Get Well Soon

 

Get Well Soon

by jaoya

Starring 17’s Kim Mingyu | Family | General | contains 955 words.

.

.

.

Aku tahu, ‘selamat pagi’ bukanlah frasa yang ingin didengar oleh Kim Mingyu ketika matahari sudah akan kembali ke peraduannya. Mingyu yang kelewat rajin dan menjunjung tinggi gaya hidup sehat memang tidak suka ritme hidupku, tidak baik untuk kesehatan dia bilang. Pagiku bukan paginya Mingyu. Malamku bukan malamnya Mingyu. Aku sendiri sudah lupa yang mana istilah pagi dan malam semenjak terlalu fokus mencari pundi-pundi guna membiayai kehidupan kami. 

“Hari ini pulang kerja jam berapa?”

Pertanyaan Mingyu mengudara tepat ketika aku menutup pintu kamar dan baru saja berniat menyambangi dapur.

“Jam 4 pagi, mungkin.”

“Tidak baik buat seorang wanita pulang dini hari. Aku juga tidak yakin bisa menjemput.” timpalnya merengut.

Mingyu adalah salah satu dari sedikit laki-laki yang—menurutku—masih dijajah oleh pemikiran kolot soal jam malam. Mingyu beranggapan jika waktu di atas jam 12 malam merupakan waktu yang riskan bagi seorang wanita untuk pulang seorang diri serta khawatir  hal itu akan membuat para tetangga menaruh penilaian buruk tentangku—yang tentu saja, menurutku konyol apabila julukan-julukan bernada negatif yang dia takutkan itu masih akan dialamatkan kepada wanita seusiaku.

“Tidak apa-apa. Tapi janji jangan muncul di depan tempat kerjaku lagi pada pukul 3 pagi dengan wajah mengantuk.” kataku dengan sebelah tangan yang sibuk mengaduk seduhan kopi instan.

Mingyu mendengus, dengan serta-merta beranjak dari dapur menuju ruang tengah kami yang hanya cukup diisi oleh televisi dan karpet berukuran kecil yang warna biru lautnya telah memudar.

“Memang aku tidak akan menjemput, kok!” serunya gusar.

Aku berhenti mengaduk kopi lantas beralih memandangi Mingyu yang telah duduk di atas karpet sambil memunggungiku. Dalam waktu yang relatif singkat, aku berusaha mendeteksi adanya suatu hal yang tidak beres dari diri Mingyu.

“Mingyu, kamu sakit?”

Tidak ada jawaban. Aku lekas menghampirinya yang masih terduduk di karpet.

“Wah, benar. Badanmu panas.” komentarku begitu punggung tanganku mendarat di dahinya. Aku selalu tahu bahwa keadaan Mingyu tidak sedang baik-baik saja bila intonasi suaranya ketika bicara denganku dinaikkan satu oktaf.

Mingyu kelihatan tak nyaman dengan tindakanku tersebut dan buru-buru menepis tanganku sambil tetap mempertahankan lagaknya yang sok kuat dan menyebalkan itu.

“Diistirahatkan juga bakal sembuh.”

Cih. Gengsinya masih tetap tinggi rupanya.

“Wah, baguslah. Jadi aku tidak usah repot-repot minta izin cuti dari tempat kerja kalau kamu bisa mengurus segala sesuatunya sendiri.”

“Tapi kalau besok pagi aku ditemukan meninggal dunia karena demam tinggi bagaimana?!”

Tanganku kembali mampir di kepalanya, kali ini dalam wujud jitakan yang cukup keras hingga kudengar anak tidak tahu diri itu meringis kesakitan.

“Jangan sembarangan bicara, ya! Aku tidak melahirkanmu hanya untuk melihatmu mati karena demam ringan! Cari penyebab kematian yang lebih gagah dan bermartabat, dong!”

Aku kembali beranjak ke kamar untuk mengambil ponsel. Mingyu masih mengelus-elus kepalanya. Hanya dipisahkan oleh jarak yang tak seberapa, aku teramat yakin bahwa Mingyu akan dengan mudahnya mendengar apa yang sedang kulakukan di dalam kamar.

“Ibu tidak jadi pergi bekerja malam ini?” tanyanya ketika melihatku kembali keluar kamar sembari membawa serta bantal tidur.

“Iya. Memangnya apa lagi yang bisa kulakukan ketika melihat anakku sedang sakit?”

“Bos Ibu tidak marah kalau Ibu tidak masuk kerja?”

“Dia galak, tapi cukup pengertian, kok. Lagipula sama saja, kalau aku bersikeras berangkat, kamu yang bakal sewot, Gyu.”

Aku menaruh bantal di atas karpet agar Mingyu bisa berbaring lantas bergegas ke dapur guna menyiapkan air hangat.

“Aku bukannya tidak suka Ibu bekerja, hanya waktunya saja yang tidak manusiawi. Ibu pikir aku tidak khawatir setiap melihat Ibu pergi malam lalu pulang pagi? Tidak apa-apa kalau Ibu mau bekerja di minimarket itu, tapi pilih shift siang atau sore saja.”

“Sudah akan kulakukan kalau pemilik minimarketnya adalah kakekmu.”

Aku kembali dengan membawa baskom berisikan air hangat dan handuk kecil yang disampirkan di pundak. Mingyu sudah berbaring dengan anteng menungguku meletakkan kompresan di dahinya.

“Besok-besok jangan pergi menjemputku pulang kerja. Kamu sendiri yang bilang udara di pagi buta di musim seperti ini akan mendatangkan flu. Sekarang malah kamu yang kena getahnya, ‘kan?” kataku sembari menyibakkan anak rambut di dahinya lantas menaruh kompresan hangat di sana.

“Ibu tidak mengerti perasaan khawatir seorang anak terhadap ibunya yang pulang pagi-pagi buta, sih. Kalau terjadi apa-apa di jalan bagaimana?”

“Aku yang lebih pantas mengucapkan kalimat itu, tahu!” aku menggerutu. “Lagipula, kamu pikir aku juga tidak khawatir kalau sewaktu-waktu kamu jatuh sakit sewaktu aku tidak ada di rumah?”

“Makanya lebih baik Ibu istirahat dan diam di rumah untuk mengurusku saja. Biar aku yang cari uang.”

“Katakan itu setelah kamu lulus sekolah.” Aku mengambil kompresannya dan sekali lagi merendamnya dalam air hangat. “Besok-besok kalau demamnya masih belum turun juga, Ibu akan pangilkan Jiho, anak gadis di rumah sebelah itu, supaya bisa menggantikanku merawatmu.”

“HAH, BUAT APA?”

Wajah Mingyu yang sudah hangat karena demam itu kurasakan makin menghangat ketika aku kembali menaruh kompresan di dahinya.

“Aku bisa merawat diriku sendiri, Bu! Tidak usah panggil gadis galak itu kemari! Yang ada demamku malah makin parah!” Mingyu beralasan.

“Tapi, kamu kelihatannya suka ketika tempo hari Jiho datang kemari mengantarkan masakan buatan ibunya. Aku seratus persen yakin kehadiran dia di sini pasti bakal mempercepat kesembuhanmu, Gyu.” ujarku lagi.

“Demi Tuhan, tidak, Bu. Dan aku juga tidak suka dengan si Jiho itu, sungguh.” Mingyu masih belum bosan mengelak kendati wajahnya sudah hampir serupa tomat matang.

“Anak muda memang suka menyangkal kalau sedang kasmaran, ya. Tidak apa-apa, menyukai lawan jenis itu normal ketika kamu sudah beranjak besar seperti ini, Gyu.”

“IH, IBU.”

Mau sebesar apapun Kim Mingyu setelah beranjak dewasa nanti, aku tahu dia akan tetap menjadi anak yang senang merajuk bila keinginannya tidak aku penuhi. Bocah besar yang masih senang memasang sikap sok ngambek setiap kali mendapati ibunya pulang di pagi buta. Tapi di waktu yang bersamaan, tidak pernah absen mengarungi gelapnya hari demi menjemput ibunya pulang agar sampai di rumah dengan selamat. Aku tahu, kamu menyayangiku lebih dari apapun.

Karena aku juga.

Cepat sembuh, Nak. Harga obat-obatan tidak murah, tahu.

-fin.

.

.

.

hi teman-teman yang punya lagu fav yang mau dijadikan songfic boleh coba mampir ke sini ya https://ditajong.wordpress.com/2016/08/01/open-songfic-prompt/

makasyih sudah mau baca :3

#getwellsoonkimmingyu

7 responses to “Get Well Soon

  1. ciyelaaaah~ Mingyu jadi anak mami gitu ceritanya…mau deh kalo pacarnya*eh?! itung2 ntar kalo sakit bisa gantiin maminya gituh~ (modus)
    Mingyu cocok juga kok kalo sakit jadi manja2 minta diitu…disembuhin..:”B

    btw, kok ga diposting di lapak sebelah? hihiii

  2. Wk iya ya pengen jadi pacarnya juga biar bisa gantiin tugas ibunya 😂
    Aku udah resign di lapak sebelah ehe paling nanti kirim freelance aja kalo mau posting di sana 😂
    Makasih udah mau mampir sini yaa, raditripark 🙇🙇🙇

  3. ommo ~ Ming manja bgt disini~~
    karakternya pas thor, ming emg keras kepala bgt hahaha
    keep writing! fighting!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s