#1 All I Ask

ryeowook_1453339505_ryeowook3

Title     : All I Ask

Genre  : Romance

Main Cast: Ariel Lau | Lu Han | Bae Sa Hyun | Oh Se Hun as EXO Sehun

Other Cast : Find by yourself

Rating : PG

The fiction by Nidhyun (@nidariahs)

***

Reloaded – 1 
Reloaded – 2 (It Happens To Be That Way)
Reloaded – Confession

Starbuck.

Ariel membaca reklame itu sekilas dan langsung memasuki tempat yang menyambutnya dengan aroma ramah kopi yang memenuhi seisi tempat. Well, meskipun jarak starbuck dengan kampusnya terbilang dekat -bahkan bisa dikatakan starbuck berada di wilayah kampusnya, tapi tempat ini terbilang jarang Ariel datangi. Kadang, ia lebih suka kopi yang dijual di minimarket. Lebih murah, lebih praktis, dan tidak membuat Ariel perlu banyak berinteraksi dengan banyak orang.

Tapi, hari ini Ariel ingin menghabisi rasa lelahnya dengan mendatangi tempat terdekat dari kampusnya. Dan…yeah, akhirnya ia memutuskan untuk mendamparkan diri di tempat ini.

Seperti biasa, Ariel akan memilih cappuccino dan memilih tempat duduk yang agak sepi. Kemudian, ia pun mengeluarkan ponselnya, mengecek jam -juga menghitung jam di Korea, kemudian memanggil seseorang melalui video call.

Ini adalah hari ke-10 semenjak Ariel sampai di Indonesia, dan memulai aktivitas wajibnya sebagai mahasiswi. dan…yeah, Ariel patut menyesali banyaknya absen yang menumpuk pada namanya. Untungnya, Ariel mendapat uang dari kebolosannya -juga dapat melihat lelaki tampannya di negri orang. Semenjak kembali ke kampusnya, Ariel dapat merasakan mata orang-orang mengekori langkahnya, juga bisikan kecil yang membuatnya kadang…apa ya? Ingin menghilang mungkin?

Ariel tidak dekat dengan mereka. Meskipun mungkin mereka tahu nama Ariel, tapi Ariel tak menjamin akan mengingat nama mereka.

“Hai…” sapa Ariel lemas. Ia pun menjatuhkan dagunya ke atas meja, akhirnya setelah seminggu tak melihat wajah itu, ia bisa melihatnya lagi…

Luhan tersenyum dari seberang sana. Ia masih terlihat memakai seragam tampannya, “Wow, lihat siapa yang begitu murung sesampainya di rumah?” Luhan pun tertawa, mengejek tepatnya, kemudian tersenyum lembut ke arah Ariel.

“Tsk, kau bahagia sekali melihatku lesu begini,” Ariel pura-pura merajuk.

Luhan semakin melebarkan senyumnya, “Yeah…anak perempuan bernama Ariel ini memang tidak cocok kuliah. Dosenmu tidak memakanmu, kan?” Canda Luhan yang terdengar garing di telinga Ariel.

Tapi Ariel tetap tersenyum, “tidak, kok. Tapi anak-anak itu yang terlihat ingin memakanku…”

Luhan pun menggeleng, “Salahmu terlalu lama meninggalkan kuliah…hey! Itu kopi?” Luhan mengubah warna suaranya saat mendapati kopi tertangkap retina matanya.

Ariel memejamkan matanya. Matilah kau Ariel…

“Ariel sudah kukatakan kurangi kafein. Kau terlalu ketergantungan dengan minuman itu, dan kau tahu itu tidak sehat. Kau juga harus berolah raga…”

Ariel tidak suka diceramahi, apalagi mengenai kopi. Ariel penggila kopi dan selama ia bisa, ia akan membiarkan dirinya berpesta ria, menikmati tiap sentuhan raa cappuccino itu mencium lidahnya. Tapi…inilah resiko memiliki kekasih seorang dokter. Mungkin Luhan semacam malaikat yang dikirim Tuhan untuk mengubah pola hidup Ariel sedikit demi sedikit.

“Jadi, jika kau tidak ingin aku menghasut Dr.San agar menghapus namamu dari daftar pasiennya, lebih baik kau segera kurangi meminum kopi, Ariel.”

Ariel pun menegakkan punggunya, kemudian mengangguk kecil, “Iya aku mengerti, sayang. Tapi…omong-omong, kau bukan siapa-siapa yang bisa menghasut atau mengancam dokter San. Kau lupa ya jika jabatannya ada di atasmu?” Ariel kemudian terkekeh pelan saat melihat Luhan mulai mengerutkan dahinya kesal.

“Wah, pacarku sudah mulai berani membahas mengenai status sosial ya?”

Ariel tersenyum dan menggeleng pelan, “Ini kenyataan, sayang. Jabatanmu di bawah jabatan dokter San…” kemudian Ariel pun menyesap kopinya dan melelet ke arah ponselnya –pada Luhan.

Dan beberapa orang yang mengenal Ariel, hanya bisa menatap risih ke arahnya –bayangkan saja, dia mengambil cuti lama sekali kemudian dia datang kembali dengan gosip yang agak murahan, Ariel rela bolos demi kekasihnya yang ada di Korea. yeah, tidak ada yang tahu bagaimana detail hubungan Ariel dengan pacarnya itu, tapi dari isu yang beredar, Ariel berpacaran dengan seorang dokter –dibarengi persepsi semacam ‘dia memacari orang kaya’, ‘dia memanfaatkan pacarnya’, ‘Ariel dan pacarnya tinggal bersama’, dan masih banyak lagi persepsi lainnya semenjak Ariel menjadikan fotonya dengan pria yang orang-orang yakini adalah pacarnya sebagai foto profil di akun Line dan Instagramnya.

Ariel bukan mahasiswi terkenal, dia juga tidak terlalu pintar dan banyak bergaul dengan mahasiswa lain. Tapi, kemampuan berbicara Bahasa Koreanya cukup disanjung banyak dosen. Dia pernah mengikuti pelatihan khusus di Sungkyungkwan University –pindahan dari universitas swasta di Bandung, dan mendadak naik namanya saat ia berpacaran dengan laki-laki Korea yang memiliki cukup banyak penggemar, Mino Song.

Ketika Ariel dan Mino putus, banyak yang berspekulasi bahwa Ariel dicampakkan karena membosankan –semua yang mengenal Ariel tahu jika gadis itu begitu pendiam dan tertutup—meskipun ada juga yang berkata bahwa Ariel menyelingkuhi Mino, juga sebaliknya.

Tapi, kali ini bukan gosip murahan yang ramai dibicarakn orang-orang yang mengenal Ariel sebatas lewat nama, tapi mengenai kepindahannya dari Universitas Indonesia ke Sungkyungkwan University di Korea.

Sehingga, ketika melihat Ariel berbicara dengan seseorang lewat ponselnya di starbuck siang itu, orang-orang berpikir bahwa Ariel tengah mengejar cintanya ke Korea…

***

Ariel memang pindah ke Korea agar bisa dekat dengan Luhan. Tapi…bukan itu alasannya, melainkan kepindahan orang tuanya ke Hong Kong. Karena Ariel malas berbaur dengan lokasi dan orang-orang baru, dan karena sebelumnya Ariel pernah berada di akademi Sungkyungkwan, Ariel akhirnya memutuskan untuk pindah ke Korea. ia memiliki kenalan disana, proses kepindahannya juga tidak terlalu repot, sehingga Ariel mengambil keputusan bulat untuk pindah ke Sungkyungkwan University.

“Kau berubah keras kepala semenjak memiliki penghasilan sendiri,” sang ibu berkomentar dari ruang tengah ketika Ariel melewatinya dan berjalan menuju dapur.

Ariel hanya tersenyum kecut. Ia pun mengambil sebotol jus dan membawanya ke ruang tengah, kemudian duduk di sebelah ibunya, “Dulu, Mom selalu membahas mengenai pekerjaan yang akan kuambil, Mom tidak memercayaiku, jadi sekarang biarkan Mom kembali tidak percaya bahwa putri tunggalnya ini terlampau sukses.”

Mereka pun tertawa bersama, berdua. Yah…mungkin akan ada banyak alasan yang membuat Ariel merindukan ibunya. Dan karena jarak Korea-Hong Kong terbilang cukup dekat, bisa jadi Ariel akan sering pulang-pergi Seoul-Hong Kong.

“Kapan Dad pulang?” tanya Ariel setelah beberapa menit mereka terhempas pada plot film yang ditayangkan di teve.

“Tentu saja saat kami akan pindah,” sahut sang ibu tanpa mengalihkan pandangannya dari layar TV, “Apa tidak terlalu terburu-buru kau berangkat besok? Kau bisa berangkat beberapa hari lagi.”

Ariel menggeleng pelan, “Aku sudah tidak menyewa flat lama, temanku juga sudah kembali ke negaranya. Aku akan membeli apartemen saja.”

“Ini bukan karena pacarmu, kan?”

Ariel langsung tersedak ketika sang ibu menyinggung soal…kekasihnya. Hei! Sejak kapan ibunya tahu jika Ariel memiliki kekasih?

“Mom…”

“Mom mendengar gosip saja, sih. Katanya foto sosial mediamu memampangkan seorang laki-laki,” kali ini ibunya menoleh ke arah Ariel, “Yeah…kau sudah dewasa, dan apapun itu aku hanya bisa percaya padamu. Tapi, Mom harap kau mau memperkenalkan laki-laki itu.”

Ariel meringis.

Yeah…tentu ia akan memperkenalkan kekasihnya, setelah lelaki itu mendapat gelar professor –seperti yang dijanjikannya.

***

Ariel baru saja tiba di bandara Incheon, dan Ariel langsung mencari keberadaan kenalannya -Ariel tidak yakin apakah pria itu mau disebut sebagai temannya atau bukan—Oh Sehun. Pria itu yang kemarin menawarkan sebuah apartemen di tengah kota yang katanya memiliki fasilitas memadai, nyaman, cukup besar, dan murah. Ariel sendiri belum tahu apakah apartemen itu seperti yang dikatakan Sehun atau tidak, tapi karena tidak mau repot mencari tempat tinggal lain, Ariel pun menerima tawaran Sehun.

“Menunggu lama?” tanya Ariel ketika akhirnya ia menemukan Sehun yang tengah duduk di salah satu bangku –kemudian ia menampakkan wajah cemberut.

“Kau sangat-sangat lama, tahu!” omel Sehun yang hanya ditanggapi cengiran oleh Ariel.

“Maaf, maaf. Pesawatnya delay…”

Sehun pun mengambil koper di tangan Ariel –merasa harga dirinya jatuh jika membiarkan seorang wanita kerepotan membawa tas-tasnya sendirian, “Kau benar-benar belum memberi tahu Luhan?” Sehun pun mulai berjalan yang diikuti Ariel.

“Kemarin aku sempat meneleponnya, tapi ponselnya tidak aktif. Dia sibuk? Sudah seminggu ini kamu tidak berkomunikasi,” sahut Ariel.

Sehun mengerutkan dahinya, ia pun menoleh ke arah Ariel, “Seminggu? Berarti dia belum mengabarimu ya?”

Ariel mengernyit, bingung, “Mengabari tentang apa?”

Sehun baru saja memasukkan koper dan tas Ariel yang lain ke dalam mobilnya, lalu ia cepat-cepat berbalik ke arah Ariel, “Kau benar-benar tidak tahu? Luhan hyung kan pergi ke Filiphina. Dia dikirim sebagai relawan selama sebulan. Mendadak, sih. Awalnya dia tidak mendaftar semenjak dua minggu lalu pengumuman dibuka, tapi dua hari sebelum keberangkatan dia malah mendaftar. Dia sudah empat hari disana.”

Diam-diam, Ariel mengepalkan tangannya. Meskipun mencoba mengalah dengan keadaan –mungkin saja dia sibuk sampai tidak bisa mengabari Ariel—tapi tetap saja, setidaknya Luhan bisa mengiriminya pesan singkat. Toh Ariel tidak akan mengganggu jika Luhan memang sibuk.

“Jadi…dia baru akan pulang bulan depan?”

Sehun mengangguk, kali ini ia merasa bersalah, “Yeah…mu-mungkin terlalu mendadak, sih. Jadi dia tidak sempat mengabarimu.”

***

Luhan menyangga kepalanya di atas meja dengan satu tangan, dan satu tangannya lagi memegangi ponsel yang tengah menampakkan Ariel yang sudah kembali ke Indonesia seminggu lalu –itu pun hanya dua hari, sebenarnya dia sudah mulai kembali ke aktivitas normalnya sejak dua bulan lalu. Tapi, tetap saja Ariel akan kembali datang ke Korea, sesekali, menemui Luhan dan mengurus sesuatu di Sungkyungkwan University katanya, entah apa.

“Ini kenyataan, sayang. Jabatanmu di bawah jabatan dokter San…” Luhan dapat melihat kekasihnya tersenyum, kemudian Ariel pun menyesap kopinya dan melelet pada Luhan.

“Lihat saja! Sebentar lagi aku akan mendapat gelar professor, dan aku akan memaksamu mengganti dokter San dan menjadikanku dokter pribadimu. Catat itu!”

Ariel kembali tertawa, “Ya…ya…aku akan menunggumu, sayang.”

Luhan bergidik pelan saat Ariel memanggilnya ‘sayang’. Benar-benar bukan gayanya.

“Dok…pasien darurat baru datang, bisakah anda…”

Tanpa mendnegar kelanjutan seorang perawat yang baru masuk ke ruangannya itu, Luhan langsung mengangguk dan menatap kembali ponselnya, “Ariel, aku ada pasien darurat. Aku tutup dulu, oke? Ingat! Jaga kesehatanmu!” Luhan pun langsung memutuskan sambungan dan menaruh ponselnya di dalam laci, kemudian segera berlari meninggalkan ruangan.

Ia kembali mengejar kewajibannya…

***

“Namanya Bae Sahyun, usianya 28 tahun, dia melakukan percobaan bunuh diri, dan…dia sedang mengandung dua bulan…”

Luhan sama sekali tidak fokus saat salah seorang dokter magang membacakan data dari pasien yang sedang dipasangi berbagai macam alat di tubuhnya –Luhan mengenal baik gadis ini. Dan Luhan terlalu terkejut untuk mendengar semua penjelasan dokter magang di samping kanannya tersebut, yang berhasil memenuhi kepalanya hanya satu : Sahyun –teman semasa kuliahnya—hamil dan mencoba bunuh diri.

Luhan langsung melakukan pertolongan untuk Sahyun. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa Sahyun yang ceria ini sampai berpikiran melakukan bunuh diri. Sahyun yang dikenalnya, bukan seseorang yang akan berpikiran untuk bunuh diri, gadis ini jauh dari kata putus asa.

Setelah beberapa saat, akhirnya keadaan Sahyun mulai stabil meskipun dia belum sadarkan diri. Luhan pun melepas maskernya dengan kasar dan berjalan meninggalkan ruang operasi tanpa mengatakan apa-apa. Satu keajaiban terjadi lagi di hadapannya, janin Sahyun baik-baik saja.

“Apa dia memiliki wali? Atau keluarganya sudah dihubungi?”

Seorang perawat menggeleng pelan, “Kami sudah mencoba mencari kontak keluarganya, tapi sepertinya dia bukan berasal dari Korea, ponsel yang digunakannya adalah ponsel sewaan. Kami baru saja menghubungi kantor polisi…”

Luhan kemudian melepas semua pakaian operasinya, “Aku akan menjadi wali sementaranya,” katanya sebelum meninggalkan perawat itu.

***

Bae Sahyun akhirnya sadar setelah beberapa jam, dan kondisinya saat itu masih terlalu lemah. Dan ketika nyawanya mulai terkumpul, Sahyun baru menyadari bahwa kini ia bukan berada di kamar hotelnya. Bau antiseptik yang menyerang hidungnya membuatnya kembali memejamkan mata –kecewa. Ia berhasil diselamatkan. Dan ia yakin, sekarang ia berada di sebuah rumah sakit.

“Akhirya kau sadar juga, Sahyun-ssi.”

Sahyun langsung memutar bola matanya ke samping –kepalanya terlalu sakit untuk bergerak. Dan…tada! Ia seperti mendapat kejutan besar di hari tidak beruntungnya, dan ia merasa semakin tidak beruntung saat mendapati pria dengan kemeja biru mudanya, tengah duduk di salah satu sofa, di samping ranjangnya.

Sahyun mengenalnya.

Luhan.

Yeah…dia Luhan.

Luhan pun langsung mengecek keadaan Sahyun –dan Sahyun yakin Luhan adalah dokternya. Yeah, Sahyun rasanya ingin menenggelamkan diri saja. Ia kedapatan mencoba bunuh diri, dan dia dibawa ke tempat dimana seseorang yang tak ingin ditemuinya ada disana.

“Katanya kau berkewarganegaraan asing. Los Angeles?” suara Luhan kembali menyapa telinga Sahyun. Dan ia benar-benar enggan untuk menanggapi satupun ucapan Luhan.

“Minumlah dulu,”

Sahyun sempat menggeleng –ia terlalu lemah untuk bicara saat ini, tapi Luhan berhasil memaksanya. Sahyun tidak ingin berlama-lama dengan Luhan, jadi ia pikir jika ia menurut, Luhan akan segera pergi dari tempat ini.

“Kau tahu, bunuh diri bukan sesuatu yang baik dilakukan, apalagi oleh ibu hamil sepertimu. Ibu macam apa yang ingin mengakhiri hidupnya, bahkan bersama dengan anaknya yang bahkan tak memiliki dosa?” marah Luhan dengan intonasi sedang. Dan…semua itu tetap membuat hati Sahyun digigiti rasa sakit, dan meskipun tidak ingin, ia kembali menangis.

“Istirahatlah! Dan besok, aku akan menagih banyak penjelasan darimu. Ini sudah malam, aku harus segera pulang,” Luhan pun membenarkan selimut Sahyun, “Jika ada apa-apa, tekan saja tombol ini,” Luhan mengarahkan tangan Sahyun pada sebuah tombol.

Namun saat Luhan akan beranjak, Sahyun langsung menahan tangan Luhan, “Ma-maaf…”

Luhan tersenyum kecil dan mengusap kepala Sahyun, “Ucapkan terimakasih, bukan maaf.” Dan Luhan pun benar-benar meninggalkan ruangan itu, membiarkan Sahyun kembali menangis di antara cahaya yang temaram. Luhan sengaja mematikan lampu dan membuka gorden yang membuat ruang inap Sahyun dijamahi cahaya dari luar rumah sakit.

***

Pukul 00.23.

Luhan tersenyum kecut setelah memandangi jam dinding di kamarnya. Yeah, Luhan nyaris tak merasakan waktu kosongnya belakangan ini. Dan rasanya, ia seperti kembali ke masa-masa kuliah, belajar ini, menghapal itu, praktik ini, praktik itu, meneliti ini, meneliti itu, sampai-sampai Luhan tidak ingat hari dan juga jam.

Dan, sepertinya sampai data-data yang diperlukannya untuk pengajuannya untuk menjadi professor akan menyita banyak waktunya lagi sampai beberapa waktu ke depan. Meskipun jika kembali ditinjau, ia hanya memerlukan sedikit revisi dan…selesai.

Yeah, semua lebih cepat daripada perkiraannya.

Luhan pun mendekati meja kerjanya dan mengambil ponsel putih yang tergeletak di atasnya. Ia pun mendesah pelan, tiba-tiba saja ia teringat dengan pertemuan tak terduganya dengan Sahyun –bunuh diri, hamil…. Luhan pikir, semua tindakan yang diambil Sahyun sejak perpisahan dengannya lima tahun lalu selalu tidak berhasil menembus logika Luhan. Tidak masuk akal dan akan diakhiri pertanyaan, “kenapa?”.

Yeah, di angkatannya saat kuliah dulu, Bae Sahyun salah satu mahasiswi yang paling banyak dipuji dosen-dosennya, selalu mendapat nilai sempurna, dan dia memiliki kemampuan bicara yang hebat. Luhan sangat dekat dengan Sahyun, bahkan Luhan sering menghabiskan waktu belajar bersama Sahyun. Dan tanpa diduga, gadis itu justru mengundurkan diri sebelum mendapat gelar dan lulus, meskipun beberapa kali masih sempat bekomunikasi –dan yang Luhan tahu Sahyun membicarakan seorang pria yang ia sebut adalah kekasihnya—lalu tak lama setelah itu, Sahyun menghilang.

Luhan mengusap wajahnya, ia tiba-tiba kembali teringat pada kenangan dimana dirinya yang menyatakan perasaan pada Sahyun dan mengajaknya untuk berkencan –yang berakhir penolakan. Sahyun sudah memiliki kekasih. Dan…yeah, Luhan sempat berpikir pasti dia bukan pria yang baik sampai ia ditolak, Luhan benar-benar kecewa saat itu –well, semua orang tahu jika Luhan dan Sahyun sudah seperti couple yang akan bersama-sama sejauh mata memandang.

Tapi…kenyataannya tidak seperti itu.

Sahyun menolaknya –meskipun dia berkata bahwa ia juga menyukai Luhan—kemudian Sahyun menyerah pada impiannya yang entah apa alasannya, lalu pergi begitu saja.

Tangan Luhan mulai mencari sebuah kontak di ponselnya –Ariel. Melihat Sahyun dan membiarkan kenangan lama Sahyun menari di kepalanya, membuatnya ingin mendatangi Ariel dan memeluknya.

[Hai.]
[Sudah tidur, kan?]
[Aku merindukanmu.]
[Emmm…selamat malam!]

Luhan menatap lama pesan yang dikirimnya melalui Line –dan sampai tiga puluh menit ke depan, Luhan tidak juga mendapat balasan dari Ariel. Harusnya sudah dini hari di Indonesia, dan…yeah, tentunya Ariel harusnya tidur dan bukannya membalas pesan Luhan.

Luhan pun meletakkan kembali ponselnya dan mendekati ranjangnya. Sepertinya ia perlu mengistirahatkan dulu otak dan tubuhnya. Besok masih ada banyak orang yang membutuhkannya –dan masih ada banyak hal lain yang perlu dilakukan.

Salah satunya, meminta penjelasan Sahyun.

***

Sahyun memperhatikan jam dinding di kamar inapnya. Sudah pukul empat sore, dan…Sahyun masih berharap Luhan akan datang dan menjenguknya lagi. Yeah, keinginannya memangterdengar naïf dan konyol, tapi…entah mengapa ia merasa ada seseorang yang bisa dijadikannya sebagai ‘sandaran’ untuk sementara –yeah, sementara. Sahyun tak yakin apakah Luhan masih sama dengan Luhan yang dikenalnya dulu. Setidaknya, Sahyun merasa bersyukur masih ada seseorang yang mengkhawatirkannya.

Dan, ketika Sahyun hendak memejamkan matanya, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan ia langsung memutar kepalanya sangat cepat ke arah pintu. Berharap Luhan ada disana dan tersenyum ke arahnya –tapi disana ternyata hanya ada seorang perawat yang mungkin akan mengeceknya.

“Maaf, suster…”

Perawat dengan name tag ‘Yoon In Ha’ itu pun menoleh ke arah Sahyun sambil tersenyum, “Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya dengan suara kecil dan ramah.

“Luhan…ah, maksudku dokter Luhan, apa dia datang ke rumah sakit hari ini?” tanya Sahyun agak ragu. Ia tidak merasa pertanyaannya benar –lagipula kenapa Luhan harus datang menemuinya lagi?

Perawat itu tersenyum kecil, “Ya. Tapi jadwalnya agak padat hari ini. Anda temannya, ya? Dia terlihat sangat mengkhawatirkan Anda, bahkan dia menjadi wali Anda.”

“Y-ya?”

“Dokter Lu pasti akan datang kemari. Sebentar lagi, mungkin? Tunggu saja, ya.”

Entah mengapa, mendengar ucapan perawat itu membuat Sahyun merasa senang –Luhan-nya masih sama dengan Luhan-nya yang dulu.

***

“Bukannya Sahyun Nuna belum menikah? Kekasihnya itu…Jay…ah! Jay Park! Dia bukannya kekasih Jay Park, komposer di Amerika itu, kan? Aku suka beberapa lagu ciptaannya,” Sehun tersenyum lebar dan mulai mengingat-ingat beberapa lagu yang pernah diciptakan oleh Jay Park tersebut sambil menyesap kopi kalengnya.

Luhan berdecak pelan, “Bukan itu masalahnya. Tapi apa yang terjadi pada Sahyun sampai dia nekat mencoba bunuh diri? Dia sedang hamil! Memangnya sedepresi apa dia sampai dia tidak berpikir dua kali seperti itu!” Luhan ikut menyesap kopinya. Luhan semakin kesal karena menyadari intonasi suaranya yang menyebalkan –ia tidak ingin mengkhawatirkan Sahyun sejauh itu.

“Yeah…setiap orang memiliki masalah, Hyung. Mungkin dia merasa sendiri dan…tertekan. Entahlah…”Sehun pun kembali meneguk kopinya, “Tapi kemarin aku membaca artikel berita, jika Jay Park memiliki hubungan khusus dengan Mia Edward –penyanyi baru yang menggunakan lagu Jay,” Sehun pun menatap Luhan serius, “Jika mereka masih berhubungan, mungkinkah…?”

Luhan memukul lengan Sehun keras dan melotot ke arahnya, “Ayolah, Hun! Kau…sejak kapan kau suka membaca artikel gosip?”

“Hei, Hyung! Aku serius!”

Luhan menggeleng dan mengeluarkan ponselnya, “Terserahmu. Aku pergi dulu, Ariel menghubungiku tadi…”

Sehun pun mencebik. Yeah, enak sekali yang sedang berpacaran itu –menghubungi sang pacar di jam kosong.

***

“Jadi, sampai saat ini belum ada keluarganya yang bisa dihubungi?” Luhan mengangguk setelah mendengar suara Ariel dari teleponnya –seolah Ariel bisa melihat gerakan kepala Luhan.

“Yah…sampai sekarang aku belum melihatnya lagi, sih. Tapi perawat belum ada yang menghubungiku, berarti memang belum ada yang menghubunginya. Sayang sekali, kan? Jadi untuk sementara aku menyanggupi untuk menjadi walinya. Kemarin keadaannya sangat mengkhawatirkan,” kata Luhan sambil melangkahkan kakinya menuju ruangan Sahyun. Ariel baru menghubunginya siang tadi, dan Luhan baru bisa menelepon balik sekarang –hubungan yang menyebalkan, ya?

Tapi, hubungannya dengan Ariel di bulan ke-27 ini jauh lebih baik daripada hubungannya yang ke-19. Luhan dan Ariel lebih sering berkomunikasi dan terbuka. Bahkan, kadang Luhan malah menceritakan pasien-pasiennya ataupun kejadian menarik saat terjadi di meja operasi –dan Luhan merasa ia perlu menceritakan mengenai Sahyun juga.

“Tsk. Kau benar-benar teman dan dokter yang baik, ya?”

Luhan tersenyum mendengar penekanan suara Ariel. Dia menyindirnya, jelas sekali di telinga Luhan, “Makanya, kau juga harus mau mengganti doker San. Kau tahu, aku sekarang sudah menjadi salah satu dokter terbaik disini,” Luhan mulai menaiki tangga. Setelah ini, ia akan sampai di lantai kamar Sahyun.

“Ya, ya…aku akan memikirkannya. Dokter Luhan yang keren.”

Luhan pun tertawa pelan, “Baiklah. Aku harus menjenguk Sahyun dulu. Kau juga, jaga diriu baik-baik ya…”

“Hmm. Sampai nanti.”

Luhan pun mengakhiri percakapan itu dengan seutas senyum yang dilemparkannya ke arah ponsel –berharap Ariel juga bisa melihat senyum itu. Kemudian Luhan memasukkannya ke dalam saku dan membuka pintu kamar inap Sahyun.

***

Sahyun benar-benar sangat senang saat melihat Luhan akhirnya memasuki ruang inapnya. Sahyun sudah menunggu pemuda itu sejak tadi, dan…yeah, rasanya ada yang memecahkan gelembung ketidaktenangannya sejak tadi.

“Wah…akhirnya aku bisa melihat wajahmu membaik, Nona Bae,” sapa Luhan sambil menarik kursi mendekat ke arah ranjang Sahyun, “Bagaimana kabarmu hari ini?”

Sahyun tidak sabar untuk menahan senyumnya, “Yah…jauh lebih baik setelah melihatmu.”

Kemudian, mereka pun sama-sama tertawa, “Aku benar-benar benci pertemuan kita ini. Apa-apaan itu? Kau menghilang begitu saja dan datang kembali dengan kondisi yang benar-benar…” Luhan menggeleng pelan dan melipat kedua tangannya di depan dada, “Dan aku tidak menerima penolakanmu untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.”

Raut wajah Sahyun langsung berubah. Luhan bisa melihatnya dengan jelas, tapi ia tetap bersikap tenang, ia harus tetap mendengar alasan masuk akal Sahyun –meskipun bunuh diri bukan suatu pilihan yang masuk akal menurutnya.

“Yah…seperti yang kau lihat, aku sekacau ini,” tanpa sadar Sahyun meremas kedua tangannya. Matanya kembali terarah ke arah perutnya yang masih datang, “Sepertinya anakku memiliki kesempatan hidup yang besar, sehingga akhirnya aku justru malah berada disini saat terbangun…”

Luhan pun menarik tangan Sahyun dan tersenyum lembut ke arah Sahyun, “Sahyun yang kukenal bukan seseorang yang mudah patah semangat. Putus asa bukan bagian dalam kamus hidupnya, sepertinya anakmu ingin memberi tahu bahwa putus asamu bukan bagian darimu dan menjadi harapan hidupmu.”

Sahyun benar-benar tidak bisa menahan air matanya. Astaga…ia benar-benar tidak menyukai situasi ini, “Sejak awal keputusanku memang benar-benar kacau,” Sahyun menarik napas panjang –membiarkan Luhan menghapus air matanya, “Memakan janji seorang pria yang hanya memiliki kebahagiaan sesaat…aku terlihat seperti remaja naïf, ya?”

Luhan masih berusaha tersenyum menghibur, “Jadi…kabar soal Jay…”

Sahyun mengangguk pelan, “Kami bertunangan. Tapi…yeah, dia tak pernah menjadikan impian pernikahan itu menjadi sebuah kenyataan,” Sahyun pun mengusap pelan perutnya, “Dia juga menolak anak ini. Aku harus merelakan impianku, tapi dia justru merelakan kami demi ambisinya…”

“Hei…kau masih bisa memperbaikinya. Semuanya. Kau bisa memulai dari awal,” Luhan pun menatap perut datar Sahyun, “Bersama anakmu, tentu saja…. Iya kan, nak? Kau harus menjadi pilar untuk hidup ibumu…”

Sahyun terkekeh pelan saat Luhan bicara pada janinnya, “Wah…aku menyesal telah meninggalkanmu,”

Luhan mengangguk setuju, “Kau harus menyesal, tentu saja. Aku pria baik, dan kau malah mencampakkan pria baik ini,”

Mereka kemudian tertawa bersama. Melanjutkan obrolan sore itu dengan beberapa pengalaman terlewatkan, dan juga mengenang masa lalu, masa-masa dimana mereka masih mengisi episode hidup satu sama lain.

***

Satu minggu kemudian, Sahyun akhirnya dinyatakan sehat dan bisa kembali –meskipun Sahyun tidak memiliki tempat tinggal tetap di Seoul. Ia juga belum siap untuk menghubungi keluarganya di LA –dan kandungannya yang masih muda itu membuatnya mendapat larangan dari dokter kandungan untuk melakukan perjalanan jauh.

Akhirnya, awal musim semi itu Luhan menawarkan tempat tinggalnya untuk Sahyun tinggal sementara, sebelum Sahyun menemukan tempat tinggal baru di Seoul –tidak mungkin juga kan jika Luhan menyuruh Sahyun seterusnya tinggal di apartemennya?

Dan…selama Sahyun tinggal di apartemennya, Luhan memutuskan untuk mengikuti perjalanan menjadi relawan ke Filiphina –dua hari lagi, dan orang-orang sempat mempertanyakan keputusan mendadak Luhan. Yeah, bagaimana pun, Luhan merasa…membiarkan dirinya berada terlalu dekat dengan perempuan yang tak memiliki ikatan khusus dengannya bukan ide yang baik. Belum lagi, Luhan dan Sahyun sama-sama tahu mereka punya ‘kenangan’ tersendiri yang…yeah, siapapun tahu setan bisa membakar kenangan itu dan menguah sesuatu pada diri mereka. Luhan tidak ingin sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi. Dan akhirnya, Luhan pun mengambil keputusan pergi ke Filiphina –yang Luhan akui memang agak konyol.

Tapi, setahu Luhan, Filiphina cukup dekat dengan Indonesia, tempat tinggal Ariel saat ini, jadi ia pikir ia bisa berkunjung ke sana nanti –jika memungkinkan.

Yeah…jika memungkinkan.

Tapi menjadi relawan ternyata bukan ide yang bagus juga. Luhan bukan ditempatkan dimana ia mendapat sinyal ponsel yang baik, ia bahkan tidak bisa menggunakan internet –tempatnya terlalu terpencil dan hampir mustahil untuk bisa menghubungi orang lain.

Luhan bahkan tidak sempat menanyakan kabar Sahyun yang masih tinggal di apartemennya, Luhan juga tidak bisa menghubungi Ariel sama sekali –bahkan sepertinya mengunjunginya pun tidak mungkin.

Yeah…ia perlu menunggu satu bulan sampai bisa menghirup kehidupan normalnya lagi.

***

Ariel mengecek pesan singkat yang dikirimkan Emma padanya melalui Kakao Talk –Ariel menanyakan tentang beberapa buku yang sempat ditinggalkan di flat lamanya bersama Emma, dan karena terburu-buru pindah dari flat lamanya, beberapa bukunya terbawa oleh Emma. Dan dalam pesannya, Emma mengatakan bahwa buku-buku Ariel sudah dikirimkan ke apartemen Luhan.

Ariel yang saat itu baru selesai membereskan apartemennya, langsung memesan taksi dan pergi ke apartemen Luhan.

Ah…ini sudah hari ketiga semenjak Ariel sampai di Korea, dan Luhan yang mendadak tertarik menjadi relawan –padahal terakhir Luhan bilang dia sangat sibuk untuk persiapan kenaikan jabatannya—belum juga memberinya kabar.

Ariel tiba-tiba saja merasa kesal dengan Luhan. Padahal Luhan kan masih bisa menghubunginya saat berada di bandara, meskipun tidak meneleponnya, Luhan juga bisa saja kan mengiriminya pesan singkat dan memberinya kabar. Dan lagi, lokasi Luhan ternyata di Filiphina –hell! Filiphina adalah tetangga Indonesia! Fakta itu membuatnya semakin kesal.

Ariel maklum jika Luhan memang tidak menemukan sinyal di lokasinya saat ini –meskipun ia lebih kesal lagi dengan fakta bahwa Luhan telah membaca semua pesan Line-nya tanpa satupun balasan. Mungkin Luhan sibuk –atau mungkin lokasinya memang benar-benar memiliki sinyal yang buruk. Indonesia saja, masih memiliki wilayah yang tak terjangkau oleh sinyal-sinyal seperti itu, dan mungkin Filiphina juga seperti itu.

Dan…kenyataan itu tak bisa mengakhiri rasa kesal Ariel.

Ariel ingin memberi kejutan, tapi nyatanya ia yang malah diberi kejutan menyebalkan begini.

Setelah beberapa menit, akhirnya Ariel sampai di gedung apartemen Luhan. Ia pun segera menaiki lift dan menekan tombol 14 –lantai kamar apartemen Luhan. Kemudian ia segera menyeret kakinya menuju pintu kamar apartemen Luhan, menekan ‘tanggal jadi’ mereka berdua sebagai password pintu yang kemudian disusul suara ‘tililit’ sebelum akhirnya pintu terbuka.

Ariel pun segera masuk –ia tidak mau berlama-lama berada di apartemen Luhan, ia takut kalap dan menghancurkan apartemen Luhan saking kesalnya karena ‘kejutan’ yang diberikan Luhan. Ariel mengernyit bingung ketika tak mendapati sandal rumah berwarna biru muda miliknya yang disimpan disini. Hanya ada sandal rumah berwarna hitam milik Luhan yang terletak di sisi dinding. Bahkan gorden apartemen Luhan terbuka, membiarkan cahaya terang matahari dari luar berhasil menyentuh seisi ruangan. Aneh. Namun akhirnya, Ariel pun menggeleng pelan –tak mau ambil pusing.

Seperti di rumahnya sendiri, Ariel sudah hapal betul tiap sudut apartemen ini. Dan ia langsung berjalan menuju kamar Luhan –dan kamar ini ternyata dibiarkan gelap. Ariel segera menyalakan lampu dan membuka lemari Luhan yang kemungkinan menjadi tempat penyimpanan buku-bukunya.

Tidak butuh waktu lama untuk Ariel menemukan barangnya. Ia pun segera memasukkanya ke dalam ransel miliknya. Kemudian ia pun segera berjalan menuju pintu –dan sebelum mematikan lampu Ariel sempat tersenyum ke arah bingkai foto yang terletak di atas nakas Luhan, foto 2nd anniversary mereka.

“Dia pasti memimpikanku setiap malam,” Ariel tersenyum geli membayangkan Luhan memeluk fotonya mereka sebelum tidur –oke itu berlebihan dan Luhan pasti tak memiliki waktu untuk melakukan hal gila semacam itu.

Ariel pun segera keluar dan berjalan menuju kaca besar yang menjadi dinding sekaligus pintu menuju balkon, ia berniat untuk menutup gordennya. Namun, belum sempat ariel menarik seluruh gorden, ia dikejutkan oleh sebuah suara perempuan yang menginterupsinya.

“Apa yang kau lakukan?!” ucap suara itu yang membuat bulu kuduk Ariel merinding –ia sempat mengira itu suara hantu wanita.

Namun setelah berbalik, dahinya langsung mengernyit saat menemukan seorang wanita –yang tidak terlihat seperti hantu—tengah berdiri dengan raut wajah kurang menyenangkan, piyama tidur bermotif tokoh kartun Disney, dan…dia siapa?

“Kau…kau siapa?” tanya Ariel setelah berhasil mengumpulkan kembali nyawanya –juga setelah detak jantungnya kembali normal.

Dahi wanita itu mengernyit, ia pun mendekat ke arah Ariel dengan aura mengintimidasi, “Bukankah seharusnya aku yang bertanya? Kau masuk ke apartemen orang lain tanpa izin. Kau mau mencuri? Mau kupanggilkan pihak keamanan, hah?” katanya dengan nada emosi yang kentara.

Ariel pun tertawa datar –astaga! Apa-apaan ini? Ia bisa saja kehilangan control dan balas memaki gadis asing ini. Tapi…sejak kapan Luhan berani membawa gadis asing ke apartemennya? Luhan tidak pernah seperti ini di belakangnya, kan?

“Dengar, Nona. Ini apartemen kekasihku, Luhan. Dan jika kau meminta bukti,” Ariel menunjuk pintu apartemen ini, “Password yang digunakan Luhan adalah hari jadi kami. Dan aku tidak perlu menunjukkan bukti lainnya, kan? Seperti magneting card yang sengaja Luhan berikan padaku agar aku bisa memakai lift disini?” Ariel pun menarik napas panjang, “Jadi, sekarang aku yang harus bertanya, kau siapa? Kenapa kau ada di apartemen kekasihku? Kau…bukan selingkuhannya, kan?”

Entah mengapa wajah gadis asing itu langsung memucat setelah mendengar pertanyaan Ariel –tapi Ariel kehilangan rasa pedulinya. Rasa marah, kesal, dan kecewa terlanjur mencekik dan menghantam dadanya keras. Ia memiliki emosi yang masih belum stabil –dan ia bisa saja melakukan hal yang lebih buruk daripada memaki.

Ariel pun mengangkat telapak tangannya dan menarik napas panjang, berusaha menetralkan isi kepalanya. Sepertinya ia akan sulit tidur malam ini, “Aku tidak ingin mendengarmu sekarang. Aku bisa saja berbuat hal buruk padamu,” Ariel pun memejamkan matanya, kemudian membukanya kembali sembari menghembuskan napasnya perlahan, “Kita harus bicara lagi besok.” Dan tidak membiarkan gadis itu berbicara, Ariel langsung meninggalkan apartemen Luhan dengan bantingan pintu yang keras. Sama sekali tidak tahu, gadis yang ia tinggalkan di dalam apartemen Luhan juga cukup shock dengan pernyataan Ariel.

Gadis itu, Bae Sahyun sama sekali tidak tahu Luhan sudah memiliki kekasih. Entah mengapa dadanya mendadak sesak setelah mengetahui fakta itu –Luhan sangat perhatian padanya, sama seperti dulu, sampai Luhan menyatakan perasaannya dan mendapat penolakan dari Sahyun.

Sahyun pun tersenyum kecut. Apa yang ia pikirkan? Berharap Luhan masih menyukainya? Luhan mungkin kasihan dengan kondisinya saat ini, makanya dia sangat baik pada Sahyun. Harusnya Sahyun sadar, dia bukan siapa-siapa dan bisa saja Luhan sudah memiliki kekasih. Memangnya Sahyun siapa sampai Luhan tidak bisa melupakannya, kan?

***

“Tapi kenapa Luhan membiarkannya tinggal di apartemen? Memangnya mereka sedekat itu sampai Luhan banyak melakukan ini itu pada Sa…siapa namanya?”

“Sahyun,” sahut Sehun dari seberang telepon –yang dengan terpaksa mendnegarkan omelan panjang Ariel mengenai gadis asing yang ia curigai di apartemen Luhan. Sehun bahkan sempat mengusap wajahnya sendiri –bagaimana bisa Luhan lupa untuk menjelaskan bagian penting seperti itu?

“Iya. Itu. Sahyun. Aku benar-benar kesal saat dia menuduhku pencuri!”

Sehun yang sedang berada di ruang istirahat rumah sakit sempat tersenyum pada seorang dokter wanita yang masuk dan mengambil kopi, “Dia hanya sementara tinggal di sana, kok. Beberapa hari lagi juga Sahyun Nuna akan pindah. Mungkin Luhan Hyung lupa memberitahumu.”

“Tetap saja…” suara Ariel mulai melunak.

“Bagaimana jika kau kukenalkan padanya saja? Kita bisa bertemu bertiga, kau bisa berkenalan dengan Sahyun Nuna.” Sehun memberi saran. Meskipun tidak bermaksud ikut campur, membiarkan Ariel larut dalam salah paham juga bukan sesuatu yang baik.

“Tidak. Aku tidak mau sampai Luhan datang sendiri dan menjelaskan. Dia mencemburui banyak teman lelakiku tapi dia memasukkan perempuan asing ke apartemennya, apa-apaan itu?”

Sehun mengernyit. Perempuan memang semerepotkan itu jika cemburu.

“Ya…baiklah, terserahmu. Tapi saranku, jangan melakukan hal buruk padanya. Kau tahu kan dia sedang hamil…”

Terdengar Ariel mendecak pelan, “Aku tahu Luhan bermaksud baik. Tapi aku tidak bisa menerimanya begitu saja…”

“Hmmm. Aku tahu. Tenangkan dirimu, oke? Fokus saja dulu dengan kuliahmu. Dan…dokter San menanyaimu lagi. Katanya kalau bisa kau mendatanginya, bersama psikiater yang disarankannya.” Sehun tidak mendengar jawaban apapun. Ia pun mendesah panjang, “Jangan takut. Semua baik-baik saja, kok. Kau juga baik-baik saja, kan? Dokter San mengeluhkan keras kepalamu…”

“Ya. Aku baik-baik saja, jangan khawatir.” Akhirnya Ariel menyahut. Warna suaranya agak berubah.

“Jangan terlalu menyendiri, berbaurlah. Mengerti? Jika kau butuh teman, aku bisa menemanimu sampai Luhan Hyung kembali dari Filiphina, mengerti?”

“Ya…ya…kau secerewet Luhan sekarang.”

Sehun tersenyum lebar, “Luhan Hyung harus mentraktirku karena telah menjaga pacar kesayangannya.”

“Ya…buatlah dia bangkrut agar kesalku bisa terbayarkan.”

Ariel dan Sehun pun tertawa bersama.

-tbc-

20160808 AM0204

With song Eyes by Jay Park

2 responses to “#1 All I Ask

  1. ahh ngk sabar baca lanjutannya aku dan juga semoga aja sahyun ngk jadi penghalang cinta luhan-ariel, semoga ngk ada kesalah pahaman antara mereka berdua, dan juga luhan moga aja ngk bikin ariel marah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s