Beauty and The Beast Chapter 5 [It’s not a Marriage] – by HyeKim

beautyandthebeastcover

Beauty and The Beast [Chapter 5]

└ Subtile : It’s Not A Marriage┘

A Fanfiction Written by :

HyeKim

 Starring With :

-Luhan as Luhan

-Hyerim (OC) as Kim Hyerim

-Kyuhyun Super Junior as Cho Kyuhyun

-V BTS as Kim Taehyung

-Nara Hello Venus as Kwon Nara

Genre : Romance, Comedy, Marriage Life, Family ||  Lenght : Multi Chapter || Rating : PG-17

Summary : Beauty and The Beast adalah cerita dongeng yang dulu selalu menghiasi masa kecil seorang Kim Hyerim. Hyerim dulu sempat berkata ingin menjadi Belle, si cantik yang jatuh cinta pada beast. Si pangeran yang dikutuk jadi monster. Apa yang akan Hyerim lakukan bila hal tersebut terjadi padanya?

Disclaimer : This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, angency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without permission


“Ini sama sekali bukan pernikahan yang orang-orang pikirkan, pernikahan ini sangking uniknya, selalu membuatku darah tinggi dan merasa tensi darahku naik makin hari.”


HAPPY READING

HyeKim ©2016

 

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

PREVIOUS :

Teaser ||  Chapter 1 [Cold-Jerk Man] || Chapter 2 [Contract Marriage?!] || Chapter 3 [A Marriage and Honeymoon] || Chapter 4 [Honeymoon Bab II] || (NOW) Chapter 5 [It’s Not A Marriage]

 

Pesawat Korean Air yang berasal dari Jeju akhirnya landing di bandara Gimpo. Tampak seorang pria dari gate penerbangan tersebut keluar dan berhasil menyita perhatian para pengunjung, lebih tepatnya pengunjung perempuan. Di belakangnya muncul seorang gadis yang keripuhan membawa barang miliknya dan berusaha mengikuti langkah pemuda yang berdiri beberapa jengkal di depannya.

“Dimana sih rasa simpatinya? Tega sekali membiarkan seorang gadis keberatan membawa barang-barang seperti ini,” gerutu gadis yang lahir dengan nama Hyerim tersebut.

Sementara Luhan tampak asyik bersama earphone serta ponselnya dan membiarkan istri, ralat, istri kontraknya membawa semua barang termasuk miliknya. Hell… sepertinya lelaki tersebut sudah tidak memiliki hati nurani lagi.

‘BRAK!’

“Aduh,” Hyerim mengaduh kala dirinya menabrak keras punggung Luhan membuat lelaki itu berbalik dan melayangkan tatapan tajam untuknya.

“Jalan pakai mata,” desisnya lalu menoleh kembali ke arah depan.

Hyerim tampak mengerucutkan bibirnya, selalu saja lelaki itu seperti ini; dingin, tak punya perasaan, terlampau cuek, menyebalkan. Namun kadang juga menjadi sosok pelindung. Hal ini membuat kepingan memori diotak Hyerim memutar kejadian kala dirinya diganggu dua orang preman dan Luhan menyelamatkannya. Mengingatnya membuat Hyerim menggelengkan kepala.

“Manager Park belum juga datang untuk menjemput kita? Apa dia sudah tidak tertarik lagi dengan jabatannya itu?” gerutu Luhan sambil melirik arlojinya kesal.

Hyerim yang tak sengaja mendengar ocehan Luhan, hanya menatap lelaki itu tak habis pikir. Perkataan Luhan tersebut mengandung kata akan memecat Manager Park yang terlambat. Padahal bisa saja faktor macet menjadi alasan keterlambatan Sang Manager.

“Presdir Lu, maaf saya terlambat,” suara berat khas pria menyapa telinga sejoli yang sudah menunggu lama.

Dilayangkan oleh Luhan tatapan menghunus pada pria tersebut yang tak lain Manager Park. “Kau tahu sudah berapa lama aku menunggu? Kau ingin kupecat?!” sentak Luhan membuat Manager Park menunduk dalam.

Jeoseongham…─”

“Sudahlah, aku lelah. Mana mobilnya?” Luhan main memotong frasa yang akan diucapkan Manager Park yang menghela napas lega karena setidaknya pekerjaannya terselamatkan.

Lalu, pria paruh baya itu menuntun Luhan serta Hyerim ke mobil. Hyerim daritadi hanya berdecak melihat prilaku Luhan yang benar-benar ingin sekali dirinya telan hidup-hidup. Lalu, keduanya sudah berada di mobil dengan Manager Park sebagai supir. Keadaan hening menyapa, Hyerim memilih menoleh ke jendela dibanding menoleh ke sampingnya, yang tak lain adalah Luhan.

“Kenapa jalannya ke sini?” hingga suara Luhan terdengar memecahkan keheningan tersebut. Hyerim menoleh ke arah pria tersebut yang memasang wajah tanda tanya. “Ini bukan menuju rumah yang dihuni olehku dan Kyuhyun hyung.”

Manager Park tersenyum sekilas di balik kaca spion. “Nanti anda akan tahu Presdir,” ucapnya membuat Luhan menghela napas dan bersandar ke kursi dengan malas.

Hyerim pun tampak tak peduli walau dalam hati terselubung perasaan penasaran ke mana dirinya dibawa. Hingga mobil yang menampung ketiganya sampai di perkarangan sebuah rumah. Karena sudah kelewat penasaran, Hyerim dan Luhan langsung saja turun. Luhan hanya menampilkan wajah dinginnya, sangat kontras oleh Hyerim yang takjub melihat interior rumah tersebut.

“Silahkan masuk…” Manager Park mempersilahkan keduanya.

Kedua langkah kaki dari pasangan itu mulai tercipta. Luhan pun langsung melayangkan tangannya menyentuh kenop pintu, diputarnya perlahan hingga terdengar bunyi ‘klek’ dan terbukalah pintu berwarna coklat tua tersebut. Dan kedua netra Luhan serta Hyerim disuguhkan pemandangan di dalam yang…

“SELAMAT DATANGGG!!” sambutan tak diduga dari Ibu dan Nenek didapat dari keduanya yang baru selesai berbulan madu.

Suara terompet menggema diiringi converti yang dilayangkan oleh keduanya, membuat badan kedua pasangan itu penuh oleh converti tersebut. Hyerim hanya membuka mulutnya lebar dan Luhan hanya membersihkan sisa converti tersebut dengan wajah datar.

“Rumah ini sekarang adalah rumah kalian berdua…” Nenek Lu berucap dengan hebringnya seperti biasa.

“Kami sangat mengerti kalian membutuhkan waktu berdua, jadi rumah Luhan yang dulu sudah jadi hak milik Kyuhyun.” Nyonya Lu berbeo dengan senyum penuh arti.

Arra (baiklah), terimakasih atas sambutan yang sangat meriah serta rumah ini,” ucap Luhan sambil menelisik ke sekitar sama seperti Hyerim.

Gadis itu tersenyum malu pada kedua wanita paruh baya tersebut dan berkata. “Terimakasih atas rumah yang kalian berikan,”

Nenek Lu berjalan menghampiri Hyerim lalu meraih kedua tangannya dan mengangkatnya. “Syukurlah kalau kamu suka. Ahh… aku menantikan para cicitku tinggal di sini,” Nenek pun mulai berkhayal sambil menarik kedua tangan Hyerim yang ditangkupkannya di pipi sebelah kiri.

Hyerim menelan ludahnya dan meringis risih sambil berusaha menarik kedua tangannya namun nihil. Luhan hanya menampilkan raut tambah datar mendengar khayalan neneknya.

“Ayo kita berkeliling,” Ibu bersuara dengan penuh gairah.

Lalu Hyerim dan Luhan mulai mengelilingi rumah yang akan disinggahi keduanya selama menjalin hubungan palsu tersebut. Keduanya dibawa ke ruang keluarga yang berinterior kaca-kaca, hal tersebut membuat Hyerim berdecak kagum. Di ruangan tersebut terdapat beberapa macam foto Luhan dan Hyerim yang entah bagaimana Ibu Luhan mengabdikannya di kamera miliknya. Kemudian, ruang selanjutnya adalah dapur serta ruang makan yang didominasi warna putih dan dilengkapi wangi bunga lili. Kemudian keduanya dibawa ke kamar utama dan yang menjadi satu-satunya kamar di rumah tersebut.

Luhan menghela napasnya sambil memejamkan kedua kelereng hitamnya, lalu berkata, “Nenek… Ibu… Kenapa hanya ada satu kamar?” Luhan menatap keduanya dengan menahan amarah yang terpendam.

Yang ditanya hanya ketawa cekikikan, lalu Nyonya Lu pun berucap, “Karena tidak ada yang akan tinggal di sini selain kalian berdua, kecuali kalian ingin langsung membuat anak,”

Hyerim mengerjapkan matanya polos mendengar hal tersebut. Mimpi buruk apa setiap hari dirinya harus berperang dalam memperebutkan tempat tidur dengan Luhan. Sementara Luhan hanya menarik napas dan menghembuskannya pasrah.

“Dan aku ingin bertanya juga pada kalian berdua…” Luhan menatap Ibu dan Nenek penuh arti.

Lalu keempatnya pun digeret ke depan pintu masuk rumah yang terdapat beberapa bingkai foto. “KENAPA FOTO-FOTO INI BISA DI SINI?” Luhan berteriak sambil menunjuk jejeran foto tersebut.

Hyerim melebarkan matanya tak percaya saat melihat foto tersebut, mulutnya juga terbuka lebar. Nenek dan Nyonya Lu bersikap santai sambil pura-pura tak tahu. Napas Luhan menderu, pasalnya di bingkai pertama menampilkan potret Luhan memeluk Hyerim saat sedang tidur begitupun sebaliknya, lalu dilanjut potret Luhan sedang menyentil dahi Hyerim saat ingin masuk ke Museum Teddy Bear, kemudian saat Luhan memeluk erat Hyerim kala gadis itu menangis sehabis diganggu oleh dua orang preman. Bingkai keempat melihatkan foto keduanya saat berciuman ganas di pernikahan. Ketiga foto pertama terlihat sangat manis. Tapi itu membuat Luhan risih. Namun foto keempat yang sangat membuat Luhan begitupula Hyerim risih.

“Itukan saat di Jeju…” gumam Hyerim sambil jari telunjuk diletakannya dibawah dagu.

Luhan mendelik pada kedua orang yang menjadi dalang utamanya, “Kalian mengikuti kami ke Jeju?”

Nenek dan Ibu tampak tersentak dan menggeleng-geleng dengan kocaknya. “Tentu tidak, ahahahaha..” keduanya berkata sambil tertawa paksa dan saling pandang.

Luhan menyipitkan matanya menatap kedua orang tersebut, dan Hyerim hanya menggaruk belakang kepalanya bingung.

“Turunkan foto-foto itu, apalagi foto yang keempat!” ucap Luhan penuh penekanan.

“Memangnya kenapa?” selak Nenek Lu tak suka. Nyonya Lu mengangguk mantap sambil menatap anaknya tak suka.

“Orang-orang akan berpikiran kalian ini pasangan yang bahagia saat baru menapaki kaki masuk ke rumah ini,” ucap Nyonya Lu sambil menangkupkan kedua tangan di samping kiri pipinya sambil mengerjapkan mata layaknya berbinar-binar. Luhan hanya menghela napas frustasi.

Hyerim hanya diam sambil tersenyum risih. “Ehehe, terserah Nenek dan Ibu saja,” ucap Hyerim memilih mengalah walau dalam hati dirinya sangat ingin mematahkan semua bingkai foto tersebut yang melihatkan kemesraan tak terduga dirinya dan Si Monster Sialan, serta foto ciuman mengerikan saat keduanya menikah.

Nenek dan Ibu bersorak senang kala Hyerim menyetujui foto-foto tersebut dipajang di sana. Hyerim hanya menghela napas melihat tingkah keduanya, dilayangkan pandangannya pada Luhan yang terlihat sama frustasinya menanggapi kedua orang tua tersebut.

**

“Bagaimana dengan bulan madumu? Apa menyenangkan? Apa Luhan bersikap romantis? Apa…─”

Hyerim menutup kedua telinganya menggunakan tangannya, tak kuat mendengarkan ocehan seorang Kwon Nara yang sangat penasaran dengan bulan madunya dengan Si Monster Sialan yang parahnya berstatus sebagai suaminya. Nara terus mengoceh sambil menggerak-gerakan tangan dan tubuhnya secara kocak, sementara Hyerim tampak santai menggunakan earphonenya untuk menyumpal kedua gendang telinga miliknya.

“Oh ya apa kalian sudah melakukan ‘itu’ saat bulan madu di Jeju?” Nara bertanya dan menoleh pada Hyerim yang sedang tertawa sendiri karena komik shinchan yang dibacanya, hal tersebut membuat Nara melayangkan sebuah tatapan datar untuk sahabatnya. “Hei! Kamu ini benar-benar!” Nara pun menarik sebelah earphone Hyerim dengan perasaan jengkel.

Musun? (apaan sih)” Hyerim mendelik kesal.

“Kamu sudah melakukannya kan?”

“Melakukan apa?”

Kerutan bingung tercipta dikening gadis bermarga Kim tersebut. Nara membuang napasnya dan mulai menjelaskan. “Dua insan yang bersatu karena pernikahan lalu mengharapkan malaikat hadir melengkapi kehidupan keduanya. Malam pertama, kamu sudah melakukannya kan?” Nara menjelaskan sambil mendongak dan mengerjap-ngerjapkan matanya berlebihan.

“Ahahahah…” respon tertawa dari seorang Kim Hyerim membuat dahi Kwon Nara berkerut parah, kembali diliriknya sahabatnya yang asyik kembali membaca komik.

YAK! NEO JINJJAAAA! (Kau ini benar-benar)” Nara berteriak marah sambil meguncang-guncang tubuh Hyerim.

Hyerim yang menerima perlakuan tersebut shock di tempat sambil menatap sahabatnya yang seperti kesetanan, dengan mata membulat. “Kwon Nara berhenti!” Hyerim berseru dan melepaskan earphone miliknya.

“KAMU SUDAH MELAKUKANNYA KAN? BERITAHU AKUU!!!” Nara masih berseru dan menggoyang-goyangkan tubuh Hyerim, membuat gadis Kim itu merasa pusing.

“IYA, IYA, AKU SUDAH MELAKUKANNYA!” tak mau ambil pusing, Hyerim mengiyakan apa yang ditanyakan Nara, membuat gadis itu berhenti menggoyang-goyangkan tubuhnya diganti oleh tatapan tak percaya Nara pada Hyerim disertai mulut terbuka lebar.

“Jadi…. Kamu…” Nara tak sanggup berkata membuat Hyerim bingung setengah mati karena pasalnya dirinya tak tahu apa yang Nara tanyakan padanya. “Hyerim-ah, kamu sudah tidak gadis lagi…” Nara berucap lirih sambil menampilkan raut sedih.

“Hah?” Hyerim makin bingung.

“AAAA!! LUHANNNNN KENAPA KAMU BISA MELAKUKAN HAL ITU PADA SAHABATKU!? TIDAK MUNGKIN HYERIM JADI IBU SECEPAT ITU!” Nara berteriak membuat Hyerim jatuh dari kursi dan mengaduh kesakitan.

“Dia sudah gila…” gumam Hyerim dengan nada jengkel. Dan apa-apaan perkataan Nara tadi? Sungguh membuat Hyerim malu saja mengingat keduanya masih di kantin dengan para mahasiswa yang mulai berbisik-bisik mengenai dirinya.

**

Terik sinar mentari makin terasa menunjukan waktu sudah sangat siang. Kim Taehyung menghela napas karena hari ini sangat melelahkan baginya. Ketika kepalanya mendongak, matanya mendapati kakak yang sebenarnya sangat ia rindukan kehadirannya, sedang tersenyum dan berdiri di gerbang sekolahnya. Mementingkan rasa gengsinya, Taehyung berjalan dengan raut dinginnya menuju Hyerim.

“Taehyung-ah…” panggilan yang berasal dari Hyerim menyapa kedua telinga Taehyung, lelaki tersebut berbalik dengan tampang datarnya.

“Ada apa nuna?” tanyanya dingin membuat Hyerim menghela napasnya.

“Kamu masih tidak setuju dengan pernikahanku?”

Ya, sikap Taehyung berubah lantaran Sang Kakak yang amat disayanginya menikah dengan lelaki tak punya hati seperti Luhan. “Tidak,” jawab Taehyung datar membuat Hyerim menyungingkan senyum tipis.

“Kalau begitu ayo kita makan siang bersama,” seru Hyerim sambil melingkarkan kedua tangannya dilengan Taehyung, sambil tersenyum ceria.

“Yang benar saja kalau kau ini sudah menikah. Sifat kekanak-kanakanmu benar-benar tak pernah hilang,” desah Taehyung membuat Hyerim cemberut. Namun langkah kakinya mebawa dirinya ke mana kakaknya itu melangkah. Karena sesungguhnya, walau keduanya sering kali bertengkar, perasaan rindu saat berpisah sangat terasa sekali.

**

Di sebuah ruangan tampak 2 lelaki berwajah tampan duduk dengan tenangnya sambil fokus pada kartu-kartu yang terpampang jelas di depan wajah keduanya. Hingga salah satu dari mereka, sebut saja Cho Kyuhyun, melemparkan kartu miliknya ke atas meja lalu bersorak ria.

“Aku menang ahahahaha…” Kyuhyun menggepalkan tangannya dan menggerakannya ke atas, sementara yang satunya lagi yang tak lain Luhan, hanya menghela napas karena kalah terus menerus.

“Kau pasti curang!” cibir Luhan pada Kyuhyun yang tampak semangat 45 dan sedang mengocok-ngocok kembali kartu yang dipakai dirinya dan Luhan bermain.

“Kau saja yang payah,” elak Kyuhyun sambil menjulurkan lidah.

Kemudian permainan pun berlanjut. Suasana hening dan fokus pada ruang kerja Kyuhyun tampak kentara terasa. Kedua lelaki itu seakan sedang merebutkan sesuatu bila memenangkan permainan ini. Hingga ditengah-tengah permainan, Kyuhyun angkat suara.

“Bagaimana bulan madumu dengan Hyerim?” tanya Kyuhyun membuat Luhan meliriknya sekilas.

“Begitulah, bulan madu pada umumnya,” jawab Luhan sekenanya. Kyuhyun hanya mengangguk-anggukan kepalanya.

“Apa kalian akan segera….” Kyuhyun menggantungkan kalimatnya membuat Luhan mendongak dan menatapnya penasaran.

Tampak Kyuhyun mengigit bibir bawahnya keras, dirinya ingin bertanya prihal tentang anak yang sering kali Nenek dan Ibu bahas bila membicarakan pasangan baru tersebut, namun kenapa hatinya terasa sakit sekali untuk mengucapkan hal tersebut.

“Segera apa hyung?” desak Luhan kelewat penasaran.

“Ah tidak…” ujar Kyuhyun dengan senyuman, membuat Luhan mengerutkan kening bingung, namun akhirnya lelaki itu memilih tidak peduli.

Lalu permainan tersebut berlanjut. Sekon berlalu, suara sorakan Kyuhyun kembali terdengar disertai helaan lesu Luhan. Sepertinya Luhan sedang tidak hoki hari ini, berbanding balik dengan seorang Cho Kyuhyun.

“Ahaha kau kalah lagi,” Kyuhyun berujar seraya tertawa membuat Luhan menatapnya tajam.

“Huh, sepertinya aku sedang tidak hoki.”

“Sepertinya begitu,” ucap Kyuhyun sambil menyesap tehnya. “Ah ya, aku ingin mengambil cemilan lagi dari dapur.” Kyuhyun pun beranjak dan menuju dapur restorannya tersebut.

Luhan menghela napas kesekian kalinya, ia menyandarkan pungungnya pada sofa tempat ia duduk. Namun semakin lama waktu bergulir, Luhan merasa bosan juga dan memilih berdiri, lalu berjalan mengelilingi ruang kerja Kyuhyun yang terlihat seperti ruang santai juga. Tatapannya terarah pada bingkai-bingkai foto Kyuhyun yang terpajang di setiap sudut dinding. Sangking larutnya, Luhan pun tak sengaja menabrak meja naskas berwarna coklat di hadapannya.

Dengan deruan napas berat, Luhan merapikan buku serta tumpukan kertas yang jatuh berserakan di lantai untuk di letakan ke naskas kembali. Namun, netranya mendapati sebuah sketsa di atas lembaran kertas putih tersebut. Penasaran, Luhan menarik kertas tersebut dan matanya hampir mendelik keluar kala dirinya mengetahui bahwa itu adalah sketsa…. Hyerim.

Dengan mata membulat sempurna, lalu Luhan membalikan kertas tersebut yang di belakangnya ditorehkan tinta berwarna hitam bertajuk ‘she is his, but why I love her?’. Apakah ini artinya… Kyuhyun menyukai Kim Hyerim? Mengetahui hal tersebut membuat Luhan teringat untaian masa lalu dirinya. Hingga langkah kaki Kyuhyun terdengar, dengan cepat, Luhan membereskan kertas dan buku yang berserakan. Dengan gesit dirinya berpura-pura sedang memperhatikan foto Kyuhyun yang terpampang di dinding.

“Maaf lama, cemilan yang tersisa tinggal sedikit, jadi tadi aku membelinya lagi,” ucap Kyuhyun sambil menaruh beberapa cemilan di atas meja dan duduk di sofa.

Luhan menoleh pada Kyuhyun dan mengangguk. Kemudian Luhan mendekat dan duduk di depan Kyuhyun sambil mengambil satu cemilan dan mulai melahapnya setelah membuka bungkusnya. “Ayo kita bermain lagi, hyung,”

Luhan berujar yang ditanggapi anggukan semangat Kyuhyun. Tatapan matanya menatap penuh arti seorang Cho Kyuhyun. Yang ternyata diam-diam menyimpan perasaan pada istri kontraknya.

**

“Ayah semoga lekas sembuh,” ucap Hyerim sambil memeluk sayang Sang Ayah.

Setelah mengajak Taehyung makan siang di kedai pinggir jalan, kedua adik-kakak itu menuju rumah sakit untuk membesuk ayah keduanya. Hyunseok tampak tersenyum lembut dan membelai rambut Hyerim sayang.

“Tentu saja ayah akan cepat sembuh…” ujar Tuan Kim, Hyerim menatapnya seraya melonggarkan pelukannya.

“Janji?” Sang Ayah tampak mengangguk. “Baiklah, aku akan memijat ayah sekarang,” ujar Hyerim yang melepaskan pelukannya dan kemudian berganti posisi di belakang Sang Ayah dan mulai memijatnya.

Tuan Kim hanya tersenyum kala dipijat oleh putri sulungnya. Sementara anak bungsunya sedang terlelap di sofa kamar inapnya. Suasana hangat ini sangat dirindukan oleh Hyunseok.

“Hyerim-ah,” Tuan Kim memanggil dan terdengar gumaman dari Hyerim. “Pernikahanmu pasti sangat unik. Dirimu menikah dengan lelaki dingin seperti Luhan yang layaknya the beast.” Tuan Kim berucap sambil tersenyum simpul. Hyerim yang mendengarnya hanya nyengir, ya pernikahannya sangat unik. Sangking uniknya rasanya tensi darahnya naik setiap harinya.

“Begitulah…” ucap Hyerim agak ragu sambil menggerakan kepala ke kanan dan kiri.

“Ibumu pernah berkata, bahwa cinta datang dari hati. Tak peduli seberapa buruknya sikap seseorang, jika kamu mencintainya, kamu tetap akan mencintainya,” ujar Tuan Kim sambil kepingan memorinya mengingat mendiang Sang Istri.

Hal tersebut membuat Hyerim menghentikan aksi memijat ayahnya. Dirinya sedikit termenung mendengar penuturan Sang Ayah. “Tapi nyatanya ini hanya pernikahan kontrak dengan monster bajingan itu,” umpat Hyerim dalam hati.

**

Malam menyapa, lampu di berbagai rumah mulai terlihat dinyalakan. Luhan baru sampai di rumah barunya. Langsung saja dibuka olehnya alas kakinya dan perlahan dirinya berjalan masuk ke dalam rumah, lebih tepatnya dirinya menuju kamarnya yang juga kamar Hyerim. Ketika sampai di dalam, didapati oleh kelereng beriris milik Luhan, Hyerim sedang terlelap di meja belajar dengan kedua tangan terlipat sebagai bantalnya.

Ck! Dia sedang mengerjakan tugas atau apa? Bisa-bisanya tidur,” desis Luhan sambil melepaskan dasi miliknya. Kemudian berjalan ke arah kamar mandi.

Tak terasa, Luhan pun sudah selesai membasuh tubuhnya. Saat sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk, dilihatnya wajah Hyerim yang sedang terlelap. Diabaikan olehnya hal aneh yang mulai merasuki dirinya. Akhirnya Luhan selesai memakai piyamanya. Ekor matanya kembali menatap Hyerim yang tampak bergerak dalam tidurnya. Entah kenapa, kakinya membawa Luhan hingga berdiri di samping gadis tersebut.

Dibungkukan badannya hingga wajahnya sejajar dengan wajah istrinya itu, perlahan tangannya terangkat merapikan helaian rambut Hyerim yang terjuntai bebas menutupi wajah manis Hyerim. Seulas senyum terukir diwajah Luhan kala wajah manis Hyerim terlihat makin jelas tanpa penghalang rambut. Diambil oleh Luhan secara perlahan buku yang tertindih kepala Hyerim. Kemudian ditutupnya buku tersebut dan dibereskannya peralatan tulis Hyerim, lalu dimasukan ke dalam tas gendong putih bermotif bunga-bunga pink milik istrinya itu.

Hingga perlahan mata Hyerim mulai terbuka, Luhan yang agak panik dan takut tertangkap basah, langsung mengambil langkah seribu menjauh. Namun…

‘Bruk!’

Akh! Sialan!” umpat Luhan kala dirinya jatuh tersandung kakinya sendiri.

Hyerim yang nyawanya belum sepenuhnya terkumpul, melihat Luhan dengan tatapan aneh dan kemudian menguap. “Kamu ini kenapa?” tanya gadis itu.

Luhan hanya melirik Hyerim sekilas mencoba mengendalikan rasa malunya. “Bukan urusanmu!” desis Luhan dingin dan berdiri dari jatuh tak elitnya. Hyerim hanya mencibir mendapat respon seperti itu.

“Dasar kulkas!” gerutu Hyerim. Kemudian gadis itu menelisik meja belajar yang sudah rapi tanpa buku serta alat tulisnya, hal tersebut membuat Hyerim menggaruk belakang kepalanya. “Euh… apa tadi aku sudah membereskannya, ya?” gumamnya bingung.

Luhan yang berpura-pura tidur di balik selimutnya hanya menggurutu dengan suara pelan. “Dasar gadis bodoh! Bisa-bisanya dirinya lupa apa yang dikerjakannya!? Kenapa Kyuhyun hyung harus menyukai gadis sepertinya?”

Kemudian terdengar langkah kaki Hyerim mendekat ke arah ranjang, dirasakan oleh Luhan di samping kirinya, Hyerim merebahkan tubuh. Namun hal tersebut tak berlangsung lama kala Luhan main menendang gadis itu sampai tersungkur jatuh ke lantai. Hyerim yang sudah memejamkan mata lantas langsung membukanya dan meringis sebal.

“Hei! Jangan main menendangku!” teriak Hyerim kesal.

Luhan menanggapinya dengan memunggungi Hyerim yang makin memasang raut jengkelnya. “Tidur sana di bawah. Kita tidak boleh berhubungan intim sesuai kontrak.”

Mendengarnya Hyerim mendengus keras. “Berhubungan intim apanya…” desis gadis itu. “Luhan… malam ini sangat dingin.” Hyerim mulai memelas.

“Ya, aku tahu,” jawab Luhan dengan mata terpejam.

“Nanti bisa sakit bila aku tidur di lantai,”

“Masa bodoh,”

Hyerim memejamkan mata dan menghela napas berat mendengarnya.

“Yang membuatkan sarapan nanti pagi untukmu siapa kalau aku sakit?”

“Pizza delivery dekat sini melayani 24 jam,”

“Aku tidak bisa kuliah kalau begitu!” Hyerim merengut dengan bibir cemberut.

“Yang kuliah ini kan kau, bukan aku,” Luhan tak terbujuk sama sekali.

Yak! Tapi…”

‘BRUK!’

Sebuah bantal mendarat sempurna tepat diwajah manis Hyerim yang sekarang melihatkan mimik cengo lantaran serangan Luhan barusan. Lelaki itu duduk di atas ranjang dengan rambut acak-acakan dan menatap dalam Hyerim yang meneguk ludah gugup.

“Ti-dur, di-ba-wah!” eja Luhan penuh penekanan dan kemudian lanjut berbaring.

Hyerim melongo tak percaya akan hal barusan. Luhan benar-benar tak punya hati dan tak akan bersimpati padanya sampai kapanpun, mungkin. Hyerim menggerak-gerakan bibir kesal dan mulai berbaring di atas lantai yang sialannya sangat dingin malam ini.

“Bahkan alas dan selimut pun tidak dikasih olehnya,” gerutu Hyerim.

Kenapa dirinya harus menikahi pria seperti Luhan? Hyerim jadi teringat Nara yang sangat antusias kala dirinya kembali dari bulan madu. Serta perkataan ayahnya tentang pernikahannya yang unik dengan Luhan.

“Ini sama sekali bukan pernikahan yang orang-orang pikirkan, pernikahan ini sangking uniknya, selalu membuatku darah tinggi dan merasa tensi darahku naik makin hari.” Hyerim menggerutu dan mau tak mau memejamkan mata lantaran besok harus pergi melaksanakan kewajibannya sebagai mahasiswa dan ekhem seorang istri

─To Be Countinued─


HALLOOO! AKU KANGEN BANGET POST DI SINI MAAF BARU SEMPET POST YA AMPUN AKU LALAI BANGET YA AKHIR-AKHIR INI. O IYA SELAMAT SEKOLAH LAGI UNTUK KALIAN AHAHA (KEPSLOK GAK NYANTE)

FF ini di blogku udah tayang sampe chapter 9 mau ke lapakku? Boleh 

[ http://www.hyekim16world.wordpress.com ]

Biar kita lebih get closer together eaak dan btw kayaknya aku mau luncurin FF baru main cast Luhan dan dishare juga di FFindo🙂🙂 jangan lupa RCL yaaa

-With Love, HyeKim-

2 responses to “Beauty and The Beast Chapter 5 [It’s not a Marriage] – by HyeKim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s