Mirror Curse [Oneshot] – by HyeKim

mirror-curse

Mirror Curse

Bassed on horror movie the ring

A Fanfiction Written by :

HyeKim

 Starring With :

-Eunha Gfriend as Jung Eunha

-Wendy Red Velvet as Wendy Son

-Avelina (OC) as Avelina Choi

Genre : Sci-fi, AU, Horror ||  Lenght : Oneshot || Rating : PG-15

Big thanks for amazing poster Ravenclaw a.k.a Kak Erik❤

Summary : Abad 25 dimana logika sudah menjadi hal paling utama bagi manusia. Mistik dan hal gaib berupa seperti itu sudah tidak dipercayai lagi. Namun, Eunha malah mendapatkan fakta lain saat melihat cermin denator kuno tersebut. Sosok lain menghantuinya, sosok apakah itu?

Disclaimer : This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, agency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without permission

“You’ll die after watching this… Just wait a moment.”

HAPPY READING

HyeKim ©2016

 

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Abad 25 dimana bumi sudah dirombak sedemikian rupa. Robot-robot minium─nama yang diberikan para manusia, bak merajalela di sudut kota. Tugas robot tersebut adalah membersihkan kota, menjadi pengatur lalu lintas, dan hal lainnya namun masih digunakan dalam hal wajar dan dikendalikan manusia. Yang mempunyai robot minium pribadi rata-rata kalangan kelas tinggi dan juga yang telah mendapatkan surat izin dari pemerintah, yang mengurusnya saja bisa 6 bulan atau lebih.

Jung Eunha tampak menapaki kakinya di atas jalan aspal besi tersebut, memandang kota tempat tinggalnya ini dari ekor matanya. Udara asri masih ada walau tercampur oleh udara zat kimia yang menyebar. Setidaknya begitulah definisi waktu yang ada saat ini.

Dan masalah definisi pola pikir manusia zaman abad 25 ini. Semua hal berbau mistik dari nenek moyang sudah ditinggalkan, tenggelam entah berantah. Apapun yang berbau horror bagi para makhluk hidup tersebut hanyalah sebuah lelucon belaka.

“Hey! Kau Eunha,” suara sapaan gadis terdengar membuat yang dipanggil menoleh. “Ingin berangkat ke sekolah kan?” tanya gadis tersebut, sebut saja Wendy.

“Memangnya aku ingin ke mana lagi bila pagi-pagi begini?” sahut Eunha yang menoleh pada rambu lalu lintas yang melayang di tengah jalan, yang sudah menunjukan rambu hijau untuk pejalan kaki sepertinya.

Wendy tampak mendengus dan ikut jalan di belakang gadis Jung itu yang main meninggalkannya. “Eunha, aku punya cerita baru lho,” Wendy tiba-tiba berbeo. Eunha tampak tidak minat pada cerita yang akan disampaikan teman sekolah sekaligus sekelasnya tersebut.

“Ceritanya tentang cermin serta sumur tua di kota Seoul,” Wendy tampak tak peka akan ketidak minatan Eunha pada ceritanya itu. “Dulu ada sebuah keluarga yang…─”

Stop! Wendy Son! Apa kau lupa abad keberapa sekarang?” seru Eunha sambil berbalik dan menatap tajam Wendy, saat yang ditanyainya itu mau buka mulut, Eunha langsung menyela. “Sekarang itu abad 25! Hentikan semua pikiran kolotmu tentang hantu dan sejenisnya. Dalam logika semua itu tidak masuk akal!” Eunha berkata dengan nada sebal lalu berbalik dan mempercepat langkah.

“Aku hanya ingin menceritakannya padamu, karena kebenaran cerita tersebut sudah kupastikan adanya…” Wendy bergumam dan menatap punggung Eunha yang mulai mengecil. Dilayangkannya pandangannya pada cermin denator di sisi kiri jalan, lalu menyunggingkan senyum penuh arti.

**

Angin malam menelisik kulit, membuat bulu kuduk berdiri merinding. Rembulan hanya menjadi penerangan minim serta teman berjalan di malam hari bersama bintang. Jung Eunha tampak menggerakan kakinya berjalan menuju rumahnya, Eunha memeluk dirinya sendiri dan mengusap-usap kedua tangannya. Merasa hawa dingin sangat meganggu apalagi dengan suara burung hantu yang turut menjadi backsound.

“Kenapa diriku malah jadi teringat ucapan Wendy tentang cermin?” gumam Eunha. Gadis itu lalu menggeleng karena pasti Wendy mengarang-ngarang, mana ada zaman sekarang hal gaib seperti itu.

Gadis Jung itu pun kembali berjalan dengan tenangnya sambil bersenandung ria. Hingga, sebuah suara menyentil keras gendang telinganya. Suara itu pilu, membuat langkah kakinya terhenti dan bergetar hebat. Kepalanya perlahan digerakan ke belakang. Keringat dingin turut mendominasi ditambah angin yang dengan tidak sopannya membelai Eunha yang tambah gemetaran.

AKHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!!!!!!”

Teriakan itu terdengar lagi, terdengar layak orang yang sedang merenggangkan nyawa. Eunha meneguk ludahnya, mungkin hanya seseorang yang sedang main judi online di dekat sini, kemudian diambang kalah dan merasa frustasi. Setelah berpikir demikian, Eunha memfokuskan pandangan ke depan kembali. Namun….

Netranya melebar, seakan bola matanya hampir mendelik keluar saat pandangannya terfokus seluruhnya pada satu objek yang sangat otaknya prediksikan tak akan ada wujud seperti itu. Wanita berambut panjang dengan baju putih panjang serta mata bolong berlumuran datang menatap Eunha tajam. Serta sedang melayang ke arahnya.

“YAKKKKKKKKKKKKKKKKKKK!!!!!!!”

Suara itu yang hanya bisa mewakilkan perasaan kalut Eunha diiringi sosok mengerikan itu semakin mendekat ke arahnya. Setelah itu, Jung Eunha merasa dunianya berputar, kakinya seakan tak sanggup lagi berpijak, netranya yang berbinar terkejut perlahan mulai meredup diiringi tubuhnya yang tumbang.

**

“Eunhaa… Eunhaa…” panggilan itu terdengar dalam gelapnya bunga tidur seorang Jung Eunha.

Yang dipanggil pun perlahan membuka kelopak matanya. Netranya menelisik ke sekitar yang ternyata sebuah ruangan yang dikenalnya sebagai kamar miliknya. Ibu Eunha menatap khawatir putri semata wayangnya tersebut, perlahan diajak lah tubuh Eunha untuk duduk di atas ranjang.

“Ada apa sebenarnya ini?” dilayangkan oleh Eunha sebuah pertanyaan.

Sang Ibu hanya memberikannya tatapan sulit untuk diartikan, membuat Eunha mengerutkan kening kebingungan. Kelereng itu membinarkan sebuah perasaan kalut disertai mimik yang tak beda jauhnya.

“Apa dirimu tahu terjadi pembunuhan di tempat dirimu lewat tadi?” pertanyaan itu membuat Eunha memasang ekpresi terkejut lantaran perkataan yang dilontarkan Sang Ibu.

Kepala gadis Jung itu menggeleng pertanda tidak tahu. Ibu Eunha hanya menghela napas lalu melayangkan sebuah amanat, “Kamu harus hati-hati mulai saat ini.”

Setelah itu, Ibu Eunha menginjakan kaki keluar dari kamar Sang Putri yang melayangkan binar kebingungan di iris hitamnya pada punggung Sang Ibu.

**

Berita. Hal tersebut dapat menyebar dengan luasnya apalagi mengangkat isu pembunuhan ataupun berbau misteri. Zaman sudah berubah namun watak asli manusia untuk bergossip tidak pernah hilang ditelan masa. Eunha menggeret kakinya melewati koridor sekolahnya yang penuh guyoman tentang pembunuhan yang terjadi di distrik Yongsan semalam, tempat Eunha tumbang di tempat setelah melihat sosok…

Seketika alat yang bertapak pada tanah itu terhenti, kepala yang semula tertunduk pun terangkat dengan pupil sedikit melebar. Tangannya mengepal. Otaknya seketika memutar kembali kejadian kemarin malam. Saat dirinya melihat sosok yang… Eunha menutup matanya tak ingin mengingat kembali kejadian tersebut.

“Eunha..” sebuah tepukan diberikan oleh seseorang dibahu tersebut dan berhasil membuat yang namanya terpanggil tersentak kaget dan berteriak ketakutan.

AAA!”

Hal tersebut membuat kerutan didahi Son Wendy tercipta, “Kamu ini kenapa?” tanyanya heran, Jung Eunha menolehkan kepalanya pada Wendy dengan binar berkilat-kilat dikedua kelerengnya.

Napas gadis itu menderu dan semakin membuat Son Wendy linglung akan sikap anehnya ini. “Kamu tak apa?” satu pertanyaan lolos, namun hanya dijawab dengan gerakan cepat Eunha mengangkat kaki pergi dari sana. “Ada apa dengannya?” gumam Wendy bingung.

**

Warna oranye dari ufuk barat mulai terlihat. Angin yang menggelitik kulit makin terasa. Para robot minimum mulai menjalankan tugas dengan menyapu beberapa daun yang berguguran tidak elitnya di aspal dingin tersebut. Punghujung musim panas telah tiba, dimana musim gugur siap menyerang pertahanan di kota Seoul. Tampak Eunha menapakkan kakinya di jalan yang tampak lenggang, mungkin hanya dirinya yang berjalan di sana saat ini.

Diraih oleh Eunha jam digital miliknya, langsung saja dirinya mengusap layar jam tersebut yang melekat dilengan kirinya dan tampilah deretan angka yang melayang di atas kaca jam digitalnya, yang menunjukan pukul saat ini. Jam 5 sore. Belum terlalu larut bila Eunha memutuskan jalan-jalan sebentar ketimbang pulang ke rumah dan mendapatkan suruhan ini-itu dari ibunya.

Saat masih menyelusuri jalan tersebut ditemani semilir angin sore, Eunha seketika menghentikan penggerakan kakinya. Kepalanya tertoleh pada bangunan berinterior sangat kuno untuk zaman sekarang. Pagar yang berinterior kayu berdiri kokoh namun salah satu dari mereka terbuka dan sedikit memperlihatkan isi bangunan berinterior hanok yang sangat kontras oleh rumah yang berjejer di sekitarnya. Rumah kuno itu sunyi dan lonceng kecil yang tergantung di teras berbunyi karena ulah angin, yang entah kenapa membuat suasana rumah itu makin menyeramkan.

Garis polisi mengelilingi tempat itu. Kesimpulannya adalah, rumah itulah tempat pembunuhan semalam terjadi. Dimana di koran digital yang sempat Eunha baca, korbannya adalah dua siswi SMA yang ditemukan mengenaskan dengan mulut sobek dan mata bolong yang berceceran darah. Entah apa penyebab kematian keduanya. Zaman sekarang tidak mungkin semuanya hanya kejadian yang penuh misteri tanpa adanya pikiran bersangkutan logika.

Tanpa ba-bi-bu, Eunha melayangkan kakinya kembali dan sedikit membuka pintu gerbang kayu tersebut lebih lebar. Menimbulkan suara ‘kret’ yang sedikit memekikan telinga. Eunha pun sudah berada di perkarangan rumah di mana lembaran daun kekuningan berserakan dan sebagian terbawa angin sore. Menurut artikel berita, kedua korban ditemukan di kamar yang berada di pojok belakang rumah. Dan entah hasrat apa yang ada dalam diri Eunha, kakinya melayang pergi ke bagian belakang rumah.

Matanya menelisik sekitar interior rumah dan kadang kala berdecak kagum. Hingga netranya terjatuh dan berhenti pada suatu objek. Sebuah jendela di pojok kiri. Dan tanpa sadar, gadis Jung tersebut telah berada di depan jendela tersebut. Perlahan tangannya terangkat menggeser jendela tersebut. Kepalanya menyembul penasaran ke dalam kamar yang masih tersisa bercak darah di lantai kayu tersebut.

“Berarti memang kamar ini yang menjadi tempat ditemukannya jasad korban,” gumam Eunha sambil mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kamar. “Unik sekali rumah ini.” Eunha berkomentar dengan tatapan kagum.

Layaknya detektif yang penasaran dengan tempat kejadian perkara, Jung Eunha pun meloncat masuk ke kamar yang memancarkan aura mencengkam nan asing, melalui jendela tersebut. Kegelapan yang mendominasi sukses membuat bulu kuduk berdiri. Namun rasa penasaran Jung Eunha tak bisa diredakan begitu saja. Ditelisiknya lebih teliti ruangan tersebut sambil tersenyum kagum.

“Sepertinya aku mulai menyukai bangunan kuno sekarang,” ucap Eunha.

Mengesampingkan hal bahwa kamar tersebut adalah tempat dua jenazah dengan keadaan mengenaskan ditemukan. Eunha mulai asyik memainkan pajangan magnet berbentuk setengah hati yang mana bila dicari pasangan setengah hati yang satunya lagi, keduanya akan bersatu. Sambil tersenyum-senyum dan sibuk dengan dunianya sendiri. Eunha tak menyadari sosok lain turut hadir di belakangnya dengan sebagian wajah tertupi rambut panjang sepinggangnya yang amat kusut, dress putih selutut yang dibeberapa bagian terlihat sobekan. Detik berikutnya, sosok asing tersebut mengangkat kepalanya yang daritadi tertunduk. Menampilkan wajahnya yang kusam dengan bibir sobek yang menyunggingkan senyum miring. Mata kiri yang disekitar kelopaknya terdapat cairan darah kering. Dan mata kanannya yang bolong serta yang menambahkan keseraman mata tersebut adalah bercak darah yang tersisa disana.

“Ihihi…” Eunha tertawa cekikikan dan belum juga menyadari sosok asing di belakangnya yang menatapnya tajam melalui mata kirinya. “Barbie!” pekik Eunha saat jiwa kanak-kanakannya keluar ketika melihat barbie yang tergeletak di meja kayu tersebut.

Tangan kananya perlahan mengambil barbie yang berposisi tengkurap di atas meja. Dengan senyum mengembang, Eunha telah mengenggam tipe boneka yang disukainya dari dirinya berusia 4 tahun hingga kini. Sosok di belakang Eunha menatap lekat barbie tersebut. Hingga akhirnya dibalikan lah barbie tersebut oleh Eunha.

KYA!” Jung Eunha berteriak histeris kala mendapati wajah boneka favoritnya penuh dengan darah, mulut sobek yang menyunggingkan sebuah smirk menyeramkan, mata kanan yang bolong penuh bercak darah, serta mata kiri yang melotot tajam yang disekitar kelopaknya didapati darah kering. Napas Eunha berderu, pacuan jantungnya naik seketika membuat dirinya menggepalkan tangan dan menaruhnya di depan dada. Keringat dingin mulai turut hadir ditubuh Eunha yang mendadak panas-dingin.

“Hah! Hah!” Eunha mencoba mengatur napasnya, lantas dirinya berucap pelan. “Kenapa…?” Eunha tergagap seketika.

Dapat dirasakan olehnya tatapan tajam dari arah belakang. Eunha pun menoleh takut-takut ke arah yang menurutnya ada sosok asing menatapnya. Sosok yang sedaritadi tambah menyunggingkan senyum miringnya. Eunha pun meneguk ludah disertai jantungnya yang berdetak diambang normal, akhirnya…. kepalanya…. tertoleh ke belakang.

Hening. Hampa. Tak ada apapun di sana. Hanya kekosongan yang menyapa seorang Jung Eunha. Gadis itu menghela napas tenang.

“Pasti hanya delusiku semata, ahahaha… bodohnya diriku,” rutuk Eunha sambil mentertawakan dirinya sendiri. “Film horror saja sudah tidak laku, jadi mana ada hal gaib yang selalu ada di film horror kampungan zaman dulu.” ujar Eunha sambil tersenyum malu merutuki betapa bodoh dirinya karena mengira ada sosok hantu yang memperhatikannya tadi.

‘Klik! Klok!’

Bunyi nada pengingat dari jam digitalnya menyadarkan Eunha. Langsung saja diangkat tangan kirinya, jam digital tersebut langsung menampilkan tulisan melayang bertajuk; ‘Segera pulang karena sudah terlalu sore, 06.45 PM’. Sedikit informasi, jam digital tersebut juga bisa menjadi aplikasi pengingat seperti tadi. Eunha menghembuskan napas membacanya, dirinya memang hampir terkena serangan jantung beberapa sekon lalu, namun, dirinya masih betah untuk mengelilingi rumah unik ini.

“Baru ingin jam 7 kan? Karena ini masih penghujung musim panas, jam segini masih terang oleh mentari. Jadi tak apa bila aku pulang lebih terlambat lagi,” gumam Eunha sambil tersenyum menyimpulkan hal tersebut. Tapi ya, siap-siap saja dirinya menerima pertanyaan yang menumpuk dari Sang Ibunda.

Acuh akan hal tersebut. Eunha menapaki kaki keluar kamar tempat dirinya berada. Dirinya sekarang berada di ruang tengah. Dirinya kembali terkagum oleh interior meja, kursi, lemari, bahkan lantai yang terbuat dari kayu tersebut. Serta perapian yang terdapat di depan pintu kamar dirinya keluar. Eunha langsung menghampiri perapian dan jongkok di hadapannya. Sudah sangat lama setelah 10 tahun berlalu, perapian yang berasal dari kayu bakar diganti jadi perapian besi yang otomatis menyalakan api ketika dideteksi cuaca di luar sedang dingin. Bahkan apinya sangat awet dan lebih hangat dari penghangat ruangan.

“Ah… aku ingin rasanya membeli rumah ini,” gumam Eunha sambil memainkan beberapa kayu yang tersisa di perapian, yang tentunya sebagiannya sudah terbakar.

Setelah merasa puas mengelilingi ruang tengah. Eunha berniat untuk menuju dapur. Namun hal tersebut terurungkan oleh ekor matanya yang tak sengaja menangkap sebuah cermin. Cermin berbentuk oval dengan lempengan besi berwarna emas yang ujung atas serta bawahnya melingkar-lingkar layaknya ular.

“Wah…” Eunha berdecak kagum dengan mulut menganga takjub.

Jung Eunha pun sudah berada di hadapan cermin yang menarik perhatiannya itu. Tangannya terangkat mengelus pinggiran cermin. Hingga tak sengaja dirinya menekan pinggiran besi yang berada di ujung bawah dan berbentuk lingkaran. Dahi Eunha berkerut saat bunyi ‘klik’ yang terdengar agak samar begitu dirinya menekan lingkaran tersebut. Hingga, kaca cermin tersebut tampak menampilkan sebuah pusaran. Eunha yang terkejut hanya tambah menganga dan berjalan mundur satu langkah secara reflek.

“Apa ini?” gumamnya bingung.

Cermin tersebut bukan cermin kuno biasa. Lebih tepatnya, cermin kuno yang dikemas menjadi sebuah cermin denator. Sekilas mengenai cermin denator─nama yang diberikan para manusia. Cermin tersebut selain bisa digunakan sebagai bercermin layaknya cermin biasa, cermin denator berguna juga sebagai DVD player.

Eunha makin mengerut bingung. Saat melihat penggalan demi penggalan video yang disuguhkan cermin denator tersebut. Sebuah kumpulan serangga menjijikan, sebuah pohon yang tiba-tiba melihatkan mayat tergantung di atasnya, punggung seorang wanita yang terjun dari tebing, sebuah jari telunjuk yang ditusuki paku, dan terakhir adalah sebuah sumur misterius. Jijik. Satu kata yang terlintas beberapa kali saat melihat video tersebut.

“Selera film pemilik rumah ini sangat tidak layak,” Eunha menuangkan komentar. Hingga sebuah DVD usang keluar dari sisi kiri cermin─yang memang berfungsi sebagai tempat menaruh DVD.

Eunha yang melihat hal tersebut, mengambilnya dan membolak-balikan DVD tersebut dengan bingungnya. DVD tersebut sudah sangat tua dan berkarat. Benar-benar pemilik rumah kuno ini memiliki selera sangat ketinggalan zaman.

Hingga, Eunha merasakan sebuah tangan menyentuh bahunya. Diiringi deru napas membelai lembut pipinya. Tubuh Eunha menegang sempurna, kepalanya tak bisa digerakkan untuk melihat sosok di samping kanannya. Keringat dingin mendominasi tubuh milik Eunha. Suara detak jam dinding di ruangan menjadi backsound hal tersebut. Sosok dengan mulut sobek itu mulai mendekatkan diri pada wajah Eunha, membuat gadis itu menelan ludah takut.

“Kamu akan mati setelah menonton ini, hanya tinggal menunggu saja…” bisik sosok yang menyebarkan aura menyeramkan ini.

Eunha berusaha melihat sosok itu dari ekor matanya, namun sedikit sulit. Sampai entah bagaimana, kepala Eunha menengok ke kanan─tempat sosok tersebut berada, secara otomatis dengan sendirinya. Netra Eunha langsung disuguhkan wajah sosok menyeramkan yang sangat dekat dengannya serta mata yang penuh bercak darah sedang melotot dan mata kanan yang bolong namun dipenuhi darah.

AAAAAA!!!!!!!” Eunha berteriak kencang apalagi saat sosok itu tertawa menyeramkan dengan mulut sobek dan tertancap pecahan kaca disekitar bibir.

**

“Jung Eunha!”

Gadis yang namanya dilafalkan cukup keras tersebut, langsung tersentak bangun dari bunga tidurnya. Gadis Jung itu mengerjapkan kedua mata kala Guru Son menatapnya tajam setelah menyentaknya untuk bangun lantaran masih jam pelajaran.

“Ja-ngan ti-dur di-ke-las-ku!” Guru Son mengucapkan hal tersebut dengan sebuah ketegasan dan ditemani tatapan tajamnya.

“Ba…─ik,” Eunha menunduk takut.

Jelas saja, punggung guru yang sudah menjauh dari meja Eunha adalah guru paling menakutkan seantreo sekolah. Berurusan sekali dengan Guru Son sudah menjadi pelajaran yang tak akan diulangi lagi oleh para murid, termasuk Jung Eunha. Gadis itu menghela napas. Kejadian kemarin sore masih terputar diotaknya. Sosok menyeramkan yang sama saat dirinya pingsan tempo itu. Sosok itu pula yang membuat Eunha harus berlari marathon ke rumahnya sampai disangka pasien rumah sakit jiwa kemarin sore.

Sosok itu lenyap tertelan kuruman orang di jalan raya, tempat yang sengaja Eunha lewati kemarin. Sosok gadis menyeramkan itu tidak mengejarnya lagi. Dan Eunha benar-benar bersyukur kepada Tuhan akan hal tersebut. Dirinya aman dan tak akan mati setelah melihat DVD yang ditayangkan cermin denator kuno tersebut.

“Eunha…” suara Wendy dari arah samping kanannya terdengar, ditolehkan oleh gadis Jung itu pada temannya. “Kamu… akan mati,” ucap Son Wendy pelan dan terdengar menyeramkan, sukses membuat ludah Eunha terteguk gugup. “Aku akan memberitahumu saat istirahat di halaman belakang sekolah, tepat di air mancur transparan,” Wendy melanjutkan dengan tatapan ‘kau turuti saja apa mauku’ pada Eunha. Kemudian fokusnya berganti pada penjelasan Guru Son di depan kelas.

**

Setelah jam pelajaran bergulir tergantikan dengan waktu istirahat. Kedua remaja tersebut bertatap muka di dekat air mancur tranparan yang berlokasi di belakang sekolah. Air mancur tersebut layaknya air mancur biasa, namun bila air di air mancur tersebut disentuh, airnya akan membentuk; hati, bintang, atau hal yang lainnya. Kedua iris itu bersibobrok dengan tajamnya.

“Aku menguntitmu karena perilakumu aneh sekali siang itu,” Wendy bersajak kala Eunha masih menatapnya penuh arti pertanda dirinya tak suka sikap Wendy yang mengikutinya kemarin─gadis Son itu mengatakannya beberapa sekon lalu. “Dan kamu menghilang tertelan hiruk pikuk sore. Aku sempat menyerah saat menunggu di café dekat tempat kamu menghilang. Hingga, sosokmu muncul dari rumah pembunuhan itu dan sedang berlari dengan kesetanannya.”

Eunha membuang napasnya, lantas berfrasa, “Tidak ada hantu, itu pasti hanya efek layang sosok dari cermin denator,”

Wendy menggeleng. “Kamu memiliki IQ yang lumayan dibanding diriku. Coba sebutkan nama korban di rumah kuno itu,”

Eunha mengerutkan dahinya, tapi menjawab juga pada akhirnya. “Son Naeun dan Park Chorong,”

Gadis Son di hadapannya tersenyum penuh arti membuat Eunha terjebak kebingungan hingga dirinya seperti menemukan harta yang terpendam. “Son Naeun… jangan bilang dia salah satu kerabatmu,” ujar gadis bermarga Jung itu.

Wendy menyunggingkan senyum misterius, anggukan menjadi jawabannya. “Rumah kuno itu, rumah nenek moyangku…” gadis Son itu mulai bercerita sementara Eunha masih dibawah keterkejutannya. “Sudah ada wasiat tidak boleh mengganti interior rumah itu sama sekali meskipun sudah beberapa abad berganti. Dibalik semua itu, ada sesuatu yang disembunyikan dari nenek moyangku dari dulu. Ingat saat aku mengatakan sumur dan cermin? Aku baru mengetahui cerita tentang mitos di rumah nenek moyangku,”

Wendy berucap tanpa jeda membuat Eunha berusaha mencernanya dengan baik. Matanya membulat,ingin rasanya tak percaya melihat zaman yang sudah berubah, namun telinganya gatal untuk mendengar lebih lanjut.

“Kamu sebagai teman yang cukup dekat denganku pasti tahu aku keturunan barat. Dulu, tinggalah gadis bernama Avelina Choi. Dia anak dari salah satu nenek moyang yang berasal dari keluargaku, maka marganya berbeda. Nenek moyangku bernama Caroline Son, sebelumnya sangat sulit memiliki Avelina dengan suaminya,” Wendy tersenyum tipis disela ceritanya, tanpa Eunha sadari dirinya mendengarkan cerita tersebut dengan serius.  “Hingga lahirlah Avelina. Dia gadis cantik mirip sekali dengan Caroline. Namun, gadis itu cacat mental. Dirinya takut dengan orang baru, karap kali dirinya berteriak bila bertemu orang asing. Dia bahkan tak segan-segan menjadi psikopat dadakan dengan orang yang mau mendekatinya selain keluarganya,”

Eunha bergidik ngeri. Terlintas dibenaknya, adakah orang semengerikan itu. Dan jawabannya ada, yaitu Avelina. Wendy pun melanjutkan kembali. “Caroline dan suaminya, Charles Choi. Sangat kecewa, anak yang sulit mereka dapatkan malah terlahir seperti itu. Memang Avelina cerdas, cantik, serta anggun. Namun cacat mentalnya….” Wendy berhenti sebentar untuk menarik napas. “Membuat orang tuanya mengalami cacat mental juga,” Wendy berujar pelan membuat Eunha membulatkan korneanya terkejut.

“Mm..─ak.. su…─d..d…─mu?” Eunha tergagap dan Wendy tersenyum miris menatapnya.

“Charles dengan teganya mengurung Avelina layaknya binatang. Membiarkan gadis itu sendiri tanpa diberi makan selama 2 minggu. Avelina hanya ditemani boneka barbienya yang akhirnya berlumuran darah. Disebabkan gadis berumur 14 tahun itu menyayat pergelangan tangannya dan meminum darahnya sendiri untuk bertahan hidup. Sisa darahnya terkena pada boneka kesayangannya,” Eunha merasa bulu kuduknya berdiri tegang mengingat barbie yang tempo itu dia temukan. “Caroline menemui putrinya dan langsung histeris kala itu. Dirinya berlari dan mengatakan akan membunuh Avelina. Sementara Avelina sendiri malahan membuat sebuah video terkutuk yang kamu tonton kemarin sore. Video sebelum kematiannya.”

Eunha meneguk ludah takut. Wendy mengarahkan pandangan ke air mancur transparan dan menyentuh airnya. Langsung saja air itu berubah menjadi kumpulan ular-ular berbisa dengan lidah menjulur. “Caroline, sudah kukatakan orang tuanya pun jadi cacat mental. Dengan tega menggeret Avelina dan membuangnya di sumur rumah mereka. Agar kasus pembunuhan tersebut tidak dicium polisi. Namun, putrinya mengharapkan ibu serta ayahnya mati. Dan setiap anggota keluargaku mati karena merendahkan dirinya yang cacat mental. Lewat video dari cermin denator itu. Dirinya menerror semua orang yang melihatnya.”

Cerita tersebut selesai dan Wendy menatap Eunha tepat diiris yang menampilkan binar ketakutan yang berusaha Eunha tutup-tutupi. “Kau… jangan membual!” Eunha angkat suara sambil menatap sinis Wendy.

“Perlukah kuingatkan bahwa sekarang abad 25! Semua sudah berubah Nona Wendy Son! Tidak ada yang namanya hantu! Itu semua konyol! Kau hanya membual!” seru Eunha membuat Wendy memejamkan mata sejenak dan menghembuskan napas berat.

“Coba kau pikir. Masuk akalkah sudah lebih dari 30 anggota keluargaku jantungnya langsung berhenti berdetak begitu saja? Semuanya terbukti dengan goresan merah-merah dipergelangan tangan layaknya habis disayat. Dan juga semuanya habis menonton video dari cermin denator itu!” Wendy berseru tak mau kalah. “Dan lihat! Pergelangan tanganmu ada goresan merah-merah yang membuatku yakin kamu sudah menontonnya!”

Eunha langsung melihat kedua pergelangan tangannya. Pupilnya membulat kaget. Benar! Goresan itu ada. Tapi… “Semua hanya kebetulan! Aku tak percaya padamu!” setelah itu Eunha angkat kaki tanpa melafalkan apapun lagi.

Wendy mengeluarkan karbondioksidanya. Matanya menatap punggung Eunha yang mengecil. “Malam ini, kamu akan tahu,” gumamnya.

**

Eunha berbaring dengan ponsel tergeletak di sampingnya. Matanya tak kuat untuk melanjutkan menulis laporan sekolah. Tiba-tiba saklar lampu rumahnya mengeluarkan suara ‘klek’ pertanda lampu dimatikan. Eunha menghela napas mengira Sang Ibu yang mematikannya untuk dirinya segera tidur. Digeret oleh Eunha kedua kakinya ke arah saklar lampu. Tetapi, suara jeritan tertahan lah yang membuat Eunha terkejut bukan main saat melihat darah bercucuran di saklarnya.

“Ibu!” teriak Eunha mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru.

Hening. Keringat dingin mulai membanjuri Eunha. Ditelannya ludah dengan perasaan gugup. Eunha berjalan keluar kamar dan menemukan koridor rumahnya sepi nan gelap. Dirinya tetap berjalan tak peduli hawa asing menyapanya.

‘Kriet!’

Suara pintu bergeser pelan membuat Eunha merinding. Kepalanya menoleh pelan dan mendapati keheningan menyapa. Eunha menghela napas kelewat lega. Dirinya mulai membalikan badan, namun…

AAA!!” Eunha berteriak keras kala sosok menyeramkan di rumah kuno itu melayang ke arahnya. Sosok itu membuatnya tumbang di atas lantai marmer rumah sambil mencekiknya.

“MATIII!” Avelina─Sang Hantu menyerukannya dengan mulut sobek dan wajah hanya beberapa jengkal di hadapan Eunha. Gadis Jung itu hanya menggeleng kuat saat napasnya terasa tercekat, kuku tajam Avelina mengoyak kaki bawah Eunha hingga mengeluarkan darah segar.

“Hen..─ti..kan…” Eunha berkata dengan napas terpenggal habis. Saat matanya bersiap untuk tertutup, Eunha merasa sesuatu menghantam sosok menyeramkan Avelina menyebabkan tubuh Eunha berguling di koridor rumahnya dan darahnya jadi berceceran.

Eunha menatap dari ekor matanya dan mendapati Wendy sedang mencekik Avelina yang berteriak. Ujung mata Wendy menatap Eunha yang kebingungan. “Eunha-ya, aku tak ingin korban berjatuhan lagi hanya karena kutukan yang berasal dari keluargaku,” Wendy berucap lirih dan menatap sosok Avelina yang satu kelopak matanya terlepas diiringi mulutnya terbuka lebar dengan darah dan serangga layaknya kecoa keluar dari sana.

“Maneret in aeternum et in perditione. Nonne in hoc mundo animam audeat perturbare (pergilah ke neraka dan kembalilah keabadianmu. Jangan kamu meganggu orang-orang di dunia ini).” Wendy mengucapkan mantra dalam bahasa latin sambil mengusap wajah Avelina dengan air yang berasal dari sumur rumah kuno nenek moyangnya. “Aeterno mea vobis subiciuntur eamus in aeternum (aku menyerahkan keabadianku padamu, mari kita pergi menuju keabadian).” Eunha mengerti saat Wendy melafalkan mantra terakhir dan menancapkan belati dari balik punggungnya kedada Avelina. Gadis itu menoleh pada Eunha dengan senyuman tipis.

“SON WENDYYY!” Eunha berteriak kendati hanya terjawab dengan serpihan debu yang kian menjauh.

**

EPILOG

‘Seoul (06/19). Daerah distrik Hangang digempur heboh dengan pembunuhan misterius yang bahkan jasad korban hampir tidak ditemukan. Korban disangka Wendy Son terbakar dengan cara misterius meninggalkan sisa abu di tempat kejadian perkara’

“Kamu menyerahkan keabadianmu hanya untuk menyelamatkanku. Terimakasih Wen,” Eunha bergumam seraya menggeser layar koran digitalnya hingga layarnya redup dan dimasukannya ke tas selempang creamnya.

Eunha menyadari, meskipun abad berganti dan pikiran manusia berubah. Hal berbau gaib itu masih ada di balik cermin denator kuno itu. Tanpa sepengetahuan Eunha, cermin denator yang dilewatinya menyala sendiri menampilkan sosok Avelina dengan wajah terbakar habis menatap tajam sosok Eunha dengan bola mata yang meluber keluar ditemani darah segar.

─FINISH

A/N : Hay! FF perdana dengan cast gfriendku meluncur juga ahaha, akhirnya kelar. Aku tahu ini agak maksa banget bagian akhir, niat mau bikin twist ending, eh malah absurd. Ini pernah diikutin lomba gfriendnesia yang bertajuk event movie freak with EunBi Line dan allhamdulilah aku menang juara 3 dari kategori freelance walau udah pasrah sepasrah-pasrahnya. Di sini aku jelasin, ini emang based on horror movie the ring. Hanya aku ambil tentang sumur, disiksa bapak, dibunuh emaknya dengan cara dimasukin ke sumur, sama setelah menonton videonya akan mati. Lalu ditambahi Sci-fi. Ini FF Sci-Fi pertamaku tapi idenya bukan ide FF Sci-fi pertama ahahaha. Btw, mau kenalah lebih lanjut sama aku? Visit blogku yuk  (HyeKim)

3 responses to “Mirror Curse [Oneshot] – by HyeKim

  1. kyaaaa serem banget kak T.T
    tapi pengemasannya keren! aku bisa bayangin gimana detilnya tiap adegan horor dan ngerinya itu
    soal ending…emang agak maksa ya kak? pengennya dibikin lebih panjang dan lengkap lagi, tapi ya sudahlah jika author menghendaki🙂
    keep writting kak!😀

    • Wkwk syukurlah kalo kerasa serem wkwkwk😄😄 makasih pujiannya. Mungkin efek gara2 abis nonton film horror jd gini ffku😄😄

      Soal ending tadinya gak mau gitu dan mau buat twist ending tp jd gitu. Soalnya ini FF buat event lomba dan kalo endingnya lebih panjang malah melebihi karakter maksimal yg udh dikasih diketentuan lomba (ini aja udh melebihi aslinya) tapi allhamdulilah aku menang juara 3 berkat FF ini T^T

      Okayyy❤❤

      • engga cuma serem kak, berasa valak juga mau ngedatengin xD *plakk
        ooohh jadi gitu ya, eum ngerti deh, saya juga pernah mengalami hal yang sama -ending banting setir entah ke mana
        ditunggu ff yang lain ya kak!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s