Comfortable

poster comfortable

Title     : Comfortable

Genre  : Romance

Main Cast: Cho Ahreum | Oh Sehun

Other Cast : Find by yourself

Rating : T

The fiction by Nidhyun (@nidariahs)

 

***

If somebody loves me
I’m happy with it
even if you don’t care about me
it’s okay, I’m okay

You don’t have to try it
so you wont regret it

I will relieve my heart
for a moment
for me

Now my heart will be comfortable
I also feel comfortable
you also feel comfortable
everything will be comfortable

(Comfortable by One ft Simon D & Gray)

 

***

 

Dulu, saat pertama kali Sehun untuk memutuskan merajut kisah cinta pertamanya dengan seorang murid perempuan yang kelasnya bersebelahan dengannya, ia hanya tahu bahwa semua itu hanya hubungan sepasang kekasih –berbagi cinta, merajut kasih, berbagi tangis, dan saling menemani, saling menggenggam menghadapi hari demi hari yang dinaungi oleh kata ‘bersama’. Percayalah, Sehun masih sangat muda saat itu. 17 tahun. Sehun yang 17 tahun itu hanya tahu bagaimana cara bermain basket, cara berjuang untuk mendapatkan nilai yang mencukupi untuk lulus dari sekolah, cara bermain bersama teman-temannya, juga cara untuk menghabiskan waktu bersama kekasihnya yang menjadi nomor satu di sekolah, nomor lima di Seoul, dan nomor 10 di Korea.

Tapi semua berlalu terlalu cepat. Sehun tidak mempersiapkan apapun untuk dirinya hari ini, untuk dirinya yang berusia 25 tahun.

Percayalah, ini mungkin terdengar naïf. Tapi Sehun benar-benar baru lulus kuliah tahun lalu, kemudian ini tahun ketiganya bergabung dengan sebuah band indie yang aktif di beberapa kafe untuk mengisi acara-acara kecil, ini juga bulan kedelapan semenjak ia bergabung dengan sekolah art performance –menari. Dan semua itu ternyata tidak terasa lebih berat daripada hubungannya yang menginjak tahun kedelapan.

Bersama gadis yang sama dengan Sehun 17 tahun.

Gadis yang menerbangkan sayapnya ke Harvard University, gadis yang sudah mendapat gelar ‘master’ dan menyelesaikan S2-nya lebih cepat daripada teman-temannya yang lain, gadis yang kini bekerja pada perusahaan ayahnya dan kini sibuk mengatur banyak hotel, resort, dan baru-baru ini gadis itu mengeluh mengenai rencana pembangunan apartemen.

Sehun dan gadis itu memang sangat jauh berbeda.

Sehun hanya pemuda biasa-biasa yang masih suka bersenang-senang dan belum memiliki perencanaan masa depan yang pasti. Sehun masih ingin menikmati masa bebasnya setelah ia akhirnya bisa terbebas dari segala jenis tuntutan kuliah.

Dan…gadis itu, dia adalah bagian dari keluarga Cho yang terkenal dengan perusahaan raksasanya, Cho Galleries. Dia gadis yang cerdas dan memiliki perencanaan hidup yang matang. Dia gadis ambisius yang memiliki mimpi selangit.

Itu bukan masalah selama delapan tahun ini. Banyak hal gila yang menerjang hubungan mereka, orang kesatu, kedua, ketiga…atau bahkan pertengkaran-pertengkaran hebat lainnya yang membuat mereka kadang mengucap kata putus, dan akhirnya mereka berdua bisa kembali bersama dan menjalin kasih seperti biasa.

Tapi hari ini, Sehun merasa bahwa ia seharusnya meninjau kembali hubungannya dengan gadis itu, Cho Ahreum. Bukan karena ia tak mencintai gadis itu, sungguh…

“Tapi aku tidak suka saat kakekku terus merecokiku mengenai pria pilihannya, Hun!” gadis itu masih duduk di atas meja dan melemparkan tatapan tergelapnya. Ini bukan keluhan pertamanya, tapi kali ini Sehun merasa kepalanya sakit dengan semua rengekkan Ahreum.

Sehun yang sedang menulis lagu akhirnya melemparkan pulpennya dan menatap Ahreum yang masih memakai baju kantoran berwarna biru tua dengan rambut sebahu yang tergerai. Lihat cara dagu gadis itu terangkat, siapapun akan tahu dia bukan dari kelas menengah bawah dengan otak rata-rata. Dia Cho Ahreum, dengan segala kelebihan yang dinaungi kekuasaan yang luar biasa.

“Lalu aku harus apa, Reum-a? Kau tahu aku belum memiliki pekerjaan tetap, aku juga baru lulus kuliah, aku tidak mungkin menikahimu sedangkan pendidikanku bahkan masih berada di bawahmu! Apa yang bisa kutunjukkan pada keluargamu sedangkan kau tahu aku hanya pemuda yang hidup serampangan!” Sehun menaikkan intonasi suaranya. Ia jengah, ia lelah, ia pusing….

Ahreum memejamkan matanya, menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, “Kau hanya perlu menemui keluargaku, Hun. Kita tidak perlu menikah terburu-buru dan…”

“Tapi kau tahu menyamai statusmu itu membutuhkan waktu yang lama, Reum-a! aku belum siap untuk bertemu dengan keluargamu apalagi menikahimu!”

Ahreum terdiam. Entah mengapa dadanya sesak sekali mendengar tiap penekanan kata yang dilontarkan Sehun. Hell! Ini tahun kedepalan ia dan Sehun menjalin hubungan, tapi entah mengapa untuk pertama kali ia merasa…tidak ada peningkatan dalam hubungan mereka. Sehun selalu ingin duduk nyaman dengan dunianya, dan Ahreum membutuhkan Sehun untuk membuatnya bisa tetap duduk nyaman pada dunianya juga.

“Kau selalu menemui keluarga Kang Seulgi,” kata Ahreum lagi, kali ini dengan nada datar.

Sehun berdecak keras. Astaga! Lagi-lagi Seulgi. Apakah tidak bisa perempuan memercayai lelakinya yang memiliki hubungan pertemanan baik dengan perempuan lain?

“Seulgi anggota baru band kami, Reum-a. Lagipula rumah kami berdekatan, dan…ayolah! Kau sudah puluhan kali membahas ini, apa kau tidak lelah?”

Ahreum pun menunduk. Tidak tahu perasaan apa yang melilitnya saat ini. Yang pasti, semuanya berbau ketidaksenangan, “Tapi aku tidak suka, Hun. Aku hanya ingin kau menemui keluargaku.”

“Tidak bisa ya kau melihatnya dari sudut pandang lelaki?” Sehun pun bangun dari kursinya, “Perkenalan antara laki-laki dengan keluarga perempuan bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan, Reum! Bagaimana jika mereka menolakku? Bagaimana jika mereka tidak menyukaiku? Aku harus memiliki sesuatu untuk ditunjukkan pada mereka agar mereka yakin bahwa aku layak untuk memilikimu!”

“Sampai kapan aku harus menunggu, Hun? Kau hanya perlu memulai pekerjaan, dan…”

“Kau kira mencari pekerjaan layak yang bisa menyamaimu adalah sesuatu yang mudah?!”

Ahreum mengerjapkan matanya –terkejut dengan suara bentakan Sehun yang memenuhi kamar sewaan Sehun yang terbilang kecil dan sempit ini.

“Kau sudah memiliki pekerjaan, kan? Setidaknya itu…”

“Aku hanya lulusan fakultas seni yang harus mati-matian mendapatkan gelar! Aku hanya anak band dan baru mampu membiayai harga sewa kamar ini! Aku hanya pengajar tidak tetap di sekolah swasta yang penghasilannya baru cukup untuk makanku sehari-hari! Apa kau tidak mengerti berapa banyak tanggung jawab yang harus aku tanggung?”

Ahreum menarik napas panjang, “Jika kau mencintaiku, kau akan melakukan apapun untukku, Hun…. Kecuali jika kau hanya menganggap ini semua main-main.”

Yeah…pertengkaran malam itu diakhiri oleh tangisan tertahan Ahreum, dan Sehun yang hanya bisa diam tanpa berpikir untuk mengejar Ahreum. Demi Tuhan! Ia mencintai Ahreum dan sama sekali tidak berpikir bahwa semua ini hanya main-main. Ia sudah menghabiskan delapan tahun bersama Ahreum, jika hanya main-main untuk apa Sehun tetap bertahan bahkan meskipun Sehun sadar berapa banyak tingkatan yang berbeda diantara Sehun dan Ahreum?

 

***

 

Satu minggu.

Sehun sama sekali tidak menemukan nama Ahreum pada notifikasi di ponselnya. Well, ini bukan kali pertama mereka lost contact seperti itu, saat Ahreum kuliah di luar negeri, saat Ahreum melakukan perjalanan bisnis, saat mereka sibuk…

Tapi kali ini berbeda. Ahreum marah, dan Sehun terlalu jelas menyadari hal itu. Yang lebih gila lagi, Sehun terlalu jelas menyadari bahwa ia juga tak memiliki cara untuk meminta maaf pada Ahreum sembari meminta Ahreum menunggunya lagi.

Tapi…ucapan Chanyeol hari itu memaksa setan di dalam diri Sehun untuk menyalakan api emosinya. Membuatnya terpontang-panting mencari motornya dan menjalankannya secepat yang ia bisa. Ia masih mencintai Ahreum, dan ia tak memiliki alasan untuk melepaskan Ahreum.

“Tiga hari ini aku melihatnya di club bersama seorang pria. Aku tidak tahu siapa, sih…tapi mereka terlalu intens, kau tahu lah maksudku…” ucapan Chanyeol dengan suara ragu-ragunya, masih dengan segar berputar di kepalanya.

Dan…di sinilah ia, di depan kantor Ahreum yang entah memiliki berapa puluh lantai –tinggi sekali. Sehun bahkan tidak bisa dengan jelas melihat ujung dari gedung ini.

[Kita perlu bicara.]

Sehun mengirimkan pesan singkat itu pada nomor ponsel Ahreum. Tidak ada balasan, tentu saja. Ini masih jam kerja, dan Sehun yakin sekali Ahreum takkan memainkan ponselnya pada jam-jam sibuk seperti sekarang.

Setelah setengah jam menunggu –dan karena Ahreum tidak juga menjawab pesannya, Sehun pun akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam, berharap agar dirinya bisa tetap mempertahankan rasa percaya dirinya dengan penampilannya yang…yeah, bayangkan! Semua orang di kantor ini berpenampilan formal –rapi, berdasi, kemeja—dan Sehun hanya memakai celana hitam yang robek di bagian lutut dan paha, kaos hitam dengan tulisan berbahasa inggris yang kurang ramah, jaket kulit hitam, dan rambut coklat terang yang berantakan.

“Permisi…” Sehun mencoba suaranya yang paling ramah saat menyapa seorang wanita di balik meja resepsionis, “Apa Cho Ahreum ada di dalam? Bisa saya bertemu dengannya?” tanya Sehun lagi –mengabaikan mata yang agak memicing dari wanita berpakaian kantoran ungu itu.

“Anda siapa? Apakah Anda sudah membuat janji dengan beliau?”

Beliau…Sehun merasa terpekur dengan panggilan hormat yang ditujukan untuk kekasihnya itu. Sebegitu dihormatinya kah dia?

Sehun tersenyum kecut, agak ragu melanjutkan, “Y-ya…aku…aku Oh Sehun. Aku tidak membuat janji sebelumnya, tapi jika Ahreum ada di dalam, bisakah katakan padanya aku ingin menemuinya?” –dan jika bisa ia ingin menambahkan sedikit, bahwa ia adalah kekasih dari gadis yang cukup dihormati wanita itu.

“Sebenarnya hari ini ada rapat penting, tapi akan coba saya hubungi,” ya ya, Sehun tahu Ahreum selalu sibuk setiap harinya. Dan satu-satunya waktu kosong yang dimilikinya hanya beberapa jam pada sabtu malam. Wanita itu pun mengangkat gagang telepon dan berbicara sesuatu pada seseorang di sebrang telepon sana, “Nona Cho sudah selesai rapat, katanya Anda diminta untuk datang saja ke ruangannya,” kemudian wanita itu memberi arahan pada Sehun untuk menemukan ruangan Ahreum.

 

***

 

Setelah berjalan agak linglung selama mencari ruangan Ahreum, akhirnya Sehun sapai di depan pintu ruangan yang katanya adalah ruangan Ahreum. Bahkan, masih ada satu meja lagi dengan wanita yang kembali menanyainya dan membuat Sehun untuk kembali meminta izin masuk. Setelah itu, Sehun pun diizinkan masuk –dan Sehun langsung masuk tanpa mengetuk pintu dahulu.

Aroma lavender langsung menyambut hidung Sehun, aroma yang sering ia cium pada pakaian Ahreum jika mereka bertemu sepulang kerja Ahreum. Dan Sehun cukup terkesan dengan luasnya ruangan Ahreum yang sepertinya sebesar tempat tinggal sewaan Sehun saat ini. Ada satu set sofa, beberapa rak, dan…satu set meja kerja dengan Ahreum yang duduk di balik meja itu.

Wajah datar itu menyambutnya –kemudian tanpa Sehun duga Ahreum menarik senyum dan melemparkannya pada Sehun. Well, mungkin Sehun lupa menceritakannya, Ahreum bukan tipe gadis yang akan lama-lama merajuk pada kekasihnya meskipun dia mungkin tidak menghubungi selama berhari-hari.

“Wow, aku terkesan kau mau datang ke mari, sayang…” godanya masih dengan senyum bernada naïf. Dia boleh saja secerdas apa yang orang lain pikirkan, dia boleh saja begitu dihormati sedemikian rupa oleh seluruh karyawan di tempat ini, tapi di mata Sehun, Ahreum tetaplah anak kecil yang masuk ke dalam tubuh perempuan dewasa –kekanakan.

Sehun mendengus pelan, dan kau tidak tahu bagaimana perjuanganku untuk sampai ke sini sayang…. Sehun menelan kalimatnya, tentu saja. Ia pun berjalan mendekati Ahreum yang masih duduk di depan mejanya.

“Kau tidak membalas pesanku,” jawab Sehun dengan nada datar. Ia pun memilih duduk di salah satu sofa yang tersedia di sana –ia tak memerlukan izin dari kekasihnya sendiri, bukan?

Ahreum tersenyum lagi, ia pun segera mendekati Sehun dan duduk di sampingnya dengan tangan yang langsung menangkap lengan Sehun. Ahreum benar-benar merindukan Sehun, “Sengaja, aku ingin tahu sejauh mana usahamu…”

Selalu seperti itu, Sehun membatin. Dengan ragu, Sehun pun menegakkan punggungnya dan menatap mata Ahreum –semoga saja ia dan Ahreum tidak bertengkar lagi, “Chanyeol bilang, dia melihatmu dengan seorang pria di sebuah club.”

Tangan Ahreum yang sedang mengusap punggung tangan Sehun langsung terhenti, tapi ia kembali meneruskan aktivitasnya, “Kau cemburu.”

“Ini bukan soal cemburu atau tidak, Cho Ahreum…”

Ahreum menarik sudut bibirnya, ia mendengar ‘aku sangat cemburu’ dari warna suara Sehun.

“Jadi…apa? Kau ingin mengatakan hal lain lagi selain mengenai kecemburuanmu?”

Sehun memutar bola matanya, sebal sekali dengan tebakan Ahreum yang tepat mengenai sasaran tersebut. Tapi…baiklah, Sehun disini bukan untuk mempermasalahkan soal lelaki yang bersama Ahreum atau mengenai cemburu tidaknya ia.

“Reum-a…”

“Mmm?” sahut Ahreum tanpa memutar kepalanya ke arah Sehun, ia lebih suka menyandarkan kepalanya pada pundak Sehun.

“Aku…bersedia bertemu dengan keluargamu, dan langsung menikahimu…”

Well –Ahreum langsung mengangkat kepalanya dan menatap Sehun dengan tatapan kau-ber-can-da? Tapi pada akhirnya Ahreum tidak mengatakan apa-apa, Ahreum sama sekali tidak menyangka Sehun akan datang kemari dan membahas masalah itu lagi…. Padahal, tadinya Ahreum akan membahas ini lain waktu saja, setelah Sehun memang siap.

“Tapi…aku punya syarat,” Sehun pun membuka cincin perak yang melingkar manis di jari manis tangan kanannya. Cincin keluarga. Sehun pernah menceritakannya, “Aku mungkin harus mengorbankan banyak hal sebelum akhirnya bisa mengikatmu,” Sehun memasangkan cincin itu di ibu jari Ahreum, “Dan mungkin, syaratku ini membuatmu harus mengorbankan sedikit lebih banyak daripada yang aku korbankan,” Sehun pun mengecup jari yang terpasang cincin tersebut, “Jika kau ingin kita menikah, aku ingin kau ikut denganku, memulai semuanya dari awal denganku, dan melepaskan embel-embel Cho Galleries –selain nama keluargamu, tentu saja.”

Sehun memejamkan matanya, ia dapat merasakan jantung Ahreum yang berdetak lebih cepat. Ahreum pasti terkejut sekali dengan permintaan bodoh Sehun ini, “Aku tahu ini kedengarannya begitu konyol, tapi aku hanya bisa menjamin diriku sendiri, bahwa aku akan berjuang sebisaku untuk membuatmu bahagia dan melakukan apapun yang kau mau…”

Ahreum tidak menjawab, ia juga tidak bergerak sama sekali. Tapi Ahreum membiarkan matanya tetap bertemu dengan mata Sehun, “Tapi…kenapa?”

Sehun menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, “Karena hanya keberanian yang kumiliki untuk meminta ayahmu melepasmu dan membiarkanmu menjadi ratuku. Aku ingin membuktikan, bahwa aku dengan keadaanku saat ini, bisa tetap membuatmu bahagia dengan caraku. Walaupun aku tidak menjamin bahwa kebahagiaan itu berentuk materi…” Sehun pun mengeratkan genggamannya di tangan Ahreum, “Aku tahu ini kedengarannya egois, tapi…seperti yang kau tahu, pemuda serampangan ini hanya memiliki kenekatan untuk menjalani hidupnya. Tapi jika kau tidak mau, aku akan melepaskanmu. Agar…yeah, kita semua bisa nyaman dengan keadaan ini.” Sehun pun melepas tangan Ahreum dan mendaratkan bibirnya di kening Ahreum, membiarkan setiap perasaannya tersalurkan lewat ciumannya, “Jangan dijawab sekarang. Kita bertemu seminggu lagi di kafe tempat band-ku. Disana aku akan mendengarkan jawabanmu. Jika kau menjawab ‘ya’ aku akan menukar cincin di ibu jarimu itu dengan cincin yang lebih layak, jika kau menjawab ‘tidak’, maka kau hanya perlu mengembalikan cincin itu padaku.” Kata Sehun lagi sebelum ia berdiri untuk pergi.

Sehun terlihat agak ragu, tapi ia tetap melanjutkan, “Aku…minta maaf, Reum-a.”

 

***

 

“Itu sangat mustahil, Hun. Kau ingin Ahreum melepaskan segala jabatannya dan menikah denganmu yang bahkan tidak memiliki pekerjaan tetap? Percayalah! Meskipun Ahreum mungkin rela demimu, tapi ayahnya belum tentu sudi dengan keputusan putrinya,” komentar Kris –salah satu temannya—dengan tatapan menyudutkan.

Sehun tidak peduli dan hanya membalasnya dengan seutas senyum, “Aku mengajakmu kemari untuk mengantarku, bukan untuk memberiku komentar.”

Kris mungkin saja menghajar mulut Sehun, tapi ia masih memiliki rasa kasihan terhadap pemuda yang tengah dimabuk asmara ini, “Tapi menjual piano dan gitarmu…” Kris kembali bersuara, dan menatap manik mata Sehun serius, “Kau yakin?”

Sehun tersenyum tipis. Ya. Pertanyaan itu layak diulang dan diproses lagi di kepala Sehun, apakah ia yakin? Bukan soal menjual alat musik kesayangannya…tapi dengan semua rencananya, dengan semua permintaan yang diajukannya terhadap Ahreum. Well, Ahreum patut merasa enggan karena Sehun bukan tipikal pria yang memiliki tujuan yang pasti.

Mungkin saja Ahreum menolak.

Atau…mungkin saja ayahnya yang akan menendang Sehun jauh-juah karena keinginan Sehun ini.

Tapi…mau bagaimana lagi, Sehun hanya punya nyali…dan harapan.

“Lalu uangnya akan kau pakai untuk apa?” tanya Kris lagi, masih penasaran dengan plot cerita cinta yang dibuat Sehun demi seorang gadis trcintanya.

Sehun yang baru menerima uang lagi-lagi memanahi pertanyaan Kris dengan sebuah senyuman, “Cincin…”

 

***

 

“Ibu?” panggil Sehun pada seorang wanita yang baru saja menyapanya di sebrang telepon sana. Di Busan…jauh sekali, bukan?

“Tumben kau meneleponku, kukira kau sudah melupakan keluargamu,” logat Busan itu menyentuh gendang telinga Sehun dengan ramah. Membuatnya tersadar bahwa ia merindukan kampung halamannya, sangat. Tapi sebagai anak laki-laki yang bahkan sudah berusia seperempat abad, pantang baginya untuk tetap bergantung pada orang tuanya.

Sehun sempat terkekeh dan menggaruk tengkuknya. Ia gugup sekali, “Bu…aku ingin mengajukan permintaan, boleh?”

Suara ibu Sehun sempat menghilang, tapi Sehun masih bisa mendengar deru napas wanita yang paling dicintainya itu, “Nada suaramu sangat serius, ada apa?”

Sehun lagi-lagi menggaruk tengkuknya, “Be-begini…a-aku, aku punya kekasih Bu…”

“Lalu?”

Wow, Sehun pikir ibunya akan terkejut, ternyata Sehun lah yang dibuat terkejut karena nada datar ibunya, “A-aku…aku ingin meminta izin untuk menjual tanah milik ibu di sana. Aku ingin melamarnya, ingin menikahinya. Maaf belum sempat memperkenalkannya padamu, tapi sungguh, Bu…dia gadis yang baik dan juga pintar, Ibu akan menyukainya.”

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

“APA?! MENIKAH?!”

Sehun memejamkan matanya –reaksi ibunya kali ini sesuai ekspetasi, “Y-ya…aku ingin menggunakan uang itu untuk membeli apartemen kecil, pesta pernikahan yang sederhana, dan sisanya untuk modal. Dia suka berbisnis, mungkin aku bisa membuka kafe kecil untuknya…”

“Oh Sehun…?”

“Aku sudah menjual motorku untuk membeli cincin pernikahan kami, jadi tidak perlu khawatir…”

Sehun pikir ibunya akan berceramah panjang, bertanya ini itu, dan…yeah, normalnya sebagai orang tua yang mendengar kabar ini, pasti memiliki banyak permintaan, saran, dan juga pertanyaan. Tapi di luar dugaan –lagi, ternyata ibu Sehun hanya menjawab, “Baiklah. Tapi kau harus berjanji untuk membahagiakan wanita itu.”

Tentu, tanpa kau minta aku akan melakukannya…

 

***

 

Sehun mengetuk-ngetukan jemarinya di atas permukaan meja dengan tidak nyaman. Ini sudah hari ke-7, dan akhirnya Ahreum menemui Sehun di tempat yang telah mereka janjikan. Suasana kafe tidak terlalu ramai, tidak juga sepi, ada beberapa orang termasuk Sehun dan Ahreum di sana. Dan Sehun harap Ahreum atau siapapun tidak akan mendengarnya…

Ahreum terlihat berbeda dari biasanya. Dia tidak banyak bicara, juga tidak menunjukkan ekspresi yang membuat Sehun berani untuk menebak apa yang dipikirkan gadis itu. Sehun berharap agar Ahreum membuka percakapan ini terlebih dahulu…. Tapi hingga menit kesepuluh, Ahreum masih diam dan hanya menyesap minumannya.

“Jadi…bagaimana jawabanmu?” dengan setengah mati, Sehun harus mengumpulkan nyalinya –lagi—untuk membuka obrolan ini.

Ahreum mengangkat kepalanya, menatap Sehun, tapi ia tidak mengatakan apapun. Ahreum hari ini terlihat cantik –lebih cantik daripada biasanya, dengan pakaian kasual musim panas dan membuat Ahreum terlihat pas di tubuhnya. Sehun pikir, mungkin ini hari terakhirnya bersama Ahreum. Harusnya Sehun tahu diri, meminta Ahreum meninggalkan Cho Galleries? Ayolah! Manusia waras mana yang akan menukar kehidupan menjamin demi sesuap cinta yang belum tentu masih hidup pada esok hari?

“Yeah…aku mengerti,” kata Sehun lagi karena tak juga mendapat jawaban. Sehun benar-benar merasa keputus asaan –lebih putus asa daripada ketika dosennya menolak skripsinya dan membuat Sehun harus menunda wisudanya tahun lalu.

“Kenapa kau menjual motor dan alat musikmu?”

Sehun mengangkat kepalanya. Kaget. Ahreum bicara padanya dengan nada marah. Tapi…kenapa Ahreum bisa tahu?

“Ke-kenapa…”

“Kau menjual benda berhargamu, lalu menjual tanah milik keluargamu, dan…” Ahreum memejamkan matanya, ia hampir menangis, “Hun, kenapa kau melakukan semua itu? Aku pikir saat kau berkata kau akan ikut berkorban, kau tidak akan mengorbankan hal paling berharga milikmu. Lalu apa yang akan kulakukan jika aku bertemu dengan ibu mertuaku, setelah tahu jika akulah alasan di balik putra tunggalnya yang menjual tanah keluarga? Dan kau menghabiskan seluruh tabunganmu untuk membeli bangunan baru untuk kafe? Kau kan tidak suka berbisnis, Hun!”

Sehun menggigit bibir bawahnya, “Karena aku tahu itu takkan setimpal dengan pengorbananmu. Gitar, piano, dan motorku takkan seharga dengan keringat ayahmu untuk membuatmu bahagia, harga tanah yang kujual pun tidak akan seharga dengan air mata ibumu saat melepasmu nanti, dan seluruh tabunganku yang kuhabiskan untuk membeli bangunan yang akan kuberikan untukmu itu, takkan sebanding dengan posisi yang kau miliki di Cho Galleries saat ini,” Sehun menarik napas panjang, “Aku tidak peduli dengan diriku, aku akan merasa nyaman jika kau juga merasa nyaman. Dan saat aku berpikir mengenai pernikahan, satu-satunya yang kupikirkan…bagaimana caraku untuk membuatmu tetap nyaman. Aku tidak ingin membuat orang lain berpikir bahwa aku hanya mengambil keuntungan dari pernikahan ini, aku ingin membuktikan bahwa aku mengambil tanggung jawab penuh untuk dirimu. Aku tidak peduli seandainya semua cemoohan itu terjatuh untukku, tapi aku tidak akan sudi jika mereka membuat keluargamu tidak nyaman.”

Sehun pun mengeluarkan cincin yang dibelinya bersama Kris beberapa hari lalau, “Ini takkan seharga dengan jam tanganmu, sih…tapi aku hanya ingin kau melihat segaris ketulusanku disini,” Sehun pun menarik tangan Ahreum dan melepas cincin keluarga milik Sehun, kemudian memasangkan cincin emas putih dengan satu mutiara kecil di tengahnya.

“Kuanggap kau menerimaku, Reum-a…. Dan mengenai ayahmu…”

“Ayah sudah menyetujui permintaanku, Hun. Tapi dia ingin tetap ikut campur dalam pesta pernikahan kita,” Ahreum pun menghapus air mata terharunya. Astaga…ia tidak pernah berpikir bahwa hari ini akan datang secepat ini, “Tapi ayah ingin bertemu denganmu hari ini.”

Dan…tentu saja cerita ini masih berlanjut, tapi biarkan Sehun dan Ahreum melanjutkan ceritanya sendiri. Karena disini Sehun hanya ingin membuktikan, bahwa sesuatu yang kecil bernama cinta adalah salah satu kunci hidupnya pengharapan, dan Sehun hanya perlu menambahkannya dengan sedikit keberanian.

Iya…seperti bertemu dengan calon ayah mertuanya.

Sekarang…

 

***

 

=The End=

20160730 PM0935

2 responses to “Comfortable

  1. aq baca cerita ini hingga meneteskan air mata😥
    terharu banget….
    penggunaaan kosa katanya bner” keren dan mudah dipahami….
    feelnya jg dapet bgt🙂
    daebak pokoknya….
    endingnya jg bikin bangga karna mereka brdua rela mengorbankan apa yg mereka miliki saat ini demi orang yg dicintai🙂 so sweet ^__^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s