Rompecorazones #8

rompecorazones

Taeyong, Nayoung, others.

by Cca Tury

Previous: [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7]

“Aku tidak suka beromong kosong mengumbar ucapan cinta yang sia-sia.” -Lee Taeyong-

 

“Jangan mengabaikanku!”

Wajah dengan tatapan tajam itu menusuk tepat pada wajah merona milik Lim Nayoung. Gadis itu menelan ludahnya untuk berusaha menyamarkan raut gugupnya karena wajah teman masa kecilnya sudah tidak berjarak lagi dengan miliknya. Apalagi ketika wajah itu semakin merapat dengan wajahnya, Nayoung menutup matanya. Dia menyerah begitu saja ketika kecupan ringan singgah mematuk bibirnya.

Suara cegukan yang kemudian timbul karena mendadak terperanjat. Insiden seperti ini tidak pernah diduga akan terjadi antara dirinya dan Lee Taeyong.

“Sudah kukatakan untuk tidak mengabaikanku jika tidak ingin mendapat akibatnya.” Kalimat itulah yang lantas membuat Nayoung mendelik menatap wajah Taeyong yang masih begitu dekat setelah kecupan tadi. Jika boleh mengaku, dia sedang bergetar sekarang. Hal yang seperti ini benar-benar sedikit pun tidak pernah melintas di pikirannya.

Barangkali tiga menit terlewati, karena setelah saling bersirobok tajam, Nayoung mendorong kasar tubuh Taeyong hingga lelaki itu tersungkur jatuh di lantai. “Bodoh!” umpat Nayoung. Dia lalu beranjak dari duduknya dan terburu-buru melangkah, berusaha melarikan diri.

Tapi, sia-sia karena Taeyong mengejarnya lantas menahan pintu kamar yang akan dibuka, membuatnya terpaksa menghentikan langkah. Kembali tatapan mereka beradu,

“Apa kau tidak mengerti dengan kata JANGAN MENGABAIKANKU?!” Suara yang dibuat Taeyong terdengar lantang.

“Lalu aku harus bagaimana?!” Nayoung membalas, tentunya dengan suara yang tidak kalah dengan milik Taeyong. Semoga saja ibu di bawah sana tidak curiga dengan mereka. “Aku harus bagaimana, Lee Taeyong?” Nayoung mendesah kesal setelah berucap, menguatkan diri agar tidak rapuh ataupun terbawa perasaan. Dia tidak perlu seperti di drama-drama yang pemeran utama wanitanya harus berkaca-kaca lalu menangis dengan keadaan seperti ini.

“Kau bilang jangan tersenyum pada orang lain. Kau bilang jangan sentuh orang lain, tapi kau sendiri—“ Ucapan Nayoung terhenti sejenak, kemudian kembali berucap setelah menelan ludahnya, “—kau sendiri tersenyum dengannya, kau bahkan membelai rambutnya!” Agak lantang terdengar suara Nayoung di akhir kalimatnya.

“Oh, jadi kau pikir aku gampangan? Sehingga kau bisa mempermainkanku dan lalu kau bermain dengan gadis lain?” Nayoung tidak mengizinkan sedikit pun Taeyong memberikan penjelasannya.

“Kumohon, jangan membuat orang menjadi bingung, Lee Taeyong.” Nayoung mengatup tangannya, lalu kemudian membuka pintu kamar untuk segera keluar dari sana meninggalkan Taeyong yang tak berkesempatan untuk menjawab, Nayoung tidak peduli.

***

“Bertengkar?”

Seperti itu komentar ibu sejurus dengan Taeyong yang memasuki ruang makan. Ibu sedang menata meja makan dengan hidangan makan malam ketika kepala Taeyong mengangguk dan menarik kursi makan untuk duduk.

“Sejak ayah meninggal, hanya di saat ia sangat sedih, Nayoung akan berlama-lama di ruang kerja milik ayah itu.” Ibu ikut duduk untuk menyantap makanannya.

“Dia salah paham, Bu,” ucap Taeyong.

“Ibu tidak tahu apa yang terjadi dengan kalian, tapi ibu rasa, bertengkar bukan hal yang baik. Kalian sudah besar, kalian bisa menyelesaikan masalah dengan cara lain.” Ibu lalu menelan makanannya dan kemudian melanjutkan ucapannya, “Ibu hanya tak ingin kalian berpisah, tidak, ibu tidak berharap dengan sangat kalian terus bersama, karena mungkin nantinya kau punya pilihan lain. Tapi, kau sendiri tahu bagaimana kau dengan Nayoung selama ini, ibu tak ingin kalian merusaknya.“

“Begitu kan, Bu?” Taeyong membalas  kalimat ibu dengan senyum sendu. “Aku bahkan terlalu kecil dan tidak memiliki apa pun untuk mengatakan perasaanku yang sebenarnya. Lihat-lah? Kami hanya anak sekolah menengah. Kenapa harus terburu-buru dengan kalimat cinta?” Taeyong melirik sekilas, ibu menghela nafasnya ringan dengan senyum tipis lantas lagi-lagi menelan makanannya.

“Aku tidak ingin main-main dengan cinta-cintaan anak SMA, aku hanya ingin hal yang serius dengan Nayoung.” Taeyong meneguk air minumnya, “Tapi Nayoung, sepertinya terlalu sulit untuk percaya denganku,” tambahnya lagi lalu menelan sesendok hidangan makan malam ke mulutnya.

“Mungkin aku yang terlalu egois, Bu.”

Suasana hening setelahnya, yang terdengar hanya denting sendok dan sumpit yang kadang menabrak mangkuk nasi. Ibu masih tersenyum tipis dan tidak bermaksud merespon ucapan Taeyong. Ibu mungkin sudah terlalu tua untuk ikut campur dengan hal-hal semacam ini.

***

“Hei, sedang apa?”

Nayoung mendekati pintu masuk ruangan ayah ketika suara Taeyong terdengar bersamaan dengan tiga kali ketukan pintu di balik sana. Ragu sekali tangan Nayoung meraih gagang pintu untuk membukakan pintu.

“Tidak perlu kau buka jika tak ingin membukanya untukku.”

Nayoung menggigit bibir, menyandarkan punggungnya pada pintu masuk ruangan ayah. Dia yakin Taeyong di luar sana pun ikut menyandarkan punggung bahkan terduduk di depan pintu ruangan ayah.

“Hei, apa kau ingat ketika kau berulang tahun yang ke tujuh,” tanya Taeyong dari luar sana. Nayoung tidak menjawab sama sekali, dia menarik tubuhnya untuk duduk dengan punggung tetap bersandar pada pintu ruangan ayah. “Waktu itu aku ingat sekali ketika ibuku bertanya tentang permintaanmu sebelum meniup lilin di atas kue ulang tahunmu.”

Nayoung meremas ujung rok yang dikenakannya, ingatannya kembali melayang ke masa-masa saat dia masih bisa melihat dengan jelas rentetan gigi bersinar milik Taeyong yang menemani senyum indahnya. Saat itu Taeyong yang hanya setinggi pinggul ayahnya, menggunakan tuxedo biru kesukaan dengan dasi kupu-kupu di lehernya, mirip sekali dengan penampilan karakter anime kesukaan Taeyong, Edogawa Conan. Nayoung juga masi ingat bagaimana jawaban untuk pertanyaan ibu Taeyong saat itu.

“Kau, waktu itu menjawab dengan lantang—“

Aku ingin menjadi istri Taeyong!

Nayoung menutup matanya bahkan menutup telinga dengan kedua tangan, mengingat kembali ucapan konyolnya saat berumur tepat tujuh tahun. Jika boleh diakui, dia malu sekali mengingatnya.

Nayoung yakin Taeyong di luar sana sempat tersenyum tipis sebelum melanjutkan kalimatnya, “Saat itu aku mungkin terlalu kecil untuk mengerti sehingga dengan santai bahkan sok angkuh aku menjawab—Bodoh! Bahkan sekarang pun kau itu istriku, kenapa tidak meminta yang lain?” Lagi-lagi Nayoung yakin Taeyong sekarang ini sedang menertawainya dari balik pintu.

“Tapi seiring dengan kita bertumbuh dewasa, aku mengerti. Kata menjadi istri itu bukanlah hal yang gampang.”

Barangkali ada tiga puluh detik Taeyong memberi jeda ucapannya, dan lantas berucap, “Kau tahu apa permintaanku di ulang tahunku yang ke tujuh belas?”

Nayoung membuka matanya, juga melepaskan tangan di telinga yang sedari tadi menutupi pendengarannya, dia kembali menggigit bibirnya dan menggengam erat kedua tangannya sendiri.

“Permintaanku adalah—“ kembali cukup lama Taeyong menjeda ucapannya, setelah mendeham dia melanjutkan, “Aku ingin mengabulkan permintaan tujuh tahun Lim Nayoung.”

Mata Nayoung lantas membulat sedetik setelah ucapan Taeyong di balik pintu. Bohong jika kalimat itu tidak mengguncangnya, karena bahkan tiba-tiba detak jantungnya berada di luar kebiasaan. Dia juga sedikit merasa nyeri di sana dan memaksanya meremas ringan dadanya sendiri. Taeyong benar-benar bisa dengan cepat mengacaukannya.

I will, Nay. Aku berjanji, kau pasti akan menjadi seperti yang kau inginkan di usia tujuh tahunmu. Tapi—“

Nayoung terus dengan erat menekan dadanya, berusaha mengurangi rasa nyeri di sana, sembari menunggu kelanjutan kalimat Taeyong.

“Tapi bukan sekarang. Benar ketika ibu mengatakan kita sudah cukup dewasa untuk tidak perlu bertengkar dengan masalah konyol seperti ini, tapi tetap saja, kita belum cukup dewasa untuk masalah hati dan perasaan.”

Nayoung menghapus airmata tipis yang tak sengaja mengalir di pipinya. Taeyong pun kemudian melanjutkan ucapannya, “Aku menyukaimu, sangat.” Taeyong mendeham singkat. “dan aku sama sekali tidak bermaksud untuk membuatmu bingung, tidak sama sekali.”

Nayoung lantas menarik kakinya lebih dekat melipatnya di dekat dada. Dia masih setia terus mendengar ucapan Taeyong, meski sebenarnya setiap ucapan itu mengguncang hatinya. Tidak bisa ia pungkiri, dia memang butuh penjelasan dari Taeyong.

“Aku tidak suka beromong kosong mengumbar ucapan cinta yang sia-sia. Kau sendiri sudah paham sekali bagaimana diriku. Jadi kumohon padamu, percayalah padaku.”

“Aku tidak perlu mengumbar ucapan aku mencintaimu setiap saat, setiap waktu! Cukup kau tahu aku sangat membutuhkanmu dan bahkan aku ingin meledak ketika melihatmu dengan yang lelaki lain.” Taeyong memberi jeda lagi ucapannya.

“Kalimat cinta itu belum mampu kuucapkan sekarang, Young ah.”

Nayoung mendengar Taeyong menghela nafasnya.

“Kau dan aku masih belum cukup bijak untuk hal-hal yang seperti itu. Akan ada waktunya kau mendengarkan kalimat semacam itu dariku. Jadi kumohon, percayaalah denganku.”

Barangkali itu akhir dari kalimat panjang Taeyong, karena setelahnya suaranya tidak terdengar sama sekali.

Nayoung menelan ludahnya, mengusah seluruh wajahnya menyamarkan airmata yang membasahi pipi. Entah bagaimana yang harus ia lakukan. Haruskah dia senang, atau kesal? Nayoung sendiri bingung.

Seharusnya Nayoung senang karena Taeyong mengakui perasaannya, tetapi tetap saja rasa kesal terselip dengannya, kenapa Taeyong menanggap dirinya belum dewasa. Lagi pula apa salahnya cinta anak SMA?

Lee Taeyong benar-benar berlebihan!

Sudah tiga menit terlewati sejurus dengan Nayoung yang mendeham dan mengeluarkan suara, “Kau masih di sana?”

“Eum …” Dengan cepat kemudian terdengar balasan dari Taeyong.

“Lalu—“ Nayoung menggigit bibirnya, ragu harus meneruskan ucapannya atau tidak.

“Lalu?” tanya Taeyong dari balik pintu.

“K—kenapa harus membelai rambutnya?” Nayoung terbata-bata bertanya,

“—nya?” Taeyong sepertinya belum mengerti.

“Kim Seolhyun,” ucap Nayoung, lantas mengerut dahinya sendiri, harap-harap cemas menunggu jawaban dari Taeyong.

Cukup lama keadaan menjadi hening, tidak terdengar suara Taeyong dari balik sana. Namun kemudian, Nayoung bisa menangkap suara tawa tertahan milik Taeyong, “Kau menertawaiku?!” pekik Nayoung. Dia mengepal tangannya geram.

“Kau pikir itu belaian?” ucap Taeyong.

“Lalu kau pikir itu apa?” Nayoung masih terdengar kesal.

“Kotoran burung jatuh di kepalanya, aku hanya membantu membersihkannya.” Taeyong tertawa setelahnya. Terbahak-bahak. Bahkan sudah lama sekali Nayoung tak mendengar gelak Taeyong yang seperti ini.

Senyum Nayoung ikut mengembang, sebenarnya. Entahlah, dia sendiri tidak tahu, entah itu senyum gembira karena Taeyong tidak membelai rambut si gadis populer atau karena ia sedang senang karena akhirnya Taeyong kembali dengan gelak tawanya

Perlahan Nayoung membuka pintu ruangan ayah sejurus dengan Taeyong yang berusaha menghentikan gelaknya.

Tawanya benar-benar terhenti ketika matanya mulai berserobok lekat dengan milik Nayoung. Mata gadis itu masih sendu seperti hari kemarin, hanya saja, kali ini terlihat begitu sangat cantik dan meneduhkan hatinya. Taeyong benar-benar tidak bisa membohongi perasaannya, Lim Nayoung sungguh membuatnya terjatuh.

Dengan cepat kemudian Taeyong meraih lembut wajah Nayoung dengan kedua tangannya. Kecupan seperti beberapa waktu lalu terjadi lagi. Bedanya, kali ini bukan kecupan singkat yang membuat hati Lim Nayoung meredut. Kecupan kali ini bahkan berbalasan dengan sangat hangat.

Mereka sendiri bahkan tidak mengerti, kenapa kecupan yang seperti ini begitu sangat manis terasa di bibir mereka.

***

 

10 responses to “Rompecorazones #8

  1. akhirnya dilanjut.. kmren nyari di blognya ccatury kok hilang. ternyata ada di sini. ini cute bgt. paling suka kl liat taeyong jealous. apalagi kl di sekolah mereka jd keliatan cute. lanjuuut jgn lama2 y kak cca hehe 😍😍

  2. aku bacanya pake bgm jadi makin kerasa bapernya pas nayoung sama taeyong ngobrol di balik pintu gitu duh. manis banget pokoknya part ini mbak, bikin senyum senyum sendiri huhu :”)
    semangat buat kelanjutannya, sama tesisnya juga mbak cca! hihiii

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s