[Oneshot] Love Letter?

CgIMopCUIAE0Xay.jpg:large (720×900)

LOVE LETTER?

by Atatakai-chan

Originally posted in OMGFI & Warm World

|| AU, slight!Comedy, Hurt/ComfortSchool Life, slight!Romance — Oneshot — ||

.

starring
OMG Jiho as Kim Jiho

mentioned
OMG Binnie as Bae Yoobin
Block B Zico as Woo Jiho
SEVENTEEN Jun as Wen Junhui

=====================

Happiness is…
Receiving a love letter

=====================

Helaan napas lembut Jiho terdengar seraya gadis berambut panjang itu menutup pintu lokernya. Keceriaan tak nampak di wajahnya hari ini dan penyebabnya adalah kejadian satu hari lalu —di mana ia menyatakan perasaannya pada sang kakak kelas pujaan seluruh siswi Seoul Music High School, Woo Jiho, yang kini berada satu tingkat di atasnya— padahal, awalnya ia sangat positif kalau perasaanya bukanlah perasaan yang hanya bertepuk sebelah tangan.

“Ah! Bagaimana ini?” Jiho sedikit merengek seraya mulai berjongkok sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

Tingkahnya ini cukup menarik perhatian tetapi ia tidak peduli lagi toh apa yang ia rasakan kemarin lebih memalukan —membuat urat rasa malunya serasa putus.

“Jiho, Jiho, Jiho!!!!”

‘BRUG!’

Seorang siswi berambut pendek tiba-tiba saja memeluk Jiho yang tengah berjongkok, membuat perhatian yang diarahkan pada Jiho semakin menjadi. Bahkan ada yang menghentikan langkah mereka ketika melalui ruang loker untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.

“Apa Binnie?” Jiho mendesah sebelum menengadahkan wajahnya untuk menatap Bae Yoobin, sahabat karibnya sejak masuk sekolah menengah pertama.

Tidak mengetahui penolakan yang dirasakan oleh Jiho, Yoobin dengan wajah ceria, sambil menepuk-nepuk kedua tangannya bertanya, “jadi bagaimana? Kalian sudah resmi jadian?!”

Otomatis hal itu membuat air muka Jiho semakin buruk, gadis itu bahkan tampaknya hampir menangis —ia menurunkan tatapan matanya dan matanya sedikit terlihat berkaca-kaca. Yoobin melongo untuk sesaat, gerakan-gerakan hypernya mendadak berhenti seolah ia sedang berada dalam freeze mode. Secara mendadak, Yoobin ikut berjongkok dengan heboh, menyebabkan roknya sedikit terangkat oleh tekanan angin yang timbul.

“A-apa yang….”

Jiho kembali menatap Yoobin yang kini berjongkok di hadapannya namun matanya malah menangkap sosok lain yang memasuki gedung. Cahaya matahari yang tidak berlawanan dengan arah jalan sosok itu membuatnya seolah-olah adalah tokoh dalam komik yang diterangi cahaya kemilau —bersinar terang.

“G-gawat! Binnie! Sembunyikan aku!” Jiho memotong perkataan Yoobin dengan menarik kuat lengan gadis itu, membuat dirinya sendiri sebagaimana mungkin dapat bersembunyi di balik tubuh Yoobin.

“E-eh! Ada a-aaaah!” Yoobin kehilangan keseimbangan sehingga dirinya tumbang dan tentu saja ia tanpa sengaja ikut mendorong jatuh tubuh Jiho, seperti domino effect.

Jiho memejamkan erat kedua matanya sebagai langkah antisipasi rasa sakit yang akan ia rasakan pada bagian belakang kepalanya akibat membentur pintu-pintu loker. Namun, rasa sakit itu tidak kunjung datang sehingga ia dengan perlahan membuka kedua matanya.

“Oy? Kau baik-baik saja?”

Keadaan sekitar mendadak hening dan teriakan Yoobin adalah menjadi suara pertama yang pecah kemudian suara keributan lain menyusul.

Laki-laki yang kini bersimpuh di atas sebelah lutut dan memegangi kepala Jiho agar tidak terbentur pintu loker adalah idola para siswi Seoul Music High School, Woo Jiho. Pada lelaki inilah cinta sebelah tangan Kim Jiho bertepuk.

“A-Ah! A-aku baik-baik saja ‘kok sunbae!” Jiho, berpegangan pada tangan Yoobin yang terulur, bangkit berdiri dan merapikan rok dengan menepuk-nepuknya.

“Kau tidak sedang tak enak badan ‘kan, Jiho?”

Jiho menggeleng kuat menjawab pertanyaan sang senior. Ia bergegas memungut buku-buku pelajaran miliknya yang semula ia biarkan tergeletak di lantai dan menarik lengan Yoobin seraya berjalan memasuki kelas keduanya yang terletak tak jauh dari ruang loker.

.

.

.

“Hee!? Yang benar!? Ja-jadi kalian tidak—”

Jiho menggeleng pelan sebagai respon dari pertanyaan Yoobin yang belum selesai. Helaan napas kembali dikeluarkan oleh Kim Jiho, si periang dari kelas 10-4. Yoobin menarik sebuah kursi dan meletakannya persis di samping kursi milik sahabatnya itu sebelum duduk di sana dan merangkul peluk Jiho dengan lembut.

“Sudahlah. Jangan bersedih ya, Jiho? Masih ada banyak lelaki di dunia ini.”

Jiho mengangguk lagi seraya mengusap air mata yang sudah sedikit keluar dari pelupuk matanya. Ia kemudian merangkul pinggang Yoobin dengan erat. Sebuah senyum terukir menghiasi wajah manisnya. “Tapi, aku senang.” Ujarnya membuat Yoobin kebingungan.

“Senang? Kenapa? Kau ‘kan ditolak. ‘Kok malah senang?”

Jiho terkekeh pelan untuk sesaat. “Aku senang karena setidaknya ia masih menganggapku teman dekatnya. Kemarin ia berkata seperti ini, ‘Maafkan aku Jiho. Aku tidak bisa membalas perasaanmu. Tapi, kita tetap teman ‘kan? Teman dekat.’ Dan rasa sakit akibat penolakan itu tiba-tiba saja terasa berkurang.”

Yoobin mengangguk-angguk walaupun ia tidak mengerti apa yang harus disenangi dari hal yang baru saja diceritakan oleh Jiho. Tiba-tiba, sesuatu memukul benak Yoobin. Ia langsung melepas rangkulannya, membuat Jiho hampir saja jatuh karena tiba-tiba ia berdiri dan melipat kedua lengannya di depan dada.

“Lalu? Apa alasan ia tidak membalas perasaanmu? Aku tidak akan memaafkannya kalau alasannya menolakmu tidak masuk akal!” Yoobin mendengus pelan.

Jiho menghela napas panjang seraya merebahkan kepalanya di atas meja, “dia sudah memiliki kekasih.”

“Ha!? Yang benar? Siapa? Siapa? Katakan padaku siapa orangnya!?” Tanya Yoobin, rasa kaget dapat dirasakan dari nada bertanya yang ia lontarkan. Seluruh siswi di Seoul Music High School menyukai Woo Jiho, termasuk Yoobin dan sebagai penggemar Woo Jiho, kabar yang satu ini tidak pernah ia dengar.

“Benar. Ia sendiri yang mengatakannya padaku. Aku tahu ia tidak berbohong karena tatapan matanya mengatakan bahwa ia serius.”

“Lalu? Siapa orangnya?”

Jiho mendesah pelan sebelum membuka mulutnya, “si pemenang kontes ratu kecantikan tahun lalu.”

“Yang benar!?” Tiba-tiba saja suara seorang lelaki terdengar bersamaan dengan suara pintu kelas yang di geser. Di ambang pintu kelas berdiri Wen Junhui, murid pindahan dari China yang menjadi ketua kelas 10-4.

Ngapain kau di sini!” Yoobin berseru.

“Ada barang milikku yang ketinggalan di kelas. ‘Tuh,” Jun menunjuk ke arah mejanya menggunakan dagunya. “Waktu aku hendak masuk aku mendengar suara kalian dan aku tidak enak menganggu percakapan kalian yang sepertinya adalah curahan hati orang yang baru ditolak jadi ya… Aku diam saja di sini, menunggu percakapan kalian selesai.”

Yoobin mendesis, “dasar penguping.”

Jiho diam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Dalam hati ia membaca doa karena habislah sudah riwatnya. Junhui terkenal sebagai ‘mulut ember‘ dan Jiho yakin kabar tentang penolakan yang terjadi padanya akan menyebar di seluruh sekolah keesokan hari.

“Sudahlah, Jiho. Jangan bersedih.”

Baik Jiho dan Yoobin sama-sama dibuat heran oleh kata-kata yang terlontar keluar dari mulut Junhui. Lelaki berambut cokelat muda itu berajalan mendekati keduanya dan menanamkan kedua tangannya dengan erat pada permukaan meja tempat kepala Jiho merebah.

“Masih ada aku.”

Jiho perlahan-lahan menangkat wajahnya untuk menatap Jun. Walaupun tatapan yang diberikan oleh Jiho adalah tatapan jengkel, Junhui membalas tatapan itu dengan senyuman.

“Kalau kau punya waktu untuk membuat lelucon seperti ini, lebih baik kau gunakan untuk memperdalam pengetahuanmu akan bahasa Korea.”

Jiho kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kelas, disusul oleh Yoobin.

“Woo Jiho itu bodoh! Kalau aku adalah dia, aku pasti tahu bagaimana caranya mengatakan nado neoleul joh-ahabnida*!”

Ia sangat tidak suka dengan sifat Junhui yang selalu bercanda pada situasi apapun. Memang sifat itu ada baiknya tetapi ia merasa bahwa bercanda pun ada batasnya. Sangat tidak lucu melakukan candaan seperti itu padanya yang baru saja patah hati. Namun, yang tidak Jiho ketahui adalah bahwa betapa Junhui sangat serius mengenai perasaannya.

.

.

.

“Menjengkelkan sekali! Apa dia pikir lelucon seperti itu lucu!?” Jiho dengan jengkel memutar kunci pada lubang kunci lokernya, untung saja kunci tersebut tidak patah di dalam.

“Apa dia tidak ta—” Mulut Jiho langsung berhenti bergerak ketika indera penglihatannya mendapati sebuah amplop berukuran sedang yang berwarna merah muda berada terselip di pintu lokernya.

“Hee? Apaan ‘tuh? Coba kau buka!” Ujar Yoobin sambil mengintip dari balik pundak Jiho.

Jiho dengan lembut membuka segel pada amplop itu dan menarik keluar secarik kertas yang ada di dalamnya. Ekspresi kaget diperlihatkan oleh kedua gadis itu ketika menyadari bahwa surat itu berisi sebuah pengakuan cinta.

“Astaga! Jiho! Dia pasti penggemar beratmu! Kata-kata yang ia gunakan untuk menggambarkanmu benar-benar membuatku iri!”


Satu minggu kemudian

Bel tanda sekolah berakhir berbunyi. Jiho menghela napas seraya melangkah keluar kelas sementara Yoobin mengikutinya dari belakang dengan senyum yang berseri-seri. Surat cinta yang waktu itu dimasukkan ke dalam loker Jiho masih terus berlanjut hingga tadi pagi. Dan di surat tadi pagi, sang pengirim mengajak Jiho untuk bertemu di halte M sepulang sekolah. Sebagai sahabat Jiho, Yoobin merasa ini adalah kesempatan yang bagus untuk membantu Jiho move on dari Woo Jiho. Namun, sepertinya Jiho berpendapat lain. Ia hendak mengabaikan ajakan bertemu itu karena rasanya akan jahat sekali kalau ia menemui sang pengirim surat karena itu sama saja dengan memberi harapan padahal ia masih memikirkan Woo Jiho.

“Ayolah, Jiho. Ya, ya, ya? Kumohon! Kalau kau tidak bisa melakukannya untuk dirimu sendiri, lakukanlah untukku, sahabatmu. Ya?” Yoobin memohon, merapatkan kedua telapak tangannya.

“Baiklah. Tapi kalau ia menyatakan perasaannya jangan paksa aku untuk menjawab, oke?”

Yoobin mengangguk-angguk antusias.

.

.

.

Keduanya sudah melangkah keluar gerbang sampai suara yang mereka kenal terdengar memanggil nama Jiho.

“Hey! Jiho!”

Kedua gadis itu menghentikan langkah keduanya dan menoleh ke belakang. Dari arah gedung sekolah, Woo Jiho berlari keluar mendekati gerbang sekolah.

“Kau tidak ikut kegiatan klub lagi hari ini?”

Jiho mengangguk, “i-iya, sunbae. Maaf ya, aku sudah tiga hari tidak mengikuti kegiatan klub.”

Jiho yang lebih tua berujar, “Apa para anggota baru membuatmu merasa tidak nyaman?”

Jiho yang lebih muda menggeleng, “tidak ‘kok hehe. Aku… Akhir-akhir ini aku sedang tidak bersemangat mengikuti kegiatan klub, itu saja ‘kok. Jangan khawatir.”

“Oh, hahahaha! Dasar. Kau membuatku khawatir saja. Syukurlah kalau begitu. Jangan tinggalkan aku sendirian mengurus klub.” Woo Jiho mendaratkan telapak tangan kanannya di atas kepala Kim Jiho dan mengacak-acak rambut gadis itu tanpa mengetahui bahwa perilakunya itu kembali membuka luka lama si gadis.

Kim Jiho tersenyum sebelum menunduk, “a-aku pulang dulu ya, sunbae. Besok aku pasti ikut kegiatan klub ‘kok.”

“Baiklah. Kutunggu besok kau di ruang klub. Sampai jumpa!” Woo Jiho mengantar kepergian Jiho dan Yoobin dari sekolah dengan senyuman dan lambaian tangan.

Jiho dan Yoobin berjalan menjauhi gerbang sekolah dan tidak ada satu pun diantara keduanya yang berujar. Setelah berada cukup jauh dari gerbang, Jiho mengangkat wajahnya dan menatap Yoobin dengan mata yang berkaca-kaca.

“Nah, sekarang katakan padaku, Yoobin… Bagaimana cara melupakannya? Ia bersikap padaku seperti itu. Katakan padaku bagaimana aku bisa tidak salah paham pada awalnya?” Jiho mengigiti bibir bagian bawahnya, menahan tangis yang sudah hampir keluar.

.

.

.

Jiho dan Yoobin sudah tiba di halte M dan keduanya duduk di kursi panjang yang memang ada di setiap halte di kota Seoul. Yoobinlah yang lebih aktif menengok ke kanan dan ke kiri, mencoba mencari tahu di mana gerangan sang pengirim surat cinta sementara Jiho lebih sibuk mengibas jauh-jauh pikiran akan Woo Jiho, mencoba melupakan setiap kenangan yang ia miliki tentangnya.

Keduanya sudah duduk di sana cukup lama, mungkin sekitar setengah jam lamanya namun, tidak seorang lelaki pun terlihat. Yang ada hanya dua orang siswi Seoul Music High School lain duduk bersebelahan dengan mereka.

“Hey, apa kau yakin Woo Jiho sunbae akan datang?” Siswi yang duduk tepat di sebelah Yoobin bertanya pada temannya.

“A-aku harap ‘sihbegitu. Pada surat yang kumasukkan tadi pagi aku sudah memintanya untuk bertemu denganku di sini.”

Yoobin dan Jiho saling bertatapan. Kedua mata mereka membulat. Menyadari kemungkinan apa yang sedang terjadi membuat mereka menahan tawa mereka.

“A-anu. Maaf. Apakah kalian menunggu seseorang yang bernama Woo Jiho?” Yoobin membalik tubuhnya untuk menghadap gadis yang duduk di sebelahnya.

“I-iya. Temanku ini benar-benar nekat. Ia sudah seminggu ini rajin memasukkan surat cinta pada loker Woo Jiho sunbae dan pada surat yang dimasukkannya tadi pagi ia mengajak Jiho sunbaeuntuk bertemu di sini sepulang sekolah.”

“Wah, kalau begitu sayang sekali. Ia tidak akan datang.” Ujar Yoobin, masih menahan tawanya yang bisa meledak kapan saja.

“Eh!? Kenapa begitu?!” Kedua gadis tak dikenal itu berujr bersamaan.

“Karena kau salah mengantarkan undanganmu. Kau memasukkan surat-surat cintamu, yang selama seminggu itu, ke dalam loker temanku,” Yoobin menepuk-nepuk pundak Jiho dan Jiho mencondongkan tubuhnya untuk menyapa kedua gadis itu. “Namanya juga Jiho. Kim Jiho. Kami adalah siswi tingkat dua.”

Untuk sepersekian detik kedua gadis tak dikenal itu saling berpandangan kemudian salah satu di antara mereka sedikit merengek, “ah! Memalukan sekali! Maafkan aku, sunbaenim!”

Jiho tersenyum, “tidak apa-apa ‘kok.” Ia kemudian membuka resleting tasnya dan mengeluarkan amplop-amplop lengkap dengan surat-surat di dalam yang sudah ia terima selama ini. Ia menyerahkannya pada gadis pengirim surat cinta. “Kata-kata yang kau tulis benar-benar bagus, aku yakin kalau kau memberikan mereka padanya ia akan merasa senang. Loker Woo Jiho sunbae ada di lantai tiga. Nomor lokernya 3122. Jangan sampai salah loker lagi ya.” Jiho tersenyum manis begitu si gadis adik kelas menerima amplop-amplop beserta isinya.

“Ah, kebetulan sekali bus ke halte dekat rumahku sudah tiba. Aku pulang dulu ya. Annyeong.” Jiho melambai sebelum memasuki bus yang berhenti di halte.


=============
EPILOGUE
=============

“Hahaha sudahlah! Kau tidak usah malu. Aku dan temanku tidak akan menceritakannya pada siapapun ‘kok!” Yoobin menepuk-nepuk pundak si adik kelas yang wajahnya memerah karena malu.

“Oh iya, kenalkan, namaku Bae Yoobin.”

“N-namaku Lee Hwamin d-dan… temanku ini namanya Jung Aeri.”

“Salam kenal, Hwamin dan Aeri hahaha. Sudahlah, sudah. Besok kau masukkan saja surat-surat cintamu ke dalam nomor loker yang temanku bilang. Sudah pasti tidak akan salah ‘kok.”

Hwamin mengangguk, “b-baiklah. Terima kasih Yoobin sunbae.”

Yoobin hanya mengangguk dan tersenyum membalas ungkapan terima kasih dari Hwamin. Sambil menunggu bus yang menuju ke arah rumahnya, Yoobin mendekatkan diri pada para adik kelas yang menurutnya asyik diajak berbicara itu. Hwamin yang awalnya malu-malu mulai membuka diri pada Yoobin yang sangat ramah.

“Oh iya, ngomong-ngomong, kenapa kau bisa salah loker ‘sih, Hwamin? Apa kau tidak menyebut nama lengkap Woo Jiho sunbaenim ketika menanyakan lokernya?”

Hwamin menggeleng, “b-bukan itu. Aku terlalu malu untuk bertanya. J-jadi…”

“Jadi?” Yoobin bertanya.

“Ah! Aku terlalu malu untuk menceritakannya!” Hwamin menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

Jung Aeri tertawa sebelum melanjutkan kalimat temannya pada Yoobin. “Jadi kami berdua mengamatinya. Setiap pagi sebelum kelas dimulai dan setiap pulang sekolah setelah kelas selesai, kami selalu melihat Woo Jiho sunbaenim berdiri di depan loker milik Kim Jiho sunbaenim. Makannya kami mengira lokernya di situ. Lagipula, pernah satu kali kami melihat ia menarik keluar amplop yang terselip di pintu loker itu.”

FIN.

One response to “[Oneshot] Love Letter?

  1. Pingback: [Vignette] Love Confession – FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s