Summer in Seoul I : Vacation

Summer in Seoul I : Vacation

Shall we go back?

by Shinyoung

Main Cast: Kim Jongin & Jung Soojung || Genre: Marriage Life & Romance || Length: Oneshot (8.000+ words) || Rating: Mature || Credit Poster: Jungleelovely at Poster Channel || Disclaimer: Cast belongs to God. No copy-paste. Copyright © 2016 by Shinyoung.

*

Wanita berumur 25 tahun itu menghela napasnya panjang. Sangat panjang, betapa frustasinya ia saat melihat tumpukkan pekerjaannya yang tak kunjung selesai. Sampai-sampai, dia tidak tahu kapan ia bisa menyelesaikannya.

Ia melirik jam yang menempel di dinding ruang pekerjaannya. Jarum jam panjang menuju pada angka 12 dan yang pendek mengarah pada angka 9. Benar, sudah jam 9 malam dan dia belum pulang.

Dia seharusnya mendapatkan pikiran yang tenang akhir-akhir ini, namun dia tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya sama sekali. Dia butuh inspirasi setidaknya.

Dia meletakkan pensilnya dan menyenderkan tubuhnya.

“Jung Soojung?”

“Ah!”

Wanita itu sedikit terkejut saat melihat seorang lelaki yang notabene atasannya itu memasuki ruangannya dan melihatnya tengah bersantai. Lantas ia mengembalikan posisi tubuhnya, lalu segera bangkit dari kursinya, dan ingin membungkuk kepada laki-laki tersebut, namun segera ditolak oleh atasannya.

“Tidak usah! Tidak usah! Lanjutkan saja apa yang baru saja kau lakukan.”

“Maafkan aku, Pak!” Wanita itu membungkuk lagi dan menatap atasannya dengan penuh permohonan, seolah ia akan dipecat saat itu juga karena melakukan kesalahan yang seharusnya tak ia lakukan. “Maafkan aku, sekali lagi! Aku tidak bermaksud untuk bersantai, aku hanya ingin mencari inspirasi dan aku—“

“Kau kehabisan ide, bukan?” tanya lelaki itu sambil menutup pintu ruangan Jung Soojung. Laki-laki itu tersenyum tipis kemudian mendekati mejanya. “Kalau begitu, bagaimana jika aku memberikanmu liburan sejenak? Tapi kau harus segera menyelesaikan pekerjaanmu ketika kau kembali. Tepat pada hari kau kembali bekerja.”

“Ta-tapi…”

“Ada apa, Nyonya Kim?”

“Ah,” Soojung tersenyum tipis sambil menahan rona wajahnya yang terus-menerus terpancar. Wanita itu melambaikan tangannya berkali-kali. “Tidak perlu memanggilku seperti itu, Sajangnim.”

Park Jungsoo atau yang baru saja dipanggil ‘Sajangnim’ itu lantas tertawa pelan dan melipat kedua tangannya di depan dadanya. “Bagaimana, Soojung-ssi? Apa kau mau menerima tawaranku atau tidak? Setidaknya, kau bisa menikmati liburanmu dengan suamimu itu selama seminggu.”

Soojung membulatkan kedua matanya. “A-ani… Sajangim. Bagaimana bisa aku liburan seminggu? Apa kau benar-benar akan percaya denganku? Aku bisa saja tak mengerjakan pekerjaanku dan justru memilih untuk liburan.”

Park Jungsoo menggelengkan kepalanya sambil menggoyang-goyangkan telunjuknya seolah dia menolak apa yang baru saja dikatakan oleh Soojung. “Tidak mungkin. Kau sudah bekerja di sini selama 5 tahun penuh. Aku percaya denganmu. Bagaimana?”

“Ah, akan aku pikirkan nanti… Aku juga harus bertanya dulu pada suamiku. Entah, dia mau atau tidak.”

“Baiklah, Soojung-ssi. Aku harap kau bisa memilih secepatnya karena aku tidak akan memberikan kesempatan sebesar ini kepada para pegawai yang lain. Aku tahu kau adalah desainer yang handal, tidak mungkin kau kehabisan ide. Kau pasti punya sedikit masalah dengan pikiranmu,” kata Park Jungsoo sambil tersenyum kecil.

Setelah itu, Park Jungsoo melangkah keluar dari ruangan kerja Soojung dan meninggalkan wanita yang tengah berdiri sambil termenung sendirian itu. Wanita itu lantas menghela napasnya panjang lalu merapikan lembaran demi lembaran yang berserakan di atas mejanya. Ia melirik jam ponselnya yang sepi hari ini untuk kesekian kalinya, lalu memasukkan lembaran-lembaran tersebut ke dalam mapnya.

Ia memasukkan ponselnya ke dalam tasnya, lalu memasukkan alat-alat menggambarnya ke dalam tasnya, diikuti oleh tangan kanannya yang menyambar mapnya. Lantas, ia melangkah keluar dari ruangan kerjanya sambil memastikan bahwa ruangan tersebut telah dikuncinya. Kemudian, ia masukkan kunci tersebut ke dalam tasnya.

Tangannya merogoh ponselnya yang ada di dalam tas selempangnya tersebut, lalu ia menekan angka dua pada papan tombol ponselnya. Dalam sekejap ia telah terhubung dengan seseorang yang bernama ‘Kim Jongin♥’ yang tertera pada layar ponselnya. Ia pun menempelkan ponselnya pada telinganya dan mendengarkan nada dering yang terus menerus berbunyi.

“Jongin-ah?”

“Kau dimana? Kenapa kau belum pulang?”

“Aku baru mau pulang,” jawab Soojung pelan sambil melangkah keluar dari gedung dimana ia berkerja. Kemudian, ia mengeratkan jaketnya pada tubuhnya sambil menatap langit malam tersebut. “Ada masalah apa? Tidak biasanya kau menanyakan hal tersebut padaku. Biasanya, kau langsung tidur ketika kau sampai di rumah.”

“Aku lapar, belum makan. Sebaiknya kau cepat pulang dan masakkan aku makan.”

Arasseo—“

Belum sempat Soojung menyelesaikan ucapannya, suaminya itu telah memutuskan panggilan teleponnya. Ia menghela napas panjang lagi, lalu menatap layar ponselnya lagi, dan mengembalikan ponselnya ke dalam tasnya. Ia menatap map yang dipeluknya tersebut dan tersenyum tipis melihat hasil karya lamanya yang terkesan indah.

Dia tidak tahu sejak kapan dia mulai bersikap seperti ini. Dia juga tidak tahu sejak kapan dia jadi tidak bisa melanjutkan gambarnya. Dia seperti kehabisan ide tiba-tiba. Padahal biasanya, dia akan dengan mudah mendapatkan inspirasi tanpa melakukan apa pun. Hanya dengan diam pun, dia akan dengan mudah menggambar baju-baju baru yang selalu diminati oleh orang-orang.

Tahun lalu, dia sempat diundang ke Perancis untuk pameran pakaian-pakaian musim panas. Namun, tahun ini dia tidak tahu dia akan menerima undangan tersebut atau tidak. Sekarang saja dia tidak bisa melanjutkan pekerjaannya apalagi mendatangi pameran yang akan diadakan dalam 2 bulan mendatang itu. Pikirannya kembali melayang-layang pada pameran tersebut.

Dia selalu berhasil. Dia tidak tahu alasan dia menjadi seperti ini.

Mungkin saja, perkataan Park Jungsoo benar soal dirinya yang butuh hiburan. Namun, bagaimana bisa dia pergi hiburan sendirian. Dia sangat yakin bahwa suaminya itu akan menolak ajakannya. Hubungan mereka tidak pernah bersahabat semenjak mereka sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.

Mereka menikah 2 tahun yang lalu. Mereka baru saja lulus kuliah dan langsung fokus dengan pekerjaan masing-masing. Hubungan mereka tidak sekaku ini saat mereka belum menikah. Ketika mereka masih kuliah dan sebelum Soojung mendapatkan pekerjaan yang berharga bagi kehidupannya itu. Mereka melewati 5 tahun indah mereka begitu saja dan memutuskan untuk menikah.

Kenyataannya, mereka tidak bisa menjalin hubungan yang baik.

Suaminya hanya membutuhkannya ketika laki-laki itu lapar atau membutuhkan sesuatu yang penting. Mereka bahkan tidak pernah melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh pasangan suami istri. Soojung tahu alasan dia tidak bisa melanjutkan pekerjaannya tersebut sekarang.

Dia merindukan masa-masa indah bersama Kim Jongin.

 

 

“Kenapa lama sekali?”

“Bukannya aku sudah bilang bahwa aku baru saja selesai bekerja?”

“Apa pun itu alasanmu, sekarang lebih baik kau masakkan aku makanan. Aku sudah kelaparan. Jangan masak ramyeon atau pesan jajjangmyun lagi. Aku sudah muak makan makanan itu,” kata Jongin kesal.

Ia melangkah meninggalkan Soojung yang baru saja melepas sepatunya kemudian berjalan menuju ruang televisi dan lanjut menonton. Soojung menatap suaminya itu dengan getir, lalu tersenyum tipis. Dia tahu, dia tidak akan bisa memutar waktu dan membiarkan dirinya tidak bekerja demi mendapatkan waktu bersama suaminya itu.

Meskipun Jongin bekerja sebagai arsitek bukan berarti Soojung tidak percaya bahwa laki-laki itu akan menghasilkan uang yang banyak. Hanya saja, dia ingin menambahkan untuk penyimpanan mereka nanti. Toh, dia juga masih mencintai hobinya menggambar baju-baju baru bagi para pelanggan. Setiap hari, pekerjaan baru diberikan pada Soojung dan wanita itu tak henti memikirkan ide-ide baru.

“Kau tidak mau masak?”

“Mau,” jawab Soojung pelan. “Aku mau mandi dulu, setelah itu aku akan memasakkan makanan untukmu. Kau mau makan apa? Aku baru saja pulang dari mini market.”

“Apa kau bisa masak makanan yang aku inginkan? Bukannya kau hanya bisa menggambar baju-baju baru untuk orang, ya?” tanya Jongin sedikit menyindir Soojung.

Namun, wanita itu hanya mengabaikannya dengan menutup mulutnya tak memberikan komentar apa pun pada suaminya. “Sebutkan saja makanannya, aku akan memasakkannya untukmu. Kau mau aku memasakkan apa untukmu?”

Jongin menolehkan wajahnya kemudian menatap istrinya tak percaya. “Kau serius bisa masak apa pun? Bagaimana dengan samgyetang? Kau bisa memasaknya, tidak?” tanya laki-laki itu. Soojung menganggukkan kepalanya. “Kenapa kau tidak bilang bahwa kau bisa memasak makanan itu? Kalau begitu, aku tidak perlu membeli makanan tersebut dengan uangku.”

Soojung mengangkat bahunya lalu melangkah menuju dapurnya. Ia meletakkan kantung belanjanya di atas meja dapurnya dan membuang kantung plastik yang digunakan untuk menyimpan bahan-bahan masakannya. Ia menjalin rambut-rambutnya menjadi satu dan mengikatnya menjadi bola yang melingkar.

“Aku mau mandi dulu. Setelah itu, aku akan memasakkannya untukmu.”

“Ya.”

Soojung hanya melirik lelaki itu dan melangkah menuju kamarnya. Apartemen yang mereka beli memang kecil, namun setidaknya mereka menabung sedikit demi sedikit untuk membeli rumah nanti. Ditambah lagi, ini adalah kesempatan dimana Soojung masih bisa bekerja karena mereka sama sekali belum pernah berhubungan.

Wanita itu melepas pakaiannya dan melangkah masuk ke dalam bath tub yang telah diisi air hangat itu. Ia menenggelamkan tubuhnya ke dalam kumpulan air tersebut dan menghela napas panjang. Pikirannya kembali melayang pada saat Jongin melamarnya dua tahun yang lalu.

.

.

.

Gadis itu terkekeh pelan saat seseorang menutup matanya dari belakang. Dengan pasti, dia menyentuh tangan yang menutupi kedua matanya tersebut dan menyentuh jari-jari yang menghalangi pandangan matanya.

“Kim Jongin! Aku sudah tahu!”

“Baiklah, kau memang pandai menebakku.”

Laki-laki itu melepaskan tangannya dari pandangan wanita itu kemudian tersenyum pada kekasihnya. Jongin pun merangkul wanita itu dan menggiringnya keluar dari gedung kuliah. Tentu saja, semua murid  tahu bahwa mereka adalah pasangan paling terkenal di universitas mereka. Baik murid maupun para pengajar, mulai melirik ke arah mereka jika mereka ada di sekitar.

“Kita mau kemana?” tanya Soojung bingung.

“Kenapa aku harus memberi tahu kau? Aku akan merahasiakannya padamu,” jawab Jongin santai kemudian tersenyum miring pada Soojung. Laki-laki itu menepuk kepala Soojung lalu tertawa pelan.

Soojung mengerucutkan bibirnya dan menatap Jongin kesal. “Ay, mwoya? Kau tidak mau memberi tahuku? Baiklah. Aku tidak mau ikut denganmu! Bagaimana kalau kau mau melakukan sesuatu padaku?”

Jongin tertawa pelan. “Bagaimana bisa? Aku hanya ingin memberimu kejutan.”

“Kalau begitu beri tahu aku dulu!”

“Tidak mau. Rahasia.”

Soojung menggembungkan pipinya dan terpaksa mengikuti Jongin. Ketika mereka tiba di halaman belakang Universitas Seoul, Jongin melepaskan rangkulannnya. Soojung meliriknya bingung, terutama ketika Jongin menariknya menuju air mancur yang ada di taman belakang tersebut.

“Ya, apa yang kau lakukan?” tanya Soojung.

Gadis itu melirik ke sana kemari untuk memastikan bahwa tidak ada siapa pun yang tengah memperhatikan mereka. Dia sendiri tidak mau Jongin melakukan hal-hal yang tidak-tidak, terutama bahwa faktanya Jongin tidak bisa menyanyi. Dia takut Jongin melakukan sesuatu yang membuatnya malu.

Tapi, tampaknya sore itu tidak ada siapa pun yang mengunjungi air mancur di taman belakang Universitas Seoul. Soojung harus lah merasa bersyukur karena Jongin sudah mulai menarik napasnya dalam-dalam. Seharusnya, Soojung mencegah laki-laki itu dari awal jika dia tahu bahwa kekasihnya itu akan menyanyi.

“Soojung-ah.”

“Ya?” tanya Soojung ragu. “Kau mau memintaku untuk menyanyi bersamamu?”

“Bukan itu, Soojung,” jawab Jongin lalu tertawa pelan. Laki-laki itu memasukkan tangannya ke dalam saku celananya, kemudian menunjukkan sebuah kotak kecil yang tampak asing di mata Soojung. “Kau harus menjawab pertanyaanku saat ini juga.”

“Itu apa?” tanya Soojung lagi. Mendadak Soojung menjadi panik, jantungnya bahkan berdegup dua kali lipat daripada biasanya. “K-kau mau apa?”

“Aku ingin melamarmu.”

Seketika itu juga, Soojung bisa merasakan bahwa tubuhnya membeku bersamaan dengan suara yang di tenggorokannya terasa tertahan. Bagaikan tengah di introgasi, Soojung tidak bisa menjawab apa pun ketika Jongin mulai menekuk lututnya di hadapannya dan menunjukkan kotak kecil tersebut padanya.

“Jung Soojung, mau kah kau menikah denganku?”

Soojung terdiam panjang. Bahkan, ia bisa merasa bahwa beberapa orang mulai menghampiri mereka dan memperhatikan mereka. Dia tahu mengapa orang-orang itu menghampiri mereka karena sudah cukup lama Jongin berlutut di hadapannya tanpa melakukan apapun.

Tidak ada jawaban yang bisa keluar dari mulut Soojung kecuali anggukan kecil kepalanya yang membuat Jongin langsung bersorak gembira dan memeluk gadis itu. Tepat saat itu juga, laki-laki itu langsung mengecup bibirnya dan kembali memeluknya. Soojung tidak tahu apakah dia harus senang atau tidak, tapi kenyataannya…

.

.

.

Soojung menghela napas sangat panjang.

Kenyataannya, saat ini, dia sama sekali tidak merasa bahagia. Terkadang dia merasa senang karena telah menikah dengan laki-laki yang selama ini dia cintai, terkadang dia merasa sedih karena tidak ada perasaan senang sedikit pun yang tergores di hatinya ketika menemukan bahwa laki-laki itu bukanlah laki-laki yang sama yang ia temui 7 tahun yang lalu.

Ketika pertama kali bertemu dengan Jongin, ia merasa bahagia karena ia seperti menemukan belahan jiwanya. Jongin begitu mirip dengannya. Mereka menyukai jenis musik yang sama, buku-buku novel yang sama, film yang sama, cerita humor yang sama, dan perilaku yang sama. Bahkan, mereka hampir tidak memiliki perbedaan yang membuat teman-teman mereka merasa iri pada mereka.

“Jung Soojung? Kau baik-baik saja?”

Tiba-tiba saja, pertanyaan itu membuat Soojung langsung terbangun dari pikirannya. Wanita itu menyadari bahwa dia telah terlalu lama berendam di dalam air hangat. Dia seharusnya ingat bahwa dia harus memasak makanan untuk Jongin, bukannya berlama-lama di dalam sana dan kembali memutar waktu pada masa-masa indah itu.

Hatinya sakit jika mengingat masa-masa yang telah dilaluinya.

“I-iya! Aku baik-baik saja.”

“Kalau begitu, jangan lama-lama disana. Aku tidak mau mengurusmu jika kau sakit.”

“B-baiklah!”

Soojung lantas membasuh tubuhnya dan segera mengenakan handuk. Setelah itu, ia melangkah keluar dari sana dan menuju kamarnya. Ia mengenakan pakaian tidurnya dan kembali ke ruang televisi, lalu menemukan Jongin yang telah berada di dapur tengah membongkar kulkas.

“Jongin, apa yang kau lakukan?”

Jongin menolehkan kepalanya sekilas. “Aku membantumu menata makanan yang baru saja kau beli untuk diletakkan di kulkas. Kau tidak perlu bantuanku?”

Soojung terkesiap ketika mendengar pertanyaan Jongin. Ia langsung menggeleng dengan cepat, menolak pikiran buruk Jongin. “Bukannya aku tidak mau. Hanya saja, ini bukan seperti dirimu yang biasanya. Kau tidak pernah membantuku selama setahun ini. Ada apa denganmu? Kau sakit?”

Jongin menyelesaikan tugasnya dan berdiri tegak. Ia menatap Soojung lalu menggelengkan kepalanya lugas. “Aku selalu membantumu jika kau tidak ada. Aku membantumu membereskan kulkas kalau kau belum pulang bekerja. Memangnya kau pikir siapa lagi yang akan merapikan kulkas jika bukan aku?”

Mendadak, Soojung tidak punya kata-kata untuk menjawab pertanyaan Jongin. Namun, untuk menjawab pertanyaan Jongin, Soojung justru menitikkan air matanya perlahan. Dia pun menundukkan kepalanya dan menyadari bahwa ia sama sekali tidak sadar bahwa kulkas tertata rapi bukan karena dirinya, namun melainkan karena Jongin.

Untungnya, Jongin tidak menyadari bahwa ia sudah menangis. Cepat-cepat, wanita itu menghapus air matanya dan melangkah menuju dapur ketika Jongin telah pergi dari sana dan kembali ke ruang televisi untuk menonton acaranya.

Entah kenapa, Soojung tiba-tiba merasa sedikit kesal pada dirinya.

Betapa bodohnya dia tidak menyadari hal sekecil itu. Dia kembali menatap ke ruang keluarga dimana Jongin tengah menonton televisi dengan santai. Matanya terasa perih saat menatap pakaian yang dikenakan oleh Jongin. Ia ingat benar bahwa pakaian yang tengah dikenakan oleh suaminya saat ini adalah hadiah pemberiannya pada Jongin ketika laki-laki itu berulang tahun yang ke-21 tahun.

Seakan ia sadar bahwa selama ini dirinya lah yang tidak peduli pada apapun, Soojung pun menghentikan tangannya untuk memotong bawang yang ada di hadapannya.

“Jongin-ah?”

“Ya?”

“Kau mau berlibur denganku?”

Jongin terdiam lalu menolehkan kepalanya, hingga matanya bertemu dengan milik Soojung. Laki-laki itu menatap dalam mata istrinya tersebut, seakan ia tidak percaya dengan apa yang baru saja dipertanyakan oleh Soojung.

“Tunggu, kau bercanda? Bukannya kau bekerja?”

“Kau juga bekerja, Jongin.”

“Tapi, aku bisa menyelesaikan pekerjaanku dimana saja.”

Soojung pun teringat bahwa suaminya itu menyelesaikan pekerjaannya di dalam tabletnya yang selalu ia bawa kemana-mana. Selain itu, Jongin juga pernah menunjukkan hasil pekerjaannya pada Soojung ketika suaminya itu mendapatkan pekerjaannya untuk pertama kali.

Saat itu, mereka merasa sangat senang.

Bukan seperti saat ini, dimana mereka sebentar lagi akan berdebat. Entah apa yang ada di pikiran mereka masing-masing, namun Soojung tahu bahwa sebentar lagi mereka akan memecahkan suasana tentram yang sebelumnya lebih baik.

“Aku mendapatkan liburan dari atasanku. Dia memberiku liburan karena aku tidak bisa menyelesaikan pekerjaanku. Dia bilang bahwa aku bisa menyelesaikan pekerjaanku setelah liburan,” kata Soojung jujur. “Liburan seminggu penuh dan dia yang membayar transportasinya. Aku tidak bisa liburan sendirian saja. Kau bilang kau bisa menyelesaikan pekerjaanmu di mana saja, bukan? Karena itu, aku mengajakmu.”

Jongin membalikkan tubuhnya dan kembali menatap televisi yang ada di hadapannya dengan bosan. Lalu, ia mengganti-ganti saluran televisi. Soojung tidak tahu apa yang akan menjadi jawaban Jongin, namun melihat sikapnya saja Soojung bisa menebak bahwa suaminya akan menolak pergi bersamanya.

“Baiklah, aku akan menemanimu.”

N-ne?

“Kau tidak dengar? Aku akan menemanimu pergi liburan.”

Tubuh Soojung membeku saat itu juga. Dia tak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini juga. Mungkin kah ia harus berterima kasih pada Jongin? Haruskah ia bersorak girang dan memeluk Jongin saat ini juga? Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Namun, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia sangat merasa bahagia karena Jongin menerima permintaannya.

 

 

Entah kenapa, Soojung hari ini ingin tersenyum lebar.

Bahkan, beberapa staff yang menyapanya pun ikut tersenyum melihat senyuman yang merekah di bibir Soojung. Wanita itu melangkah dengan santai menuju ruangan atasannya sehingga menyebabkan beberapa orang meliriknya bingung.

Mereka bahkan tidak tahu alasan apa dibalik senyuman Soojung. Tidak biasanya seorang Jung Soojung menampakkan sebuah senyuman. Selain itu, mereka biasanya hanya akan mendapatkan amarah dari Soojung jika mereka menyinggung Soojung sedikit saja. Entah itu mengenai pekerjaan atau urusan pribadi.

“Jung Soojung-ssi!”

Soojung langsung membungkukkan tubuhnya 90 derajat begitu memasuki ruangan atasannya dan mendapatkan sambutan yang begitu ramah. Wanita itu tersenyum lebar, ketika ia hendak menjelaskan alasannya, namun pria itu langsung menggelengkan kepalanya cepat.

“Tidak perlu menjelaskan! Aku bisa langsung tahu alasanmu berubah seperti ini!” kata Park Jungsoo sambil tersenyum miring. “Baiklah! Sesuai dengan janji yang telah aku berikan padamu, maka berliburlah selama satu minggu. Namun, kau harus berjanji bahwa kau akan memberiku hasil yang memuaskan sepulang liburan.”

Ne, Sajangnim! Tentu saja, aku akan bekerja keras untuk hal itu!” jawab Soojung dengan wajahnya yang penuh semangat. “Terima kasih banyak atas liburan yang telah kau berikan, Sajangnim. Aku berharap semoga liburan ini menjadi liburan terbaikku!”

“Tentu saja akan menjadi liburan terbaikmu karena aku akan mengirim kalian ke Perancis! Aku akan membayarkan tiketmu,” kata Park Jungsoo dengan santai. Wajah Soojung yang awalnya cerah mendadak berubah menjadi penuh histeris dan ketakutan. Menyadari perubahan itu, Park Jungsoo langsung menautkan alisnya. “Ani, wae? Bukankah kau seharusnya senang karena aku sudah membelikanmu tiket? Kenapa kau justru memasang wajah seperti itu?”

Sajangnim! Bagaimana bisa kau membelikanku tiket? Maksudku…” Soojung terdiam panjang. “Aku bisa membelinya. Kau tidak perlu repot-repot melakukan hal itu. Ah! Aku akan meminta suamiku untuk mengirimkan harga tiketnya padamu. Tolong mengerti, Sajangnim!”

Park Jungsoo menggelengkan kepalanya. “Permintaanmu ditolak. Jika kau tidak mau menggunakan tiketku dengan gratis, maka aku tidak jadi memberimu liburan selama seminggu. Bagaimanapun, aku akan memberikan tiket itu kepada orang lain yang lebih membutuhkan. Bagaimana?”

Soojung mengerucutkan bibirnya. “Baiklah, aku akan menggunakannya, Sajangnim,” jawab Soojung dengan wajah pasrah. Ia membungkukkan tubuhnya 90 derajat lagi. “Terima kasih banyak, Sajangnim! Maaf aku telah merepotkanmu.”

Sebelum Soojung melangkahkan kakinya kelaur dari sana, Park Jungsoo kembali memanggil namanya, membuat gadi situ membalikkan tubuhnya. “Ingat, jangan beritahu siapapun tentang hal ini karena aku tidak memberikan fasilitas seperti ini pada orang lain. Hanya padamu aku memberinya karena kau terlah bekerja selama 5 tahun.”

Lantas, Soojung menganggukkan kepalanya. “Ne, Sajangnim!

 

 

Soojung memejamkan kedua matanya. Menghirup napas dalam-dalam sambil menenggelamkan tubuhnya di atas kursi pesawat. Tidak pernah terbayangkan olehnya bahwa ini adalah pertama kalinya dia dan suaminya, Kim Jongin, akan pergi berlibur bersama ke Perancis.

Sebentar lagi pesawat akan lepas landas dan dia belum sempat mengucapkan selamat tinggal untuk kakak perempuannya padahal kakaknya sudah mengingatkannya untuk memberitahunya apa pun yang terjadi jika ia pergi, sehingga kakaknya tidak akan repot-repot mencarinya.

“Soojung, kau belum memberitahu kakakmu?” tanya Jongin tiba-tiba.

Soojung langsung membuka matanya, ia menoleh pada Jongin dengan wajah tidak percaya. Tentu saja karena dia baru saja memikirkan kakak perempuannya, namun tiba-tiba Jongin menanyakan hal itu. Dia mulai berspekulasi bahwa Jongin bisa membaca pikirannya.

Mungkinkah Jongin membaca pikirannya selama ini? Jika iya, itu adalah hal yang buruk karena dia selalu memikirkan bagaimana sikap Jongin terhadap dirinya sejak mereka menikah.

“Jangan berpikir yang aneh-aneh tentang diriku,” celetuk Jongin menyadari Soojung yang diam saja, menatapnya dalam-dalam, seolah wanita itu tengah menebak-nebak suaminya.

“Tidak.. Lalu, bagaimana kau bisa tahu?”

“Sooyeon noona mengirimiku pesan barusan. Dia bertanya kemana kita pergi. Mungkin dia ke rumah ingin memberikan sesuatu atau bertemu denganmu,” kata Jongin lalu menunjukkan ponselnya. “Apa yang harus aku katakan padanya? Kau pasti belum memberitahunya.”

“Uh… Begitu lah. Ya sudah beritahu saja kita liburan ke Perancis. Setelah itu matikan ponselmu,” jawab Soojung akhirnya.

Kepalanya pusing memikirkan kakaknya yang overprotective itu. Padahal, kakaknya sudah berkeluarga, namun dia masih memikirkan adiknya yang sudah bekerja dan juga sudah menikah. Namun, Soojung tidak bisa menolak keadaan tersebut karena sejak kematian kedua orang tuanya, kakaknya menjadi seperti itu dalam keadaan apa pun.

Orang tuanya meninggal dalam kecelakaan pesawat menuju Perancis ketika mereka ingin melakukan pekerjaan. Untungnya, mereka tidak membawa Sooyeon dan Soojung. Namun, Soojung merasa sedikit menyesal, andaikan saat itu ia berhasil menggagalkan orang tuanya, maka orang tuanya. . .

Namun, bagaimana pun itu sudah takdir mereka.

Dia tidak bisa menyalahkan dirinya. Orang tuanya ditakdirkan untuk meninggal. Seluruh warisan diberikan kepada Sooyeon dan Soojung untuk mereka ke sekolah dan kuliah. Soojung bersyukur karena dia masih bisa pergi ke sekolah dan menyelesaikan pendidikannya.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Jongin dengan mata terpejam dan juga tubuh yang menyender pada kursi pesawat. Laki-laki itu juga melipat kedua tangannya di depan dadanya. “Aku lihat dari tadi kau memikirkan sesuatu. Kau memikirkan kakakmu atau orang tuamu?”

“Orang tuaku…” gumam Soojung lemah.

“Tidak perlu dipikirkan. Kakakmu memang seperti itu demi kebaikanmu,” kata Jongin dengan mata masih terpejam. Soojung menoleh padanya dan menatap laki-laki itu dalam-dalam. “Kau harus berterima kasih karena kau punya kakak seperti dirinya. Setidaknya dia selalu menjagamu sampai kau tua. Jarang sekali ada kakak seperti dirinya. Kalau aku bisa, aku juga ingin punya kakak seperti Sooyeon noona, meskipun dia bilang dia setuju.”

Soojung tersenyum tipis. “Sepertinya kau lah yang seharusnya tidak memikirkannya. Apa kau sudah bertemu dengan ayahmu lagi?”

Jongin membuka matanya perlahan, lalu ia memutar tubuhnya ke arah Soojung, menyebabkan jarak di antara mereka menipis. Tentu saja, Soojung langsung terkesiap. Sudah lama, mereka tidak pernah sedekat ini. Wajah Soojung langsung merona dan jantungnya berdegup dengan kencang.

“Tidak, aku tidak bertemu dengannya,” jawab Jongin pelan. Matanya bergerak ke atas, menatap Soojung yang ada di hadapannya. “Aku tidak ingin menemui ayahku, terutama ketika dia sudah menikah dengan wanita lain dan hidup bahagia. Dengan mudahnya, dia menelantarkanku dan juga Myungsoo hyung demi seorang wanita yang tampaknya tidak lebih baik daripada eomma.”

“Jongin-ah…

Tiba-tiba, Jongin tersenyum tipis. “Sudah lama aku tidak melihatmu sedekat ini,” kata Jongin. Perlahan, tangannya menyentuh kepala Soojung dan mengusap puncak kepalanya. “Kau tidak pernah berhenti bekerja dan aku juga sibuk dengan pekerjaanku. Kita tidak pernah berbicara lagi seperti ini sejak kita bekerja dan sibuk dengan diri kita masing-masing.”

Soojung terdiam. Matanya menatap dalam-dalam mata Jongin yang hitam pekat. Ia bahkan dapat menemukan pantulan dirinya dari pupil mata Jongin. Soojung percaya dengan perkataan, ‘Jika kau perhatikan baik-baik mata seseorang, kau dapat melihat pantulan dirimu di dalamnya. Maka, saat itu juga orang tersebut mengatakan kejujuran.’

Untuk pertama kalinya, Soojung merasa bahwa dirinya bersalah pada Jongin. Ketika ia baru ingin membuka mulutnya lagi, Jongin justru memutar tubuhnya ke depan dan memejamkan matanya.

“Tidurlah, perjalanan kita masih panjang,” kata Jongin.

“Um…” Soojung berpikir sejenak, lalu menjawab, “baiklah.”

 

 

Pesawat mereka lepas landas dengan mulus di lapangan udara Bandara Charles de Gaulle.

Perjalanan dengan pesawat memakan waktu selama 5 jam. Mereka berangkat pukul 11 pagi dari Bandara Incheon. Orang-orang Korea dan juga beberapa orang Perancis dari Korea pun mulai terbangun ketika menyadari bahwa pesawat telah tiba di Paris.

Soojung bangun dengan tubuh yang sakit, ia mendesah berat mengingat bahwa dia tidak mengubah posisinya selama tidur dua jam terakhir. Dia melirik Jongin yang baru saja beres membaca sebuah koran harian.

Ketika pesawat berhenti, orang-orang mulai bangun dari tempat duduk mereka meninggalkan pesawat. Begitu pula dengan Jongin yang telah melepaskan sabuk pengamannya. Laki-laki itu berdiri sambil menyimpan koran milik pesawat di tempat semula.

Namun, sebelum laki-laki itu pergi, ia melirik Soojung dan mengulurkan tangannya pada istrinya. Soojung menatapnya bingung, namun wanita itu tersadar bahwa Jongin tahu tubuhnya kram.

“Kau tidak bergerak sama sekali selama tidur,” kata Jongin sambil menarik tangannya ke arah pelukannya secara perlahan, kemudian membantu wanita itu berjalan. “Kau bisa berjalan?”

“Sepertinya bisa…”

Soojung mencoba melepaskan tangannya dari Jongin, lalu mencoba melangkah perlahan di sepanjang koridor pesawat. Namun, usahanya gagal, tubuhnya benar-benar kram, bahkan lehernya terasa sakit. Ia melirik Jongin dengan perasaan bersalah.

“Kau tidak bisa,” kata Jongin. “Aku akan antar kau ke ruang tunggu meminta seseorang untuk menemanimu di ruang tung—”

“Maaf, Tuan,” panggil seorang pramugari yang masih ada di dalam pesawat. Wanita itu tersenyum tipis kemudian melirik Soojung yang ada di samping Jongin. “Apa ada masalah dengan istri Anda? Jika ada, maka kami akan membantu.”

“Benar,” jawab Jongin. Ia mencengkram tangan Soojung erat-erat, tidak membiarkan tubuhnya goyah. “Istriku kesakitan karena salah tidur beberapa saat yang lalu. Apa Anda bisa menemaninya sebentar selagi aku mengambil koper dan memesan sebuah taksi?”

“Sebentar, akan aku panggilkan tim medis bandara. Mereka akan mengantarnya ke sebuah ruangan dimaan istri Anda bisa tidur sebentar,” ujar sang pramugari.

Pramugari itu segera beralih pada ponselnya dan menghubungi seseorang. Ia berbicara dalam Bahasa Perancis dengan sangat lihai yang bisa dimengerti oleh Soojung maupun Jongin bahwa wanita itu meminta tim medis untuk datang ke pesawat mereka dengan membawa sebuah kursi roda.

Setelah selesai, pramugari itu kembali beralih pada Jongin juga Soojung dan tersenyum dengan ramah. “Aku sudah memanggil tim medis, sebentar lagi mereka akan tiba di sini.”

Jongin menganggukkan kepalanya lalu membungkuk.  “Terima kasih karena telah sadar bahwa kami butuh bantuan. Aku ingin mengambil koper dan memesan taksi, aku ingin minta tolong untuk—”

“Menjaga istri Anda, bukan?” tebak pramugari itu.

“I-iya…” Jongin tersenyum kaku. Ia menggosok tengkuknya karena malu. “Terima kasih. Saya akan kembali lagi ke sini atau bisa Anda beritahu dimana letak ruangan medisnya? Sekiranya jika istri saya sudah di bawa ke ruang medis.”

“Ah, ruangannya ada di bagian barat dan tidak jauh dari ruang tunggu. Anda bisa bertanya pada petugas di sekitar bandara dan Anda bisa bertanya dalam Bahasa Inggris,” kata pramugari itu.

“Tidak usah, dia bisa berbicara Bahasa Perancis,” celetuk Soojung.

Jongin membelalakkan matanya. “Tidak seperti itu, aku hanya bisa berkata sedikit demi sedikit. Aku harus pergi dulu. Kau jaga dirimu, ya.”

Soojung hanya mengangguk pelan, lalu tersenyum tipis. Sejenak, Soojung sadar bahwa sudah lama mereka tidak seperti itu. Di dalam lubuk hatinya, ia sangat berterima kasih kepada atasannya karena telah memberikannya liburan dengan awal yang menyenangkan.

Kepergian Jongin meninggalkan Soojung hanya berdua dengan pramugari yang tadi membantunya. Pramugari itu lantas duduk di kursi di seberang kanannya. Soojung menoleh padanya lalu tersenyum ramah.

“Nyonya sangat beruntung punya suami seperti dia,” ujar pramugari itu tiba-tiba.

“Beruntung?” Kening Soojung mengerut. “Aku tidak mengerti, Nona.”

“Ah, aku sudah menikah,” jawab pramugari itu ketika Soojung memanggilnya dengan ‘Nona’. “Ngomong-ngomong, namaku Victoria Song. Nama Anda sendiri siapa?”

“Aku Jung Soojung.”

Soojung lalu mengulurkan tangannya. Victoria pun menerima uluran tangan tersebut dan tersenyum dengan ramah. Keduanya menjabat tangan masing-masing dengan hangat.

“Maksudku adalah suamimu sangat perhatian, Soojung-ssi. Tidak seperti suamiku yang tidak peduli dengan keadaanku walau aku selalu merasa kesakitan setelah seharian penuh berdiri melayani orang-rorang di pesawat.”

“Apa kau yakin?” tanya Soojung tidak percaya. “Aku sebenarnya punya masalah dengan suamiku awalnya. Aku selalu berpikir bahwa suamiku tidak perhatian padaku, namun kenyataannya dia sering khawatir karena diriku. Tanpa aku sadari, aku telah membuatnya khawatir.”

“Membuatnya khawatir?”

“Ya, seperti aku yang harus lembur sampai malam untuk pekerjaan. Dia menelponku bertanya padaku, ‘Kenapa kau belum pulang? Aku lapar! Jangan lama-lama di kantor’. Padahal sebenarnya dia tidak begitu lapar, dia hanya khawatir padaku,” jelas Soojung sambil tersenyum miris.

Victoria menenggelamkan tubuhnya di atas kursi pesawat. “Jika saja suamiku seperti itu, maka aku tidak akan merasa lelah dengan pekerjaan ini. Aku harap aku bisa memberi tahu suamiku bahwa aku sangat butuh perhatiannya.”

“Kalau begitu katakan kepadanya mengenai hal itu.”

“Bagaimana bisa?”

“Katakan saja sejujurnya daripada kau merasa menyesal.”

Wanita itu menatap keluar jendela pesawat. Matanya menangkap beberapa orang berpakaian seragam dengan sebuah kursi roda. Ia pun sadar bahwa mereka dalah tim medis yang tersedia.

“Waktu tidak akan pernah kembali seperti sedia kala. Di saat kau menyesal dan kau mencoba mengubahnya seperti dahulu, kau tidak akan bisa mengubahnya sama persis.” Matanya memandang lurus tanpa melirik Victoria sedikit pun. “Sama seperti gelas yang terjatuh dan kau mencoba menyatukannya kembali, dia tidak akan sama seperti sebelumnya. Pasti ada retakan yang terlihat.”

“Kami dari tim medis yang dipanggil oleh Victoria Song.”

“Ya, aku Victoria Song. Nyonya ini mengalami kram pada tubuhnya karena salah posisi tidur sepertinya. Tolong bawa dia ke ruang medis dan suaminya akan segera menghampirinya,” jelas Victoria. Ia beralih pada Soojung dan tersenyum. “Terima kasih atas sarannya, sekarang aku sadar bahwa aku memang harus mengatakan hal itu padannya sebelum terlambat dan selamat bersenang-senang.”

Soojung membalas senyumannya dengan lebar, sampai-sampai senyumannya itu mencapai matanya. Ia mengambil kartu nama yang ada pada saku kemejanya, lalu memberikannya pada Victoria.

“Jung Soojung-ssi, kau seorang desainer?”

“Ya. Kau bisa hubungi aku jika kau butuh sesuatu… Atau kau bisa memesan desain pakaian dariku?”

 

 

Kedatangan Jongin disambut dengan helaan napas lega dari Soojung. Dia tidak betah berlama-lama di dalam ruangan medis itu karena seluruh perawatnya sibuk menanyakannya tentang keadaan Korea juga menanyakan apakah semua orang di sana berhasil melakukan operasi plastik.

“Ah, are you her husband?” tanya seorang dokter pria yang memeriksa Soojung.

Jongin mengangguk mantap. “Oui, je suis son mari—Ya, aku suaminya.

Dokter itu tersenyum lega ketika Jongin mengucapkan Bahasa Perancis dengan sangat lancar. Soojung hanya tersenyum mengejek ketika mendengar Jongin berbicara Bahasa Perancis, jelas-jelas pria itu bisa berbahasa Perancis, namun mengatakan bahwa dia hanya bisa sedikit-sedikit pada Victoria.

“Jadi, dia mengalami kram pada sekujur tubuhnya karena dia tidak mengubah posisinya saat tidur di pesawat. Setelah ini, biarkan dia istirahat di atas tempat tidur untuk sejenak. Aku sudah memberikannya obat untuk nyeri otot. Dia bisa sembuh nanti malam,” jelas dokter itu.

“Baiklah, terima kasih banyak atas bantuannya,” kata Jongin, kemudian menghampiri Soojung yang ada di atas tempat tidur.

Laki-laki itu sudah siap untuk membopong wanita itu, namun seorang perawat langsung tertawa pelan ke arahnya membuat Jongin bingung. Begitu pula Soojung yang langsung menolak perilaku suaminya yang dianggapnya berlebihan.

“Ada apa?” tanya Jongin bingung.

“Kau tidak perlu membawaku seperti itu! Memalukan,” ucap Soojung sambil menahan rona merah di wajahnya. Ia menutup wajahnya dengan selimut tempat tidur. “Mereka meminjamkan kursi rodanya untukku sampai di depan.”

“Ah, begitu…”

Jongin hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Lalu ia membiarkan beberapa perawat membantu Soojung duduk di atas kursi roda dan ia mengambil alih untuk mendorong kursi roda itu.

Ketika mereka melangkah keluar, beberapa orang sempat melirik mereka bertanya-tanya apa yang terjadi pada Soojung. Soojung tidak peduli dengan pandangan orang-orang padanya, yang terpenting adalah Jongin yang telah bersedia repot karena dirinya.

Setibanya mereka di depan taksi, Jongin pun membantu wanita itu melangkah menuju taksi dan masuk ke dalamnya dengan hati-hati. Setelah berterima kasih pada salah seorang perawat yang mengantar mereka, Jongin pun masuk ke dalam taksi dan menyebutkan alamat hotel mereka menginap.

Taksi melaju dengan cepat meninggalkan Bandara Charles de Gaulle. Dari Roissy en France, taksi mengambil jalur A1 autoroute  yang sebenarnya menghubungkan Kota Lille dengan Paris sepanjang 211 kilometer. Dari jalur A1, taksi pun memasuki Jalan Raya Périphérique yang melingkari Kota Paris.

Paris yang sedang ramai pun menyebabkan kemacetan dari persimpangan jalan N13. Sementara menunggu kemacetan, supir taksi pun menyalakan radio dan memilih saluran radio secara acak.

Terdengar suara seorang wanita muda berkebangsaan Perancis tengah berbicara, menyambut para pendengar di Paris, dan mulai menceritakan keadaan lalu lintas di Paris yang sedang macet, sama seperti yang tengah dialami mereka.

“. . . Ya, saat ini ada rekan saya, Jean, yang sudah berdiri di Jalan Raya Périphérique melaporkan bahwa keadaan saat ini macet. Terlihat dari banyaknya taksi yang memenuhi jalan raya ini, dapat dipastikan bahwa para wisatawan asing berbondong-bondong untuk datang ke Paris dalam menyambut liburan musim panas.

Namun, bagi Anda para pendengar yang sedang terjebak macet tidak perlu bosan karena sebentar lagi kami akan membagikan pada kalian kisah-kisah yang telah dikirimkan oleh para pendengar setia Radio ‘Voila, Paris!’ beberapa saat yang lalu. Ah, saya sudah menemukan sebuah cerita. Namun, sebelum itu, mari kita dengar lagu dari Il Divo yang berjudul ‘I Believe in You’ bersama Celine Dion. . .

Lantunan instrumen suling mengawali lagu tersebut, kemudian suara seorang personil Il Divo yang rendah pun melanturkan bait pertamanya dengan sangat indah. Baik supir taksi, maupun Jongin serta Soojung mendengarkan lantunan lagu itu dengan seksama. Soojung yang menyukai lagu itu pun ikut bergumam mengiringi lagu itu.

Jongin melirik ke arah wanita itu. Soojung yang menutup kedua matanya sambil bergumam tidak menyadari tatapan Jongin. Namun, wanita itu sadar bahwa Jongin pasti akan memperhatikannya karena selama ini dia tidak pernah bernyanyi di depannya.

“Bagaimana dengan tubuhmu?” tanya Jongin pada Soojung akhirnya.

“Aku?” tanya Soojung sambil membuka matanya, lalu menoleh pada Jongin. Ia pun menjawab, “Aku sudah baik-baik saja. Aku hanya butuh istirahat nanti di hotel. Sudah aku katakan jangan melebih-lebihkan keadaan.”

“Aku tidak melebih-lebihkan keadaan.”

“Maksudku, dokternya.”

“Oh. . .”

Jongin terdiam sejenak tepat saat lagu ‘I Believe in You’ berhenti dan suara wanita pembawa acara radio pun kembali. Jongin melirik keluar jendela, menyadari bahwa taksi mereka sudah berada di depan gedung Stasiun Porte Maillot yang begitu besar, bahkan Soojung pun mengerjap berkali-kali.

. . . Lagu ‘I Believe in You’ tadi benar-benar membuatku merinding dengan suara para personil Il Divo, terutama Sébastien Izambard. Dia adalah salah satu favoritku karena selain tampan suaranya juga sangat merdu. Tidak kalah dengan para personil Il Divo, suara Celine Dion yang khas pun juga membuatku ingin terbawa ke dalam mimpi. Tout seul. . . Tu t’en iras tout seul~ Ah, lupakan saja, suaraku tidak seindah suaranya!

Kembali ke topik selanjutnya, aku akan membacakan sebuah cerita dari seorang wanita muda berumur 27 tahun. Kali ini dia akan berbagi pengalaman tentang dirinya dengan suaminya yang sudah menikah selama 7 tahun. Wow! Pernikahan yang cukup lama, ya. Aku pastikan mereka menikah di umur emas—golden age—mereka, yaitu 20 tahun.

Halo, panggil saja aku Mireille dan suamiku Armand. Kami telah menikah selama 7 tahun dan kami sudah punya seorang anak laki-laki dan anak perempuan yang duduk di bangku kelas 1 SD. Kami tidak pernah menyangka bahwa kami akan menikah karena kami menjalin hubungan sejak di Universitas Paris-Sorbonne di jurusan yang sama.

Mendengar hal itu, baik Soojung maupun Jongin langsung melirik satu sama lain, namun mereka langsung mengalihkan pandangan mereka ke luar jendela. Mata Soojung menelusuri ke luar jendela, menyadari bahwa taksi mereka sudah berada di Jalan Avenue de la Grande Armée yang tidak sepadat jalan-jalan sebelumnya. Taksi pun melewati Monumen Arc de Triomphe yang dipadati oleh wisatawan.

Jalan Raya Marceau yang menggiring mereka ke Jembatan Pont de l’Alma pun juga lancar tanpa adanya macet. Taksi mereka menyebrangi Sungai Seine dengan Jembatan Pont de l’Alma. Pemandangan Sungai Seine yang terlihat indah pada pukul 5 sore itu membuat Soojung tidak dapat menutup mulutnya karena takjub.

Setelah melalui Museum Quai Branly yang ada di Jalan Quai Branly, mereka pun melewati Menara Eiffle yang dipadati pengunjung. Supir taksi mengarahkan mobilnya ke arah kiri memasuki Jalan Raya Suffren dan kembali belok ke kiri memasuki Jalan Rue Jean-Rey. Akhirnya, taksi pun berhenti di sebuah gedung penginapan yang sangat besar, yaitu Hotel Pullman Paris Tour Eiffel dengan bintang 4. Tentu saja, karena hotel yang jaraknya dekat dengan Menara Eiffel membuat orang berbondong-bondong memilih hotel ini.

Soojung dan Jongin turun dari taksi dan membayar sebesar 50 euro kepada supir taksi. Jongin menghela napas lega ketika dua orang porter mengambil koper mereka dan membawanya masuk, sementara Jongin membantu Soojung keluar dari taksi dan merangkul wanita itu erat-erat.

“Silahkan, Tuan, bisa menuju resepsionis untuk memesan kamar hotel,” kata seorang petugas keamanan setelah memeriksa tas mereka.

Jongin hanya mengangguk dan melangkah menuju ruang tunggu dan mendudukkan Soojung di sana. Sementara Soojung berbincang-bincang dengan dua porter yang membantu mereka, Jongin pun melangkah menuju meja resepsionis dan memberikan wanita yang berjaga di meja resepsionis sebuah kertas bahwa mereka telah memesan kamar hotel. Wanita itu lantas memberikannya sebuah kunci kamar dan Jongin pun kembali menghampiri Soojung.

Mereka pun menaiki lift menuju lantai 7, kemudian porter mereka menunjukkan jalan menuju kamar 735 yang beradai bagian timur gedung hotel. Ketika sampai di depan sebuah kamar, mereka masuk ke dalam. Sementara, porter meletakkan koper mereka dan pergi setelah mendapatkan ucapan terima kasih, Jongin membantu Soojung untuk duduk di atas tempat tidur.

Awalnya, Soojung ingin berteriak kencang karena senang kamar mereka menghadap ke arah Menara Eiffel yang jaraknya sangat dekat dengan hotel mereka. Namun, Soojung mengurungkan niatnya ketika ingat bahwa tubuhnya kram saat ini.

 

 

Keesokan harinya, Soojung terbangun ketika matahari sudah menerobos masuk ke dalam kamar. Dia menarik ponselnya yang ada di atas meja kecil di samping tempat tidurnya, lalu menyalakan layarnya. Jam menunjukkan pukul 7 pagi.

Diletakkannya ponselnya kembali ke atas meja. Ia menelungkupkan wajahnya di atas bantal empuknya, enggan menggerakkan dirinya untuk keluar dari tempat tidur. Selimut hangatnya pun ia tarik kembali, namun begitu mendengar pintu kamar mandi yang dibuka, ia langsung terkejut dan membuka matanya.

Ia tersadar bahwa dia masih di Perancis.

“Kau tidak ingin bangun?” tanya Jongin penasaran.

Laki-laki itu melepaskan handuknya dari rambutnya yang basah, lalu meletakkannya di balkon kamar. Laki-laki itu menoleh ke belakang ke arah Soojung yang sudah terbangun di tempat tidurnya dengan rambut berantakan. Wajahnya bahkan masih mengantuk, namun Jongin hanya tertawa kecil.

Jongin membalikkan badannya, lalu menatap Menara Eiffel yang berdiri tegap di seberang kamarnya. Dari balkon kamar mereka, terlihat Menara Eiffel. Bahkan, dia bisa melihat ke seluruh penjuru Perancis dari posisinya.

“Aku mau mandi dulu,” kata Soojung akhirnya.

“Baiklah. Bersiaplah karena aku akan mengajakmu ke suatu tempat.”

Soojung membalikkan tubuhnya. Ia menatap laki-laki itu bingung, namun dia tidak menghiraukan untuk bertanya padanya. Yang pasti adalah dia segera masuk kamar mandi untuk bersiap. Tidak lama kemudian, dia sudah selesai dengan kegiatannya, kemudian Jongin juga mengganti pakaiannya.

Mereka memilih untuk sarapan di hotel daripada di luar. Setelah itu mereka segera melangkah keluar dari hotel dan mencari taksi.

Soojung tidak menyangka bahwasanya Jongin memesan sebuah tiket untuk menonton sebuah fashion show di Galeries Lafayette. Soojung tahu bahwa memesan tiket tersebut tidak mudah karena mereka harus memesannya dari hari-hari sebelumnya agar mendapatkan kursi terbaik.

“Terima kasih banyak,” kata Soojung pelan.

“Bukan masalah.”

Di saat pertunjukkan selesai, mereka pun segera bangun dari tempat mereka duduk. Soojung menyimpan ponselnya ke dalam tas selempang yang digunakannya. Di dalamnya ada buku gambar miliknya dan juga beberapa barang penting.

Sementara itu, Jongin sibuk memasang kaca mata hitamnya. Dia menggunakannya untuk menghindari sinar matahari yang memancar lebih panas daripada apa pun. Mereka melangkah menuju koridor galeri secara berdampingan, tidak seperti sebelumnya mereka selalu berjauhan ketika jalan.

Jongin bahkan sempat menarik Soojung ke dekatnya ketika ada seorang laki-laki yang hampir menabrak Soojung. Soojung hanya tersenyum tipis pada Jongin, kemudian mereka kembali berjalan.

“Soojung-ah!”

Panggilan itu langsung membuat Soojung maupun Jongin membalikkan tubuh mereka. Mereka mencari-cari sumber suara rendah itu, hingga mereka menemukan seorang pria yang melambai ke arah mereka dengan jas hitam yang dikenakannya dan juga kacamata hitam mengilap yang membuat pantulan diri mereka terlihat di sana dari dekat.

“S-siapa?”

“Kau lupa aku?” tanya pria itu terkejut. Lalu, ia menyadari sesuatu, ia pun melepas kacamata hitamnya dan menyimpannya di balik jas hitamnya. “Aku, Choi Minho!”

“Ah. . . Minho sunbae.”

“Ada apa dengan panggilan ‘sunbae’ itu? Sebelumnya saat SMA, kau selalu memanggilku dengan panggilan ‘oppa’.” Minho melirik Jongin, kemudian menganggukkan kepalanya mengerti. “Ah, karena kau sedang bersama kekasihmu, ya?”

“Bukan begitu,” jawab Soojung sambil menggeleng. “Itu karena kita sudah lama tidak bertemu, jadi aku merasa tidak sopan. Dia bukan kekasihku, dia suamiku. Namanya Kim Jongin.”

Minho membulatkan matanya. “Kapan kau menikah? Kenapa tidak mengundangku?”

Soojung tersenyum pahit. “Dua tahun yang lalu. Aku mau mengundangmu tapi tidak tahu alamatmu. Saat itu jgua kau sedang ambil ujian jadi aku tidak mau mengganggumu karena pernikahan ini. Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan disini?”

“Ah! Aku sedang mengamati mode di Paris,” jawab pria itu sambil tersenyum lebar. “Aku bekerja di suatu majalah fashion, jadi aku harus ke sini untuk lihat-lihat sejenak sekaligus liburan. Kau sendiri?”

“Uh, sama. Aku juga sedang lihat-lihat sekaligus liburan.”

“Soojung-ah,” panggil Jongin akhirnya karena daritadi dia hanya diam saja tanpa mengucapkan satu katapun. “Kita harus pergi, masih ada yang harus kita lakukan, aku takut kita tidak sempat melakukannya. Bagaimana?”

“T-tapi, aku baru saja—”

“Tidak apa-apa, kita bisa bicara lagi nanti,” potong Minho ketika melihat wajah Jongin yang sedikit kesal. Pria itu tersenyum, lalu mengeluarkan ponselnya. “Bagaimana jika kau memberikan nomor ponselmu? Nanti aku hubungi lagi. Masih ada banyak yang harus kita bicarakan.”

Ketika Soojung ingin mengambil ponsel Minho, Jongin justru menghalanginya dan mengambil ponsel Minho. Soojung ingin berteriak marah, namun ia mengurungkan niatnya ketika ingat bahwa dia harus tahu tempat dan siapa yang ada di hadapannya. Dia harus menjaga sikapnya.

Mata Jongin menatap tajam layar ponsel Minho dan mengetikkan sesuatu di atas sana. Setelah selesai, Jongin mengembalikan ponsel Minho dan menarik Soojung pergi dari sana sebelum Soojung sempat mengucapkan selamat tinggal.

Ya! Aku belum mengucapkan selamat tinggal!”

“Aku tidak peduli,” kata Jongin.

Mereka berhenti di ujung koridor yang kosong. Tidak ada siapapun di sana. Keduanya saling bertatapan. Napas Soojung terengah-engah, ia menatap suaminya dengan marah. Dia tidak tahu harus berkata apa, namun yang pasti hatinya bergejolak panas karena sikap Jongin barusan.

Apa yang dilakukan oleh Jongin tidak sopan. Dia tidak bisa membiarkan hal ini terjadi karena Minho adalah seniornya saat SMA. Dia sempat menaruh hati pada Minho, bahkan sempat menyatakan cinta, namun Minho menolaknya. Jadi, dia tidak bisa bertingkah seenaknya di hadapan seseorang yang pernah ia sukai.

“Kau pernah menyukainya, bukan?” tanya Jongin tajam.

“T-tidak!” Soojung membulatkan matanya dengan api kemarahan yang membara di matanya. Gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada.  “Lalu, kau sangat tidak sopan tiba-tiba mengambil ponselnya! Apa yang kau tuliskan di ponselnya?”

“Aku hanya menyimpan nomorku di sana dan memintanya untuk tidak mengganggumu,” kata Jongin santai. “Lagi pula, apa kau tidak tahu bahwa aku merasa kesal melihatmu berbicara terus dengannya?”

“Memangnya kenapa? Apa urusanmu dengannya? Dia adalah seniorku saat SMA! Aku tidak mungkin mempermalukan diriku di hadapannya. Bagaimana pun aku pernah menyukainya dan bahkan—”

Soojung terdiam, menyadari bahwa dia telah mengucapkan hal yang seharusnay tidak ia ucapkan. Jongin hanya diam tidak berkomentar. Pria itu menatap istrinya dalam-dalam, hingga perlahan wajahnya melembut, kemarahan di wajahnya pun memudar. Soojung sedikit terkejut dengan perubahan wajah itu.

“Jongin?”

“Tidak masalah,” jawab Jongin pelan. Ia menutup wajahnya dengan punggung tangan kanannya, meghalangi pandangannya agar tidak bertatapan dengan Soojung. “Aku hanya cemburu melihatmu berbicara dengannya terus-menerus. Seharusnya, aku tidak bertingkah seperti ini. Aku merasa bahwa aku kembali menjadi anak kecil.”

“Dengar, Jongin. . .”

Panggilan Soojung hampir membuat Jongin menatap Soojung lagi, namun ia berhasil menahannya. Saat ini, dia tidak bisa menunjukkan wajahnya ke arah Soojung. Ia merasa malu. Namun, Soojung dengan lembut menyingkirkan tangan itu dari wajah Jongin dan menatap wajah suaminya dalam-dalam.

“Aku minta maaf karena membuatmu cemburu. Tapi, aku merasa bahwa aku tidak sopan jika tiba-tiba meninggalkannya setelah ia menyapaku,” kata Soojung dengan suara yang lembut. “Aku hanya mencoba untuk bersikap sopan padanya. Tidak ada lagi rasa cinta untuknya, Jongin. Perasaan itu sudah hilang sejak SMA. Sekarang yang aku cintai adalah kau. Jadi kau tidak perlu khawatir.”

Jongin hanya diam, menatap mata istrinya yang berbinar.

Lantas, ia melingkarkan tangannya di sekitar leher Soojung, lalu mengecup bibri Soojung dengan lembut. Hanya sesaat, namun ciuman itu begitu hangat.

 

 

Jam menunjukkan pukul 7 malam ketika Soojung terbangun yang artinya dia telah tertidur selama satu jam lebih. Tanpa ia sadari, ia terbangun di atas tempat tidur kemudian meregangkan tubuhnya ke atas.

“Ayo, kita jalan-jalan keluar!”

“Baiklah,” jawab Jongin sambil menatap Soojung yang sepertinya bahagia.

Jongin hanya tidak mengerti alasan wanita itu tiba-tiba bersikap seperti itu. Dia tidak pernah melihat sosok Soojung yang seperti itu sejak mereka menikah. Yang ia ingat, Soojung hanya seperti itu ketika mereka masih kuliah.

Sosok Soojung yang ia kenal adalah sosok Soojung yang hangat dan penuh perhatian. Bahkan, dia tidak pernah lupa untuk mengingatkan Jongin untuk makan meski pekerjaannya belum selesai.

Pekerjaan Jongin adalah sebagai arsitektur untuk rumah-rumah besar (mansion). Banyak orang yang sudah melihat hasil pekerjaannya yang memuaskan, sampai-sampai ada salah satu Walikota Incheon memintanya untuk membuatkan sebuah rumah.

Maka dari itu, dia bisa bekerja dari rumah meskipun kadang-kadang dia pergi ke kantor untuk mengecek sesuatu yang penting. Namun, di samping itu dia lebih sering di rumah karena dia merasa dia bisa mengerjakan semuanya dengan lancar tanpa gangguan.

Sementara, Soojung yang bekerja sebagai desainer baju harus selalu datang ke kantor karena dia tidak suka bekerja di rumah. Di kantor, dia mendapatkan ruangan sendiri karena itu dia lebih suka bekerja di sana. Meskipun hubungan mereka akhir-akhir ini sudah mulai meregang, Soojung tetap sering mengingatkan suaminya untuk makan.

“Kau tidak mengganti bajumu?!” tanya Soojung kesal ketika melihat Jongin yang masih berdiri diam setelah keluar dari kamar mandi dengan kemeja putih dan celana jeans hitam.

“Aku akan menggantinya,” jawab Jongin sabar, lalu mengambil pakaiannya dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi.

Mereka melangkah keluar dari kamar hotel pada pukul setengah 8 malam. Jongin membawa jaket hitamnya untuk berjaga-jaga meskipun in sudah memasuki musim panas. Sementara itu, Soojung hanya peduli dengan liburannya dan juga pekerjaannya—ia membawa buku gambarnya.

Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah Menara Eiffel. Mereka menaiki lift di bagian utara Menara Eiffel. Ketika mencapai lantai dua pada ketinggian 115 meter, angin malam berhembus kencang membuat Soojung langsung memekik pelan. Setelah itu, mereka kembali mengganti lift menuju lantai paling atas di ketinggian 276 meter.

Angin malam yang berhembus meniup rambut Soojung ke belakang, menerpa wajah Jongin yang berdiri di belakangnya. Harum rambut Soojung yang tidak pernah berubah membuat Jongin tersenyum tipis.

Soojung yang sedang asik memotret kota Paris dari posisinya pun mengacuhkan Jongin yang berada di belakangnya. Ia sibuk dengan kamera ponselnya dan juga hasil foto yang ia dapatkan.

Lantas, Jongin melangkah ke samping Soojung dan merengkuh wanita itu dalam pelukannya. Soojung langsung terkesiap, jantungnya berdegup dengan kencang padahal hal itu adalah hal biasa yang pasti akan dilakukan oleh sepasang suami-istri. Namun, sudah lama sekali mereka tidak pernah melakukan hal tersebut karena itu Soojung langsung merasa tegang.

“Jongin-ah. . .”

“Ya?”

Soojung terdiam ketika mendengar suara Jongin. Sudah lama dia tidak pernah mendengar suara Jongin yang begitu khas. Bagaimana pun, dia sangat merindukan waktu-waktu itu. Jika bisa, dia ingin memutar waktu dan kembali ke waktu dimana mereka baru saja memulai pernikahan mereka.

Jika saja saat itu mereka tidak mengacuhkan diri mereka masing-masing karena pekerjaan, mungkin sampai saat ini mereka sudah memiliki anak berumur 2 tahun. Namun, saat ini juga belum terlambat, Soojung ingin semuanya kembali seperti sedia kala.

“Kau tahu, aku sebenarnya… Merindukan waktu di saat kita masih belum bekerja. Dimana kita masih belum sibuk dengan pekerjaan masing-masing,” tutur Soojung.

Wanita itu menolehkan wajahnya pada Jongin dan menyadari betapa dekatnya wajah mereka, sehingga membuat Soojung ingin menjauhkan wajahnya, namun Jongin menahan tubuh Soojung agar tidak menjauh darinya.

“Soojung, jangan menjauh.”

“Jangan lakukan sesuatu yang aneh atau aku akan teriak!”

“Tentu saja, aku tidak akan melakukannya.”

Jongin hanya tersenyum, lalu mendekatkan wajahya pada wajah Soojung, kemudian mengecup bibir gadis itu cepat. Wajah Soojung langsung merona setelah Jongin melakukan hal itu. Hati Soojung merasa panas saat melihat wajah Jongin yang begitu serius, namun wajah seriusnya berubah menjadi senang ketika melihat Soojung yang merona.

“Kau yakin kau ingin berteriak? Aku suamimu, jadi wajar saja aku melakukan itu.”

Soojung tidak tahu apa dia masih bisa berkata-kata karena Jongin tampaknya sangat senang melihat wajahnya yang merona. Maka, Soojung segera mengalihkan pandangannya dan kembali sibuk dengan ponselnya. Namun, Jongin pun menarik ponsel itu dari tangan Soojung dan menyimpannya di dalam saku jaketnya.

“Kembalikan ponselku!”

“Tidak sampai kau berjanji satu hal padaku.”

“Janji?” tanya Soojung bingung. “Aku tidak mau berjanji apa pun padamu.”

“Kalau begitu ponselmu tidak bisa kembali sampai liburan selesai.”

Soojung mengerang. “Oh, ayolah, Kim Jongin! Kita sudah dewasa dan tidak lucu untuk bercanda seperti ini. Lagipula aku harus berjanji apa padamu? Kita sudah menikah dan aku sudah mengucapkan janjiku di depan altar ketika kita menikah. Apa aku harus berjanji lagi padamu?”

Jongin tertawa pelan mendengar kata-kata yang meluncur dari bibir Soojung. Sudah lama dia tidak melihat Soojung yang marah-marah seperti anak kecil. Wajahnya sangat lucu ketika wanita itu marah. Maka dari itu, Jongin suka sekali menggodanya agar dia marah.

“Kau tidak perlu berjanji apa pun padaku,” jawab Jongin puas. Lalu ia mengembalikan ponsel Soojung sambil memegang pipi Soojung erat dan tersenyum lebar. “Aku hanya ingin melihatmu marah saja sudah puas. Aku senang melihatmu seperti dulu lagi.”

“Kau ini. . .”

Jongin menggerakkan ibu jarinya pada pipi Soojung dan memperhatikan wajah wanita itu dalam-dalam. Sudah lama mereka tidak pernah sedekat ini, Jongin sadar itu. Maka, ia mendekatkan wajahnya hingga membuat Soojung terkejut, namun tidak bisa melawan ketika Jongin memindahkan tangan kanannya melingkar di pinggang Soojung dan tangan kirinya yang menahan lehernya.

Ketika Soojung memejamkan kedua matanya, bibir Jongin menyentuh bibirnya dengan hangat. Sudah lama dia tidak pernah merasakan kehangatan ini. Dinding es yang membatasi mereka pun kini perlahan mulai runtuh ketika bibir Jongin melembut.

Soojung bisa merasakan detak jantung pria itu yang cepat, merasakan manisnya wine yang sempat diminum Jongin saat di hotel tadi. Soojung mengikalkan tangannya ke rambut Jongin. Rambutnya terasa halus dan rapat. Jantung Soojung berdentam-dentam, terutama saat Jongin menelan bibir Soojung.

Di saat Soojung ingin membalas ciuman Jongin, ia mendengar suara orang-orang yang mendekat. Maka, gadis itu membatalkan aksinya dan membuat Jongin pun ikut berhenti. Keduanya membuka mata mereka dan tepat saat itu beberapa orang melalui mereka, namun tidak mempedulikan mereka.

Keduanya saling bertatapan, lalu tertawa kecil.

 

fin.

5 responses to “Summer in Seoul I : Vacation

  1. hallo kak shinyoung!^^
    ilustrasi Parisnya keren banget kak! terasa nyata di imajinasi, bagaikan kakak udah pernah ke paris beneran^^
    ceritanya juga fluffy banget duh
    hmm..cuma sayangnya masih ada beberapa typo kak, maaf kalo saya agak sensitif tentang hal ini > “Ingat, jangan beritahu siapapun tentang hal ini karena aku tidak memberikan fasilitas seperti ini pada orang lain. Hanya padamu aku memberinya karena kau terlah bekerja selama 5 tahun.”
    –> “Sebentar, akan aku panggilkan tim medis bandara. Mereka akan mengantarnya ke sebuah ruangan dimaan istri Anda bisa tidur sebentar,” ujar sang pramugari.
    –> “Maksudku adalah suamimu sangat perhatian, Soojung-ssi. Tidak seperti suamiku yang tidak peduli dengan keadaanku walau aku selalu merasa kesakitan setelah seharian penuh berdiri melayani orang-rorang di pesawat.”
    –> Soojung tersenyum pahit. “Dua tahun yang lalu. Aku mau mengundangmu tapi tidak tahu alamatmu. Saat itu jgua kau sedang ambil ujian jadi aku tidak mau
    –> Lantas, ia melingkarkan tangannya di sekitar leher Soojung, lalu mengecup bibri Soojung dengan lembut. Hanya sesaat, namun ciuman itu begitu hangat.

    cukup segitu aja kak, keep writting ya! ditunggu lanjutannya! ^^

    • Haloo. Aku seneng banget deh sama reader kayak kamu hehehe. Aduhh, itu sebenernya aku cuma mengandalkan Google untuk ilustrasi Paris-nya :’) Aamiin, semoga aku bisa ke sana beneran deeh.

      Makasih banyak yaa untuk komentarnya dan kritik-sarannya. Iyaa, bener banget kok kamu. Aku itu sering banget typo karena aku kalau ngetik emang cepet dan kadang-kadang suka gak ngecek ulang. Lain kali, aku bakalan ngecek lagi kook!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s