Beauty and The Beast Chapter 7 [The Beast’s Past Love Story] – by HyeKim

beautyandthebeast1

Beauty and The Beast Chapter 7

└ Subtile : The Beast’s Past Love Story┘

A Fanfiction Written by :

HyeKim

 Starring With :

-Luhan as Luhan

-Hyerim (OC) as Kim Hyerim

-Kyuhyun Super Junior as Cho Kyuhyun

-V BTS as Kim Taehyung

-Nara Hello Venus as Kwon Nara

Genre : Romance, Comedy, Marriage Life, Family ||  Lenght : Multi Chapter || Rating : PG-17

Summary : Beauty and The Beast adalah cerita dongeng yang dulu selalu menghiasi masa kecil seorang Kim Hyerim. Hyerim dulu sempat berkata ingin menjadi Belle, si cantik yang jatuh cinta pada beast. Si pangeran yang dikutuk jadi monster. Apa yang akan Hyerim lakukan bila hal tersebut terjadi padanya?

Disclaimer : This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, agency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without permission


“Aku baru menyadari, tatapan sayu keduanya sangat mirip,”


HAPPY READING

HyeKim ©2016

 

        

PREVIOUS :

 Teaser ||  Chapter 1 [Cold-Jerk Man] || Chapter 2 [Contract Marriage?!] || Chapter 3 [A Marriage and Honeymoon] || Chapter 4 [Honeymoon Bab II] || Chapter 5 [It’s Not A Marriage] || Chapter 6 [She Is (not) My Wife] || (NOW) Chapter 7 [The Beast’s Past Love Story]

Mau tak mau. Suka tak suka. Enak tak enak. Hyerim serta Luhan harus menerima dengan lapang dada kehadiran Kyuhyun di rumah keduanya. Hyerim menghela napas entah untuk keberapa kalinya. Gadis itu tampak sedang duduk di ruang keluarga bersama Kyuhyun yang sedang fokus menonton telivisi. Sementara Luhan sedang membasuh tubuhnya saat ini.

“Tidak perlu canggung, aku tahu kehadiranku memang meganggu kalian,” Kyuhyun melafalkan kata tersebut membuat Hyerim tersentak dari lamunannya.

Dilayangkan oleh Hyerim pandangannya pada Kyuhyun, gadis itu tersenyum sekilas dan menggeleng─menandakan ekpetasi Kyuhyun salah. Walau realitanya, hati kecilnya mengklaim kata-kata Kyuhyun itu memang benar.

“Tidak kok, santai saja Kyuhyun-ssi.” sahut Hyerim sambil tersenyum.

“Kenapa tidak jujur saja bila terganggu? Garis wajah kalian sangat ketara terganggu,” Kyuhyun mengalihkan fokus netranya pada kotak beberapa inchi di hadapannya yang menampilkan acara komedi.

Hyerim merutuki kenapa lakonnya bisa ditangkap dengan pemuda di sebelahnya ini, membuatnya jadi tak enak hati. “Lagipula itu hal wajar, pengantin baru masih ingin berduaan dan tak mau diganggu.”

Ujaran Kyuhyun tadi membuat Hyerim tersedak ludahnya sendiri. Gadis itu hanya tersenyum tipis sambil menggaruk tenguknya kikuk. Menghilangkan rasa kikuknya itu, Hyerim membuka toples makanan ringan yang berada di meja. Menit berlalu makanan ringan tersebut sudah tertelan habis masuk kemulutnya.

“Ahahaha…” keheningan yang tercipta pecah dengan tawa Kyuhyun yang tak tahan melihat tingkah konyol para komedian di televisi.

Hyerim yang mendengar tawa itu begitu lepas, menoleh. Wajah bahagia seorang Cho Kyuhyun sangat dekat dengannya. Entahlah Hyerim tak sadar jarak duduknya dan Kyuhyun sangatlah dekat. Dalam hati, Hyerim memuji betapa tampannya seorang Cho Kyuhyun. Rahang tegapnya, bibir tipisnya yang sekarang berusaha menghentikan tawa, mata belonya yang karap menatap tajam dan lembut. Mata itu sekarang terlihat mengeluarkan setitik kristal bening lantaran terlalu puas tertawa. Andai saja Hyerim menikah kontrak dengan Kyuhyun, pasti dirinya rela bahkan tanpa perjanjian di atas kertas sekalipun.

Hey! Kim Hyerim! Apa yang kau pikirkan? Kenapa jadi ngelantur? Rutuk Hyerim dalam hati sambil memukul-mukul kepalanya sendiri. Hal itu ternyata ditangkap oleh ekor mata Kyuhyun, pria itu hanya tersenyum melihat tingkah gadis di sebelahnya.

Tak terasa, waktu bergulir dengan cepatnya. Acara yang Kyuhyun saksikan sudah habis jam tayangnya. Lelaki itu menguap pertanda mengantuk. Malam ini Kyuhyun akan tidur di ruang tamu ditemani selimut hangatnya. Resiko menumpang di rumah orang memang seperti itu. Hingga sesuatu yang berat menimpa bahu Kyuhyun. Saat menoleh, Hyerim dengan nyamannya sudah terlelap sambil bersender pada bahunya. Kyuhyun tersenyum dan perlahan menepuk pipi Hyerim.

“Hyerim bangun,” namun panggilan lembut itu hanya berdampak gerakan kecil dari kepala Hyerim. Akhirnya Kyuhyun memutuskan menggendong Hyerim untuk dipindahkan ke kamar. “Astaga gadis ini berat sekali tak sesuai dengan tubuhnya,” gerutu Kyuhyun tapi tak bisa juga menahan senyuman yang mengembang.

**

Punggung Luhan tampak bersender pada kepala ranjang, fokus matanya terarah pada majalah yang dipegang kedua tangannya. Hingga suara ‘cklek’ terdengar menandakan suara pintu kamarnya terbuka. Luhan mengalihkan pandangan ke arah pintu dan mendapatkan pemandangan Kyuhyun menggendong Hyerim, lelaki itu sedang tersenyum.

“Hoh Lu, istrimu tidur dan sulit dibangunkan,” tampang terkejut Luhan pun sedikit memudar setelah Kyuhyun berkata demekian.

“Oh begitu,” ucap Luhan akhirnya sambil mengerjapkan mata.

Kyuhyun mulai berjalan menuju ranjang. Sampai Luhan akhirnya turun dari ranjang, lelaki itu berjalan ke arah kakak sepupunya itu. Kemudian mengambil alih atas Hyerim, Luhan langsung membawa Hyerim kegendongannya serta melingkarkan kedua tangan Hyerim dilehernya. Kyuhyun sedikit terkejut dibuatnya.

“Terimakasih hyung sudah mengantarkan Hyerim. Aku yang akan menidurkannya,” ucap Luhan datar.

Kyuhyun tampak sedikit terkejut namun melihat tatapan tajam Luhan yang sedang menggendong Hyerim bridal menyadarkannya, bahwa kedua orang ini terikat hubungan suami istri.

“Ya, sama-sama. Selamat malam,” Kyuhyun pun berlalu.

Luhan menghela napasnya dan menatap wajah Hyerim yang tertidur pulas didadanya. “Euh… dia ini berat sekali, ingin kujatuhkan ke lantai rasanya!” gerutu Luhan sambil membenarkan letak gendongannya pada Hyerim.

Bila tak ada Kyuhyun, Luhan pasti melakukan hal yang diucapkannya tadi. Namun hal tersebut dapat memicu keributan antaranya dan Hyerim. Hingga Luhan pun memutuskan membaringkan Hyerim di ranjangnya dengan perlahan agar gadis itu tidak terbangun dan menyebabkan adu mulut antara keduanya. Ditatap oleh Luhan sebentar Hyerim yang tertidur pulas, tanpa sadar, Luhan mengangkat tangannya untuk menyingkirkan sehelai rambut dari pipi gadis itu. Kemudian dirinya tersenyum.

Shit! Luhan! What’s happen with you, dude?” gumam Luhan merasa aneh, tak mau ambil pusing. Dirinya merebahkan diri di sebelah Hyerim pada akhirnya.

**

Waktu dan hari sudah berganti. Jam weker sialan itu terus berbunyi membuat Hyerim mengumpat kesal, kelopak matanya akhirnya terbuka. Dibalikan badannya ke samping kiri setelah mematikan jam weker tersebut, dirinya berniat tidur kembali. Niat hanyalah niat, saat sebuah handuk mendarat diwajahnya disertai beberapa baju kotor. What the hell is this? Rutuk Hyerim dalam hati.

Eung…” Hyerim mengerang malas sambil membuka mata kembali dan menarik apapun yang menutupi wajahnya.

Benar, Luhan sudah berkacak pinggang dan membungkuk di depan wajahnya. Hyerim berjengit kaget saat menyadari wajahnya dan Luhan sangat dekat. Dengan gerakan gugup, Hyerim agak menjauhkan diri dari Luhan.

Ck! Lihatlah kerjaan seorang istri di hari sabtu. Malah bermalas-malasan,” Luhan berkata sambil berdecak diiringi gelengan kepala dan mendekatkan wajahnya pada Hyerim yang langsung memasang wajah waspada. “Mandi dan siapkan sarapan, huft sepertinya aku memilih istri yang tidak berkualitas sama sekali,” Luhan menegakkan tubuhnya dan kembali mengeringkan rambutnya yang bertetesan air.

“Oh sepertinya kau lupa siapa yang mengemis untuk menikah denganku,” desis Hyerim sambil menatap tajam Luhan yang balas menatapnya sambil mengangkat sebelah alisnya.

“Dan sepertinya kau juga lupa siapa yang bersujud di hadapanku untuk diperkerjakan dan meminta maaf dengan kasihannya, hmmm….”

Oke, Hyerim kalah telak oleh ucapan Luhan yang sedang tersenyum miring. “Mandi sana! Kyuhyun hyung pasti menunggu.” ucap Luhan dan Hyerim hanya merengut malas sambil cemberut.

Melihat respon seperti itu, Luhan pun mulai membuka bathrobenya membuat pupil mata Hyerim melebar melihatnya. “KAU SINTING?!” gadis itu langsung menghalangi wajahnya dengan kedua telapak tangan.

Luhan malah bersiul dengan santainya, kembali dilanjutkan kegiatannya. Hyerim yang mengintip dari sela-sela jarinya, menelan ludah gugup saat mendapati punggung polos Luhan.

“Tidak usah pura-pura malas mandi bila mau mengintipku memakai baju. Dasar cabul,” Luhan berucap membuat Hyerim langsung buang muka ke arah samping.

Gadis itu buru-buru berdiri sambil menunduk, menghindari untuk menatap Luhan. Dengan langkah cepat Hyerim memasuki kamar mandi dan membanting pintunya, menandakan dirinya kesal setengah mati. Luhan hanya tertawa pelan melihatnya.

**

Setelah melewati waktu sedikit panas dengan Luhan, Hyerim pun bisa berkuat di dapur. Berhubung kuliahnya libur, dirinya lebih santai hari ini. Tapi perasaan kesal masih bergelut dalam dirinya, apalagi saat Luhan dengan seenak jidatnya mengatai dirinya cabul. Hell. Melupakan semua itu, Hyerim memotong sayuran dengan perasaan kesal setengah mati.

“Bukan begitu memotongnya,”

Hyerim terlonjak kaget hingga dirinya loncat ke belakang, untung tangan Kyuhyun─yang mengatakan ucapan beberapa waktu lalu, menahan punggung Hyerim agar gadis itu tidak jatuh. Hyerim mendongak dan mendapati wajah Kyuhyun tepat di depan wajahnya. Waktu seakan berhenti membiarkan keduanya terdiam.

Ekhem,” dehem Kyuhyun guna mencairkan suasana.

Mata Hyerim mengerjap dengan dungunya, gadis itu pun berdiri dan menggaruk belakang kepalanya. “Terimakasih,” ucapnya.

Kemudian dilanjutkan olehnya acara motong-memotong barusan. Karena canggung, potongan sayuran yang Hyerim hasilkan malah tambah berantakan. Melihatnya Kyuhyun hanya tersenyum tipis dan menggeleng pelan. Perlahan dirinya mendekat ke arah Hyerim, didempetkannya tubuhnya dan Hyerim. Tangannya pun melayang menuntun tangan Hyerim memotong sayuran. Mendapatkan perlakuan seperti itu, Hyerim diam seribu bahasa dan tubuhnya terasa kaku.

“Kau harusnya memotongnya seperti ini, bukan seperti itu,” Kyuhyun menjelaskan dengan tangannya masih menuntun tangan Hyerim yang mulai gemetar.

“Heh, kenapa sarapannya lama sekali─” frasa itu terhenti kala netra Luhan melihat pemandangan di depannya.

Oh, baiklah, apakah kedua orang di hadapannya ini sedang berusaha bermesraan di depan Luhan? Luhan hanya memasang tampang datarnya kala Hyerim masih sibuk memotong sayuran dan dibantu oleh tuntunan Kyuhyun ditangannya.

“Harusnya kalian berdua saja yang menikah,” gerutu Luhan.

Karena jengah, Luhan mengambil koran dan duduk di kursi meja makan di dekat dapur. Dirinya sudah tenggelam pada berita-berita yang disajikan oleh koran pagi ini, mengabaikan dua orang yang asyik dengan dunianya sendiri.

“Kyuhyun-ssi, bisa coba ini? Aku takut rasanya asin,”

Selang 10 menit, Hyerim sudah selesai memotong sayuran. Kini sudah jadi sayur sup yang berhasil ia buat. Sambil menyendokan satu sup, Hyerim menyuapi hasil masakannya itu pada Kyuhyun. Luhan melihatinya dari ekor matanya dan tak peduli dengan membaca berita di koran kembali.

Kyuhyun mencicipinya sambil tersenyum dan mengangguk, “Enak sekali, Hyerim. Kau memang hebat.” Kyuhyun memuji membuat Hyerim malu, Luhan mendengus melihat gadis itu yang malu-malu kucing.

Sup sudah jadi, Hyerim pun membuat satu eksperimen lagi. Yaitu beef steak. Sesekali dirinya bercengkrama bersama Kyuhyun hingga tertawa bersama. Luhan yang memperhatikan tingkah keduanya hanya memutar bola mata malas.

Akhhh!”rintihan Hyerim terdengar dikarenakan terlalu sibuk mengobrol dengan Kyuhyun, membuat jarinya teriris pisau. Hyerim menggerak-gerakan tangannya dengan raut wajah kesakitan.

“Oh, kau terluka ya,” Luhan bersuara membuat Hyerim menoleh padanya. Dilihatnya lelaki itu menatapnya dengan tampang mengejek. “Kasihan sekali istriku.” komentar Luhan sok prihatin namun tak bergerak dari tempatnya membuat Hyerim mendengus sebal bukan main.

Namun, sebuah tangan menarik tangannya dan menghisap sisa darah dijarinya. Hyerim rasa pipinya panas ketika Kyuhyun melakukannya sambil kedua matanya bersibobrok dengan mata Hyerim. Setelah pendarahannya berhenti, dengan lembut Kyuhyun melepaskan tangan Hyerim.

“Sudah baikan? Tak perlu kuobati?” Kyuhyun bertanya dengan senyum teduhnya. Hyerim terpana melihatnya dan menggeleng sambil menunduk disertai semburat merah diwajahnya. Luhan berdecak melihatnya.

“Tapi lebih baik kuobati. Jadi tunggu di sini,” usul Kyuhyun yang lalu pergi. Ingin Hyerim mencegahnya, namun lelaki itu sudah menghilang di balik tembok dapur.

“Bagus sekali ya bermesraan di dapur pagi hari,” sindir Luhan sambil menyibak kasar halaman koran selanjutnya.

Mata Hyerim langsung menyipit menatap pria itu yang bersikap santai. Daripada dirinya jadi kesal melihat Luhan, Hyerim memilih membalikan badan dan membuka lemari di atas counter. Hyerim berusaha mengambil beberapa piring dan gelas di sana, namun apa daya, dirinya terlalu pendek untuk mengambil barang di ketinggian segitu. Hingga sebuah tangan kekar di belakangnya, membantunya mengambili gelas dan piring untuk diletakkan di counter.

Hyerim tersenyum lebar dan sudah memastikan bahwa tangan tersebut milik Kyuhyun. Mana mungkin Luhan yang melakukannya, lelaki itu yang ada mengejeknya pendek sampai Hyerim ingin sekali melelapkan kepalanya ke bak mandi.

“Kyuhyun-ssi, terimakasih─”

Hyerim membalikan badan dengan senyum lebar dan mengucapkan terimakasih. Namun ucapannya terpotong karena benda lembut menyentuh bibirnya. Mata Hyerim melebar, kala menyadari Luhan di belakangnya dan sedang menunduk. Wajah keduanya sangat dekat bahkan tak ada jarak sekalipun. Bibir keduanya… astaga, bibir Luhan maupun Hyerim menempel. Keduanya hanya diam seperti itu. Sampai Luhan mengangkat dagu Hyerim, seakan kode untuk melanjutkan ciuman ini disertai lumatan pelan. Namun Hyerim menyadarinya dan langsung mendorong Luhan.

Byuntae! (mesum) Dirimu mengataiku cabul, padahal kau sendiri lebih cabul!” Hyerim berteriak sambil mengelap bibirnya dengan pungung tangan.

Luhan menggerakan leher kaku sambil menggaruk tenguknya gugup. Menyadari dirinya hampir kelepasan. “Itu tidak sengaja!” Luhan membela diri membuat Hyerim menatapnya bengis.

“Ingat kontrak kita, dasar idiot!” seru Hyerim keras membuat Luhan terlonjak.

Kemudian, lelaki itu membekap mulut Hyerim dengan tangannya. Gadis itu berontak dengan memukul kedua bahunya keras. “KAU INI APA-APAAN!?” teriak Hyerim membuat Luhan melepaskan bekapannya dan menyentil dahinya keras, alhasil gadis itu mengaduh kesakitan.

“Bodoh! Nanti Kyuhyun hyung mendengarnya!” bisik Luhan membuat Hyerim mengatupkan bibirnya dan merasa sangat dungu.

Akhirnya keduanya terdiam, tak menyadari jarak yang sudah terkikis sangat dekat. Hembusan napas satu sama lain bisa dirasakan diwajah masing-masing.

“Hyerim-ah,” panggilan khas Kyuhyun menyerobot telinga.

Luhan dan Hyerim langsung menoleh ke belakang, dan mendapati pemuda tersebut berdiri dengan menatap keduanya. Entah sejak kapan Kyuhyun sudah ada di sana.

Eh? Iya?” respon Hyerim sambil mengerjap dan sengaja mendorong bahu Luhan keras untuk menuju Kyuhyun.

“Ini obat merah dan plester untuk menutup lukamu,” ujar Kyuhyun.

Hyerim tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Selanjutnya keduanya duduk di meja makan dengan saling berhadapan. Kedua mata Kyuhyun terfokus pada luka Hyerim dan tangannya dengan cekatan mengobati luka dijari gadis tersebut. Luhan hanya menggerutu sebal karena harus melanjutkan menata piring serta gelas dan memasak, disebabkan kedua orang yang malah lagi-lagi sibuk akan dunianya sendiri. Hyerim memperhatikan wajah Kyuhyun sambil tersenyum, Luhan pun menyadarinya.

“Kalau suka bilang saja, tak usah memendam rasa.” Luhan berucap pelan dengan nada kesal, mempertujukan ucapan tersebut untuk Hyerim yang sekarang ditatapnya dengan tatapan laser.

**

Suasana sore hari terasa sangat nyaman bagi Hyerim dan Taehyung yang sedang menikmati yogurt di salah satu kedai. Keduanya karap kali adu mulut akan hal sepele dan berakhir dengan saling mencoel wajah lawan bicara dengan yogurt yang sedang dimakan.

“Bagaimana kabarmu di rumah tanpaku? Pasti dirimu merindukanku,” ucap Hyerim yang sekarang sedang berjalan bersama adiknya.

Taehyung menyuapkan sesendok yogurt ke dalam mulutnya, lalu mendengus sambil melirik Hyerim yang sedang menyeruput milkshake coklatnya. “Siapa juga yang merindukanmu? Aku jadi lebih bebas di rumah,”

Mendengar jawaban seperti itu membuat Hyerim mengerucutkan bibir. “Pasti kamu kelaparan tidak ada aku,”

“Aku lebih bisa memasak dibanding dirimu,” ujar Taehyung dengan nada mengejek.

“Terserah!” Hyerim berkata sebal dan kembali meminum minumannya.

Keduanya berjalan dalam keheningan dan sesekali Taehyung mencari ribut dengan kakaknya itu. Seperti mengatakan masakan Hyerim rasanya seperti pasir pantai. Mengatakan kakaknya itu lebih pendek darinya. Dan menghina Hyerim itu malas bangun pagi bila di hari libur menandakan dirinya tak cocok jadi seorang istri. Serta hal lainnya yang membuat Hyerim benar-benar ingin menenggelamkan wajah Taehyung ke selokan.

Nuna!” seru Taehyung sambil menepuk keras punggung Hyerim. Hyerim yang sedang menyeruput sisa milkshakenya jadi tersedak. Tanpa dosa, Taehyung pun melanjutkan kembali. “Lusa ayah dioperasi, nuna harus ke rumah sakit, oke?”

Hyerim terbatuk-batuk sambil menepuk keras dadanya, ditolehkan kepalanya ke arah Sang Adik. “Tentu saja aku akan ke rumah sakit.”

“Apa bersama dengan suamimu?” nada bicara Taehyung terdengar agak dingin.

Hyerim tampak berpikir, apa harus dirinya mengajak Luhan? Mana mau lelaki itu diajak olehnya. Pasti Luhan mengatakan hal tersebut sangat tidak penting.

“Daripada dengan suamimu, lebih baik ajak saja saudaranya,” Taehyung berucap kembali membuat Hyerim menoleh padanya dengan kening berkerut.

Hah? Maksudmu Kyuhyun?” kata Hyerim yang seketika merona merah. Aneh, dirinya jadi ingat kejadian tadi pagi.

Taehyung mengangkat bahunya. “Ya siapalah itu. Intinya lelaki berhati lembut saat itu.”

Hyerim tak merespon dan mengarahkan pandangan ke depan kembali. Berhati lembut. Ya, seorang Cho Kyuhyun memang seperti itu. Berbanding balik dengan Luhan, yang mana mengingatnya membuat tensi darah Hyerim naik seketika. Kembali dirinya mengingat Kyuhyun dan seketika Hyerim tersenyum sendiri mengingatnya.

Nuna, ponselmu bunyi,”

Sangking larut akan pikirannya sendiri, Hyerim tidak menyadari ponselnya bergetar. Langsung dibuka olehnya tas selempang miliknya, dan langsung saja diambil oleh Hyerim ponselnya tersebut. Tertera nama Ibu Luhan di layarnya.

“Hallo?” sapa Hyerim

“Ah, Hyerim-ah. Mau tidak kamu datang ke rumah kita sekarang?”

“Memangnya ada apa omoni?” Hyerim bertanya sambil melirik adiknya. Ragu harus pergi atau tetap bersama Taehyung.

“Nenek merindukanmu. Dan mau mengajakmu minum teh,”

Emmm…” Hyerim mengigit bibir bawahnya dan melirik lagi Taehyung yang sepertinya mendengarkan. Lelaki itu mengangkat bahu pertanda terserah pada Hyerim. “Baiklah, tunggu aku omoni.”

Setelah mengucapkan salam, sambungan pun terputus. Hyerim menghela napasnya dan memasukan ponselnya ke tas kembali.

“Cepat pergi, mertuamu menunggu.”

Hyerim pun mengangguk dan langsung melangkah ke halte bus. Sebelumnya dirinya sudah berpesan agar Taehyung kembali ke rumah sakit dan berhati-hati saat di jalan. Dan hal tersebut malah ditanggapi oleh Taehyung dengan ucapan dirinya sudah besar dan bisa menjaga diri tidak seperti Hyerim. Hal tersebut memicu adu mulut sebentar antara kakak dan adik tersebut. Namun sekarang Hyerim sudah berada di dalam bus dan melambaikan tangan ke arah adiknya. Tak terasa bus sampai ke halte yang menjadi tempat tujuan Hyerim. Langkah kakinya pun membawa gadis itu ke rumah keluarga Luhan.

“Hyerim!” sapa Nenek saat gadis itu memencet bell rumah dan langsung dibukakan pintu olehnya. Seperti biasa, Nenek tersenyum lebar melihat Hyerim yang balas tersenyum.

“Ayo masuk!” Nenek berujar riang dan menarik cucu menantunya itu masuk ke dalam.

Eoh, Hyerim-ah,” ketika keduanya melewati dapur, Ibu yang sedang membuat teh menyapa dengan senyum lembutnya.

“Hallo, omoni...” Hyerim membungkuk menyapa ibu mertuanya. “Sini kubantu omoni.” Hyerim melangkah ke arah Ibu, namun langkah itu berhenti dengan sebuah intrupsi.

“Tidak usah, lebih baik temani Nenek saja di halaman belakang,” Ibu menggeleng sambil mendorong pelan Hyerim untuk mengikuti Nenek.

Akhirnya Hyerim dan Nenek Lu duduk di rumah kaca yang berada di halaman belakang. Rumah kaca tersebut dipenuhi bunga berwarna-warni dan di tengah-tengahnya terdapat meja serta kursi yang disediakan khusus untuk minum teh, tempat Hyerim dan Nenek Lu duduk saat ini.

“Maaf ya Kyuhyun harus tinggal bersamamu dan Luhan sementara,” Nenek membuka pembicaraan sambil menyodorkan kue yang tersedia di atas meja dilengkapi oleh toplesnya.

Hyerim mengambil satu kue tersebut dari dalam toples dan mengucapkan terimakasih. “Tidak apa, Nek. Aku mengerti, lagipula Kyuhyun itu pandai memasak jadi bisa membantuku seperti tadi pagi.” Hyerim menggigit ujung kuenya mengikuti Nenek yang sedang mengunyah kue.

“Dia dari dulu memang suka memasak. Wajar saja dirinya membuka restoran di sini,” ucap Nenek. Hyerim hanya menanggapinya dengan senyuman, tak lama Ibu datang membawa 3 cangkir teh dan bergabung dengan keduanya.

“Bagaimana hubunganmu dan Luhan?” Ibu bertanya membuat Hyerim meneguk masuk teh yang ditampung dalam mulutnya.

Gadis itu menatap 2 wanita paruh baya di depannya, dirinya bingung ingin menjawab apa. Mana mungkin Hyerim menjawab dirinya dan Luhan sering bertengkar, adu mulut, bahkan merebutkan ranjang. Teringat masalah merebutkan ranjang. Hyerim jadi bingung saat tadi pagi dirinya tertidur di ranjang. Apakah Luhan yang menidurkannya di sana? Atau malah Kyuhyun yang Hyerim yakini orang yang membawanya ke kamar.

“Apa hubungan kalian kurang baik?” suara Ibu membuat Hyerim tersentak dan menatap beliau. Dapat dilihat juga Nenek menghela napas seakan tahu hubungan pasangan muda itu.

“Luhan memang seperti itu. Hatinya terlalu dingin,” ucap Nenek dengan sedikit desisan sebal. “Tapi syukurlah hatinya mulai terbuka kembali.”

Nenek berujar riang dan hal tersebut membuat Hyerim mengerutkan keningnya. Ditambah Ibu menanggapinya dengan senyum cerah. Hyerim menaruh cangkir di atas tatakan menimbulkan bunyi tabrakan antara kedua benda yang terbuat dari beling itu.

“Memangnya Luhan dulu kenapa?” tanya Hyerim ragu. Hyerim merasa dirinya hanya orang asing tapi setidaknya status dirinya sebagai istri kontrak Luhan bisa dipakai untuk bertanya.

Ibu mengulum senyum tipis sebelum menjawab, “Hatinya hancur, Hyerim-ah,” Hyerim lagi-lagi mengerutkan kening bingung dan rasa penasaran menggelitik dirinya. “Kamu tahu kan cinta pertama adalah sesuatu yang berharga. Bila cinta pertama menyakitkan, kisah cinta selanjutnya akan lebih sulit.”

Oh jadi monster itu pernah jatuh cinta. Itulah yang terlintas dalam pikiran Hyerim. Namun, pasti kisah cinta Luhan dulu sangat menyedihkan sampai membuat lelaki itu dingin sekali.

“Luhan sangat dekat dengan ayahnya. Saat ayahnya meninggal, ada satu gadis manis yang dulu menemaninya,” sekarang giliran Nenek bercerita. Ya, Hyerim sudah menduga Luhan telah kehilangan ayahnya karena Hyerim belum pernah bertemu ayah dari Luhan.

“Pasti dia terpuruk,” Hyerim berujar dan kedua wanita di hadapannya mengangguk.

“Tapi Si Gadis Manis membuat hari-harinya tidak terlalu berat. Namun…” Ibu menggantungkan ucapannya dan demi apapun Hyerim jadi penasaran tingkat dewa. “Kamu bisa mendengarkannya dari Luhan. Kamu ini istrinya.” Ibu tersenyum mengatakannya membuat Hyerim cengo.

Apa? Mana mungkin itu terjadi. Yang ada Luhan malah marah-marah saat Hyerim menanyakan perihal cinta pertamanya. Atau yang lebih parahnya Hyerim diusir dari rumah karena mengungkit luka Luhan di masa lalu. Sedikit berlebihan memang namun itu bisa saja bila Luhan yang melakukannya.

“Sejin, tapi anak tengil itu pasti tidak mau menceritakannya,” ucap Nenek dan dalam hati Hyerim setuju namun diamlah yang menjadi pilihannya saat ini.

“Pasti dia akan menceritakannya. Percayalah padaku, Bu,”

Ternyata Ibu tetap bersikukuh dan percaya putranya akan menceritakannya pada Hyerim. Hyerim menghela napas pelan, agar tidak terlihat sangat penasaran. Dalam hatinya terselubung perasaan iri pada gadis yang menjadi cinta pertama monster sialan itu. Pasti gadis itu cantik, menawan, dan banyak mempunyai kenangan manis dengan Luhan. Pasti gadis itu─dan tunggu? Kenapa Hyerim harus peduli tentang cinta pertama Luhan? Dan kenapa pula dirinya harus iri? Pasti ada yang salah dengan dirinya saat ini.

**

Setelah mendapatkan jamuan minum teh dan mengobrol beberapa hal dengan Ibu Luhan dan Nenek Lu. Hyerim pun akhirnya memutuskan untuk berpamitan dan pulang. Awalnya Ibu menawarkan untuk menelpon Luhan agar menjemput Hyerim. Namun gadis itu menolak, yang ada selama perjalanan dirinya darah tinggi. Saat ini Hyerim sedang berada di bus dan beruntung mendapatkan tempat duduk, tidak seperti saat berangkat dirinya harus berdiri selama kurang lebih 15 menit, menyebabkan kakinya kesemutan dan pegal. Saat melewati satu daerah yang padat oleh kuruman manusia, ekor mata Hyerim menangkap tulisan ‘Perla Restaurante’. Pupil mata Hyerim melebar untuk memastikan penglihatannya. Dan otaknya pun akhirnya mengingat sesuatu dari kata perla restaurante.

“Itu restorannya Kyuhyun!” seru Hyerim. Tanpa pikir panjang, Hyerim menekan tombol berhenti dan langsung di respon oleh Sang Supir.

Hyerim pun langsung turun dari bus dan berlari masuk ke restoran yang menjadi hak milik Kyuhyun. Dirinya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru, berharap menemukan Sang Pemilik. Entah apa yang Hyerim pikiran, dirinya hanya ingin bertemu Kyuhyun dan mengajaknya pulang bersama.

“Hyerim?” suara bass itu terdengar membuat organ gadis Kim itu berhenti seketika.

Saat Hyerim menoleh ke belakang, berdirilah seorang Cho Kyuhyun dengan raut terkejutnya. Hyerim mengulum senyum manis dan menyapa Kyuhyun sedikit gugup.

Annyeong,” sapa Hyerim sambil membungkuk sekilas dan tersenyum malu. Pasti Kyuhyun kebingungan tentang perihal datangnya Hyerim ke restorannya.

Kyuhyun mengubah rautnya dan tersenyum. “Tak usah kaku begitu, ada apa kau ke sini?” tanya Kyuhyun dan mengajak Hyerim duduk namun gadis itu menolak.

“Aku hanya ingin… eum… mengajakmu pulang bersama,” kata Hyerim ragu sambil menggaruk belakang kepalanya. Entah kenapa dirinya malah terlihat idiot sekarang.

Sementara Kyuhyun sudah senang bukan main saat Sang Pujaan Hati datang ke restorannya dan mengajak pulang bersama. Ditahan oleh dirinya agar tidak tersenyum terlalu lebar. “Baiklah, tunggulah sebentar.”

**

Jalanan kota Seoul pada malam minggu memang padat, mungkin karena ritual kencan pada malam keramat bagi yang tidak punya pasangan. Luhan menghela napas berat saat mobil keluaran renault dengan tipe clio miliknya hanya bisa diam tak berkutik. Hari ini memang hari sabtu, namun mendadak seketarisnya mengatakan ada rapat pertemuan dengan investor dari Jepang dan sangat penting. Membuat Luhan dengan malas harus ke kantornya.

Hingga sebuah objek mengusik dirinya. Seorang wanita dan seorang pria keluar dari minimarket sambil bercengkrama, wanita yang Luhan klaim sebagai Hyerim, sedang tertawa lebar dengan pria yang Luhan yakini adalah Kyuhyun. Tatapan mata Luhan menyipit lantaran penasaran apa yang dilakukan kedua orang itu.

“Apa keduanya kencan?” gumam Luhan pada punggung keduanya yang berjalan menuju mobil Kyuhyun.

Dan beruntungnya, lalu lintas jalan mulai lancar. Ditancapkan oleh Luhan pedal gas sangat kencang menuju Hyerim dan Kyuhyun. Dibanting stirnya ke sisi kanan jalan mendekati kedua orang yang seakan mempunyai dunia berdua. Dan yang terjadi adalah tubuh ramping Hyerim sebentar lagi akan tertabrak mobil Luhan bila pria itu tidak cepat-cepat menginjak pedal rem.

**

Setelah berhasil mengait Kyuhyun untuk pulang bersama. Hyerim memutuskan untuk singgah sebentar ke minimarket guna membeli beberapa bahan tambahan untuk makan malam. Setelah keduanya selesai, Hyerim berjalan keluar bersama Kyuhyun yang karap melontarkan beberapa lelucon yang akhirnya membuat Hyerim tertawa. Seakan larut dengan dunia mereka sendiri, sebuah mobil berwarna biru melintas tak tahu aturan ke arah Hyerim. Kyuhyun yang mendapat signal akan mobil tersebut menoleh dengan mata membulat.

“Hyerim!” pria Cho itu berteriak dan menarik Hyerim ke sisi jalan. Raut terkejut tercetak jelas diwajah gadis itu. “Kau tak apa?” Kyuhyun bertanya pada Hyerim yang masih setengah shock sambil mencengkam bahu gadis itu.

Hyerim mengerjapkan mata sedikit bingung. “Eh?” gumamnya linglung, saat mengangkat wajahnya, matanya disapa oleh pancaran khawatir dari iris Kyuhyun. “Aku baik-baik saja,” jawab Hyerim membuat Kyuhyun menghela napas lega.

Kepala Kyuhyun langsung tertuju pada mobil keluaran renault itu, yang sudah terparkir manis di sisi jalan. Langkah lebar tercipta ke arah mobil mewah itu. Kendati amarah tersebut terpendam saat sosok lelaki berparas tampan keluar dari mobil tersebut dengan gayanya yang mempesona. Membuat langkah Kyuhyun terhenti seketika apalagi saat Luhan menatapnya santai.

“Hey! Hyung! Maaf aku tidak bisa menyetir dengan baik tadi. Jangan marahi aku,” ucap Luhan dengan kekehan khasnya. Bukan hanya Kyuhyun yang cengo, Hyerim pun serupa dengan lelaki itu karena orang yang hampir membuatnya celaka tadi adalah suaminya sendiri.

“Ey! Hyerim! Cepat naik! Kita pulang!” seru Luhan namun tanggapan Hyerim hanya tampang kesalnya mengingat Luhan yang ia yakini sengaja mau menabraknya.

“Shireo! (tidak mau) Aku sudah berjanji akan pulang dengan Kyuhyun-ssi. Kita juga akan masak bersama!” tolak Hyerim keras karena rasa kesal yang tertanam pasca kejadian Luhan ingin menabraknya dengan sengaja.

Luhan tampak berdecak dan menyenderkan satu tangan di atas mobilnya. Sementara Kyuhyun rasa dihadiahi oleh Dewi Fortuna kala Hyerim lebih memilih ingin bersamanya. Namun ada perasaan tak enak melihat tampang jengkel Luhan.

“Kyuhyung pasti ingin kembali ke restoran! Malam minggu restorannya buka sampai jam 3 asal kau tahu!” seru Luhan namun Hyerim bersikeras tidak mau daripada harus bermasalah selama perjalanan dengan Luhan.

“Lebih baik kau pulang dengan Luhan saja. Aku memang harus kembali ke restoran,” Kyuhyun akhirnya mengalah.

Luhan menarik ujung bibirnya membentuk senyum miring pada Hyerim yang seakan tak percaya akan keputusan Kyuhyun. Dan Hyerim ingin sekali menimpuk wajah Luhan yang seakan berkata ‘See? Dia mengatakan kau pulang denganku’. Walau jengkel, Hyerim pun menyetujuinya, dimasukan tubuhnya ke dalam mobil Luhan dengan bibir mengerucut. Kemudian disusul oleh Luhan yang masuk ke mobil. Diturunkan oleh Luhan kacanya sebelum benar-benar lenyap dari hadapan Kyuhyun.

“Terimakasih hyung sudah mau pulang bersama istriku ini dan menjaganya. Semoga pelanggan restoranmu malam ini banyak,” ucap Luhan dan Kyuhyun tersenyum mendengarnya.

“Ya, itu bukan apa-apa. Dan terimakasih, Lu.”

Setelah itu mobil Luhan melaju pergi. Atmosfer asing terasa sekali dalam mobil itu yang hanya terdengar siulan santai Luhan. Jalanan kota Seoul mulai sedikit renggang sekarang. Di kursi sebelah kemudi, Hyerim memanyunkan bibirnya dengan wajah ditekuk kesal dan tangan dilipat di depan dada.

“Kau seperti anak panda bila seperti itu terus,” komentar Luhan sambil melirik sekilas Hyerim yang langsung menoleh judes ke arahnya.

“Tidak nyambung sama sekali dengan anak panda!”

“Tentu saja nyambung. Anak panda itu lucu tapi panda juga bisa jadi binatang menyeramkan. Seperti dirimu,” ujar Luhan santai membuat kekasalan dalam diri Hyerim bertambah.

“Kau pasti sengaja ingin menabarakku kan tadi? Dasar otak lumba-lumba!” pekik Hyerim.

“Ternyata otakmu berfungsi juga,”

Yak!” seru Hyerim karena ucapan Luhan yang membuatnya kesal ditambah terkonfrimnya lelaki itu memang benar sengaja ingin menabarknya.

“Harusnya kutabrak dirimu benaran saja. Biar tahu rasa,”

Hyerim mengepalkan tangannya yang terletak di atas paha. Napasnya tak teratur karena rasa kesalnya yang makin menumpuk. “Heh! Sialan! Apa maksudmu menabrakku hah?” seru Hyerim mencoba mengatur tensi darahnya.

Luhan tampak bersiul santai kembali dengan wajah biasa seakan tak terjadi apapun. “Ingin saja. Saat melihatmu jalan bersama Kyuhyun hyung. Rasanya ingin saja kutabrak dirimu,”

“Dasar otak ikan pari,” desis Hyerim.

“Ikan pari memangnya punya otak?” Luhan menoleh sekilas pada Hyerim dengan satu alis terangkat, namun gadis itu membuang muka ke arah jendela. “Lagipula sudah kubilang jangan pergi dengan lelaki lain selain adikmu. Nanti bila ada yang lihat akan terjadi kesalah pahaman.”

“Kita hanya kawin kontrak, otak lumba-lumba! Jadi aku berhak jalan dengan siapapun yang kumau! Dan kau tidak berhak melarangku!” Hyerim berteriak kesal.

“Tapi itu bisa membuat kedok kita terbongkar!”

“Lalu? Bagaimana bila dirimu yang berjalan dengan wanita lain?”

“Aku tidak pernah jalan dengan wanita lain,”

“Oh ya, kau hanya akan jalan dengan cinta pertamamu itu.”

Luhan langsung mengrem mobilnya mendadak dan menepikannya ke sisi jalan. Menimbulkan decitan keras antara ban mobil dan aspal jalanan. Hyerim serasa terkena serangan jantung dadakan disertai matanya membulat sempurna. Dan Luhan amat terkejut mendengar Hyerim mengucapkan cinta pertama. Seingatnya, dirinya tak pernah memberitahu Hyerim perihal cinta pertama.

“Kau gila?!” maki Hyerim dan melayangkan tatapan geram pada Luhan yang menatapnya balik dengan raut terkejut.

“Kau tahu apa tentang cinta pertamaku?” tanya Luhan dengan tatapan menyelidik membuat Hyerim meneguk air liurnya sendiri.

Ah… hanya menduga saja,” jawab Hyerim kikuk.

“Kau tahu darimana?!” Luhan meninggikan nada suaranya membuat Hyerim tersentak.

“Aku bilang hanya menduga saja!” teriak Hyerim saat Luhan mulai mencengkam keras kedua bahunya dan tatapan tajam dilayangkan pria itu pada Hyerim.

“Jangan pernah bahas cinta pertamaku!” tegas Luhan dengan tatapan menghunus membuat Hyerim mati kutu. Semenyakitkan itukah cinta pertamanya membuat Luhan benar-benar tidak ingin mengungkitnya lagi. “Dan teruti kemauanku untuk tidak jalan dengan lelaki lain!” seru Luhan membuat Hyerim menutup matanya tak berani menatapnya.

Kemudian cengkraman tangan Luhan mengendor tergantikan dengan mobil yang mulai berjalan kembali. Suasana hening mendominasi membuat Hyerim jadi canggung dan resah.

“Jangan terlalu membenci yang mana malah akan tambah menimbulkan sebuah luka dihatimu. Walaupun dirinya menyakitimu, setidaknya dia pernah memberikan senyuman untukmu. Dia pernah berada di sisimu disaat yang sulit. Dia pernah menjadi kenangan yang indah untukmu. Jikalau ingin melupakan perasaanmu padanya. Bukan dengan menutup hati tapi dengan membukanya untuk membuktikan adanya cinta yang lebih baik,” ucapan itu terlontar begitu saja dari bibir Hyerim, gadis itu tak tahan akan kecanggungan yang tercipta.

“Otak lumba-lumba bisa berkata seperti itu juga ya,” ejek Luhan dengan tatapan meremehkan Hyerim yang mana membuat gadis itu berdesis kesal karena ulahnya.

Namun ejekan Luhan ini berbeda, tidak seperti biasanya dengan aura menyebalkan. Sekarang yang terlihat hanya aura menyedihkan yang tersembunyi dan pasti dikarenakan Hyerim yang secara tak langsung membuat pria itu mengingat masa lalunya. Tiba-tiba mobil berhenti di sisi jalan membuat Hyerim bingung. Tapi melihat Luhan turun dari mobil membuat Hyerim mengikutinya juga.

“Aku bosan makan masakan rumah. Jadi kita makan di luar saja,” ucap Luhan yang membuat kebingungan Hyerim terjawab.

Keduanya pun menuju kedai ramyun di pinggir jalan, yang mana hal tersebut membuat Hyerim menganga terkejut. Pasalnya Luhan yang terlahir dari keluarga serba ada mana mungkin mau makan di kedai seperti ini.

“Bila kau berpikir kenapa aku bisa mengajakmu ke sini. Nenek, ibu, dan ayahku mengajarkanku hidup sederhana dan suka mengajakku makan di kedai ini. Lagipula ramyunnya enak,” kata Luhan seakan tahu apa pikiran Hyerim.

Hyerim hanya mengangguk-angguk dan akhirnya keduanya duduk serta mulai memesan dua mangkuk ramyun. Sambil menunggu pesanan datang, Hyerim menatapi Luhan terus untuk memastikan lelaki itu baik-baik saja setelah Hyerim tak sengaja membuka luka masa lalunya yang menganga kembali. Hyerim dalam hati memuji betapa tampannya seorang Luhan bila saja sikapnya tidak seenak jidat dan juga lembut layaknya Kyuhyun. Dan bila tatapan matanya memancarkan kelembutan pasti dirinya nyaman menatap mata Luhan terus-menerus. Ditambah bila bibirnya mau menyunggingkan senyum pasti Luhan bagaikan seorang malaikat.

“Jangan memperhatikanku terus, aku tahu kau pasti merasa beruntung mempunyai suami yang tampan dan keren sepertiku,” ujaran Luhan membuat Hyerim terlonjak kaget apalagi lelaki itu menyunggingkan senyum miring.

“Percaya diri sekali!” seru Hyerim menyembunyikan rasa gugupnya.

Luhan masih menampilkan smirk andalannya sambil menatap Hyerim yang mati kutu karena jantungnya berdetak keras. Stop beating stupid! Umpat Hyerim dalam hati pada jantungnya. Pesanan keduanya datang, Hyerim bisa bernapas lega saat Luhan mulai sibuk memakan ramyunnya bukan berusaha meruntuhkan pertahanan hatinya dengan tatapan mematikannya itu.

Eh, otak lumba-lumba. Mau tidak kita taruhan,” tiba-tiba Luhan bersuara ditengah kesibukan Hyerim memakan ramyun.

Hyerim mengangkat wajah sambil menyedot habis ramyun di sumpitnya. “Ayo, siapa takut?” ujar Hyerim karena bila dirinya menolak, Luhan pasti mengatainya pengecut.

“Oke. Kita pesan ramyun ekstra pedas dan memakannya habis selama 5 menit. Bila kau menang, kau boleh tidur di ranjang selama 1 bulan dan aku tidur di lantai. Tapi bila aku menang, kau jalan kaki ke rumah dari sini,” ucap Luhan sambil mengerlingkan matanya. Hyerim tampak berpikir, dirinya sangat tahu Luhan suka pedas dan kemungkinannya menang itu sangat sedikit.

“Tidak mau? Dasar penge─”

“Oke, oke, deal!” seru Hyerim memotong Luhan yang sudah menampilkan raut kemenangan.

Lalu, Luhan langsung memesan 2 ramyun ekstra pedas. Tak sampai 20 menit pesanan keduanya sampai. Hyerim dan Luhan sudah bersiap dengan satu sumpit di masing-masing tangan. Hyerim mengatur napas melihat ramyun yang pasti akan membakar lidahnya. Sementara Luhan menatap makanan itu napsu seakan ingin melahapnya habis detik itu juga.

Sijak! (mulai)” seru Luhan.

Langsung saja kedua tangan Hyerim dan Luhan menggerakan sumpit dengan lihai. Gerakan tangan keduanya sangat cepat begitupula saat menelan habis ramyun. Hyerim beberapa kali mendesis karena kepedasan namun tak memberhentikan penggerakan, takut-takut akan kalah bila melakukannya. Sementara Luhan tampak tak terganggu oleh pedas yang disuguhi ramyunnya, bahkan ramyunnya tinggal setengah lagi. Hal tersebut membuat Hyerim kelabakan dan berniat mempercepat penggerakan. Namun….

“AKU MENANG!” sorakan Luhan membuat pengharapan Hyerim hancur.

Lelaki itu menaruh sumpit di sisi kiri-kanan mangkuk dan menggepalkan kedua tangan ke atas dengan gembira. Hyerim membanting sumpitnya ke sisi kiri mangkuk dengan kesal. Bibirnya dimajukan dan masih setia mengunyah ramyun yang terkurung dalam mulutnya. Mangkuknya masih ada beberapa sisa mie tersebut. Luhan menatap Hyerim dengan tampang mengejek.

“Istriku yang malang harus jalan beberapa kilometer ke rumah, ahahaha,” tawa Luhan meledak membuat Hyerim kesal kembali, para pengunjung hanya menatap keduanya risih.

“Diam!” seru Hyerim

“Selamat jalan ya,” ejek Luhan membuat Hyerim mendengus keras.

Setelah membayar makanannya. Luhan masuk ke mobil sementara Hyerim memasang wajah memelas dan berdiri di dekat mobil Luhan. Gadis itu mengetuk jendela mobil dan langsung di respon Luhan dengan menurunkan kaca mobilnya. Lelaki itu menatap Hyerim dengan alis terangkat sebelah dan tampang tengil yang sangat mengejek Hyerim. Sementara Hyerim menampakan raut kasihan agar Luhan mau berbelas kasih padanya.

“Anginnya dingin…” ucap Hyerim dengan pout andalannya dan nada seperti anak TK minta dibelikan permen. Biasanya Taehyung akan luluh bila Hyerim seperti ini walau sebelumnya harus mendesah frustasi dan mengatakan Hyerim tidak dewasa dan tak pantas jadi kakaknya.

“Lalu?” ujar Luhan santai.

“Bila ada penjahat bagaimana? Aku bisa diculik, dijambret, atau mungkin dibunuh,” Hyerim berkata dengan tampang waswas yang membuat Luhan terkekeh geli.

“Memangnya aku peduli?” ucap Luhan membuat Hyerim merengut sebal dan tangan terkepal.

Harusnya Luhan tahu bahwa pulang malam-malam bagi seorang gadis seperti Hyerim itu sangat berbahaya. Oh ya, Hyerim baru ingat. Luhan kan monster. Mana ada rasa simpati akan hal seperti itu. Malah lelaki itu akan senang bila Hyerim terkena musibah seperti yang disebutkannya tadi.

“Tak usah banyak alasan. Akui saja kekalahanmu dan ingat saja ya bahwa jarak ke rumahku dari sini sangat jauh.”

Setelah mengatakan hal tersebut, Luhan menutup kaca mobilnya dan melajukan mobilnya sangat kencang membuat Hyerim menganga tak percaya bahwa Luhan benar-benar meninggalkannya. Gadis itu menatap mobil biru Luhan dengan tampang tak percaya serta jengkel. Dihentakan kakinya ke aspal dingin jalan yang sebagiannya terdapat gaun gugur kecoklatan. Angin malam sialannya menyapa Hyerim yang tidak memakai coat sama sekali dan mengenakan baju berlengan seketek dan celana pendek.

Akhhh! Kenapa monster itu tidak mau mengalah barang sekali?” seru Hyerim kesal dan mau tak mau menggeret kakinya malas untuk pulang. Mana mungkin dirinya diam saja untuk bisa sampai rumah Luhan, yang ada dirinya masuk angin karena angin sialan malam ini.

Luhan terkikik geli melihat Hyerim yang mulai mengecil dari kaca spionnya. Tapi seketika tawanya terhenti mengingat sesuatu. Hatinya yang tadinya puas menyiksa Hyerim jadi kembali terluka akan hal yang sudah lama berlalu. Luhan terdiam dan mencengkam erat kemudinya menahan amarah yang terselubung dalam hati.

“Aku baru menyadari, tatapan sayu keduanya sangat mirip,” gumam Luhan.

─To Be Countinued─


Hallo! ❤ Lama tak jumpa ehehe, RCLnya ya

 Tuh tuh, Luhan teringat masa lalu ahaha😄 jangan lupa kunjungi blogku ya, FF ini udah sampe chapter 10 di blogku ❤

 [ http://www.hyekim16world.wordpress.com ]

—Luv, HyeKim—

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s