[Ficlet] High School Love

High School Love

HIGH SCHOOL LOVE

 

starring
B.A.P Zelo as Choi Junhong
and
AOA Chanmi as Kim Chanmi

.

|| AU, Fluff, School Life, slight!ComedyFicletGeneral ||

.

[ ATATAKAICHAN ©2016 ]

 

 

Disclaimer:
The plot belongs to Atatakai-chan as the author of this fanfiction. Copying and republishing this work without the author’s permission is prohibited.

=====

“Flowers are blooming, it’s love story”
— High School Love / E-Girls

=====

Ujian tengah berlangsung. Setiap kelas diawasi oleh satu orang guru untuk memantau dan mencegah segala bentuk kecurangan ketika ujian berlangsung. Rupanya hal tersebut cukup membuat repot seorang siswa yang duduk di jejeran depan, Choi Junhong.

Kedua mata lelaki itu dengan lincah melirik ke kanan dan ke kiri, memantau balik sang pengawas ujian. Ia tengah mencari celah agar bisa menoleh ke belakang untuk menanyakan jawaban pada siswa lainnya.

‘Kesempatan bagus!’ Junhong berseru dalam hati ketika sang pengawas tengah berjalan menuju ke bagian belakang kelas. Segera saja lelaki yang tak pernah masuk rangking sepuluh besar semasa Sekolah Menengah Pertama nya itu menoleh ke belakang.

Junhong menegak ludah melihat siapa yang duduk di belakangnya. Ia adalah Kim Chanmi, siswi yang terkenal memiliki kepintaran cemerlang semenjak duduk di bangku Sekolah Dasar. Gadis berambut hitam yang dikuncir dua itu dinobatkan sebagai calon ketua kelas 10-7 karena kepintarannya, sementara seorang kandidat lainnya dinobatkan sebagai calon ketua kelas karena kepopulerannya dikalangan para siswa kelas tersebut —kandidat tersebut tak lain dan tak bukan adalah Junhong sendiri.

“Apa?” Rupanya Chanmi mendahului Junhong yang masih terpaku menatap sang gadis —bimbang memutuskan untuk tetap bertanya atau tidak.

“Anu… Eh…”

“Choi Junhong! Apa yang sedang kau lakukan?!”

Suara galak Woo seonsaengnim membuat Junhong harus mengambil keputusan saat itu juga namun, alih-alih menanyakan jawaban, Junhong malah mengarahkan tangannya ke dalam kotak pensil Chanmi kemudian mengeluarkan satu buah alat tulis berwarna merah muda, “aku pinjam, ya?” Ujarnya kemudian, cukup keras hingga Woo seonsaengnim yang berjarak sepuluh langkah darinya dapat mendengar.

Tanpa menunggu persetujuan sang pemilik pensil, Junhong kembali menghadap ke depan dan mulai menulis jawaban dari alat tulis yang diambilnya tadi sampai kemudian ia menyadari bahwa alat tulis itu adalah sebuah pensil —tidak bisa digunakan untuk mengisi lembar jawab ujian.

‘Aih. Bodohnya aku ini.’ Junhong merutuki dirinya dalam hati.

//

Bulan demi bulan telah berlalu semenjak kejadian menegangkan sekaligus memalukan ketika ujian itu terjadi pada Junhong, dan laki-laki yang kini menjabat sebagai wakil ketua kelas 10-7 itu mulai belajar dari kesalahannya. Ia tidak lagi bergantung pada orang lain ketika ujian —ia bergantung pada dirinya sendiri dan kertas contekan yang ia buat sepenuh hati.

“Berdiri! Beri salam!”

Suara Chanmi tergolong keras untuk ukuran perempuan, dan sampai saat ini Junhong tak pernah bisa menghilangkan rasa kagumnya pada suara rekan kerjanya itu. Junhong tak pernah habis pikir mengapa banyak orang menertawai suara Chanmi padahal, menurutnya, suara bass yang dimiliki gadis itu sangatlah keren —mungkin karena suaranya sendiri tidak tergolong cukup rendah untuk ukuran laki-laki

Junhong melemparkan sebuah senyum pada Chanmi ketika mata keduanya saling bertatapan namun, alih-alih membalas senyum Junhong, Chanmi malah membuang muka. Bagi Junhong, hal itu terasa menyakitkan karena dua alasan. Alasan yang pertama adalah karena ia belum pernah sekalipun diacuhkan oleh kaum hawa dan yang kedua adalah karena hal ini sudah berlangsung cukup lama, katakan saja berlangsung semenjak kejadian menegangkan sekaligus memalukan ketika ujian itu terjadi.

“Hey! Chanmi!” Langkah kaki Junhong berhenti tepat di ambang pintu kelas. Tak jauh di depannya, hanya berjarak beberapa langkah, bagian belakang tubuh Chanmi terlihat —gadis itu baru saja melangkah keluar pintu kelas.

“Ada apa?” Chanmi menoleh pada Junhong.

Untuk sekejap Junhong terdiam mengamati kedua mata Chanmi yang menurutnya indah. Entah apa alasannya dan entah sejak kapan terjadi, setiap kali bertatapan dengan Chanmi, lidah Junhong dibuat kelu oleh tatapan Chanmi.

“Ada apa ‘sih, Junhong?”

Junhong menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan rasa kelu pada lidahnya namun hal itu salah diartikan oleh Chanmi yang kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke kantin.

“Tu-tun—! Aish!” Junhong menendang pinggiran pintu, menyebabkan bagian depan kakinya terasa nyeri.

.

.

.

“Itu namanya kau jatuh cinta, tahu!”

Junhong menghela napas, “jatuh cinta itu memang apa ‘sih, hyung?”

Moon Jongup, ketua OSIS yang mengambil ekstrakulikuler yang sama dengan Junhong, memutar kedua bola matanya menanggapi pertanyaan dari Junhong.

“Aku tidak tahu siapa yang lebih bodoh, aku ketika berada di bangku Sekolah Dasar atau kau yang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas.”

Ucapan Jongup membuat Junhong mencibir. Ia tidak suka diolok-olok tetapi ia tidak begitu bisa banyak protes karena siapa yang tahu? Mungkin saja yang dikatakan oleh Jongup memang benar adanya.

“Jatuh cinta itu seperti yang kau rasakan, bodoh. Setiap menatap matanya lidahmu jadi kelu menandakan kau itu grogi. Pikiranmu mendadak kosong ‘kan? Tidak usah berbohong.”

Junhong kembali menghela napas, kali ini sambil mengangguk-anggukan kepalanya dengan lemas, “lalu… Apa kau tahu apa yang ia rasakan, hyung?”

“Hah?” Jongup menatap Junhong dengan kedua matanya yang sipit.

“Maksudku… Dari perilakunya yang kuceritakan padamu, apa kau bisa tahu apakah dia juga.. Emm… Apakah dia juga merasakan hal yang sama?”

Jongup mengerenyitkan keningnya, selang beberapa detik kemudian ia membuka mulutnya, “kalau yang aku dengar dari ceritamu ‘sih, dia sepertinya tidak merasakan hal yang sama. Malah, kalau menurutku ia membencimu.”

.

.

.

“Hey! Apa kalian melihat Chanmi?”

“Tidak. Kami tidak melihatnya. Kenapa?”

“Ah… Tidak. Aku—”

“Hey, Junhong. Kau naksir ketua kelas ya?”

Kedua mata Junhong melebar.

“Ah! Sembarangan saja kau! Aku hanya menanyakan keberadaannya, bukan berarti aku su—”

“Sudahlah, jangan mengelak. Kau pikir kami tidak punya mata?” Jaemin menyenggol-nyenggol lengan Junhong dengan sikunya, “aku lihat lho ketika pelajaran kau sering memerhatikannya.”

Wajah Junhong merah padam —antara malu dan marah karena diperolok— kemudian ia mengatakan hal yang akan menjadi penyesalannya karena ketika kata-kata itu terlontar keluar dari mulutnya, Chanmi sedang berjalan memasuki ruang kelas.

“Heh! Dengar ya! Mana mungkin aku naksir perempuan gendut yang sok serius seperti dia? Seleraku itu berbeda jauh dengannya!”

Merah pada wajah Junhong digantikan pucat ketika kedua indera penglihatannya mendapati Chanmi berdiri di ambang pintu kelas.

“Chan—”

“Kalau kau memang tidak suka denganku kau bisa langsung mengatakannya padaku ‘kan?! Tidak perlu membicarakanku di belakang seperti itu! Kau ini memang keterlaluan Choi Junhong! Sudah menghilangkan pensil kesayanganku kau juga berani-beraninya mengejekku?!”

.

.

.

Sinar matahari senja menerangi kota Seoul. Di dalam bus umum nomor 102 Junhong berdiri berpengangan pada handrail bus. Pandangannya tertuju pada pemadangan langit berwarna jingga. Padamnya sinar matahari diresapinya karena itulah yang sedang ia rasakan —semangatnya padam.

Ia menyalahkan gengsinya yang tinggi dan mulutnya yang suka berkata seenaknya tetapi ia tahu, merutuki pun percuma karena nasi sudah menjadi bubur, tidak mungkin mengembalikan bubur menjadi nasi sehingga yang bisa dilakukan hanyalah memakannya.

“Kalau kau memang tidak suka denganku kau bisa langsung mengatakannya padaku ‘kan?! Tidak perlu membicarakanku di belakang seperti itu! Kau ini memang keterlaluan Choi Junhong! Sudah menghilangkan pensil kesayanganku kau juga berani-beraninya mengejekku?!”

Perkataan Chanmi kembali terngiang di benak Junhong. Ketika rasa bersalahnya semakin menjadi, tiba-tiba benaknya tercerahkan. Sepersekian detik kemudian, senyum menghiasi wajahnya yang semula menunjukkan kekecewaan.

‘Masih ada kesempatan untuk memperbaikinya.’ Ujarnya dalam hati.



EPILOGUE

[Chanmi’s POV]

Aku memasuki gedung sekolah dengan perasaan tidak karuan. Kemarin, apa yang aku dengar dari mulut Junhong mengenai diriku benar-benar menyakitkan. Aku tahu ‘kok aku tidak secantik siswi-siswi lain tapi, apa haknya untuk mengataiku seperti itu? Dia sendiri memiliki banyak kekurangan.

“Pagi Chanmi!”

“Pagi Minah!” Aku tersenyum, menyapa balik Kwon Mina yang juga baru memasuki gedung sekolah.

“Eh, eh, Chanmi. Lihat! Ada apa ya?”

“Hm? Ada apa?” Penasaran, aku mengikuti arah ke mana jari telunjuk Mina tertuju.

Ternyata itu ruang loker. Untuk sesaat aku tidak menyadari keanehannya tetapi dengan semakin dekatnya aku dengan ruang loker, aku dapat melihat perbedaan yang terjadi di sana —para siswa berkumpul meriungi sebuah loker.

Aku mengerenyitkan keningku. Astaga! Itu kan lokerku!

“Maaf, permisi! Permisi. Aku numpang lewat!” Aku berdesak-desakkan dengan beberapa siswa, mencoba mendekati lokerku untuk mencari tahu apa yang terjadi.

“Chanmi! Lihat!” Kim Sejeong, ketua kelas 10-5 tengah berjongkok di hadapan lokerku dan tangannya memegangi sebuah kotak berbalut kertas kado berwarna merah muda yang terjepit di pintu lokerku dan digantung pada seutas tali.

Kuikuti kemama untaian tali itu tertuju dan ternyata berujung pada sebuah balon berwarna merah muda. Aku berjinjit untuk meraih balon yang melayang-layang itu. Tulisan: I AM SORRY timbul pada permukaan balon. Aku tidak ingat pernah bertikai dengan siapapun sehingga rasa penasaranku akan isi kotak itu semakin menjadi. Tidak mempedulikan orang-orang yang mengelilingiku, aku pun membuka kertas kado yang melapisi kotak dengan hati-hati. Di dalam kotak itu berisi satu pak pensil kayu berwarna merah muda —seperti milikku dulu yang hilang.



FIN.

2 responses to “[Ficlet] High School Love

  1. Dek zelo so sweet sekaleeh… Chanmi kamu beruntung lho kenal junhong, gitu2 dia tau namany minta maaf.. Maafin yah.. Hehe.. Ak senyum2 sendiri pas baca in, untung bacany di kamar, klo di tmpat umum ntar dikirain ap senyum2 sendiri 😁 Pokokny i like your fanfic, chingu.. Keep writing!

    • Chanminya kayaknya masih ngambek soalnya pensilnya dihilangin hahaha tapi mungkin Chanmi udah maafin (?)
      Hayolohhh ketawa-ketawa sendiri😛 tapi syukurlah kalau kamu suka ff buatanku ><

      Makasih banyak ya udah nyempetin diri buat baca dan tinggalin komen❤
      Lavyuuuu :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s