMY. Tolong di baca dan berikan apresiasi kalian ya berupa komentar atau like nya hehe.

Happy Reading!~

Cerita sebelumnya…

“Aku penasaran dengan lawan kita” kataku.

“Hyung bisa melihatnya di sebelah sana” kata Namjoon sambil menunjuk kerumunan orang – orang di sebrang mereka.

“Kau yakin dia benar – benar tidak terkalahkan?” tanyaku.

“Ne hyung, aku sangat yakin itu” jawab Namjoon.

Aku berjalan menuju kerumunan orang yang ada di sebrangku untuk melihat siapa lawanku kali ini. Benar – benar penasaran dengan lawanku karena perkataan Namjoon.

“Yoongi!” sapa seseorang dari kerumunan orang itu yang artinya itu adalah kubu dari lawanku.

Aku menghentikan langkahku begitu mendengar seseorang memanggilku. Dia mengenalku. Darimana dia tahu namaku?

“Apa kau yang akan menjadi lawanku kali ini?” kata orang itu dari belakangku.

-Yoongi POV-

“Hah” aku mengukir smirk ku.

“Jadi kau yang akan menjadi lawanku?” tanyaku.

“Tentu saja. Apa kau takut padaku?” tanyanya.

“Hah? Takut padamu? Cih, tidak akan aku takut padamu” kataku kesal.

“Baiklah, lawan aku. Ku tunggu kau di arena” dia menantangku.

Aku kembali menuju tempatku berkumpul bersama Taehyung dan Namjoon. Mereka berdua melihatku dengan bingung.

“Hyung, kau mengenalnya?” Tanya Namjoon.

“Nugu?” tanyaku.

“Lawan kita, tadi aku lihat kau berbincang dengannya” jelas Namjoon.

“Ah maksudmu Song Mingu?” tanyaku.

“Ah aku baru ingat namanya!” teriak Namjoon.

“Aku mengenalnya” jawabku lalu pergi menuju mobilku dan masuk ke dalamnya.

“Sial! Mengapa aku harus berhadapan dengan bedebah sialan itu!” teriakku kesal sambil memukul kemudi mobilku.

Sebuah bunyi peluit yang ditiup oleh salah satu team balap lain sudah terdengar. Bunyi peluit itu sebagai tanda untuk memulai balapan kali ini.

Aku menginjakkan gas mobilku dan kini aku berada di posisi nomor 3. Aku terus melihat ke depan, yang ada di fikiranku kali ini adalah aku harus mengalahkan Mingu, si bedebah sialan itu. Bagaimanapun caranya!

Kini aku berada di posisi kedua. Hampir saja aku membalap Mingu, namun aku harus menghentikan mobilku secara mendadak karena ada orang yang menyebrang mendadak.

“Sial!” decakku.

Aku kembali menginjakkan pedal gas mobilku dan menambahkan kecepatan mobilku dengan nos yang memang sudah di setting olehku. Aku berhasil mengejar Mingu dan kini aku berada tepat di sebelah mobil Mingu, aku menoleh ke arah Mingu. Dia tersenyum licik padaku dan aku memberikan smirk milikku.

Aku menambahkan kecepatanku lagi dan lagi namun tetap saja aku masih di belakang mobil Mingu, hingga pada akhirnya aku berhasil mendahului Mingu. Aku tersenyum penuh kemenangan. Namun perlahan senyumanku memudar. Ya, Mingu sudah berhasil mengerjaiku. Dia membuatku masuk ke jalan yang salah, maksudku bukan ke rute balapan kami.

Aku belum begitu hafal rute balapan kali ini. Aku hanya dapat berharap bahwa Taehyung ataupun Namjoon mampu mengalahkan Mingu. Aku memutar kemudiku dan kembali ke rute semula.

Aku sudah sampai di garis finish dan langsung turun dari mobil lalu berjalan menuju Namjoon dan Taehyung.

“Kau masih saja payah… hyung” sahut seseorang yang berhasil membuatku menghentikan langkahku.

“Bedebah diam kau brengsek!” teriakku.

“Hah kau tidak akan pernah bisa mengalahkanku hyung” Mingu menyombongkan dirinya.

Aku berjalan menuju Mingu dan mencengkram kausnya.

“Dengar aku bedebah sialan, akan aku buktikan di arena selanjutnya bahwa aku yang akan memenangkan perlombaan. Camkan itu!” kataku dengan nada yang sinis dan amarah yang menguasaiku.

“Hah sampai kapanpun kau tidak akan pernah bisa mengalahkanku hyung” dia memberikanku senyuman yang sama seperti ‘waktu itu’.

“Sialan kau!” teriakku yang semakin marah.

BUGHH…

Aku memukul Mingu tepat di pipi sebelah kiri dan dia jatuh tersungkur. Sekarang orang – orang yang berada di arena melihatku dan Mingu kaget. Bagaimana tidak? Aku memukul sang juara arena kali ini.

“Hyung hentikan!” teriak Taehyung.

“Tenangkan dirimu hyung!” pinta Taehyung.

Taehyung langsung membawaku ke tempat berkumpul kami. Dan berusaha untuk menjauhkanku dari Mingu.

“Kalian jangan ikut campur urusanku!” kataku beranjak berdiri.

“Hyung! Tenangkan dirimu!” teriak Namjoon.

“Diam kalian, brengsek!” makiku.

“Hyung, jangan berurusan dengannya! Dia itu sangat berbahaya!” teriak Namjoon.

“Kalian diam, atau aku akan lebih berbahaya darinya!” ketusku lalu pergi meninggalkan Namjoon dan Taehyung.

 

-Sera POV-

Aku baru saja selesai bekerja paruh waktu. Rasanya lelah sekali. Ingin rasanya langsung sampai di rumah dan tidur. Ah ya aku lupa bahwa aku masih mempunyai tugas dari seongsanim.

Aku mengganti bajuku dengan seragam sekolahku lalu berpamitan pulang pada atasanku. Aku berjalan menuju halte terdekat dan menunggu bus di sana. Tiba – tiba hujan turun kembali membasahi jalanan di Seoul. Dan aku lupa membawa payung.

Bus tujuanku sudah datang, aku langsung naik dan duduk di tempat yang masih kosong. Sangat lelah dan mataku semakin terasa berat. Semakin lama mataku menutup dan akhirnya aku tertidur.

Aku terbangun karena bus yang aku tumpangi mengerem mendadak. Aku mengerjapkan mataku dan tunggu… aku seperti tidur di bahu seseorang. Aku membetulkan posisiku dan terbangun.

“Kau sudah bangun? Tidurmu nyenyak sekali” kata orang itu.

“Huh? Ah jeoseonghamnida, sudah tidur di bahumu. Aku sungguh tidak sopan sekali” kataku sambil menundukkan kepalaku.

“Hey tenang saja, rumah kita searah bukan?” tanyanya.

Aku menengakkan kepalaku untuk melihat siapa yang berbicara padaku. Dia bilang rumah kami searah?

“Hoseok sunbae…” gumamku.

“Yap, ini aku. Apa kau masih mengantuk?” Tanya Hoseok sunbae.

“Tidak sunbae. Maafkan aku sudah tidur di bahumu” kataku malu – malu.

“Gwenchana, jika kau masih mengantuk, kau bisa tidur lagi di sini” katanya sambil menepuk bahunya pelan.

“Tidak sunbae, terima kasih” kataku.

“Apa kau baru pulang sekolah?” tanyanya.

“Aniyo sunbae, aku baru saja pulang bekerja paruh waktu” jawabku.

“Ah aku kira kau baru pulang sekolah. Di luar hujan deras, apa kau tidak kedinginan?” Tanya Hoseok sunbae.

“Ah aku tahu kau pasti kedinginan” katanya.

‘Bahkan aku belum menjawab pertanyaannya’ batinku.

Sebuah tangan melingkar di bahuku, aku terkejut dengan perbuatan Hoseok sunbae yang memakaikan jaketnya padaku. Aku terdiam berusaha mencerna perlakuan Hoseok sunbae padaku.

“Dengan begini kau akan menjadi lebih hangat” kata Hoseok sunbae.

“Tapi, sunbaenim, kau-“ aku belum sempat mengatakan semuanya.

“Nae gwenchana, kau lebih membutuhkannya daripada aku” dia memotong perkataanku.

“Kamsahamnida sunbaenim” kataku sambil tersenyum.

Halte tempat aku turun selanjutnya sebentar lagi sampai, aku berdiri dari tempat dudukku dan bersiap untuk turun.

Bus berhenti dan aku turun secara perlahan lalu duduk di halte menunggu hujan reda. Hoseok sunbae memberikan sebuah payung padaku lalu dia berlari menerobos derasnya hujan. Aku hanya bisa melihat punggung Hoseok sunbae yang semakin lama semakin menjauh.

Sebuah mobil berhenti tepat di depanku ketika aku akan membuka payung. Apa dia akan menurunkan penumpang? Atau menaikkan penumpang? Tapi di halte ini hanya ada aku sendiri.

“Masuklah” suara seseorang yang cukup terdengar olehku karena kaca mobilnya di buka.

“Ne?” kataku bingung.

“Ku bilang masuk, atau kau mau tetap kedinginan di halte ini?” tanyanya ketus.

“Nuguseyo? Maaf, tapi aku tidak mengenal dirimu” kataku lalu membuka payung yang diberikan oleh Hoseok sunbae dan berjalan keluar dari halte.

Aku sudah berjalan cukup jauh dari halte namun langkahku terhenti karena ada yang menahan tanganku. Tangannya begitu dingin. Aku membalikkan arah badanku dan melihat siapa yang menahan tanganku.

“Sunbae?” tanyaku heran.

“Sudah ku bilang masuk ke dalam mobilku, untuk apa kau berjalan di tengah hujan deras seperti ini huh? Kenapa kau sangat keras kepala sekali?” katanya yang seakan – akan menyalahiku.

“Sunbae lepaskan tanganku jebal, appo” kataku.

“Ikut aku!” dia memaksaku untuk ikut dengannya.

Yoongi sunbae, banyak yang mencoba untuk mendekatinya namun dia sangat dingin dan sedikit kasar. Namun charisma dan ketampanannya mampu membuat siapapun jatuh hati, tapi tidak denganku.

Aku melihat Yoongi sunbae yang basah kuyup karena hujan deras seperti ini menggenggam tanganku yang masih kering karena tertutupi payung yang diberikan oleh Hoseok sunbae. Melihat punggung Yoongi sunbae dari belakang membuatku teringat akan seseorang yang selalu menemaniku dari kecil, namun dia sekarang tidak tahu ada dimana.

“Masuklah” perintah Yoongi sunbae.

Aku masuk ke dalam mobil Yoongi sunbae dan Yoongi sunbae masuk duduk di belakang kemudi. Dia menatapku tajam.

“A.. ada apa sunbaenim?” tanyaku gugup.

“Aku membutuhkanmu” jawabnya.

“Ne?” aku mencoba menyakinkan apa yang ku dengar.

“Apa perlu ku ulang setiap omonganku padamu?” katanya kesal.

“Mi… mianhae sunbaenim” aku menundukkan kepalaku.

Tangan Yoongi sunbae menyentuh daguku dan mengangkat daguku agar pandanganku dengan pandangannya menjadi sejajar.

“Aku membutuhkanmu, Park Sera. Apa itu sudah jelas?” ulangnya.

“Maaf sunbae, aku benar – benar minta maaf. Aku tidak bisa menjadi tutormu, aku tidak pintar dan aku sibuk bekerja dan belajar. Aku tidak punya waktu untuk menjadi tutormu” jelasku.

“Aku akan membayar biaya tutornya, ayolah kau menjadi tutorku. Ku mohon bantu aku, akhir tahun ini aku harus mengikuti ujian kelulusan” jelas Yoongi sunbae.

“Maaf sunbaenim, tapi aku benar – benar tidak punya waktu” ulangku.

“Bantu aku, aku mohon. Aku berjanji akan belajar dengan giat asalkan kau menjadi tutorku” pintanya.

“Akan aku pikirkan lagi sunbaenim. Sekarang aku ingin beristirahat, annyeong sunbaenim” kataku lalu membuka kunci mobil Yoongi sunbae.

“Kau mau kemana?” dia menahan tanganku lagi.

“Aku ingin pulang” jawabku.

“Akan aku antar. Dimana rumahmu?” tanyanya.

“Tidak perlu sunbae, aku bisa pulang sendiri” jawabku.

“Jangan keras kepala padaku” katanya dengan nada sedikit meninggi.

“A.. ah ne sunbae. Lurus saja dari sini sunbaenim” kataku sedikit takut.

Yoongi sunbae melajukan mobilnya menuju rumahku. Dia terlihat basah kuyup aku bisa pastikan bahwa dia sedang melawan rasa dingin yang menerpa di tubuhnya. Aku yakin itu karena penghangat di mobil sunbae bagiku tidak cukup untuk menghangatkan tubuhku.

 

-Author POV-

Yoongi menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah kecil yang terlihat sangat rapih dan bersih. Yoongi menatap Sera.

“Ini rumahmu?” Tanya Yoongi.

“Eoh. Kamsahamnida sunbaenim, sudah mengantarkanku pulang. Sebagai gantinya, kajja masuk ke rumahku” ajak Sera.

“Tidak. Aku harus kembali ke dorm” tolak Yoongi.

“Aku tidak mengizinkannya. Kau basah kuyup sunbae, kau harus segera mengganti bajumu atau kau nanti akan sakit” kata Sera.

“Apa kau sedang mengkwatirkanku?” Yoongi mengeluarkan smirk andalannya.

Sera terdiam sejenak lalu menundukkan wajahnya. Sera merasa tidak enak karena Yoongi basah kuyup karenanya yang tadi menolak diantarkan pulang oleh Yoongi.

“Ani. Kau seperti sekarang ini karenaku. Jadi aku harus bertanggung jawab, jika kau sampai sakit, Ji Eun pasti akan marah padaku” jelas Sera.

“Ah jadi kau mengenal adikku?” Tanya Yoongi.

“Tentu, siapa yang tidak mengenal brother sister Min di sekolah? Kalian berdua sangat terkenal, semua pasti mengenal kalian” kata Sera.

“Sunbae, kajja turun dan masuk ke rumahku” ajak Sera lagi.

“Tidak, aku benar – benar harus kembali ke dorm” Yoongi benar – benar menolak ajakan Sera.

Sera kembali terdiam dan memandangi sunbae yang duduk di sampingnya saat ini. Sera sedang bergelut dengan fikirannya. Bagaimana caranya dia bertanggung jawab atas perbuatannya yang membuat sunbaenya ini menjadi basah kuyup.

Akhirnya Sera memberanikan diri untuk sedikit melakukan aksi gila pada Yoongi.

“Kau benar – benar menolak ajakanku sunbaenim? Baiklah, aku tidak akan pernah mau menjadi tutormu. Annyeong sunbaenim” ancam Sera.

Yoongi hanya terdiam sejenak mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Sera. Tapi saat ini Yoongi benar – benar harus kembali ke dorm, jika tidak pintu dorm akan dikunci lalu keesokan harinya Yoongi akan terkena masalah dengan kepala asrama.

Yoongi melihat Sera berjalan melaluinya dan masuk ke dalam rumahnya setelah ia menutup payungnya. Dia membuka tas nya dan mengambil kunci rumahnya lalu dia melirik padaku.

“APA KAU BENAR – BENAR TIDAK MAU SUNBAENIM?” teriak Sera.

Yoongi hanya tersenyum kecil lalu dia menyalakan mobilnya dan pergi begitu saja meninggalkan rumah Sera. Sera yang melihat kejadian itu benar – benar kesal dan tidak enak pada Yoongi. Namun itu pilihan Yoongi, bagaimanapun juga dia harus mengikuti kemauan Yoongi, karena Yoongi dan Sera hanya sebatas sunbae dan hoobae.

 

***

 

Hana yang baru saja kembali ke dorm nya setelah berjalan – jalan malam di lingkungan sekolah bersama Jimin terkejut melihat Seomi yang sedang nangis. Hana langsung berlari menghampiri Seomi dan memeluknya.

“Kau kenapa, Seomi-ya? Ceritakan padaku apa yang terjadi padamu” Hana panic.

“Jin… Jin sunbae… hiks” Seomi menangis sesenggukkan.

“Apa? Kenapa? Ada apa dengan oppaku?” Hana semakin panic.

“Dia… dia sudah punya pacar…” kata Seomi.

“Pacar? Tidak mungkin, dia pasti bercerita padaku” bela Hana.

“Kau bisa melihatnya di ponselku hiks…” kata Seomi.

Hana langsung mengambil ponsel Seomi dan melihat sns Seomi, dan benar apa yang dikatakan oleh Seomi, Hana melihat foto oppa nya sedang menindih seorang wanita dan mencium bibirnya. Hana menjadi marah dan kesal pada oppa nya.

“Kau tunggu di sini sampai Hara kembali!” perintah Hana.

“Kau… hiks… mau kemana?” Tanya Seomi.

“Tentu saja menemui Jin oppa” jawab Hana.

BLAM

Hana menutup pintu kamar asramanya dengan kasar. Seomi hanya bisa melihat kepergian Hana yang penuh dengan emosi itu. Seomi bergelut dengan fikirannya apakah ceritanya tadi membuatnya menjadi semakin jauh dengan Jin?

Hana pergi keluar asramanya dan berjalan menuju dorm kakaknya, Jin. Dengan sangat tergesa – gesa dia berjalan memasuki koridor asrama laki – laki. Banyak mata yang melihatnya berjalan dengan penuh emosi di wajahnya. Laki – laki yang melihat seorang wanita memasuki asrama mereka tidak menghentikan langkah wanita itu. Mereka takut dengan wanita itu, karena wanita itu termasuk ke dalam 4 sekawan dan dia adalah adik dari salah satu penguasa sekolah.

“YA! JIN OPPA CEPAT KELUAR DARI KAMARMU!!” teriak Hana.

TOK TOK TOK

Bunyi ketukan pintu yang terdengar kasar dan segala macam petuah yang keluar dari mulut Hana menghiasi koridor asrama laki – laki.

“OPPA AKU TAHU KAU DI DALAM, CEPATLAH KELUAR!! JIN OPPA!!” teriak Hana.

Seseorang lalu membuka pintu kamar di hadapan Hana. Terlihatlah sosok namja tinggi yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk itu dan berpakaian celana pendek serta kaos polos berwarna hitam yang menambah kesan seksi di mata Hana.

“Tae, cepat katakan dimana oppa!” perintah Hana.

“Ada apa?” suara laki – laki dari belakang Hana.

Hana memutar balikkan tubuhnya menghadap laki – laki tinggi di hadapannya saat ini. Menatap laki – laki itu dengan penuh amarah yang belum sempat ia keluarkan. Dengan cepat dia langsung menarik tangan laki – laki itu keluar dari asrama laki – laki.

Kini mereka berdua berhenti di tempat laundry pakaian. Hana menutup pintu itu dan mulai mengatur nafasnya.

“APA OPPA GILA HUH?” teriak Hana kesal.

“Mwo? Gila?” Tanya Jin bingung.

“IYA OPPA GILA! UNTUK APA KAU MENINDIH SEORANG WANITA DAN MENCIUMNYA HAH? APA OPPA SADAR BAHWA ADA YANG MENANGIS SESENGGUKKAN KARENA PERLAKUAN OPPA ITU?!”  Hana terus mengeluarkan emosinya.

“Menindih wanita? Menciumnya? Apa yang kau bicarakan, Hana-ya?” Tanya Jin baik – baik.

Hana langsung mengeluarkan ponsel Seomi yang dibawanya lalu menunjukkan foto yang menjadi bukti perkataan dan makiannya kepada Jin.

“Hana dengarkan aku, itu-“

“CUKUP OPPA! AKU BENCI OPPA! KAU BUKAN OPPAKU YANG SEPERTI DULU, DAN KAU SEKARANG MENYAKITI HATI SAHABATKU!”

“Tapi oppa bisa menjelaskan semuanya” kata Jin yang masih berusaha tenang.

“Jangan menjelaskannya padaku. Jelaskan ini pada Seomi. Dia menyukaimu sejak dulu oppa, apa oppa tidak sadar huh? Oppa mau mempermainkan hatinya? Aku tidak segan – segan mengadukan oppa pada appa dan eomma” ancam Hana.

“Seomi? Dia menyukaiku? Astaga!” Jin terkejut mendengar penjelasan adiknya.

“Oppa harus menjelaskan ini semua pada Seomi, jika oppa belum menjelaskan semuanya pada Seomi, jangan pernah berharap bahwa oppa akan melihatku dalam keadaan baik – baik saja. Kau mengenalku bukan?” kata Hana dengan tatapan penuh amarah.

“Aku akan menjelaskannya, tapi-“ Jin melihat punggung adiknya yang semakin menjauh darinya.

“Tapi kau jangan melakukan hal gila, Hana-ya. Aku tidak suka itu” kata Jin pada dirinya sendiri.

 

-Taehyung POV-

Setelah bertemu dengan Hana yang tiba – tiba mengetuk pintu kamarnya dengan kasar, aku berfikir. Hana tidak biasanya memiliki tatapan yang menyimpan penuh amarahnya apalagi amarah itu ditujukan untuk Jin hyung. Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada kedua kakak beradik itu?

Aku menatap pantulan wajahku di cermin. Aku kembali bergelut dengan fikiranku pada Yoongi hyung saat di arena tadi. Yoongi hyung sama emosinya dengan Hana tadi. Tatapan mata mereka memancarkan amarah yang terbendung cukup lama.

“Kau belum tidur?”

“Belum hyung, baru selesai mandi. Ada apa kau dengan adikmu?” tanyaku pada Jin hyung yang baru saja duduk di kasurnya.

“Dia sangat marah padaku” jawabnya sambil merebahkan tubuhnya.

“Kau berbuat apa? Baru kali ini aku melihat tatapan amarah Hana padamu” jelasku lalu duduk di kursi meja belajar Jin hyung.

“Menurutmu siapa yang mengedarkan fotoku bersama wanita sialan itu?” tanyanya.

“Foto apa hyung?”

“Jadi kau belum melihatnya?”

“Belum, memangnya itu foto apa?”

“Chakkaman, Tae”

Jin hyung mengambil ponselnya dari dalam saku celananya dan sibuk mengotak – atik ponselnya. Aku duduk diam sambil menunggunya. Jin hyung memberikan ponselnya padaku dan aku melihat sebuah foto yang menunjukkan fotonya dengan seorang wanita. Jin hyung terlihat sedang menindih wanita itu dan menciumnya. Yang terlihat aneh, siapa yang menyebarkan foto itu di sns?

Aku menatap Jin hyung tidak percaya. Hyung yang aku kenal dari dulu adalah hyung yang baik dan tidak pernah mempermainkan wanita, namun saat ini terlihat kebalikannya. Foto itu menjadi bukti kuat yang mampu menghancurkan reputasi Jin hyung.

Aku mengembalikan ponselnya dan berjalan menaruh handuk di dalam kamar mandi. Aku duduk di atas kasurku dan masih menatap Jin hyung.

“Katakan kalau itu bukan kau hyung” kataku.

“Itu memang diriku. Tapi sungguh aku di jebak oleh wanita itu” jelasnya.

“Wanita itu?” aku mengerutkan keningku.

“Wanita jalang yang selalu mengejarku dari tingkat 1. Aku tidak tahu jika aku akan dijebak seperti itu” jelasnya.

“Siapa wanita itu?” tanyaku lagi.

“Namanya Han Ji Won” jawab Jin hyung.

“Mwo?! Ji Won noona katamu?” kataku tidak percaya.

Jin hyung hanya menganggukkan kepalanya lalu menghadapkan tubuhnya ke tembok. Dia bersiap untuk tidur. Aku yang masih menganga tidak percaya dengan perkataan Jin hyung barusan. Bagaimana tidak? Ji Won noona merupakan wanita tercantik di sekolah ini.

“Mengapa kau tidak menyukainya hyung?” tanyaku.

“Diam kau bodoh. Cepat tidur, besok masih harus masuk sekolah” jawabnya.

Aku diam dan berusaha untuk tidur.

“Tae, ireona!” suara bising di telingaku mulai terdengar.

“Taehyung-ah, ireona!” suara itu lagi.

“Kim Taehyung bodoh, ireona!” teriaknya.

Aku mengerjapkan mataku dan melihat siapa yang menganggu mimpi indahku. Lagi dan lagi itu adalah Jin hyung. Ingin rasanya aku memaki dirinya, hanya saja dia adalah sunbaeku dan aku harus bersikap sopan padanya.

“Sudah bangun hyung. Kau diamlah” ketusku.

“Bangun dan cepat mandi!” perintahnya.

Aku mengambil ponselku dan melihat sekarang sudah pukul berapa. Masih jam 6 pagi dan sekolah baru akan masuk jam 8 pagi. Dia memang gila menyuruhku mandi jam segini.

Dengan malas aku melihat Jin hyung yang sudah siap dengan seragamnya. Aku mengamatinya lekat – lekat. Tumben sekali dia sudah siap sepagi ini.

“Kau mau kemana hyung?” tanyaku.

“Bertemu dengan Seomi” jawabnya.

“Untuk apa kau bertemu dengannya?”

“Menjelaskan semua kesalah pahamannya tentang aku dan Ji Won tempo hari. Ini permintaan dari Hana, jika aku tidak menurutinya dia akan melakukan hal gila lagi. Aku tidak suka itu” jelasnya sambil memakai jas sekolah kami.

“Ah… fighting hyung” kataku menyemangatinya.

Aku mengambil pakaian ganti dan masuk ke kamar mandi. Aku membuka kran shower dan membasahi tubuhku dan rambutku. Cukup lama aku mandi kini aku keluar dari kamar mandi dan berpakaian. Masih dengan aktivitasku yang mengeringkan rambutku dengan handuk.

Setelah di rasa rambutku cukup kering, aku memakai seragam sekolahku. Lalu memakai jas sekolahku. Aku melihat pantulan diriku di cermin. Menyisir rambutku dan memakai sedikit parfum.

“Aku masih tetap tampan seperti biasanya” kataku sambil tersenyum di depan cermin.

Aku mengambil ranselku dan berjalan keluar dari kamarku. Berjalan di koridor asrama laki – laki menuju kantin untuk membeli sarapan. Aku mengotak – atik ponselku dan tersenyum dengan sendirinya melihat berita lucu yang sedang di abaca.

BRUKK

Seseorang menabrakku dan membuat ponselku terjatuh di lantai. Aku mengambil ponselku dan melihat keadaan ponselku. Dan benar dugaanku bahwa casing ponselku pecah. Sangat sulit untuk membeli casing yang baru terlebih lagi saat ini aku sedang menabung untuk membeli sepatu baru.

“Apa kau jalan tidak pakai mata huh?” ucapku dengan penuh emosi.

“Kau lagi?!” pekikku saat melihat gadis di hadapanku.

“Ma.. maafkan aku sunbaenim. Aku tidak sengaja” dia bersuara.

“Kau hanya bilang maaf? Apa kau tidak tahu casing ponselku pecah huh? Kau fikir ini harganya murah hah?” kataku dengan penuh emosi.

“Maafkan aku sunbaenim. Aku benar – benar tidak sengaja” dia masih terus saja membela diri.

“Kata maaf saja tidak cukup buatku!” bentakku.

Dia menatapku dengan tatapan rasa bersalahnya dan matanya berkaca – kaca. Oh Tuhan sebenarnya aku tidak tega dengan seorang gadis, tapi dia telah menghancurkan benda kesayanganku. Aku tidak bisa memaafkan hal itu.

“Park Sera? Itu namamu kan?” tanyaku.

“Ne sunbaenim… sungguh aku minta maaf sunbaenim” dia menundukkan kepalanya.

“Kau harus mengganti ini” kataku sambil menunjukkan ponselku yang bentuknya sudah sangat jelek itu.

“Tapi aku tidak punya uang banyak sunbaenim” dia menatapku.

Aku tersenyum licik padanya.

“Kalau begitu kau harus menggantinya dengan yang lain”

“De-dengan yang lain?” Tanya Sera.

“Ya dengan yang lain. Kau harus menuruti apa kemauanku. Apapun itu dan tidak ada penolakan sedikit pun” kataku dengan senyum sinisku.

“Maaf sebelumnya sunbaenim, tapi aku sibuk. Dan aku masih harus bekerja paruh waktu dan belajar. Jika memang aku harus menuruti apa kemauanmu, kau harus mengerti jika aku sibuk” jelasnya.

“Apa kau sedang melakukan penolakan halus padaku? Atau kau sedang membuat sebuah kesepakatan padaku?” aku berjalan ke arahnya.

“Me.. membuat sebuah kesepakatan padamu sunbaenim” katanya gugup.

“Kau harus tahu satu hal dariku, aku tidak suka yang namanya kesepakatan. Camkan itu, Sera-ssi. Kau harus menuruti apapun kemauanku tanpa ada penolakan atau kau harus mengganti ponselku? Kau tahu kan ponselku ini tidak murah harganya?” kataku dengan senyumku yang terus mengembang dengan liciknya.

“KIM TAEHYUNG!” seru seseorang yang mengacaukan suasana.

“Sial!” decakku.

 

TO BE CONTINUE…

Hallo chapter 3 sudah update, jangan lupa komentar dan like nya ya hehe

Kamsahamnida reader-nim :*

5 responses to “The Destiny – Chapter 3

  1. Bagus unnie, menurutku jalan ceritanya udah jelas, dan tertata rapi, tp terlalu mendetail, jdi udh buanyakk tp ceritanya majunya cuma dikit.. hehehe ^^
    Tp udah bagus kok unnie! Fighting!♥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s