I’m Back

“Aku benar-benar akan kembali”

kisah dua sahabat

S.Leith Present

| Park Chanyeol [EXO] – Do Kyungsoo [EXO] – Oh Sehun [EXO] |

| Oneshoot || Friendship – Angst || Rate: G |

NOTE : Pernah dipublis di wp pribadi

No Plagiat and Don’t be Plagiator (cari ide itu butuh perjuangan, chingu :)). Enjoy the story and sorry for some typos.

Happy reading!! \(^_^)/

           Sudah lama, mungkin… sekitar lima tahun lalu. Aku berada di sini, di tempat ini. Padang ilalang yang ditumbuhi banyak bunga matahari. Berlarian ke sana ke mari, mencari bola kasti yang baru saja dilempar oleh salah satu temanku. Sayang lemparannya sangat tidak teratur, seperti gerak parabola tanpa rumus.

“Bagaimana? Ketemu?” tanya pelaku pelemparan yang melenceng itu.

“Tidak!” jawabku ketus. Bola kasti itu milikku. Hadiah dari ayah saat ulang tahunku bulan lalu karena aku adalah atlet baseball di sekolahku. Kenang-kenangan darinya karena beliau jarang pulang akibat urusan kerjanya.

“Maaf,” lirihnya.

“Kau itu… hish…”

Aku tak menemukan bola itu. Aku kesal. Marah. Aku pun meninggalkannya.

“Chanyeol –ah!” panggilnya yang takut untuk mengejarku, mengetahui bahwa kesalahannya membuatku begitu murka.

“Tuuuuutttt!!! Jes..jes..jes…” Kereta yang melewati rel di atas sana menguarkan gemuruh kerasnya, membuat telinga berdengung. Angin berseliweran cukup kencang. Saksi kisah hari ini. Sesalnya dan amarahku.

Dan hari ini, setelah pikiranku melayang mundur. Aku masih mencarinya, bola kasti yang -menurutku- belum terdeteksi tempat mendaratnya.

“Kau masih berusaha?” tanya sepupuku, Oh Sehun.

“Iya. Aku merasa bersalah.”

Aku merasa bersalah setelah lima hari kepergianku. Ya, dua jam sesudah peristiwa yang memicu naiknya darah tinggiku, orangtuaku telah berkemas untuk pindah ke kota. Otomatis aku juga ikut mereka. Kepindahanku ini telah dikonfirmasi beberapa minggu sebelumnya.

“Chanyeol –ah! Bergegaslah. Mobil pengantarnya telah tiba.” Ibu berkata dalam sibuknya menata kardus-kardus di teras.

“Apakah ayah akan segera menyusul?”

“Iya, chagiya. Palliwa!”

          Kereta jurusan Busan melalui jalur tersebut. Rel yang di bawahnya terdapat padang ilalang ditumbuhi banyak bunga matahari. Entah mataku yang kabur karena terlalu lelah atau memang begitu nyatanya. Aku melihatnya. Anak yang menghilangkan bolaku itu.

‘Tit..tit..tit…’ Ringtone panggilan di hpku berbunyi.

My BFF,

nama kontaknya. Rupanya anak itu yang menelepon.

Aku mematikan hpku dengan kasar. Untuk apa mengangkat telepon dari orang yang membuatmu kehilangan barang berhargamu?

“Aku merasa bersalah karena bola itu. Bola itu membuatku marah dan membuatnya sedih. Makanya aku akan berusaha menemukannya dan berkata padanya jangan hiraukan lagi benda ini,” ujarku pada Sehun yang malah bermain dengan kupu-kupu bercorak biru kecokelatan.

Daebak! Dia tangguh sekali. Tapi kau juga telah tega meninggalkannya tanpa seuntai kata pun. Debak! Sangat egois!” sindirnya tepat sasaran.

“Hei! Kupu-kupu, sepupuku ini daebakkan?” tanyanya seperti orang tidak waras.

Aishhhh!!” Aku menanggapi ocehan Sehun dengan mengacak rambutku.

“Chanyeol –ah!!” teriak seorang ibu-ibu yang tengah memikul tumpukan ranting kering.

Aku menoleh ke asal suara.“Eommonim!” sahutku riang. Salah seorang yang kurindukan selama ini.

“Akhirnya kau kembali juga. Kau sudah tumbuh dewasa ya… Bagaimana kabarmu? Dan siapa yang sedang bersamamu itu?”

“Aha..ha.. aku baru saja akan kuliah semester lima, dan lagi tubuhku memang tumbuh dengan baik. Kabarku baik, Eommonim dan namja yang level ketampanannya di bawahku itu adalah sepupuku, Oh Sehun.” Syukurlah Sehun masih betah dengan dunianya sendiri, entah bagaimana nasibku seandainya Sehun mendengar kelakarku, Sehun kan master taekwondo yang ditakuti orang-orang sekampus.

“Ha..ha.. kau ini. Ngomong-ngomong sedang apa kau di sini?”

Aku ragu menjawabnya. Mana mungkin aku menjawab, “Mencari bola kasti yang hilang lima tahun lalu.”

Mwoya? Kau pikir bola kasti hanya satu di dunia ini? Kau kan bisa beli lagi. Memang seberapa mahalnya harga bola kasti? 100.000 won?

Akan sangat malu kalau ibu itu menyahut dengan perkataan yang kujabarkan barusan.

“Emm… Kyungsoo ada di rumah, Eommonim?”

Ibu tersebut adalah ibu Do Kyungsoo, anak yang membuat bola kastiku melayang tanpa jejak.

Ibu Kyungsoo hanya diam dan sesekali membetulkan letak pikulannya yang miring beberapa derajat. Matanya menyiratkan sesuatu yang dalam, menggores perasaan.

Waeyo, Eommonim?” tanyaku hati-hati. Apakah pertanyaanku menyinggung nuraninya? Perasaan aku tidak mengeluarkan kata-kata yang kejam.

Sehun menyikut lenganku. Sejak kapan makhluk ini berada di sampingku?

“Kupikir kau membuatnya sedih,” bisik Sehun membuatku semakin tak enak hati.

Ibu Kyungsoo menghela napas. Matanya memandang ke langit yang beranjak gelap. Mataharinya mulai tenggelam.

“Ayo mampir ke rumah,” ajak ibu Kyungsoo lalu melangkah lebih dulu.

Tanpa banyak basa-basi, aku dan Sehun mengikuti di belakang seperti anak ayam mengikuti induknya.

“Hayooo kau, Park Chanyeol!” goda Sehun.

“Diam, Sehun bodoh!” hardikku kesal. Bocah ini memang hobi membuat orang lain merasa bersalah.

~~~

            Aku dan Sehun asyik mengomentari foto-foto keluarga Kyungsoo yang terpajang di ruang tamu. Rumah Kyungsoo tak berubah. Masih berlantai kayu dengan gaya kuno dan dinding yang retak sana-sini.

“Chanyeol –ah, Sehun –ah! Ayo minum dulu,” tawar ibu Kyungsoo sembari meletakkan nampan berisi dua gelas teh dan beberapa kaleng makanan ringan.

Aku dan Sehun berebut mengambil gelas teh yang ukurannya lebih besar.

“Aku dulu, Hyung!” protes Sehun.

“Mengalahlah pada hyungmu, anak nakal!” sahutku tak terima.

“Ya! gelasnya memang beda, tapi kapasitasnya sama saja. Berhentilah seperti anak kecil, hei kalian berdua!”

Aku pun mengalah dan duduk dengan menjaga jarak dari Sehun.

: p:p:p, ejek Sehun. Dasar!

“Ini, Chanyeol –ah.” Tiba-tiba ibu Kyungsoo menyodorkan sebuah barang yang menyulut keterkejutanku.

“Ini…” Aku mengambilnya dengan ragu.

“Kyungsoo menitipkannya padaku agar memberikannya padamu saat kau kembali nanti.” Menggenanglah cairan di pelupuk mata ibu itu.

“Sebenarnya Kyungsoo….”

Napasku tercekat, Sehun yang semula berisik mengunyah keripik itu pun terdiam.

~~~

            Aku sangat bersalah padanya, akhirnya kuputuskan untuk tidak pulang dan mencari benda itu sampai ketemu.

Malam telah bersambut, harmonika para jangkrik saling bersahutan.

“Kyungsoo!!” Aku menoleh.

‘Bukkk!!’. Anak-anak nakal di kampung ini menghajarku habis-habisan. Salahku, karena seharusnya aku pulang sebelum maghrib. Sebelum para anak nakal ini keluar dari sarang mereka.

Setelah mereka menghajarku habis-habisan, mereka pergi meninggalkanku dan rasa sakit, baik secara batin maupun fisik.

Di tengah susahnya beranjak dari tanah, mataku menangkapnya, bola kasti itu. Aku pun berjuang untuk berdiri. Melangkah dengan berat memungut benda itu.

Aku mengeluarkan ponselku untuk memberi tahu Chanyeol kalau aku berhasil mendapatkannya kembali. Namun, berkali-kali menelepon, hasilnya nihil. Aku pun pulang dengan sedih. Sesampainya di rumah aku shock karena rupanya Chanyeol telah pindah tanpa mengucap salam perpisahan padaku.

“Eomma…” Aku lalu terisak.

Ibuku memelukku.“Uljima, dia pasti kembali.”

“Dia tak peduli padaku, dia tak mengucapkan salam perpisahan.”

          Akhirnya beberapa bulan kemudian, saat aku menyambangi padang ilalang itu untuk bermain layangan. Para anak nakal itu muncul lagi. Memukuliku tanpa sebab seperti waktu itu. Namun, ini hasilnya fatal. Aku tertusuk pisau kecil yang mereka bawa.

“Lariii!!” Mereka kabur meningglaknku yang terkapar di tanah sembari meregang nyawa.

Ku remas saku celanaku.

“Kembalilah, Chanyeol.”

Kalau ada dia, aku akan dilindungi karena dia jago berkelahi.

Kalau ada dia, aku akan selamat karena dia jago berkelahi.

Kalau ada dia, aku tak akan main sendirian, karena hanya dialah yang senang bermain denganku.

          Di rumah sakit…….

Ibuku menangis di sampingku, aku sadar seusai penanganan pertama.

“Eomma…” Aku mengeluarkan sesuatu dari saku celanaku lalu menyerahkannya ke ibu.

“Tolong berikan pada, Chanyeol.”

“Kyungsoo –ya.”

“Aku akan baik-baik saja.”

Namun, kurasa itu kalimat terakhirku. Chanyeol, aku tidak bisa kembali.

~~~

Aku akan kembali.
Ibu bilang kalau aku sudah kuliah aku bisa main ke rumahmu.
Jadi bersabarlah karena sekarang aku belum punya uang
untuk membayar kereta menuju ke sana.
Kau tak usah pikirkan bola itu lagi. Ayah bilang akan membeli
yang baru untukku, Dan………..
maaf,
Karena telah sengaja tak mengucapkan salam perpisahan.
Aku tak marah lagi, dan kau jangan sedih lagi.
Sudah, ya…..

Kuamati pesan emailku yang kusimpan sebagai draft. Pesan ini kusimpan sejak dua hari sebelum Kyungsoo meninggalkan dunia. Sayangnya aku terlalu gengsi untuk mengirimkannya pada anak itu. Tak kusangka kalimat ini hanya akan meninggalkan kenangan pahit.

Hyung, menyesallah kau.” Sehun buka suara, namun itu bukan kalimat ejekan seperi biasanya. Dia tidak mengejek.

Kuamati bola kasti yang kumainkan di tangan kananku dengan miris.

“Kau tahu parasit, Sehun –ah?” tanyaku memendam sesak.

Hyung, kau pikir IQku berapa? Low average? Atau malah idiot?” cela Sehun tersinggung.

“Parasit itulah aku. Hanya menyusahkan.” Aku tak menggubris ocehan Sehun.

“Tapi kalau tak ada parasit kau tak berguna, Hyung,” sahut Sehun.

“Hah?”

“Kau tak berguna karena tak bisa berbagi. Untuk apa banyak energi kalau di simpan sendiri? Harus dermawan, Hyung.”

Antara ingin menangis dan kesal. Ini bukan lelucon, Oh Sehun!

Aku menatap bola itu lagi. Kau tahu, aku benar-benar akan kembali, Do Kyungsoo. Ada fakta yang belum kau tahu, keluargaku sekali pun.

~~~~

            “Park Chanyeol, virus-virus itu semakin menyebar. Kau harus operasi.”

“Hm… nanti saja,” jawabku santai.

“Kau masih ingin hidup kan?”

“Aku akan kembali, Dokter,” ujarku begitu saja, tidak nyambung.

“Apa?”

“Aku akan kembali pada Tuhan dengan bahagia, ada sahabatku yang menunggu di sana. Dia akan sangat senang kalau aku datang ke sana secepatnya.”

Dokter Yixing menghela napas. Dia tak mampu berkehendak apa-apa. Keputusan pasiennya bukan kendalinya.

Semua akan kembali kan? Lalu untuk apa takut? Apalagi ada Kyungsoo di sana. Tengah menunggu sesuatu dariku.

“I’m back.”

Kata itu.

~~~SEKIAN~~~

 

 

3 responses to “I’m Back

  1. huhu sedih… u,u
    sebenarnya klimaks pertengkaran chanyeol-kyungsoo udah ketebak sih, tapi endingnya? NO! author keren banget bisa mengecohku, kukira chanyeol pas mengetahui kenyataan itu saat pulang ke daerah semasa kecilny cuma bakal nyesel karena perbuatannya waktu itu dan fin! gak kusangka endingnya bakal begini
    keep writting kak!😀

    • Alhamdulillah, ngga nyangka ada yang komen, makasih euy udah ninggali jejak ^_^…
      Ya, kaya hidup ini lah ya, ending ngga ketebak :))
      In sya Allah berusaha tetep nulis, krn skarng lg sibuk, jd sementara hiatus dulu, hehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s