Beautiful Spring [Oneshoot]

Untitled-3 eunha copy

 

Title : Beautiful Spring

Author : Oh Honey

Genre : Romance

Cast : Joen Jungkook/Jungkook BTS – Jung Eunbi/Eunha G-FRIEND

Author’s Note : Author balik lagi dengan oneshoot, kali ini castnya bukan kyuhyun tapi jungkook and eunha. Maaf kalau ceritanya gak jelas dan penulisannya masih berantakan tapi ff ini adalah murni dari imajinasi author. So , jangan lupa RCL ya🙂

Reader yang baik adalah yang meninggalkan jejak setelah membaca

HAPPY READING ALL🙂

kyunbihoney.wordpress.com

 

Nyanyian burung gereja yang mengalun indah di sepanjang jalan, mekarnya bunga daisy di pinggir jalan dan cerahnya matahari pagi sepertinya harus ternodai dengan omelan dari seorang gadis berparas cantik yang memiliki rambut panjang bergelombang berwarna coklat dan sepasang mata hazel. Dia adalah jung eunbi.

Jung eunbi bukan mengomel pada Tuhan karena menciptakan semua keindahan itu, tapi dia mengomel pada dirinya sendiri yang telah menciptakan sejuta kecerobohan pagi ini. Ini adalah pagi yang sangat penting tapi dia harus terlambat bangun dan beginilah keadaanya sekarang, berlari dengan sekuat tenaga untuk sampai di halte bus. Tidak jarang dia menabrak pejalan kaki yang lain, sesekali dia membungkukkan badannya meminta maaf. Kecerobohannya tidak sampai disitu, dia baru menyadari kalau ponselnya tertinggal di apartement saat dia sudah menaiki bus yang akan memabawanya ketempat kerja.

Bagaimana bisa seorang pegawai negeri bisa seceroboh dia.

***

Sebuah pintu kayu telah ada di depan mata eunbi, dia menarik nafas dalam dalam menatap pintu itu takut. Dalam hati dia berdoa semoga pertemuannya belum dimulai. Yah, hari ini dia ada pertemuan penting, sangat penting malah, karena pertemuan itu dihadiri oleh menteri kebudayaan negeri ini. Mengingat semua itu membuat dia mengdengus frustasi.

Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang sangat buruk baginya, bagaimana tidak saat ini jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi dan itu berarti pertemuanya telah berlansung 1 jam lalu. Benar benar bodoh. Bagaimana bisa dia melewatkan hal sepenting itu. Apakah dia ingin diberhentikan langsung oleh sang menteri atau dia ingin ditendang keluar ruangan oleh atasannya?.

Dengan penuh rasa takut dan khawatir dia memasuki ruang pertemuan, sedikit merendahkan tubuhnya agar tidak diketahui oleh atasannya. Tapi sepertinya nasib baik benar benar tidak ingin memihak kepadanya saat ini. Dengan rasa malu yang dia punya eunbi meneggakkan kembali tubuhnya dan berusaha memperbaiki pakaiannya saat ekor matanya menangkap tatapan tajam yang bisa membunuhnya. Tatapan dari Park Junsu. Seorang laki laki tua dengan kumis tebal dan rambut botak serta perut yang sedikit membucit. Dia adalah kepala bagian di kementerian pariwisata, tempatnya bekerja.

“maaf, saya terlambat.” Ucap jung eunbi penuh rasa penyesalan.

***

Langit telah berubah warna menjadi gelap saat eunbi melangkahkan kakinya keluar dari gedung bertingkat tempatnya bekerja.

Dia menengadahkan wajahnya ke langit, berusaha untuk menemukkan sedikit ketenangan disana. Tapi sepertinya langit juga enggan untuk memberikan ketenengannya malam ini. Padahal cara seperti ini biasanya sangat ampuh untuk menenangkan pikirannya yang sangat kacau.

Dengan malas dia menggiring langkah kakinya meninggalkan gedung itu. Saat ini dia ingin segera sampai di apartement kecilnya untuk menikmati secangkir teh hijau dan sekotak coklat. Membayangkan semua itu membuat eunbi sedikit merasa tenang dan mengembangkan senyumnya.

Bus yang membawanya pulang sudah berjalan perlahan meninggalkan halte bus. Tapi entah kenapa tiba tiba berhenti, mungkin ada seseorang yang memberhentikannya mengingat ini masih sangat dekat dengan halte. Entahlah eunbi tidak ingin membebani pikirannya dengan hal hal yang tidak penting seperti ini. Baginya hari ini sudah sangat membebani pikirannya. Dia harus merelakan dirinya diceramahi habis habisan oleh atasannya, ‘park junsu’.

Apakah pak tua itu tidak tahu bagaimana dia harus berlari untuk sampai dikantor, bahkan rasanya jantungnya akan copot karena berdetak terlalu cepat. Dan juga, apakah dia tidak tahu bagaimana eunbi merelakan dirinya untuk tidak menikmati sepotong sandwich yang menjadi menu sarapan favoritnya dan jangan lupakan betapa cepatnya dia mandi, bisa dibilang itu adalah mandi tercepat yang pernah dia lakukan selama hidupnya.

Eunbi menyandarkan kepalanya dijendela bus mencoba memperhatikan setiap lampu jalan yang dia lewati, memperhatikan jejeran toko kue yang nampak masih sangat ramai. Manisnya kue kue yang berjejer rapi di dalam etalase membuat perutnya tiba tiba berbunyi. Sepertinya puluhan kue warna warni itu memanggilnya untuk datang mencicipi barang satu potong saja.

“jung eunbi.”

Suara bass itu menginterupsi eunbi dari lamunan gilanya. Memalingkan mukanya menatap pria pemilik suara itu, matanya nampak mengerjap beberapa kali saat dia sadar siapa yang duduk disebelahnya.

“jeon jungkook?” masih dengan keterkejutannya.

Laki laki berhidung mancung dengan kulit seputih susu dan senyuman yang…dia tidak bisa mendeskripsikannya. Laki laki yang lima tahun lalu berhasil membuat hatinya bergetar. Dia baru menyadari bahwa laki laki ini yang menghentikan bus beberapa menit yang lalu. Jatungnya tiba tiba berdetak lebih cepat bahkan lebih cepat dari saat dia ikut lomba lari. Eunbi berharap laki laki disampingnya ini tidak mendengar betapa cepatnya detak jantungnya saat ini.

“lama tidak berjumpa, kau baru pulang kerja?” dia tersenyum ramah ke arah eunbi, menampakkan deretan giginya yang berjejer rapi.

“iy- iya, kau sendiri?” jawabnya gugup

“sama sepertimu.”

Obrolan panjang mengiringi perjalanan mereka, eunbi melupakan semua keinginanya untuk segera sampai di apartementnya, dia ingin lebih lama menghabiskan waktu bersama jungkook. Dan sekarang dia menyadari kalau harinya tidaklah terlalu buruk, perjalanan pulangnya menjadi penutup yang manis untuk harinya yang panjang dan melelahkan.

“apakah aku bisa meminta nomor teleponmu?” tanya jungkook malu malu

“ne? Ah tentu saja.”

Eunbi merogoh tas selempangnya mencari benda persegi yang memiliki bandul bunga matahari kesayangannya. Sedetik kemudian dia menepuk jidatnya pelan

“ah, aku baru ingat aku meninggalkan ponselku di apartment dan aku tidak hapal dengan nomorku.”

“tulislah nomormu disini, nanti akan aku hubungi.” lanjutnya. note bermotif bunga matahari menjadi penyelamat untuknya. Setidaknya dia masih bisa meminta nomer ponsel jungkook.

***

Lilitan handuk masih setia membungkus rambutnya yang basah, seperti tidak mempedulikan hal itu dia langsung menyambar tas selempang yang tergeletak dikasur berukuran sedang miliknya. Mengambil sebuah note dan membuka halaman terakhirnnya. Nampak sebuah deretan angka yang berjejer indah disana. Itu adalah nomor jeon jungkook. Mengingat nama jungkook membuat eunbi terbang ke dalam kenangannya lima tahun silam. Saat dia masih SMA dan jungkook adalah teman seangkatannya. Sayang mereka tidak pernah satu kelas. Eunbi remaja sangat mengangumi sosok jungkook yang ramah dan juga pintar. Beberapa kali mereka sempat mengobrol, hanya obrolan ringan antar semasam teman. Ya, kedekatannya dan jungkook hanya sebatas itu. Tidak ada keberandian lebih dalam dari diri eunbi untuk menyatakan kekaguman dan ketertarikkannya pada jungkook. Lebih tepatnya dia menekan semua perasaan itu. Dia hanya wanita yang takut untuk di tolak dan lebih menunggu laki laki itu dulu yang menyatakan perasaannya. Rasa yang terlalu memuja jungkook itu kembali muncul lagi mengusik ketenangan hati dan pikirannya.

 

Dengan cekatan eunbi memindahkan nomor itu kedalam handphonenya.

“apakah aku harus menghubunginya sekarang?”

“tidak, itu terlalu cepat.”

“apakah aku harus menghubunginya besok?.”

“tidak, itu terlalu lama.”

Dia menimbang nimbang ponselnya bingung dan terus berbicara kepada dirinya sendiri. Seakan ini adalah pilihan hidup atau mati. Dia tidak bisa memutuskan dalam satu tarikan nafas saja. Benar benar pilihan yang sulit.

 

Jari lentiknya menggeser tombol hijau disana, meletakkan ponselnya mendekati gendang telinga.

1 nada…

2 nada..

eunbi menggigit bibir bawahnya panik.

3 nada..

“yoboseyo.” Suara diseberang mampu membuat eunbi sejenak melupakan cara bernafas. Ini adalah pertama kalinya mereka bicara ditelepon sejak mereka saling mengenal.

“aku, jung eunbi.?”

“iya aku tahu”

“Apa aku menganggu malammu.?”

“sama sekali tidak.”

“benarkah?, aku lega mendengarnya.”

Malam ini sepertinya mereka berdua tidak akan tidur karena pembicaraan ditelepon itu masih berlanjut sampai larut malam. Bahkan eunbi sampai melupakan untuk mengisi perutnya dengan hidangan makan malam.

***

Seakan menunggu matahari terbit dari barat jung jungkook berjalan kesana kemari gelisah, berharap ada nada dering diponselnya.

Ding !!

Hampir saja dia terjungkal karena buru buru menggambil ponselnya. Rawut kesal nampak diwajah tampannya, sepertinya itu bukan pesan yang dia tunggu tunggu.

“dasar spam” rutuknya, dengan kesal dia melempar ponselnya ke sofa dan meduduknya dirinya.

“kenapa dia belum menghubungiku? Apa aku salah memberinya nomor?”

“aku rasa tidak, apakah dia sudah tidur?”

“sepertinya begitu.”

jungkook menjawab sendiri semua pertanyaan yang dia lontarkan. Benar benar tidak jelas.

Sepertinya menunggu pesan dari eunbi membuatnya sedikit gila, tidak- tapi benar benar gila.

 

Suara dering ponsel tanda panggilan masuk terdengar cukup keras. Dengan penuh semangat dia mengambil ponsel tak berdosa yang dilemparnya tadi.

“apakah ini dari eunbi.?” Beberapa detik jungkook hanya menatap ponsel itu gugup. Sadar dengan kebodohannya dia buru buru menggeser tombol hijau sebelum panggilan itu terputus.

“yobeseyo?” jungkook membuat nada setenang mungkin.

“aku, eunbi.”

KYAAAA,, jungkook ingin bersorak dan berteriak sekencang kencangnya. Beruntunglah akal sehatnya masih bekerja, dia tidak akan melakukan hal sekonyol itu.

“iya aku tahu.”

“apa aku mengganggu malammu?”

“sama sekali tidak.” Dengan cepat jungkook mengatakan itu seolah kalau dia terlambat mengatakannya barang satu detik saja telepon itu akan terputus.

“benarkah?, aku lega mendengarnya.”

***

Nyanyian burung gereja pagi ini menurut eunbi terdengar jauh lebih indah dari biasanya seperti alunan musik klasik yang menenangkan hati. Bunga bunga daisy yang berjajar dipinggir jalan seperti iringan para pengantin. Cantik.

“selamat pagi tuan park” sapa eunbi ramah sambil memamerkan deretan gigi putihnya saat dia berpapasan dengan atasannya.

“eunbi ah, apa ini benar kau.?”

“tentu saja pak, apa ada yang aneh.” Jawab eunbi innoncent.

“tidak, pergilah.” Tuan park mengibas ngibaskan tangannya kearah eunbi.

“ada apa dengannya, tidak biasanya dia datang sepagi ini. apakah perkataanku padanya kemarin terlalu kasar sehingga dia berubah seperti ini?. atau kepalanya telah terbentur sesuatu sehingga melupakan kebiasaan buruknya?.” Tuan park bergumam sendiri, beruntung kantor masih sangat sepi kalau tidak dia akan dikira tidak waras.

 

Pekerjaan dikantor cukup banyak, tapi semua itu tidak membuat eunbi mengeluh seperti biasanya. Ada satu rahasia kenapa dia tidak mengeluarkan kata kata kasarnya pada tumpukan kertas tak berdosa dihadapannya. Rahasia itu adalah karena dia sibuk bertukar pesan dengan jungkook sejak tadi pagi. Nampaknya kedatangan jungkook merupakan anugerah terhebat bagi eunbi.

Ding !!

Apakah pekerjaanmu sangat banyak?

Begitulah, atasanku tidak akan pernah hidup tenang jika tidak memberiku pekerjaan yang banyak.

Ding !!

Apa kau ingin aku memberikan satu pukulan untuk atasanmu?

Apa kau sudah gila?

Ding !!

Sepertinya begitu, kekekeke

eunbi tersenyum bodoh membaca teks yang dikirim jungkook, ponselnya kembali berbunyi sebelum dia sempat membalas pesannya.

Ding !!

Aku gila karena terlalu memikirkanmu

Eunbi menggaruk garuk meja kerjanya saat dia membaca pesannya persis seperti seekor kucing. Dan tersenyum bodoh, lebih bodoh dan lebih gila dari yang tadi.

***

Seperti biasa eunbi akan pulang dari kantornya saat matahari telah hilang tak berbekas. Rasa capek yang bersandar dipundaknya tak terelakkan lagi. dia berjalan dengan malas, sesekali dia memperhatikan deretan toko pernak pernik. Tepat diujung jalan seorang laki laki yang memakai setelan kantornya telah berdiri dengan gagah memasukkan satu tangannya kedalam saku celana panjangnya. Senyumnya langsung mengembang, menyadari siapa laki laki itu.

“kenapa seorang pegawai negeri pulang selarut ini?”

“aku adalah pegawai negeri kebanggaan negeri ini makanya aku pulang selarut ini.”

Jungkook tertawa renyah mendengar jawaban eunbi.

“ayo kita pulang”.

Eunbi hanya mengangguk dan mengikuti langkah jungkook, sesekali mereka saling melempar candaan.

***

“bettie anyyeong..!!”

Seekor anjing pudel berwarna putih langsung berlari menghampiri eunbi, mengendus endus kaki eunbi berharap pemiliknya akan memberikan sepotong tulang yang sangat lezat atau sekedar mengelus bulu halusnya.

“apa kau memelihara seekor anjing?”

“ya, dia sangat menggemaskan.” Jawab eunbi dengan terus berjalan kearah dapur bermaksud untuk mencari sebotol soda.

“ini, hanya ada ini dikulkas.” Eunbi menyerahkan sebotol soda ke jungkook.

“terima kasih.”

Suasana menjadi hening sejenak, bingung harus membicarakan apa lagi.

“apa kau tidak ingin menikahkan anjingmu?”

Gelak tawa terdengar memenuhi seisi ruangan, pertanyaan gila apa ini. eunbi sendiri saja belum menikah jadi kenapa dia harus pusing mencari pasangan untuk bettie sementara dirinya belum mendapat pasangan.

“aku punya seekor anjing laki laki”

“Heh.” Wajah eunbi berubah menjadi bingung. Dia sama sekali tidak menangkap apa maksud dari jungkook.

“bagaimana kalau kita menikahkan mereka?”

“apa kau bercanda?”

“apa ini terlihat lucu?.” Tanya jungkook innoncent.

“apa kau ingin membuat anjing kesayanganku menderita karena harus berpisah dengan suaminya setelah mereka menikah?.”

“mereka bisa tinggal bersama kita.”

“kita?”

“ya kita, aku, kau dan dua anjing kita.”

Serasa terkena sengatan listrik dengan berjuta juta volt, jantung eunbi berdetak hebat. Bibirnya pun terasa keluh, tidak bisa berkata apa apa lagi. pikirannya bingung mencerna perkataan jungkook, apakah ini serius atau hanya sebuah gombalan murahan?. Eunbi benar benar tidak bisa membedakannya.

***

Sudah menjadi rutinitas jungkook setdiap malamnya untuk menunggu eunbi di ujung jalan. Dan perlakuan jungkook itu mampu membuat eunbi merasa teristimewahkan. Rasanya baru kali ini ada laki laki yang memperlakukan dirinya sebaik ini. kalau dulu dia selalu merasa lelah saat perjalan pulang saat ini eunbi malah merasa sangat bahagia saat pulang, karena dia tahu ada seseorang yang menunggunya diujung jalan. Seseorang yang mampu membuat hatinya bergetar setdiap dia melihat matanya. Seseorang yang mampu membuat jantungnya berdetak tak karuan saat dia melihat senyumnya. Seseorang yang mampu membuat dia sejenak lupa cara bernafas saat laki laki itu menggenggam tangannya.

“maaf aku sedikit terlambat, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan.” Kata eunbi penuh penyesalan. Hari ini memang si tua park memberikannya banyak pekerjaan, sepertinya dia memang harus kena satu pukulan agar tidak seenaknya memberikan dia pekerjaan.

“tidak apa, apa kau ingin kita mampir ke restoran bdiasanya?”

“sepertinya ide bagus.” Eunbi memamerkan dereta gigi putihnya.

 

At restaurant

Suara berisik memenuhi seiisi restaurant membuat eunbi dan jungkook menghentikan aktifitas makan mereka. Terlihat begitu banyak orang didepan restaurant, sesorang laki laki berperawakan tinggi keluar dari kerumunan itu. Dia nampak membawa seikat bunga mawar merah dan berjalan kearah seorang wanita yang sedang duduk sendiri didalam restaurant. Suasana tiba tiba menjadi sangat romantis saat sebuah lagu klasik terdengar menggema didalam restaurant. Pengunjung yang lainpun menghentikan aktifitas makan mereka dan memilih untuk memperhatikan apa yang sebenarnya terjadi. Diiringi lagu yang masih terus berputar dengan indah laki laki itu berlutut didepan wanita itu, dia menyerahkan seikat bunga mawar itu dan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam saku jasnya.

eunbi membulatkan matanya saat melihat sebuah benda kecil bundar yang bertahtahkan berlian dari dalam kotak kecil itu.

“Jadi dia sedang melamar kekasihnya.”

“sepertinya begitu.” Jawab jungkook sekenannya.

“ah, romantis sekali. Membuat iri.” Suara eunbi terdengar lirih tapi masih tetap bisa ditangkap oleh gendang telinga jungkook.

 

Suasana kembali riuh saat kerumunan orang itu meneriakan nama seseorang yang sepertinya itu adalah nama wanita itu. Dan mengangkat sebuah papan bertuliskan ‘will you marry me’.

Eunbi rasa semua wanita didunia ini akan langsung menerima lamaran laki laki itu. Siapa yang tidak terkesan saat dia dilamar didepan semua orang apalagi didepan semua teman temannya. Benar benar romantis.

***

Jungkook masih setiap mengenggam tangan eunbi saat mereka berjalan menuju apartment eunbi. Musim semi sepertinya sudah mulai datang, nampak dari banyaknya bunga sakura yang bermekaran disepanjang jalan. Udara disekitarpun juga terasa lebih hangat dari biasanya.

Jungkook menghentikan langkahnya tiba tiba membuat eunbi menolehkan wajahnya kearahnya dan menatapnya bingung.

“eunbi ah,”

“em?”

“ada yang ingin aku katakan.”

“katakanlah.”

“apa kau ingat saat aku bertanya padamu, apa kau tidak ingin menikahkan ajingmu?”

Eunbi hanya mengangguk menjawab pertanyaan jungkook.

“aku benar benar serius dengan itu, maksudku aku ingin kita benar benar tinggal bersama, menikmati setiap hari bersama tanpa ada yang terlewatkan.”

Eunbi hanya mematung sepertinya otaknya belum sepenuhnya paham dengan maksud jungkook. Dia memang tipe wanita dengan tingkat kepekaan yang rendah, apalagi berhubungan dengan hal semacam ini.

Ditemani dengan jatuhnya kelopak bunga sakura yang ada didekat mereka, jungkook berlutut dihadapan eunbi meraih tangan wanitanya. Menatap tepat pada manik mata eunbi.

“eunbi ah, mungkin ini tidak seromantis dengan yang direstaurant tadi, tidak setampan laki laki tadi dan tidak seberani laki laki tadi yang melamar kekasihnya didepan semua orang tapi aku bersumpah aku benar benar tulus menyanyangimu. Aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu tapi aku janji akan selalu mencintaimu seperti saat ini.”

Air mata eunbi seolah tak terbendung lagi. dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya saat ini. laki laki yang bahkan tidak berstatus sebagai kekasihnya sekarang melamarnya ditengah hujan bunga sakura.

“eunbi ah, will you marry me?.”

Dengan air mata yang mengalir deras eunbi mengangguk, mengiyakan pertanyaan jungkook.

Sebuah benda kecil bundar jungkook keluarkan dari dalam saku jasnya dan memasangkannya pada jari manis eunbi. Cincin itu mungkin tidak seindah dan semahal cincin laki laki direstaurant tadi tapi cincin itu terlihat jauh lebih bersinar menurut eunbi.

apakah menurut kalian ini terlalu cepat?

tentu saja tidak, karena mereka telah saling mencintai sejak lama dan juga tidak ada kata terlalu cepat maupun terlambat bagi kata cinta karena tidak ada yang tau kapan peri cinta akan melepaskan panah cintanya pada hati kita.

THE END

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s