[Oneshot] Forget Me Not

tumblr_o9te34ypMn1ud0dg8o2_1280.jpg (700×383)

FORGET ME NOT

by Atatakai-chan

|| AU, AngstFamily — Oneshot — ||

.

starring
Blackpink Jisoo as Kim Jisoo

.

mentioned
iKON Bobby as Kim Jiwon

.

“Jisoo! Ayo kemari, anak manis.”

Jisoo meraih tangan nyonya Kim yang baru melangkah keluar dari dalam rumah sakit megah yang berada di tengah-tengah kota Los Angeles. Taman indah yang mengelilingi rumah sakit itu tak mengubah pandangan Kim Jisoo terhadap gedung yang didominasi warna putih tersebut —dan itulah sebabnya tidak mengikuti sang Ibu untuk masuk ke dalam sana.

“Kita pulang sekarang eomma.” Bukanlah pertanyaan yang baru dilontarkan oleh gadis berparas manis itu. Namun, nyonya Kim tidak tahu harus merespon apa sehingga ia menanggukan kepalanya sebagai salah satu bentuk persetujuan.

“Apa kau sudah beli tiketnya?” Kedua mata sayu Jisoo menatap nyonya Kim. Ibu dari dua anak itu tak berani menatap balik sehingga ia memalingkan wajah, membuat anak perempuannya hanya dapat melihat bagian sisi belakang rambut hitamnya yang tidak natural.

“Kita tidak perlu tiket. ‘Kan rumah kita di kota ini ju—”

Jisoo dengan kasar melepas genggaman tangannya. Ketika nyonya Kim hendang menggenggam balik tangannya, gadis itu menepisnya, juga dengan kasar. Wajah putih Jisoo memerah, menahan lara yang sudah tak dapat lagi dibendungnya sehingga kemudian membentuk genangan air mata di kedua pelupuk matanya.

“RUMAHKU ADA DI SEOUL! AKU MAU PULANG KE RUMAH! SEKARANG!” Jisoo memberi penekanan pada setiap suku kata yang ia ucapkan walaupun air mata mulai membanjiri wajahnya.

Di saat itulah, napasnya kembali terasa sesak. Debaran jantungnya semakin cepat. Seharusnya, ia tidak boleh menangis karena itu akan memacu kinerja jantungnya yang sudah tidak berfungsi normal sejak ia lahir.



Dua hari kemudian…

Wajah murung Jisoo yang baru keluar dari rumah sakit hanya bertahan beberapa menit sampai ia melihat sebuah pohon rindang yang tengah bersemi berdiri kokoh di pinggiran jalan.

Gadis itu merogoh tas selempangnya dan mengeluarkan kamera pemberian sang Ibu untuk ulang tahunnya yang kesembilan belas pada tahun lalu. Senyum manis ia pamerkan seraya jarinya menekan tombol pengambil gambar sementara kamera berwarna hitam pekat itu ia arahkan sendiri padanya.

Eomma pulang duluan saja ya. Aku mau mencetak foto dulu.” Jisoo pamit pada nyonya Kim yang berada berlangkah-langkah jauh di belakangnya. Dan sambil bersiul riang gadis itu melangkah mendahului Ibunya menuju ke jalan raya tempat mencetak foto berada.

.

.

.

‘Drap, drap, drap!’

Langkah kaki Jisoo terdengar dari lantai satu tempat nyonya Kim dan adik laki-lakinya, Kwon Minhyuk, tengah bercakap. Kening nyonya Kim mengkerut begitu mendengar suara langkah kaki Jisoo yang lebih mirip suara derapan ketika gadis itu tengah berlari.

“Jisoo! Sudah eomma bilang ‘kan, jangan berlari-lari!” Nyonya Kim mendesah begitu melihat anak perempuannya yang tersenyum muncul di ambang pintu ruang tamu dengan napas terengah-engah.

“Maaf,” ujar Jisoo setengah berbisik seraya memasuki ruang tamu dan menghampiri pamannya yang sudah sedari tadi merentangkan kedua tangan sambil tersenyum.

“Apa kabarmu, samcheon?”

“Tentu saja kabar baik, Jisoo. Kau juga pasti kabarnya baik ‘kan, anak manis?” Minhyuk mengacak-acak ambut Jisoo perlahan sebelum mengusap kedua pipi gadis itu.

“Paman malam ini pulang ke Seoul ‘kan? Apa aku boleh menitipkan barang untuk Jiwon oppa?”

“Tentu saja boleh.”

Jisoo tersenyum sebelum bangkit berdiri dari atas pangkuan pamannya dan menarik-narik pelan tangan sang paman. Meminta lelaki berumur empat puluh tahun itu untuk mengikutinya menuju ke kamarnya yang terletak di lantai dua.

.

.

.

“Wah? Satu kardus? Isinya apa saja, Jisoo-ya?”

Jisoo terkekeh pelan melihat reaksi kaget yang dibuat-buat oleh pamannya. Hal itu selalu saja lucu bagi JIsoo dan kekehan pelannya lama-lama berubah menjadi sebuah tawa, tawa yang lepas. Bisa tertawa lepas sudah menjadi kebahagian sendiri untuk gadis itu.

“Isinya… Hm. Banyak sekali pokoknya! Kalau paman mau tahu paman harus menyuruh Jiwon oppa untuk langsung membukanya begitu barang ini tiba jadi paman bisa ikut melihat apa saja isinya di dalam.” Jisoo kembali tersenyum.



Seoul, Korea Selatan
21 Desember…

Kim Jiwon menganga melihat kardus berukuran besar yang baru saja diletakkan oleh pamannya di lantai ruang keluarga. Tampang keheranannya dilengkapi dengan wajah bangun tidur khas miliknya, membuat siapapun yang melihat mampu terkocok perutnya akibat tawa.

“Apa ‘sih yang dipikirkan oleh anak itu?” Jiwon bergumam seraya membuka lakban yang menyegel kotak kardus itu.

“Apakah ia baik-baik saja di sana, paman?” Jiwon bertanya. Laki-laki yang satu ini memang banyak berbicara namun, hal itu tidak membuat tangannya berhenti membuka lapisan lakban.

“Ia masih anak yang ceria, Jiwon.”

Jiwon menghela napas. Baik pamannya dan juga ibunya tidak pernah sekalipun memberikan jawaban jelasatas pertanyaannya mengenai sang adik yang amat dirindukannya. Lima tahun lalu, Jisoo dibawa Ibunya pergi ke Amerika untuk melakukan pengobatan, meninggalkan dirinya di Seoul tinggal bersama pamannya.

Apa yang mengisi kardus itu bukanlah barang-barang yang Jiwon perkirakan akan ada di dalam. “Baiklah. Ini aku bawa ke kamarku. Terima kasih ya, paman! Oh iya, ngomong-ngomong, aku sudah menyiapkan sarapan. Kau bisa makan dulu sebelum mandi dan beristirahat.” Jiwon mengangkut kardus yang masih terbuka tutupnya itu ke dalam kamar tidurnya yang masih berantakan.

.

.

.

“Jisoo-ya annyeong~” Jiwon melambai-lambai pada layar laptopnya yang tengah menjalankan aplikasi Skype yang dapat menghubungkannya dengan sang adik yang berada di negeri Paman Sam.

“Jiwon oppa annyeong” Di layar laptop terpampang wajah Jisoo yang berseri-seri. Gadis itu berada dalam balutan piyama.

“Paman Minhyuk dan juga paket darimu sudah sampai dengan selamat. Terima kasih ya.”

“Sama-sama, oppa. Aku harap kau menyukainya.”

Jiwon memamerkan senyum khas miliknya, “hehehe. Oppa senang ‘sih dapat kiriman darimu di hari ulang tahun oppa. Tapi… Isinya album foto semua? Kau ternyata narsis juga ya hahahahaha!”

Jisoo tidak menjawab. Dari layar laptop terlihat gadis itu tengah tersenyum.

“Ngomong-ngomong, empat hari lagi natal. Apa kau dan eomma akan berada di sini? Jujur saja, agak sepi merayakan natal berdua hanya dengan paman Minhyuk.”

Jiwon dapat mendengar helaan napas Jisoo sebelum gadis itu menjawab, “mungkin natal tahun ini aku akan pulang.”

“Bagus! Kalau begitu natal tahun depan gantian oppa yang akan mengunjungimu dan eomma di Los Angeles! Tahun depan oppa pasti sudah mendapatkan pekerjaan yang mapan sehingga bisa membiayai sendiri penerbangan oppa ke sana. Kau jadilah anak yang baik dan tunggu oppaarraseo?”

Arraseo. Aku tidur dulu ya, oppa. Selamat malam.”

“Baiklah. Selamat malam untukmu, adikku tersayang. Oh iya, besok, pukul berapa aku bisa menghubungimu?”

Untuk sepersekian detik Jisoo terdiam.

“Jisoo?” Rasa ganjil dirasakan oleh Jiwon tetapi ia tidak tahu apa yang membuatnya merasa ganjil sehingga ia tidak melakukan apa-apa selain memanggil nama adiknya yang ia pikir sudah setengah mengantuk.

“A-ah itu… Erm… Biar aku saja yang menghubungimu. Sudah ya. Daagh~”



Seoul, Korea Selatan
25 Desember…

Ini adalah natal terburuk yang pernah dialami oleh Jiwon sepanjang hidupnya. Tidak pernah sekalipun terbesit di benak laki-laki berusia duapuluh satu tahun itu bahwa ia akan menerima kabar duka di hari natal.

Pada tanggal 22 Desember, Jisoo melakukan operasi jantung, mempertaruhkan nyawanya untuk meraih kesuksesan operasi yang dikatakan sebesar lima puluh persen. Namun, yang dicapai oleh gadis itu adalah lima puluh persen lainnya. Jantungnya terlalu lemah. Kalau saja malam sebelumnya ia memiliki waktu tidur yang cukup, mungkin nyawanya dapat tertolong. Tetapi, gadis yang kini tak bernyawa itu memutuskan untuk melakukan perbincangan dengan sang kakak yang mungkin adalah kali terakhirnya, ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu karena ia tahu perbandingan yang sebenarnya bukanlah 50%-50%, melainkan 51%-49%.

Jiwon mengurung diri di dalam kamar semenjak ia menerima kabar yang menyayat hatinya itu. Lelaki yang tengah menangis itu sesekali tertawa sembari memandangi wajah sang adik dalam bentuk foto. Semua album-album foto yang dikirimkan itu ternyata memiliki maksud. Pada setiap halaman akhir album foto tertulis sebuah surat —yang tak akan pernah dibaca oleh Jiwon sampai habis:

Untuk kakakku tersayang,
Kim Jiwon
Sudah cukup lama kita tak dapat berjumpa langsung ya, kak. Aku, adik kecilmu, di sini sangat merindukanmu. Awalnya aku merasa aku dapat menghirup napas di negeri Paman Sam ini sebanyak yang aku mau tetapi, yang terjadi malah kebalikannya.
Sepanjang hidupku di sini dipenuhi berbagai larangan. Aku jadi rindu saat-saat aku menghabiskan sore denganmu sambil mengejar layangan sampai ke rumah.
Aku tahu aku tidak akan bertahan lama. Selama ini aku menguatkan diriku untuk bertahan karena mimpi yang sampai detik ini kuinginkan —aku ingin kembali ke Seoul dan menghabiskan tiap hari dalam hidupku bersamamu.
Setiap manusia memiliki batas, dan aku sadar akan hal itu. Aku mulai merasa bahwa sampai di sinilah batasku. Sebagaimanapun aku merindukanmu dan kehidupan lamaku di Seoul, aku ingin mengakhiri sakit dan juga kecemasan yang aku rasakan. Bahkan di saat malam pun aku tidak merasa tenang, aku tidak tahu kapan jantungku akan pecah.
Pada akhirnya, aku memutuskan. Karena aku tidak bisa mengisi hari-hariku bersamamu maka, aku ingin berbagi hari-hariku denganmu.
Selama foto-foto dalam album ini masih ada, begitu juga dengan diriku. Yah, walaupun nanti aku hanya tinggal kenangan….
Jangan lupakan aku, ya?

FIN.



author’s note:

Inspired by J-movie Forget Me Not (2015) and J-drama First Kiss (2007)

Terima kasih saya ucapkan pada para reader yang
telah menyempatkan diri untukmembaca fanfiksi ini.
Bagaimana pendapat Anda mengenai fanfiksi ini?

Salam hangat,
Atatakai-chan

3 responses to “[Oneshot] Forget Me Not

  1. konnichiwa! Yuki-chan muncul lagi :3
    ehm..pantes FFnya terasa familiar, ternyata based on movie yang itu^^
    langsung komen aja ya? ketika awal membaca, saya belum bisa menangkap kira-kira bagaimana endingnya, tapi intriknya udah kelihatan, mulai dari kakak-beradik itu dipisahkan, sedih memang, kenapa harus jauh-jauh ke amerika untuk pengobatan, hingga akhirnya fokus saya terarah ke Jisoo yang “doyan selfie”, oke itu sedikit ganjil dan akhirnya mengantarkan saya pada ending yang nyesek, hiks.. T.T
    oh ya atatakai-chan, waktu menggarap FF ini terburu-buru kah? ada dua typo soalnya, tolong dibenahin ya! ^^
    –> Jisoo dengan kasar melepas genggaman tangannya. Ketika nyonya Kim hendang menggenggam
    –> Jiwon menghela napas. Baik pamannya dan juga ibunya tidak pernah sekalipun memberikan jawaban jelasatas
    ganbatte ne, atatakai-chan! ^^

    • halo lagi Yuki-chan! sebelumnya terima kasih banyak ya sudah rajin banget comment di karya-karyaku :”) aku bener-bener seneng deh rasanya❤

      haha iya ini terinspirasi dari film Forget Me Not (walaupun belum nonton karena liat sinopsisnya aja udah nangis) dan drama First Kiss (dramanya reccomended banget soalnya ada Hideaki Ito /apa/)

      ups, ketahuan deh typo-typonya, jadi malu hahaha thank you atas koreksinya ya Yuki-chan❤

      sekali lagi terima kasih banyak!😄

      • haha sama-sama, aku juga lagi ada kelegaan waktu buat baca-baca di ffindo sambil ngumpulin inspirasi🙂
        hehe iya typonya engga mencolok tapi rada mengganggu/?, semoga di kesempatan lain bisa lebih rapi lagi :3
        kapan-kapan mampir dong ke blogku dong, atatakai-chan!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s