[Chaptered] In Love With You – Chapter 2

In Love With You

 

IN LOVE WITH YOU

by Atatakai-chan

|| AU, Romance – Chaptered – General ||

.

starring
TVXQ Yunho as Jung Yunho
and
BoA as Kwon Boa

.

Previous chapter
[1]

.

“Kwon Boa! Di sini kau rupanya!” Ahn Chilhyun memasuki ruang kerja Boa yang tidak pernah terkunci sambil membawa setumpuk berkas dalam genggaman tangannya.

Boa hanya memamerkan senyum terpaksa secara sekilas pada atasannya itu sebelum kembali berfokus pada layar laptop kerja miliknya —pada layar laptop terpampang program kerja Excel dengan tulisan-tulisan kecil yang memenuhi tiap kolomnya.

Wanita berambut cokelat gelap itu tengah merekap ulang data para klien, kegiatan yang rutin ia lakukan setiap dua minggu sekali karena ia tidak ingin dikejar-kejar deadline yang jatuh tempo pada setiap akhir bulan. Ia sangat berfokus pada pekerjaannya sehingga kehadiran atasan yang tidak pernah ia sukai itu sama sekali tidak membuyarkan konsentrasinya sampai ia mendengar suara hantaman cukup keras pada permukaan meja kerjanya.

“….” Boa menghentikan pekerjaannya dan menatap sang atasan secara perlahan. Ia menelan ludahnya sendiri melihat ekspresi jengkel di wajah Chilhyun.

“Kenapa kau tidak pernah menyapa atasanmu ‘sih? Apa kau tahu yang namanya sopan santun?”

Bibir atas dan bawah Boa mengerucut, kedua pipinya menggembung, dan kedua bola matanya berputar ke kanan dan ke kiri —ia tengah mencari-cari alasan untuk menghindari kuliahan dari atasannya. Hari masih terlalu pagi untuk kehilangan semangat bekerja.

“Maafkan saya, Chilhyun-ssi… Saya terlalu berfokus pada pekerjaan mingguan saya sehingga saya hanya bisa menyapa Anda dengan senyum,” Boa berusaha sebaik mungkin agar senyuman yang kali ini ia tunjukkan tampak tulus, “ada yang bisa saya bantu?”

Chilhyun mendengus, bawahannya yang satu ini memang pintar mencari celah dan hal itu memang sudah tidak dapat dipungkiri lagi. Ia sendiri sebenarnya sering kehabisan kata-kata apabila dihadapkan dengan alasan-alasan yang diberikan oleh seorang Kwon Boa sehingga satu-satunya cara untuk ‘menang’ adalah dengan memarahi wanita itu.

“Kau tahu kan taget klienmu belum tercapai?”

Boa menghela napas, “saya tahu akan hal itu. Saya sedang beru—”

“Sisa target klienmu akan dihapuskan kalau kau berhasil membuat calon klien yang satu ini setuju untuk menggunakan jasa asuransi kita.” Chilhyun menyerahkan setumpukan berkas pada Boa dan ketika wanita itu hendak mengambilnya, ia malah meletakannya di atas meja sambil tersenyum iseng.

Boa yang sudah terbiasa diisengi oleh atasannya itu tidak banyak protes. Ia langsung mengambil tumpukan berkas itu kemudian memasukannya ke dalam tas tangan miliknya sebelum beranjak berdiri dan mengangkut laptopnya dari atas meja.

“Kau mau menemui calon klien itu sekarang? Semangat sekali.”

Boa hanya mengangguk sambil tersenyum dan ajaibnya senyum kali ini benar-benar tulus. Ia merasa cukup beruntung kesempatan seperti ini datang begitu saja —bagaimana mungkin ia menolak melakukan sebuah pekerjaan yang dapat meringankan beban pekerjaan lainnya? Kesempatan emas ini ia terima dengan tangan terbuka.

“Saya permisi dulu.” Boa berpamitan pada atasannya sebelum melangkah keluar dari ruang kerjanya, meninggalkan sang atasan menatap punggungnya yang semakin menjauh dengan seulas senyum yang terukir di wajah.

 .

.

.

Dari banyaknya pilihan kendaraan umum, Boa selalu lebih memilih untuk menaiki bus karena baginya pemandangan yang ditawarkan oleh dunia akan tampak lebih indah apabila dilihat melalui kaca jendela bus yang bening. Lagi-lagi ia menolak untuk menaiki kendaraan kantor, ia lebih memilih dana untuk ongkosnya dialihkan pada bonus dan atau gaji.

Sinar matahari pagi bersinar hangat dan kehangatan tersebut dapat ia rasakan mengenai tangannya yang ia letakkan pada pinggiran jendela bus. Begitu bus melaju, Boa membuka tas tangannya dan mengambil secarik kertas berkas yang berisikan informasi mengenai tempat tinggal sang calon klien. Ia tidak pernah begitu mempedulikan berkas-berkas lain karena hanya berisi akta lahir dan informasi pribadi lainnya yang ia rasa tidak ia butuhkan dalam proses perkenalan karena tugasnya hanya menarik seseorang untuk menjadi klien asuransi tempatnya bekerja.

Senandungan lagu favoritnya ketika zaman sekolah menengah atas meluncur keluar dari mulut kecilnya begitu ia mendapati alamat calon kliennya adalah lingkungan mahal, dalam artian siapapun yang tinggal di lingkungan sana mempunyai penghasilan yang cukup banyak. Sepengetahuannya, yang tinggal di sana adalah orang-orang yang memiliki jabatan tinggi dalam suatu perusahaan dan para public figure.

“Semangat Kwon Boa, kau pasti bisa. Tidak perlu panik. Tugas mudah.” Seperti baisanya, Boa menyemangati dirinya sendiri karena kalau bukan dirinya, lalu siapa lagi?

oOOo


[Boa’s POV]

Tak kusangka aku menjadi sepanik ini. Sebelum menekan bel rumah calon klien aku sempat merasakan kedua kakiku lemas karena tak kunjung berhenti bergetar. Aku yakin semua orang juga akan menjadi gugup sepertiku kalau melihat rumah megah seperti ini di depan mata. Memang ‘sih rumah calon klien ini lebih sederhana dibandingkan rumah-rumah lainnya yang berada di lingkungan ini, tetapi tetap saja. Aku penasaran dengan calon klien ini.

Tak perlu menunggu lama, beberapa saat setelah kutekan bel, pintu langsung terbuka dan wow, rasanya seperti berada dalam dongeng saja ketika seorang pelayan laki-laki berpakaian rapi menyambut pegawai asuransi sepertiku dengan tatapan ramah dan senyuman hangat.

“Anda pasti dari perusahaan asuransi ‘kan? Silakan masuk.”

Tidak tahu harus merespon seperti apa, aku akhirnya hanya mengangguk dan balas tersenyum seraya melangkahkan kakiku masuk ke dalam rumah.

Pelayan itu mengantarku sampai ke ruang tamu yang dihiasi oleh empat buah sofa berwarna putih yang aku yakin harganya pasti mahal sekali karena sofanya begitu empuk, sangat nyaman untuk diduduki. Sementara aku duduk, menunggu sang calon klien, aku melemparkan pandanganku ke sekeliling ruangan. Aku cukup kaget ternyata calon klien ini memiliki banyak sekali penghargaan —entah di bidang apa saja yang jelas aku cukup kagum melihat bingkai-bingkai berisikan sertifikat dan aku terpana menatapi sebuah lemari susun berlapis kaca yang berisi belasan piala.

“Wah,” aku dapat mendengar suaraku sendiri bergema di dalam ruangan yang saat ini hanya ada aku saja di dalamnya.

Aku beranjak dari sofa dan mendekati dinding yang dihiasi oleh bingkai-bingkai berisi sertifikat itu dan tiba-tiba saja aku melihat sertifikat yang tidak asing. Bentuk dan warnanya sama persis dengan sertifikat kelulusan sekolah menengah pertamaku.

[End of Boa’s POV]


Boa membuka resleting tas tangannya dan lengannya yang mungil mulai menggeledah tasnya sendiri untuk mengeluarkan kumpulan berkas mengenai calon klien penghuni rumah tempatnya berada saat ini. Sementara itu, dari ujung ruangan terdengar langkah kaki yang semakin lama semakin mendekat.

Mulut Boa menganga, “…. Tidak mungkin…. Ini tidak mungkin terjadi.” Pandangannya terpaku pada secarik berkas yang berisikan biografi singkat sang calon klien.

“Maaf membuatmu menunggu.”

Secara perlahan namun pasti, Boa mengalihkan pandangannya dari secarik kertas berkas yang masih ia genggam begitu kuatnya dan menatap sang penyapa alias si calon klien.

“Apa yang sedang kau lakukan di sana? Kenapa tidak duduk sa— Oh…” Si calon klien berjalan mendekati Boa yang berdiri tak jauh dari dinding tempat sertifikat-sertifikat penghargaan miliknya dipajang. Ia menghentikan langkahnya tepat di samping kanan Boa. “Itu satu-satunya sertifikat kelulusan dari sekolah yang aku pajang di sini. Keren ‘kan?”

Boa tidak dapat menatap sang calon klien sehingga ia tidak tahu bahwa lelaki itu tengah menoleh kepadanya sambil tersenyum.

“Jung Yunho to Kwon Boa. Apa kau di sana?”

Boa hanya bisa menghela napas ketika telapak tangan kanan Yunho melambai-lambai persis di depan wajahnya.

TBC.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s