Time 2/2

Time cover

Title : Time

Author : Mrs. Bi_Bi

Main Cast : Cho Kyuhyun, Oh Joon Ae (OC)

Another Cast:  John Lee (OC), Kim Hye Rin (OC), Choi Mi Young (OC)

Genre : Drama

Rating : PG

Length : Twoshot

.

.

.

.

.

-oo—ooooooo-

.

.

.

.

Disebutkan, hal paling menyakitkan adalah mempercayai manusia—dan Joon Ae setuju, baru saja.

Disebutkan pula, hal paling menyakitkan adalah menyesal—dan Kyuhyun setuju,  baru saja.

-oo—ooooooo-

 

*Cut

Joon Ae.  Joon—Ae.  Oh… Joon… Ae.  Joon Ae.  Sebut Kyuhyun dalam hatinya terbata seolah anak kecil yang baru bisa membaca.  Baru sekali itu, Kyuhyun tersadar dengan menyebut nama Joon Ae dalam hatinya bersama Hye Rin yang masih meracau tidak jelas akan segala kenikmatan yang diperolehnya—pria itu mengerutkan keningnya. Jika aku mengatai Joon Ae pelacur karena tidur bersama John Lee saat masih menjadi istriku, lalu aku ini apa?  Yang hampir meniduri wanita lain saat belum sah bercerai dengannya.  Pantaskah aku berkata bahwa aku lebih baik darinya?

 

 

 

“Sudah.”  Pandangan gelap langsung tampak menutupi keadaan menjijikkan didepan Joon Ae bersama suara berat yang berasal dari tangan pria yang menutup matanya dari kelakuan Kyuhyun.

Pria itu, John Lee, yang takut terjadi sesuatu hingga membahayakan Joon Ae menyusul dan penampakan mobil Siwon, kakak Joon Ae makin membuatnya was-was hingga menyusul Joon Ae secepatnya dan mendapatkan hal mengejutkan yang juga mengejutkan Joon Ae.  Bodohnya Joon Ae, bukannya pergi atau memaki mereka—justru menonton hingga sejauh ini.

Membalik tubuh lemas Joon Ae cepat masih dengan sebelah tangannya yang menutup kedua mata Joon Ae,  pria itu arahkan kedua tangannya kemudian pada kedua telinga Joon Ae setelah pandangan wanita itu berganti dengannya.  Gelengan kepala pelan John Lee pada Joon Ae yang sudah menangis dihadapannya tanpa suara tampak, menatap wanita itu pilu—John Lee tidak memiliki satupun kata penenang kecuali,  “Kakakmu sudah ada dibawah.  Sebaiknya kau cepat turun sebelum dia tahu apa yang terjadi disini dan membakar seluruh gedung ini beserta isinya.”

Joon Ae mengangguk pada John Lee, tampak menguatkan dirinya sendiri—wanita itu segera menghapus air matanya dan melangkah bersama John Lee yang masih menggandeng tangannya seolah menguatkan.

Bagi Joon Ae, kisahnya bersama Kyuhyun sudah berakhir meski ada bayi kecil dalam perutnya.  Bagi Joon Ae, ini adalah terakhir kalinya ia menginjakkan kaki di apartment ini dan tidak akan pernah ada lagi kisah antara Kyuhyun dan Joon Ae.  Selamanya, tidak akan pernah ada.

 

 

-oo—ooooooo-

Duduk berhadapan dengan Siwon—kakaknya, yang Hye Rin katakan bagai iblis, jujur saja tidak begitu Joon Ae suka.  Hampir setahun ia tidak bertemu dengan Siwon dan sialnya—kenapa ia harus kembali bertemu dalam keadaan macam ini?   Kenapa harus bertemu dalam keadaan yang membuatnya sesak hingga tidak bisa bernafas dengan bongkahan batu tidak tampak yang seolah berada di lehernya?

 

AKU PASTI AKAN BAHAGIA BERSAMA KYUHYUN!  PASTI!

 

Teriakan berpadu tangisnya setahun lalu merasuk tiba-tiba dalam pendengaran Joon Ae hingga membuatnya makin tertunduk lemas dan matanya terpejam begitu saja seolah ingin lupakan semua bayangan menyakitkan yang dirinya sesalkan juga benci.  Muncul dihadapan Siwon dengan wajah penuh bahagia, itulah yang Joon Ae mau.  Tapi coba lihat saat ini, jangankan tawa—senyum dan sorot bahagia saja bahkan tidak ada.

“Maafkan aku.” Ucap Joon Ae penuh penyesalan tanpa sekalipun berani menatap Siwon yang menarik wajahnya dari lembar kertas putih ditangannya, menatap adik satu-satunya itu pilu dengan emosi yang bahkan tidak mau ditampakkannya dan hanya bisa ia tahan hingga wajahnya memerah.

 

 

Siwon menggeleng pelan dengan bibir terlipat kedalam dan tangan bergetar masih dengan lembar kertas yang John Lee tunjukkan padanya hingga memukul Joon Ae atau memakinya sebagaimana dulu, dirinya tidak bisa.  Siwon hanya tidak mengerti dan tidak tahu.  Banyak.  Entah, bagaimana harus menjelaskannya dan bagaimana harus memulai kisah ini dari awal yang bahkan ia sendiri terluka sejak awal kedekatan adiknya bersama pewaris keluarga Cho itu.  Melihat keadaan adiknya yang baginya lebih menyedihkan, Siwon menyalahkan dirinya sendiri.  Kenapa dirinya tidak menghalangi Joon Ae lebih keras untuk menjauhi pria tidak bisa dipercaya macam itu? Kenapa dirinya membiarkan Joon Ae setahun ini begitu saja tanpa mau melihatnya hingga kemudian berakhir mengenaskan seperti ini?  Bagaimana pula dirinya begitu keras hati hingga menutup semua komunikasinya dengan Joon Ae sebab kecewa?

Harusnya, dirinya tidak meninggalkan Joon Ae.  Harusnya, dirinya tidak biarkan dan abaikan Joon Ae.  Harusnya, dirinya tidak biarkan kecewa dan luka hatinya membesar hingga berusaha melupakan Joon Ae.  Harusnya ia tidak begitu, harusnya ia tetap di sisi Joon Ae apapun yang terjadi.  “Aku bingung.”  Sebut Siwon hampir berbisik.  Pria itu tidak menatap Joon Ae, hatinya terlalu sakit melihat keadaan adiknya yang bahkan tidak membawa apapun selain apa yang tubuhnya kenakan.  “Aku rasa aku telah mendidikmu dengan benar seperti yang daddy dan eomma inginkan.  Aku juga sudah lakukan semua yang terbaik untukku.  Aku menjagamu sebisaku, mencintaimu sebanyak yang hatiku miliki, bersamamu tanpa ingin kau rasakan apa yang pernah aku rasakan saat appa-ku dan eomma berpisah hingga kemudian aku sendiri.  Semua yang aku lakukan untukmu, demimu, dan karenamu.  Kau adikku meski kau tidak akui itu.”

“Bukan begitu oppa—“

“Aku pikir—.”  Potong Siwon pias dengan pandangan kosong pada ucapan bergetar Joon Ae bersama isak yang sudah terdengar tanpa berusaha ditutupi seperti tadi.  “Aku pikir kau menganggapku seperti bagaimana aku menganggapmu.  Apa yang kau inginkan aku penuhi.  Permintaanku padamu hanya satu, begitupun keinginanku atasmu.  Aku hanya memintamu untuk bahagia, dan menginginkanmu bahagia.  Berkali-kali aku katakan bahwa Kyuhyun tidak pantas untukmu.  Jika kau inginkan seorang pewaris dan karena itu kau ingin Kyuhyun, aku berikanmu bangsawan Eropa tapi kau tidak mau.  Jika kau inginkan seorang dengan suara bagus dan karena itu kau inginkan Kyuhyun, aku berikanmu seorang pelaku seni terkenal tapi kau juga menolaknya dan lebih memilih Kyuhyun.  Tanpa memikirkanku, kau pergi bersamanya setahun lalu dengan kalimat aku pasti bahagia dengannya.  Katakan dimana salahku, Joon Ae-ya.  Kau bernasib macam ini, membangkangku, berkata akan bahagia tapi kenyataannya tidak dan coba lihat keadaanmu.  Pria itu mencampakkanmu bukan seperti perkataanku dulu yang tidak mau kau dengar.  Katakan dimana salahku hingga kau tidak mau mendengar semua permintaan dan keinginanku.  Katakan apakah aku salah jika aku mengatur hidupmu?  Katakan dimana salahku hingga kau membangkangku.  Apa karena aku bukan kakak kandungmu maka kau tidak percaya padaku?  Begitu?”

“Tidak!  Tidak oppa, tidak—”  Pekik Joon Ae segera menjatuhkan dirinya dihadapan Siwon dan bahkan memeluk kedua kaki pria yang masih duduk seperti tadi dengan meremas kertas dalam genggamannya geram.  “Kau tidak salah apapun.  Tidak oppa, aku tidak pernah melihatmu sebagai orang lain.  Aku tidak pernah berpikir ke arah sana.  Jangan pernah berucap seperti itu lagi aku mohon.  Kau oppa-ku, aku mohon jangan bicara begitu lagi.”  Geleng Joon Ae cepat dengan tangis menjadi di sela kaki Siwon yang makin dipeluknya erat.  Joon Ae sakit, hampir menyamai Siwon andai itu bisa diukur.  Wanita dengan rambut indah itu masih menangis, memeluk kaki Siwon bagai mengemis dan apa yang pria itu tadi katakan lebih menyakitinya dibanding melihat langsung apa yang tadi Kyuhyun lakukan.  “Aku yang salah karena tidak menurutimu.  Aku yang bodoh karena lebih memilihnya.  Kau tidak salah apapun.  Kau oppa-ku, kau oppa-ku dan bukan orang lain.”

“Aku hanya ingin kau bahagia.”

“Aku tahu.”  Angguk Joon Ae dengan segala penyesalan yang bahkan tidak ia ketahui bagaimana memperbaikinya.  “Aku yang salah karena buta akan cinta.  Aku yang salah oppa, jangan salahkan dirimu.  Aku yang salah, aku yang bodoh, aku oppa.”

“Aku hanya tidak mengerti—.”  Ulang Siwon menggeleng tanpa keinginan untuk menatap Joon Ae yang masih duduk bersimpuh dihadapannya sambil menangis.  “Kau bilang kau pasti akan bahagia.  Kau bilang dia adalah pria yang tepat dibanding pria-pria yang aku tunjukkan padamu.  Kau bilang kau tidak akan menyesal dan menunjukkan hdup bahagiamu padaku.  kau bilang sudah dewasa dan bisa tentukan jalan hidupmu sendiri.  Tapi kenapa kau begini?  Apa begini hidup bahagia yang kau maksud hingga meninggalkanku hanya untuk pria yang bahkan belum kau kenal dalam separuh hidupmu?”  Ujar Siwon bagai menyindir, memperhatikan keadaan menyedihkan adiknya yang tidak mau ia lihat lagi.  “Aku membesarkanmu bukan untuk ini, aku mendidikmu bukan untuk berakhir macam ini, aku memberikan semua yang kau mau bukan untuk berakhir macam ini.  Aku bahkan tidak mengenalmu.  Coba katakan padaku, siapa kau?  Siapa aku?  Siapa kita?”

“Oppa mianhe—.”  Runduk Joon Ae makin terisak dengan kedua tangan yang menggenggam sebelah tangan memerah Siwon, menangis dihadapan pria yang bahkan memalingkan muka tidak suka dengan pemandangan dan keadaan macam ini.  “Aku janji ini adalah yang pertama dan terakhir kalinya.  Aku janji ini tidak akan terjadi lagi.  Aku janji akan jadi adik yang kau inginkan.  Aku janji tidak akan lemah lagi.  Aku janji akan menuruti semua keinginanmu.  Aku janji akan menjadi Isabelle yang sebelumnya, aku janji oppa, aku janji….. aku mohon, aku janji ini yang terkahir kalinya.”

“Kau pernah membohongiku.  Bagaimana aku bisa percaya lagi padamu?”  Tanya pria itu melepas genggaman Joon Ae dari tangannya.  “Kau sedang hamil dan kau katakan bahwa kau akan menjadi adikku seperti sebelumnya?”

“Aku akan menggugurkannya.”

“Apa?”

Joon Ae menaikkan pandangannya, menatap Siwon dengan mata memerah namun tajam dan penuh keyakinan.  “Aku akan gugurkan bayi ini jika itu yang kau inginkan.”

 

 

Katakan bahwa Joon Ae kejam, katakan pula bahwa Joon Ae tidak memiliki perasaan, atau bahkan katakan juga bahwa Joon Ae se-iblis kakaknya.  Namun apa lagi yang bisa Joon Ae lakukan untuk mengembalikan kakaknya seperti dulu?  Apalagi yang bisa Joon Ae lakukan agar Siwon memperlakukannya seperti sebelumnya?  Apalagi yang bisa Joon Ae lakukan untuk menebus salahnya pada satu-satunya keluarga yang ia miliki dan satu-satunya orang yang mencintainya lebih dari apapun ini?

“Aku mohon, beri aku kesempatan.”  Emis Joon Ae menangkup kedua tangannya dihadapan Siwon yang bahkan memandangnya lagi saja tidak.  “Aku hanya punya kau, aku tidak memiliki siapapun.  Aku mohon oppa, maafkan aku.  Aku janji akan turuti semua maumu.  Aku mohon, aku mohon…”  Melas Joon Ae makin menyayat dan Siwon tidak sekejam itu pada satu-satunya adik yang ia miliki.  Membiarkan Joon Ae makin menyedihkan, Siwon akan membenci dirinya sendiri untuk itu.  “Berdiri.  Tempatmu bukan dibawah kakiku.”

 

Bukannya senang, Joon Ae justru merunduk dan makin terisak dengan tangan memeluk kembali kaki kakaknya erat tanpa satu halangan-pun, atau cegahan dari Siwon.  Pria itu memalingkan wajahnya, menopang dagunya dengan sebelah tangan yang juga menutup bibirnya dan menahan isaknya seperti Joon Ae tadi, mengedipkan mata beberapa kali dengan harapan bahwa cairan yang menggenang disana tidak akan pernah mengalir namun tampaknya percuma.  Cairan bening itu lolos begitu saja dari kedua mata tajam Siwon untuk pertama kalinya.

 

 

-oo—ooooooo-

Entah memang ada hubungannya atau tidak dengan Siwon seperti kata Hye Rin bahwa pria itulah yang menghancurkan segala kenyamanan dan ketenangan keluarga Cho baik luar maupun dalam, namun yang jelas—bersama dengan keputusan cerai Kyuhyun dan Joon Ae yang terus bergulir hingga hari ini, segala kenyaman yang dulunya tiba-tiba menghilang dari keluarga Cho—perlahan kembali.

Tuan Cho tertawa lebar, begitu kencang hingga siapapun yang mendengar akan langsung bisa menebak bahwa ia sangat bahagia.  Dihadapan beberapa petinggi perusahaannya yang kembali mendukungnya seperti dulu, grafik perusahaan yang terus meningkat bahkan melonjak naik—berhasil membuat kerutan diwajah tuanya selama hampir setahun kemarin menghilang seolah ia kembali muda.

Kyuhyun duduk di salah satu kursi terdekat dengan appa-nya yang masih bertahan dengan tawanya diikuti hampir semua orang dalam ruang rapat itu yang ikut bahagia.  Pria paling muda diantara semua orang dalam ruangan itu tidak menunjukkan satupun tawanya seperti yang lain.  Kyuhyun tertunduk, seolah menahan dan bahkan menanggung beban berat.  Padahal, jika dipikir-pikir…. tidak ada hal berat akhir-akhir ini hingga ia perlu menampakkan wajah tanpa jiwa macam itu.  Beberapa kasus tidak masuk akal yang diseret ke pengadilan dan merusak citra perusahaan, menghilang dan selesai begitu saja bahkan tanpa keputusan kecuali bahwa semua itu sudah selesai.  Pelanggan yang dulu tiba-tiba meninggalkan semua produk keluaran perusahaan Cho Corp. juga sudah kembali datang dan bahkan penjualan yang kini terjadi melebihi hasil dari penjualan-penjualan selama ini.  Kolega bisnis, investor yang menarik modalnya, kontrak perusahaan yang tiba-tiba diputus sepihak, tidak ada lagi.  Semuanya kembali seperti semula bahkan lebih, semuanya telah kembali seperti dulu dan bahkan dengan semua itu tidak perlu Kyuhyun merengutkan kening mulusnya bukan?  Apalagi—perceraian yang diinginkannya akan segera selesai, hari ini adalah sidang putusan yang sudah pasti akan mengesahkannya berstatus duda dan kurang dari dua bulan, dirinya akan bersanding bersama Hye Rin…. wanita yang orang tuanya inginkan menjadi pendampingnya sejak dulu namun terhalang saat ia bertemu Joon Ae.

Mengingat Joon Ae, atau memang kening berkerutnya memang sebab kepala pintarnya selalu mengingat Joon Ae… Kyuhyun merindukan wanita itu tiba-tiba.  Bagaimana kabarnya?  Aku merindukannya.  “Astaga apa yang aku katakan?  Dasar bodoh!”

“Kyu?”  Tuan Cho menoleh pada putranya setelah gugaman beradu kepalan tangan memukul meja lumayan kencang hingga mengagetkan semua orang disana.  “Kau ada masalah?”  Tanyanya menyentuh pundak Kyuhyun saat pria yang di ajaknya bicara itu bahkan masih menundukkan kepalanya tanpa satupun respon.  “Kyu?”

“Hm?”  Toleh Kyuhyun, pada appa-nya, juga pada beberapa orang disana yang menjadikannya tontonan.  “Bagaimana, appa—?”

Pria itu bertanya canggung dan ragu, melihat sekitar dengan pandangan heran dan tidak mengerti.  Tuan Cho kembali tertawa, menepuk perlahan pundak anaknya yang masih kebingungan dan tidak mengerti tentang semua hal di dalam sana.  “Kau ini.  Apa sih yang kau pikirkan hingga menggebrak meja?”

“Ne?”  Kyuhyun mengerutkan keningnya lagi, melihat appa-nya masih sebingung tadi dan arahan mata Tuan Cho pada tangannya Kyuhyun ikuti, melihat kedua tangannya yang masih terkepal di atas meja dengan erat.  “Oh ma—maaf.”  Tunduk pria itu seolah sadar dengan sikapnya tadi pada beberapa orang disana yang justru tersenyum makin kencang.

“Sepertinya Tuan Muda kita hilang konsentrasinya karena terlalu bahagia mendekati hari pernikahan.”  Ujar salah seorang dengan kaca mata lebar yang membingkai wajah keriputnya.

Kyuhyun tersenyum canggung, membungkukkan badannya sedikit dan kembali meminta maaf atas sikapnya tadi.

“Sulit untuk memisahkan apakah Tuan Muda kita bahagia karena perusahaan yang kembali berkembang, atau karena pernikahannya yang makin dekat.”

“Ya… ya… itu benar.”

“Khm….”  Potong Tuan Cho agak nyaring hingga mereka kembali melihatnya dengan tawa yang masih terdengar.  “Kurasa pertemuan dan acara menggoda anakku sudah selesai.”  Tuturnya seolah bercanda dan beberapa orang dihadapannya segera menutup map mereka masing-masing dengan tawa tersisa.  “Terimakasih untuk rapat hari ini.”  Tutup Tuan Cho pelan bersama mereka yang langsung pergi dengan anggukan sopannya hingga hanya menyisakan dirinya dengan Kyuhyun yang sengaja ditahan agar tidak keluar mengikuti mereka semua.

 

Hela nafas panjang Kyuhyun terdengar.  Seolah membuka topeng baik-baik sajanya, pria yang ikut tersenyum dan memasang wajah senang itu kembali memasang wajah kusut seperti ketika Tuan Cho belum menegurnya tadi.

“Ada apa?”  Tanya Tuan Cho menatap putra satu-satunya itu.  “Apa yang kau pikirkan?  Appa dengar umpatanmu tadi.  Siapa yang bodoh Kyu?”

“Aku.”  Jawab Kyuhyun membalas pandangan appa-nya masih semenyedihkan tadi.  “Hari ini putusan akhir sidang perceraianku.”

“Lalu?”

“Aku tidak sanggup datang dan bertemu Joon Ae.”

“Kau tidak akan datang?”

“Kami harus datang dan bertemu untuk mendengar putusan akhir, juga menandatangani berkas pengesahan cerai.”  Ucap Kyuhyun meloloskan beberapa masalah hatinya.  “Aku tidak sanggup melihatnya sebagai mantan istriku dan kemudian mendengar berita pernikahannya bersama pria lain.”

“Kau sangat mencintainya?”  Tanya Tuan Cho penuh rasa bersalah pada putranya yang langsung meninggikan dua alisnya sembari menarik nafas dalam.

“Tidak ada gunanya cintaku.”

“Kau tahu kenapa appa tidak menyetujui hubunganmu dan Joon Ae?  Kenapa appa sangat menentang keras hubungan kalian?”

Kyuhyun meluruskan pandangannya tajam pada Tuan Cho.  Kepala pria itu menggeleng, berapa kalipun dirinya berpikir kenapa appa-nya yang begitu lembut dan tidak pernah menolak keinginannya sangat menolak keras hubungannya bersama Joon Ae tanpa satu alasanpun yang terjawab.  Langsung menolak Joon Ae pada hari pertama Kyuhyun mengenalkannya dan Joon Ae bahkan belum ada 10 langkah memasuki rumahnya.  Appa juga eomma-nya langsung mengusir Joon Ae ketika itu, berteriak padanya agar meninggalkan Joon Ae.  Tanpa alasan, tanpa pengertian kenapa, bahkan tanpa satu kesalahan Joon Ae pada mereka.  Kini, appa-nya ini seolah ingin memberitahukannya alasan dari penolakannya dulu dan sumpah, haruskah?  Untuk apa pula dirinya tahu sementara hubungannya dan Joon Ae berakhir?

“Untuk apa aku tahu?  Semua itu sudah tidak penting.”

“Kami, appa dan eomma melindungimu Kyu.”

“Apa?”  Kyuhyun makin tidak mengerti.  Pusing dalam kepalanya seolah bertambah berkali-kali lipat saja dengan ucapan appa-nya ini.  “Melindungiku?  Dari?  Joon Ae?”

“Bukan.”  Tolak cepat Tuan Cho.  “Siwon, kakaknya.”

“Maksud appa?”

“Jika orang lain berkata bahwa hidup tidak semudah membalik telapak tangan, maka Siwon adalah satu-satunya orang yang dengan mudah membalik hidup seseorang seperti ketika dia membalik telapak tangannya.  Appa takut kau mengecewakan Joon Ae dan kemudian dia mengadu pada kakaknya itu, appa takut kau tidak menjaga Joon Ae dengan baik dan andai itu terjadi maka kita semua akan hancur.  Bukan appa tidak menyukai Joon Ae, tapi usia kalian terlalu dini untuk serius apalagi untuk pria macam kita yang bahkan masih melihat kanan kiri.  Appa khawatir padamu, khawatir Siwon akan lakukan hal lebih buruk padamu dibanding saat itu andai kau membuat Joon Ae terluka.  Kalian berpisah, dan itu semua karena salah Joon Ae…. meski terdengar jahat tapi appa bersyukur.”

“Eomma bilang kebangkrutan kita selama hampir setahun kemarin karena kakak Joon Ae.  Apa itu benar?”

“Kau bisa lihat, kan?  Bagaimana perubahan drastis kita setelah kau berpisah dengannya?”

“Tidak mungkin—.”

Seru Kyuhyun pendek menolak kenyataan yang baru saja appa-nya katakan.  Sejauh yang Kyuhyun tahu dari cerita Joon Ae, kakaknya bukanlah pria macam itu.  Kakaknya adalah seorang pria terhormat, begitu kata Joon Ae. Bahkan meskipun pria itu juga menolaknya keras tanpa alasan, Kyuhyun tetap tidak percaya bahwa apa yang appa-nya katakan adalah benar.  Menghancurkan perusahaannya, kehidupan keluarganya?  Selama setahun kemarin dirinya bahkan tidak pernah melakukan hal buruk pada Joon Ae, lalu bagaimana bisa semua dihubungkan dengan kakak Joon Ae?

“Meski aku pernah hampir mati di tangan Siwon-ssi, tapi Joon Ae bilang bahwa sebenarnya Siwon-ssi adalah seorang pria lembut dan bersih.  Tidak mungkin semua yang terjadi pada perusahaan kita selama ini adalah karenanya.  Ini hanya kebetulan appa.”

“Kau mempercayai Joon Ae?  Sampai saat ini kau tetap percaya dia bahkan setelah apa yang dilakukannya padamu?  Kau sadar Kyu?”

 

Percaya?  Kyuhyun menggeleng, dirinya tidak percaya pada Joon Ae.  Hanya… hanya, hanya saja Kyuhyun…  “Tidak.”  Jelasnya lemah dan bangkit, keluar dari ruang rapat dengan wajah pias dan kepala penuh dengan isi—kau percaya padanya Kyu?  Setelah semua yang dilakukannya?  Hingga saat ini, bagaimana bisa kau masih mempercayainya?

 

 

-oo—ooooooo-

Hari tidaklah terlalu mendung awalnya.  Pagi tadi langit biru masih tampak bahkan dengan perut besarnya, Joon Ae menyiram bunga di halaman belakang rumah yang baru dibelinya beberapa bulan lalu itu dengan riang.  Tapi sama dengan keadaan tiba-tiba yang menghancurkan rumah tangganya, cuaca saat ini-pun berubah seolah mempertontonkan pertunjukannya pada Joon Ae.

Tengah hari, saat matahari cerah tertutup awan gelap seolah menggiring pertemuan pertama Kyuhyun dan Joon Ae setelah beberapa bulan panjang tidak bertemu hingga hari tampak akan hujan dan seolah menangisi berakhirnya hubungan mereka, terjadi.

Kyuhyun tiba lebih dulu, tidak sendiri—pria itu bersama pengacaranya juga Hye Rin yang selama beberapa waktu ini memang tidak pernah jauh darinya.  Wanita bertubuh mungil dengan tampilan terbuka itu menggandeng lengan Kyuhyun tanpa niatan Kyuhyun untuk membalas rangkulan atau sekedar tersenyum.  Dibiarkannya Hye Rin lakukan apapun yang dia suka, dan angin yang entah datang darimana—menyapa tubuhnya, menerbangkan rambut panjang Hye Rin juga file perceraian di tangan Kyuhyun hingga berceceran di halaman pengadilan.

 

 

Audi berwarna hitam yang saat itu datang ketika Kyuhyun dibantu Hye Rin dan pengacaranya memungut lembaran berkas-berkas perceraian, muncul memasuki area parkir terbuka pengadilan.  Memarkirkan mobilnya tidak jauh dari milik Kyuhyun hingga ketika sosoknya muncul langsung dapat Kyuhyun lihat apalagi pria itu memang masih ada di halaman pengadilan, membuatnya tertegun.

Exclusive... 50894884 Couple Megan Fox and her husband Brian Austin Green stopping by a doctors office to have a check up on their unborn baby in Los Angeles, California on September 23, 2012. Afterwards they stopped for a quick bite to eat. Brian tried shielding Megan's ever growing baby bump with an umbrella but was unsuccessful. Couple Megan Fox and her husband Brian Austin Green stopping by a doctors office to have a check up on their unborn baby in Los Angeles, California on September 23, 2012. Afterwards they stopped for a quick bite to eat. Brian tried shielding Megan's ever growing baby bump with an umbrella but was unsuccessful. FameFlynet, Inc - Beverly Hills, CA, USA - +1 (818) 307-4813

 

 

 

Joon Ae, turun dari mobil dengan segala keadaannya saat ini yang sama sekali tidak Kyuhyun sangka.  Sama hal-nya seperti tokoh pria yang menatapnya tanpa berkedip, Joon Ae juga berpandangan dengan Kyuhyun setelah hampir setengah tahun ini tidak bertemu dan hanya mengetahui segalanya melalui pengacara, itupun hanya berbatas tentang proses dan segala hal menyangkut perceraiannya.  Bagaimana keadaan Kyuhyun, seperti apa rupanya, tidak Joon Ae tahu.  Hari ini, ketika dirinya turun dari mobil—dengan pakaian yang membuatnya nyaman tanpa peduli tempat, wanita itu masih menyembunyikan sinar matanya dari balik kaca mata hitam yang dikenakan dan berpandangan dengan Kyuhyun yang memandangnya tidak percaya hingga berkeringat dingin.

Pria itu—Kyuhyun, berdiri kaku diantara Hye Rin dan pengacara yang mengikuti arah pandangnya saat itu juga.

Joon Ae mendengus sinis ketika melihat Hye Rin yang menatapnya tajam dan langsung menggandeng tangan pria berstatus calon mantan suaminya itu.  Meminggirkan rambut panjangnya yang menghalangi pandangan, Joon Ae berdiri seolah kali ini ia tidak memiliki ketakutan atau kesakitan seperti beberapa bulan lalu.  Disampingnya, pengacaranya berdiri dan disampingnya lagi, John Lee yang selalu menemaninya sebagai bentuk rasa bersalah meski sudah berulang kali Joon Ae katakan bahwa tidak perlu pria itu memperlakukannya macam ini, berdiri.

Bagai seorang peng-eksekusi, bersamaan Joon Ae, John Lee, dan pengacaranya berjalan beriringan dengan pandangan dingin dan tajam tanpa sedikitpun goyah meski kedua sinar Joon Ae tertutup oleh kaca matanya.

 

 

“Kau—ka—kau, ham—mil?”  Kyuhyun bertanya terbata, keluar begitu saja suaranya ketika Joon Ae yang di apit oleh dua pria beda usia berjalan mendekatinya, bukan mendekatinya sebenarnya—hanya saja, tidak ada jalan yang bisa mereka tempuh untuk menuju gedung pengadilan kecuali tempat dimana saat ini Kyuhyun berada.

Melirik Kyuhyun dengan wajah dingin yang tidak terbaca bersama kaca mata yang masih melekat, Joon Ae menunduk sejenak, melihat arah perutnya yang makin besar dan menoleh pada Kyuhyun.  “Ya.”

“Anak siapa?”

“Kau.”

“Hu—uh?”

“Jangan percaya Kyu!”  Hye Rin, wanita yang hingga kini tidak Joon Ae ketahui namanya itu langsung berteriak dan pasang badan.  Menggeser tubuhnya kehadapan Kyuhyun hingga bukan lagi berhadapan dengan Kyuhyun, Joon Ae bertatap muka dengan Hye Rin yang harus membuatnya menundukkan kepala.  “Dia pasti berbohong untuk membatalkan perceraian hari ini.  Jangan percaya!”

Joon Ae memutar matanya malas dari balik kaca matanya dan tanpa memperdulikan wanita itu, kembali Joon Ae langkahkan kakinya setelah sempat Kyuhyun hentikan tadi.

“Tunggu!  Joon Ae-ya!”  Teriak Kyuhyun cepat tanpa peduli pada Hye Rin, menarik Joon Ae cepat yang hendak pergi hingga kembali menghentikan langkahnya.

Menatap Joon Ae dengan kedua alis hampir menyatu dan jantung berdebar, Kyuhyun bagai hampir menjadi patung etalase toko andai tidak segera berucap.  Pria itu bergetar tubuhnya, bibirnya bahkan terasa kelu dan lehernya tercekat hingga tidak tahu harus berucap apa selain,  “Be—benarkah ini anakku?”

“Jika kau tidak percaya maka jangan percaya.  Aku adalah pelacur, seperti yang kau katakan, seperti yang kau percaya.  Maka percayalah apa yang ingin kau percaya, Kyuhyun-ssi.”

“Kyu—hyun—ssi?  A—apa yang—.”

“Sudah berhenti.”  Potong Joon Ae cepat saat sebelah tangan Kyuhyun hendak menyentuh perutnya dan wanita itu melepas kaca matanya, membalas pandangan bingung dan sedih Kyuhyun dengan begitu dingin seolah Kyuhyun bukanlah siapa-siapa.

“Sudah aku katakan dia bohong KYU!”  Hye Rin berucap lagi, melepas pegangan Kyuhyun dari tangan Joon Ae dan memandang pria itu gusar.  “Kau lihat?  Dia bersama prianya datang kemari dan kau pikir mereka tidak bersama?  Kau percaya bahwa dia mengandung anakmu?”

 

 

“Yeobo…….”  Panggil Mi Young menarik perhatian seluruh mata disana dengan heran sebab teriakan kencangnya dengan kedua tangan melambai riang sangat menakutkan bersama langkah kaki cepatnya yang hampir berlari dan benar saja—wajah John Leesudah memerah sebab itu.  pria yang tampak tenang dan dingin itu mengeratkan kedua tangannya geram sebab Mi Young berlari kecil menuju arahnya dengan perut hampir menyamai besarnya milik Joon Ae dan itu bukan sesuatu yang menyenangkan baginya.

“Bisakah kau tidak lari?  Kau sedang hamil anakku, Choi Mi Young!”  Bentak John Lee langsung berlari  mendekati istrinya dengan langkah panjang dan Joon Ae tersenyum miris, dirinya tidak pernah mendapat kata macam itu, kalimat sekhawatir itu, dan pandangan semanis itu.  Hanya ada keheningan yang menemani kehamilannya sebab Siwon tidak juga mengajaknya bicara meski ketika dirinya kesakitan pria itu akan langsung datang dengan raut khawatir yang tidak pernah Joon Ae lihat sebelumnya.  Iri, sudah jelas Joon Ae iri dengan keadaan Mi Young saat ini yang hamil dan ditemani oleh suaminya.

Tidak ingin berlarut dengan pikiran menyedihkannya, dan Kyuhyun yang masih terkaget-kaget dengan apa yang kini ada dihadapannya hingga bagai orang bodoh—dengan sekali gerakan cepat pegangan Kyuhyun pada tangan Joon Ae terlepas dan wanita berjalan diikuti pengacaranya menuju gedung pengadilan yang tinggal beberapa langkah lagi.

 

 

Hye Rin tidak tahu bahwa akhirnya akan begini, wanita manis itu tidak tahu bahwa sama seperti setahun tahun lalu sebelum akhirnya Kyuhyun dan Joon Ae kabur dari rumah masing-masing untuk menikah, bahwa setelah pernikahannya batal dan Kyuhyun melukainya, kali inipun akan begini.  Jika dulu Kyuhyun lari dari sisinya dengan membawa Joon Ae menikah, maka kali inipun Kyuhyun lari sekencang yang dirinya tahu untuk mengejar Joon Ae dan bersimpuh dihadapan wanita itu, menundukkan kepalanya dengan kedua tangan mengepal erat dengan segala penyesalan dan pengertian masuk akan yang didapat, penjelasan terlambat akan apa yang terjadi dan itu tampak sudah tidak berguna namun bagi Kyuhyuh—ia akan lakukan apapun seperti dulu untuk mendapatkan Joon Ae lagi.  “Aku tidak mau bercerai.  Tidak bisa.  Aku mohon.  Aku mohon maafkan aku Joon Ae-ya, aku salah… aku mengaku aku salah.”  Pinta Kyuhyun mendongakkan pandangannya pada Joon Ae yang justru melihatnya risih dan Kyuhyun merinding untuk itu.

Senyum tipis Joon Ae berpadu pandangan sini muncul.  Melirik satu lagi mobil yang baru saja tiba dan terparkir di sebela mobilnya, Joon Ae menarik nafas panjang dan berujar— “Siwon oppa ada di dalam mobil, dia tidak mau turun karena terlalu malas melihat wajahmu.  Jika kau cukup punya nyali, datangi dia dan minta padanya untuk menyuruhku agar menerimamu.  Aku tidak akan pernah mengecewakannya lagi. Kyuhyun-ssi.”

“Jo—Joon Ae-ya, kumohon—kumohon maafkan aku…”

“Setelah kau mengataiku pelacur?  Setelah kau tidak mau sedikitpun meminta maaf untuk itu?  Setelah kau menutup mata dan telingamu untuk semua penjelasanku yang bahkan belum terucap?”

“Tapi kau juga bersalah!  KAU TIDAK KATAKAN APAPU PADAKU UNTUK BERKATA BAHWA KAU TIDAK MEMILIKI HUBUNGAN DENGANN PRIA ITU!”

“Kau tuli?”  Tanya Joon Ae membungkukkan badannya sedikit dengan air muka lebih dingin dan suara bergetar menahan emosinya.  “Saat pertama kali kau mendapatiku bersama John, bukankah sudah aku katakan bahwa kau salah paham tapi kau menamparku, memukul John, dan mengataiku pelacur?  Kau lupa Kyuhyun-ssi?”

“BERHENTI MEMANGGILKU BEGITU!”  Teriak Kyuhyun makin kencang hingga John Lee menoleh pada mereka.

Joon Ae tergelak bersama Kyuhyun yang mulai berdiri hingga mereka saling berpandangan lurus.  “Kau meniduri wanita lain saat pernikahan kita masih sah, kau merencanakan pernikahan dengan wanita lain bahkan saat status kita belum berakhir.  Apa aku memiliki alasan untuk bersamamu lagi?”

“Kumohon.”  Melas Kyuhyun dengan kepala yang mulai berdenyut sakit dengan semua kenyataan yang tiba-tiba muncul dan dirinya tidak siap untuk semua ini.  “Kumohon Joon Ae-ya, aku janji ini yang terakhir.  Aku janji tidak akan pernah lakukan ini lagi, kumohon…. tolong maafkan aku, aku janji tidak akan pernah salah paham padamu lagi, Joo Ae-ya aku mohon.”

“Itu yang aku katakan pada oppa.”

“A—apa?”

“Kata mengemis macam itu yang aku minta pada oppa-ku 7 bulan lalu.  Aku tidak akan pernah mengulanginya lagi oppa, aku janji akan jadi adikmu yang penurut, aku janji tidak akan mengecewakanmu.  Itu Kyuhyun-ssi, itu yang aku katakan pada Siwon oppa dan kau pikir, setelah apa yang kau lakukan padaku, aku masih akan lebih memilihmu dibanding oppa yang sudah bersamaku sejak kecil?  Aku bahkan tidak katakan pada oppa tentang makianmu dan perilakumu berselingkuh, kau harusnya bersyukur atas itu bukan?  Jika dia tahu apa yang kau lakukan padaku, apa kau pikir kau masih bisa bernafas atau berjalan seperti sekarang ini?  Jadi menjauhlah dari hidupku, jangan pernah berharap tentang hubungan kita seperti dulu lagi, atau jangan pernah berharap bahwa aku akan tinggalkan segalanya demi dirimu lagi seperti dulu.”

Kyuhyun tertunduk mendengar semua kata pasti Joon Ae.  Air matanya mengalir bebas dengan kedua tangan yang ia gunakan menutup wajahnya.  Joon Ae tidak akan pernah jadi miliknya kini, tidak untuk—  “Kita memiliki anak.  Kau ingin anak kita tidak memiliki ap—”

“Anakku.”  Potong Joon Ae secepat ketika tangannya memakai kembali kaca mata hitamnya dan menyentuh perut besarnya kemudian.  “Ini anakku, atau ini anakmu, bukan anak kita.”

“Jo—Joon Ae-ya…”

“Jangan gunakan bayi ini untuk mengikatku karena kau tidak akan bisa lakukan itu.  Jika kau ingin mengambil anak ini, maka ambillah.  Aku tidak akan keberatan untuk itu.  Kau tahu Kyuhyun-ssi, saat aku melihatmu meniduri Hye Rin di hari aku pergi dari rumah kita, saat itu aku sudah berjanji pada diriku sendiri atas nama oppa bahwa kisah kita sudah berakhir.  Bahwa tidak akan pernah ada Kyuhyun dan Joon Ae lagi.  Tapi jika kau ingin membuatku melanggar janjiku itu, kau datangi Siwon oppa dan minta dia untuk katakan padaku bahwa kita harus bersama.  Lakukan itu, buat itu terjadi, dan aku akan benar-benar kembali padamu.”

Kyuhyun kembali terduduk lemas dengan senyum miris dan wajah pias-nya dihadapan Joon Ae yang melanjutkan langkahnya tanpa bisa ia cegah lagi.  Menemui Siwon?  Terakhir kali mereka bertemu Siwon bahkan hampir membunuhnya.  Lalu jika kini dirinya menghampiri Siwon, meminta padanya agar berkata pada Joon Ae untuk membatalkan perceraian ini setelah semua yang dirinya lakukan, seperti kata Joon Ae tadi jika dia tahu apa yang kau lakukan padaku, apa kau pikir kau masih bisa bernafas atau berjalan seperti sekarang ini?

*FIN

 

 

(Anggap penampakan Megan Fox di atas sebagai Joon Ae -_-) maafkan untuk feel yang kurang ataupun ending terburu-buru

6 responses to “Time 2/2

  1. Sebenarbya gk tega
    Kasihan anakknya
    Semoga walaupun mereka hk bersama joon ae mencintai anaknya

    Yy jd pertnyaan benarkah siwon seperti yg dibicarakan ortu kyu
    Please seq nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s