Untold Love

IMG_20160814_223107

Credit Pic: @kawaaipanda

Twelveblossom  (twelveblossom.wordpress.com | Do Kyungsoo & Kim Jisoo (OC) | PG 15 | Friendship & Romance

“You should’ve took that chance.” ―Goodbye Summer, D.O feat F(x)

-oOo-

Kim Jisoo ialah gadis berpahwakan kecil, memiliki surai hitam sepunggung yang biasa digerai begitu saja, dan berparas rupawan tanpa harus memoles gincu di bibir. Kini jari-jarinya yang lentik sedang membawa semangkuk bubur hangat. Kaki gadis berusia dua puluh tahun itu mengayun menuju kubik apartemen yang hanya berselisih dua pintu dari miliknya. Itu memang bukan apartemen punyanya, namun Jisoo sudah biasa keluar-masuk sesuka hati. Ia menekan kombinasi nomor yang menjadi kata kunci dari tempat tinggal sahabat karibnya, Do Kyungsoo.

Biasanya, Jisoo disambut Kyungsoo yang tersenyum lebar padanya, sembari mengucapkan betapa beruntung dirinya memiliki sahabat sebaik si gadis. Akan tetapi, kali ini berbeda, Kyungsoo justru menyuguhkan pemandangan yang membuat Jisoo hampir memecahkan mangkuk bubur bawaannya.

Kyungsoo sedang berciuman dengan seorang gadis. Walaupun, mereka langsung memisahkan diri, saat mendengar pintu apartemen terbuka, tapi Jisoo tetap bisa melihat. Jisoo membeku di tempat. Selang, beberapa sekon hening, gadis itu mendapatkan kesadaran.

“Maaf, aku kira kau sedang sakit. Aku tidak bermaksud―” Jisoo menghela napas, lalu melanjutkan, “Oke, ini bubur untukmu. Aku pergi dulu. Bye Soo. Bye Olivia.” Jisoo menyelesaikan kalimatnya. Ia meletakkan bubur buatannya di nakas, kemudian berbalik dengan canggung. Cepat-cepat Jisoo kembali ke apartemennya. Bahkan Jisoo tidak menengok lagi, saat Kyungsoo memanggil dan memintanya untuk tinggal.

Gadis yang mengenakan terusan selutut bewarna biru itu linglung, seakan apa yang tadi ditangkap oleh netranya adalah bagian dari ilusi. Jisoo segera menuju dapur, kemudian meminum satu gelas penuh air putih. Setelah, keterkejutannya menghilang seratus persen, paras Jisoo berubah cemberut. Hati gadis itu merutuk serta mengumpat.

“Kyungsoo memintaku tinggal. Apa dia gila? Apa dia kira aku mau melihat mereka berciuman?” omel Jisoo, pada gelas beruang yang berada di meja makan. Dia hendak meluncurkan kekesalannya lagi, akan tetapi terdistraksi dengan bunyi terbukanya pintu apartemen.

“Kim Jisoo, kenapa lari?” tanya Kyungsoo, sambil duduk di sofa milik Jisoo. Pemuda itu menyalakan televisi. Ia menggeser diri, ketika Jisoo ikut duduk di sebelahnya.

“Aku tidak lari,” ujar Jisoo, sambil mendengus. Jisoo meletakkan telapak tangannya di kening Kyungsoo, gadis itu memeriksa suhu tubuh kawannya. “Kau masih demam,” simpul Jisoo.

Kyungsoo mengangguk.

“Dan kau nekat berciuman dengan Olivia Park.”

Kyungsoo mengangguk lagi. Pemuda berkemeja itu merebahkan kepala di bahu Jisoo.

“Dia bisa tertular flu, tapi bagus aku suka melihat Olivia sakit,” gumam si gadis, ia membelai surai hitam Kyungsoo.

“Kau jahat sekali padanya,” balas Kyungsoo, setengah mengantuk.

“Itu tidak seberapa, kadang aku ingin melihatnya tertabrak buldoser atau semacamnya―”

“―Kau tidak sejahat itu, Sweet Lady,” potong Kyungsoo. Ia menegakkan tubuh, kini manik Kyungsoo menatap lawan bicaranya dengan pandangan awas.

Jisoo tertawa mengejek. “Kenapa? Gadis itu pantas mendapatkannya, dia itu penjilat. Olivia bahkan mempermainkan banyak orang dan―”

“―Cukup, Kim Jisoo.” Sekali lagi Kyungsoo menyela perkataan sahabatnya.

“Apa karena kau sekarang berkencan dengannya, aku jadi tidak boleh mengolok gadis sialan itu?”

“Bukan, Jisoo. Hanya saja kau terlalu baik untuk berkata kasar seperti tadi,” jelas Kyungsoo. Sang pemuda berusaha menghiburnya, ia meraih jemari Jisoo, namun segera ditepis oleh si gadis.

“Kau tahu ceritanya. Kau tahu benar bagaimana dia memperlakukanku di kampus. Aku menceritakan padamu tentang semua perbuatannya padaku. Dia merebut proyek yang seharusnya menjadi milikku. Olivia, sengaja mendekati Chanyeol, saat aku dan Chanyeol mulai berkencan. Dia murahan!” Seru Jisoo dalam satu tarikan napas. Ia memberikan tatapan terluka pada Kyungsoo. “Dan yang paling buruk dari semuanya, sekarang kau malah menjadi kekasihnya,” imbuh Jisoo, murka.

Kyungsoo memijat pelipis. Ia bediri dari sofa. “Aku pulang saja. Kau marah tanpa alasan, lebih baik kau menenangkan diri,” kata pemuda itu berusaha mengendalikan emosi.

“Bela saja dia. Dulu kau berpura-pura menjadi temanku dan ikut membencinya. Sekarang, setelah semuanya terbuka, kau membelanya. Kau licik sekali Do Kyungsoo―”

“―Aku ikut membencinya karena tidak ingin melihatmu semakin sedih, Jisoo. Tetapi, jika itu yang membuatmu berpikir aku licik. Aku akan menjelaskan, apa yang sebenarnya kupikirkan.” Raut Kyungsoo memerah karena marah, mendengar ungkapan Jisoo. “Kesalahan bukan ada pada Liv. Kau tidak pernah mengenal dirimu sendiri, Kim Jisoo. Mengenai proyek itu, kalian memang memiliki kesempatan yang sama, tetapi dirimu tidak mengambil kesempatan itu. Kau malah tidak hadir ketika Profesor Hwang memilihmu. Kedua Chanyeol. Kau tidak benar-benar menyukainya, beberapa kali dirimu menolak. Kau justru sengaja membuat Chanyeol dan Olivia berdua dan melewatkan kesempatan untuk bersamanya. Sebenarnya, bukan Liv yang merebut semuanya darimu, justru kau sendiri yang membuatnya seperti itu.”

“Proyek dan Chanyeol bukanlah hal yang penting. Aku hanya tidak rela kau bersama Olivia. Hatiku bilang itu tidak benar―”

“―Ketiga tentang diriku, kau bahkan tak menganggap aku lebih dari sekedar teman. Bukan hakmu untuk mengatur siapa yang menjadi kekasihku. Itu benar-benar bukan urusanmu, Kim Jisoo,” cecar Kyungsoo. Ia menegaskan suaranya dalam kalimat terakhir.

“Kau sekarang bukan sahabatku lagi,” bentak Jisoo, ketika Kyungsoo menyelesaikan ucapannya. Gadis itu menangis. Ia berjalan tergesa menuju kamarnya, kemudian membanting pintu.

Kyungsoo menghela napas berat. Ia juga berduka, membuat Jisoo menangis sama saja melukai dirinya sendiri. “Aku sudah lama tidak ingin menjadi sahabatmu, Kim Jisoo,” ujar pemuda itu. Ia mengelus pintu kamar Jisoo, lalu beranjak meninggalkan apartemen sahabatnya, sekaligus gadis yang dicintainya.

-oOo-

a/n:

Cerita yang lain dapat dibaca di Track List. Terima kasih sudah membaca!~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s