Existence [Chapter 5] – morschek96

morschek96

Existence by. morschek96

Sad-Romance || Angst || – General / Teen

Sehun , Choi Da Hye

Others.

Storyline and Art are belong to morschek96!

[ch1][ch2][ch3][ch4]

Ada sebuah legenda bahwa ketika kau membuat seribu origami burung bangau (crane) maka keinginanmu akan dikabulkan oleh burung-burung tersebut.

***

“Apakah kau pernah melihat seseorang yang siap untuk mati?” Kata Dahye di tengah keheningan saat ia dan Kai berkeliaran di ruang istirahat, minum kopi mengerikan itu lagi.

“Oh Tuhan, Dahye.” Kai berada sudah seberang ruangan, “Aku tahu bahwa hampir setiap hari kau mengunjungi Rumah Sakit, tapi tetap saja berbicara seperti itu tidaklah baik.”

Dahye melambaikan tangannya di udara, “Bukan aku, bodoh.”

“Oh … Oh! teman barumu itu? ”

“Ya.”

“Aku tidak bisa mengatakan lebih karena aku tidak sedang mengalaminya. Tapi aku akan lebih suka menangis dan meratap tentang tidak bisa hidup lebih lama lagi.”

“Benar, tapi itu hanya …” Dahye meniup kopi di dalam cangkir styrofoam. “Ini semacam tindakan abnormal. Sesuatu yang tidak biasa.”

“Itu masuk akal … Katakanlah, apakah kau akan baik-baik saja di masa depan?”

“Tanyakan padaku lagi ketika aku sudah ada di masa depan.” Dahye berjalan mendahului Kai.

 

***

 

Kapan itu terjadi?

Apakah itu ketika pertama kalinya Sehun tersenyum padanya?

Apakah itu ketika mereka mengalami kemajuan dalam berinteraksi dan percakapan mengalir begitu lancar?

Kapan tepatnya ia mulai membiarkan Sehun menempati tempat khusus di hatinya?

Pertanyaan-pertanyaan ini berputar-putar di benaknya saat ia melihat perawat Lee mengubah infus peralatan lelaki itu.

Kapan?

Mengapa?

Bagaimana?

Sebenarnya, pertanyaan tentang bagaimana hal itu terjadi dapat dengan mudah dijawab untuk Dahye. Bagaimana bisa dia tidak marah ketika Sehun merendahkannya dengan ucapan-ucapan sarkasme? Bagaimana bisa dia tidak menertawakan setiap hal kecil yang keluar dari mulut Sehun? Bagaimana bisa dia tidak jatuh untuk kepribadian Sehun yang sangat lucu dan aneh?

Cara mudah untuk menjawab, tetapi apa yang terjadi sekarang?

Kepalanya mulai terasa berat saat pikirannya berteriak tidak, tidak, dan tidak.
Apa yang terjadi sekarang?

Dadanya terasa sesak dan amarah berkecamuk di dadanya.

Dia sudah tahu apa yang akan terjadi.

 

Sehun akan mati dan mengakui cintanya kepada lelaki itu tidak ada gunanya lagi.

Jadi dia tidak mengatakan apa-apa demi melindungi Sehun.

 

Duduk di kursi biasa, gemerisik dari sakunya mengalihkan perhatian Dahye saat Sehun melipat dengan sangat lambat. Suara di sakunya mengingatkan bahwa dia telah mengambil fortune cookie . Dia membuka kue itu, secarik kertas kecil keluar radi dalam kue kering tersebut.

Dengan cepat membacanya dalam hati, Dahye meremas kertas kecil tersebut ke telapak tangannya, mencemooh ironi. Sehun berhenti melipat.

“Apa yang dikatakan fortune cookie itu?”

“Kebahagiaan merayap kepadamu secara diam-diam hingga kau tidak dapat melihatnya, tapi kemalangan datang dengan sangat tiba-tiba.”

“Itu kue keberuntungan itu cukup akurat.”

“Sejak kapan fortune cookies menjadi begitu akurat?”

“Setidaknya sesuatu di dunia ini akan benar. Kita semua membutuhkan kebaikan dan keberuntungan kecil dengan cookie itu.”

Dahye hanya tertawa, “By the way, anak-anak rindu melihatmu.”

 

Mengalihkan pandangannya ke arah jendela, kertas crane terletak di pangkuan Sehun saat ia berbicara dengan lembut. “Itu bagus.”

Itu bukan reaksi Sehun yang Dahye harapkan.

Bahkan sikap menjengkelkannya pun tampaknya dia sangat kesakitan.

.

.

***

“Dahye.”

Dahye selesai minum syrup peach saat Perawat Lee berjalan di koridor. Menyipitkan matanya, dia memperingatkan Dahye, “Aku masih mememperhatikanmu.”

Dahye hanya tersenyum malu-malu, “Maaf, kami cukup membuat kerusuhan hari itu.”

“Uh huh.” Perawat Lee berbalik untuk pergi, tapi berhenti untuk mengucapkan beberapa kata lagi. “By the way, tuan Oh selalu tampak kecewa ketika saya membuka pintu kamarnya.”

Dahye tersenyum, memahami implikasi dari kata-kata Perawat Lee. “Dia pasti mengharapkan aku yang membuka pintu itu.”

“Saya berharap begitu.” Perawat Lee tersenyum saat ia kembali berjalan pergi.

Kadang-kadang, Dahye tidak bisa memahami karakter seperti apa yang sedang dimainkan perawat itu. Terkadang sangat cuek dan kasar, dan sewaktu-waktu bisa menjadi lebih baik dari yang dapat ia bayangkan.

..

..

..

Sehun harus melihatnya datang.
Tapi ia hanya tidak tahu kapan. Apa yang dia tidak tahu adalah bahwa akibatnya tidak akan dapat diterima. Setelah lelaki itu pergi, semuanya akan berakhir, dan akan meninggalkan benang yang tak terlihat dan kenangan-kenangan mereka

Dan itu tidak akan pernah cukup.

 

Dahye berhenti di depan pintu, tidak mampu membawa diri untuk membukanya.

Bagaimana jika malam ini adalah malam ‘itu’?

Bagaimana jika di balik pintu itu, yang berbaring di tempat tidur yang adalah tubuh dengan jangtung yang berhenti berdetak?

Mengambil napas dalam-dalam, menampakkan senyum terpaksanya saat pintu slide terbuka.

Sehun terjaga, tangannya gemetar saat ia berjuang untuk menulis pada selembar kertas. Perlahan-lahan, dia menutup matanya saat ia melepaskan tangannya, meletakkan notebook dan pena disamping tubuhnya.

“Hai.”

“Hai, apa yang ingin kau tulis? Aku akan menuliskannya untukmu.” Memantapkan tangannya, Dahye mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Roses are red, violet are blue, aku terlalu lemah untuk melakukan sesuatu, sial, aku bahkan tidak bisa menyanyi.”

Dahye berhenti menulis, mengerutkan kening saat ia memperhatikan wajah pucat lelak disebelahnya.

“Apakah itu yang benar-benar kau inginkan untuk kutulis? Yang bahkan sajaknya tidak diletakkan dengan cara yang benar. ”

“Tidak ada cara yang tepat untuk sajak.”

“Oh yang benar saja.”

Perlahan-lahan, Sehun berbicara.

I am not who I used to be

In fact, I am better

What I have gained

Cannot be measured by tangibility

Dahye berhenti berkedip, menatap mata Sehun, mencoba membaca wajahnya. “Is that all?”

Sehun hanya tersenyum, kemudian menutup matanya, “Itu saja. Terima kasih. Aku akan tidur siang sekarang. ”

“Sehun.”

“Hrm?” Dia membuka sebelah matanya.

“Kau benar-benar romantisis.”

Mereka berdua hanya tersenyum.

***

 

Dahye mulai bermimpi, mulai menyusun ide-ide dan pemikiran seperti apakah keadaan Sehun jika ia sehat. Ini sangat jelas– dia bisa melihat si lelaki pirang duduk di bawah pohon oak di atas rumput hijau, menulis puisi, dan menyangkal bahwa dia romantis. Dia melihat senyum cerah dan mendengar suaranya saat ia membacakan puisi-puisinya. Dia melihat mata cokelat indah Sehun yang dipasangkan bersama-sama dengan seringai andalannya.

Dan kemudian Dahye terjaga.

Mimpi ini melakukan apa saja yang ia bisa, kecuali menjadikan mimpi itu keluar dari layar dan menjadi kenyataan. Mimpi itu mengejeknya ketika Dahye menutup matanya, membuatnya tidak ingin membuka mata selamanya.

Ini kejam, benar-benar, dan mimpi-mimpi itu tidak akan berhenti. Dia berpikir mimpi secara alami datang karena dia tidak pernah mendapat kesempatan untuk tahu seperti apa keadaan Sehun jika lelaki itu sehat. Rasa ingin tahu yang tidak akan pernah puas.

Terus terang, dia tidak tahu apakah dia akan bisa melihat Sehun sehat.

 

***

Mimpi terburuknya menampar Dahye dengan keras ketika ia berjalan ke ruangan Sehun, namun kosong.

Sehun tidak ada.

Panik, Dahye bergegas kembali ke koridor, mata memindai sekitar untuk mencari Perawat Lee. Untungnya, Perawat Lee berada disudut koridor menyebabkan Dahye berlari dan tersandung ke arahnya dengan kaki gemetar.

“Sehun.” Mulutnya kering saat kata-kata berjuang untuk keluar. “Di mana Sehun?”

Perawat Lee menutup clipboard-nya saat membantu Dahye menstabilkan kakinya.

“Harap tenang… Sehun telah dipindahkan ke unit perawatan intensif.”

Terjadi.

Tidak ada banyak waktu yang tersisa.

 

..

..

..


Terdapat kabel yang melekat pada Sehun, membuatnya hampir terlihat tidak manusiawi. Tertidur, ia bernapas dengan lembut saat Dahye berdiri di hadapannya.

Sehun yang berada di tempat tidur, tapi malah Dahye yang gemetar di hadapannya, air mata mengancam tumpah.

Mengetahui bahwa lelaki itu akan segera mati tidak membuatnya lebih mudah bagi Dahye.
‘Dimana keluarga lelaki ini?’

***

 

Dahye merosot kembali ke kamar anak-anak untuk memeriksa mereka. Akan lebih baik untuk menghibur anak-anak bahkan ketika dia tidak merasa terlalu senang.
Kyungsan berjalan mendekatinya perlahan saat yang lain duduk di tempat tidur mereka, mamandang Dahye khawatir.

“Apakah Sleepy Ahjussi akan baik-baik saja?”

Akhirnya terjadi. kakinya melemas saat ia jatuh berlutut di depan Kyungsan. Dia hanya bisa memeluk anak kecil itu, dengan mata berair dan anggota badan gemetar.

“Ajhumma tidak tahu.”

“Aku suka Sleepy Ahjussi.”

“Aku juga, Kyungsan.” Air mata jatuh saat ia berbisik lembut. “Aku juga.”

 

***

Ketika Sehun terbangun, Dahye ada tepat di sisinya. Dia membutuhkan waktu beberapa menit untuk mengenali lingkungannya.

Perlahan-lahan dia berbicara, “Pagi.”

Dahye hanya mencemooh respon. “Pagi.”

Dahye ingin bertanya bagaimana keadaan lelaki itu, tetapi dalam kenyataannya, dia sudah tahu. Mereka berdua tahu.

Bahasa tubuhnya mengatakan itu semua tanpa Dahye harus repot untuk bertanya. Di bawah selimut terdapat kaki yang serapuh tongkat, paru-paru yang kehabisan napas, dan lengan yang menjadi terlalu lemah dan tidak nyaman bahkan untuk melipat crane atau menulis.

“Ketika aku bertemu dirimu untuk yang pertama kali, kau bisa naik ke tempat tidur dan berjalan sendiri, bergerak dengan cara yang kau inginkan.”

 

Sehun berbicara perlahan, “Inilah aku dua minggu setelah itu.”

“Bisakah kau percaya ini sudah empat bulan?”

“Terasa seperti selamanya.”

“Aku tidak berharap untuk menghabiskan setiap malam denganmu.”

“Aku tidak mengharapkan orang untuk—” Dia berhenti, “Tapi …”

“Apa?”

“…Tidak ada.”

 

Dahye hampir tidak mendapatkan istirahat, tapi dia masih muncul ke rumah sakit. Dia bahkan datang lebih awal dari biasanya. Ketika dia masuk ke ruangan ICU, dia tahu. Dia duduk di sebelah Sehun, tangannya menggenggam tangan si pirang.

Itu aneh untuk memegang tangannya. Ini adalah pertama kalinya mereka bersentuhan dan itu akan menjadi yang terakhir. Api yang pernah menyala di mata Sehun sekarang telah menjadi bara.

Sudah waktunya.

“Apakah kamu takut?”

Kalimatnya pendek dan memerlukan waktu untuk Sehun menjawab, “Tidak, tapi aku merinding.”

“Jadi kau memperhatikan cerita, bahwa setelah semua ini kau akan—.”

“Mungkin.”

Dahye meremas tangannya dengan lembut, mata tidak pernah meninggalkan wajah Sehun.

“Apakah kau akan berbohong bahkan sampai akhir? Katakan saja langsung untuk kali ini saja. ”

“Aku tidak pernah berbohong kepadamu.”

“Aku tahu.”

“Aku pikir … tongkat abu-abu si ibu peri akan datang segera.”

“Kau benar-benar memperhatikan cerita yang kubacakan. Katakan padanya ‘halo’ untukku. ”

Gigi Sehun membentuk senyum kecil.

“Dahye.”

 

“Ya?”

“Aku akan menemuimu di neraka.”

“… Bahkan sampai akhir kau akan terus bertingkah seperti ini.”

“Aku harus.” Sehun hanya tersenyum kemudian berbisik lembut. “Aku harus pergi.”

“Aku tahu.”

Dahye tahu apa yang akan Sehun katakan selanjutnya. Jangan katakan itu, tidakkah ia mendengar jeritan hatinya.

“Selamat tinggal untuk saat ini.”

“Selamat tinggal.”

Jeda lembut terjadi saat mesin balok disebelah mereka berbunyi dengan nyaring, memekakkan telinga. Terus bergema saat Dahye meremas tangan itu untuk terakhir kalinya.

Sama seperti itu, dia sudah pergi.

.

.

-TBC-

Aihh.. Chapter 5nya sedih.. maapkan author yang menjadikan alur cerita seperti ini..

Jujur nih saya pas ngetiknya sempet mau nangis. L

Comment jusseyo~

Bulan puasa gini enaknya baca FF yang menyentuh hati ginian kan. (lol) oke abaikan.

See you in the last chapter..

Ayoo… komennya kalau gak mau chapter depan alias chapter akhir saya protect.

-morschek96

https://morschek96.wordpress.com

2 responses to “Existence [Chapter 5] – morschek96

  1. hisk….hiks’….sedih bgt kak, sampai mewek aq…. 😥
    feelnya dpet bgt dipart ini😥
    bahkan hingga diakhir hidupnya sehun masih tetap bertingkah sperti itu?
    aq gk nyangka ternyata dahye sudah jatuh cnta pada sehun,
    dan sehun sndiripun begitu…..ini aq sadari saat sehun berkata bhwa dia “merinding” ketika dahye menggenggam tanggannya🙂
    knp dahye gk bicara jujur pda sehun tntg perasaannya ya? apa krna dia gk ingin mnambah beban sehun….
    dan dimana orang tua sehun? saat anaknya sekarat pun mereka gk ada disisinya….sedih bgt hun😥

    aq tunggu nextnya kak ^__^
    moga mereka bisa ktemu lg dimasa depan,hehehe….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s